Wednesday, July 16, 2014

Book: The Signature of All Things

When you are a heiress of a big fortune wealth, a pioneer scientist of a small world like moss, an adventurer of your own life, and an inventor of goodness in your family, then you must be very lucky. But life was certainly not a linear thing for Alma Whittaker despite all positive qualities she might have. She had a lonely life, a loveless marriage and a problem with her appearance. She had tried to move out from her comfort zone, only to find the 'real life' and 'truth' for herself. 

This is what I call a process of balancing and reinventing a wheel. I experienced my own journey many years ago with geopolymer issue on hand. However, this erratic and antic material has given me many opportunities to improve myself and find my own strength. I, eventually has a courage to tell myself that I have grown as a person and become a strong minded person, but resilient in the same time. Have I found my own positive qualities through the hard process? I hope, so!

So, a book of The Signature of All Things, is another magnificent story about Alma's adventure to find herself. In my opinion, this book is more engaging than Eat, Love, and Pray by the same author, Elizabeth Gilbert. Perhaps, because I like to be a botanist myself, or perhaps Alma's thirst for knowledge is more admirable. 

I recommend this 700 hundred pages book for anyone who loves adventure, science and and history in a fiction genre.

Pekanbaru,

Tuesday, July 8, 2014

Courage vs Confidence

I was quite shocked to hear the way two young women answer my question about their plan after their final year examination. 

The question itself is not that special, like "Are you interested in continuing your study?"

"Oh yes, we want to study abroad, I want to go to Australia, and she wants to go to Japan." 

My answer: "That's fantastic. Have you prepared your English qualification?"

The way they answered to my question perhaps has worried me.

"No, we haven't. How do we must prepare it?"

I gave them several hints and told them to contact me whenever they need help in this matter. 

I didn't realize that they were too overconfident to answer my question. The ugly truth is, perhaps they have never prepared actually. 

So, how could they be so confident to answer the question?


This fact that I've mostly seen from my students. 

Some of them were overconfident with their options. They thought they knew the answer once they've finished their final year project. Those who did over confident didn't have enough information about their preferences and the actual risks. When they know the difference between overconfident and courage, they might be conscientious in answering my question about their future. 

Courage is like knowing the actual risks but prepare to take action. In another way, overconfident is like "will do it without thinking'. When they are facing distress and hurdles in the process, later they will realize their lack of preparation, and they are overconfidence. Eventually, they've learned that things must not be underestimated. 

Though I was quite happy with their plan, I want them to understand that it is essential to know well about the demand of their dreams, the qualifications needed and the appropriate attitude.

Pekanbaru,

Monday, June 16, 2014

Makanan halal saat di Jepang

Dalam perjalanan ke luar negeri kali ini kami putuskan untuk tidak membawa travel cooker kesayangan. Konon, di Jepang tidak sulit menemukan onigiri dan sushi dengan isian seafood yang halal dan tidak mahal!

Hampir seperti biasa, aku dan hubby selalu berpikir kami adalah postgrad student dan koperpacker. Berkat mind set demikian, setiap perjalanan ke luar negeri bisa dilakukan dengan dana minim tanpa komplain. Tinggal di hotel khusus untuk anak-anak muda (di atas level hostel) yang tidak cocok untuk keluarga, makan di tempat-tempat keramaian atau cukup beli di 7/11, jalan-jalan muter seharian pakai kaki naik-turun kendaraan umum, sampai nyasar tidak karuan di beberapa suburb atau district~ selalu bisa diterima dengan lapang dada.


Persoalannya, fast food di Jepang banyak, tetapi kehalalannya tidak dijamin untuk muslim. Jadilah, sehari-hari kami makan onigiri, nasi kepal sebesar kepalan tinju orang dewasa dengan beraneka macam isian. Tetapi sayangnya, tidak ada keterangan berbahasa Inggris. Apalagi kalau gambarnya seperti ini, apakah itu onigiri halal sudah jelas tidak ada labelnya. Jadi mesti tanya-tanya dulu supaya yakin. Soalnya hubby pernah tidak yakin dengan isiannya yang terasa berserat dan agak aneh, so onigiri sekantung tanpa pikir panjang disumbangkan hubby kepada gelandangan di dekat stasiun Akihabara. Ternyata setelah kami agak pintar membaca kanji (abis sudah sering beli), barulah kami sadar yang disumbangkan itu onigiri isi udang! Gimana sih, hubby ga bisa bedain udang ma ayam!

Berhubung orang Jepang agak susah bicara bahasa Inggris, sebelum membayar aku harus tanya-tanya dulu seperti ini kepada pelayan/kasir:
"is it chicken? is it meat" --- kadang yang jawab ngangguk, tapi ngecek lagi, terus angguk lagi.
"is it meat" --- yang jawab menggeleng, "no meat"
besoknya, nanyanya gini, "no meat?" --- yang ditanya mengangguk. Beres, berarti bisa dimakan. 
Yang lebih asyik lagi, sebelum menjawab si pelayan menggambar bentuk segitiga onigiri, lalu diberi bulatan yang diarsir di tengahnya, kemudian mengajakku ke bagian pendingin lain sambil menunjukkan sketsa itu dan sekotak udang/salmon. Oo, maksudnya isinya salmon/udang!

Lama-lama karena suka beli di 7/11, aku foto saja onigiri rasa salmon, rasa rumput laut, rasa udang dan rasa kepiting pakai ipod. Setelah itu, mau beli onigiri tidak pernah tanya-tanya lagi, tinggal mencocokkan bentuk kanjinya saja.

Sewaktu di Sapporo, teman kita pak FH membawa kami makan malam di restoran sushi otentik JR Tower. Antrinya hampir satu jam, tetapi diakui suasana dan makanannya well worth the effort! Konon lama, karena kami ingin duduk bareng di satu meja bersama-sama ketimbang duduk di depan sushi bar. 

Tetapi penantian itu tidak sia-sia, karena setelah duduk makan sushi salmon, sup kepiting, makan calamari, makan aneka sushi lagi, minum teh hijau, sambil ngobrol tentang kehidupan di Sapporo, hidup rasanya cerah seketika. Aku akui kuliner Jepang memang berbeda!

Ternyata di Jepang bisa ditemukan juga makanan khas Timur Tengah, seperti kebab dan kari. Cerita ketemu kebab seharga 500 Yen (cukup mahal: Rp 50000 seporsi) ini agak dramatis. Singkat cerita, kami tiba-tiba terdampar di sebuah pasar dekat stasiun kereta Ueno Park, Tokyo. Di pasar ala tenda tersebut banyak orang menjual aneka barang-barang baik branded maupun non-branded. Sedang asyik jalan, aku bertemu mahasiswi Malaysia yang sepertinya sedang shopping. Setelah tanya-tanya, mereka menunjukkan gerai tempat barang yang ingin kami beli serta mengatakan kalau kebab di warung depan halal untuk dimakan. Mendengar kebab halal, terbayang kebab di Harbour Town, Perth (Rp 99000 sebuah). Apalagi setelah capek-capek nyasar begini, pasti tidak mengecewakan. Meski rasanya tidak semantap kebab di Perth, aku cukup menikmati pengalaman baru makan kebab yang dijual orang Turki jago bahasa Jepang! 

Turkish kebab, menjamur di Tokyo

Aku juga excited soal kari di Jepang. Rasanya mirip kari India/Pakistan. Soal ketemu makanan halal di kantin Hokkaido University memang bukan khayalanku saja. Ternyata kantin dekat Ono Pond memiliki bagian halal yang khusus menjual kari ayam. Rupanya gerai halal demikian tengah menjamur di beberapa kantin universitas di Jepang. Tujuannya untuk memudahkan para pelajar muslim mendapatkan makanan. Satu porsi makanan seperti ini harganya 420 Yen, dan kocaknya ada tiga tipe: S, M, XL. Maksudnya? Tipe S, M, XL menunjukkan jumlah nasi/karbohidrat yang diberikan kepada kita. Isi karinya sih sama aja, tetap 3 sendok. Tapi porsinya emang generous banget, sampe kekenyangan sendiri kalau ambil nasi porsi XL!

Sekarang tidak sulit lagi mendapatkan informasi restoran halal di Jepang. Sejak tahun lalu pemerintah Jepang mulai proaktif mendorong gerai-gerai halal dan delivery makanan halal untuk meningkatkan minat kunjungan turis muslim. Informasinya bisa dilihat pada link 'For Muslim Visitor' berikut. 

Kuakui, banyak turis muslim puas dengan kemudahan mendapatkan makanan halal. Bikin jalan-jalan saat berlibur di Jepang semakin seru, tanpa harus mikir mau makan indomie setiap hari! 



Pekanbaru,
oishi!

Thursday, June 12, 2014

Mengunjungi Otaru

Post ini adalah bagian dari perjalanan di Jepang yang kami lakukan September 2013 lalu.

Berhubung aku dan hubby tiba lebih awal satu hari di Sapporo, Hokkaido, kami ingin melakukan perjalanan ke tempat wisata yang tidak jauh dari kota besar Sapporo. Kami mengunjungi Otaru, sebuah kota kecil di barat daya Sapporo yang terkenal dengan kanalnya. Cerita tentang Otaru Canal secara singkat sudah kutulis di sini.

Pagi-pagi aku dan hubby sudah berangkat berjalan kaki menuju Sapporo Train Station. Stasiunnya tidak jauh dari rumah pak FH, tempat kami menginap sementara di Sapporo, sehingga berjalan kakipun masih tetap nyaman. Apalagi di tepi-tepi trotoar bunga-bunga musim panas banyak bertebaran mempercantik pemandangan.

Bunga-bunga musim panas di Sapporo
Kami ke kantor informasi turis untuk mendapatkan rute paling murah. Ternyata naik bus masih jauh lebih murah daripada naik kereta api. Stasiun bus terletak di samping stasiun kereta api, jadi masih bisa mengejar bus waktu tertentu. Tentu saja kami berdua ingin naik bus meski agak was-was apakah petunjuk tulisan pakai kanji, bayarnya di mana dan berapa farenya, atau supirnya tidak tahu bahasa Inggris samasekali! Sayang sekali dugaan kami salah. Petunjuk di stasiun sangat jelas dan hubby dengan cepat bisa mengetahui bus mana yang harus kami pilih. Tugasku hanya mengatakan ingin turun di dekat Otaru Canal dalam bahasa Inggris, lalu duduk manis di bus tanpa perlu memusingkan farenya terlebih dahulu. Ongkosnya dibayar pada saat akan turun bus. Mengapa? Karena ada alat penunjuk fare vs nama stasiun berikut:
Alat ini benar-benar praktis. Kalau kita naik dari stasiun 1, begitu turun di Otaru (misalnya stasiun 6), maka farenya akan terbaca, misalnya 590 yen.
Dua orang yang masih excited ini, berusaha menikmati pemandangan sebaik-baiknya. Apalagi aku yang suka tanaman, pohon, bunga, sangat menikmati sekali aneka tanaman negara empat musim dengan salju tebal di musim dingin ini. Paling banyak pohon Ginkgo Biloba, pohon maple dan bunga-bunga musim semi. Ketika melewati hutan di luar kota Sapporo, aku dan hubby langsung bernostalgia tentang pemandangan alam di film-film Voltus atau film-film kartun Jepang masa kecil kami. Semuanya sangat tepat menggambarkan suasana alam di film, termasuk kota di teluk Ishikary ini. Aku tidak bisa membayangkan keadaannya di musim dingin. Pasti penuh salju tebal dan suhu minus.
Ishikari Bay, kota teluk tempat seorang Profesor Beton dari Hokkaido melakukan tes long term perendaman beton di air laut.

Tidak sulit sebenarnya mencari Otaru Canal. Begitu masuk kota Otaru, sudah terdapat papan penunjuk Otaru Canal yang cukup besar. Kami memilih turun satu bus stop sebelum stasiun Otaru berhubung ada jembatan penyeberangan yang langsung mengarah ke Canal. Jalan ke Canal sendiri penuh dengan nuansa khas Jepang. Ada warung makan, rumah, toko, dan trotoar lebar. Kesannya bersih dan asri karena banyak bunga-bunga musim panas yang hanya bisa tumbuh di daerah dingin, misalnya hollylock dan morning glory biru muda!

Otaru kanal bukan satu-satunya atraksi menarik di kota Otaru. Tempat ini terkenal dengan industri kotak musik, pusat perdagangan dan restoran/kafe di bekas gudang penyimpanan barang yang telah direnovasi. Sebenarnya ada banyak museum menarik, tetapi kami hanya sempat mengunjungi Museum Keuangan untuk melihat sejarah perbankan dan keuangan di Jepang. 

Otaru Canal nan asri

Kanal yang terkenal ini telah dikurangi lebarnya dari ukuran semula. Fungsi kanal pada tahun 1920an adalah untuk transportasi batu bara dan produk laut untuk diekspor ke luar negeri. Gudang-gudang di tepi kanal merupakan tempat penyimpanan barang-barang perdagangan. Sejak pelabuhan Otaru dibuka, kanal tersebut tidak digunakan lagi. 

Pemerintah kota memutuskan untuk menutup kanal dan menjadikannya jalan raya, tetapi ditolak oleh masyarakat Otaru karena kanal tersebut merupakan 'heritage landmark', dan sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Pemerintah hanya mengurangi lebarnya dan membersihkan kanal sehingga bisa digunakan untuk pariwisata. Turis juga bisa naik gondola atau boat untuk menyusuri kanal sambil menikmati pemandangan kota. 

Sama seperti turis lain, kami berdua sibuk memotret, berjalan kaki menyusuri bagian depan dan belakang kanal. Bagi turis yang malas berjalan kaki keliling, ada persewaan rickshaw ditarik oleh manusia. Para penarik rickshaw tersebut mengenakan tarif lumayan untuk waktu tertentu. Sedangkan kami berdua memutuskan untuk berjalan kaki saja karena tiap tempat jaraknya tidak terlalu jauh. Kami melihat museum music box dari jauh, memperhatikan warung makan sushi tanpa berani mencicipi (takut tidak halal), lalu mencari toilet dekat toko milik Japan Post. Ternyata toko itu menjual aneka souvenir seperti music box hasil karya perajin di Otaru. Cantik-cantik bentuk kotaknya, dan lagu-lagunya juga bagus-bagus. Agak aneh juga karena orang Jepang sepertinya suka sekali dengan musik sederhana dari music box.

Jenis-jenis music box yang dijual. Kecil-kecil tapi lucu dan harganya lumayan juga.

Oh well, setelah beberapa jam melihat tempat lain seperti museum perbankan dan rel kereta api historis, serta berbelanja buah-buahan musim panas seperti aprikot, kami berdua memutuskan untuk pulang ke Sapporo. Kali ini kami melewati jalan berbeda dari tempat kami datang dan langsung menuju stasiun bus Otaru. 

We do love our visit in Otaru:)

Pekanbaru,