Sunday, July 26, 2026

How I Found this Book: I Decided to Live as Me

I strolled along T3 at CGK airport a few weeks ago and stopped at the Periplus Corner. Usually, I spend less than 15 minutes scanning all the titles and checking the trend in book publishing. I skipped fiction, mostly because I used to be disappointed after reading the first pages. You shouldn't buy a book based on the cover illustration, as it can sometimes be misleading. 

After browsing different types of book genres for a while, I started comparing prices. The book price is soaring, and I couldn't believe the new book is in the 400K-600K range! Something I must consider carefully: I don't want to end up with a book that doesn't make me happy or confused, with a beautifully crafted cover and some highlight saying 'best-selling author,' etc. With a price like that, I have to be very selective with the genre and make sure that what I read really contributes to my personal and professional development. A win-win situation. 

After thinking what I feel want to improve, I decided that I need to get a book about zen, peacefulness, mindfulness, etc. I do have many books with such a title, but getting a new perspective from a different author should do no harm. So, I found a book by a Buddhist monk about that topic. But when I tried to look at a different copy from the shelf, I saw another book with a cute and catchy cover and title that were so me!

The book has an illustration of someone in the front, a lady, looking very relaxed, with her hands bent and one leg lifted. The book looks interesting! I examined the book and started reading the summary. The title itself is very intriguing, not to mention the tips on it. Later, I spent more than 10 minutes, conflicted between the peaceful and flower-covered Zen monk book and this cheeky lady on the cover with a strong exclamation: "I Decided to Live as Me!"

Over a decade ago, such a title would have raised concerns that people were becoming selfish, individualistic, and antisocial. But hey, with Gen Alpha on the way and being much more exclusive and isolated, I don't think the title is very concerning. While I was moving around in my career as a generalist, I was also getting tired of the hustle-and-bustle workplace culture. I suddenly want to be somebody who lives as myself and still delivers high-quality pieces of work. 

So yeah, goodbye, book about Zen culture; I will revisit it sometime if my budget permits. But now, to wisely spend my money, I have to read this book about living with my choices, which is published by a highly reputable publisher worldwide, Penguin Books. 

Anyway, I'm still discovering the essence of this book and will continue my review about it in the next post. 

Pekanbaru,

Tuesday, June 23, 2026

Menjadi Produktif bersama Grup Mahasiswa

Sejak menjadi dosen pada tahun 2001, aku ingin membimbing grup mahasiswa seperti yang dilakukan oleh kolega di Jurusan Teknik Kimia. Mereka membimbing mahasiswa di luar tugas akhir atau perkuliahan untuk meneliti, menulis ilmiah, dan mempresentasikan hasil penelitian pada seminar-seminar nasional. Aku ingin membantu mahasiswa agar aktif, produktif, dan berprestasi bersama dalam grup mahasiswa. 

Satu hal yang tidak bisa kulepaskan sampai 25 tahun berkarier pada tahun 2026 ini, adalah bekerja side by side dengan banyak mahasiswa. Sebagai dosen senior yang tidak punya banyak waktu lagi saat menjadi Koordinator Program Studi Magister Teknik Sipil, aku masih berusaha meluangkan waktu menjadi pembimbing TA 8 orang mahasiswa S1, dan 2 orang mahasiswa S2. Meski rempong, rasanya bahagia membimbing mereka, apalagi kalau mereka berhasil menyelesaikan penelitiannya bersama-sama. Prinsipku, datang bimbingan bersama, lulus juga bersama-sama.

Vibes kerja dalam tim dengan berbagai dinamikanya sebenarnya sangat penting bagi perkembangan kepribadian dan profesionalisme mahasiswa. Banyak mahasiswa sekarang sangat individualistis, tidak mau mengenal teman, tidak mau berbicara, bahkan tidak mau tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Bekerja sama dengan orang lain dianggap sebagai beban dan menyusahkan, padahal itu adalah tempat untuk berlatih bersosialisasi dan bekerja dalam tim. Saat bekerja dengan teman dalam grup/tim, pasti ada perbedaan yang harus disepakati, masalah yang harus diselesaikan, dan komunikasi yang harus baik agar tujuan kerja dalam grup tercapai. Pekerjaan penelitian mereka, meski bersifat individual, tetap harus dikerjakan secara bersama-sama oleh mahasiswa karena topiknya saling beririsan. Dikerjakan bersama tentu akan lebih mudah karena ada teman untuk berdiskusi, saling menyemangati, meringankan beban, dan mencari solusi. 

