Showing posts with label Professional Development. Show all posts
Showing posts with label Professional Development. Show all posts

Friday, February 14, 2025

Berpetualang di bumi USA

Belajar dari serunya menjadi seorang Visiting Scholar di University of Adelaide (2019) dan Drexel University (2023), aku mendaftar beasiswa Fulbright Visiting Scholar Program pada akhir tahun 2023. Pada tanggal 31 Agustus 2024, aku berangkat dari Pekanbaru menuju Jakarta untuk memulai perjalanan panjang menuju Philadelphia dengan transit di bandara Narita dan Denver, Colorado. 

Benarlah kata banyak pengelana. Pengalaman terbaik datang dari keberanian untuk berada sendirian di sebuah tempat atau suasana baru. Aku tidak memiliki banyak pilihan apalagi tempat bertanya, sehingga seringkali harus bersabar dalam menelusuri informasi dan berkomunikasi dengan helpdesk. Tetapi semakin sering dilakukan, nalar dan kemampuanku semakin bertambah. Fase ini sangat kusukai, karena learning and doing by learning untuk menambah skill; is my favorite activity. Kemampuan untuk survive menjadi salah satu skill penting di abad ini untuk meningkatkan flexibility, resilience dan adaptability. Aku bercerita tentang dua hal, sistem check in pesawat ANA yang tidak dapat diakses, sedangkan aku harus duduk di baris paling depan supaya bisa lari ke pesawat yang membawa ke Denver tanpa harus berbaris di belakang penumpang lain. Kedua, tentang waktu transit yang hanya 45 menit di bandara Narita, means, saat pesawatku landing, pesawat berikutnya sudah boarding. Aku hanya bisa mengatur rasa cemas supaya tidak overthinking dan punya harapan untuk bisa berangkat sesuai jadwal penerbangan yang diberikan.

Sesampainya di USA, semua kecemasan dan ketakutan di suasana baru seolah larut karena keletihan setelah perjalanan panjang hampir 34 jam dari Indonesia. Awalnya aku ingin menunggu hingga matahari terbit untuk keluar bandara. Ternyata aku tiba lebih awal dari perkiraan, sehingga pukul 12 malam semua koper sudah lengkap di tangan. Aku memberanikan diri untuk memesan Uber, tetapi sebelumnya ingin mengetahui pick up point di terminal E, bandara Philadelphia. Setelah melihat tempat itu dipenuhi oleh penumpang, tanpa pikir panjang aku bergerak menuju taksi bandara berwarna kuning. Kusebutkan alamat yang kutuju kepada driver, kemudian dia menyebutkan fare USD33, untuk perjalanan cukup jauh tersebut. Sambil duduk dengan perasaan lega karena telah di dalam taksi, aku mulai berzikir untuk menghilangkan perasaan cemas lain. Untunglah supir tersebut seorang muslim Ethiopia. Aku mulai mengujinya dengan beberapa pertanyaan seperti masjid, tempat makan halal, daging halal, dan ibadah shalat Jumat di Philadelphia. Alhamdulillah, dia memang muslim tulen, karena jawabannya sesuai. Allah kirimkan orang ini untuk menjemput dan mengantarku ke akomodasi di Powelton Avenue. 

Semua tempat yang pernah kita kunjungi memberikan kesempatan untuk melihat hal-hal baru. Sedangkan suasana baru membantu menciptakan memori dan menambah ilmu tentang manusia, alam dan budaya. Pikiran serta hati kita menjadi lebih luas dari sebelumnya. Pemahaman kita terhadap hidup dan proses alamiahnya juga terus bertambah. Penerimaan kita tentang perbedaan budaya dan pandangan hidup berkembang melalui pertemuan-pertemuan dengan orang-orang lain. Begitu dalamnya makna 'keluar dari zona nyaman' kehidupan,  sehingga kita menjadi 'orang baru' dengan kemampuan dan sudut pandang berbeda. Hal itulah yang terjadi begitu tiba di Philadelphia. Meski aku pernah datang sebelumnya ke USA, tapi kali ini aku punya waktu mencerna semua yang ditawarkan Allah dalam hidup saat aku berpetualang di negara ini. Hal yang sama juga terjadi saat aku tinggal di Eropa, dan Australia. Tidak ada waktu tanpa belajar menerima dan memahami, terutama saat semua terasa berbeda bagi kita.

Post ini akan menjadi tulisan pertama dari petualangan panjang selama hampir 4 bulan di USA. Cerita-cerita petualanganku akan kembali diupdate di blog ini, untuk berbagi dan menginspirasi kita semua agar travel more, experience world more dan growing more dalam hidup. 

Pekanbaru, 



Saturday, September 18, 2021

Buat Batasan (Boundary) dalam Bekerja

Efektivitas dan efisiensi dalam bekerja tergantung dalam pengelolaan waktu, pikiran dan emosi. Terkadang kita tidak bisa hanya bisa menyelesaikan pekerjaan dengan pikiran saja, karena kalau hati sedang galau pasti hasil kerja kurang bagus. Sedangkan saat ingin efisien dalam pekerjaan tapi tidak bisa mengatur emosi, maka akan berpengaruh pada hasil yang ingin dicapai. Oleh karena itu kita perlu belajar untuk mengatur boundary (batasan) dalam bekerja agar hasilnya maksimal dan kita tetap bahagia. 


Sedang enak-enak mengatur jadwal mingguan pekerjaan, tiba-tiba ada pesan masuk di wa menanyakan kepastian sebuah kegiatan yang akan dikelola bulan ini. Rasanya masih weekend, dan tidak ada urgensinya bertanya pekerjaan dengan gaya sangat demanding. Meski dari atasan sekalipun, biasanya aku tidak mau merespon langsung kecuali hal-hal yang benar-benar urgent/serius. Tapi aku jadi kesal juga karena satu message demanding yang terbaca, berarti mengganggu pikiran. Mau merespon, takut berlarut-larut, tapi tidak direspon kepikiran dan bisa jadi macam-macam luapan emosinya. 

Aku ingat, dalam bekerja kita juga bisa mengelola emosi dengan menetapkan boundary. Misalnya hal-hal seperti ini:

1) Tidak membalas message terkait pekerjaan di luar jam kerja dan hari kerja. Misalnya jam 18 ke atas dan hari Minggu. 

2) Melakukan pekerjaan yang diberikan surat atau email disposisi/surat penugasan resmi/SK dari atasan/pejabat terkait. 

3) Tidak memasukkan jadwal baru apabila pekerjaan sebelumnya belum selesai. 

4) Berani berkata tidak bisa apabila memang tidak dapat mengalokasikan waktu sesuai dengan keinginan orang lain baik atasan maupun orang berpengaruh. 

5) Tidak perlu merespon berbagai pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. 

6) Tidak perlu merespon kemarahan orang yang salah alamat dan tidak pengertian.

7) Tidak perlu merespon office politics, bullying, fitnah, ketidakadilan dan body-shaming. 

8) Boleh hanya memberikan tanggapan apabila dipersilakan. 

9) Boleh menolak menjadi anggota tim kegiatan yang tidak menjadi prioritas pekerjaan saat ini.

10) Tidak perlu khawatir memberikan masukan apabila ada yang membuat kesalahan/tidak valid dalam bekerja. 

dan sebagainya. 

Hal yang terpenting, kita harus bisa mengelola emosi dan memastikan pekerjaan kita baik hasilnya. Memastikan bahwa boundary dapat ditaati dalam pekerjaan, akan membantu sekali untuk kelangsungan pekerjaan dan ketenangan jiwa dalam mengerjakannya. 

Pekanbaru,




Saturday, September 4, 2021

Menghadapi Kolega yang tidak Percaya

Kadang-kadang dalam melakukan suatu pekerjaan sering terjadi ketidakpercayaan kepada kolega lain. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut. Faktor terbesar biasanya merasa diri lebih baik dari orang lain. Akan tetapi beberapa faktor lain juga mempengaruhi sikap demikian seperti pernah mengalami kekecewaan, tidak memiliki kemampuan teknis, kurang berempati, kurang manajemen waktu, dan kurang memikirkan konsekwensi moral dengan perlakuan tersebut.

Bagi kita yang sering mendapatkan perlakuan dan pandangan tersebut oleh kolega kita, maka kita sedikit shock. Pada akhirnya karena merasa tidak dipercaya meski telah berusaha memberikan argumen yang didukung oleh data valid serta aturan jelas, maka kebanyakan orang memilih untuk berhenti meyakinkan kolega tadi secara verbal. Banyak orang jadi mengalihkan perhatian dengan tetap menyelesaikan pekerjaan secara serampangan. Ada juga yang memilih keluar dari situasi tersebut dan memperbaiki kompetensi mereka dibandingkan menghabiskan waktu debat hanya untuk membuktikan kita yang salah. Sering aku perhatikan, ego akan membawa kerugian besar karena pada suatu waktu kali kolega  membutuhkan bantuan kita, maka kita akan bersikap biasa dan kurang dedikasi. 

Sebenarnya dalam melakukan hal teknis, agar dipercayai kita bisa menggunakan dua cara. Kita mengetahui dahulu aturan dan persyaratan dengan lengkap. Kedua baru kita melakukan pendekatan dengan diskusi dan berpikiran terbuka agar mendapatkan pencerahan. Daripada langsung mendebat dan mengasumsikan orang tidak bisa melakukan pekerjaannya, maka kita introspeksi dulu apakah kita sebenarnya lebih baik di bidang tersebut atau tidak. Kita dengarkan dahulu masukan-masukan dari kolega. Apabila kita langsung bersikap tidak mau menerima, maka kita sendiri yang rugi karena telah dikalahkan oleh waktu akibat tidak mau  menerima kebenaran. Pekerjaan yang seharusnya selesai dalam waktu singkat, tetapi malah tak berhasil karena ego kita sendiri dengan sikap tak percaya tadi. Selain itu banyak orang juga menginterpretasikan sikap tidak percaya kolega tadi sebagai penerimaan konsekwensi seperti kehilangan waktu dan energi berkat ketidakpercayaan mereka tadi.

Poinnya, jika memang tidak percaya pada seseorang, berusaha berpikiran terbuka dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan semua orang tidak sehebat dan semampu kita. 

Pekanbaru,

Monday, July 5, 2021

Resilience di Masa Pandemi

Salah satu kemampuan dasar penting abad ke-21 adalah resilience. Resilience barangkali bisa disamakan dengan 'fleksibel' atau tidak rigid/kaku. Konsep ini terkait dengan kemampuan menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan dan lingkungan yang terus berubah dengan cepat. Bagaimana supaya kita bisa resilience dalam masa tak menentu yang tidak bisa kita prediksi saat ini?

Suatu hari aku sempat mampir di rumah tetangga yang sudah senior. Berhubung aku hanya sebentar, jadi kami hanya berbicara hal-hal penting saja seperti keadaan saat ini. Memang betul, kondisi pandemi mengubah dan memutar-balikkan semua kenyamanan dan kebiasaan kita sebelumnya. Pembicaraan kami sampai kepada keresahan, kegelisahan dan keprihatinan di tengah-tengah kondisi. Akhirnya terucap juga bahwa keadaan yang membuat kita pusing ini karena dunia sudah gila. Loh, kok gila? Aku jadi bingung, berarti menyalahkan keadaan ya. 

Beberapa teman yang sempat kontak mengatakan sejak pandemi mereka jadi punya kegiatan dan aktivitas baru. Ada beberapa hal yang tadinya tidak sempat dilakukan, seperti membaca, mengerjakan hobi, mempelajari hobi baru, mengurus kebersihan karena waktu berkendara ke tempat kerja sudah tidak ada. Bahkan ada target-target baru seperti rutin mengerjakan shalat sunnah rawatib, puasa sunat, menghafal juz amma, dan semua amalan yang tidak sempat dilakukan sebelumnya. Setahun lalu aku mengikuti kursus online di SPADA yang banyak membantu pengajaran daring selama dua semester ini. Orang yang mau fleksibel akan dengan cepat menyesuaikan diri dan mencari peluang untuk meningkatkan kompetensi personal dan profesionalnya ketimbang menyalahkan keadaan dan berkeluh-kesah.

Pada saat seperti ini, menjadi seorang yang resilience membutuhkan penerimaan akan situasi. Kemudian lebih cepat mencari jalan keluar, mengatur rutinitas, menghilangkan kesulitan dengan kebiasaan baru. Sebaiknya mempunyai perencanaan apa yang bisa ditingkatkan dalam situasi yang berubah dan bisa membaca trend kira-kira skill apa yang diperlukan setelah pandemi usai. 

Hal terpenting adalah tidak patah semangat, tetap belajar dan take it easy semua hal-hal sulit yang dapat menurunkan imunitas tubuh sehingga lupa bahagia dan bersyukur kepada Allah telah diberi nikmat dan rezeki yang sangat banyak. 

Pekanbaru

Friday, August 7, 2020

Selamat tim Program Kreativitas Mahasiswa Tahun 2020

Seperti yang telah disampaikan dalam post terdahulu, salah satu fokus karirku adalah keterlibatan dalam program pengembangan kreativitas mahasiswa. 

Bermula dari Research Club (2003-2006) dengan sederet prestasi, setelah itu secara bertahap mulai tahun 2016, 2017, 2018, 2019 dan sekarang 2020, Alhamdulillah terdapat 7 tim mahasiswa bimbingan mendapatkan dana PKM untuk melakukan berbagai topik penelitian mereka.

Semua tim tersebut adalah bagian dari rencana pengembangan grup riset Sustainable Concrete Technology yang didirikan sejak tahun 2018. Topik-topik yang diangkat harus memiliki nilai inovasi tinggi dan manfaat bagi masyarakat luas. 

Tantangan PKM 2020 adalah produk berbasis digital menggantikan produk fisik seperti teori, konsep, dll. Untuk luaran berupa video saintifik dan review naratif, insya Allah sudah ada beberapa strategi melaksanakannya dengan baik. Saat ini mahasiswa baru dikenalkan addendum panduan PKM, sementara ibu pembimbing menyiapkan langkah-langkah penyelesaian luaran PKM agar pesan-pesan luaran tersampaikan dengan jelas dan baik.

Selamat bagi tim PKM yang telah berjuang keras dan bersabar menyelesaikan proposal, merevisi dan mengupload proposalnya meski harus mengerjakan berbagai kegiatan dan aktivitas lain. Ibu kira ketahanan mental kalian sangat membantu memudahkan proses selanjutnya setelah proposal selesai. 

Selamat berjuang, semoga kita menjadi juara. 

Pekanbaru,

Monday, August 3, 2020

Tugas-tugas kursus training pembelajaran daring di SPADA

Setelah beberapa minggu juggling di antara pekerjaan wajib, sunnah, dll sambil mengikuti kursus pembelajaran daring di SPADA, maka aku berkesempatan menyelesaikan tugas-tugas khusus teknologi. Tugas-tugas pedagogi dan materi pembelajaran sudah dicicil sesuai tenggat waktu, tetapi tugas-tugas teknologi memerlukan waktu khusus karena ada tutorial yang harus diikuti.

Tugas teknologi yang telah berhasil dikuasai adalah: 
1) Penulisan script writing dan voice recording menggunakan app audacity 
2) Pembuatan animasi pembelajaran whiteboard animation menggunakan app explee dan videoscribe
3) Pembuatan poster dan infografis untuk pembelajaran dengan app canva 
4) Pembuatan slide presentasi menggunakan voice dan screen recording menggunakan ispringfree
5) Penyusunan materi LMS Spada berbasis Moodle
6) Penggunaan collaborative app seperti Trello, Padlet dan Jamboard
7) Penggunaan VR, AR dan MR untuk materi pembelajaran
barangkali akan bertambah lagi karena akan ada kursus app untuk evaluasi daring.

Contoh materi kuliah menggunakan whiteboard animation hasil karyaku dapat dilihat pada link berikut:



Pembuatannya sangat menantang karena harus tekun mencocokkan kemunculan gambar dengan audio yang telah kita rekam. Kadang harus memotong beberapa kalimat atau memotong jeda, terkadang bagian tersebut harus diulang-ulang sehingga cukup memakan waktu. 

Tetapi setelah beberapa lama (aku mengerjakan dalam sehari saja, tetapi semakin malam akan semakin cepat mengeditnya) maka aku bisa berpuas hati menguploadnya di Youtube.  

Pekerjaan dengan penuh kesungguhan dimulai dari membuat storyline, memilih gambar, musik, merekam narasi, lalu menyusun tiap gambar dengan cermat sesuai kecepatan narasi, benar-benar harus diganjar dengan sertifikat cantik dari Prof. Dirjen Dikti:)


Untuk memastikan bahwa aku terus bersemangat mengikuti semua kuliah (30 kursus) dan mengerjakan tugas-tugas, maka aku menggunakan strategi belajar dengan membagi materi menjadi tiga bidang. 

Materi pedagogi mengenai seni mengajar dan merancang pengajaran biasanya akan kuselesaikan terlebih dahulu, sebab aku menyukai teori-teori pembelajaran, trend terkini di bidang pendidikan, best practices, dan psikologi pendidikan.

Untuk materi pembelajaran, terkadang membutuhkan melihat video/slide berulang-ulang agar paham, maka biasanya akan kusisihkan waktu khusus sehingga bisa menghasilkan tugas merancang pembelajaran yang tepat, lengkap dan aplikatif. 

Sedangkan materi teknologi memang diusahakan setiap hari karena materi kursus ini mayoritas seperti game, ada banyak tutorial menggunakan app sehingga harus diikuti betul-betul setiap langkah agar memenuhi syarat (terutama tugas sebagai evaluasi). Materi ini kupilih saat aku sedang memerlukan challenge dalam hidup. Biasanya tugas berhasil diselesaikan tanpa bosan karena benar-benar mencurahkan pemikiran dan rasa dalam mengikuti tiap langkahnya. 

Mudah-mudahan persiapan semester daring mendatang sudah bisa dimulai tepat satu bulan sebelum kuliah dimulai. Insya Allah. 

Terima kasih kepada tim Kemdikbud, tim pengajar di SPADA, mudah-mudahan jadi amal jariyah kepada bapak ibu semua. 

