Wednesday, July 14, 2010

Antara Chinese Garden, Sydney dan Yuyuan Garden, Shanghai (2)


Bulan Oktober 2009, kamipun tiba di Shanghai, Cina. Saat itu sudah memasuki musim gugur, tetapi udara tidak begitu dingin, hampir sama rasanya dengan udara musim semi di Perth. Setelah memastikan bahwa kebun Yuyuan memang menjadi salah satu obyek 'must visit' di kota metropolitan itu, kamipun mengunjunginya, ingin membandingkan keindahannya dengan Chinese Garden di Sydney.

Hari terakhir di Shanghai setelah lunch aku dan hubby memutuskan ke Yuyuan Garden daripada belanja-belanji lagi. Dari city centre, dekat rumah makan halal yang pernah kuceritakan dulu, kami berusaha menyetop taksi, karena kakiku sudah capek jika masih harus berjalan lebih jauh. Sayangnya tidak ada taksi yang mau mengantar kami karena Yuyuan Garden sepertinya terlalu dekat dari tempat itu. Hmm, dengan berbekal peta, akhirnya aku dan hubby memutuskan jalan kaki menyusuri jalan ke Yuyuan Garden. Setelah melewati jalan-jalan kecil, jembatan penyeberangan, gang, hingga tepi-tepi jalan yang sedang digali, akhirnya terlihat juga beberapa rumpun bambu di balik tembok. Sepanjang perjalanan aku mesti maklum jika ditatap oleh orang-orang yang tak pernah melihat muslimah sebelumnya. Mungkin pakaian yang kukenakan agak berbeda atau memang akunya berbeda, Wallahu'alam.


Saat memasuki gerbang jalan menuju Yuyuan, di depanku terlihat sebuah pasar wisata yang sangat besar dengan deretan toko bergaya bangunan tradisional. Berbagai jenis toko di kiri kanan jalan, dari kaki lima sampai toko besar yang sangat ekslusif ada di situ. Menurut hubby, pasar wisata itu ya sudah bagian dari bazaar di depan Yuyuan Garden. Tapi di mana garden-nya, ya? Aku dan hubby sempat muter-muter agak lama di luar deretan toko-toko karena bingung mencari the garden. Akhirnya kami dibantu seorang brother untuk mencari jalan masuk ke Yuyuan Garden. Btw, si brother itu rupanya sedang mencari mushalla untuk shalat, yang menurut hubby ada di depan pasar tadi. Ajaib juga bisa ketemu teman muslim dari California yang sama-sama sedang mencari tempat tujuan.

Garden akan ditutup pukul 5 saat musim gugur ini, dan kira-kira tinggal setengah jam saja waktu yang tersedia untuk mengelilingi dan menikmati kebun. Tiket masuk seharga 40 Yuan per orang, tidak ada concession untuk student, dan ya ampun, antrian masuknya begitu panjang. Kebun yang sangat terkenal di Shanghai ini pasti lebih besar, lebih kuno dan lebih megah dibandingkan kebun kecil di Sydney yang pernah kuceritakan di posting sebelumnya, pikirku.



Menurut sejarah, Yuyuan Garden dibangun oleh Pan Yunduan, seorang bendahara dari dinasti Ming pada tahun 1577 untuk membahagiakan orang tuanya yang sudah tua. Anak yang benar-benar berbakti, ya. Yu berarti ‘pleasing’ or ‘satisfying’. Kebun ini sempat mengalami kerusakan pada abad ke-19, setelah dikuasai oleh pasukan Inggris, pasukan kerajaan hingga diduduki oleh pasukan Jepang. Setelah direnovasi pada tahun 1961, Yuyuan Garden dibuka untuk umum dan dinyatakan sebagai monumen nasional pada tahun 1982.


Kebun ini memiliki luas sekitar 2 hektar. Sangat mengagumkan, karena bangunan di kebun berusia 500 tahun ini tetap terlihat kokoh dan terjaga seperti aslinya walaupun kebunnya terlihat sedikit kusam. Kolam-kolam dan bebatuan yang menghiasi kebun ini luar biasa besar-besar. Pohon berumur ratusan tahun juga masih ada di kebun ini, hanya sayangnya aku tidak bisa mengenalinya. Betapa besar dedikasi pemerintah Cina untuk merawat kebun monumental sebagai ikon sejarah ratusan tahun silam. Apalagi karena kebun ini dikunjungi ribuan orang setiap bulannya, maka tidak heran tempat bersejarah ini perlu dilestarikan.

Berdasarkan peta berikut, ada beberapa tempat yang paling menarik seperti Sansui Hall, Wanhua Tower, Dianchun Hall, Huijing Hall, Yuhua Hall and the Inner Garden.



Saat kami memasuki garden sambil berdesakan, aku sempat jengkel juga, karena orang-orang di sini tidak sesabar dan seramah turis-turis di Australia. Karena sesak, aku dan hubby memilih berbelok menjauhi rute masuk yang biasa karena tampaknya semua pengunjung berebutan memasuki kebun. Aku dan hubby memutar menghindari desakan pengunjung di belakang kami menuju Yanshan Hall.

Di tempat ini kita dapat melihat aneka bebatuan yang ditata sedemikian rupa membentuk bukit batu (Rockery Hill) di seberang kolam. Rockery Hill dipahat dan disusun dari batu-batuan kira-kira seberat 2 ton yang dibawa khusus dari provinsi lain di Cina.


Kami berjalan menuju Yule Waterside Pavilion untuk menikmati pemandangan indah ini. Rumah kecil dan beranda tempat duduk melihat ikan masih terlihat asri dan alami.


Kolam-kolam di Yuyuan Garden berisi ratusan bahkan ribuan ikan emas yang selalu berkerumun saat kita dekati. Aku excited sekali melihat begitu banyak ikan di sana. Beberapa orang turis Eropa malah duduk berlama-lama di tepi jembatan untuk mengamati ikan-ikan itu. Aku sempat juga duduk-duduk berusaha menikmati suasana, tapi orang sibuk lalu-lalang menghilangkan seleraku berlama-lama di sana.


Nine Lion Waterside Pavilion adalah bangunan unik lain yang terkenal di Yuyuan Garden.


Yuhua, yaitu batu jade yang besar diletakkan di tembok besar. Jade ini merupakan hiasan dinding terbesar yang ada di kebun, dan uniknya masih utuh menghiasi tembok. Sebuah ruang duduk (Yuhua Hall) dibangun oleh pemilik kebun, khusus untuk menikmati keindahan batu jade tadi. Hua, menikmati batu jade mungkin seperti menikmati tivi kali ya, sampai dibangun ruang duduk tersendiri!


Setelah muter-muter sedikit di sana-sini kita bisa melihat dekorasi khas bangunan dari daratan Cina. Pintu gerbang, pintu masuk bangunan, pintu penghubung di taman dan jembatan lengkung berlatarkan pohon willow. Klasik dan mempesona di kebun tradisional China!



Walaupun kembang-kembang ini tidak mungkin ada sejak 500 tahun yang lalu, aku dapat membayangkan seperti apa kebun Yuyuan lengkap dengan kembang klasik seperti aster dan rerumputan.


Sebelum kebun ditutup, kami sempat melihat salah satu treasure lain, Yaning Tower. Bangunan ini memiliki altar tinggi yang sepertinya tempat berdoa.


Yuyuan Garden memang spektakular. Semua unsur wajib dalam kebun khas Cina kuamati ada di sana dalam ukuran lebih besar dan banyak, seperti batu, air, makhluk hidup, paviliun untuk mengamati hewan dan tanaman air, jembatan unik, pohon willow dan bangunan-bangunan tinggi menjulang. Betul-betul sebuah kebun yang memiliki perencanaan cukup rumit dan sudah pasti berbiaya besar dalam pembangunan dan perawatannya. Sayangnya waktu untuk mengelilinginya sangat mepet, padahal tiap sudut dan bangunan memiliki cerita-cerita tersendiri yang unik-unik, mungkin termasuk hantu khasnya, hi!
Walaupun kebun ini besar dan megah, aku lebih terkesan dengan Chinese Garden, Sydney, karena lebih cerah dan berada di tengah kota dengan luas area yang lebih kecil serta arsitek sangat pintar menipu mata dengan tataan beragamnya. Tapi aku bersyukur juga dapat menikmati kebun asli China yang penuh bangunan dan ditata unik sejak 500 tahun yang lalu tersebut.

Setelah keluar dari kebun besar itu, kami berputar-putar Yuyuan market untuk melihat-lihat barang. Walau sudah malam, pasar masih tetap sibuk. Aku membeli lukisan sulaman atau benang, bergambar pohon-pohon di musim semi dan gugur di sebuah stand. Aku juga berusaha menawar gelang mutiara air tawar hasil peternakan mutiara tepat di belakang tokonya. Sayangnya mutiaranya kurang sempurna bentuknya. So, aku pikir-pikir lagi.


Sudah pukul 8 malam. Aku masih mencoba menghitung-hitung koleksi Yuanku di dompet. Siapa tau masih bisa shopping! Hahaha...


Perth,
Kebun indah bercita rasa dan pasti punya cerita tersendiri!