Sedangkan dari sisi dosen, bekerja dengan grup mahasiswa membantu shaping profesionalisme mereka. Tidak mudah untuk mendelegasikan pekerjaan kepada mahasiswa. Selain itu, harus menghadapi mahasiswa yang tidak seide dan tidak sejalan, misalnya, mahasiswa tahun 2026 ini punya style berbeda dengan mahasiswa tahun-tahun sebelumnya. Mereka cenderung menggampangkan segala sesuatu, serba ingin hasil cepat, dan hanya bisa bekerja berdasarkan satu perintah. Jarang ada yang mengerti cara memprediksi output dan outcome dari pekerjaan mereka. Critical thinking dan kemandiriannya juga kurang memadai. Bekerja dengan mereka membuatku belajar lagi tentang cara mendidik generasi mahasiswa saat ini. Dengan menyelami cara berpikir mereka, meski kadang-kadang aku emosi, aku juga mencoba menoleransi, sekaligus mencari solusi agar suasana tetap kondusif dan target grup tercapai. 

Keuntungan lain selain sama-sama produktif saat di grup mahasiswa, mereka kadang mendapat penugasan kecil karena terlibat dalam proyek penelitian dosen. Penugasan ekstra ini bermanfaat untuk melatih disiplin, kesabaran, dan kreativitas karena model pekerjaannya bersifat repetitif. Proyek penelitian dan pengabdian dosen membantu mereka mendapatkan eksposur lain dari dunia administrasi, keuangan, menulis laporan dalam bahasa Indonesia yang baik, disiplin terhadap tenggat waktu, manajemen proyek, serta cara menyampaikan hasil secara profesional. 

Moga batch 15 sukses semua. 

Pekanbaru,



Tuesday, June 16, 2026

Manfaat Memotret (edisi Bonn, Jerman)

Hobiku memotret tanpa henti sering membuat teman-teman baruku dari Unilead 2014/2015 heran. Beberapa teman dari bangsa lain, dengan bercanda selalu bertanya mengapa aku selalu memotret. Mereka menganggap aku, salah satu orang dari bangsa Asia, yang tidak bisa menikmati sesuatu tanpa lupa menjepretkan kameraku ke sebuah objek.

Kebiasaanku memotret di tempat-tempat yang kami kunjungi selama di Jerman menjadi alasan bagi mereka untuk 'mengganggu' aku, karena aku dianggap memperlambat langkah grup, selain selalu ketinggalan rombongan. 

Sebenarnya tidak juga, aku bisa berjalan cepat sambil memotret, tetapi apakah ada hal lain yang mengganggu? Kurasa memang karena mereka tidak menenteng kamera sepertiku, atau ada alasan lain karena mereka tidak bisa multitasking: memotret sambil berjalan. 

Namun, tak diduga, kebiasaanku memotret pemandangan ternyata ada juga manfaatnya.

Cerita berikut di Bonn, Jerman, mungkin bisa mewakili situasi tersebut.

September 2014.
Kami tiba di Bonn lewat tengah hari. Tanpa bermaksud jengkel dengan jadwal aneh itu karena belum makan siang, aku mencoba melihat sisi positifnya, yakni kami berada di Bonn, salah satu kota besar di Jerman. 

Pukul 2 siang, bus membawa 28 orang kelaparan yang bisa makan apa saja karena lupa membawa camilan. Aku berdoa semoga bisa menemukan kebab atau doner halal yang bisa kumakan di pusat kota tanpa harus berjalan jauh untuk mencarinya.

Entah mengapa, LO kami menyebut Sungai Rhine dan restoran di sebelahnya. 

Padahal sungai itu sangat lebar dan memiliki jembatan yang sangat besar. Meski indah, kami tetap kelaparan dan tidak mengerti kenapa harus menikmati suasana di tepi sungai. Beberapa orang terus berjalan menyusuri tepi sungai, lalu memutuskan untuk menyeberangi jembatan panjang demi mencari restoran di seberangnya. Sepertinya ide itu kurang menarik, karena makanan tentu saja bisa ditemukan di sisi sungai sebelah ini tanpa perlu menyeberang. 

Tapi, kemudian aku menyerah, dan tetap ikut dengan mereka karena ingin punya pengalaman berjalan kaki menyeberangi Sungai Rhine dalam hidupku.

Langit cerah, udara cukup hangat, dan pemandangan dari atas jembatan cukup indah. Jembatan tersebut bentangnya sangat lebar. Ada tram lewat di bagian tengahnya, selain mobil dan trotoar besar di bagian pinggirnya yang dipenuhi pengunjung yang berjalan dari kedua sisi jembatan. 

Tanpa membuang waktu, aku mulai memotret dan terus memotret apa saja yang menarik perhatianku. 

Sesekali temanku TO mengeluh karena aku berjalan lambat dan tidak fokus saat mengikuti mereka. 

Aku tetap mengikuti mereka, tetapi pemandangan dari tepi jembatan memang spektakuler. Beberapa kali aku memotret bangunan unik, tram yang melewati sungai Rhine, pemandangan di tepi sungai, dan ahhh... aku bersyukur pada Allah untuk semua view ini.

Selagi aku sibuk multitasking memotret dan menikmati pemandangan, aku menyadari bahwa aku sudah tidak melihat teman-temanku lagi. 

Nah, di sinilah aku agak menyesal, meski tidak terlalu menyesal sekali karena kehilangan mereka. 

Aku bisa kembali ke sisi jembatan seberang tempat memulai perjalanan tadi, tapi supaya tidak terpisah dari grup, aku lalu memutuskan untuk menelepon TO untuk mengetahui keberadaan mereka.

So, teleponku dijawab TO dengan nada kesal.

"Hello TO, where are you guys, I didn't see you", tanyaku sambil berputar-putar dekat perempatan jalan.

"Where are you? We're at a restaurant," jawab TO.

"Yes, could you tell me where it is?" Aku memandang ke arah jalan menurun yang sangat panjang dengan sedikit putus asa.

"You should've known that your habit of taking pictures made you get lost!" TO tetap mengomeliku. 

"Where is it? Could you do this later, please?" Sekarang aku mulai cemas karena dia tetap ingin mengomel dan tidak memberikan nama tempatnya. 

Kemudian TO menyebut nama restorannya. 

Oh God, aku ingat tempat itu, karena meski aku sibuk memotret, nama restorannya sempat terbaca tadi. 

Dengan cepat aku berjalan menuju restoran tersebut yang sebenarnya tidak jauh dari tempatku berdiri, hanya saja aku berada di atas jembatan, dan restoran Rheinlust berada tepat di bawahku. 

Aku berlari kecil menuju teman-temanku yang berada di courtyard dan duduk di meja-meja di bawah tenda. 

Mereka menyambutku dengan gurauan dan sindiran.

Tetapi aku tidak kecil hati, hanya tersenyum-senyum kecil, lalu  memesan pizza serta jus Kiba (Kirsch-Banane atau Cherry Banana). 

Aku tidak salah selalu memotret, karena itu bagian dari kegiatan kreatif yang dulu masih belum banyak diterima orang. 

Selain itu, look, aku menemukan restorannya karena tempatnya sudah aku foto sebelumnya! Ada manfaatnya juga, kan?

Love my angles!

Pekanbaru, Juni 2026 




Tuesday, June 17, 2025

Quinquagenarian

Baru belajar istilah baru setelah ulang tahun ke-50 baru-baru ini. Quinquagenarian, adalah orang yang berumur di antara 50-59 tahun. Dan, aku, hubby dan teman-teman sebaya di kampus semuanya mulai menjadi seorang Quinquagenarian.

Honestly, aku bukan orang yang takut reveal umurku. Sebab, aku belajar realistis, bahwa umur itu milestone dan tidak bisa dibuat-buat. Seseorang harus bisa menerima umur kronologis (berdasarkan tanggal lahir), dan embrace semua konsekwensinya. Jika tidak menerima, berarti kita ingin berada di masa lalu dan tidak berani menerima bahwa diri kita telah bertambah umurnya. Tapi, aku tau ada yang namanya umur biologis (umur sesuai kondisi fisik dan kesehatan seseorang). Jadi, meski umur kronologis kita sudah tua, tapi bisa jadi umur biologis kita lebih muda! Hal ini yang harus menjadi goal dalam hidup, karena umur biologis lebih muda membantu kita menjalani hidup dengan lebih mudah dan nyaman. 

Sebagai seorang Quinquagenarian, kita dianggap seseorang paruh baya atau menjalani mid-life. Tidak jelas mengapa kita dikatakan paruh baya, tapi belum lansia. Hanya saja, saat umur ini, kita sudah seperti mulai siap-siap banyak hal dalam kehidupan kita sebagai quinquagenarian. Ada yang masih berpikir masih lama semuanya akan berakhir, sehingga menolak menjadi tua. Betul beberapa orang dari kita masih produktif, sehat, bahagia dan berada di puncak karir atau tahap nyaman berkarir, tapi semua juga ada limit dan warning. Harus tetap menerima bahwa tua itu kenyataan. Mengatakan paruh baya tidak membuat kita slightly lebih muda, tapi mengingatkan kita kalau harus bersiap menjadi suatu hari akan lebih tua lagi. 

Aku belajar dari lingkungan terdekat, bahwa kadang menolak menjadi tua ada positif dan negatifnya. Hal negatif menolak tidak tua adalah sering tidak dapat menerima keadaan bahwa umur sudah bertambah, kemampuan berkurang, dan kesehatan menurun. Sedangkan positifnya, menolak menjadi tua adalah suka tantangan, berpikir bahwa masih mampu, masih muda dan masih bisa melakukan banyak hal. Keduanya kadang bergantian datang, tapi kalau lebih banyak positif, ternyata kita benar-benar mampu melewati fase menolak tua dan memperlambat semua tanda penuaan. Sikap positif tadi sebenarnya selain semangat muda, tapi juga menjaga diri agar tidak mudah stress, sakit, makan makanan sehat, hidup teratur, lebih dekat kepada Allah SWT, banyak bersilaturrahmi, berolahraga, beraktivitas sendiri, dan sering-sering membantu orang lain. Memang orang-orang tersebut terlihat lebih aktif, cerdik dan ageing slowly. 

Well, sebagai Quinquagenarian saat ini, aku sedang bersiap menjalani durasi waktunya. Seperti yang pernah kutulis di sini sometime ago, umur 50-an biasanya sudah punya beberapa skill dan sering diundang menjadi narasumber untuk berbagi ilmu, maupun menjadi konsultan untuk berbagi expertise. Setuju banget, apalagi kalau sudah berletih-letih belajar sambil bekerja saat umur 30-40an, sudah saatnya sekarang kita menjadi sumber informasi, tips, dan ilmu buat adik-adik dan anak-anak yang umurnya lebih muda dari kita. Soalnya kita sudah dianggap berumur dan sudah mencapai berbagai hal, sehingga cara kerja yang praktis dan work life balance telah kita alami. 

Now, selain membantu yang muda-muda, banyak berbagi, sekalian belajar menjaga hati, tugas utama adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan abadi. Jadi, hari-hari kita sebaiknya ya disiapkan untuk rajin ibadah, tilawah, berdoa, belajar ilmu agama serta bertakwa kepada Allah SWT, supaya kita menjadi seorang Quinquagenarian yang bermakna. 

Pekanbaru,



Friday, February 14, 2025

Berpetualang di bumi USA

Belajar dari serunya menjadi seorang Visiting Scholar di University of Adelaide (2019) dan Drexel University (2023), aku mendaftar beasiswa Fulbright Visiting Scholar Program pada akhir tahun 2023. Pada tanggal 31 Agustus 2024, aku berangkat dari Pekanbaru menuju Jakarta untuk memulai perjalanan panjang menuju Philadelphia dengan transit di bandara Narita dan Denver, Colorado. 

Benarlah kata banyak pengelana. Pengalaman terbaik datang dari keberanian untuk berada sendirian di sebuah tempat atau suasana baru. Aku tidak memiliki banyak pilihan apalagi tempat bertanya, sehingga seringkali harus bersabar dalam menelusuri informasi dan berkomunikasi dengan helpdesk. Tetapi semakin sering dilakukan, nalar dan kemampuanku semakin bertambah. Fase ini sangat kusukai, karena learning and doing by learning untuk menambah skill; is my favorite activity. Kemampuan untuk survive menjadi salah satu skill penting di abad ini untuk meningkatkan flexibility, resilience dan adaptability. Aku bercerita tentang dua hal, sistem check in pesawat ANA yang tidak dapat diakses, sedangkan aku harus duduk di baris paling depan supaya bisa lari ke pesawat yang membawa ke Denver tanpa harus berbaris di belakang penumpang lain. Kedua, tentang waktu transit yang hanya 45 menit di bandara Narita, means, saat pesawatku landing, pesawat berikutnya sudah boarding. Aku hanya bisa mengatur rasa cemas supaya tidak overthinking dan punya harapan untuk bisa berangkat sesuai jadwal penerbangan yang diberikan.

Sesampainya di USA, semua kecemasan dan ketakutan di suasana baru seolah larut karena keletihan setelah perjalanan panjang hampir 34 jam dari Indonesia. Awalnya aku ingin menunggu hingga matahari terbit untuk keluar bandara. Ternyata aku tiba lebih awal dari perkiraan, sehingga pukul 12 malam semua koper sudah lengkap di tangan. Aku memberanikan diri untuk memesan Uber, tetapi sebelumnya ingin mengetahui pick up point di terminal E, bandara Philadelphia. Setelah melihat tempat itu dipenuhi oleh penumpang, tanpa pikir panjang aku bergerak menuju taksi bandara berwarna kuning. Kusebutkan alamat yang kutuju kepada driver, kemudian dia menyebutkan fare USD33, untuk perjalanan cukup jauh tersebut. Sambil duduk dengan perasaan lega karena telah di dalam taksi, aku mulai berzikir untuk menghilangkan perasaan cemas lain. Untunglah supir tersebut seorang muslim Ethiopia. Aku mulai mengujinya dengan beberapa pertanyaan seperti masjid, tempat makan halal, daging halal, dan ibadah shalat Jumat di Philadelphia. Alhamdulillah, dia memang muslim tulen, karena jawabannya sesuai. Allah kirimkan orang ini untuk menjemput dan mengantarku ke akomodasi di Powelton Avenue. 

Semua tempat yang pernah kita kunjungi memberikan kesempatan untuk melihat hal-hal baru. Sedangkan suasana baru membantu menciptakan memori dan menambah ilmu tentang manusia, alam dan budaya. Pikiran serta hati kita menjadi lebih luas dari sebelumnya. Pemahaman kita terhadap hidup dan proses alamiahnya juga terus bertambah. Penerimaan kita tentang perbedaan budaya dan pandangan hidup berkembang melalui pertemuan-pertemuan dengan orang-orang lain. Begitu dalamnya makna 'keluar dari zona nyaman' kehidupan,  sehingga kita menjadi 'orang baru' dengan kemampuan dan sudut pandang berbeda. Hal itulah yang terjadi begitu tiba di Philadelphia. Meski aku pernah datang sebelumnya ke USA, tapi kali ini aku punya waktu mencerna semua yang ditawarkan Allah dalam hidup saat aku berpetualang di negara ini. Hal yang sama juga terjadi saat aku tinggal di Eropa, dan Australia. Tidak ada waktu tanpa belajar menerima dan memahami, terutama saat semua terasa berbeda bagi kita.

Post ini akan menjadi tulisan pertama dari petualangan panjang selama hampir 4 bulan di USA. Cerita-cerita petualanganku akan kembali diupdate di blog ini, untuk berbagi dan menginspirasi kita semua agar travel more, experience world more dan growing more dalam hidup. 

Pekanbaru,