Friday, January 2, 2015

Ketika aku... memikirkan tentang Resolusi (2015)

Setiap tahun baru Masehi datang, nyaris semua orang memiliki resolusi baru di kepala mereka. Sayangnya semua resolusi itu jarang berlanjut setelah bulan Januari selesai. Bak seorang pelari marathon yang ambruk sebelum mencapai garis finish.


Mengapa sebuah resolusi sulit dijalankan?

Aku punya beberapa alasan soal ini.

A) Resolusi tersebut cukup ambisius
Beberapa orang seperti lupa mengukur kemampuan diri mereka saat membuat resolusi. Kadang-kadang suatu hal penting untuk menunjang resolusi tersebut malah belum selesai dilakukan atau belum mulai sama sekali. Orang-orang belum banyak pengalaman, tidak bisa mengukur dukungan lingkungan dan kemampuan pribadinya biasanya terjebak dalam hal seperti ini. Contoh resolusi yang cukup ambisius adalah ingin S3 di tahun 2015, tapi skor bahasa Inggris belum mendekati level diinginkan.

B) Resolusi tersebut tidak sesuai dengan keinginan pribadi
Herannya, ada orang yang terlibat dengan ambisi orang lain tanpa mereka sadari. Biasanya mereka hanya melihat orang lain sukses dalam suatu bidang, lalu ingin melakukan hal yang sama tanpa ada pertimbangan masak-masak apakah hal tersebut cocok dan sesuai dengan keinginan pribadi. Ketika menemukan masalah, mereka tidak sabar dan cenderung menganggap diri mereka tidak sesuai dengan resolusi tadi. Orang-orang yang tidak suka berkaca dari pengalaman pahit orang lain, tetapi hanya suka kesuksesan saja tanpa mau susah payah bisa digolongkan dalam kategori ini. Sebagai contoh, banyak orang ingin sukses berjualan online di tahun 2015. Sayangnya mereka enggan belajar membaca kebutuhan pasar, cara berdagang online yang menguntungkan, maupun menyadari bahwa memiliki jaringan luas untuk memasarkan dagangan mereka sangat diperlukan.

C) Resolusi tersebut tidak spesifik
Sesuatu yang tidak spesifik, pasti akan sulit dicapai. Spesifik di sini berupa tujuan yang detil, waktu pencapaian yang detil maupun hasil akhir yang ingin dicapai secara detil. Mayoritas orang yang membuat resolusi semacam ini tidak bisa mengukur waktu yang dibutuhkan untuk sebuah pekerjaan.Untuk membuat resolusi yang spesifik, kita perlu membuat ukuran yang ingin dicapai. Misalnya pada tahun 2015 ini aku ingin menulis 2 paper internasional di Jurnal A dan B, diterbitkan bulan Mei dan September, dengan topik durabilitas dan geopolimer.

D) Resolusi tersebut jumlahnya banyak dan sangat spesifik
Sebagai seseorang yang suka detil, aku tidak bisa membuat perencanaan tanpa timeline yang juga sangat detil dan njlimet. Kemudian jumlahnya juga banyak, sehingga tidak jelas fokusnya secara garis besar. Terus terang, hanya 70% saja dari perencanaan tercapai, bahkan kadang di bawah itu. Untuk orang-orang sepertiku, harus menahan diri dari membuat perencanaan detil yang banyak dan memilih prioritas mana yang harus dilakukan serta relevan dalam hidup. Ingat, bahwa bisa bekerja dengan tenang dan beribadah kepada Allah lebih penting daripada mengerjakan begitu banyak tanggung jawab dan tidak bisa melaksanakan resolusi-resolusi tersebut.

Pekanbaru,

No comments: