Wednesday, June 4, 2014

Jangan membandingkan, tiap hal ada 'kecantikan'nya masing-masing

Aku agak kesal mendengar sebuah pernyataan dari sepasang seleb yang baru pulang berlibur dari luar negeri. 

"Cantik sih, tempatnya, tapi cantikan Bali..." tutur si seleb wanita dengan pandangan tak acuh pada wartawan yang mengelilinginya. Si pasangan mengangguk-angguk mendengar kesan si wanita soal tempat libur terbaru mereka.

"Menurutku sih, tetep bagusan Bali..." ulang si wanita itu lagi, membuatku ter-hadewhh, sambil mematikan televisi. 

Kalau Bali emang lebih cantik, kenapa tidak berlibur ke sana aja, sih? protesku dalam hati. Kenapa harus pakai ke luar negeri segala, terus bilang, cantikan Bali... e-elee... *ngomel ala Ustadz Kazim*


View laut seperti ini biasa saja sih dibanding Bali *mungkin ada yang komen begitu*. Lah tidak ada pantainya...

Apa yang dikatakan si seleb itu persis dengan kata-kata beberapa teman sehabis berlibur ke suatu tempat di luar negeri. 

Entah kenapa aku suka kesal mendengar ungkapan tidak jelas mereka. Begini nih komentar narsistik mereka:
"masih cantikan Sumbar, ya" *menurut seorang kawan yang baru saja mengunjungi Haast, New Zealand*, 
atau 
"masih bagusan Sea World Jakarta" *komentar teman residen di Jakarta yang baru pertama kali ke Aquarium di Perth Boat Harbour*, 
bahkan ada yang bilang... 
"lebih kerenan danau Singkarak-lah *komentar teman lain yang pernah mengunjungi Lake District, UK*.

Semuanya kok jadi membandingkan dengan kondisi di Indonesia, kalau sudah melihat keadaan di luar dengan mata kepala sendiri? Tetapi, masa tidak bisa mengungkapkan kecintaan kita pada Indonesia dengan lebih elegan tanpa membanding-bandingkan Bali dengan Paris, misalnya?

Mengapa kita jadi mendua begini? 

Saat belum bisa ke luar negeri, selalu berkhayal menjelajahi bumi Allah dan ingin melihat pemandangan yang tidak bisa dinikmati di negeri sendiri. Tetapi begitu sudah keluar dan melihat sebentar tanpa meresapinya, tiba-tiba kalau semua tidak seperti ekspektasi, bisa saja mengeluarkan komentar seperti itu. Kalau sudah demikian, mengapa mesti berjalan jauh-jauh ke luar negeri?

Ini tergantung dari sudut pandang mata kita saja, apakah mau melihatnya dengan mata penuh kesyukuran atau mata penuh kedengkian? 

Karena, tiap hal itu sebenarnya punya unsur 'kecantikan'  masing-masing. Hanya kita belum belajar menikmati kecantikan sesuatu dengan mata batin yang cantik pula.

Tanpa perlu mata batin yang cantik, view seperti ini bisa langsung mencantikkan jiwa kita.

Untuk mempercantik mata batin, ya sering-sering bersyukur dengan keadaan kita. Sudah bagus bisa keliling dunia untuk menikmati pengalaman/pemandangan indah yang tidak selalu dapat dilihat setiap hari. Pikirkan di mana letak keindahan tiap tempat dan sebutkan 'Subhanallah' untuk pemandangan menggetarkan jiwa. Jika memang tidak ada cantiknya blas, toh pasti ada hal cantik yang dilihat. Ngaku saja. Sempet memang tidak cantik poll, ya coba dicari 'kecantikan' sesuatu pas di sana. Tinggal ganti kaca mata saja, kan beres!


Senja di Pertanian Omahau. Meski senja juga ada di Indonesia, tetapi melihat semburat oranye matahari senja lewat di pohon-pohon pinus ini, apa tidak romantis kah? *ganti pakai kacamata romantic*
Terus tidak perlu mengeluarkan komentar lebih bagus 'Indonesia' kepada orang lain untuk menghargai kesempatan menikmati sesuatu di luar negeri. Nanti kedengarannya seperti tidak bersyukur, lho, plus 'suka mendua' (dalam hati lain di luar lain).

Well, daripada ngomelin orang yang suka membanding-bandingkan begitu, mendingan sini, aku aja yang berlibur ke luar negeri... hihihi...

Pekanbaru,

No comments: