Kuliah saja tanpa pengembangan diri akan sangat membosankan, demikian pendapatku. Sebagai seorang eks mahasiswa yang hanya fokus belajar untuk mendapatkan IPK tinggi dan berusaha melupakan bersenang-senang berlebihan, maka aku menyarankan agar mahasiswa agar memiliki kegiatan seimbang. Berorganisasi dan bersosialisasi ternyata sangat diperlukan untuk memicu kreativitas dan prestasi.
Sejak tahun 2003, aku telah aktif membimbing program kreativitas mahasiswa. Awalnya mahasiswa hanya didorong untuk melakukan penelitian dan ikut lomba skripsi terbaik tingkat lokal. Bukan tanpa bimbingan khusus, grup mahasiswa tersebut dilatih untuk dapat menulis esai, karya tulis, presentasi, penelitian maupun menulis artikel ilmiah. Beberapa mahasiswa berhasil memenangkan lomba tingkat lokal maupun nasional (termasuk PIMNAS, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional). Alumni grup ini telah menyebar menjadi dosen, researcher maupun pegawai di dinas-dinas tertentu.
Grup berikutnya dibentuk tahun 2013. Berbekal nama beberapa mahasiswa berprestasi di kelasnya, aku mengajak mereka aktif menulis proposal, karya tulis maupun esai. Beberapa tulisan mereka sangat layak dijadikan artikel untuk jurnal nasional maupun internasional. Berkat kesungguhan mereka dalam belajar, mereka menjadi sangat kreatif dalam berpikir, dan tekun memupuk prestasi di bidang riset dan penulisan. Mereka lulus dengan gemilang dan saat ini tengah bersiap-siap S2 di luar negeri.
Grup selanjutnya terbentuk tahun 2016. Aku masih memikirkan cara untuk membuka kreativitas mereka dan membuat mereka jadi pembelajar mandiri. Sebenarnya semua berpotensi untuk sukses dalam bidang-bidang baru, seperti mengikuti summer course, tetapi mereka belum mau mendorong diri lebih jauh dari sekarang. Sebagai dosen aku perlu membimbing untuk mengarahkan mereka agar terus membuka diri, memperluas wawasan dan meningkatkan kreativitas diri agar selalu tetap bisa berprestasi. Mudah-mudahan tahun 2017 ini mereka akan lebih bersemangat untuk belajar menulis, meneliti, berpikir kreatif, aktif berbicara dalam bahasa Inggris dan masuk ke lingkungan internasional.
Sukses semua.
Pekanbaru,
A lecturer, an engineer, a learner, a researcher, a reviewer, a traveller, an adventurer. Love plans and plants.
Wednesday, February 8, 2017
Tuesday, January 10, 2017
Akhirnya aku menangis juga...
Senin pagi, 2 Januari 2017, di salah satu pojok Al Haramain, Masjidil Haram
Tempat itu sangat diminati oleh jamaah ibu-ibu yang ingin berdoa, membaca Quran atau sekedar melayangkan pandangan mengamati Kaabah dari tempat mereka bersujud. Aku termasuk salah satu pencinta tempat searah tegak lurus dengan Hijr Ismail tersebut. Sebenarnya aku tak pernah ingin berebut dengan siapapun untuk sebuah tempat sebesar sajadah ini. Tetapi kadang-kadang, mendapatkan tempat yang bisa menghadirkan hati di depan Kaabah langsung termasuk perjuangan berat karena harus datang lebih awal dari siapapun. Jika terlambat mendekati waktu shalat, maka tidak dapat tempat di mana-mana, kecuali di balik dinding saf belakang.
Sudah dua hari aku melihatnya, wanita Emirati tersebut. Dia sujud lama sekali dalam tiap shalat. Di sebelah sajadahnya ada sebuah kursi dengan mushaf Quran di atasnya. Tiap rakaat ia membaca Quran tersebut dan meletakkannya kembali sebelum rukuk dan sujud. Suatu hari aku berhasil melihat wajah ayu tersebut karena ia menyentuh tanganku meminta tissue. Wajah tersebut berurai air mata. Aku mengutuk hatiku ini, karena sudah beberapa hari di Al Haramain belum juga menangis sepenuh hati. Apakah tidak ada penyesalan, Monita? Begitu banyak dosa dan kesalahan... Aku melihatnya lagi dengan iri, mestinya aku bisa menangis seperti dia, tetapi barangkali akan datang masanya nanti, tekadku dalam hati.
Senin menjelang subuh aku duduk dengan gelisah menunggu mama yang belum datang. Wanita Emirati itu telah kembali ke negaranya dan tidak ada di tempat biasa. Aku gelisah karena tempat favorit itu sudah penuh dengan ibu-ibu separuh baya dari berbagai bangsa yang pasti akan mengambil tempat mama. Aku lapangkan sajalah untuk orang lain, atau tetap menunggu mama, pikirku ragu-ragu sambil memegang kursi untuk bunda erat-erat. Tak lama setelah itu, seseorang bertanya padaku lalu memindahkan kursi tersebut tanpa mencerna jawabanku. Padahal aku sudah mengatakan 'for mommy', tetapi wanita tua tersebut dengan bahasanya memarahiku dan menunjuk-nunjuk wajahku dengan suara keras seperti jengkel luar biasa. Aku sadar membantah atau bertahan tidak akan menyelesaikan masalah. Mama memang terlambat sekali hari itu ke masjid. Sambil berharap mama mendapatkan tempat shalat nanti, kulihat wanita yang mengamuk tadi membanting sajadahnya di tempat mama kemudian mulai shalat sunat. Tak berapa lama, mama mendekat tempat kami perlahan-lahan karena kaki beliau masih sakit. Aku menunjuk wanita tadi, mama mengangguk tanda tidak apa-apa dan menunjuk ke saf belakang.
Sementara drama itu berakhir, shalat subuh akan dimulai sebentar lagi.
Kami semua mulai berdiri. Meski demikian, perasaanku masih campur-aduk setelah dibentak-bentak wanita di sebelah ini. Tetapi aku harus khusyuk mendengarkan imam atau shalat ini akan sia-sia.
Astaghfirullah.
Aku maafkan saja ibu yang baru saja memarahiku, barangkali ia lebih memerlukan spot ini daripada mama, aku terus menenangkan hati.
Pada rakaat pertama setelah Al Fatihah, sang imam (Sheikh Bander Baleelah) mulai membaca surat dalam Quran dengan intonasi yang membuat semua merinding. Relay shalat Fajr dapat dilihat di sini.
Masya Allah. Allahu Akbar.
Luar biasa shalat di Al Haramain, terasa dekat menembus syurga suara lafaz Quran dari imam. Tidak ada yang lebih indah dari bacaan imam ini. Tanpa terasa aku pelan-pelan menitikkan air mata. Air mata jatuh menetes-netes ke kerudung, lalu tanpa malu-malu aku mulai terisak.
Barangkali aku sudah mulai letih, merasa tak berdaya, dan teringat semua dosa-dosa.
Barangkali juga hati mulai lunak dan memahami cinta Allah padaku.
Barangkali juga teringat semua nikmat Allah yang sering tidak kusyukuri karena tidak kupahami...
barangkali juga sedih karena mama harus shalat di belakang (apakah dapat kursi atau tidak), dan
barangkali atau paling jelas, karena sedih pagi-pagi mau shalat dimarahi ibu-ibu di sebelahku ini...
Semua perasaan dan pikiran bercampur aduk saat shalat, tetapi menghasilkan kelegaan yang besar saat aku selesai shalat, meski wajahku sembab dan jilbab penuh air mata.
Ibu yang memarahiku tadi hanya mendelik sebentar lalu packing sajadahnya dan ngacir cepat-cepat. Biarpun caranya tadi menyebalkan, sebenarnya aku ingin berterima kasih padanya karena sudah trigger emosi diriku di pagi hari.
Aku tidak tahu lagi mau menganalisa apa, tetapi suatu subuh di awal tahun 2017, di depan Hijr Ismail, dan di tempat yang indah ini, aku mulai menangis dan menyesali diriku ini...
Pekanbaru,
Catatan Umroh 2016-2017
Tempat itu sangat diminati oleh jamaah ibu-ibu yang ingin berdoa, membaca Quran atau sekedar melayangkan pandangan mengamati Kaabah dari tempat mereka bersujud. Aku termasuk salah satu pencinta tempat searah tegak lurus dengan Hijr Ismail tersebut. Sebenarnya aku tak pernah ingin berebut dengan siapapun untuk sebuah tempat sebesar sajadah ini. Tetapi kadang-kadang, mendapatkan tempat yang bisa menghadirkan hati di depan Kaabah langsung termasuk perjuangan berat karena harus datang lebih awal dari siapapun. Jika terlambat mendekati waktu shalat, maka tidak dapat tempat di mana-mana, kecuali di balik dinding saf belakang.
Sudah dua hari aku melihatnya, wanita Emirati tersebut. Dia sujud lama sekali dalam tiap shalat. Di sebelah sajadahnya ada sebuah kursi dengan mushaf Quran di atasnya. Tiap rakaat ia membaca Quran tersebut dan meletakkannya kembali sebelum rukuk dan sujud. Suatu hari aku berhasil melihat wajah ayu tersebut karena ia menyentuh tanganku meminta tissue. Wajah tersebut berurai air mata. Aku mengutuk hatiku ini, karena sudah beberapa hari di Al Haramain belum juga menangis sepenuh hati. Apakah tidak ada penyesalan, Monita? Begitu banyak dosa dan kesalahan... Aku melihatnya lagi dengan iri, mestinya aku bisa menangis seperti dia, tetapi barangkali akan datang masanya nanti, tekadku dalam hati.
Senin menjelang subuh aku duduk dengan gelisah menunggu mama yang belum datang. Wanita Emirati itu telah kembali ke negaranya dan tidak ada di tempat biasa. Aku gelisah karena tempat favorit itu sudah penuh dengan ibu-ibu separuh baya dari berbagai bangsa yang pasti akan mengambil tempat mama. Aku lapangkan sajalah untuk orang lain, atau tetap menunggu mama, pikirku ragu-ragu sambil memegang kursi untuk bunda erat-erat. Tak lama setelah itu, seseorang bertanya padaku lalu memindahkan kursi tersebut tanpa mencerna jawabanku. Padahal aku sudah mengatakan 'for mommy', tetapi wanita tua tersebut dengan bahasanya memarahiku dan menunjuk-nunjuk wajahku dengan suara keras seperti jengkel luar biasa. Aku sadar membantah atau bertahan tidak akan menyelesaikan masalah. Mama memang terlambat sekali hari itu ke masjid. Sambil berharap mama mendapatkan tempat shalat nanti, kulihat wanita yang mengamuk tadi membanting sajadahnya di tempat mama kemudian mulai shalat sunat. Tak berapa lama, mama mendekat tempat kami perlahan-lahan karena kaki beliau masih sakit. Aku menunjuk wanita tadi, mama mengangguk tanda tidak apa-apa dan menunjuk ke saf belakang.
Sementara drama itu berakhir, shalat subuh akan dimulai sebentar lagi.
Kami semua mulai berdiri. Meski demikian, perasaanku masih campur-aduk setelah dibentak-bentak wanita di sebelah ini. Tetapi aku harus khusyuk mendengarkan imam atau shalat ini akan sia-sia.
Astaghfirullah.
Aku maafkan saja ibu yang baru saja memarahiku, barangkali ia lebih memerlukan spot ini daripada mama, aku terus menenangkan hati.
