Showing posts with label Fun stuffs. Show all posts
Showing posts with label Fun stuffs. Show all posts

Friday, July 10, 2020

Weekend di Amsterdam: Zaanse Schans (Part 2)

Amsterdam
28 Februari-01 Maret 2015


Museum van Gogh kami tinggalkan untuk melanjutkan perjalanan melihat museum outdoor Zaanse Schans di daerah Zaandam menggunakan bis kota. Kami naik tram dari Amsterdam museum van Gogh ke Amsterdam Central Station. Stasiun bis berada di lantai atas museum dan, again, kami harus berlari-lari ke arah bis yang siap berangkat ke museum tersebut. 

Kanal besar di Zaandam.
Scenic bridge di kanal.
Relevan dengan postku mengenai kanal Otaru di Hokkaido yang direnovasi pemerintah Otaru, maka daerah Zaan juga merupakan daerah heritage yang dijaga kelestariannya oleh pemerintah Belanda. 

Saat ini Zaanse Schans menjadi salah satu tempat kunjungan turis karena terdapat kincir angin icon khas negara Belanda.

Konon revolusi industri di Belanda dimulai dari daerah Zaan pada abad 18-19. 

Seperti pada museum open air di Cloppenburg, Jerman, di museum outdoor Zaanse Schans dapat dilihat replika rumah pertanian, warehouse/gudang, workshop/bengkel kerja, kincir angin di tepi kanal dan padang rumput yang sangat luas. 

Pada salah satu bengkel klompen (clog) atau sepatu kayu khas Belanda, kami mampir melihat teknik pembuatan sepatu yang konon mulai dipakai oleh orang Belanda pada abad ke-13. Terinspirasi oleh sandal kayu milik bangsa Roma, alas kaki ini dibuat tertutup agar dapat melindungi kaki dari cuaca di negara Belanda yang lebih dingin dan penuh angin.  

Klompen cantik untuk souvenir.
Klompen paling besar di sana. 
Klompen dibuat dari kayu-kayu ringan, kuat dan tahan air seperti kayu alder, willow dan poplar sehingga petani dapat menggunakannya untuk bekerja di padang berair atau rawa tanpa mengalami cedera karena air maupun alat tajam. 

Klompen lebih tahan daripada sepatu biasa karena hanya mengalami keretakan bila terkena benda keras. Hanya sayangnya, penggunaan klompen dapat membuat struktur tulang kaki petani mengalami tonjolan karena sol yang keras dan tidak fleksible menurut sebuah artikel di web Smithsonian.

Potongan kayu untuk klompen.
Klompen untuk sehari-hari.
Potongan kayu untuk klompen pada awalnya dibentuk dahulu. Kemudian kayu tadi dibor bagian bawahnya, lalu dipahat secara mekanis untuk mengeluarkan sisa bahan. 




Menonton demo membuat klompen.
Pekerja di bengkel klompen.
Bagian dalam diamplas agar klompen lebih nyaman. Perawatan dalam tungku dilakukan untuk tiap pasang klompen selama 5-6 hari untuk menurunkan kadar air pada kayu sehingga klompen lebih kuat dan siap dipercantik.


Tiap rumah ternyata sebuah workshop/bengkel dan toko.


Rasanya waktu tidak akan pernah cukup kalau tiap rumah yang menjadi workshop/bengkel dan toko di Zaanshe Schans dimasuki. 

Ada tempat pembuatan keju, kerajinan kayu, pottery dan beragam toko souvenir. Jika ingin melihat, kita bisa menggunakan app tour berikut. App tersebut akan membawa kita tour di Zaanshe Schans yang memperlihatkan tempat-tempat tadi dengan lebih rinci. Sungguh mudah traveling di zaman sekarang, bisa menggunakan virtual dan augmented reality. 



Di depan kincir, si kakak asli 'urang awak' residen Amsterdam.
Berdasarkan lukisan Claude Monet dari Perancis, di daerah Zaandam sejak dahulu banyak terdapat kincir angin milik berbagai bengkel berbaris di tepi sungai. 

Kincir angin di tempat itu memiliki bentuk, ukuran, warna cat, nama dan fungsi berbeda. Misalnya kincir hijau paling besar pada foto di samping, disebut De Gekroonde Poelenburg dimiliki oleh pabrik pengolahan kayu. Di bagian belakang adalah kincir angin De Kat, milik pabrik cat dan pigmen. Sedangkan kincir angin terakhir, De Zoeker adalah tempat pembuatan minyak dari tumbuhan.


Apabila kita berjalan mengelilingi Zaanshe Schans, di bagian depan dekat halaman rumput yang bersebelahan dengan jalan raya, dapat dilihat rumah-rumah pertanian beraneka ukuran di sebelah kanal-kanal. Rasanya ingin sekali tinggal di sebelah kanal ini, bisa melihat air di dekat pintu, barangkali sesekali memancing ikan, atau hanya duduk-duduk menikmati angin dan mendengar suara gemericik air mengalir dalam kanal. 
Rumah khayalan, dekat kanal, pohon, rumput dan penuh bunga-bunga empat musim.

Sambil berbincang-bincang mengenai berbagai hal dan memotret cepat dengan Lam, teman dari Saigon, secara tak sengaja terlihat material kerang dalam bentuk utuh yang dihamparkan sebagai pengganti pasir di jalan-jalan setapak ! 
Kerang sebagai pengganti pasir untuk jalan setapak!

Pada masa itu aku baru mulai menggunakan kerang sebagai bahan substitusi maupun aditif untuk material konstruksi. Pengalaman melihat kerang langsung dipakai sebagai bahan hamparan semakin menambah semangat untuk mengeksplorasi bahan tersebut. Beberapa penelitian kami mengenai kerang dapat dilihat pada link ini dan itu. 

Kami kembali ke Amsterdam Central Station setelah 2 jam berkeliling maupun melihat-lihat rumah dan bengkel di sana. Kegiatan berikutnya adalah menikmati kota Amsterdam dari kanal (canal cruise) sebelum dinner bersama di pusat kota lalu kembali ke hotel untuk istirahat. 

Lanjut ke Weekend di Amsterdam (Part 3).

Pekanbaru, 2020




Monday, July 6, 2020

Weekend di Amsterdam: Travel dan Museum van Gogh (Part 1)

Amsterdam
28 Februari-01 Maret 2015

Saat mengikuti training di Oldenburg, Jerman, beberapa teman sekelas mengajakku untuk mengunjungi kota Amsterdam pada suatu weekend.  


Kami berenam, tiga orang wanita dari Amerika Latin dan tiga orang wanita dari Asia Tenggara akhirnya berangkat ke Amsterdam yang jauhnya sekitar empat jam dari Oldenburg menggunakan bis. 

Bis berwarna hijau semacam Flix bus yang kini tengah populer membawa traveler berkeliling Eropa dengan harga terjangkau. Kami berangkat Jumat sore setelah kelas terakhir selesai dan kembali Minggu sore. 



Bis tersebut berhenti sebentar di Groningen yang letaknya hanya satu jam dari kota tempat kami training. 
Sepeda-sepeda di pusat kota Groningen, Belanda.

Beberapa orang anak muda dengan gembira bergantian menaiki bis kami. Hm, dengan cara demikian mereka tentunya lebih mudah melakukan perjalanan antar negara di Eropa dengan biaya terjangkau.

Kami tiba di Amsterdam saat matahari mulai terbenam. Senja di Amsterdam sekitar pukul 8 malam, sehingga kami tidak perlu buru-buru berlari ke perhentian tram. Berhenti di pinggir jalan dari bis lalu dengan lift untuk turun dua level di bawah jembatan merupakan pengalaman seru lainnya. Dari tempat itu kami naik tram ke Amsterdam Central Station dan naik kereta api menuju Holiday Inn Sloterdijk. Kami menginap di hotel tersebut selama dua malam. 
Lift menuju perhentian tram ke Central Station Amsterdam.

Pagi pertama di Amsterdam dimulai dengan breakfast yang menyenangkan. Kereta api bergantian melewati jendela restoran hotel tersebut. Barangkali hotel ini semacam tempat transit ke bandara Schipol, karena semua kereta api mengarah ke bandara internasional tersebut. Untuk mendapatkan tiket atau pass berkeliling Amsterdam kami juga menaiki salah satu kereta ke bandara Schipol. 
Kereta api lalu lalang di Schipol airport.

Tiket/pass I am Amsterdam, full pass berkunjung ke banyak tempat, tetapi dengan perhitungan cermat hanya museum van Gogh, outdoor museum Zanshee Schans, Amsterdam canal cruise, termasuk museum Anne Frank. Tempat lain tidak bisa kami kunjungi karena keterbatasan waktu perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Teman-teman benar-benar memilih yang menurut kami menarik. Tiket seharga 50 euro tersebut juga termasuk biaya semua moda transportasi seperti bis, tram dan kereta api dalam 24 jam hingga Minggu siang. 
I am Amsterdam peta dan pass.

Sebenarnya ada beberapa tempat khusus yang menurutku penting, tetapi saat ini sudah menyepakati dengan kawan-kawan untuk menikmati weekend ini dengan sebaik-baiknya dengan mereka. Aku mencatat dalam hati ada beberapa tempat, museum dan tur yang harus kuikuti saat berkunjung dengan hubby atau keluarga kapan-kapan. 
Walking tour di The Dam, Old Amsterdam, cita-cita lain. 

Kami kembali ke pusat kota Amsterdam Central Station, tetapi kali ini menggunakan bis dari bandara Schipol. Sambil menunggu bis datang, teman-teman berfoto di depan logo catchy kata-kata I am Amsterdam. Kata-kata ini merupakan promosi, maksudnya siapapun yang datang ke Amsterdam adalah bagian dari Amsterdam.  Banyak orang mengantri untuk berfoto di sana sehingga aku dan kawan-kawan harus berfoto dari kejauhan. Di balik kata icon tersebut kita bisa menunggu bis ke pusat kota.
Icon I am Amsterdam di bandara Schipol.
Teman-teman segrup menunggu bis ke kota di Schipol.

Bis tersebut membawa kami kembali ke pusat kota setelah melewati kawasan industri, padang-padang rumput luas, kanal-kanal, barisan pohon-pohon tak berdaun di awal musim semi, rumah-rumah di tepi kanal. Amsterdam merupakan kawasan dengan pertemuan tanah dan air serta muka air tanah tinggi atau yang biasa disebut wetlands, oleh karena itu terdapat banyak sekali kanal. Bahkan beberapa tempat di Amsterdam terletak di atas laut dan telah direklamasi. Tidak heran pemandangan rumah-rumah berdampingan dengan kanal banyak sekali bisa dilihat di kota ini.
Amsterdam termasuk wetlands. Rumah-rumah banyak dibangun di tepi kanal air seperti ini.

Rumah-rumah penduduk dengan facade khas. 

Kami melewati Rijkmuseum yang konon menyimpan lukisan epik Raden Saleh. Museum van Gogh letaknya tak begitu jauh dari museum terkenal tersebut.  Kami sangat bersyukur karena tak perlu antri lagi, setelah melihat antrian super panjang dalam cuaca dingin tersebut. Ternyata teman-teman telah membeli tiket tanpa antrian menggunakan pass I am Amsterdam. Biasanya ada biaya ekstra beberapa euro, tetapi tidak mengapa karena menghemat waktu selain menghadapi antrian masuk, antrian pemeriksaan kamera dan antrian penitipan barang serta jaket di dalam gedung museum. 


Van Gogh adalah pelukis yang terkenal dengan lukisan Sunflower, Iris dan the Starry Night. Sejarah mencatat perjalanan van Gogh sebagai pelukis, gaya melukis, obyek lukisan yang disukai dan kisah tragis hidupnya. Semua cerita lengkap hidupnya ada di link berikut. 
Bisa berfoto dengan self-potrait replika besar yang disediakan untuk turis.

Lukisan catchy Sunflower di area foto.
Sebagai seorang pelukis, van Gogh selalu tidak hidup berkecukupan dan mengalami kesulitan dalam hubungan dengan orang lain. Topik lukisannya paling banyak adalah alam, bunga, landscape. Aku mencoba menghitung berapa macam tanaman/bunga muncul sebagai obyek lukisan van Gogh. Barangkali terdapat 17-20 jenis tanaman yang dilukis van Gogh dan lukisan Sun Flower serta Irises yang paling terkenal diantara semua lukisan tersebut. Highlight terbaru dari museum tersebut adalah lukisan almond blossom. Bunga almond berwarna putih dilukis van Gogh dengan latar belakang langit biru kontras dan batang-batang hijau tua. Sungguh menarik.