Pekanbaru,

Tuesday, July 14, 2020

Kursus Pembelajaran Daring di SPADA

Summer kali ini karena situasi pandemi maka tidak ada jadwal traveling sampai ada undangan khusus. Bersyukur karena tahun lalu luar biasa mobile:)
Tahun ini, Alhamdulillah, ada kesempatan upgrade metode pengajaran e-learning lewat SPADA Kemdikbud untuk meningkatkan kapabilitas dosen-dosen dalam memberikan kuliah secara daring. Para pengajar adalah dosen-dosen senior dan berpengalaman di bidang pembelajaran daring dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia. 

Para pengajar profesional di bidang pembelajaran daring.

Meskipun jadwal kursusnya sangat padat (Senin, Rabu, Jumat), tetapi semua aspek pembelajaran daring secara lengkap diberikan dalam kurikulum webminar tersebut. Aspek teknologi, pedagogi dan materi pembelajaran adalah unsur-unsur pembentuk dalam kuliah daring. 


Ikut kursus tumpuk-tumpuk, serasa Hermione dalam Prisoner of Azkaban (seri Harry Potter). 

Ada aspek teknologi berupa kualitas audio, video, teks, navigasi dan troubleshooting.

Aspek pedagogi berupa strategi pembelajaran, interaktivitas kelas dengan dosen, kualitas penjelasan materi, kualitas umpan balik dari dosen.

Aspek materi pembelajaran, berupa kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran, keakuratan isi materi, kesesuaian tingkat kesulitan dengan pengguna, dan kesesuaian materi dengan app yang digunakan. 

Semua aspek tersebut diberikan dengan lengkap dalam training profesional SPADA tersebut. Kita juga diberikan tugas sebagai evaluasi setelah kuliah. Selama mengikuti kuliah tersebut kita juga bisa mendapatkan 'sense' belajar online step by step dengan jadwal yang kita tentukan sendiri. Setelah memahami kuliahnya maka aku bisa mengerjakan tugas sendiri dan mengumpulkannya sesuai tenggat waktu yang diberikan. Ada tugas yang bisa dilaksanakan secara kolaboratif dan evaluasi yang dilakukan dengan tatap maya. 

Berdasarkan pembelajaran daring, terdapat empat ruang belajar, yaitu:
Ruang Belajar 1 = tatap muka
Ruang Belajar 2 = tatap maya
Ruang Belajar 3 = mandiri
Ruang Belajar 4 = kolaborasi

Model yang kupakai tadi adalah 3-4-2.


Ruang Belajar 1-4 (Sumber: Slide Dr. Hatma S dari UGM).

Bayangkan, dari aku yang belum mengetahui apa-apa dan sangat-sangat manual dalam memberikan kuliah daring semester lalu (melalui Whatsapp, meski salah satu fasilitator mengatakan tidak apa-apa untuk membangun interaksi), saat ini bisa merasa sangat 'kaya' dengan berbagai filosofi, pengetahuan dan praktek mengenai pembelajaran daring. Alhamdulillah.

Banyak sekali missing link, blank spot, gap, yang tidak pernah terisi, sekarang bisa dengan cepat diidentifikasi dan dicarikan solusinya. 

Tadinya aku tidak tahu cara membuat perkuliahan di laman SPADA, ternyata hari ini sudah bisa membuat mata kuliah sendiri, meski belum sempurna. 


Laman Spada salah satu mata kuliahku. Yay.

Mudah-mudahan setelah mengikuti kuliah daring dengan penuh semangat ini aku bertambah percaya diri menyiapkan materi perkuliahan dan berhasil membuat perkuliahan semester depan lebih efektif dan efisien. 

Pekanbaru, 2020

Friday, December 22, 2017

Belajar menjadi Auditor Internal ISO 9001:2015

Bulan ini saya mendapat pengalaman mengaudit kinerja sebuah lembaga di Universitas Riau. It’s a new experience, dan sejalan dengan professional development yang saya lakukan pada tahun ini.
Melalui pelatihan dari konsultan profesional di bidang ini, kami berlima dan semua staf diberi kesempatan memahami konsep ISO 9001:2015 pada Oktober 2017 lalu. Setelah itu kami melakukan praktek audit dan mulai mengaudit kinerja beberapa bidang di lembaga tersebut tiga bulan kemudian.
Definisi ISO 9001:2015 adalah akreditasi atau sertifikasi sistem manajemen mutu berorientasi pada kepuasan pelanggan. Sertifikasi diberikan sebagai jaminan bahwa sebuah perusahaan, instansi atau institusi sudah memberikan produk jasa bermutu.
Audit internal berguna untuk mempersiapkan audit eksternal dan menemukan ketidaksesuaian agar organisasi lebih rapi dan terarah. Untuk melaksanakan audit internal perlu mengetahui cara kerja dan kriteria keberhasilan sebuah prosedur.
Saya masih perlu meningkatkan keahlian melalui jam terbang tinggi agar bisa jadi auditor yang efisien, cekatan, sistematik, dan mandiri. Seingat saya, kami pernah belajar konsep audit vs akreditasi dalam training UNILEAD 2015. Audit sangat diperlukan untuk membantu efektivitas dan efisiensi sebuah sistem manajemen agar memenuhi standar mutu pelayanan.
Akhir tahun ini saya juga akan mengaudit diri sendiri agar sesuai dengan standar prosedur pekerjaan sebagai dosen, peneliti dan profesional. Moga layak juga dapat sertifikat ISO. Hihi.
Pekanbaru,

Thursday, November 30, 2017

Berpartisipasi dalam Alumni Professional Development Program (APDP)

Repost dari link berikut:

Program ini merupakan implementasi ‘Alumni Engagement Strategy’ oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) dan Australia Awards in Indonesia (AAI). Kegiatan dilaksanakan oleh Konsorsium universitas di Australia dan Indonesia yang dipimpin oleh Griffith University. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah dan mengembangkan networking antara alumni. Peserta yang mengikuti kegiatan dibagi menjadi dua, yakni mentor dan mentee. Kegiatan dilaksanakan dari Mei 2017-Januari 2018.
Motivasi saya mengikuti program ini sederhana saja, “to give back to my profession while building expertise”. Maknanya, saya ingin meningkatkan skill, mengupdate skill, dan membagi skill yang saya miliki dalam hal publikasi penelitian. Selain itu, saya ingin bertemu teman-teman alumni Australia atau alumni universitas negara lain di kegiatan-kegiatan Professional Development seperti ini.
Sebagai salah satu mentor APDP, saya mendapatkan pengalaman berikut:
a) Mentoring sistem menggunakan platform mentoring yang diorganize oleh Griffith University. Platform ini membantu saya berinteraksi dengan organizer, mentee, dan mentor lain. Interaksi dengan mentee dapat dicatat dan dievaluasi oleh organizer di Australia. Secara umum ada beberapa milestones yang perlu dilakukan: develop the rapport, goal setting, mentoring agreement discussion, mid-point assessment feedback exercise dan share your mentoring journey.
b) Update ilmu mengenai pola riset, kinerja riset, pembentukan policy melalui riset, komersialisasi riset. Output riset menjadi tidak terbatas lagi, meski selama ini hanya berupa publikasi ilmiah dalam prosiding dan jurnal. Riset yang berguna bisa dimanfaatkan dalam bentuk product dan public policy (kebijakan publik).
c) Proses mentoring yang challenging. Untuk bisa sukses menjadi mentor, maka harus punya banyak skill. Kita bukan dosen pembimbing yang pasif menanti mahasiswa bimbingan, tetapi kita adalah kolega sang mentee. Mentee bisa dianggap menjadi our young colleague di tempat kerja. Di awal bekerja, saya sudah cukup open-minded dan straightforward dengan sistem mentoring yang saya lakukan. Target saya membantu mereka untuk publikasi sampai selesai (meski program ini berakhir Januari 2018).
d) Teknik mentoring dengan metode blended, sebagian online dan face-to-face workshop. Seperti pada program DIES-DAAD UNILEAD yang pernah saya ikuti, teknik ini membantu menghemat biaya dan waktu karena dilakukan dengan kombinasi workshop dan interaksi online. Saat workshop, kami diberi materi oleh beberapa Profesor dari Australia dengan metode ceramah atau teleconference. Organizer kegiatan ini, yakni Anni dan Helen dan beberapa teman dari UI, UNJ dan Unhas benar-benar luar biasa dalam menjembatani perbedaan budaya dan culture shock yang dialami semua pihak.
e) Networking dengan teman-teman alumni Australia dan alumni negara lain. Kesempatan networking membantu kami saling berbagi informasi kegiatan Professional Development dari link lain atau negara lain, bahkan undangan lanjutan dalam kegiatan-kegiatan akademik di lingkungan universitas mereka. Kesempatan mengeratkan hubungan sesama Alumni Australia selalu saya nantikan, karena target saya setiap ada acara alumni, saya harus dapatkan minimal lima no WA atau kartu nama.
Mentee saya ada tiga orang, dari USU, UIN Sunan Ampel Surabaya dan Departemen Kelautan. Ketiganya alumni Australia dan memiliki bidang-bidang keahlian berbeda. Meski demikian saya tetap optimis kami bisa memenuhi kedua tujuan di atas yakni penulisan artikel ilmiah dan networking. Kami akan ketemu lagi (insya Allah) dalam International Conference Januari 2018 di Jakarta.
Pekanbaru,

Thursday, November 16, 2017

Catatan dari Workshop ‘Ayo Cepat Lulus’ Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Riau

Repost dari link berikut: 
Sekitar 150 mahasiswa memadati ruangan di hotel MP dekat kampus Unri dalam acara workshop ‘Ayo Cepat Lulus’ yang ditaja Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Riau. Kedua narasumber adalah psikolog Hj Aida Malikha MSi (Biru Konsultasi Psikologi Humanika), dan Dr Mirra Noor Milla (UI). Ditinjau dari judul dan sasaran kegiatan, maka dapat disimpulkan bahwa workshop ini merupakan salah satu usaha ‘human approach’ dalam mempercepat masa studi dan meningkatkan jumlah kelulusan mahasiswa Jurusan Teknik Sipil.
Ibu Hj Aida Malikha memberikan pengantar faktor-faktor yang menyebabkan masa studi lama, yakni malas, terlalu banyak berorganisasi, sibuk bekerja, terlalu banyak sosialisasi dan hambatan tugas akhir. Mahasiswa sendiri menambahkan bahwa lamanya masa studi karena mereka masih memiliki banyak nilai di bawah D, dosen killer, dan pelajaran yang susah. Solusi dari bu Aida adalah menguatkan motivasi, manajemen waktu dan membuat skala prioritas. Untuk meningkatkan motivasi, maka mahasiswa harus menghilangkan mitos-mitos seperti dari daerah belum tentu sukses, dosen killer selalu memberi nilai buruk, dan sebagainya. Mahasiswa harus ulet, ingin jadi role model, dan menyadari adanya keterbatasan waktu dan biaya untuk studi. Manajemen waktu yang baik, disiplin, tidak suka menunda, menyelesaikan apa yang sudah dimulai (teguran buat diri saya), dan rajin bimbingan tugas akhir agar selesai tepat waktu.
Soal skala prioritas, bu Mirra menambahkan bahwa prioritas dihubungkan dengan ‘goals’ atau tujuan. Fokus dengan prioritas membuat mahasiswa tidak mudah melalukan ‘upaya pengalihan’ saat menghadapi sesuatu yang penting tetapi tidak mereka sukai. Selain itu perlu belajar membuat rencana dengan konsep SMART (Specific, Measurable, Attainable, Realistic, Time Bound) sehingga semua target bisa diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, bahkan lebih banyak dari perkiraan semula. Untuk menyelesaikan prioritas, mahasiswa harus banyak memiliki strategi maupun berusaha lebih banyak dengan memunculkan plan A, plan B, serta membuat rewarding time jika suatu tugas selesai agar tercipta ‘work-life balance’.
Catatan dari workshop ini adalah:
a) mitos-mitos tentang studi perlu dibuktikan, karena mitos belum tentu benar
b) buat skala prioritas menggunakan teknik SMART agar cepat lulus dan meminimalisir upaya pengalihan saat menunda-nunda sebuah pekerjaan penting
c) harus banyak strategi dan ikhtiar lebih panjang saat kondisi kurang kondusif
d) jadilah subyek yang mengendalikan keadaan, bukan obyek yang dikendalikan keadaan
e) Utamakan integritas dan values agama serta moral, bukan hanya usaha ilegal supaya mendapatkan nilai terbaik dan cepat lulus.
Sebagai moderator di sesi dosen dan mahasiswa, saya mewakili rekan sejawat sangat mensyukuri terlaksananya kegiatan ini agar perbaikan keadaan dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki mindset mahasiswa dan mempercepat kelulusan di Jurusan Teknik Sipil beberapa waktu mendatang. Semoga perbaikan terus-menerus ini akan membuahkan hasil yang gemilang.
Pekanbaru, 16 November 2017

Monday, October 30, 2017

Sukses dengan Proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)

Repost dari link berikut:
Berkat mengikuti sosialisasi pelatihan mengenai Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pada tahun 2016 dan 2017, maka diperoleh berbagai tips menarik agar proposal yang dibuat berhasil didanai oleh DIKTI.
Sejak kembali dari studi, saya tidak banyak membimbing program kreativitas mahasiswa karena sibuk bekerja di Kantor Urusan Internasional Universitas Riau. Padahal sebelum studi S3, para mahasiswa di kelompok Research Club yang didirikan pada tahun 2003 sempat berjaya dalam aneka lomba penelitian dan penulisan karya ilmiah di tingkat lokal maupun nasional. Sesaat sebelum studi S3 dimulai, kelompok kami mendapatkan kesempatan untuk maju ke PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) dengan judul penelitian “Pengaruh penambahan bubuk kaca dan fly ash terhadap sifat-sifat mortar”. Ketiga mahasiswa tersebut yakni Indra Kuswoyo, Munawir Sazali dan Hendra Gunawan berangkat ke Malang untuk berlaga di babak lanjutan.
Kembali ke zaman now, pada tahun 2016, satu kelompok mahasiswa bimbingan berhasil memenangkan PKMGT (Gagasan Tertulis) dengan judul “Pembangunan air shelter dalam rangka penanggulangan dampak bencana asap akibat kebakaran lahan gambut di Riau”. Disusul pada tahun 2017, dua kelompok mahasiswa yang mengikuti PKMP (Penelitian) dan PKMM (Pengabdian kepada Masyarakat) mendapat dana dari Belmawa Ristekdikti. Keberhasilan kedua kelompok ini membuat saya lega luar biasa, karena we’re on the right track. Luaran kegiatan PKMP dengan judul “BETGEL-RHA atau Beton Geopolimer Rice Husk Ash sebagai material konstruksi ramah lingkungan gambut” rencananya akan dipresentasikan di The 2nd International Conference on Science and Technology, 15-16 November 2017 di Pekanbaru. Sedangkan hasil kegiatan PKMM berupa buku kreatif dan sosialisasi pada anak-anak SD di Pekanbaru (judul proposal “Buku kreatif sebagai media edukasi pengenalan pelestarian gambut untuk anak usia sekolah”) akan diterbitkan di jurnal pengabdian masyarakat.
PKMM
Tujuan melaksanakan PKM, menurut Prof Sundani (beliau juga expert bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Ristekdikti) adalah untuk memberikan tantangan intelektual, belajar menulis proposal ilmiah yang baik, memunculkan solusi dengan karakter kedaerahan dan memamerkan kekuatan intelektual institusi.
PKM perlu memiliki unsur unik, kreatif, bermanfaat dan taat aturan.  Tips untuk sukses menulis proposal PKM dapat disarikan sebagai berikut:
a) Permasalahan administratif diminimalkan, contohnya tidak ada jumlah halaman, jumlah halaman lebih dari 10, dan tidak ada tanda tangan pembimbing.
b) Karya dinilai memiliki kreativitas tinggi, ada kebaruan substansi, produk unik, tidak membawa tema-tema generik, menjawab permasalahan yang sedang populer di masyarakat, dan memiliki unsur kedaerahan.
c) Proposal tepat sasaran, misalnya PKMM untuk masyarakat non-produktif dan PKMT untuk masyarakat produktif. Keduanya membutuhkan surat persetujuan mitra. Tanpa surat tersebut maka proposal mendapat nilai rendah.
d) Rencana Anggaran Biaya (RAB) diestimasi sesuai dengan metode lalu kewajarannya dinilai. RAB tidak untuk honorarium, fotokopi atau membeli peralatan elektronik seperti laptop dan kamera.
e) Proposal dapat menjelaskan secara nalar, memiliki produk intelektual, dan dapat memperbaiki kualitas hidup masyarakat secara langsung/tidak langsung.
f) Kreativitas sesuai dengan anggaran, tidak perlu yang terlalu canggih, dan dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.
Menulis proposal PKM cukup tricky, karena penulisnya belum pernah ikut kuliah Metodologi Penelitian atau training sejenisnya, tetapi dorongan dan bimbingan dari pembimbing sangat diperlukan.
Pekanbaru,

Tuesday, August 15, 2017

Tips menjadi Moderator Keynote Speaker (Pengalaman di GCEE, International Conference, UNM, Malang)

Repost dari blog akademik ini:

Berdasarkan hitung-hitungan saya sebelumnya, yang hobi ikutan konferensi dan jalan-jalan, pada tahun 2017 ini saya harus mengerem kesukaan hadir di konferensi karena harus fokus menulis di jurnal ilmiah. Sayangnya, event kumpul akademisi sama geng KORIGI tidak boleh dilewatkan meski sekali setahun kali. Sometimes, dengan mereka saya bisa jadi diri sendiri, saintis sejati, geopolymer researcher sungguhan. Haha.

Salah satu pengalaman mengikuti konferensi internasional tidak selalu menjadi peserta, bisa jadi panitia, reviewer dan moderator untuk sesi paralel atau sesi moderator.

GCEE dengan tiga keynote speaker dari Brunei, Jepang dan Indonesia.

Pada konferensi kali ini, GCEE, saya diundang menjadi moderator untuk key note speaker. Sungguh sebuah kehormatan dari teman-teman di Jurusan Teknik Sipil UNM. Pembicara yang diundang berasal dari Kumamoto University, ITB dan SEAMEO Voctech Brunei Darussalam. Monita sebagai keynote dari Universitas Riau dan KORIGI, akan berusaha dengan baik memandu acara paling pertama dalam sesi konferensi.


Sebelum berangkat ke Malang, saya diberi tips dan trik oleh Prof Brian dari University of Canberra, Australia, saat di Jakarta. Untuk menjadi seorang moderator key note speaker yang profesional saya harus melakukan beberapa cara seperti berikut:
  1. Mempersiapkan diri: mencari topik tiap key note, mempelajari CV online speaker, memahami tujuan konferensi, bahkan kalau perlu meminta bahan dari keynote kepada panitia untuk dipelajari di awal.
  2. Mempersiapkan script moderasi singkat (max. 2 halaman) untuk memandu sesi agar lebih selalu on the right track.
  3. Meminta semua keynote speaker untuk duduk bersama di meja sebelum memulai sesi dan memberikan briefing singkat mengenai apa yang moderator lakukan dalam sesi, serta batasan waktu pidato (biasanya 20-30 menit).
  4. Memulai sesi dengan sambutan singkat sambil mengingatkan tujuan konferensi di awal, lalu menerangkan pembagian sesi, yakni memperkenalkan speaker, sesi pidato keynote speaker, dan sesi Q&A.
  5. Membacakan CV speaker dengan singkat dan highlight mengenai pidatonya sambil memberi summary tentang apa yang dibicarakan dari sudut pandang moderator.
  6. Untuk sesi pidato, moderator diberikan waktu sesuai alokasi. Kita harus profesional dan keep the time. Jika perlu, kita interupsi pembicara sesekali untuk mengingatkan waktu dengan sopan dan penuh penyesalan. Pada konferensi ini saya berusaha sangat tepat waktu agar peserta dan panitia nyaman, sehingga sering menginterupsi pembicara dan mengingatkan pembicara berikutnya untuk tepat waktu.
  7. Pada sesi tanya-jawab, ada baiknya kita sudah planted (cari) penanya back-up dari grup kita untuk bertanya kepada salah satu keynote speaker. Hal ini sering dilakukan oleh moderator profesional agar suasana lebih hidup, dan memberikan kesempatan bagi tiap keynote speaker untuk memberikan pandangannya lebih dalam lagi melalui sesi pertanyaan.
  8. Akhiri sesi dengan membacakan summary dari pidato keynote yang telah kita baca sebelumnya atau didengarkan saat sesi. Saya belajar membuat pernyataan dari materi keynote sehari sebelumnya ketimbang memberikan summary random dan tidak relevan di akhir sesi, karena saya perlu mengontrol waktu dan suasana sesi ketimbang memikirkan take home message selama sesi berlangsung.
  9. Akhiri sesi dengan memberi apresiasi kepada universitas, panitia, peserta dan semua yang terlibat secara aktif dalam sesi key note yang menarik tersebut.
  10. Persilakan keynote speaker untuk berfoto bersama dengan pihak universitas, pejabat dan pihak lain yang sudah menunggu kesempatan.
  11. Be an enthusiastic moderator. It depends on you. You're the ruler. Give a good impression and take-home message to everyone from your moderation session.

Pengalaman dalam sesi keynote GCEE 2017 ini benar-benar pondasi supaya bisa moderator profesional dalam berbagai konferensi internasional mendatang. Di akhir acara, beberapa invited speaker memberi apresiasi karena saya berhasil menjalankan sesi dengan luwes, dan menjaga waktu moderasi sesuai jadwal. Ketepatan waktu ini juga sangat dihargai oleh seorang invited speaker dari UK. 

Saya sendiri sangat bersyukur karena bisa mengembangkan style sendiri tanpa perlu basa-basi agar semua berjalan dengan baik dan berkesan di hati peserta.

Sunday, May 3, 2015

Make the Most of the Process: a PhD Journey

My experience of doing a PhD is quite remarkable.

I'd like to review it, as I recently attended a Professional Development Activity session organised by Australia Awards Indonesia in Jakarta. 

My first encounter with the Australia Development Scholarship (ADS) recipients was in Denpasar, Bali, in 1999. As a recipient of other scholarships, I was mesmerised by the colleagues from ADS. They impressed me with their intelligence, articulation, thoughtfulness, and confidence, and I was determined to be one of them.

Alhamdulillah, I was granted the ADS in 2007.

There was also a strong reason to study in Australia: the rapid development of geopolymer research in some significant Australian universities and industries. Geopolymer was still developing as a viable construction material. More gaps need to be filled, and more cases for specific environmental implementation need to be studied. I would like to be a part of the development and contribute to concrete knowledge.

Again, as I mentioned before, doing a PhD requires tremendous determination. 
After some minor and significant, even very considerable, roadblocks during the process, I finished it. 

However, there are some things I'd like to share with everyone.

Despite all the mess and the terrible things that I've experienced related to materials, methods, relationships, budgets, knowledge challenges, travels, part-time jobs, and many more, 

I just want to say, "Make the most of the process."

It means taking every opportunity to make this journey as meaningful as possible...

Work on it, don't dwell on the roadblocks, and try to make the most of this journey. 

I've learned from many things and people around me. 
about intercultural friendships, multicultural lifestyles, ethics, discipline, conformity, collegiality, moral values, communication, good standards, project management, research skills, and, most importantly, managing skills.

I developed a support system across many aspects of my study. The goal is to have a backup system from the lab managers, technicians, PhD colleagues, faculty staff, lecturers from Student Learning Support, international friends, and family:
to assist me with lab work, 
to proofread my English papers, 
to exchange views about my research development, 
to encourage the research and writing process, 
to emulate their routine in my research, 
to have international friendships outside my PhD peers with some undergrads and locals, and 
to get eternal support from family in many different ways.

I also pushed myself to establish a routine, maintain discipline in my experimental work and work pattern, and stay enthusiastic about my research.

I also constantly create a vision of how the thesis would look, including the color of the graphs, the number of pages, and the list of references. 

And suddenly, I finished my PhD in 2011.

I tried to emulate this notion in everything I do at work now to help me achieve the best results.

As a positive sign that you are using something well...
"You are very positive about many things, 
you have a positive attitude towards people around you, and 
you want to give back to the society that supports you; all you know about it...

And... you even look younger than your exact physical age."

Pekanbaru,

Friday, October 24, 2014

IQ to understand, EQ to manage


I read about this interesting summary "IQ to understand, EQ to manage" a few days ago under this post. 

It's been a serious debate between two gurus (Adam Grant vs Daniel Goleman) about the importance of having IQ (Intelligence Quotient) or EQ (Emotional Quotient). You could read about the debate in the link. 

After I have been working for several years as an educator, I have learned that I cannot rely solely on IQ. It is not about being talented only, but everyone needs this EQ to have a sustainable career. Some of my bosses with high EQ were successful in managing people and limited resources at the university to reach the university goals. However, some other talented line managers with numerous achievements were rarely remembered for their accomplishments but more likely from their particular behaviour to peer colleagues, staffs and students. They were efficient managers, but quite unpleasant to work within the long term.

The post has also pointed out a research on how EQ works as a strong predictor of success or performance at work. The managers with high IQ and experience but low EQ had a failure rate of as high as 25% on their projects, on the other hand, the managers with high EQ but high IQ or experience showed a less failure rate of 3-4%. It seems that a combination of high IQ and EQ is potent to get a high standard of success in any project. 

When I took a survey about my current project (internationalization), which is involving several line managers at different levels (university, Faculty, Department and Study Program), I've found that most of the managers were friendly and intelligent people. Most of them had pleasant countenances and friendly gestures to other people from different background. They like to help and collaborate, providing useful answers to my list of questions. 

I noticed that most of them were successful in other areas, such as research, management, or community empowerment, but don't like to talk about those achievements, unless they were related with my project. The managers were enthusiastic about this area (internationalization) and showed their point of views independently based on their excellent understanding of our workplace management style. They shared their best strategies and practices on how to handle a problematic situation or resentment from academic and administrative staffs regarding the introduction of new policies. I've found most of their advice was logical and adaptable to our current university situation.

All in all, now I could see why IQ is essential to understand the current situation (and provide a solution), but EQ is needed to manage a complex situation in the workplace. 

Pekanbaru,

Thursday, October 27, 2011

Acknowledgement


26 October 2011
This could be the most awaited day for all PhD students.



A final thesis submission day!

Alhamdulillah, Allah is always very kind to me. I could come to Perth to do the revision and submit the final version of my thesis to Office R&D. 

Hopefully in the next few weeks there will be news about the graduation certificate, so I could be officially… such a ‘thing’ below (wink!).

(This photo was taken during an 'informal graduation' for International Student, organized by the International Office Curtin University, December 2010)


So, the journey of my PhD may have ended now… a bit sad, of course,
however, I’m definitely looking forward to experience another heroic journey in the future. Insha Allah.

During this journey, I’ve met and got some help from numerous people. I acknowledged them in the ‘Acknowledgement’ section in my thesis.


Acknowledgement

Alhamdulillah, ya Allah, finally I could accomplish my PhD study. Thank you very much for Your great hidayah and rahmah during this heroic journey.
I would like to acknowledge a number of people who supported me to produce this thesis.
Firstly, I would like to express my gratitude to Professor Hamid Reza Nikraz, the best supervisor that I have ever had, for his invaluable support, encouragement, assistance and guidance throughout this PhD study. I have learned a lot during this learning process mainly from the opportunities that were introduced by him.
I would like to acknowledge University of Riau my current employer in Indonesia. I also would like to thank the Australian Development Scholarship for the financial support and assistance. Thank you to Mr David Spiller, Mr Reza Reinanto, Ms Julie Craig, Ms Sarah Treagold, Ms Chris Kerin and Ms Kristen Soon for their support for me and my family during my study in Perth.
I received help and support from many wonderful technical staff in the department and laboratory of the Faculty of Science, Engineering and Computing, Curtin University of Technology. Thank you very much to Mr Ashley Hughes, Mr Robert Cutter, Mr John Murray, Mr Carl Lewis, Mr Bradley Frank, Mr Mike Appleton, Mr Michael Ellis, Ms Karen Haynes, Ms Ann Carol, Mr Mark Whittaker, Mr Russel Wilkinson, Mr Jo Justin, Mr Jim Sherlock, Mr Mark Fowler, Prof Vijay Rangan, Dr Ian Chandler, Dr Prabir Sarker, Ms Liz Field, Ms Dianne Garth, and Ms Sucy Leong.
I am grateful to Dr Reza Javaherdashti, Dr Navid Mohamaeni and Prof Michael Borowitzka from Algae R&D, Murdoch University, Western Australia, for their help in some parts of my thesis; Dr John Fielder (Teaching & Learning Development) and Prof Jeanne Dawson (The Learning Support). I acknowledge Dr Navid Nikraz and Julia Lightfoot for helping me in proofread the final manuscript.
It is also important to acknowledge friends who always help and give me spark of ideas throughout my experimental work and analysis. Thank you very much to Dr Hanisom Abdullah, Dr Djwantoro Hardjito, Dr Iwan Hwan Harsono, Dr Noor Hakim bin Rafai, Dr Ee Hui Chang, Dr Miftahul Fauziah, Ms Mareese McCloughin, Pei Wen Lau and all the wonderful friends that I could not mention one by one here. Thank you for helping me in different aspects of my research.
On my journey, I met some scientists and engineers from Concrete Institute of Australia who gave valuable input for my research. Thank you very much to Dr Shindunata and Andrew Peek (GHD Pty), Dr David Law (RMIT), Dr Kwesi Sagoe-Krentsil (CSIRO), Dr Tony Song (Boral), Ms Elaine Miller (Centre for Material Research, Curtin University) and Nhu Nguyen (SGS Laboratory).
I’d like to give the biggest appreciation to my husband, Gunawan Wibisono, who’s very patient and helpful, always there for me in the good and bad times or up and down situation during my study. Thank you so much for your constant love, dear.
I’d like to thank my dear parents & parents-in law, Papa Hailubis & Mama Lisma Erni, Bapak Wadijono & Ibu Supiyani for their constant support, prayers and love for us. Finally, I am grateful to my sister Ms Paulina Atry, my brother Mr Wahyudi, sister Cut Wulan and my little niece, Alila.
====================================================================


Please don't feel bad if you cannot find your name there. I didn't forget you when I wrote this page, besides, I've got so many friends to thank for their contribution. So, I just simply put everyone in this  sentences:

.... all the wonderful friends that I could not mention one by one here. Thank you for helping me in different aspects of my research...
(I think this is quite obvious)


Now, let’s get back to work… I mean, making plan for a weekend trip, as a reward for this big milestone.

Hope you enjoy your weekend!

Perth,