Tuesday, June 23, 2026

Menjadi Produktif bersama Grup Mahasiswa

Sejak menjadi dosen pada tahun 2001, aku ingin membimbing grup mahasiswa seperti yang dilakukan oleh kolega di Jurusan Teknik Kimia. Mereka membimbing mahasiswa di luar tugas akhir atau perkuliahan untuk meneliti, menulis ilmiah, dan mempresentasikan hasil penelitian pada seminar-seminar nasional. Aku ingin membantu mahasiswa agar aktif, produktif, dan berprestasi bersama dalam grup mahasiswa. 

Satu hal yang tidak bisa kulepaskan sampai 25 tahun berkarier pada tahun 2026 ini, adalah bekerja side by side dengan banyak mahasiswa. Sebagai dosen senior yang tidak punya banyak waktu lagi saat menjadi Koordinator Program Studi Magister Teknik Sipil, aku masih berusaha meluangkan waktu menjadi pembimbing TA 8 orang mahasiswa S1, dan 2 orang mahasiswa S2. Meski rempong, rasanya bahagia membimbing mereka, apalagi kalau mereka berhasil menyelesaikan penelitiannya bersama-sama. Prinsipku, datang bimbingan bersama, lulus juga bersama-sama.

Vibes kerja dalam tim dengan berbagai dinamikanya sebenarnya sangat penting bagi perkembangan kepribadian dan profesionalisme mahasiswa. Banyak mahasiswa sekarang sangat individualistis, tidak mau mengenal teman, tidak mau berbicara, bahkan tidak mau tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Bekerja sama dengan orang lain dianggap sebagai beban dan menyusahkan, padahal itu adalah tempat untuk berlatih bersosialisasi dan bekerja dalam tim. Saat bekerja dengan teman dalam grup/tim, pasti ada perbedaan yang harus disepakati, masalah yang harus diselesaikan, dan komunikasi yang harus baik agar tujuan kerja dalam grup tercapai. Pekerjaan penelitian mereka, meski bersifat individual, tetap harus dikerjakan secara bersama-sama oleh mahasiswa karena topiknya saling beririsan. Dikerjakan bersama tentu akan lebih mudah karena ada teman untuk berdiskusi, saling menyemangati, meringankan beban, dan mencari solusi. 

Sedangkan dari sisi dosen, bekerja dengan grup mahasiswa membantu shaping profesionalisme mereka. Tidak mudah untuk mendelegasikan pekerjaan kepada mahasiswa. Selain itu, harus menghadapi mahasiswa yang tidak seide dan tidak sejalan, misalnya, mahasiswa tahun 2026 ini punya style berbeda dengan mahasiswa tahun-tahun sebelumnya. Mereka cenderung menggampangkan segala sesuatu, serba ingin hasil cepat, dan hanya bisa bekerja berdasarkan satu perintah. Jarang ada yang mengerti cara memprediksi output dan outcome dari pekerjaan mereka. Critical thinking dan kemandiriannya juga kurang memadai. Bekerja dengan mereka membuatku belajar lagi tentang cara mendidik generasi mahasiswa saat ini. Dengan menyelami cara berpikir mereka, meski kadang-kadang aku emosi, aku juga mencoba menoleransi, sekaligus mencari solusi agar suasana tetap kondusif dan target grup tercapai. 

Keuntungan lain selain sama-sama produktif saat di grup mahasiswa, mereka kadang mendapat penugasan kecil karena terlibat dalam proyek penelitian dosen. Penugasan ekstra ini bermanfaat untuk melatih disiplin, kesabaran, dan kreativitas karena model pekerjaannya bersifat repetitif. Proyek penelitian dan pengabdian dosen membantu mereka mendapatkan eksposur lain dari dunia administrasi, keuangan, menulis laporan dalam bahasa Indonesia yang baik, disiplin terhadap tenggat waktu, manajemen proyek, serta cara menyampaikan hasil secara profesional. 

Moga batch 15 sukses semua. 

Pekanbaru,



Tuesday, June 16, 2026

Manfaat Memotret (edisi Bonn, Jerman)

Hobiku memotret tanpa henti sering membuat teman-teman baruku dari Unilead 2014/2015 heran. Beberapa teman dari bangsa lain, dengan bercanda selalu bertanya mengapa aku selalu memotret. Mereka menganggap aku, salah satu orang dari bangsa Asia, yang tidak bisa menikmati sesuatu tanpa lupa menjepretkan kameraku ke sebuah objek.

Kebiasaanku memotret di tempat-tempat yang kami kunjungi selama di Jerman menjadi alasan bagi mereka untuk 'mengganggu' aku, karena aku dianggap memperlambat langkah grup, selain selalu ketinggalan rombongan. 