Menurutku, museum ini sangat menarik dan tidak membosankan. Kehidupan van Gogh diceritakan dengan detil tetapi ringkas seperti mengikuti sebuah timeline. Museum mencoba menghadirkan momen-momen khusus terkait dengan lukisan-lukisan dan sumber inspirasi van Gogh. 

Tetapi kami tidak menemukan lukisan 'The Starry Night' yang menjadi lagu Vincent atau Starry Starry Night yang pernah dinyanyikan dengan powerful oleh Josh Groban, salah seorang penyanyi terkenal dari USA. Anyway, ternyata lukisan tersebut berada di Museum of Modern Art (MoMA), New York!  

Bersambung ke Weekend di Amsterdam (Part 2)

Pekanbaru, 2020

Saturday, June 20, 2020

Mulches

Pertama kali melihat taman-taman di Perth, aku heran melihat tumpukan mulches/mulsa/wood chips di atasnya. Tadinya aku berpikir mulches dipakai  supaya tanah di taman tidak berantakan diganggu burung. Haha, ternyata aku salah. 


Mulches untuk penutup tanah (foto dari Dreamstime).

Mulches memiliki fungsi sangat penting dalam menjaga kelembaban tanah. Suhu sehari-hari di Perth cukup sejuk, tetapi bila tiba musim panas, maka suhunya bisa mencapai 40 derajat Celcius. Selain udara yang kering dan kelembaban yang kurang, air di tanah berpasir tersebut sangat mudah hilang. Untuk menjaga kelembaban tanah, maka potongan-potongan kecil kayu tersebut dihamparkan di bawah pohon, bunga-bunga bahkan tanah lapang yang luas sekalipun.

Mulches dibuat secara khusus dengan mulchers atau alat pembuatnya. Pembuatannya sendiri benar-benar pintar karena bahan baku tidak perlu disediakan khusus. Cukup dengan pemotongan dahan dan ranting pohon-pohon (pruning) di daerah urban dan kota secara berkala, maka stok mulches tidak sulit didapatkan.

Hari itu aku sempat berdiri cukup lama sambil menunggu bis yang akan membawaku dari Technology Park, Bentley, ke kampus. Di depanku ada dua mobil dan dua orang pekerja yang sedang merapikan pohon-pohon di sepanjang Jarrah Rd. Setelah beberapa saat mengamati, barulah aku mengerti kalau mereka sedang membuat mulches.

Prosesnya dimulai dari pemotongan cabang-cabang pohon yang perlu dirapikan. Cabang-cabang itu dipotong menggunakan pruning stick untuk dahan-dahan kecil, atau chainsaw jika dahannya besar-besar. Tidak hanya untuk cabang-cabang yang dapat dijangkau di bagian bawah pohon, si pemotong juga naik ke atas box mobil khusus untuk memotong ranting kering, tidak indah atau membahayakan saat terjadi angin kencang.

Keduanya bekerja secara simultan. Seseorang memotong, sedang yang seorangnya lagi memasukkan dahan-dahan tersebut ke dalam mulcher. Si pemotong naik ke atas pohon dengan mobil khusus, lalu ia akan memotong dahan yang terlihat kering, tidak indah atau terlalu besar yang membahayakan saat terjadi angin kencang.

Dahan-dahan tadi lalu diambil dan dimasukkan ke dalam mesin pembuat mulches (mulchers). Untuk pohon pinus sebesar ini, mesin mulchernya benar-benar besar. Kalau kita punya kebun dan mau membuat mulches sendiri, kita bisa menyewa mesin pembuatnya untuk beberapa jam saja. Jadi tidak perlu membeli mulcher sendiri.

Selanjutnya mulches tadi bisa dijual atau digunakan kembali untuk keperluan taman yang bersangkutan. Biasanya mulches banyak dijual di nursery atau toko tanaman. Belinya bisa per karung dan kelihatannya untuk 1 meter persegi taman, butuh 1-2 karung mulches.

Mulches dihamparkan di atas tanah dengan ketebalan secukupnya. Kalau terlalu tebal, bisa-bisa air hujan tidak bisa terserap di tanah dengan cepat. Sedangkan jika terlalu tipis, maka tujuan awal untuk mengurangi penguapan berlebihan jadi tidak mudah tercapai.

Anyway, aku suka proses pembuatan mulches ini karena benar-benar efisien dalam memanfaatkan dahan-dahan pohon terbuang. Kan dahan berlebih sebenarnya tidak perlu dibakar. Asap pembakaran bisa menjadi polusi. Bagaimana kalau dahan-ranting bahkan batang kayu dijadikan chips untuk melindungi tanah dari penguapan berlebihan. Bisa tidak ya, dibuat di Indonesia?

Perth 2013,
Kalau batang kayu besar yang masuk, aduh, mulcher sangat berisik!

Sunday, May 31, 2020

Concretor

Kadang-kadang aku teringat masa-masa seru PhD study di Curtin University. Berikut aku post salah satu episode sekolah tersebut: Concretor.

"Nasib baik istri saya tak buat riset Concrete... kalau tak, habislah saya penat bantu-bantu dia, macam Gunawan", gitu kata Hakim, my officemate.

Hakim terlihat sangat terkejut saat melihat tampilan aku dan Gunawan (my hubby) yang baru kembali lab. Setelah berkaca sedikit, aku ikut terkejut melihta baju kami penuh debu pasir, percikan beton basah, jilbabku udah miring-miring... wajah berminyak kecapekan, sepatu safety-pun udah ga keliatan lagi bentuknya karena berlumuran debu dan tanah! 
Patutlah Hakim jadi shock!

Tapi kalau sudah melihat hasilnya seperti ini (foto berikut), rasanya tidak perlu ada kesedihan akibat komen shock tadi.



Waktu ambil topik riset, rasanya udah tau kalo kerjaanku bakal jadi concretor. Berhubung waktu di UK dan UNRI ga pernah ngerjain sendiri, jadi aku tidak memiliki bayangan skala pekerjaannya, termasuk skala capeknya nyiapin kerikil, pasir, dll, apalagi yang namanya concrete mould, definitely boring abis membersihkannya!

Paling ga nyangka kalo harus nyiapin semua sendiri.
Jumlah teknisi terbatas, terus kayaknya mereka mesti ngerjain macem-macem hal, jadi kalo mau cepet, mendingan prepare semuanya sendiri dan bikin rencana sendiri.

Apalagi bikin-bikin beton itu bukan pekerjaan satu hari saja.
Awalnya kita mesti prepare larutan NaOH dulu.
Mesti booking fume cupboard dulu, terus ambil NaOH pellets, distilled water, dan scale.
Buat NaOH 14 M. Harus sangat hati-hati, soalnya pakai konsentrasi tinggi.



Setelah membuat, mesti prepare aggregates.
Sekop dulu di stockpile sana, kemudian bawa dengan bucket ke dalam lab, beri air, biarkan 24 jam supaya saturated.
Besoknya hamparkan di tray, biarkan jadi SSD sampe sehari berikutnya.
Kalo aggregate ready, kita timbang sesuai mixture proportion. Fly ash juga perlu ditimbang. 



Yang paling challenging, scaling alkaline solution. Timbang baik-baik, jangan ada yang tumpah lalu mubazir. Siapin dulu satu per satu, kemudian sesuai dengan urutan saat akan membuat sampel baru dicampur: NaOH, sodium silicate, air dan superplasticizer. Superplasticizer dicampur pelan-pelan sampe merata dan tidak ada gumpalan.



Waktu bikin beton, peralatan slump, semua silinder, pan mixer, material harus sudah ready dan dibasahkan sedikit.
Setelah beton jadi, mulailah saat-saat mendebarkan karena harus uji slump sambil masukin adukan ke silinder.
Masukinnya cepat, tapi... compactionnya, perlu 3 layers, 60 manual stroke.
Walah-walah... so, per silinder 180 strokes.
Waktu bantu Helen dulu, ada Adam, aku dan Helen.
Kita sama-sama compaction, tapi Helen selalu paling cepat, aku dan Adam selalu belakangan.
Aku udah syak nih, pasti pake bahasa Chinese ngitungnya... kok cepet amat?
Hehehe... ternyata benar! Kalo pake bahasa Indo kan misalnya "dua delapan, dua sembilan"... sama lamanya dengan "twenty eight, twenty nine!"... hahaha...



Angkat-angkat berat seperti di gym udah jadi kebiasaan kita sehari-hari.
"You don't have to go to any gym. I have quitted from any gym last year. Really don't need to do it," kata Helen, my research mate yang thesisnya tentang balok geopolymer.
Bukan main, kalo nyiapin material, Helen perlu dua minggu untuk dua buah beton sepanjang 2.5m. Kalo diitung2 kasar, at least dia mesti nyiapin 200kg kerikil dan pasir.
Belum lagi fly ash, berdebu2, sampe lusuh wajah kita! Tapi, bener juga apa yang dikatakannya. Tiga tahun setelah itu dia jadi kurus dan sangat atletis... hihihi...



Awalnya aku suka kecapekan, badan pegal-pegal, pinggang rasanya mau patah. Padahal baru bikin 20 silinder, bareng Helen, dan itupun, dia juga yang angkat lebih banyak. Baru angkat 30kg aja aku udah ngomel-gomel dalam hati, pake dibawa lagi ke Supervisor kalo kerjaan itu semuanya bikin pegel!!! Tapi, berjalan dengan waktu dan kebiasaan, Alhamdulillah, setelah 6 bulan, sudah lupa tuh, sama semua rasa capek tadi! Nyekop kerikil dan pasir sampe 8 bucket aja udah ga pernah pegel lagi. Angkat 20 silinder, bikin beton terus kerja di perpus sampe sore, syukurlah sekarang udah ga begitu kecapekan. Wow, what a magic!!!
Itu dari segi perbaikan pada body, sedangkan untuk skill lain, ada dong.

Aku udah tidak takut lagi angkat berat... so pasti, hehehe... ga takut lagi pake mesin sand blasting buat bersiin silinder. Mesin ini, bener-benar invention yang invaluable (tak ternilai).
Biasanya kalo kita bersiin silinder, kita perlu 2-3 jam buat duduk di depan air nyuci2.
Semua yang keras-keras perlu diketuk2 supaya hancur, belum lagi nghalusin bagian dalam supaya hasil cetakannya mulus dan tidak berpori.
Dengan mesin sandblasting yang ajaib tadi, kita cukup tekan pedal gas, lalu tembakkan pasir ke silinder (di dalam mesin), dan voila! Kotoran bandel langsung luruh seketika... ajaib tenan! Dulu 10 silinder 2 jam, sekarang 12 silinder 1/2 jam! Efisien banget.



Aku juga belajar memotong steel bar.
Gampang sih, cuman ditaruh aja di clam, penjepit, terus turunkan pemotong dan biarkan saw tadi memotong sendiri. Bener-bener bagus... Bisa ditinggal ke lab lain, tapi uppsss... better not to do it, soalnya bakalan ga enak kalo ada yang mau make. Terus, saw-nya bener2 tajam yah. Jadi mesti ati-ati...

Memotong beton? Ini nih, pelajaran baru.
Tadinya kuatir banget kalo nggak safe kerjanya. Taunya setelah dicoba, ketagihan nih, mau motong-motongin beton yang banyak...
Dasar ibu rumah tangga, hobi motong2 sayur... hihihi... Terus aku berlatih baik-baik supaya bisa motong concrete bagus-bagus, biar hasil test absorption-nya bagus.

Oh well, jalanin mesin compressive strength sendiri, nyiapin aggregat di tray, ngidupin mesin mixer dan vibrator table sampe pake handheld stick vibrator sudah aku cobain semua.



Deep in my heart, aku very grateful to Allah, Alhamdulillah, karena semua kesulitan yang datang dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di lab akan membantu aku menjadi orang yang sabar, disiplin dan kreatif. 