Pada rakaat pertama setelah Al Fatihah, sang imam (Sheikh Bander Baleelah) mulai membaca surat dalam Quran dengan intonasi yang membuat semua merinding. Relay shalat Fajr dapat dilihat di sini.
Masya Allah. Allahu Akbar.
Luar biasa shalat di Al Haramain, terasa dekat menembus syurga suara lafaz Quran dari imam. Tidak ada yang lebih indah dari bacaan imam ini. Tanpa terasa aku pelan-pelan menitikkan air mata. Air mata jatuh menetes-netes ke kerudung, lalu tanpa malu-malu aku mulai terisak.
Barangkali aku sudah mulai letih, merasa tak berdaya, dan teringat semua dosa-dosa.
Barangkali juga hati mulai lunak dan memahami cinta Allah padaku.
Barangkali juga teringat semua nikmat Allah yang sering tidak kusyukuri karena tidak kupahami...
barangkali juga sedih karena mama harus shalat di belakang (apakah dapat kursi atau tidak), dan
barangkali atau paling jelas, karena sedih pagi-pagi mau shalat dimarahi ibu-ibu di sebelahku ini...
Semua perasaan dan pikiran bercampur aduk saat shalat, tetapi menghasilkan kelegaan yang besar saat aku selesai shalat, meski wajahku sembab dan jilbab penuh air mata.
Ibu yang memarahiku tadi hanya mendelik sebentar lalu packing sajadahnya dan ngacir cepat-cepat. Biarpun caranya tadi menyebalkan, sebenarnya aku ingin berterima kasih padanya karena sudah trigger emosi diriku di pagi hari.
Aku tidak tahu lagi mau menganalisa apa, tetapi suatu subuh di awal tahun 2017, di depan Hijr Ismail, dan di tempat yang indah ini, aku mulai menangis dan menyesali diriku ini...
Pekanbaru,
Catatan Umroh 2016-2017
Saturday, December 17, 2016
Ketika aku... dimotivasi oleh mahasiswa
"Ibu, saya suka membaca blog ibu, mengapa sudah lama tidak diupdate ya?" seorang mahasiswa bertanya dalam sebuah acara.
Diam-diam aku sedikit senang karena ada yang menanyakan. Pasalnya, aku kehilangan motivasi untuk mengisi blog ini. Ada beberapa hal yang belum bisa diterima dan menyangkut dalam pikiran-pikiran penuh keduniawian ini. Padahal menulis blog adalah sharing ilmu bermanfaat, bagian dari amalan untuk akhirat juga, Subhanallah... aku seperti tersadarkan saat itu.
"Insya Allah ibu akan update dan mulai rajin menulis lagi tahun 2017 ini, mohon doanya" jawabku dengan nada bergetar.
"Mudah-mudahan bermanfaat ya..." sambungku lagi.
"Ibu, nanti tampilannya dibuat profesional dan pakai domain com ibu, jangan blogspot lagi" usul sang mahasiswa.
"Iya, insya Allah ibu akan perbaiki, semoga bisa pakai domain com secepatnya" jawabku lagi.
Masya Allah, meski hanya sebuah blog, jika ditekuni dan ditulis menggunakan hati, barangkali bisa membantu orang lain. Insya Allah, insya Allah, aku akan rajin menulis tahun 2017 ini, akan kujadikan tahun 2017 adalah 'tahun menulis', setelah tahun 2016 temanya 'pengabdian masyarakat'.
Alhamdulillah, makasih ya adik-adik mahasiswa. Ibu jadi termotivasi lagi mengupdate blog ini. Demikianlah kita berinteraksi, hendaknya saling memotivasi dalam berbagai hal baik-baik.
Semoga bermanfaat ya. Syukron dan sukses untuk anda semua.
Pekanbaru,
Friday, September 23, 2016
Semester Baru, Wajah-wajah Baru, dan Harapan Baru
Satu hal yang kusukai dari Semester Ganjil setiap tahun adalah bertemu mahasiswa baru dalam mata kuliah yang kuampu.
Wajah-wajah baru dan segar memenuhi kampus. Beberapa orang mahasiswa masih terlihat mirip satu sama lain karena rambut cepak mereka. Para mahasiswi masih terlihat gugup dan malu-malu berjalan di depan dosen. Semua mahasiswa bercampur-baur dari berbagai jurusan memenuhi lobby kampus, lorong-lorong kelas dan halaman depan.
Pemandangan yang nyaris sama setiap pertengahan tahun yang membuat aku selalu bersemangat untuk memperbaiki diri, seperti ingin memperbarui niat dalam bekerja, ingin memberikan materi kuliah dengan metode lebih baik dari sebelumnya, atau ingin memperbarui bahan kuliah supaya mengikuti keilmuan dan trend di industri konstruksi, bahkan ingin membimbing topik-topik terkini dalam penelitian. Aku ingin bisa membagikan ilmu-ilmu tentang Teknik Sipil dengan lebih dalam lagi, disamping ilmu kehidupan pada setiap mahasiswa. Selain itu juga ada harapan bisa mengulang masa-masa menyenangkan saat belajar bersama mereka di kelas dan melakukan penelitian di laboratorium.
Biasanya untuk menyemangati mereka dalam memikirkan masa depan, selalu ada suatu hal yang kubagi melalui perkenalan awal. Mirip dengan anak-anak di usia pertumbuhan, perkembangan mereka di kampus selalu diawali dengan cara mereka beradaptasi dan berinteraksi dengan dosen dan teman pada semester-semester awal di kampus. Inilah kesempatanku untuk mengajarka mereka tentang sikap-sikap etis, disiplin dan kerja keras disamping membantu mereka melihat ke masa depan dan merancang yang terbaik untuk mereka.
Selamat datang, 'anak-anakku' yang dititipkan Allah lewat kampus. Semoga anda sukses melewati semester baru ini dan semester selanjutnya di masa mendatang. Tuntutlah ilmu dengan tekun, dan jadilah orang-orang yang bermanfaat dengan menyebarkan kebaikan kepada orang-orang lain.
Barakallah.
Pekanbaru,
Thursday, September 1, 2016
Mengaktifkan diri saat tenggelam dalam kesedihan
So, bunyinya seperti kita ini robot yang perlu diaktifkan kembali saja.
Tetapi hal itu pasti pernah dialami tiap orang.
Apalagi kalau diantara kita mengalami kesedihan akibat masa-masa sulit karena kehidupan tidak selalu penuh bunga, atau keletihan karena terlalu berat beban hidup yang ditanggung, atau juga merasa pesimis karena hal-hal yang dilakukan belum kelihatan hasilnya.
Untuk itu, kita perlu memberi waktu bagi diri sendiri.
Biarkan diri istirahat sejenak untuk merenung, mencari jawaban, melupakan, atau menenteramkan jiwa sendiri.
Berdoa, shalat dan bersabar. Mulai lagi tilawah Al Quran.
Lakukan hobi atau belajar hobi baru.
Pergi traveling (sangat dianjurkan). Bertemu teman-teman baru. Buat project yang melibatkan orang-orang tak dikenal. Atau, bersilaturrahmi dengan keluarga dan kerabat yang mengenal kita dari kecil. Bahkan mungkin saja ambil kursus bahasa asing, melakukan S2 atau S3. Apa saja, untuk menyibukkan diri dan membuat kita lupa dengan kesedihan tersebut.
Insya Allah kita akan cerah lagi.
Bahkan jika dilakukan terus-menerus, pasti kesedihan tadi lambat-laun akan memudar dan bisa hilang tak berbekas.
Bukan tidak mungkin kita akan tersenyum mengingat betapa kuatnya diri kita bangkit dari kesedihan yang seolah tak kunjung hilang.
Pekanbaru,
Subscribe to:
Posts (Atom)


