Tuesday, June 17, 2025

Quinquagenarian

Baru belajar istilah baru setelah ulang tahun ke-50 baru-baru ini. Quinquagenarian, adalah orang yang berumur di antara 50-59 tahun. Dan, aku, hubby dan teman-teman sebaya di kampus semuanya mulai menjadi seorang Quinquagenarian.

Honestly, aku bukan orang yang takut reveal umurku. Sebab, aku belajar realistis, bahwa umur itu milestone dan tidak bisa dibuat-buat. Seseorang harus bisa menerima umur kronologis (berdasarkan tanggal lahir), dan embrace semua konsekwensinya. Jika tidak menerima, berarti kita ingin berada di masa lalu dan tidak berani menerima bahwa diri kita telah bertambah umurnya. Tapi, aku tau ada yang namanya umur biologis (umur sesuai kondisi fisik dan kesehatan seseorang). Jadi, meski umur kronologis kita sudah tua, tapi bisa jadi umur biologis kita lebih muda! Hal ini yang harus menjadi goal dalam hidup, karena umur biologis lebih muda membantu kita menjalani hidup dengan lebih mudah dan nyaman. 

Sebagai seorang Quinquagenarian, kita dianggap seseorang paruh baya atau menjalani mid-life. Tidak jelas mengapa kita dikatakan paruh baya, tapi belum lansia. Hanya saja, saat umur ini, kita sudah seperti mulai siap-siap banyak hal dalam kehidupan kita sebagai quinquagenarian. Ada yang masih berpikir masih lama semuanya akan berakhir, sehingga menolak menjadi tua. Betul beberapa orang dari kita masih produktif, sehat, bahagia dan berada di puncak karir atau tahap nyaman berkarir, tapi semua juga ada limit dan warning. Harus tetap menerima bahwa tua itu kenyataan. Mengatakan paruh baya tidak membuat kita slightly lebih muda, tapi mengingatkan kita kalau harus bersiap menjadi suatu hari akan lebih tua lagi. 

Aku belajar dari lingkungan terdekat, bahwa kadang menolak menjadi tua ada positif dan negatifnya. Hal negatif menolak tidak tua adalah sering tidak dapat menerima keadaan bahwa umur sudah bertambah, kemampuan berkurang, dan kesehatan menurun. Sedangkan positifnya, menolak menjadi tua adalah suka tantangan, berpikir bahwa masih mampu, masih muda dan masih bisa melakukan banyak hal. Keduanya kadang bergantian datang, tapi kalau lebih banyak positif, ternyata kita benar-benar mampu melewati fase menolak tua dan memperlambat semua tanda penuaan. Sikap positif tadi sebenarnya selain semangat muda, tapi juga menjaga diri agar tidak mudah stress, sakit, makan makanan sehat, hidup teratur, lebih dekat kepada Allah SWT, banyak bersilaturrahmi, berolahraga, beraktivitas sendiri, dan sering-sering membantu orang lain. Memang orang-orang tersebut terlihat lebih aktif, cerdik dan ageing slowly. 

Well, sebagai Quinquagenarian saat ini, aku sedang bersiap menjalani durasi waktunya. Seperti yang pernah kutulis di sini sometime ago, umur 50-an biasanya sudah punya beberapa skill dan sering diundang menjadi narasumber untuk berbagi ilmu, maupun menjadi konsultan untuk berbagi expertise. Setuju banget, apalagi kalau sudah berletih-letih belajar sambil bekerja saat umur 30-40an, sudah saatnya sekarang kita menjadi sumber informasi, tips, dan ilmu buat adik-adik dan anak-anak yang umurnya lebih muda dari kita. Soalnya kita sudah dianggap berumur dan sudah mencapai berbagai hal, sehingga cara kerja yang praktis dan work life balance telah kita alami. 

Now, selain membantu yang muda-muda, banyak berbagi, sekalian belajar menjaga hati, tugas utama adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan abadi. Jadi, hari-hari kita sebaiknya ya disiapkan untuk rajin ibadah, tilawah, berdoa, belajar ilmu agama serta bertakwa kepada Allah SWT, supaya kita menjadi seorang Quinquagenarian yang bermakna. 

Pekanbaru,



Friday, February 14, 2025

Berpetualang di bumi USA

Belajar dari serunya menjadi seorang Visiting Scholar di University of Adelaide (2019) dan Drexel University (2023), aku mendaftar beasiswa Fulbright Visiting Scholar Program pada akhir tahun 2023. Pada tanggal 31 Agustus 2024, aku berangkat dari Pekanbaru menuju Jakarta untuk memulai perjalanan panjang menuju Philadelphia dengan transit di bandara Narita dan Denver, Colorado. 

Benarlah kata banyak pengelana. Pengalaman terbaik datang dari keberanian untuk berada sendirian di sebuah tempat atau suasana baru. Aku tidak memiliki banyak pilihan apalagi tempat bertanya, sehingga seringkali harus bersabar dalam menelusuri informasi dan berkomunikasi dengan helpdesk. Tetapi semakin sering dilakukan, nalar dan kemampuanku semakin bertambah. Fase ini sangat kusukai, karena learning and doing by learning untuk menambah skill; is my favorite activity. Kemampuan untuk survive menjadi salah satu skill penting di abad ini untuk meningkatkan flexibility, resilience dan adaptability. Aku bercerita tentang dua hal, sistem check in pesawat ANA yang tidak dapat diakses, sedangkan aku harus duduk di baris paling depan supaya bisa lari ke pesawat yang membawa ke Denver tanpa harus berbaris di belakang penumpang lain. Kedua, tentang waktu transit yang hanya 45 menit di bandara Narita, means, saat pesawatku landing, pesawat berikutnya sudah boarding. Aku hanya bisa mengatur rasa cemas supaya tidak overthinking dan punya harapan untuk bisa berangkat sesuai jadwal penerbangan yang diberikan.

Sesampainya di USA, semua kecemasan dan ketakutan di suasana baru seolah larut karena keletihan setelah perjalanan panjang hampir 34 jam dari Indonesia. Awalnya aku ingin menunggu hingga matahari terbit untuk keluar bandara. Ternyata aku tiba lebih awal dari perkiraan, sehingga pukul 12 malam semua koper sudah lengkap di tangan. Aku memberanikan diri untuk memesan Uber, tetapi sebelumnya ingin mengetahui pick up point di terminal E, bandara Philadelphia. Setelah melihat tempat itu dipenuhi oleh penumpang, tanpa pikir panjang aku bergerak menuju taksi bandara berwarna kuning. Kusebutkan alamat yang kutuju kepada driver, kemudian dia menyebutkan fare USD33, untuk perjalanan cukup jauh tersebut. Sambil duduk dengan perasaan lega karena telah di dalam taksi, aku mulai berzikir untuk menghilangkan perasaan cemas lain. Untunglah supir tersebut seorang muslim Ethiopia. Aku mulai mengujinya dengan beberapa pertanyaan seperti masjid, tempat makan halal, daging halal, dan ibadah shalat Jumat di Philadelphia. Alhamdulillah, dia memang muslim tulen, karena jawabannya sesuai. Allah kirimkan orang ini untuk menjemput dan mengantarku ke akomodasi di Powelton Avenue. 

Semua tempat yang pernah kita kunjungi memberikan kesempatan untuk melihat hal-hal baru. Sedangkan suasana baru membantu menciptakan memori dan menambah ilmu tentang manusia, alam dan budaya. Pikiran serta hati kita menjadi lebih luas dari sebelumnya. Pemahaman kita terhadap hidup dan proses alamiahnya juga terus bertambah. Penerimaan kita tentang perbedaan budaya dan pandangan hidup berkembang melalui pertemuan-pertemuan dengan orang-orang lain. Begitu dalamnya makna 'keluar dari zona nyaman' kehidupan,  sehingga kita menjadi 'orang baru' dengan kemampuan dan sudut pandang berbeda. Hal itulah yang terjadi begitu tiba di Philadelphia. Meski aku pernah datang sebelumnya ke USA, tapi kali ini aku punya waktu mencerna semua yang ditawarkan Allah dalam hidup saat aku berpetualang di negara ini. Hal yang sama juga terjadi saat aku tinggal di Eropa, dan Australia. Tidak ada waktu tanpa belajar menerima dan memahami, terutama saat semua terasa berbeda bagi kita.

Post ini akan menjadi tulisan pertama dari petualangan panjang selama hampir 4 bulan di USA. Cerita-cerita petualanganku akan kembali diupdate di blog ini, untuk berbagi dan menginspirasi kita semua agar travel more, experience world more dan growing more dalam hidup. 

Pekanbaru, 



Tuesday, January 28, 2025

When You Have to Leave and Say Goodbye Properly

 This post is not about relationships with people you love but with yourself and the place and situation you've been visiting temporarily. It is about saying goodbye in one stage of your heroic journey. 

I recently became a visiting scholar in the US. Although it was only for a few months, I knew I would experience a culture shock and a reverse culture shock. And I want to speed up the process. 

I have some reasons to do that. From my previous experiences living in the UK and Australia, the most crucial factors are adaptability and flexibility. New environments, cultures, geographical locations, and people make us uncomfortable because we are not in our element. Things we know change into new knowledge almost every day. The only thing that could save us is my attitude and mindset. I am prepared to adapt if I am observant and have a common ground. 

So, to speed up the process, there is nothing more than to do your homework. Think about the situation and how you are going to handle it. If you come into a new environment, rather than worrying so much about the new situation, just jump and become a part of the situation. It helps to understand the limitations and the strengths, and then you know that the reality is not as awful as what you've been thinking. Suddenly, you forget about your anxiety and start to enjoy the process or the journey. 

In reverse, when you return home, just think of how comfortable you were in the position. But when I returned, I was still the same person, but with a new attitude and knowledge. Understand that you have to undergo the process of culture shock again, but it won't be scary this time because you return to your initial environment. It's just another process; you will pass the transition very quickly because, you know, this time, you don't have the anxiety. Another tip is to properly say goodbye to anyone, anything, and any place once served you. It helps to acknowledge that they are a part of your heroic journey because of the lessons and joy that you've been experiencing. Acknowledging it means you're ready to let them go and exciting for the next role in your life back home. 

It is time to leave and say goodbye, properly. 

Pekanbaru,

Saturday, May 28, 2022

Hobi Mendaftar

Sering mengamati kan, dalam sebuah kegiatan akademik kadang-kadang yang mendaftar biasanya banyak sekali. Akan tetapi pada saat acara biasanya sekitar hanya 50-70% saja pada hari-H. Hal itu yang disebut hobi mendaftar dan banyak dilakukan orang-orang di sekitar kita. 

Atasan saya yang dulu sering mengeluh mengenai perilaku demikian karena kerap merugikan penyelenggara dalam hal konsumsi. Pendaftar kegiatan pembukaan English Club mencapai 66 orang pada saat itu. Pelaksana sudah bersuka-ria menyusun kursi dan memesan snack sebanyak pendaftar. Akan tetapi, peserta yang hadir tidak lebih dari 10 orang! Luar biasa penurunannya. Sejak saat itu kami mulai melakukan perhitungan saat membuat sebuah kegiatan baik offline maupun online. 

Pada saat membuat sebuah kegiatan saya biasanya memiliki perhitungan khusus. Apalagi di masa-masa webinar seperti sekarang. Apabila disampaikan bahwa pendaftar kegiatan webinar sudah mencapai 100 orang, maka saya selalu minta dipush sampai 150 orang. Artinya panitia harus sangat aktif mengumpulkan lebih banyak pendaftar dengan berbagai cara. Menurut pengalaman saya, biasanya sekitar 30-50% dari jumlah tersebut pasti tidak hadir pada saat kegiatan. Sehingga dengan menambah jumlah pendaftar lagi, kita mendapatkan jumlah peserta yang hadir lebih tinggi dari sebelumnya. 

Bagaimana cara menambah pendaftar? Saya sering memanfaatkan jejaring untuk minta bantuan sharing informasi. Selain itu saya jemput bola, mengundang teman-teman yang mungkin membutuhkan acara tersebut. Kadang-kadang broadcast di status wa atau ig. Sepertinya tergantung topik juga, apabila sangat umum dan diperlukan, biasanya orang-orang banyak yang ingin mengikuti. 

Kebiasaan suka mendaftar ini juga terjadi pada berbagai grup umur dan latar belakang. Beberapa waktu lalu saya dan teman-teman dalam suatu organisasi mendapat kesempatan untuk menulis buku autobiografi bersama-sama. Pada awalnya peserta yang ingin ikut sangat banyak, sehingga  direncanakan akan dibuat 5 buku. Apabila satu buku terdiri dari 11 orang penulis, maka terdapat 55 orang terlibat dalam penulisan kelima buah buku. Akan tetapi mentor kami sudah berpengalaman dengan tipikal semangat sesaat ini. Beliau  tetap apresiasi keinginan kami, tetapi ia menyampaikan hal yang realistis juga mengenai kemungkinan besar hanya satu buku saja yang terbit. Bukannya pesimis, beberapa orang dari kami semakin merasa dikompori untuk mengikuti kegiatan itu! Benar saja yang disebutkan oleh mentor kami, karena sekitar 6 bulan kemudian hanya 15 orang dari 55 orang pendaftar berhasil menyelesaikan tulisannya. Sisanya sudah menyerah pada tahap awal dan tidak pernah merespon kembali pesan-pesan untuk meneruskan. 

Tetapi setelah diingat-ingat, rupanya saya juga sering begitu. Kadang muncul tawaran kegiatan A yang menarik minat saya, tanpa pikir panjang saya langsung mendaftar. Kemudian ada kegiatan B yang menurut saya relevan dengan pekerjaan, saya pasti lekas mengisi form pendaftaran. Setelah itu saya tidak ingat lagi tanggal-tanggal kegiatan tersebut. Kadang kegiatannya sudah selesai, baru saya ingat bahwa sudah mendaftar. Nah, perilaku seperti ini awalnya karena FOMO = Fear Of Missing Out, atau suka takut ketinggalan kejadian atau event. Bisa jadi juga terjadi karena punya semangat tinggi tapi tidak dibarengi dengan waktu dan kapasitas diri atau masalah komitmen. Problem lain adalah karena tidak fokus dan kurang prioritas dalam bekerja, sehingga semua distraksi dan disrupsi terasa penting. 

Barangkali cara tepat untuk menghilangkan kebiasaan hobi mendaftar bisa dengan memilih topik-topik yang sesuai dengan prioritas kerja saat itu. Kemudian sebelum mendaftar dicek dulu apakah waktu kegiatan bertepatan dengan pekerjaan lain atau kegiatan lain. Selanjutnya saat sudah mendaftar dan ada waktu luang, sebaiknya mengusahakan tetap ikut karena penyelenggara pasti sudah berharap. Barangkali ada topik baru, jejaring baru atau inspirasi baru yang bisa didapatkan dari kegiatan tersebut. Selain itu kita belajar untuk tidak php penyelenggara dengan hobi mendaftar yang kita lakukan. 

Pekanbaru,

Thursday, October 14, 2021

Mengalami Fatigue atau Burn Out

Setelah 'marathon' mengerjakan sebuah project penting selama berminggu-minggu atau berhadapan dengan 'tsunami' gelombang besar dalam pekerjaan, tak heran kita bisa mengalami fatigue atau burn out. Tanda-tandanya adalah kelelahan, stamina menurun, sulit berpikir dan berkonsentrasi, serta tidak berminat menyelesaikan pekerjaan seperti biasanya. 

Untuk menghindari fatigue terkadang sulit juga karena beban kerja bertumpuk pada waktu tertentu tidak bisa dihindari. Apakah fatigue bisa diatur supaya tidak terjadi atau diminimalisir dampaknya sehingga tidak perlu istirahat sementara dari pekerjaan. Tentu hal seperti ini bisa dihindari selama kita melakukan beberapa hal berikut. 

1) Buat perencanaan waktu dalam bekerja dan perhatikan tenggat waktunya. Misalnya menulis memerlukan waktu 3 minggu dari mengolah data sampai mengumpulkan artikel. Maka kita harus membagi-bagi waktu supaya bisa fokus dalam tiga minggu menyelesaikan target. Jika tulisan dikerjakan maksimum 3 jam sehari, maka dalam 3 minggu x 5 hari kerja x 3 jam = 45 jam, maka kita punya 45 jam mengerjakan satu tulisan sampai terkumpul ke sistem jurnal online. 

2) Bekerja dalam chunck atau waktu-waktu kecil. Gunakan teknik Podomoro atau teknik apa saja, yang penting dalam 25-30 menit yang kita set menggunakan timer/stopwatch tersebut, kita tidak bisa multitasking. Misalnya waktu menulis 3 jam sehari, dibagi menjadi 6 sesi 30 menit, yang bisa dikerjakan tidak berturutan. Pada saat bekerja dan timer berjalan, kita tidak diizinkan lihat media sosial, atau bolak-balik mencari lagu yang pas di youtube untuk mengiringi pekerjaan, atau merespon email, dan hal-hal lain yang mengganggu flow pekerjaan. 

3) Buat persiapan lebih awal. Terkadang bekerja di pelayanan masyarakat dengan sistem online, kita bisa mempersiapkan materi lebih awal, mempersiapkan email lebih awal, menyusun file di awal waktu, dan berbagai hal lain yang tidak perlu dikerjakan multitasking. Masukkan kuota Podomoro tadi ke pekerjaan kita dan siapkan di waktu lain kemudian kirim email atau file menggunakan teknik schedule send. Dengan hal ini, jika kita mendapat respon, kita tidak perlu repot-repot merespon sambil menulis pesan lain karena melakukan hal tersebut bisa melelahkan batin. Pre-schedule semua email dan kegiatan, akan membantu kita mengurangi fatigue. 

4) Ambil break secara berkala. Setelah membagi-bagi waktu menjadi chunks kecil, kita bisa mengambil break selama 10-15 menit untuk menyegarkan pikiran. Highly intensed work jika tidak dibarengi relaksasi akan menyulitkan kita kembali relax pada saat diperlukan. Cari kegiatan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, seperti berjalan di luar rumah, menyusun buku, membuat kopi maupun mengurus tanaman meski hanya beberapa menit. Hal ini dapat menghindari mental breakdown karena terlalu fokus dan menyegarkan fisik setelah duduk beberapa lama menyelesaikan chuncks secara marathon. 

5) Istirahat beberapa hari jika kondisi lelah mulai terasa. Biasanya kepala pusing, sulit tidur, badan pegal, mulai flu ringan atau batuk. Kelelahan demikian memang tidak membawa kita maju dalam penyelesaian pekerjaan, tetapi karena badan dan pikiran sudah tidak sinkron lagi maka kita akan sulit mempertahankan semangat kerja serta menghasilkan pekerjaan berkualitas. Tidak mengapa break 1-2 hari khusus tidur, makan makanan sehat, minum air dan mengalihkan pikiran ke hal-hal yang lebih relax. Fatigue akan lebih mudah dihindari karena kelelahan fisik dan batin dalam jangka panjang berpotensi telah diatasi dengan istirahat secara total dari hal-hal berat terkait pekerjaan. 

Strategi menghindari fatigue sangat bermanfaat di masa working from home seperti ini karena pekerjaan seperti tak berbatas ruang dan waktu, terus berdatangan dan mengalir dengan semua tenggat pendek. Selama ada kemajuan pekerjaan, maka hal tersebut cukup membantu kita untuk terus bergerak menyelesaikan. Akan tetapi jika kemajuan dilakukan di akhir tenggat, maka potensi fatigue akan terjadi dan kelelahan menyebabkan kita tidak menghasilkan pekerjaan berkualitas sesuai tenggat waktu. 

Pekanbaru,

Thursday, October 7, 2021

Kualitas atau Kuantitas


Paradoks apakah kualitas atau kuantitas yang lebih penting sudah lama menjadi isu dalam bekerja.

Ada beberapa poin untuk menilai apakah melakukan pekerjaan kualitas dahulu atau kuantitas yang paling signifikan dalam menghasilkan pekerjaan.

Pertama, pekerjaan berkualitas membutuhkan rencana, strategi, kecermatan, disiplin, manajemen resiko dan fokus penuh dalam penyelesaiannya. Persiapan menentukan hasil, sehingga pekerjaan berkualitas memerlukan waktu lebih lama dalam tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi akhir. 

Kedua, pekerjaan berkualitas memberikan hasil lebih baik dengan dampak besar dalam jangka panjang. Biasanya setelah beberapa lama, pekerjaan tersebut masih terus menjadi acuan/pedoman bagi pekerjaan-pekerjaan lain terkait. Long lasting impact. 

Ketiga, pekerjaan berkualitas harus dilakukan untuk proyek yang terkait dengan banyak stakeholder atau pengguna agar semua pihak dapat merasakan manfaatnya dalam jangka panjang. Pekerjaan seperti ini akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi semua pengguna dan jejaring mereka sehingga dapat menghemat waktu dan biaya. 


Sedangkan pekerjaan dengan kuantitas tinggi juga perlu dilakukan dengan beberapa pertimbangan.

Pertama, pekerjaan tersebut dapat meningkatkan kinerja dalam jangka pendek dan tidak terlalu banyak pengguna terlibat di dalamnya.

Kedua, pekerjaan tersebut memberikan dampak yang dapat dirasakan langsung dan tidak mencari efek jangka panjang.

Ketiga, pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan memaksimalkan 50-60% sumber daya sehingga jumlah pekerjaan dapat ditingkatkan. 


Barangkali berdasarkan pertimbangan di atas, sekarang kita bisa memikirkan apakah kita akan mengejar kualitas atau kuantitas. 


Akan tetapi, dalam surat Al-Insyirah ayat 7 dinyatakan:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Mudah-mudahan sekarang semua sudah jelas ya.




Saturday, September 18, 2021

Buat Batasan (Boundary) dalam Bekerja

Efektivitas dan efisiensi dalam bekerja tergantung dalam pengelolaan waktu, pikiran dan emosi. Terkadang kita tidak bisa hanya bisa menyelesaikan pekerjaan dengan pikiran saja, karena kalau hati sedang galau pasti hasil kerja kurang bagus. Sedangkan saat ingin efisien dalam pekerjaan tapi tidak bisa mengatur emosi, maka akan berpengaruh pada hasil yang ingin dicapai. Oleh karena itu kita perlu belajar untuk mengatur boundary (batasan) dalam bekerja agar hasilnya maksimal dan kita tetap bahagia. 


Sedang enak-enak mengatur jadwal mingguan pekerjaan, tiba-tiba ada pesan masuk di wa menanyakan kepastian sebuah kegiatan yang akan dikelola bulan ini. Rasanya masih weekend, dan tidak ada urgensinya bertanya pekerjaan dengan gaya sangat demanding. Meski dari atasan sekalipun, biasanya aku tidak mau merespon langsung kecuali hal-hal yang benar-benar urgent/serius. Tapi aku jadi kesal juga karena satu message demanding yang terbaca, berarti mengganggu pikiran. Mau merespon, takut berlarut-larut, tapi tidak direspon kepikiran dan bisa jadi macam-macam luapan emosinya. 

Aku ingat, dalam bekerja kita juga bisa mengelola emosi dengan menetapkan boundary. Misalnya hal-hal seperti ini:

1) Tidak membalas message terkait pekerjaan di luar jam kerja dan hari kerja. Misalnya jam 18 ke atas dan hari Minggu. 

2) Melakukan pekerjaan yang diberikan surat atau email disposisi/surat penugasan resmi/SK dari atasan/pejabat terkait. 

3) Tidak memasukkan jadwal baru apabila pekerjaan sebelumnya belum selesai. 

4) Berani berkata tidak bisa apabila memang tidak dapat mengalokasikan waktu sesuai dengan keinginan orang lain baik atasan maupun orang berpengaruh. 

5) Tidak perlu merespon berbagai pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. 

6) Tidak perlu merespon kemarahan orang yang salah alamat dan tidak pengertian.

7) Tidak perlu merespon office politics, bullying, fitnah, ketidakadilan dan body-shaming. 

8) Boleh hanya memberikan tanggapan apabila dipersilakan. 

9) Boleh menolak menjadi anggota tim kegiatan yang tidak menjadi prioritas pekerjaan saat ini.

10) Tidak perlu khawatir memberikan masukan apabila ada yang membuat kesalahan/tidak valid dalam bekerja. 

dan sebagainya. 

Hal yang terpenting, kita harus bisa mengelola emosi dan memastikan pekerjaan kita baik hasilnya. Memastikan bahwa boundary dapat ditaati dalam pekerjaan, akan membantu sekali untuk kelangsungan pekerjaan dan ketenangan jiwa dalam mengerjakannya. 

Pekanbaru,




Saturday, September 4, 2021

Menghadapi Kolega yang tidak Percaya

Kadang-kadang dalam melakukan suatu pekerjaan sering terjadi ketidakpercayaan kepada kolega lain. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut. Faktor terbesar biasanya merasa diri lebih baik dari orang lain. Akan tetapi beberapa faktor lain juga mempengaruhi sikap demikian seperti pernah mengalami kekecewaan, tidak memiliki kemampuan teknis, kurang berempati, kurang manajemen waktu, dan kurang memikirkan konsekwensi moral dengan perlakuan tersebut.

Bagi kita yang sering mendapatkan perlakuan dan pandangan tersebut oleh kolega kita, maka kita sedikit shock. Pada akhirnya karena merasa tidak dipercaya meski telah berusaha memberikan argumen yang didukung oleh data valid serta aturan jelas, maka kebanyakan orang memilih untuk berhenti meyakinkan kolega tadi secara verbal. Banyak orang jadi mengalihkan perhatian dengan tetap menyelesaikan pekerjaan secara serampangan. Ada juga yang memilih keluar dari situasi tersebut dan memperbaiki kompetensi mereka dibandingkan menghabiskan waktu debat hanya untuk membuktikan kita yang salah. Sering aku perhatikan, ego akan membawa kerugian besar karena pada suatu waktu kali kolega  membutuhkan bantuan kita, maka kita akan bersikap biasa dan kurang dedikasi. 

Sebenarnya dalam melakukan hal teknis, agar dipercayai kita bisa menggunakan dua cara. Kita mengetahui dahulu aturan dan persyaratan dengan lengkap. Kedua baru kita melakukan pendekatan dengan diskusi dan berpikiran terbuka agar mendapatkan pencerahan. Daripada langsung mendebat dan mengasumsikan orang tidak bisa melakukan pekerjaannya, maka kita introspeksi dulu apakah kita sebenarnya lebih baik di bidang tersebut atau tidak. Kita dengarkan dahulu masukan-masukan dari kolega. Apabila kita langsung bersikap tidak mau menerima, maka kita sendiri yang rugi karena telah dikalahkan oleh waktu akibat tidak mau  menerima kebenaran. Pekerjaan yang seharusnya selesai dalam waktu singkat, tetapi malah tak berhasil karena ego kita sendiri dengan sikap tak percaya tadi. Selain itu banyak orang juga menginterpretasikan sikap tidak percaya kolega tadi sebagai penerimaan konsekwensi seperti kehilangan waktu dan energi berkat ketidakpercayaan mereka tadi.

Poinnya, jika memang tidak percaya pada seseorang, berusaha berpikiran terbuka dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan semua orang tidak sehebat dan semampu kita. 

Pekanbaru,

Monday, July 5, 2021

Resilience di Masa Pandemi

Salah satu kemampuan dasar penting abad ke-21 adalah resilience. Resilience barangkali bisa disamakan dengan 'fleksibel' atau tidak rigid/kaku. Konsep ini terkait dengan kemampuan menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan dan lingkungan yang terus berubah dengan cepat. Bagaimana supaya kita bisa resilience dalam masa tak menentu yang tidak bisa kita prediksi saat ini?

Suatu hari aku sempat mampir di rumah tetangga yang sudah senior. Berhubung aku hanya sebentar, jadi kami hanya berbicara hal-hal penting saja seperti keadaan saat ini. Memang betul, kondisi pandemi mengubah dan memutar-balikkan semua kenyamanan dan kebiasaan kita sebelumnya. Pembicaraan kami sampai kepada keresahan, kegelisahan dan keprihatinan di tengah-tengah kondisi. Akhirnya terucap juga bahwa keadaan yang membuat kita pusing ini karena dunia sudah gila. Loh, kok gila? Aku jadi bingung, berarti menyalahkan keadaan ya. 

Beberapa teman yang sempat kontak mengatakan sejak pandemi mereka jadi punya kegiatan dan aktivitas baru. Ada beberapa hal yang tadinya tidak sempat dilakukan, seperti membaca, mengerjakan hobi, mempelajari hobi baru, mengurus kebersihan karena waktu berkendara ke tempat kerja sudah tidak ada. Bahkan ada target-target baru seperti rutin mengerjakan shalat sunnah rawatib, puasa sunat, menghafal juz amma, dan semua amalan yang tidak sempat dilakukan sebelumnya. Setahun lalu aku mengikuti kursus online di SPADA yang banyak membantu pengajaran daring selama dua semester ini. Orang yang mau fleksibel akan dengan cepat menyesuaikan diri dan mencari peluang untuk meningkatkan kompetensi personal dan profesionalnya ketimbang menyalahkan keadaan dan berkeluh-kesah.

Pada saat seperti ini, menjadi seorang yang resilience membutuhkan penerimaan akan situasi. Kemudian lebih cepat mencari jalan keluar, mengatur rutinitas, menghilangkan kesulitan dengan kebiasaan baru. Sebaiknya mempunyai perencanaan apa yang bisa ditingkatkan dalam situasi yang berubah dan bisa membaca trend kira-kira skill apa yang diperlukan setelah pandemi usai. 

Hal terpenting adalah tidak patah semangat, tetap belajar dan take it easy semua hal-hal sulit yang dapat menurunkan imunitas tubuh sehingga lupa bahagia dan bersyukur kepada Allah telah diberi nikmat dan rezeki yang sangat banyak. 

Pekanbaru

Tuesday, June 29, 2021

Belajar budaya penduduk native

Musim panas 2007.

Outing pertama kami di Western Australia adalah mengunjungi perkampungan Aborigin di dekat pinggiran kota Perth. Kami para awardee Australia Development Scholarships berangkat dengan bis tour besar yang telah disediakan pihak ADS Curtin University. 

Kunjungan ke tempat tersebut untuk mempelajari budaya penduduk native/Noongar people yang telah lama berada di alam. Kegiatan pertama adalah belajar keahlian berburu kangguru dan angsa liar di dekat air. Kami diajari membaca jejak binatang untuk berburu, beramai-ramai mencoba melempar tombak buatan dan mengamati baik-baik cara menangkap angsa terbang cepat di atas air. Kehidupan mereka cukup keras karena pada saat-saat walkabout di musim dingin, mereka harus tidur di alam terbuka dalam sebuah 'hut' atau tenda terbuat dari dahan, ranting, rumput dan daun-daun. Makanan diperoleh dari berburu hewan liar termasuk kangguru dan memetik buah-buahan yang dikenal sebagai bush food. 

Selanjutnya kami bergerak lebih dalam lagi ke hutan menemui seorang mama native yang duduk di kelilingi keranjang-keranjang rotan berisi daun-daun dan buah-buah hutan. Kami mendengarkan cerita mengenai kehidupan sebagai wanita native. Di waktu-waktu tertentu mereka harus memetik daun-daun khusus, lalu mengeringkannya dan menggunakannya untuk obat maupun teh. Untuk buah-buahan seperti bush tomato, lilly pilly, bush apple dan beberapa jenis buah-buah native yang sangat sehat untuk dimakan dalam diet mereka. Sama seperti kita di Indonesia, ada banyak jenis daun-daun yang bisa dipakai untuk penjagaan dan perawatan kesehatan seperti daun sirih, daun pepaya, daun salam dan daun sirsak. Mama native itu lalu bercerita mengenai khasiat beberapa tanaman dan cara mengidentifikasinya. Salah satu pelajaran berharga selama kami berada di tempat tersebut. Hingga saat ini aku masih sering mencari-cari tanaman-tanaman asli di botanical garden Perth sambil menikmati wangi-wangian atsiri yang muncul saat hujan turun di sana.

Tempat ini penuh dengan tanaman gum atau eucaplitus dengan dahan-dahan berbentuk unik yang mungkin dibantu angin.  Kami harus menaiki dek untuk berjalan masuk dan keluar dari tempat tersebut tanpa harus melalui batu-batu di bawahnya. 

Perjalanan tersebut sangat berkesan, terutama karena budaya dan diet penduduk yang unik tidak dapat ditemukan di benua lain. 

Pekanbaru 2021

Friday, August 7, 2020

Selamat tim Program Kreativitas Mahasiswa Tahun 2020

Seperti yang telah disampaikan dalam post terdahulu, salah satu fokus karirku adalah keterlibatan dalam program pengembangan kreativitas mahasiswa. 

Bermula dari Research Club (2003-2006) dengan sederet prestasi, setelah itu secara bertahap mulai tahun 2016, 2017, 2018, 2019 dan sekarang 2020, Alhamdulillah terdapat 7 tim mahasiswa bimbingan mendapatkan dana PKM untuk melakukan berbagai topik penelitian mereka.

Semua tim tersebut adalah bagian dari rencana pengembangan grup riset Sustainable Concrete Technology yang didirikan sejak tahun 2018. Topik-topik yang diangkat harus memiliki nilai inovasi tinggi dan manfaat bagi masyarakat luas. 

Tantangan PKM 2020 adalah produk berbasis digital menggantikan produk fisik seperti teori, konsep, dll. Untuk luaran berupa video saintifik dan review naratif, insya Allah sudah ada beberapa strategi melaksanakannya dengan baik. Saat ini mahasiswa baru dikenalkan addendum panduan PKM, sementara ibu pembimbing menyiapkan langkah-langkah penyelesaian luaran PKM agar pesan-pesan luaran tersampaikan dengan jelas dan baik.

Selamat bagi tim PKM yang telah berjuang keras dan bersabar menyelesaikan proposal, merevisi dan mengupload proposalnya meski harus mengerjakan berbagai kegiatan dan aktivitas lain. Ibu kira ketahanan mental kalian sangat membantu memudahkan proses selanjutnya setelah proposal selesai. 

Selamat berjuang, semoga kita menjadi juara. 

Pekanbaru,

Monday, August 3, 2020

Tugas-tugas kursus training pembelajaran daring di SPADA

Setelah beberapa minggu juggling di antara pekerjaan wajib, sunnah, dll sambil mengikuti kursus pembelajaran daring di SPADA, maka aku berkesempatan menyelesaikan tugas-tugas khusus teknologi. Tugas-tugas pedagogi dan materi pembelajaran sudah dicicil sesuai tenggat waktu, tetapi tugas-tugas teknologi memerlukan waktu khusus karena ada tutorial yang harus diikuti.

Tugas teknologi yang telah berhasil dikuasai adalah: 
1) Penulisan script writing dan voice recording menggunakan app audacity 
2) Pembuatan animasi pembelajaran whiteboard animation menggunakan app explee dan videoscribe
3) Pembuatan poster dan infografis untuk pembelajaran dengan app canva 
4) Pembuatan slide presentasi menggunakan voice dan screen recording menggunakan ispringfree
5) Penyusunan materi LMS Spada berbasis Moodle
6) Penggunaan collaborative app seperti Trello, Padlet dan Jamboard
7) Penggunaan VR, AR dan MR untuk materi pembelajaran
barangkali akan bertambah lagi karena akan ada kursus app untuk evaluasi daring.

Contoh materi kuliah menggunakan whiteboard animation hasil karyaku dapat dilihat pada link berikut:



Pembuatannya sangat menantang karena harus tekun mencocokkan kemunculan gambar dengan audio yang telah kita rekam. Kadang harus memotong beberapa kalimat atau memotong jeda, terkadang bagian tersebut harus diulang-ulang sehingga cukup memakan waktu. 

Tetapi setelah beberapa lama (aku mengerjakan dalam sehari saja, tetapi semakin malam akan semakin cepat mengeditnya) maka aku bisa berpuas hati menguploadnya di Youtube.  

Pekerjaan dengan penuh kesungguhan dimulai dari membuat storyline, memilih gambar, musik, merekam narasi, lalu menyusun tiap gambar dengan cermat sesuai kecepatan narasi, benar-benar harus diganjar dengan sertifikat cantik dari Prof. Dirjen Dikti:)


Untuk memastikan bahwa aku terus bersemangat mengikuti semua kuliah (30 kursus) dan mengerjakan tugas-tugas, maka aku menggunakan strategi belajar dengan membagi materi menjadi tiga bidang. 

Materi pedagogi mengenai seni mengajar dan merancang pengajaran biasanya akan kuselesaikan terlebih dahulu, sebab aku menyukai teori-teori pembelajaran, trend terkini di bidang pendidikan, best practices, dan psikologi pendidikan.

Untuk materi pembelajaran, terkadang membutuhkan melihat video/slide berulang-ulang agar paham, maka biasanya akan kusisihkan waktu khusus sehingga bisa menghasilkan tugas merancang pembelajaran yang tepat, lengkap dan aplikatif. 

Sedangkan materi teknologi memang diusahakan setiap hari karena materi kursus ini mayoritas seperti game, ada banyak tutorial menggunakan app sehingga harus diikuti betul-betul setiap langkah agar memenuhi syarat (terutama tugas sebagai evaluasi). Materi ini kupilih saat aku sedang memerlukan challenge dalam hidup. Biasanya tugas berhasil diselesaikan tanpa bosan karena benar-benar mencurahkan pemikiran dan rasa dalam mengikuti tiap langkahnya. 

Mudah-mudahan persiapan semester daring mendatang sudah bisa dimulai tepat satu bulan sebelum kuliah dimulai. Insya Allah. 

Terima kasih kepada tim Kemdikbud, tim pengajar di SPADA, mudah-mudahan jadi amal jariyah kepada bapak ibu semua. 

Pekanbaru,

Tuesday, July 14, 2020

Kursus Pembelajaran Daring di SPADA

Summer kali ini karena situasi pandemi maka tidak ada jadwal traveling sampai ada undangan khusus. Bersyukur karena tahun lalu luar biasa mobile:)
Tahun ini, Alhamdulillah, ada kesempatan upgrade metode pengajaran e-learning lewat SPADA Kemdikbud untuk meningkatkan kapabilitas dosen-dosen dalam memberikan kuliah secara daring. Para pengajar adalah dosen-dosen senior dan berpengalaman di bidang pembelajaran daring dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia. 

Para pengajar profesional di bidang pembelajaran daring.

Meskipun jadwal kursusnya sangat padat (Senin, Rabu, Jumat), tetapi semua aspek pembelajaran daring secara lengkap diberikan dalam kurikulum webminar tersebut. Aspek teknologi, pedagogi dan materi pembelajaran adalah unsur-unsur pembentuk dalam kuliah daring. 


Ikut kursus tumpuk-tumpuk, serasa Hermione dalam Prisoner of Azkaban (seri Harry Potter). 

Ada aspek teknologi berupa kualitas audio, video, teks, navigasi dan troubleshooting.

Aspek pedagogi berupa strategi pembelajaran, interaktivitas kelas dengan dosen, kualitas penjelasan materi, kualitas umpan balik dari dosen.

Aspek materi pembelajaran, berupa kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran, keakuratan isi materi, kesesuaian tingkat kesulitan dengan pengguna, dan kesesuaian materi dengan app yang digunakan. 

Semua aspek tersebut diberikan dengan lengkap dalam training profesional SPADA tersebut. Kita juga diberikan tugas sebagai evaluasi setelah kuliah. Selama mengikuti kuliah tersebut kita juga bisa mendapatkan 'sense' belajar online step by step dengan jadwal yang kita tentukan sendiri. Setelah memahami kuliahnya maka aku bisa mengerjakan tugas sendiri dan mengumpulkannya sesuai tenggat waktu yang diberikan. Ada tugas yang bisa dilaksanakan secara kolaboratif dan evaluasi yang dilakukan dengan tatap maya. 

Berdasarkan pembelajaran daring, terdapat empat ruang belajar, yaitu:
Ruang Belajar 1 = tatap muka
Ruang Belajar 2 = tatap maya
Ruang Belajar 3 = mandiri
Ruang Belajar 4 = kolaborasi

Model yang kupakai tadi adalah 3-4-2.


Ruang Belajar 1-4 (Sumber: Slide Dr. Hatma S dari UGM).

Bayangkan, dari aku yang belum mengetahui apa-apa dan sangat-sangat manual dalam memberikan kuliah daring semester lalu (melalui Whatsapp, meski salah satu fasilitator mengatakan tidak apa-apa untuk membangun interaksi), saat ini bisa merasa sangat 'kaya' dengan berbagai filosofi, pengetahuan dan praktek mengenai pembelajaran daring. Alhamdulillah.

Banyak sekali missing link, blank spot, gap, yang tidak pernah terisi, sekarang bisa dengan cepat diidentifikasi dan dicarikan solusinya. 

Tadinya aku tidak tahu cara membuat perkuliahan di laman SPADA, ternyata hari ini sudah bisa membuat mata kuliah sendiri, meski belum sempurna. 


Laman Spada salah satu mata kuliahku. Yay.

Mudah-mudahan setelah mengikuti kuliah daring dengan penuh semangat ini aku bertambah percaya diri menyiapkan materi perkuliahan dan berhasil membuat perkuliahan semester depan lebih efektif dan efisien. 

Pekanbaru, 2020

Friday, July 10, 2020

Weekend di Amsterdam: Zaanse Schans (Part 2)

Amsterdam
28 Februari-01 Maret 2015


Museum van Gogh kami tinggalkan untuk melanjutkan perjalanan melihat museum outdoor Zaanse Schans di daerah Zaandam menggunakan bis kota. Kami naik tram dari Amsterdam museum van Gogh ke Amsterdam Central Station. Stasiun bis berada di lantai atas museum dan, again, kami harus berlari-lari ke arah bis yang siap berangkat ke museum tersebut. 

Kanal besar di Zaandam.
Scenic bridge di kanal.
Relevan dengan postku mengenai kanal Otaru di Hokkaido yang direnovasi pemerintah Otaru, maka daerah Zaan juga merupakan daerah heritage yang dijaga kelestariannya oleh pemerintah Belanda. 

Saat ini Zaanse Schans menjadi salah satu tempat kunjungan turis karena terdapat kincir angin icon khas negara Belanda.

Konon revolusi industri di Belanda dimulai dari daerah Zaan pada abad 18-19. 

Seperti pada museum open air di Cloppenburg, Jerman, di museum outdoor Zaanse Schans dapat dilihat replika rumah pertanian, warehouse/gudang, workshop/bengkel kerja, kincir angin di tepi kanal dan padang rumput yang sangat luas. 

Pada salah satu bengkel klompen (clog) atau sepatu kayu khas Belanda, kami mampir melihat teknik pembuatan sepatu yang konon mulai dipakai oleh orang Belanda pada abad ke-13. Terinspirasi oleh sandal kayu milik bangsa Roma, alas kaki ini dibuat tertutup agar dapat melindungi kaki dari cuaca di negara Belanda yang lebih dingin dan penuh angin.  

Klompen cantik untuk souvenir.
Klompen paling besar di sana. 
Klompen dibuat dari kayu-kayu ringan, kuat dan tahan air seperti kayu alder, willow dan poplar sehingga petani dapat menggunakannya untuk bekerja di padang berair atau rawa tanpa mengalami cedera karena air maupun alat tajam. 

Klompen lebih tahan daripada sepatu biasa karena hanya mengalami keretakan bila terkena benda keras. Hanya sayangnya, penggunaan klompen dapat membuat struktur tulang kaki petani mengalami tonjolan karena sol yang keras dan tidak fleksible menurut sebuah artikel di web Smithsonian.

Potongan kayu untuk klompen.
Klompen untuk sehari-hari.
Potongan kayu untuk klompen pada awalnya dibentuk dahulu. Kemudian kayu tadi dibor bagian bawahnya, lalu dipahat secara mekanis untuk mengeluarkan sisa bahan. 




Menonton demo membuat klompen.
Pekerja di bengkel klompen.
Bagian dalam diamplas agar klompen lebih nyaman. Perawatan dalam tungku dilakukan untuk tiap pasang klompen selama 5-6 hari untuk menurunkan kadar air pada kayu sehingga klompen lebih kuat dan siap dipercantik.


Tiap rumah ternyata sebuah workshop/bengkel dan toko.


Rasanya waktu tidak akan pernah cukup kalau tiap rumah yang menjadi workshop/bengkel dan toko di Zaanshe Schans dimasuki. 

Ada tempat pembuatan keju, kerajinan kayu, pottery dan beragam toko souvenir. Jika ingin melihat, kita bisa menggunakan app tour berikut. App tersebut akan membawa kita tour di Zaanshe Schans yang memperlihatkan tempat-tempat tadi dengan lebih rinci. Sungguh mudah traveling di zaman sekarang, bisa menggunakan virtual dan augmented reality. 



Di depan kincir, si kakak asli 'urang awak' residen Amsterdam.
Berdasarkan lukisan Claude Monet dari Perancis, di daerah Zaandam sejak dahulu banyak terdapat kincir angin milik berbagai bengkel berbaris di tepi sungai. 

Kincir angin di tempat itu memiliki bentuk, ukuran, warna cat, nama dan fungsi berbeda. Misalnya kincir hijau paling besar pada foto di samping, disebut De Gekroonde Poelenburg dimiliki oleh pabrik pengolahan kayu. Di bagian belakang adalah kincir angin De Kat, milik pabrik cat dan pigmen. Sedangkan kincir angin terakhir, De Zoeker adalah tempat pembuatan minyak dari tumbuhan.


Apabila kita berjalan mengelilingi Zaanshe Schans, di bagian depan dekat halaman rumput yang bersebelahan dengan jalan raya, dapat dilihat rumah-rumah pertanian beraneka ukuran di sebelah kanal-kanal. Rasanya ingin sekali tinggal di sebelah kanal ini, bisa melihat air di dekat pintu, barangkali sesekali memancing ikan, atau hanya duduk-duduk menikmati angin dan mendengar suara gemericik air mengalir dalam kanal. 
Rumah khayalan, dekat kanal, pohon, rumput dan penuh bunga-bunga empat musim.

Sambil berbincang-bincang mengenai berbagai hal dan memotret cepat dengan Lam, teman dari Saigon, secara tak sengaja terlihat material kerang dalam bentuk utuh yang dihamparkan sebagai pengganti pasir di jalan-jalan setapak ! 
Kerang sebagai pengganti pasir untuk jalan setapak!

Pada masa itu aku baru mulai menggunakan kerang sebagai bahan substitusi maupun aditif untuk material konstruksi. Pengalaman melihat kerang langsung dipakai sebagai bahan hamparan semakin menambah semangat untuk mengeksplorasi bahan tersebut. Beberapa penelitian kami mengenai kerang dapat dilihat pada link ini dan itu

Kami kembali ke Amsterdam Central Station setelah 2 jam berkeliling maupun melihat-lihat rumah dan bengkel di sana. Kegiatan berikutnya adalah menikmati kota Amsterdam dari kanal (canal cruise) sebelum dinner bersama di pusat kota lalu kembali ke hotel untuk istirahat. 

Lanjut ke Weekend di Amsterdam (Part 3).

Pekanbaru, 2020




Monday, July 6, 2020

Weekend di Amsterdam: Travel dan Museum van Gogh (Part 1)

Amsterdam
28 Februari-01 Maret 2015

Saat mengikuti training di Oldenburg, Jerman, beberapa teman sekelas mengajakku untuk mengunjungi kota Amsterdam pada suatu weekend.  


Kami berenam, tiga orang wanita dari Amerika Latin dan tiga orang wanita dari Asia Tenggara akhirnya berangkat ke Amsterdam yang jauhnya sekitar empat jam dari Oldenburg menggunakan bis. 

Bis berwarna hijau semacam Flix bus yang kini tengah populer membawa traveler berkeliling Eropa dengan harga terjangkau. Kami berangkat Jumat sore setelah kelas terakhir selesai dan kembali Minggu sore. 



Bis tersebut berhenti sebentar di Groningen yang letaknya hanya satu jam dari kota tempat kami training. 
Sepeda-sepeda di pusat kota Groningen, Belanda.

Beberapa orang anak muda dengan gembira bergantian menaiki bis kami. Hm, dengan cara demikian mereka tentunya lebih mudah melakukan perjalanan antar negara di Eropa dengan biaya terjangkau.

Kami tiba di Amsterdam saat matahari mulai terbenam. Senja di Amsterdam sekitar pukul 8 malam, sehingga kami tidak perlu buru-buru berlari ke perhentian tram. Berhenti di pinggir jalan dari bis lalu dengan lift untuk turun dua level di bawah jembatan merupakan pengalaman seru lainnya. Dari tempat itu kami naik tram ke Amsterdam Central Station dan naik kereta api menuju Holiday Inn Sloterdijk. Kami menginap di hotel tersebut selama dua malam. 
Lift menuju perhentian tram ke Central Station Amsterdam.

Pagi pertama di Amsterdam dimulai dengan breakfast yang menyenangkan. Kereta api bergantian melewati jendela restoran hotel tersebut. Barangkali hotel ini semacam tempat transit ke bandara Schipol, karena semua kereta api mengarah ke bandara internasional tersebut. Untuk mendapatkan tiket atau pass berkeliling Amsterdam kami juga menaiki salah satu kereta ke bandara Schipol. 
Kereta api lalu lalang di Schipol airport.

Tiket/pass I am Amsterdam, full pass berkunjung ke banyak tempat, tetapi dengan perhitungan cermat hanya museum van Gogh, outdoor museum Zanshee Schans, Amsterdam canal cruise, termasuk museum Anne Frank. Tempat lain tidak bisa kami kunjungi karena keterbatasan waktu perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Teman-teman benar-benar memilih yang menurut kami menarik. Tiket seharga 50 euro tersebut juga termasuk biaya semua moda transportasi seperti bis, tram dan kereta api dalam 24 jam hingga Minggu siang. 
I am Amsterdam peta dan pass.

Sebenarnya ada beberapa tempat khusus yang menurutku penting, tetapi saat ini sudah menyepakati dengan kawan-kawan untuk menikmati weekend ini dengan sebaik-baiknya dengan mereka. Aku mencatat dalam hati ada beberapa tempat, museum dan tur yang harus kuikuti saat berkunjung dengan hubby atau keluarga kapan-kapan. 
Walking tour di The Dam, Old Amsterdam, cita-cita lain. 

Kami kembali ke pusat kota Amsterdam Central Station, tetapi kali ini menggunakan bis dari bandara Schipol. Sambil menunggu bis datang, teman-teman berfoto di depan logo catchy kata-kata I am Amsterdam. Kata-kata ini merupakan promosi, maksudnya siapapun yang datang ke Amsterdam adalah bagian dari Amsterdam.  Banyak orang mengantri untuk berfoto di sana sehingga aku dan kawan-kawan harus berfoto dari kejauhan. Di balik kata icon tersebut kita bisa menunggu bis ke pusat kota.
Icon I am Amsterdam di bandara Schipol.
Teman-teman segrup menunggu bis ke kota di Schipol.

Bis tersebut membawa kami kembali ke pusat kota setelah melewati kawasan industri, padang-padang rumput luas, kanal-kanal, barisan pohon-pohon tak berdaun di awal musim semi, rumah-rumah di tepi kanal. Amsterdam merupakan kawasan dengan pertemuan tanah dan air serta muka air tanah tinggi atau yang biasa disebut wetlands, oleh karena itu terdapat banyak sekali kanal. Bahkan beberapa tempat di Amsterdam terletak di atas laut dan telah direklamasi. Tidak heran pemandangan rumah-rumah berdampingan dengan kanal banyak sekali bisa dilihat di kota ini.
Amsterdam termasuk wetlands. Rumah-rumah banyak dibangun di tepi kanal air seperti ini.

Rumah-rumah penduduk dengan facade khas. 

Kami melewati Rijkmuseum yang konon menyimpan lukisan epik Raden Saleh. Museum van Gogh letaknya tak begitu jauh dari museum terkenal tersebut.  Kami sangat bersyukur karena tak perlu antri lagi, setelah melihat antrian super panjang dalam cuaca dingin tersebut. Ternyata teman-teman telah membeli tiket tanpa antrian menggunakan pass I am Amsterdam. Biasanya ada biaya ekstra beberapa euro, tetapi tidak mengapa karena menghemat waktu selain menghadapi antrian masuk, antrian pemeriksaan kamera dan antrian penitipan barang serta jaket di dalam gedung museum. 


Van Gogh adalah pelukis yang terkenal dengan lukisan Sunflower, Iris dan the Starry Night. Sejarah mencatat perjalanan van Gogh sebagai pelukis, gaya melukis, obyek lukisan yang disukai dan kisah tragis hidupnya. Semua cerita lengkap hidupnya ada di link berikut
Bisa berfoto dengan self-potrait replika besar yang disediakan untuk turis.

Lukisan catchy Sunflower di area foto.
Sebagai seorang pelukis, van Gogh selalu tidak hidup berkecukupan dan mengalami kesulitan dalam hubungan dengan orang lain. Topik lukisannya paling banyak adalah alam, bunga, landscape. Aku mencoba menghitung berapa macam tanaman/bunga muncul sebagai obyek lukisan van Gogh. Barangkali terdapat 17-20 jenis tanaman yang dilukis van Gogh dan lukisan Sun Flower serta Irises yang paling terkenal diantara semua lukisan tersebut. Highlight terbaru dari museum tersebut adalah lukisan almond blossom. Bunga almond berwarna putih dilukis van Gogh dengan latar belakang langit biru kontras dan batang-batang hijau tua. Sungguh menarik.

Menurutku, museum ini sangat menarik dan tidak membosankan. Kehidupan van Gogh diceritakan dengan detil tetapi ringkas seperti mengikuti sebuah timeline. Museum mencoba menghadirkan momen-momen khusus terkait dengan lukisan-lukisan dan sumber inspirasi van Gogh. 

Tetapi kami tidak menemukan lukisan 'The Starry Night' yang menjadi lagu Vincent atau Starry Starry Night yang pernah dinyanyikan dengan powerful oleh Josh Groban, salah seorang penyanyi terkenal dari USA. Anyway, ternyata lukisan tersebut berada di Museum of Modern Art (MoMA), New York!  

Bersambung ke Weekend di Amsterdam (Part 2)

Pekanbaru, 2020