Mobil kami lalu menyusuri sungai kehijauan yang bermuara di danau Dunstan. Lagi-lagi aku berhasil membujuk hubby untuk berhenti di tepi sungai itu. Kami menuruni tebing untuk mengambil foto-foto bunga berlatarkan sungai hijau. Beberapa pohon yang tengah berbuah lebat di dekat tempat parkir sempat memberikan kejutan menyenangkan bagiku. Pohon-pohon berbuah peach dan plum muda beraneka warna yang belum pernah kulihat sebelumnya!
Terbayang olehku saat Laura dan Mary, dalam buku ‘Di Tepi Sungai Plum’ (karya Laura Ingalls), memetik dan mengumpulkan beraneka jenis plum masak dari pohon-pohon plum liar yang tumbuh di tepi sungai. Buah-buah itu dijemur, dijadikan selai dan pudding oleh Ma. Belum puas menerka dan mengamati berbagai jenis plum muda di pohon-pohon itu, aku harus menurut pada hubby yang sudah menarikku untuk masuk ke mobil. Ia merengut, karena hobiku melihat bunga dan pohon buah bisa memperlambat perjalanan kami ke Dunedin.
Setelah itu, dataran yang ditumbuhi pohon-pohon berbunga putih malah membuat anganku melayang-layang kembali, bagaimana rasanya tinggal di sana, bukan sebagai salah satu domba!
Setelah rasanya cukup jauh berjalan, kami tiba di padang rumput yang luas sekali. Jalannya tidak sebagus dan selebar jalan utama. Traktor dan kendaraan pertanian lebih banyak terlihat. Rupanya tempat itu lokasi pertanian juga. Domba-dombanya terlihat lucu diantara rumput-rumput fluffy ini.
Dunedin, distrik Otago, dapat ditempuh sekitar 5 jam menggunakan kendaraan dari Queenstown. Jika Queenstown dikenal sebagai tempat olahraga ekstrim seperti ski, bungee jumping dan arung jeram, maka Dunedin terkenal dengan pabrik coklat Cadbury-nya! Kota Dunedin terletak di bagian tenggara pulau Selatan. Kota ini terkenal dengan pabrik coklat Cadbury, istana kecil dan University of Otago! Biarpun letaknya terpencil, universitas ini menjadi tujuan utama para mahasiswa untuk mempelajari bidang sains dan sastera. Nama universitas ini begitu lekat di benakku. Ayahku pernah menyebut nama University of Otago beberapa tahun silam setelah kunjungan beliau ke Christchurch. Kota Dunedin sendiri tampak seperti kota-kota kecil khas pelabuhan di Inggris dengan pemandangan bangunan tua dan bersejarah.
Setelah memindahkan barang-barang ke motel, kami mengunjungi Botanic Garden Dunedin. Seperti biasa, aku langsung histeris melihat ratusan jenis bunga berwarna-warni khas negeri empat musim berjejer di sana. Beraneka jenis, warna, bentuk dan bau bunga kunikmati sepuasnya. Untunglah hubby mau bertualang sendiri dengan kamera kecilku dan meminjamkan kameranya yang lebih canggih untuk memotret bunga-bunga. Kelak, aku akan menceritakan Botanic Garden ini di tulisan tersendiri, ya.
Jika hari belum terlalu sore (pada saat itu sudah pukul 7.30 malam, sebenarnya), kecantikan kompleks kampus University of Otago pastilah terlihat lebih memukau. Sayup-sayup di gedung sebelah tempat kami memotret terdengar suara sopran wanita bernyanyi diiringi piano. Sungguh cocok dengan suasana kampus ini. Persis sewaktu di Shanghai, saat aku melewati bangunan kampus, terdengar lagu berbahasa Cina dengan denting gitar, seperti di sinetron-sinetron Korea. Wuah… seperti ada background musiknya saja!
Sebelum tidur malam itu di motel, aku teringat pemandangan yang membuatku berimajinasi. Saat mobil berhenti di city centre tadi, aku melihat seorang wanita berkerudung, yang sepertinya dari Malaysia, berjalan mendaki trotoar yang menanjak curam. Di bahunya tersandang tas laptop dan tangannya menjinjing sebuah tas plastik berisi makanan segar. Sepertinya ia sedang dalam perjalanan pulang setelah singgah sebentar di supermarket. Hmm, apa yang sedang dipikirkannya, ya? Senangkah ia tinggal di kota dingin ini? Bagaimana rutinitas yang dialaminya setiap hari? Sedihkah ia berada jauh dari keluarganya di tanah air? Ingin masak apa ia malam ini? Aku teringat saat pertama kali tinggal di negeri orang. Seru, sedih, excited, zzzzz….

