Showing posts with label Lifeskills. Show all posts
Showing posts with label Lifeskills. Show all posts

Tuesday, June 23, 2026

Menjadi Produktif bersama Grup Mahasiswa

Sejak menjadi dosen pada tahun 2001, aku ingin membimbing grup mahasiswa seperti yang dilakukan oleh kolega di Jurusan Teknik Kimia. Mereka membimbing mahasiswa di luar tugas akhir atau perkuliahan untuk meneliti, menulis ilmiah, dan mempresentasikan hasil penelitian pada seminar-seminar nasional. Aku ingin membantu mahasiswa agar aktif, produktif, dan berprestasi bersama dalam grup mahasiswa. 

Satu hal yang tidak bisa kulepaskan sampai 25 tahun berkarier pada tahun 2026 ini, adalah bekerja side by side dengan banyak mahasiswa. Sebagai dosen senior yang tidak punya banyak waktu lagi saat menjadi Koordinator Program Studi Magister Teknik Sipil, aku masih berusaha meluangkan waktu menjadi pembimbing TA 8 orang mahasiswa S1, dan 2 orang mahasiswa S2. Meski rempong, rasanya bahagia membimbing mereka, apalagi kalau mereka berhasil menyelesaikan penelitiannya bersama-sama. Prinsipku, datang bimbingan bersama, lulus juga bersama-sama.

Vibes kerja dalam tim dengan berbagai dinamikanya sebenarnya sangat penting bagi perkembangan kepribadian dan profesionalisme mahasiswa. Banyak mahasiswa sekarang sangat individualistis, tidak mau mengenal teman, tidak mau berbicara, bahkan tidak mau tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Bekerja sama dengan orang lain dianggap sebagai beban dan menyusahkan, padahal itu adalah tempat untuk berlatih bersosialisasi dan bekerja dalam tim. Saat bekerja dengan teman dalam grup/tim, pasti ada perbedaan yang harus disepakati, masalah yang harus diselesaikan, dan komunikasi yang harus baik agar tujuan kerja dalam grup tercapai. Pekerjaan penelitian mereka, meski bersifat individual, tetap harus dikerjakan secara bersama-sama oleh mahasiswa karena topiknya saling beririsan. Dikerjakan bersama tentu akan lebih mudah karena ada teman untuk berdiskusi, saling menyemangati, meringankan beban, dan mencari solusi. 

Sedangkan dari sisi dosen, bekerja dengan grup mahasiswa membantu shaping profesionalisme mereka. Tidak mudah untuk mendelegasikan pekerjaan kepada mahasiswa. Selain itu, harus menghadapi mahasiswa yang tidak seide dan tidak sejalan, misalnya, mahasiswa tahun 2026 ini punya style berbeda dengan mahasiswa tahun-tahun sebelumnya. Mereka cenderung menggampangkan segala sesuatu, serba ingin hasil cepat, dan hanya bisa bekerja berdasarkan satu perintah. Jarang ada yang mengerti cara memprediksi output dan outcome dari pekerjaan mereka. Critical thinking dan kemandiriannya juga kurang memadai. Bekerja dengan mereka membuatku belajar lagi tentang cara mendidik generasi mahasiswa saat ini. Dengan menyelami cara berpikir mereka, meski kadang-kadang aku emosi, aku juga mencoba menoleransi, sekaligus mencari solusi agar suasana tetap kondusif dan target grup tercapai. 

Keuntungan lain selain sama-sama produktif saat di grup mahasiswa, mereka kadang mendapat penugasan kecil karena terlibat dalam proyek penelitian dosen. Penugasan ekstra ini bermanfaat untuk melatih disiplin, kesabaran, dan kreativitas karena model pekerjaannya bersifat repetitif. Proyek penelitian dan pengabdian dosen membantu mereka mendapatkan eksposur lain dari dunia administrasi, keuangan, menulis laporan dalam bahasa Indonesia yang baik, disiplin terhadap tenggat waktu, manajemen proyek, serta cara menyampaikan hasil secara profesional. 

Moga batch 15 sukses semua. 

Pekanbaru,



Tuesday, January 28, 2025

When You Have to Leave and Say Goodbye Properly

 This post is not about relationships with people you love but with yourself and the place and situation you've been visiting temporarily. It is about saying goodbye in one stage of your heroic journey. 

I recently became a visiting scholar in the US. Although it was only for a few months, I knew I would experience a culture shock and a reverse culture shock. And I want to speed up the process. 

I have some reasons to do that. From my previous experiences living in the UK and Australia, the most crucial factors are adaptability and flexibility. New environments, cultures, geographical locations, and people make us uncomfortable because we are not in our element. Things we know change into new knowledge almost every day. The only thing that could save us is my attitude and mindset. I am prepared to adapt if I am observant and have a common ground. 

So, to speed up the process, there is nothing more than to do your homework. Think about the situation and how you are going to handle it. If you come into a new environment, rather than worrying so much about the new situation, just jump and become a part of the situation. It helps to understand the limitations and the strengths, and then you know that the reality is not as awful as what you've been thinking. Suddenly, you forget about your anxiety and start to enjoy the process or the journey. 

In reverse, when you return home, just think of how comfortable you were in the position. But when I returned, I was still the same person, but with a new attitude and knowledge. Understand that you have to undergo the process of culture shock again, but it won't be scary this time because you return to your initial environment. It's just another process; you will pass the transition very quickly because, you know, this time, you don't have the anxiety. Another tip is to properly say goodbye to anyone, anything, and any place once served you. It helps to acknowledge that they are a part of your heroic journey because of the lessons and joy that you've been experiencing. Acknowledging it means you're ready to let them go and exciting for the next role in your life back home. 

It is time to leave and say goodbye, properly. 

Pekanbaru,

Monday, July 5, 2021

Resilience di Masa Pandemi

Salah satu kemampuan dasar penting abad ke-21 adalah resilience. Resilience barangkali bisa disamakan dengan 'fleksibel' atau tidak rigid/kaku. Konsep ini terkait dengan kemampuan menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan dan lingkungan yang terus berubah dengan cepat. Bagaimana supaya kita bisa resilience dalam masa tak menentu yang tidak bisa kita prediksi saat ini?

Suatu hari aku sempat mampir di rumah tetangga yang sudah senior. Berhubung aku hanya sebentar, jadi kami hanya berbicara hal-hal penting saja seperti keadaan saat ini. Memang betul, kondisi pandemi mengubah dan memutar-balikkan semua kenyamanan dan kebiasaan kita sebelumnya. Pembicaraan kami sampai kepada keresahan, kegelisahan dan keprihatinan di tengah-tengah kondisi. Akhirnya terucap juga bahwa keadaan yang membuat kita pusing ini karena dunia sudah gila. Loh, kok gila? Aku jadi bingung, berarti menyalahkan keadaan ya. 

Beberapa teman yang sempat kontak mengatakan sejak pandemi mereka jadi punya kegiatan dan aktivitas baru. Ada beberapa hal yang tadinya tidak sempat dilakukan, seperti membaca, mengerjakan hobi, mempelajari hobi baru, mengurus kebersihan karena waktu berkendara ke tempat kerja sudah tidak ada. Bahkan ada target-target baru seperti rutin mengerjakan shalat sunnah rawatib, puasa sunat, menghafal juz amma, dan semua amalan yang tidak sempat dilakukan sebelumnya. Setahun lalu aku mengikuti kursus online di SPADA yang banyak membantu pengajaran daring selama dua semester ini. Orang yang mau fleksibel akan dengan cepat menyesuaikan diri dan mencari peluang untuk meningkatkan kompetensi personal dan profesionalnya ketimbang menyalahkan keadaan dan berkeluh-kesah.

Pada saat seperti ini, menjadi seorang yang resilience membutuhkan penerimaan akan situasi. Kemudian lebih cepat mencari jalan keluar, mengatur rutinitas, menghilangkan kesulitan dengan kebiasaan baru. Sebaiknya mempunyai perencanaan apa yang bisa ditingkatkan dalam situasi yang berubah dan bisa membaca trend kira-kira skill apa yang diperlukan setelah pandemi usai. 

Hal terpenting adalah tidak patah semangat, tetap belajar dan take it easy semua hal-hal sulit yang dapat menurunkan imunitas tubuh sehingga lupa bahagia dan bersyukur kepada Allah telah diberi nikmat dan rezeki yang sangat banyak. 

Pekanbaru

Monday, August 3, 2020

Tugas-tugas kursus training pembelajaran daring di SPADA

Setelah beberapa minggu juggling di antara pekerjaan wajib, sunnah, dll sambil mengikuti kursus pembelajaran daring di SPADA, maka aku berkesempatan menyelesaikan tugas-tugas khusus teknologi. Tugas-tugas pedagogi dan materi pembelajaran sudah dicicil sesuai tenggat waktu, tetapi tugas-tugas teknologi memerlukan waktu khusus karena ada tutorial yang harus diikuti.

Tugas teknologi yang telah berhasil dikuasai adalah: 
1) Penulisan script writing dan voice recording menggunakan app audacity 
2) Pembuatan animasi pembelajaran whiteboard animation menggunakan app explee dan videoscribe
3) Pembuatan poster dan infografis untuk pembelajaran dengan app canva 
4) Pembuatan slide presentasi menggunakan voice dan screen recording menggunakan ispringfree
5) Penyusunan materi LMS Spada berbasis Moodle
6) Penggunaan collaborative app seperti Trello, Padlet dan Jamboard
7) Penggunaan VR, AR dan MR untuk materi pembelajaran
barangkali akan bertambah lagi karena akan ada kursus app untuk evaluasi daring.

Contoh materi kuliah menggunakan whiteboard animation hasil karyaku dapat dilihat pada link berikut:



Pembuatannya sangat menantang karena harus tekun mencocokkan kemunculan gambar dengan audio yang telah kita rekam. Kadang harus memotong beberapa kalimat atau memotong jeda, terkadang bagian tersebut harus diulang-ulang sehingga cukup memakan waktu. 

Tetapi setelah beberapa lama (aku mengerjakan dalam sehari saja, tetapi semakin malam akan semakin cepat mengeditnya) maka aku bisa berpuas hati menguploadnya di Youtube.  

Pekerjaan dengan penuh kesungguhan dimulai dari membuat storyline, memilih gambar, musik, merekam narasi, lalu menyusun tiap gambar dengan cermat sesuai kecepatan narasi, benar-benar harus diganjar dengan sertifikat cantik dari Prof. Dirjen Dikti:)


Untuk memastikan bahwa aku terus bersemangat mengikuti semua kuliah (30 kursus) dan mengerjakan tugas-tugas, maka aku menggunakan strategi belajar dengan membagi materi menjadi tiga bidang. 

Materi pedagogi mengenai seni mengajar dan merancang pengajaran biasanya akan kuselesaikan terlebih dahulu, sebab aku menyukai teori-teori pembelajaran, trend terkini di bidang pendidikan, best practices, dan psikologi pendidikan.

Untuk materi pembelajaran, terkadang membutuhkan melihat video/slide berulang-ulang agar paham, maka biasanya akan kusisihkan waktu khusus sehingga bisa menghasilkan tugas merancang pembelajaran yang tepat, lengkap dan aplikatif. 

Sedangkan materi teknologi memang diusahakan setiap hari karena materi kursus ini mayoritas seperti game, ada banyak tutorial menggunakan app sehingga harus diikuti betul-betul setiap langkah agar memenuhi syarat (terutama tugas sebagai evaluasi). Materi ini kupilih saat aku sedang memerlukan challenge dalam hidup. Biasanya tugas berhasil diselesaikan tanpa bosan karena benar-benar mencurahkan pemikiran dan rasa dalam mengikuti tiap langkahnya. 

Mudah-mudahan persiapan semester daring mendatang sudah bisa dimulai tepat satu bulan sebelum kuliah dimulai. Insya Allah. 

Terima kasih kepada tim Kemdikbud, tim pengajar di SPADA, mudah-mudahan jadi amal jariyah kepada bapak ibu semua. 

Pekanbaru,

Tuesday, June 16, 2020

Pertama kali ikut Research Colloquium

Pengalaman pertama kali presentasi hasil saat PhD study

Pengumuman Research Colloquium Faculty of Engineering, Curtin University, sudah dimulai sekitar bulan September 2007. 

Tapi dasar procrastinate, adaaaa aja alasan untuk ga submit abstrak sampai detik-detik terakhir. Ingin dapetin hasil dulu-lah, belum cukup materi untuk presentation-lah, sampe ga tau juga mo submit judul apa, hahaha (bener-bener student yang ga perlu ditiru).

Setelah hari deadline datang, aku masih belum submit abstrak apa-apa juga. 
OC udah bertanya terus hingga extend jadwal pengumpulan. 
Rasa-rasanya topik itu sudah ada dalam bayangan, tapi, apa iya itu topik yang tepat? Mungkin ada topik lain yang lebih seru untuk didiskusikan? 
Ini gaya procrastinator sejati, ya, kalo udah last minute, tentu saja topik yang ada jadi topik terbaik--- soalnya sudah tidak ada pilihan lagi!


Beton yang siap diuji cover testing qualitynya.

Sampe hari extended submission, aku masih belum mendapatkan ide yang pas sesuai dengan data-data yang ada saat ini. Ternyata perlu banyak waktu untuk mempersiapkan topik pilihan itu. Bolak-balik search literature dan bongkar website sana-sini, akhirnya aku memutuskan memakai judul COVER QUALITY TESTING. 

Idenya datang dari website Papsworth. Cover Quality Testing itu terkait dengan nilai permeability, sorptivity dan Volume Permeable Voids (VPV) pada beton. Barangkali saat melakukan pengujian-pengujian yang kukira mudah tersebut, ternyata bisa dikategorikan menjadi sebuah kesatuan di bawah topik Cover Quality Testing. 

Pengujian permeability, VPV dan sorptivity dari beton geopolimer dapat dijelaskan dengan ringkas.  

Permeability itu berhubungan dengan perpindahan air dalam beton akibat tekanan. 

Sedangkan VPV adalah besarnya volume voids/rongga dalam beton yang dimasuki oleh air. Rencananya data-data ini dipakai untuk mengevaluasi kemudahan air masuk ke dalam beton, sehingga dapat memprediksi kemudahan ion klorida masuk ke beton secara difusi.  

Apabila nilai koefisien difusi besar, ada kaitannya dengan nilai permeabilitas yang besar.  Agar kecepatan air masuk melalui dalam selimut beton diketahui, maka aku menambahkan test sorptivity. 

Setelah konfirmasi ke OC, akhirnya aku disibukkan membuat slide presentasi. Dasar amatiran, awalnya slide tersebut panjang sekali dan super detil. Tapi aku ingat, gaya presentasi Western kan mesti tepat-tepat, singkat, dan jelas. Apalagi ini buat audiens umum, bukan specific audience (sebab itu disebut colloquium). 

Aku harus membuat slide yang sederhana, menarik dan mudah diikuti oleh audiens. Beberapa teknik penyajian aku coba-coba, akhirnya model tabel perbandingan data saja yang aku siapkan.  Melalui teknik tersebut, key points dari riset ini bisa dilihat dengan jelas. Mudah-mudahan audiens bisa menangkap maksud kita dengan cepat. 

Setelah presentasi selesai, beberapa teman asing memberikan ucapan selamat. 

Surprise juga. Mungkin mereka just try to be nice saja. 

Tapi aku tetap senang, karena debut pertama di RC cukup sukses sehingga memberikan sedikit rasa pe-de bahwa sebenarnya aku bisa menghasilkan presentasi yang bisa diikuti audiens dari berbagai bidang ilmu dan latar belakang budaya.

Perth 2007,
Pekanbaru 2020.

Selamat, ya, jangan mepet lagi.

Friday, June 12, 2020

Reuni

Ini adalah opiniku soal reuni.

Beberapa tahun lalu, reuni buatku bukan prioritas. Setelah lama-lama jengah dengan ajakan 'kumpul yuk', 'reuni yuk', 'temu alumni yuk' ala teman-teman SMAku (sorry, guys!), yang diisi dengan kegiatan ketemuan di tempat makan, aku memutuskan 'reuni dengan teman-teman SD/SMP/SMA' is not my style of socializing'. Kecuali... eh, kecuali, reuni dengan teman-teman alumni dari universitas lain. Itu, baru namanya socializing!


Reuni ibarat benchmarking atau tempat mengukur keberhasilan diri?

Masa lalu, mbok dibiarkan berlalu. Apa serunya ulang-ulang cerita lama tentang guru matem, guru ipa, guru kesenian, malam kesenian, etc. Mungkin juga ada sedikit singgung-menyinggung kehidupan di kompleks, ngecengin kakak kelas/adik kelas, kisah cinta orang, band waktu SMP atau teman-teman yang ngetop di sekolah. 

Seperti memutar program radio berulang-ulang saja menceritakan indahnya kehidupan yang tak tersentuh realita di dunia tersebut.

Setelah dipikir-pikir sepertinya aku malas reuni mungkin karena dulu aku bukan seleb atau kurang top saat SMA? *mikir sambil giggling*. Atau barangkali terlalu banyak stori dengan teman-teman yang kurasa agak memalukan? Mungkin juga karena masa-masa tersebut kita tidak jaim sehingga dunia serasa milik anak-anak SMA membuatku merasa kuper setelah berinteraksi dengan dunia lain di Jogja, Manchester dan Perth sana. 

Cihuy, akhirnya paham juga kenapa aku hating 'reuni anak SMA'ku itu.

Tapi kalau temu alumni teman kuliah aku baru cepet datangnya. Berhubung masa-masa kuliah tidak ngetop juga, tapi jelas yang mo dibicarain scope-nya cukup luas, jadi aku tidak keberatan ketemu teman-teman baru yang satu alumni denganku. Minimal bisa tuker-tukeran pendapat tentang sistem universitas atau info tinggal di Jogja, dah!

Kalau ikut reuni dengan teman dari universitas lain, nih, yang sebenarnya lebih menarik hatiku. 

Kebetulan waktu aku selesai S1, aku bertemu sekelompok teman-teman dari institut terkenal di Denpasar, bahkan salah satu dari gerombolan itu malah jadi 'mi hubby'. Apa sih, maksudnya? Maksudnya, aku menemukan teman-teman dari uni paling top di Indonesia, yang kukira 'tinggi hati' dan 'ga mau teman dengan kami yang dari swasta', seperti anak-anak universitas negeri yang kutemui di Jogja. 

Mau ding, berteman, tapi yoo, karena dari swasta, kamu ga bisa jadi temanku, okeh? Gitu kira-kira 'gesture' mereka. 

Nah, teman-teman dari institut ini kok ya, ramah gitu, rendah hati, padahal pinter-pinter, merajai kelas bahasa waktu itu dengan writing tertinggi atau skor latihan tertinggi. Ga keliatan kalo mereka mengusung 'we are from somewhere above khayangan, lo' seperti yang kukira. Bahkan dengan baik hati mereka suka mendengarkan aku curhat, memberi saran-saran jenaka atau saran-saran jitu saat kami semua mulai bersahabat. 

Pendeknya, aku seperti menemukan teman-teman dari dunia yang sama! Jadi nyesel dulu ga berusaha kerja-keras masuk institut ini... (hihi, kayak keterima aja!). Serius, itu termasuk satu hal yang kusesali, bahwa aku tidak cukup informasi dan kemauan untuk belajar keras masuk ke salah tempat terbaik menuntut ilmu di negara ini.

Anyway, last time, temu alumni institut ini di Burswood Park membawaku dan hubby berkenalan dengan komunitas kampus mereka di Perth. 

Aku tidak bicara banyak-banyak dengan teman-teman wanita yang ternyata para istri, tetapi aku malah ngerumpi riset dengan Amalia, temanku di kampus. Barulah pada saat mereka memperkenalkan diri, dengan seksama aku mengamati orang-orang yang mengaku alumni itu. Pada dasarnya mereka pede (mungkin karena menjadi lulusan institut itu sangat bergengsi), mayoritas berkarir di Australia (bukan jadi student, loh), berani mengambil resiko (beberapa jadi enterpreneur atau berkarir di bidang lain, bukan majornya), tidak sombong, punya kepedulian sosial (waktu itu ada yang ngusulin iuran untuk memberi beasiswa mahasiswa S1 di kampus lama mereka yang susah) dan memang ramah-ramah.

Aku menangkap 'gesture' berbeda dengan perkumpulan teman-temanku dahulu. Kelompokku itu kadang kurang efisien dan efektif dalam kegiatan seperti ini. Seringnya bercanda, saling mengejek, berpanjang-panjang membicarakan harta/karir, membicarakan masa lalu, hal-hal yang membuat keningku jadi berkerut banyak karena bingung dan menganggap mereka buang-buang waktu. 

Whua, anyway, mungkin daripada ntar aku dikira songong, mending aku bilang kalau 'duniaku mungkin sudah berbeda' dengan dunia mereka.

Jadi temu alumni yang kuikuti beberapa minggu lalu, masih meninggalkan keingin-tahuan sebenarnya, 'seperti apa yang diajarkan di kampus my hubby, ya?' atau 'seperti apa rasanya jadi mahasiswa di sana'? Hiks!

Perth 2009
Pekanbaru 2020
Thank's hubby yang udah mau mengajakku ke sana dan memberikan perspektif lain.

Monday, June 8, 2020

Apakah itu Calling?

Aku ingat bertahun-tahun lalu (tahun 2004-2005), saat menjadi ketua sebuah pelatihan mengenai penelitian, ada seorang peserta yang bertanya pada ibu narasumber. Beliau menanyakan mengapa penelitian perlu dilakukan seorang dosen. Kemudian beliau menyatakan bahwa bukankah kegiatan penelitian sebenarnya tidak perlu. Seringkali hal-hal yang ingin diteliti sudah pernah dikerjakan orang lain atau hasil penelitiannya sering tidak terpakai, hanya sebatas teori saja. Jadi, untuk apa susah-susah meneliti kalau tidak digunakan? Meski kedengaran konyol, pertanyaannya mengingatkan kita bahwa ada saja orang yang kelewat pragmatis dalam hidup, sehingga lupa soal 'calling'.

Sebenarnya pertanyaan beliau itu mengingatkanku pada orang lain yang menyangsikan kegiatan yang sedang kulakukan. 

Menurut beliau, untuk apa bercapek-ria menulis blog yang sepi peminatnya, atau membimbing mahasiswa untuk meneliti atau menulis padahal mereka toh tidak akan terkenal juga sebagai penulis. Apakah hal itu tidak menyia-nyiakan waktu dan biaya saja.


Menyumbangkan sebuah bangku di taman agar orang-orang bisa duduk sambil menikmati tulip di musim semi adalah sebuah calling.

Saat itu aku tidak bisa menjawab dengan baik, karena aku belum punya jawabannya. Tetapi setelah direnungkan baik-baik, aku merasa hal ini adalah ‘calling = semacam panggilan hati’ untuk berbagi dalam kebaikan. 

Seringkali tulisan di blogku mungkin berisi hal remeh-temeh atau cerita perjalanan liburanku yang mungkin tidak menarik bagi sebagian orang, tetapi mungkin menarik buat orang-orang tertentu. Aku hanya ingin berbagi cerita, pengamatan, pengalaman, dan opiniku yang sifatnya bebas, mau diikuti, mau dibaca atau tidak diterima atau bahkan dipercaya oleh orang lain. Siapa tahu suatu saat ada yang mengalami pengalaman sama denganku, sehingga tulisan tak terbaca tadi bisa jadi sebuah rujukan dan menggugah perasaan. Malah siapa tau bisa membangkitkan semangat jiwa yang sedang turun. Toh, walaupun blog sudah jutaan jumlahnya di dunia, masih ada juga orang yang mungkin membutuhkan hasil pikiran atau secuil ilmu titipan Allah di diri kita.

Bisa jadi hobiku membimbing mahasiswa meneliti dan menulis dipandang tidak menguntungkan. Padahal 'calling' tidak bisa dikuantifikasi dengan penghargaan 'tangible' dan 'intangible' karena ada manfaat yang tidak bisa diambil dalam waktu singkat, tetapi perlu latihan bertahun-tahun.

Sebenarnya yang beruntung dari kerja sama ini adalah kami berdua, karena mahasiswa dapat kesempatan berlatih menulis dan belajar mandiri. Di pihakku, mengajak mereka menulis bersama sebenarnya tidak hanya meningkatkan semangat diriku, tetapi juga kreativitas dan produktivitasku. 

Mereka akan belajar untuk riset bahan tulisan dan mencoba menceritakan kembali pemahaman lewat tulisan. Juga mereka terlatih untuk mengeluarkan pandangan, ide dan saran melalui tulisan. Lebih positif, kan? 

Belajar bersama, mengerjakan project bersama-sama terasa sangat menyenangkan, karena bisa saling menyemangati dan berbagi informasi.

So, despite semua ketidakyakinan dan perhitungan untung-rugi yang dilakukan dengan akal pikiran saja, maaf, hal itu tidak akan menggoyahkan semangatku untuk tetap berbagi kegiatan mahasiswa, blog, dan project-project sosial yang bisa membantu orang lain dan sekuat yang bisa diusahakan. Insya Allah aku akan berusaha istiqamah dalam menjalankan calling atau panggilan hati nuraniku ini sampai Allah tidak izinkan lagi.

Mengenai pertanyaan temanku tadi, ibu narasumber menjelaskan bahwa penelitian bukan seperti sebuah pekerjaan yang kemanfaatannya bisa dirasakan dalam jangka waktu pendek. Tetapi apa yang dikerjakan sekarang, terlihat tidak berguna, sebenarnya bisa memperkuat dan membantu mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga suatu saat dapat bermanfaat bagi orang banyak. 

Untuk bisa mengerjakannya, kita perlu 'calling', supaya tidak terasa membebani hidup kita dan penelitian yang dikerjakan berdampak pada masyarakat dan lingkungan. 

Begitulah.

Perth 2011
Pekanbaru 2020
Tulisan ini direvisi dan dipublish pada tahun 2020. 

Thursday, June 4, 2020

Simplicity

Sekarang aku jadi penggemar beberapa vlog atau channel Youtube mengenai simplicity. 

Simplicity = a thing that is plain, natural and easy to understand.



Dahulu waktu S1 aku mempunyai seorang dosen yang sangat teliti, fokus, dan dedicated. Beliau bisa menyederhanakan sesuatu sehingga bisa diikuti oleh mahasiswa seperti kami dengan mudah, misalnya kurva dinamika struktur yang sulit dipahami. Entah mengapa setiap garis dan angka serta persamaan tadi bisa dimengerti seolah-olah kita membaca buku non-fiksi yang menyenangkan. Bertahun-tahun bekerja, rasanya hal itulah yang ingin aku capai. Menurutku, orang yang pintar, adalah orang yang bisa menyederhanakan sesuatu menjadi mudah dipahami atau dikerjakan.

Kembali ke simplicity tadi, sebenarnya aku hanya ingin menyetop berada di roda hamster yang keep rolling tanpa tentu arah karena tuntutan dan kompetisi di dunia kerja. 

Kita tidak mungkin melakukan semua hal dalam hidup ini hanya untuk mendapatkan label dan validasi dari semua orang. Impossible jadi expert dalam berbagai hal karena akan menghabiskan waktu, energi dan dana, termasuk umur. Bukankah lebih baik kita melakukan sesuatu yang kita sukai dan memiliki kekuatan di situ, sambil terus mengasah keahlian terkait sehingga hasilnya akan lebih otentik dan powerful? Barulah disitu kita mendapatkan label expert, meski janjinya tadi tidak mau pakai label. 

Anyway, vlog yang kumaksud adalah:

Mbak Liziqi 

Haegreendal

Matt D'Avella

Barangkali ada banyak vlog serupa, tapi menurutku ketiga personal tersebut sangat otentik dan semakin hari semakin terasah karena kemampuan mereka menyederhanakan hidup. 

Pekanbaru, 

Saturday, May 23, 2020

Hubunganku dengan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka)

Bincang-bincang mengenai Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), aku ingin ikut memberikan refleksi selama berkarir 20 tahun menjadi dosen. 

Saat mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melaunching Program MBKM kebijakan no 4, dunia kampus seperti stunned. Tak berapa lama muncul semacam panduan beberapa pimpinan kampus berusaha merumuskan praktek MBKM versi mereka seperti praktek magang, kewirausahaan, dll yang pernah dilakukan. Semua menunggu juknis, panduan, dan jika bisa terjemahan dalam bentuk konkrit. Beberapa kampus juga berlomba-lomba mendatangkan dirjen-dirjen untuk menggali informasi soal MBKM agar mendapatkan langkah tepat dalam melakukan perombakan kurikulum serta berbagai hal lain dalam implementasi MBKM. 

Tetapi jawabannya dalam beberapa hal, adalah tergantung kreativitas Perguruan Tinggi, kemampuan networking, kemampuan negosiasi, kemampuan kerja sama, kemampuan mencari dukungan dengan pihak pemerintah dan industri. 

Oh, well.

Untuk hal ini, kita harus membuat kebijakan internal lagi dan memilih kegiatan yang bisa dilakukan. 

Terkait dengan MBKM, aku menerima program tersebut dengan senang hati karena salah satu programnya terkait riset mandiri. Sebagai seorang pejuang kegiatan kreativitas mahasiswa selama 20 tahun berkarir, sudah saatnya mahasiswa diberi kesempatan dan didorong memilih bidang-bidang yang mereka minati untuk keperluan karir mereka di masa depan. Contohnya, aku tahu tidak semua mahasiswa harus jadi pekerja di sektor swasta maupun pemerintah, bisa jadi mereka ingin menjadi peneliti dan dosen. Oleh karena stereotipe bahwa lulus harus bekerja, maka mahasiswa yang berminat meneliti dan berkarir di bidang akademik kadang diarahkan untuk bekerja di lapangan. Padahal mereka sangat berbakat memajukan sains dan teknologi di perguruan tinggi, tetapi alih-alih mendorong, banyak dosen lebih suka melihat alumni bekerja di tempat bonafid dengan gaji besar. Meski itu selalu menjadi ukuran keberhasilan dalam borang akreditasi/audit, tetapi menjadi akademisi juga bisa bonafid dan banyak manfaat sosialnya. Oleh karena itu aku mendorong membuat grup-grup riset dan pengabdian yang kecil-kecil meski peminatnya tidak lebih dari jumlah semua jari tangan dan kaki, akan tetapi manfaatnya bagi perkembangan ilmu dan keahlian mereka sangat besar. 

Setelah ikut webinar dengan pembicara Prof. Nizam, bisa dilihat ada beberapa manfaat MBKM untuk mahasiswa dan dosen. Hard work, challenging, but interesting.


Manfaat MBKM

















Jadi, pada kebijakan no 4 itu ada delapan kegiatan yang bisa dilakukan mahasiswa dalam 3 semester dikonversi menjadi 20 SKS atau 60 SKS. Kita coba berimajinasi bahwa aku adalah mahasiswa yang mendapatkan kesempatan MBKM, kira-kira apa yang ingin aku pelajari dan lakukan dengan 20 SKS per semester tersebut?

Aku menyukai riset dan menulis ilmiah, maka aku akan mendaftar kegiatan riset mandiri dengan tim dan mengikuti lomba-lomba supaya produk yang kami ciptakan teruji dan dapat dimanfaatkan masyarakat. 

Barangkali aku akan mengambil magang industri, untuk mendapatkan pengalaman kerja di BUMN, mendapatkan skill teamwork, negosiasi, decision making, dan etika kerja. 

Terakhir, aku akan mengikuti sit-in/kredit transfer di perguruan tinggi dalam/luar negeri, tergantung budget dan beasiswa. Aku akan mengambil mata kuliah yang sangat diperlukan secara global dan merupakan pendekatan baru dari ilmu-ilmu di Teknik Sipil. 

Kalau diajak dosen penelitian dan beliau mendapatkan grant/hibah, maka aku tertarik mengambil peluang tersebut. Tidak semua dosen mengajak mahasiswa dan mentrainingnya langsung untuk mengerjakan riset, menulis proposal, dan menulis publikasi. Apalagi aku bisa jadi first author atau co-author untuk beberapa paper. 

Sepertinya hal itu yang akan aku lakukan kalau ada kesempatan mengikuti MBKM.  Semua tergantung minat, keahlian, kompetensi dan outcome yang kuinginkan untuk persiapan pekerjaan di masa depan. 

Itulah hubunganku dengan MBKM. Aku rasa aku bisa membantu mahasiswa untuk mendapatkan kesempatan mengikuti program MBKM dengan mempersiapkan mereka sesuai dengan capaian pembelajaran yang diperlukan.

Pekanbaru,

Saturday, May 16, 2020

Tiba-tiba kita menjadi penggemar Webinar saat WFH s

Beberapa tahun lalu aku sempat menjadi pelanggan webinar mengenai penelitian, mereview paper, menulis proposal, membuat artikel, dan aneka topik lain dari Elsevier Publishing Campus (sekarang namanya menjadi Elsevier Researcher Academy).  Apalagi pada masa-masa itu dapat e-certificate sangat menyenangkan, bisa menambah isi CV dan pengetahuan kekinian mengenai riset dan publikasi. Tim Publishing Campus juga generous dengan topik-topik terbaru seperti Networking, Make your publication visible dan career path dalam riset. Semua itu memberikan keahlian dan kompetensi yang diperlukan sebagai seorang peneliti, reviewer dan penulis makalah saat ini. 



Meeting online dengan tim konsultan ACER

Satu bulan setelah WFH berjalan, aku menemukan kesenangan baru, yaitu video meeting online. Meskipun boros pulsa, tapi bisa menyampaikan informasi dan mendapatkan umpan balik dengan cepat lebih melegakan. Kecepatan dalam berinteraksi juga menjadi salah satu ukuran dalam menyelesaikan pekerjaan saat WFH. Kita tetap bisa mengejar ketinggalan dalam pekerjaan dan saat bersamaan tetap produktif. Kita menemukan pola-pola komunikasi baru yang lebih efektif dan efisien lewat video meeting, misalnya harus dapat menyampaikan message dalam waktu singkat, merespon bergantian sehingga semua orang kebagian kesempatan berbicara, bisa merancang meeting dalam waktu singkat, meeting dengan berbagai orang dari negara lain, hingga bisa berbagi layar sambil belajar dan asistensi dengan mahasiswa. 



Webinar Unpad-German Ambassador to Indonesia
Tetapi, setelah dua bulan WFH berjalan, aku malah jadi sering mengikuti webinar. Ini cara pengisi waktu luang yang baru. Apalagi dengan berjalannya waktu, banyak sekali tawaran-tawaran webinar dari berbagai institusi di dalam dan luar negeri untuk berbagi informasi dan pengetahuan mengenai berbagai hal.  Beberapa hal yang dulu hanya bisa diikuti dalam hitungan bulan, tahun, karena ikut seminar atau konferensi, mendadak bisa dijadikan kegiatan harian bahkan berpindah-pindah webinar dari satu tempat ke tempat lain. Hari ini aku mengikuti webinar tentang STEM dari UNJ, setelah itu Indostaff serial talk series dari alumni pelatihan DAAD. Beberapa hari yang lalu webinar dari Unpad dengan mendatangkan Duta Besar Jerman di Indonesia. Next time, aku juga akan register ikut webinar beberapa petinggi Kemendikbud dan tim Baltic Gender di negara-negara Baltic. 

Webinar UNJ-Rachel Seffield, STEMinist Research Group

Luar biasa hobi baru ini. Tentu saja aku selektif memilih topik, sesuai minat (gender, internationalization, current development in higher education), dan pengisi acara (pimpinan, pejabat Kemendikbud, dan pihak internasional) agar waktu kerja tidak habis juga. Selain ingin tetap mengupdate wawasan di bidang-bidang tersebut, aku juga ingin mempermahir kemampuan English dan menambah vocab melalui seminar bermutu dalam topik yang relevan. Hanya sayangnya hingga saat ini belum ada webinar topik riset yang bisa diikuti, karena dari American Concrete Institute biasanya berbayar.  Kesukaanku pada webinar ini dapat membantu transfer informasi dengan cepat tanpa harus berangkat ke negara tertentu hanya mendengarkan pembicara favorit di bidang-bidang tadi melalui seminar dan konferensi. Mungkin ini akan jadi hobby baru setelah WFD kembali normal. 


Webinar Indostaff Series Talks 1

Pekanbaru, 

Saturday, December 14, 2019

Biar Lambat Asal Bagus atau Semakin Cepat Semakin Bagus

Prinsip 'biar lambat asal bagus' ini sedikit kontradiktif dengan pepatah kesukaanku "ikan sepat ikan gabus, semakin cepat semakin bagus"... Tapi barangkali bisa kita tempatkan kapan kita pakai prinsip di awal, kapan kita pilih prinsip yang terakhir saya sebutkan tadi. 

A giant clock at Lake Zurich, Switzerland
Kita mungkin pernah mendengar atau menghadapi orang yang sebenarnya menghasilkan pekerjan berkualitas tinggi, tetapi sering dinilai lambat karena tidak bisa memenuhi tenggat waktu tertentu.  Dalam terminologi produktivitas, prinsip 'biar lambat asal bagus' sebenarnya tidak begitu tepat digunakan. Untuk masa kini yang memerlukan kecepatan proses, maka bekerja dengan mode lambat akan menghalangi banyak hal di belakangnya, terutama jika berhubungan dengan anggota tim lain atau jejaring kerja di luar sana.  

Setelah direnungkan, barangkali ada tarik-menarik orang tersebut untuk menghasilkan pekerjaan berkualitas meski waktu tidak mengizinkan. Padahal dalam tenggat waktu tersebut tidak selalu diperlukan pekerjaan super bagus karena memang hanya perlu diselesaikan. Kemungkinan orang tersebut tidak bisa menilai dan memberikan skala prioritas sehingga setiap pekerjaan seperti ada beban harus diselesaikan dengan gemilang dalam waktu singkat. Maka keahlian untuk memproses sesuatu pekerjaan dengan fokus dan kecepatan tinggi menjadi sangat perlu dikuasai. 

Kapan kita bisa memakai prinsip 'semakin cepat semakin bagus' dan kapan prinsip 'biar lambat asal bagus' digunakan dalam mengerjakan pekerjaan tertentu? 

Pertama, berikan penilaian apakah pekerjaan tadi merupakan bagian dari pekerjaan rutin dan berkaitan dengan tim kerja. Jika iya, berarti kita harus mencocokkan waktu dan hasil pekerjaan dengan semua anggota tim. Biasanya mengerjakan 75-80% dari tuntutan tugas sudah cukup membantu, karena biasanya akan ada sesi 'tailoring' saat semua anggota tim akan saling membantu menyempurnakan pekerjaan yang belum lengkap. Terkadang pekerjaan tersebut tidak bisa dikerjakan terlalu sempurna karena berpotensi direvisi sehingga tidak efektif dan efisien kalau dikerjakan lama-lama.

Kedua, berikan penilaian apakah pekerjaan tadi termasuk tugas kreatif dan mandiri, berhubungan dengan brand atau identitas kita, bisa dikerjakan secara individu dan punya tenggat waktu tidak mengganggu tim? Nah, pekerjaan seperti ini memerlukan fokus, dikerjakan dengan hati-hati dan harus diselesaikan secara 90-95% secara mandiri.  Inilah pekerjaan yang akan menghasilkan dampak besar untuk promosi dan reputasi dalalm jangka panjang. Untuk pekerjaan seperti ini, kontrol ada di tangan kita sehingga bekerja dengan lambat tetapi menghasilkan pekerjaan yang bagus jauh lebih efektif dalam segi mencapai tujuan dan efisien arena tidak ada pengulangan-pengulangan signifikan.

Untuk beban kerjanya sendiri, kita bisa ukur berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk menghasilkan pekerjaan dengan dampak besar secara berkelompok atau  individu. Menuruti prinsip Pareto, kita memahami bahwa mayoritas hasil berasal dari input yang kecil (minoritas).  Kita bisa membuat keputusan bahwa dalam tiap pekerjaan ada kontribusi 20% (tahap awal) untuk memikirkan apakah pendekatan pekerjaannya semakin cepat semakin bagus atau biar lambat asal bagus. Kadang keputusannya tergantung nature dari pekerjaan sendiri dan tenggat waktu yang diperlukan.  Pemilihan kondisi yang paling tepat banyak membantu kesuksesan kerja kita.

Pekanbaru,

Saturday, July 13, 2019

Back home again! Menulis lagi!

Keinginan kembali ke 'rumah' lowlymonita.blogspot.com sudah ada beberapa tahun lalu. Blog inipun sempat ditutup karena beberapa pertimbangan. Sibuk mengurus hal-hal lain, kebiasaan menulis dan sharing malah jadi terlupakan. 

Kali ini aku akan memprioritaskan menulis di blog ini supaya semua terecord dengan baik dan bisa jadi ladang amal di akhirat kelak. 
Aamiin. 

Aku kehilangan skill menulis karena banyak membimbing dan meneliti lalu buru-buru publikasi di media lain. Setelah melihat indeks sitasi Google Scholar (GS) yang lumayan menanjak tahun 2019 ini, baru aku merasa, bahwa menulis itu memang skill dan passion, lalu artikel jurnal, artikel prosiding, dan blog adalah marketnya. Sejak itu aku bertekad untuk mengulang lagi kebiasaan lama, menulis banyak-banyak, membaca buku-buku, dan mempublikasikan tulisan lewat blog, jurnal, media online, dll. 

Ini profil GS yang kuceritakan di atas. 


























Nah, maksudnya gimana nih. Udah segitu yang sitasi (cited by). 

Ada lagi profil dari lembaga pengindeks terkenal, Web of Science, yang membuatkan slot peran sebagai reviewer. Tidak hanya penulis, tapi juga sebagai reviewer terverifikasi oleh Publons. 













Nah, data sebagai reviewer ini juga lumayan karena sekarang naik pangkat ke Guru Besar (GB) juga perlu bukti kalau kita memang ahli mereview. Soal tips mereview, silakan cek link berikut. 

Satu lagi yang baru dijajal adalah sebagai penulis artikel bidang Pengabdian Kepada Masyarakat. Sebenarnya sudah ada tiga artikel di jurnal Sinergitas PKM & CSR, berikut salah satu contohnya:


























Tulisan ini dibuat bersama mahasiswa PKMM (Pengabdian Kepada Masyarakat) yang telah selesai mengadakan kegiatan pada tahun 2018. PKMM ini didanai Kemenristekdikti dan mendapat sambutan baik dari warga Kualu Nenas. 

Melihat-lihat lagi progress beberapa tahun vakum di blog, rasanya ada yang kurang kalau tidak menuliskan proses, hasil, atau hanya sekedar berbagi ide dan motivasi. 

So, I'll be back with more posts. Hore, menulis lagi!!!

Pekanbaru,

Saturday, December 30, 2017

Memaknai Tema Tahunan dalam Karir Akademik

Catatan:
Beberapa post penting sempat hilang dari blog akademik yang rutin diisi. Oleh sebab itu semua post akan dipindah sesuai tanggal publish ke blog ini sebagai pertinggal agar selalu bisa diakses. 

Repost dari link berikut. 


Sejak tahun 2012, saya mulai merefleksikan mayoritas kegiatan-kegiatan dan pengembangan diri yang dilakukan pada tahun tersebut menjadi sebuah tema tahunan. Merujuk pada post sebelumnya di tahun 2016, ada beberapa tema tahunan, yakni:
Tahun 2012 = tahun data base (mengupdate, mengumpulkan, dan mereview data serta kinerja)
Tahun 2013 = tahun traveling (ke beberapa negara)
Tahun 2014 = tahun internationalization dan networking (highlight: Unilead Germany dan Alumni Reference Group Australia Awards in Indonesia)
Tahun 2015 = tahun creating content and sharing insight (belajar jadi narasumber, public lecture, conference)
Tahun 2016 = tahun community service (highlight: flipmas Batobo)
Pada tahun ini Allah mengundang saya mengasah skill-skill lain.
Tahun 2017 = tahun mentor, auditor, examiner and reviewer (internal Unri dan external Unri, ISO 9001:2015, Australia Global Alumni).
Tema tahun 2017 ini memiliki pesan amat mendalam selain amanah besar untuk memberikan pertimbangan atau rekomendasi tepat sasaran dan bermanfaat melalui evaluasi dan pertimbangan cermat mengenai kapabilitas seseorang. Menjadi seorang mentor, examiner dan reviewer juga berarti membantu orang lain agar dapat berkontribusi bagi perubahan dan pengembangan di berbagai bidang di Indonesia. Apa yang menjadi keputusan bersama akan dapat mengubah banyak hal dari diri dan orang di sekeliling pelamar sendiri.
Pelajarannya dari kegiatan ini adalah: be humble, treat everybody equal because they're potential candidates, speak from your heart, and share your knowledge on how to improve their abilities.
Tema tahun ini juga memerlukan networking, manajemen waktu terbaik, daya juang, daya tahan, semangat, integritas, ketajaman berpikir, bisa memberi feedback dengan fair, dan bersikap etis. Thinking outside the box, pengamatan dan mau keluar dari comfort zone. Banyak membaca, rajin diskusi dan mengikuti perkembangan terbaru di bidang ilmu. Harus berani masuk ke situasi-situasi yang tidak familiar lalu menghadapinya dengan profesional tanpa banyak mengeluh. Harus bisa juga membuat keputusan-keputusan kritis berdasarkan fakta, pengalaman dan jam terbang dan merekomendasikan sesuatu yang dampaknya besar dalam jangka panjang serta memiliki multiplier effect di masyarakat. Easy to say, but difficult to imply it.
Tanpa disadari lama-lama saya lebih lincah memberi feedback dan mampu memandang dari berbagai angle kepentingan untuk membuat keputusan.
Alhamdulillah. Moga tema kegiatan tahun berikutnya lebih seru lagi.

Thursday, November 30, 2017

Berpartisipasi dalam Alumni Professional Development Program (APDP)

Repost dari link berikut:

Program ini merupakan implementasi ‘Alumni Engagement Strategy’ oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) dan Australia Awards in Indonesia (AAI). Kegiatan dilaksanakan oleh Konsorsium universitas di Australia dan Indonesia yang dipimpin oleh Griffith University. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah dan mengembangkan networking antara alumni. Peserta yang mengikuti kegiatan dibagi menjadi dua, yakni mentor dan mentee. Kegiatan dilaksanakan dari Mei 2017-Januari 2018.
Motivasi saya mengikuti program ini sederhana saja, “to give back to my profession while building expertise”. Maknanya, saya ingin meningkatkan skill, mengupdate skill, dan membagi skill yang saya miliki dalam hal publikasi penelitian. Selain itu, saya ingin bertemu teman-teman alumni Australia atau alumni universitas negara lain di kegiatan-kegiatan Professional Development seperti ini.
Sebagai salah satu mentor APDP, saya mendapatkan pengalaman berikut:
a) Mentoring sistem menggunakan platform mentoring yang diorganize oleh Griffith University. Platform ini membantu saya berinteraksi dengan organizer, mentee, dan mentor lain. Interaksi dengan mentee dapat dicatat dan dievaluasi oleh organizer di Australia. Secara umum ada beberapa milestones yang perlu dilakukan: develop the rapport, goal setting, mentoring agreement discussion, mid-point assessment feedback exercise dan share your mentoring journey.
b) Update ilmu mengenai pola riset, kinerja riset, pembentukan policy melalui riset, komersialisasi riset. Output riset menjadi tidak terbatas lagi, meski selama ini hanya berupa publikasi ilmiah dalam prosiding dan jurnal. Riset yang berguna bisa dimanfaatkan dalam bentuk product dan public policy (kebijakan publik).
c) Proses mentoring yang challenging. Untuk bisa sukses menjadi mentor, maka harus punya banyak skill. Kita bukan dosen pembimbing yang pasif menanti mahasiswa bimbingan, tetapi kita adalah kolega sang mentee. Mentee bisa dianggap menjadi our young colleague di tempat kerja. Di awal bekerja, saya sudah cukup open-minded dan straightforward dengan sistem mentoring yang saya lakukan. Target saya membantu mereka untuk publikasi sampai selesai (meski program ini berakhir Januari 2018).
d) Teknik mentoring dengan metode blended, sebagian online dan face-to-face workshop. Seperti pada program DIES-DAAD UNILEAD yang pernah saya ikuti, teknik ini membantu menghemat biaya dan waktu karena dilakukan dengan kombinasi workshop dan interaksi online. Saat workshop, kami diberi materi oleh beberapa Profesor dari Australia dengan metode ceramah atau teleconference. Organizer kegiatan ini, yakni Anni dan Helen dan beberapa teman dari UI, UNJ dan Unhas benar-benar luar biasa dalam menjembatani perbedaan budaya dan culture shock yang dialami semua pihak.
e) Networking dengan teman-teman alumni Australia dan alumni negara lain. Kesempatan networking membantu kami saling berbagi informasi kegiatan Professional Development dari link lain atau negara lain, bahkan undangan lanjutan dalam kegiatan-kegiatan akademik di lingkungan universitas mereka. Kesempatan mengeratkan hubungan sesama Alumni Australia selalu saya nantikan, karena target saya setiap ada acara alumni, saya harus dapatkan minimal lima no WA atau kartu nama.
Mentee saya ada tiga orang, dari USU, UIN Sunan Ampel Surabaya dan Departemen Kelautan. Ketiganya alumni Australia dan memiliki bidang-bidang keahlian berbeda. Meski demikian saya tetap optimis kami bisa memenuhi kedua tujuan di atas yakni penulisan artikel ilmiah dan networking. Kami akan ketemu lagi (insya Allah) dalam International Conference Januari 2018 di Jakarta.
Pekanbaru,