Sebenarnya tidak juga, aku bisa berjalan cepat sambil memotret, tetapi apakah ada hal lain yang mengganggu? Kurasa memang karena mereka tidak menenteng kamera sepertiku, atau ada alasan lain karena mereka tidak bisa multitasking: memotret sambil berjalan. 

Namun, tak diduga, kebiasaanku memotret pemandangan ternyata ada juga manfaatnya.

Cerita berikut di Bonn, Jerman, mungkin bisa mewakili situasi tersebut.

September 2014.
Kami tiba di Bonn lewat tengah hari. Tanpa bermaksud jengkel dengan jadwal aneh itu karena belum makan siang, aku mencoba melihat sisi positifnya, yakni kami berada di Bonn, salah satu kota besar di Jerman. 

Pukul 2 siang, bus membawa 28 orang kelaparan yang bisa makan apa saja karena lupa membawa camilan. Aku berdoa semoga bisa menemukan kebab atau doner halal yang bisa kumakan di pusat kota tanpa harus berjalan jauh untuk mencarinya.

Entah mengapa, LO kami menyebut Sungai Rhine dan restoran di sebelahnya. 

Padahal sungai itu sangat lebar dan memiliki jembatan yang sangat besar. Meski indah, kami tetap kelaparan dan tidak mengerti kenapa harus menikmati suasana di tepi sungai. Beberapa orang terus berjalan menyusuri tepi sungai, lalu memutuskan untuk menyeberangi jembatan panjang demi mencari restoran di seberangnya. Sepertinya ide itu kurang menarik, karena makanan tentu saja bisa ditemukan di sisi sungai sebelah ini tanpa perlu menyeberang. 

Tapi, kemudian aku menyerah, dan tetap ikut dengan mereka karena ingin punya pengalaman berjalan kaki menyeberangi Sungai Rhine dalam hidupku.

Langit cerah, udara cukup hangat, dan pemandangan dari atas jembatan cukup indah. Jembatan tersebut bentangnya sangat lebar. Ada tram lewat di bagian tengahnya, selain mobil dan trotoar besar di bagian pinggirnya yang dipenuhi pengunjung yang berjalan dari kedua sisi jembatan. 

Tanpa membuang waktu, aku mulai memotret dan terus memotret apa saja yang menarik perhatianku. 

Sesekali temanku TO mengeluh karena aku berjalan lambat dan tidak fokus saat mengikuti mereka. 

Aku tetap mengikuti mereka, tetapi pemandangan dari tepi jembatan memang spektakuler. Beberapa kali aku memotret bangunan unik, tram yang melewati sungai Rhine, pemandangan di tepi sungai, dan ahhh... aku bersyukur pada Allah untuk semua view ini.

Selagi aku sibuk multitasking memotret dan menikmati pemandangan, aku menyadari bahwa aku sudah tidak melihat teman-temanku lagi. 

Nah, di sinilah aku agak menyesal, meski tidak terlalu menyesal sekali karena kehilangan mereka. 

Aku bisa kembali ke sisi jembatan seberang tempat memulai perjalanan tadi, tapi supaya tidak terpisah dari grup, aku lalu memutuskan untuk menelepon TO untuk mengetahui keberadaan mereka.

So, teleponku dijawab TO dengan nada kesal.

"Hello TO, where are you guys, I didn't see you", tanyaku sambil berputar-putar dekat perempatan jalan.

"Where are you? We're at a restaurant," jawab TO.

"Yes, could you tell me where it is?" Aku memandang ke arah jalan menurun yang sangat panjang dengan sedikit putus asa.

"You should've known that your habit of taking pictures made you get lost!" TO tetap mengomeliku. 

"Where is it? Could you do this later, please?" Sekarang aku mulai cemas karena dia tetap ingin mengomel dan tidak memberikan nama tempatnya. 

Kemudian TO menyebut nama restorannya. 

Oh God, aku ingat tempat itu, karena meski aku sibuk memotret, nama restorannya sempat terbaca tadi. 

Dengan cepat aku berjalan menuju restoran tersebut yang sebenarnya tidak jauh dari tempatku berdiri, hanya saja aku berada di atas jembatan, dan restoran Rheinlust berada tepat di bawahku. 

Aku berlari kecil menuju teman-temanku yang berada di courtyard dan duduk di meja-meja di bawah tenda. 

Mereka menyambutku dengan gurauan dan sindiran.

Tetapi aku tidak kecil hati, hanya tersenyum-senyum kecil, lalu  memesan pizza serta jus Kiba (Kirsch-Banane atau Cherry Banana). 

Aku tidak salah selalu memotret, karena itu bagian dari kegiatan kreatif yang dulu masih belum banyak diterima orang. 

Selain itu, look, aku menemukan restorannya karena tempatnya sudah aku foto sebelumnya! Ada manfaatnya juga, kan?

Love my angles!

Pekanbaru, Juni 2026