Aku ga kuatir lagi kerja di lab beton dan jadi concretor. Insha Allah. Aku selalu minta kekuatan dari Allah, mudah-mudahan target 1000-an sampel bisa dibuat, yah, supaya lebih banyak data maka semakin bagus laporan tesisnya.

Pekanbaru,
Perth 2007

Monday, June 20, 2016

Flamboyant (Royal Poinciana/Delonix regia)


I walked under a big flamboyant tree in front of the campus library that afternoon.
I didn't know that it was supposed to be a flowering season for flamboyant. 
Just spotted some bright scarlet petals laying on the pavement.  
So, I looked at the tree. 
Wow, the flowers were blooming. 
It looks contrast with the dark bark.
I couldn't help myself not to take a picture of it. 
What a beautiful flowering tree.
 
 
Pekanbaru,

Tuesday, May 24, 2016

Mock Strawberry

Hokkaido University Botanical Garden, Sapporo, September 2013
Late Summer

It was a beautiful day in Sapporo. 
I went to the Botanical Garden to enjoy some flowers. 
I've been told that not many flowers left since summer was nearly over. 
However, this visit was on my list, so I still went there, since a visit to a BG is truly important for my botanical sense of feelings. 

The lawn is so big and green. Pines and other maple trees showed their bright and healthy green leaves. 



I just wanted to take a rest after walking around a patch of dry and green perennials. So, I sat on the lawn and put the conference goodie bag above the grass. 

There was a little yellow flower and I wondered about it.


Suddenly, I saw many small red bright fruits under the leaves. I thought they looked like mini strawberries. 





So, I collected some of them, gave a bit of flush of drinking water and put them in my mouth. Actually, I've been told many times that it was dangerous to snack on unknown fruits, but the joy of tasting fruits pick directly from trees has defeated my common sense. Those berries were edible, though. I didn't feel anything bad after eating them. 



Strangely, those berries did not have any taste and smell. They were tasteless but quite okay for me.

Later, I've found out that it was called 'mock strawberry' or 'Indian strawberry', used to be an ornamental plant and now it is considered as a weed in some countries. I think I've found this mock berry in Philadelphia USA, and Oldenburg Germany. 

That was a kind of small memory that I always cherish about finding the mock berries.

Pekanbaru,



Monday, June 22, 2015

Share something meaningful to other people

I got a bouquet of tulip from one of former student when I arrived in Amsterdam last February.

That was a very nice gesture because of two things:
First, to receive a bouquet of tulip buds from Netherland, a country which is famous with tulip, was totally impressive!
Second, to honor me as a former lecturer and my arrival in Netherland, which was really meaningful. 

So, I brought that bouquet back to Indonesia. In the next few days, the flowers have been blooming, until they look like in this photo:



It was really difficult to keep them cheerful and beautiful in this hot-humid tropical country for a very long time. 

I kept them in an a-con room, but it wouldn't be long before they have started to shrink and decay. 

I cannot imagine how I could make it more meaningful now. 

To honor this beautiful memory, I got an idea. 

I gave some stems to current students, who were cheerfully kept the flowers for another few days. 

Some of them even kept the flowers in the fridge. This was very thoughtful. 

But, the original idea was not to extend the age of those flowers to make it more meaningful. 

I just simply wanted them to touch the tulip! To make them feel the tulip is real... the tulip does exist!

It become more meaningful now if this could be a motivation for them to work hard on their projects so they could finish them with a flying colors... 

or, to start planning to study in Netherlands or everywhere in the world.

Insya Allah,

Pekanbaru.

Friday, May 29, 2015

Crocus

I missed the time when I saw the early spring bloomers: e.g. crocus for the first time.



It was late winter, @UMIST, Manchester about 15 years ago. 

Spring has nearly there, with strong winds, rain and sunny days in between. It was such an unpleasant transition time.










But, hey look, I saw many green grass-like leaves at the campus lawn one day. Then, some blooms. Yellow, purple, white, even pink flowers were blooming...




 
...even this stripes crocus looked amazingly stunning.

















They become such a wonderful carpet at many botanical gardens. 



Actually, there is also 'autumn' crocus that blooms in every late summer/early autumn. I saw this type @Oldenburg Botanical Garden last summer.

The stigma of autumn crocus, called saffron, is an expensive spice to make aromatic/fragrant dishes. The spice saffron is from genus Crocus sativus.









I was so blessed... being able to enjoy crocus once more in Europe last March.  















Such a fresh welcome from the land for the spring season...



Pekanbaru,

Tuesday, August 12, 2014

Buah Anggur, Rainbow Lorikeet dan Dolma

Musim panas tahun 2011 kami tidak bisa menikmati panen buah anggur di depan kantor dengan nyaman.

Tidak seperti tahun lalu saat buah anggur tidak bisa diambil karena sangat berbahaya untuk berjalan di bawah pergola lapuk sarat dahan-dahan pohon anggur. Akan tetapi tahun berikutnya, buah anggur masak sudah mulai berkurang dari biasanya. Selain pengurangan pohon-pohon tua sehingga hasil panen menyusut, juga ada serbuan dari burung-burung pemakan buah seperti lorikeet. Burung-burung tersebut selalu datang lebih awal untuk menghabiskan buah-buah ungu kecoklatan dan hanya meninggalkan buah-buah hijau masam berukuran kecil di tangkainya. 

Jika ingin mencicipi anggur, kami harus memilih butir yang akan dimakan dengan hati-hati. Setangkai buah yang biasanya penuh butir-butir masak sekarang hanya tinggal sepertiganya saja bisa dimakan manusia.


Setelah beberapa lama berebut anggur masak dan tidak pernah sukses, aku memutuskan untuk berhenti memetik buah dan lebih banyak berdiri di bawah pohon untuk mengamati kedatangan lorikeet untuk makan.

Lantas, tibalah kesempatan itu. Di suatu hari yang sangat indah, aku beruntung bisa melihat dengan jelas kedatangan dua ekor rainbow lorikeet penyuka buah-buahan lunak seperti berri dan anggur. Subhanallah! Mereka benar-benar cantik dengan kepala berwarna ungu dan badan dengan warna oranye, merah, kuning dan hijau. Demi mendapatkan gambar terbaik, aku berdiri diam-diam seperti sebuah patung di bawah sepasang lorikeet yang terlihat ragu-ragu untuk makan anggur di hadapannya. Aku harus rela bertahan beberapa lama supaya keduanya tidak terbang karena mereka sangat mempesona. Alhamdulillah aku berhasil mengambil beberapa video dan foto lorikeet makan anggur.

Setelah melihat sendiri lorikeet makan buah-buah anggur, aku memutuskan untuk tidak mengincar buah-buah anggur masak lagi. Kali ini aku hanya akan mengambil daun-daun anggurnya saja. Biarlah aku makan daun anggur dan panen buah yang sedikit dihabiskan oleh lorikeet lucu-lucu tadi.


Sebentar, makan daun? Yakin?

Well, bagi yang pernah membaca post ini, pasti ingat tentang si mbak dari Abu Dhabi. Dalam curhatnya padaku ia mengaku paling malas jika disuruh majikannya untuk membuat sejenis makanan terbungkus daun anggur atau dolma. Dolma merupakan sejenis hidangan dengan isi berupa nasi, daging cincang atau keju yang dibungkus daun dan dikukus sampai padat. Agak menyerupai lontong daun anggur. Rasanya sendiri sedikit kecut, segar, dan sering menjadi hidangan penyeimbang rasa yang cocok untuk masakan daging kambing/sapi  penuh bumbu. 

So, siang itu aku berhasil memilih beberapa buah daun anggur berukuran besar yang bisa diisi untuk membuat dolma. 

Daun-daun itu hanya perlu direbus sebentar supaya layu, lalu ditiriskan hingga dingin. Daun diisi dengan beras dicampur daging cincang, bawang, garam, merica, dan lemon, lalu dilipat. Proses melipatnya sendiri cukup ribet tetapi menyenangkan. Kemudian dolma direbus paling kurang dua jam dalam air diberi sedikit minyak/mentega sampai isiannya matang. Dolma siap dihidangkan dengan makanan matang lain.

Untuk melihat teknik pembuatan dolma secara rinci, silakan mengunjungi link berikut.

Selamat mencoba,

Pekanbaru,