Monday, November 22, 2010

Kartini pun giat belajar bahasa asing


Saat ini aku sedang membaca biografi Kartini yang kutemukan di perpustakaan Curtin. Hebat de, perpusnya, punya koleksi buku-buku kuno dalam bahasa Indonesia yang sudah menguning halamannya. Kembali ke buku biografi tadi, ternyata bukunya sangat bagus dan membuatku semakin bersemangat mencapai cita-cita, biar sama seperti ndoro Ajeng, ibu Kartini.

Semangat Kartini untuk mengubah nasibnya memang luar biasa. Menolak dipingit, membantu kaum pengrajin lokal, mengkritik pemerintah Belanda hingga mengusahakan para wanita mendapatkan pendidikan adalah hal-hal besar yang tak terbayangkan dilakukan oleh seorang putri Bupati pada tahun 1900-an. Mencoba keluar dari tradisi dan kebudayaan yang berlaku untuk memajukan lingkungan sekitarnya tanpa kuatir celaan orang, benar-benar sikap sangat mengagumkan seorang putri dari Japara itu. Jika Kartini ada hari ini, beliau pasti akan tersenyum bahagia, karena usahanya untuk membebaskan wanita dari balik tempurung telah lama terwujud. Para wanita bebas belajar, berdagang, menentukan nasib sendiri tak dikekang oleh budaya dan boleh membantu orang di sekelilingnya untuk maju pula.

Satu hal yang mengejutkan diriku, adalah keinginan Kartini untuk menguasai bahasa Belanda dengan baik. Ia berpendapat bahwa bahasa Belanda menjadi sumber pengetahuan dari luar yang dapat memuaskan rasa ingin tahu dan meningkatkan daya analisis untuk mencari jalan keluar permasalahan bangsa. Selain untuk membaca, ia juga sering mempraktekkan kemampuan berbicara dalam bahasa tersebut kepada rekan-rekan ayahnya dari Belanda. Tidak hanya itu, Kartini juga rajin menulis dalam bahasa Belanda untuk memperkenalkan budaya Jawa, kebiasaan masyarakat Jawa. Sebuah tulisannya mengenai cara membatik malah digunakan dalam sebuah buku tentang batik dalam bahasa Belanda. Orang yang membaca sangat kagum, ketika mengetahui bahwa penulisnya adalah seorang putri Jawa yang mengetahui seluk-beluk membatik dan dapat menuliskan proses tersebut dengan fasihnya dalam bahasa Belanda. Pada masa itu, baik rakyat maupun bangsa Belanda terpesona dengan kecerdasan dan kemahiran Kartini yang memiliki penampilan sangat khas putri Jawa tetapi mampu melahirkan karya-karya bermutu di media massa.

Selain rajin membaca buku dan majalah sehari-hari, Kartini juga rajin menulis. Tiap hari ia duduk berjam-jam menulis tanpa kenal lelah. Sehelai tikar disediakan di samping meja yang disinari oleh lampu teplok, sehingga bila Kartini lelah menulis ia bisa istirahat sebentar. Tak henti-hentinya ia menyalurkan ide-idenya melalui surat, tulisan di majalah atau koran. Karena, Kartini mengetahui bahwa dengan menulis, ia dapat memperjuangkan cita-cita besarnya selama ini. Ia belajar, menganalisis, mengkritik, berbagi keresahan dengan teman-teman penanya melalui tulisan. Orang jadi mengetahui, terbiasa dan terinspirasi oleh pemikiran Kartini sehingga lambat-laun akan membantu perjuangannya secara tidak langsung.

Aku betul-betul terharu melihat kekuatan hati Kartini dalam berjuang. Bukan main kukuh dirinya dalam memperjuangkan hal yang diyakininya. Baiklah ibu, aku akan belajar bahasa Inggris tulisan ini sebaik-baiknya. Aku ingin seperti ibu...

Perth,
Sedang merasa terinspirasi oleh Kartini.