Sunday, March 18, 2012

Harga sebuah 'percobaan'


Sejak berada di Curtin, sering beredar email permintaan relawan dari beberapa PhD student yang meneliti tulang, kolesterol, kanker hingga depresi. Iseng-iseng, suatu hari aku mengikuti kuesioner online mereka tentang depresi. Berhubung diiming-imingi voucher $50 dari MYER, aku pikir cuman klik-klik doang, ga sulitlah. Awalnya pertanyaan-pertanyaan sederhana yang mencoba mendiagnosa tingkat ke-depresi-anku. Lama-lama kok jadi seperti iklan obat??? Pertanyaannya menjadi “apa yang ada di dalam benak anda melihat obat XXX” saat kuklik, pertanyaan berikutnya sama, tetapi nama obatnya jadi YYY, dan begitu seterusnya. Setelah beberapa bulan kemudian, kita dihubungi untuk tes klinik. Hah, kita mau dijadikan kelinci percobaan, gitu?

Aku ingat seorang sohibku di UK sempat menghilang berminggu-minggu dari kampus. Saat dia kembali dari ‘liburannya’, wajahnya lebih tirus, matanya cekung tak bercahaya dan kesensitifannya tampak berkurang. Kupikir kalau dia memang pergi liburan, kok jadi mengenaskan gitu rupanya? Ternyata setelah ‘dipaksa’, barulah ia mengaku kalau  dia ikut jadi relawan di sebuah klinik percobaan obat.

Obat yang diuji-cobakan adalah obat untuk penderita epilepsi.

Hah?

Menurutnya, ia mendapat 500GBP sekali percobaan. Mereka diinapkan di sebuah klinik, diberi obat tiap hari selama dua minggu, lalu keadaan mereka dicek tiap hari. Setelah itu, ia menjalani program ‘detox’ untuk mengeluarkan sisa-sisa obat di dalam tubuhnya.

Innalillahi... aku terkejut mendengarnya. Pantaslah ia terlihat pucat, sering mengantuk dan kurang sehat. Menurutnya, semua itu karena efek proses detox obat yang digunakannya.  Setelah itu ia merasa sulit untuk konsentrasi pada pelajaran sehingga harus memperpanjang masa studi.

Sejak itu aku mengerti bahwa orang kalau kepepet memang bisa melakukan apa saja, termasuk hal-hal yang membahayakan dirinya seperti itu. Aku maklum dengan keadaan keuangannya. Tiap hari ia bekerja di restoran, serabutan jaga toko atau apa saja untuk menopang biaya hidup di  UK. Kasihan sekali temanku itu, ia pikir uang hasil menjadi kelinci percobaan dapat meneruskan hidup beberapa bulan. Padahal, kini ia harus membayar mahal efek obat tadi dengan kesehatannya dan studinya.


Dimana etikanya?
Tak disangka percobaan obat-obatan sudah tidak pakai ‘tikus’ lagi, atau ‘kelinci’, malah memilih menggunakan manusia memiliki hasil yang lebih akurat. Tingkat reaksi gen dalam tubuh manusia yang berbeda dari binatang menjadikan manusia lebih disukai sebagai makhluk percobaan. Berbagai obat-obat generasi terbaru banyak  ditargetkan hanya untuk molekul tubuh manusia yang sangat spesifik sehingga memerlukan relawan manusia juga untuk melihat efeknya.
Target relawan yang mereka bidik adalah orang-orang seperti temanku itu. Mereka butuh uang, tapi tidak ada pekerjaan yang menghasilkan uang instan dalam jangka waktu dua minggu. Mereka menggadaikan tubuh mereka sendiri untuk menerima obat-obatan yang tidak diperlukan melalui penyakit buatan.

Pada saat melakukan penelitian yang berhubungan dengan manusia di negara-negara maju, peneliti harus mengumpulkan pernyataan kepada Ethics Committee. Mereka harus memastikan bahwa sampel yang dipakai seperti manusia dan hewan terjaga kerahasiaannya dan kondisinya selama penelitian. Meskipun penelitian untuk obat seperti ini dijamin oleh Komite Etik, tetapi ada hal-hal tidak etis yang mereka selubungi dari penelitian terkait. Sampel berupa manusia mungkin mengalami efek samping lanjutan yang membahayakan diri mereka di kemudian hari. Hal seperti ini harus dipublikasikan dengan jelas oleh para peneliti terhadap sampel responden mereka.

Hal ini menjadi sebuah pelajaran bagi diriku untuk tidak membahayakan diri dengan masuk ke dalam program yang tidak kuketahui dengan jelas dampaknya pada diri. Bukankah kita disuruh bersyukur dengan menjaga diri sebaik-baiknya? Hal itu termasuk untuk tidak menggunakan tubuh kita sebagai media percobaan obat-obatan yang belum pernah diuji-coba pada manusia.

Semoga kita tidak sampai terjebak pada cara instan dan mudharat ini dalam mendapatkan uang. Sedapat-dapatnya, lebih baik bagi kita untuk menghindari program percobaan penerima obat-obat keras seperti ini. Apalagi imbalannya tak setara dengan efek samping lanjutannya di kemudian hari.  

Pekanbaru,






No comments: