A lecturer, an engineer, a learner, a researcher, a reviewer, a traveller, an adventurer. Love plans and plants.
Monday, July 28, 2014
Wednesday, July 16, 2014
Book: The Signature of All Things
When you are a heiress of a big fortune wealth, a pioneer scientist of a small world like moss, an adventurer of your own life, and an inventor of goodness in your family, then you must be very lucky. But life was certainly not a linear thing for Alma Whittaker despite all positive qualities she might have. She had a lonely life, a loveless marriage and a problem with her appearance. She had tried to move out from her comfort zone, only to find the 'real life' and 'truth' for herself.
This is what I call a process of balancing and reinventing a wheel. I experienced my own journey many years ago with geopolymer issue on hand. However, this erratic and antic material has given me many opportunities to improve myself and find my own strength. I, eventually has a courage to tell myself that I have grown as a person and become a strong minded person, but resilient in the same time. Have I found my own positive qualities through the hard process? I hope, so!
So, a book of The Signature of All Things, is another magnificent story about Alma's adventure to find herself. In my opinion, this book is more engaging than Eat, Love, and Pray by the same author, Elizabeth Gilbert. Perhaps, because I like to be a botanist myself, or perhaps Alma's thirst for knowledge is more admirable.
I recommend this 700 hundred pages book for anyone who loves adventure, science and and history in a fiction genre.
Pekanbaru,
This is what I call a process of balancing and reinventing a wheel. I experienced my own journey many years ago with geopolymer issue on hand. However, this erratic and antic material has given me many opportunities to improve myself and find my own strength. I, eventually has a courage to tell myself that I have grown as a person and become a strong minded person, but resilient in the same time. Have I found my own positive qualities through the hard process? I hope, so!
So, a book of The Signature of All Things, is another magnificent story about Alma's adventure to find herself. In my opinion, this book is more engaging than Eat, Love, and Pray by the same author, Elizabeth Gilbert. Perhaps, because I like to be a botanist myself, or perhaps Alma's thirst for knowledge is more admirable.
I recommend this 700 hundred pages book for anyone who loves adventure, science and and history in a fiction genre.
Pekanbaru,
Tuesday, July 8, 2014
Courage vs Confidence
I was quite shocked to hear the way two young women answer my question about their plan after their final year examination.
The question itself is not that special, like "Are you interested in continuing your study?"
"Oh yes, we want to study abroad, I want to go to Australia, and she wants to go to Japan."
My answer: "That's fantastic. Have you prepared your English qualification?"
The way they answered to my question perhaps has worried me.
"No, we haven't. How do we must prepare it?"
I gave them several hints and told them to contact me whenever they need help in this matter.
I didn't realize that they were too overconfident to answer my question. The ugly truth is, perhaps they have never prepared actually.
So, how could they be so confident to answer the question?
Pekanbaru,
The question itself is not that special, like "Are you interested in continuing your study?"
"Oh yes, we want to study abroad, I want to go to Australia, and she wants to go to Japan."
My answer: "That's fantastic. Have you prepared your English qualification?"
The way they answered to my question perhaps has worried me.
"No, we haven't. How do we must prepare it?"
I gave them several hints and told them to contact me whenever they need help in this matter.
I didn't realize that they were too overconfident to answer my question. The ugly truth is, perhaps they have never prepared actually.
So, how could they be so confident to answer the question?
This fact that I've mostly seen from my students.
Some of them were overconfident with their options. They thought they knew the answer once they've finished their final year project. Those who did over confident didn't have enough information about their preferences and the actual risks. When they know the difference between overconfident and courage, they might be conscientious in answering my question about their future.
Courage is like knowing the actual risks but prepare to take action. In another way, overconfident is like "will do it without thinking'. When they are facing distress and hurdles in the process, later they will realize their lack of preparation, and they are overconfidence. Eventually, they've learned that things must not be underestimated.
Though I was quite happy with their plan, I want them to understand that it is essential to know well about the demand of their dreams, the qualifications needed and the appropriate attitude.
Pekanbaru,
Monday, June 16, 2014
Makanan halal saat di Jepang
Hampir seperti biasa, aku dan hubby selalu berpikir kami adalah postgrad student dan koperpacker. Berkat mind set demikian, setiap perjalanan ke luar negeri bisa dilakukan dengan dana minim tanpa komplain. Tinggal di hotel khusus untuk anak-anak muda (di atas level hostel) yang tidak cocok untuk keluarga, makan di tempat-tempat keramaian atau cukup beli di 7/11, jalan-jalan muter seharian pakai kaki naik-turun kendaraan umum, sampai nyasar tidak karuan di beberapa suburb atau district~ selalu bisa diterima dengan lapang dada.
Persoalannya, fast food di Jepang banyak, tetapi kehalalannya tidak dijamin untuk muslim. Jadilah, sehari-hari kami makan onigiri, nasi kepal sebesar kepalan tinju orang dewasa dengan beraneka macam isian. Tetapi sayangnya, tidak ada keterangan berbahasa Inggris. Apalagi kalau gambarnya seperti ini, apakah itu onigiri halal sudah jelas tidak ada labelnya. Jadi mesti tanya-tanya dulu supaya yakin. Soalnya hubby pernah tidak yakin dengan isiannya yang terasa berserat dan agak aneh, so onigiri sekantung tanpa pikir panjang disumbangkan hubby kepada gelandangan di dekat stasiun Akihabara. Ternyata setelah kami agak pintar membaca kanji (abis sudah sering beli), barulah kami sadar yang disumbangkan itu onigiri isi udang! Gimana sih, hubby ga bisa bedain udang ma ayam!
Berhubung orang Jepang agak susah bicara bahasa Inggris, sebelum membayar aku harus tanya-tanya dulu seperti ini kepada pelayan/kasir:
"is it chicken? is it meat" --- kadang yang jawab ngangguk, tapi ngecek lagi, terus angguk lagi.
"is it meat" --- yang jawab menggeleng, "no meat"
besoknya, nanyanya gini, "no meat?" --- yang ditanya mengangguk. Beres, berarti bisa dimakan.
Yang lebih asyik lagi, sebelum menjawab si pelayan menggambar bentuk segitiga onigiri, lalu diberi bulatan yang diarsir di tengahnya, kemudian mengajakku ke bagian pendingin lain sambil menunjukkan sketsa itu dan sekotak udang/salmon. Oo, maksudnya isinya salmon/udang!
Lama-lama karena suka beli di 7/11, aku foto saja onigiri rasa salmon, rasa rumput laut, rasa udang dan rasa kepiting pakai ipod. Setelah itu, mau beli onigiri tidak pernah tanya-tanya lagi, tinggal mencocokkan bentuk kanjinya saja.
Tetapi penantian itu tidak sia-sia, karena setelah duduk makan sushi salmon, sup kepiting, makan calamari, makan aneka sushi lagi, minum teh hijau, sambil ngobrol tentang kehidupan di Sapporo, hidup rasanya cerah seketika. Aku akui kuliner Jepang memang berbeda!
| Turkish kebab, menjamur di Tokyo |
Kuakui, banyak turis muslim puas dengan kemudahan mendapatkan makanan halal. Bikin jalan-jalan saat berlibur di Jepang semakin seru, tanpa harus mikir mau makan indomie setiap hari!
Pekanbaru,
oishi!
Thursday, June 12, 2014
Mengunjungi Otaru
Berhubung aku dan hubby tiba lebih awal satu hari di Sapporo, Hokkaido, kami ingin melakukan perjalanan ke tempat wisata yang tidak jauh dari kota besar Sapporo. Kami mengunjungi Otaru, sebuah kota kecil di barat daya Sapporo yang terkenal dengan kanalnya. Cerita tentang Otaru Canal secara singkat sudah kutulis di sini.
Pagi-pagi aku dan hubby sudah berangkat berjalan kaki menuju Sapporo Train Station. Stasiunnya tidak jauh dari rumah pak FH, tempat kami menginap sementara di Sapporo, sehingga berjalan kakipun masih tetap nyaman. Apalagi di tepi-tepi trotoar bunga-bunga musim panas banyak bertebaran mempercantik pemandangan.
| Bunga-bunga musim panas di Sapporo |
| Alat ini benar-benar praktis. Kalau kita naik dari stasiun 1, begitu turun di Otaru (misalnya stasiun 6), maka farenya akan terbaca, misalnya 590 yen. |
| Ishikari Bay, kota teluk tempat seorang Profesor Beton dari Hokkaido melakukan tes long term perendaman beton di air laut. |
Otaru kanal bukan satu-satunya atraksi menarik di kota Otaru. Tempat ini terkenal dengan industri kotak musik, pusat perdagangan dan restoran/kafe di bekas gudang penyimpanan barang yang telah direnovasi. Sebenarnya ada banyak museum menarik, tetapi kami hanya sempat mengunjungi Museum Keuangan untuk melihat sejarah perbankan dan keuangan di Jepang.
| Otaru Canal nan asri |
Kanal yang terkenal ini telah dikurangi lebarnya dari ukuran semula. Fungsi kanal pada tahun 1920an adalah untuk transportasi batu bara dan produk laut untuk diekspor ke luar negeri. Gudang-gudang di tepi kanal merupakan tempat penyimpanan barang-barang perdagangan. Sejak pelabuhan Otaru dibuka, kanal tersebut tidak digunakan lagi.
Pemerintah kota memutuskan untuk menutup kanal dan menjadikannya jalan raya, tetapi ditolak oleh masyarakat Otaru karena kanal tersebut merupakan 'heritage landmark', dan sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Pemerintah hanya mengurangi lebarnya dan membersihkan kanal sehingga bisa digunakan untuk pariwisata. Turis juga bisa naik gondola atau boat untuk menyusuri kanal sambil menikmati pemandangan kota.
Sama seperti turis lain, kami berdua sibuk memotret, berjalan kaki menyusuri bagian depan dan belakang kanal. Bagi turis yang malas berjalan kaki keliling, ada persewaan rickshaw ditarik oleh manusia. Para penarik rickshaw tersebut mengenakan tarif lumayan untuk waktu tertentu. Sedangkan kami berdua memutuskan untuk berjalan kaki saja karena tiap tempat jaraknya tidak terlalu jauh. Kami melihat museum music box dari jauh, memperhatikan warung makan sushi tanpa berani mencicipi (takut tidak halal), lalu mencari toilet dekat toko milik Japan Post. Ternyata toko itu menjual aneka souvenir seperti music box hasil karya perajin di Otaru. Cantik-cantik bentuk kotaknya, dan lagu-lagunya juga bagus-bagus. Agak aneh juga karena orang Jepang sepertinya suka sekali dengan musik sederhana dari music box.
| Jenis-jenis music box yang dijual. Kecil-kecil tapi lucu dan harganya lumayan juga. |
We do love our visit in Otaru:)
Pekanbaru,
Subscribe to:
Posts (Atom)
