Monday, April 8, 2013

Cacatnya itu Cela


Seseorang yang kukenal sekarang menjadi sangat menganggu. Tadinya demi kesopanan aku tetap berusaha melayani basa-basi di antara kami berdua dengan baik. Tetapi lama-kelamaan tanpa ragu-ragu ia kerap mencela perbuatan, masa lalu dan kondisi fisikku secara langsung.

Astaghfirullah…

Saking seringnya dicela orang tersebut, aku menjadi gampang curiga dengan tiap komentarnya. Tetapi aku bukan orang yang suka melawan celaannya secara langsung, karena mengembalikan kekasaran bukan tipeku. Untuk menetralisir kesebalan akibat celaan tersebut, aku berharap memiliki hati seluas samudra atau reservoir untuk menenangkan diri.
 
Setelah berkonsultasi pada ‘La Tahzan’ (Dr ‘Aidh al-Qarni) baik-baik, aku menemukan beberapa hal penting untuk menenangkan jiwaku yang baru saja dapat celaan baru kemarin. Misalnya beberapa hal berikut:

“ Jangan bersedih jika mendengar kata-kata kasar, karena kedengkian itu sudah ada sejak dulu”, maksudnya: aku bukanlah orang yang pertama menjadi korban kedengkian orang lain dan celaan mereka.

“Jangan bersedih atas cercaan dan hinaan orang”, moralnya: tiap cercaan dan hinaan sebenarnya mendatangkan pahala. Semakin pedas sebuah celaan, maka makin banyak pahala yang diperoleh seseorang.

“Caci maki dan cemoohan itu tidak akan membahayakan diri anda”, yang berarti: ucapan-ucapan orang yang suka mencela, suka bicara kesana-kemari, dan suka menjatuhkan kehormatan orang lain, tidak berbahaya dan penting, karena sikap orang tersebut tidak akan bisa mengusik hati orang-orang beriman, baik dan berani.

“Jangan bersedih jika dianiaya, dilecehkan, dihina atau dizalimi”, karena: para pencela suka mencela orang yang memiliki harga dan derajat tinggi. Pendengki tidak akan pernah menendang bangkai anjing atau orang-orang tak berharga.

Kurasa, modus operandi cela-mencela ini memang dilakukan orang-orang yang merasa dirinya tak berharga di samping orang-orang tertentu. Cela hanyalah sebuah senjata cacat yang bisa ditumpahkannya untuk menutupi kelemahan dan kedengkian dirinya pada orang lain.

Yah, jangan bersedih lagi, lah.

Pekanbaru,

No comments: