Monday, December 2, 2019

Tips mengajar 'mature students'

Mengajar 'mature students' di kelas meski ada hambatan psikologis karena mereka lebih dewasa dari mahasiswa S1, tetapi sebenarnya sangat menyenangkan. Pengalaman mereka banyak. Ilmu tentang kehidupan juga sudah tinggi. Tantangan-tantangan di tempat pekerjaan sudah lama mereka hadapi. Mereka lebih jeli dan sensitif terhadap isu-isu penting dalam kuliah. Seringkali aku mendapatkan inspirasi dari pertanyaan dan kasus-kasus mereka di lapangan untuk bahan kuliah dan materi riset. 



Beberapa waktu lalu aku sempat berdiskusi dengan beberapa mahasiswa S2 di kelas. Sebenarnya mereka adalah praktisi kawakan dari industri konstruksi di berbagai tempat di Riau yang membutuhkan ilmu lanjutan untuk mengatasi tantangan dan kebutuhan di tempat kerja. Mereka mau berkorban untuk datang dan belajar di kampus saat akhir pekan supaya bisa mengikuti kuliah. Untuk bisa sukses memberikan kuliah yang menyenangkan, maka aku memiliki beberapa tips: 

Beberapa tips untuk mengajar 'mature students':
1) Setiap orang berhak mendapatkan ilmu dari bangku kuliah. Tidak ada persepsi mereka sudah tua dan tidak perlu S2 karena kedatangan mereka untuk kuliah di tempat kita saja sudah menunjukkan motivasi dan minat belajar tinggi sebagai continuous learner.

2) Terkadang kita menemukan mahasiswa S2 yang sudah lebih senior dari kita sendiri dan tidak legowo jika diberikan kuliah oleh junior mereka. Oleh karena itu jika bertemu senior model begini, sebaiknya sekali-sekali diberi pengertian bahwa mereka berada dalam ruang kuliah kita dan tidak perlu memikirkan umur pengajar karena p apa yang diajarkan itu lebih signifikan daripada siapa yang mengajarkannya.

3) Mahasiswa senior yang suka bertanya dan menerangkan sesuatu sehingga banyak menghabiskan waktu di kelas. Tipsku untuk mengatasi hal ini, yakni minta mereka bertanya menggunakan satu kalimat saja dan meringkas analisis mereka. 

4) Kuliah dengan mereka yang banyak pengalaman sebenarnya tidak sulit. Perbanyak sesi diskusi yang dipandu oleh dosen sehingga mereka bisa mengeksplorasi banyak isu terkait bahan kuliah. Mereka bisa dijadikan partner dosen di kelas, sedangkan kita hanya fasilitatornya. Berikan mereka studi kasus dan minta mereka menerangkan hasil analisis mereka sesuai dengan keahlian di lapangan (seperti dalam foto di atas). Kita mendapat ilmu baru, kuliah lebih dinamis dan mahasiswa senang bisa berpartisipasi aktif dalam kelas. Teknik seperti ini disebut parcipatory teaching (Britta Thege dan Meraike menghargai teknik ini setelah dishare dalam DAAD UKI UMY Seminar Alumni Jerman 2019, exactly hari ini tanggal 2 Desember 2019).

5) Mahasiswa S2 sering khawatir dengan tesis sehingga terbawa-bawa dalam mata kuliah lain. Akan tetapi setelah seminar proposal selesai, biasanya mereka malah terlambat menyelesaikan tesis karena tidak memiliki manajemen waktu yang baik. Beberapa dari mereka malah berperilaku 'tidak mature' karena malas berusaha, banyak alasan dan terbiasa tidak berusaha sendiri. Oleh karena itu, aku sering memberikan tips-tips praktis untuk mengerjakan tesis dan berpendapat bahwa 'tesis yang baik' adalah tesis yang selesai dan bukan tesis yang berpotensi mendapatkan penghargaan. 

Meski mengajar mature students terkadang tidak bisa terlalu teknis, tetapi aku menyukai respon mereka yang lebih cepat dan profesional dibandingkan mahasiswa S1.  Pengetahuan mereka lebih mendalam dan tinggal diolah sedikit sudah bisa 'nyambung' antara teori dengan praktek di lapangan. Oleh sebab itu aku sering terinspirasi dengan mereka yang sebenarnya mau jauh-jauh datang belajar, mau susah-susah belajar dan mau berbaur demi mendapatkan kesempatan belajar banyak hal baru di kampus.

Pekanbaru,

No comments: