Saturday, May 23, 2020

Hubunganku dengan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka)

Bincang-bincang mengenai Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), aku ingin ikut memberikan refleksi selama berkarir 20 tahun menjadi dosen. 

Saat mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melaunching Program MBKM kebijakan no 4, dunia kampus seperti stunned. Tak berapa lama muncul semacam panduan beberapa pimpinan kampus berusaha merumuskan praktek MBKM versi mereka seperti praktek magang, kewirausahaan, dll yang pernah dilakukan. Semua menunggu juknis, panduan, dan jika bisa terjemahan dalam bentuk konkrit. Beberapa kampus juga berlomba-lomba mendatangkan dirjen-dirjen untuk menggali informasi soal MBKM agar mendapatkan langkah tepat dalam melakukan perombakan kurikulum serta berbagai hal lain dalam implementasi MBKM. 

Tetapi jawabannya dalam beberapa hal, adalah tergantung kreativitas Perguruan Tinggi, kemampuan networking, kemampuan negosiasi, kemampuan kerja sama, kemampuan mencari dukungan dengan pihak pemerintah dan industri. 

Oh, well.

Untuk hal ini, kita harus membuat kebijakan internal lagi dan memilih kegiatan yang bisa dilakukan. 

Terkait dengan MBKM, aku menerima program tersebut dengan senang hati karena salah satu programnya terkait riset mandiri. Sebagai seorang pejuang kegiatan kreativitas mahasiswa selama 20 tahun berkarir, sudah saatnya mahasiswa diberi kesempatan dan didorong memilih bidang-bidang yang mereka minati untuk keperluan karir mereka di masa depan. Contohnya, aku tahu tidak semua mahasiswa harus jadi pekerja di sektor swasta maupun pemerintah, bisa jadi mereka ingin menjadi peneliti dan dosen. Oleh karena stereotipe bahwa lulus harus bekerja, maka mahasiswa yang berminat meneliti dan berkarir di bidang akademik kadang diarahkan untuk bekerja di lapangan. Padahal mereka sangat berbakat memajukan sains dan teknologi di perguruan tinggi, tetapi alih-alih mendorong, banyak dosen lebih suka melihat alumni bekerja di tempat bonafid dengan gaji besar. Meski itu selalu menjadi ukuran keberhasilan dalam borang akreditasi/audit, tetapi menjadi akademisi juga bisa bonafid dan banyak manfaat sosialnya. Oleh karena itu aku mendorong membuat grup-grup riset dan pengabdian yang kecil-kecil meski peminatnya tidak lebih dari jumlah semua jari tangan dan kaki, akan tetapi manfaatnya bagi perkembangan ilmu dan keahlian mereka sangat besar. 

Setelah ikut webinar dengan pembicara Prof. Nizam, bisa dilihat ada beberapa manfaat MBKM untuk mahasiswa dan dosen. Hard work, challenging, but interesting.


Manfaat MBKM

















Jadi, pada kebijakan no 4 itu ada delapan kegiatan yang bisa dilakukan mahasiswa dalam 3 semester dikonversi menjadi 20 SKS atau 60 SKS. Kita coba berimajinasi bahwa aku adalah mahasiswa yang mendapatkan kesempatan MBKM, kira-kira apa yang ingin aku pelajari dan lakukan dengan 20 SKS per semester tersebut?

Aku menyukai riset dan menulis ilmiah, maka aku akan mendaftar kegiatan riset mandiri dengan tim dan mengikuti lomba-lomba supaya produk yang kami ciptakan teruji dan dapat dimanfaatkan masyarakat. 

Barangkali aku akan mengambil magang industri, untuk mendapatkan pengalaman kerja di BUMN, mendapatkan skill teamwork, negosiasi, decision making, dan etika kerja. 

Terakhir, aku akan mengikuti sit-in/kredit transfer di perguruan tinggi dalam/luar negeri, tergantung budget dan beasiswa. Aku akan mengambil mata kuliah yang sangat diperlukan secara global dan merupakan pendekatan baru dari ilmu-ilmu di Teknik Sipil. 

Kalau diajak dosen penelitian dan beliau mendapatkan grant/hibah, maka aku tertarik mengambil peluang tersebut. Tidak semua dosen mengajak mahasiswa dan mentrainingnya langsung untuk mengerjakan riset, menulis proposal, dan menulis publikasi. Apalagi aku bisa jadi first author atau co-author untuk beberapa paper. 

Sepertinya hal itu yang akan aku lakukan kalau ada kesempatan mengikuti MBKM.  Semua tergantung minat, keahlian, kompetensi dan outcome yang kuinginkan untuk persiapan pekerjaan di masa depan. 

Itulah hubunganku dengan MBKM. Aku rasa aku bisa membantu mahasiswa untuk mendapatkan kesempatan mengikuti program MBKM dengan mempersiapkan mereka sesuai dengan capaian pembelajaran yang diperlukan.

Pekanbaru,

No comments: