Saturday, December 10, 2011

Perjuangan Mendapatkan Beasiswa ADS (Bagian III)


Aku kembali ke ‘konsultan’ku, milis beasiswa, untuk mencari ‘tips menghadapi wawancara beasiswa ADS’. Beruntunglah di sebuah link aku menemukan semua informasi yang kucari, termasuk bocoran pertanyaan oleh para pewawancara! Tiap tips dan skenario jawaban aku catat baik-baik. Tidak hanya milis, aku juga meminta bantuan suami, rekan kerja, dan seorang teman baik yang untuk membantu memikirkan jawaban yang tepat untuk ragam pertanyaan dalam wawancara nanti. Disamping itu aku masih harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian IELTS sebagai persyaratan kelulusan beasiswa ADS pada tahap ini. Berbekal bahan-bahan IELTS terbaru dari seorang teman yang pulang dari Inggris dan bahan yang kudapatkan dari internet, aku semakin giat berlatih setiap hari terutama soal Writing dan Speaking

Dua hari sebelum berangkat ke Padang, tiba-tiba aku menghubungi seorang kenalan yang pernah mendapatkan beasiswa ADS untuk mengambil master di University of Queensland. Allah memang Maha Besar! Tanpa kuminta, si kenalan bercerita dengan detil mengenai pengalamannya, trik dan strategi yang digunakannya. Iapun sempat memberikan sebuah tips menarik yang tampaknya menjadi kunci keberhasilan dalam ujian wawancara seorang temannya yang mendapatkan beasiswa PhD. 

Tips tersebut sungguh menarik. Intinya hanya mempermudah kita dalam menyampaikan informasi pada pewawancara lewat alat bantu sederhana. Pada saat wawancara, sering kali kita mengalami kesulitan untuk menerangkan berbagai hal karena keterbatasan kemampuan, waktu dan peralatan. Teman kenalanku tadi menggunakan diagram sederhana berbentuk flow chart atau mind map, diketik di MS Word, untuk membantunya menerangkan rencana riset, sinergi antara riset dengan program ADS, sampai rencana karir. Beliau juga membawa beberapa folder transparan berisi prestasi-prestasi kerja, fotokopi artikel ilmiah yang pernah diterbitkan hingga tulisan mengenai beliau dalam koran lokal. Semua itu tidak hanya tercantum dalam Curriculum Vitae saja dan terlihat abstrak, tetapi divisualisasikan dalam bentuk diagram dan berbagai bukti fisik. 

Subhanallah, satu strategi lagi dari Allah lewat temanku ini! 

Aku merasa seperti akan menghadapi sebuah ujian penting yang akan menentukan arah hidupku. Dalam mencapai suatu target, biasanya aku suka berusaha seoptimal mungkin sehingga tidak ada celah lain yang belum pernah kusentuh, seperti yang disebut orang sini sebagai “I’ve done my homework”. So, aku kerjakan ‘pekerjaan rumah’ku habis-habisan, lalu berserah menunggu hasilnya. 

Pada hari H, aku dan teman sepakat bertemu di tempat wawancara. Beberapa orang pelamar dari berbagai kota di Sumatera juga telah tiba di sana. Dari papan pengumuman, aku melihat nama ‘saingan’ku untuk mendapatkan beasiswa PhD yang berasal dari Universitas Andalas. Beliau memiliki skor TOEFL sangat tinggi, serta mengambil bidang ekonomi yang sering diprioritaskan oleh ADS. Biarpun suasana menjelang wawancara cukup santai, aku sempat ditegur oleh pewawancara saat memberikan briefing untuk tidak terlalu kuatir and just relax. Menurut mereka, untuk sampai pada tahap inipun kami sudah luar biasa, karena bisa masuk menjadi bagian dari 600 pelamar yang lulus persyaratan admistrasi.  

Pukul 10 pagi, wawancarapun dimulai. Tiap orang sesuai dengan nomor urut dipanggil ke dalam sebuah ruangan kantor untuk diwawancara. Sedang peserta lain menunggu dengan sabar di ruangan lain. Semakin lama suasana di tempat itu semakin ‘meriah’. Seseorang yang tampaknya sudah sering mengikuti wawancara ini dengan suara keras dan cepat berusaha menyampaikan berbagai tips bagi orang-orang di sekeliling beliau. 

Tadinya aku ikut mendengar pembicaraan mereka. Tapi, lama-lama kepalaku malah jadi pusing dan deg-degan mendengar berbagai tips yang disampaikan. Kulihat Yessy beranjak ke luar ruangan dan duduk diam-diam di sebuah kursi. Aku ikut keluar dan duduk bersamanya sambil memandangi jalanan sibuk di depan sana. 

“Kita harus bisa mengendalikan pikiran, bukan pikiran yang mengendalikan kita”, kudengar Yessy berkata pelan. 

Wah, betul juga ni, pikirku dalam hati. Jangan sampai aku menjadi gelisah karena berbagai pikiran negatif, harus akunya yang bisa mengendalikan pikiranku supaya tetap tenang. So, akhirnya kamipun duduk diam bersama, berdoa dalam hati sambil sesekali membaca catatan kecil yang ada di tangan kami.  

(Bersambung)

Pekanbaru,





1 comment:

puteriamirillis said...

mbak salam kenal. perjuangan yg mendebarkan mbak. semoga berhasil. aku punya temen di anadalas pernah kuliah berkat ads juga. mbak di awal perkenalan ini ijinkan saya memberi pr untukmu http://puteriamirillis.blogspot.com/2011/12/pr-sebelas.html#more