Wednesday, December 28, 2011

Putus atau Lanjut? (Sebuah Pertanyaan Saat Berada di Persimpangan Hati)

Seorang lelaki dalam acara The Golden Ways- Mario Teguh yang ditayangkan di Metro TV beberapa minggu lalu sempat menangis tersedu-sedu saat bertanya. Ia tampak begitu terluka karena harapan untuk melanjutkan hidup dan membalikkan rasa sakit lewat kesuksesan belum terlaksana. Dia terbelenggu rasa sakit hati akibat cintanya sukses ditolak mantan kekasih.

Tanpa disadari saat berada di persimpangan hati, kita cenderung untuk memperlambat proses pengambilan keputusan. Pengalaman mengajarkan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan emosi sering menyulitkan untuk bersikap rasional. Kita takut terluka, karena hati terluka sulit diobati dan penderitaan yang dirasakan lebih lama daripada sakit gigi. 

Dalam acara tersebut, Mario Teguh mengingatkan kita kapan harus ‘putus’ atau ‘lanjut’. Kita harus berani ‘putus’, jika kebiasaan/keadaan tersebut terjadi terus-menerus dan berpengaruh buruk pada seseorang. Tetapi kita harus 'lanjut', saat suatu kebiasaan yang dilakukan membawa kita pada kebaikan. 

Pengambilan keputusan untuk ‘putus’ atau ‘lanjut’ harus didasarkan pada kebaikan untuk diri kita. Jangan berpikir bahwa kita adalah orang egois saat ‘putus’ dengan hal-hal yang tak cocok atau relevan untuk diri. Jangan pula berpikir saat menjadi martir dalam suatu keadaan (lanjut) maka kita telah memberikan win-win solution untuk orang lain. Hal ini jelas tak adil untuk diri kita dan orang lain. Kitapun tidak disarankan untuk mempertahankan status quo atau ‘menggantung’ akibat takut salah ambil keputusan. Masalah ‘gantung-menggantung’ ini jauh lebih berbahaya, karena berkaitan dengan hajat hidup kedua belah pihak dalam jangka panjang.

Dalam hal ini, seorang individu harus belajar memiliki kekuatan hati atau kontrol diri yang kuat. Seseorang yang dapat mengontrol diri akan mencoba lebih rasional dalam memandang masalah. Ia tidak khawatir pada pendapat orang lain. Iapun dapat mengendalikan keadaan dengan lebih baik, sehingga keputusan untuk ‘putus’ atau ‘lanjut’ telah diambil lewat pertimbangan matang. Apapun hasilnya, ia lebih ridha/ikhlas menerimanya. Meskipun rasa sakit ada, tetapi karena keyakinannya dalam memilih, ia jadi tidak berlebihan terbawa perasaan. 

Kembali ke masalah si pemirsa tadi, tidak hanya pak Mario, akupun punya nasihat bagus untuknya. 

Jika ia memang menyayangi dirinya sendiri, sudah sepantasnya ia melupakan si kekasih, tidak takut sakit hati dan melanjutkan hidupnya. Ia harus mampu ‘putus’ dari keadaan tertekan, sehingga dapat bergerak maju ke depan menuju kesuksesan, jangan terlalu lama berada di persimpangan. Ia berhak mendapatkan kebahagiaan dirinya sendiri tanpa dipengaruhi keberadaan si kekasih. 

Sekali melangkah ke depan, seharusnya jangan pernah melihat ke belakang lagi. Ia harus menjadi pribadi yang kuat dan mampu mengendalikan keadaan.

Jangan takut rasa sakit di hati, karena rasa sakit tersebut dapat menjadi tonik penguat di saat-saat ia merasa lemah dalam perjuangan untuk membalikkan keadaan.

Sakit memang, tetapi, kawan, beranilah untuk me’mutus’kan… dan me‘lanjut’kan hidup anda sendiri. 

Pekanbaru,
Take the control of yourself, don’t let others to control yours.


2 comments:

Anonymous said...

mba aku amanda, yang akan mengikuti study di curtin, rencana aku berangkat tgl 11 january 2011, mohon bantuannya mba, karena aku baru pertama kali ke luar negeri, dan tidak punya sanak saudara di perth, saya mohon bantuan untuk informasi tempat tinggal, kalo berkenan saya ingin ngobrol dengan mbak juga, ini alamat email saya keykeyko@ymail.com, saya mencoba mencari data mba di facebook namun tidak ketemu(maaf saya agak gagap teknologi) saya mohon bantuannya mba, dan semoga mba berkenan membalas comment saya dan memberikan no hp mba melalui email saya tersebut, agar saya dapat menghubungi mba,


trimakasi


amanda

Anonymous said...

maaf mba berangkat tanggal 11 january 2012...

trimakasi

amanda