A lecturer, an engineer, a learner, a researcher, a reviewer, a traveller, an adventurer. Love plans and plants.
Sunday, January 12, 2014
The Importance of Preparation (Lesson Learned from my PhD study)
I've realised how preparation could make differences in our big dream.
Before I started my PhD study, I did some research to understand exactly what is expected of a PhD scholar. PhD study certainly requires research skills such as critical thinking, effective reading, and scientific writing. However, during the study, I encountered some words related to non-research skills, namely 'bravery, resourcefulness, perseverance and endurance, grit', etc. Hence, those words became the theme keywords of my PhD stages.
I could put those words in order like this:
Before applying for the PhD: 'bravery'
The first year of PhD: 'resourcefulness'
Second year and third year of PhD: 'perseverance'
Final year of PhD: 'endurance'
I could describe them shortly according to their definition:
bravery (n): brave spirit, courage
resourcefulness (n): ability and creativity to cope with difficulties
perseverance (n): steady persistence in a course of action, especially despite
difficulties, obstacles and encouragement
endurance (n): the ability to or strength to continue at last, especially despite fatigue,
stress or other adverse conditions/stamina.
Doing a PhD is not only to gain a degree but also a kind of 'heroic journey' in my life. It must involve a strong heart and mind to win the 'battle'. I suggest you read 'The Alchemist' by Paulo Coelho to understand the philosophy of a 'heroic journey'. I've been inspired by the story until I could describe my PhD stages in four words.
Anyway, an important journey needs good preparation. You cannot just jump into the battle without good strategies. This is what I meant by preparation. You must learn and make a plan to face some challenging events during the 'battle'. There is no straight way to overcome it. It is always full of fear, hope, and relief. Otherwise, it is going to be a 'cheap' battle because we could easily conquer it.
During my PhD a few years ago, I did not just interview my lecturers, Professors, friends, or senior colleagues. Still, I also attended many workshops on how to do a PhD and consulted many books on 'How to get a PhD'. Many books can help us understand the nature of PhD study. It is a long-term pressure situation with one final goal: a thesis submission. Hence, the interviews, workshops, and books were instrumental in helping me design strategies to reduce my stress. I didn't want to face the challenge without knowing what to fight for. Although it was a difficult and stressful journey, I was glad I overcame it eventually.
It feels wonderful knowing you've worked so hard to achieve it.
This reminds us that success is described as 'when the opportunity favours only the prepared mind'. Again, the word 'preparation is essential'.
Pekanbaru,
Saturday, December 15, 2012
A Secret Pond
| Wood ducks |
| Spring flowers |
| Swamphen |
![]() |
| Curtin University Campus |
Monday, November 7, 2011
Back home for the second time this year
Thursday, October 27, 2011
Acknowledgement
Tuesday, October 18, 2011
A super dedicated Dr IC
![]() |
| The Big Blue Shed, tempat penuh kenangan Dr IC. |
Lelaki separuh baya bertubuh besar, tinggi, berambut putih, dan bersuara menggelegar itu selalu terdengar memberi perintah di sana-sini. Walaupun tengah berbicara dengan teknisi di suatu pojok, ia masih sempat memberi petunjuk pada kerumunan mahasiswa yang mengerjakan sampel-sampel mereka di sudut lain.
Menurutnya, banyak hal yang harus diperbaiki walaupun proposal itu sendiri sudah 'readable' (ini poin terpenting, readable!).
Ia bukan pembimbing utama tesisku, tapi sebagai Associate Supervisor ia berhak memberikan masukan-masukan untuk proposal yang sudah kugarap selama 3 bulan itu.
Aku hanya bisa menerima komentarnya tanpa banyak protes, karena riset memang hal baru bagiku dan masih banyak yang harus kupelajari agar riset ini bisa dikerjakan dan sukses.
Disamping itu Dr IC adalah salah satu sesepuh dosen Struktur di Jurusan dengan banyak pengalaman bekerja di proyek sipil, so, kupikir pengetahuanku kemungkinan hanya 0.01% dari pengetahuannya. Tentu saja ia menginginkan riset yang aplikatif, orisinal dan sesuai dengan tujuan akhir kualifikasi level mahasiswa doktoral.
Rasanya setelah keluar dari meeting tersebut aku seperti melihat puncak sebuah menara padahal rasanya aku masih berada jauh di luar pagar menara itu sendiri. Hm.
Peralatan yang dimilikinya untuk riset 'membentang' dari bagian dalam lab Beton hingga di bawah struktur 'Big Blue Shed'. Big Blue, demikian kami memanggilnya, adalah tempat menguji sampel besar seperti balok dan pelat berukuran lebih dari 5 meter dengan alat-alat rumit.
Beliau adalah tipe orang yang super dedicate pada eksperimen dan alat-alatnya, tak sungkan duduk diam di lab berhari-hari tanpa lelah untuk mengutak-utik program dan mengkalibrasi beberapa data logger sekaligus.
Ia seperti sebuah otak dan bagian dari kelengkapan lab, karena pengetahuannya yang sangat luas di bidang teori dan aplikasi telah menjadi rujukan kepada dosen, mahasiswa, teknisi, praktisi dan konsultan-konsultan di lapangan.
Bisa jadi hanya dari sekedar saran keilmuan hingga bantuan tenaga, beliau selalu ada.
Kadang aku heran juga melihat Dr IC mau berkotor-kotor meratakan permukaan beton segar yang baru dicor milik seorang temanku saat ia melewati sampel-sampel tersebut tanpa diminta.
Aku juga sering terkaget-kaget mendengarnya berbicara denganku saat aku sedang fokus mengerjakan sesuatu yang dianggapnya belum tepat, seperti saat pemasangan sulfur cap untuk benda uji tes tekan. Tanganku sampai pegal mengulangi pencetakan sulfur cap pada sampel agar mendapatkan permukaan yang rata sesuai alat kalibrasi.
"Jika tidak, hasilnya kurang akurat karena beban tidak terdistribusi merata di permukaan benda uji. Don't worry, there's always a room for improvement", kata Dr IC, membesarkan hati.
He always pushy, wants things on the spot, crazy' dan segudang kata-kata berbunga (baca: mengerikan) selalu royal dilimpahkan mereka untuknya.
Dirikupun selalu bimbang karena kadang mengidolakan beliau, tetapi kadang setuju dengan para teknisi yang ingin beliau pensiun saja dari lab. Jika sedang dibantu oleh beliau, aku merasa 'friends', sedangkan saat ia memotong jadwalku bekerja di lab dan memakai alat-alat yang kuinginkan, aku langsung mencak-mencak sendiri berharap ia tidak pernah punya rencana tak terduga demikian
Tetapi biar suka tak jelas demikian, ternyata di saat-saat paling tak terduga, Dr IC bisa ada untuk membantuku tanpa perlu diminta secara khusus, padahal beberapa waktu kemudian ia tidak lagi menjadi Associate Supervisorku karena berbagai alasan.
Saat itu teknisi senior sudah pensiun dan ia bersedia membantuku mengambil data terakhir risetku yang telah tertunda selama berbulan-bulan. Dr IC bersedia membantu mengkalibrasi dan mengatur alat-alat tes Modulus of Elasticity tersebut. Lalu kami berdua bekerja sama dengan tenang dan baik menguji semua sampel-sampel dipandu dengan catatan-catatan serta ingatanku yang telah mendapat training khusus dari teknisi senior tersebut.
Padahal jika dilihat dari kondisi fisiknya sekarang, beliau tampak lebih tua, lebih fragile dan lebih lambat dari tahun-tahun awal aku berada di lab. Tampaknya beliau masih tidak mau menyerah dengan keadaan, meskipun umur terus menggerus kecepatan aktivitasnya. Suaranya masih menggelegar di berbagai sudut lab.
Ia pernah mengatakan bahwa kesukaannya pada 'tantangan' dan keasyikan mengajar mahasiswa Teknik Sipil dengan cara berbeda dari semestinya, seperti 'beam competition', demonstrasi pengujian, dan aneka praktek baik di lapangan, bagai ramuan jamu penambah kekuatan serta semangat hidupnya. Semangat itulah yang ingin ditularkannya pada orang-orang di sekelilingnya, pada mahasiswa, dosen dan teknisi. Pada dosen muda seperti aku, ia berpesan agar rajin berinovasi dalam pengajaran dan penelitian, memberikan tantangan-tantangan intelektual pada mahasiswa, sekaligus memperbaiki kompetensi diri agar dapat menjadi pengajar sekaligus insinyur yang profesional di bidangku.
Kulihat matanya penuh kata-kata meski ia sendiri hanya diam saja sambil tersenyum.
Oh, Dr IC, I think I've got you!
Aku hanya bisa membalas dengan senyum sungkan sambil melirik lantai beton di bawahku karena mengerti artinya.
Sudah bertahun-tahun aku melihatnya di lab sejak ia menjadi Associate Supervisor hingga aku selesai studi sekarang. Pada saat bersamaan, bertahun-tahun pula ia melihat kegigihanku bekerja dan berjuang di lab maskulin itu tanpa banyak mengeluh. Aku terus berjalan meski pelan dan banyak sekali tantangan yang harus aku lalui termasuk dari jadwal-jadwalnya yang kadang menghalangi kelancaran pembuatan sampel-sampelku. Bahkan terakhir kali aku harus mengulang eksperimen karena ia menyebabkan listrik satu lab mati saat forklift yang dikendarainya menyenggol instalasi listrik di lab. Oh wow.
Meskipun pekerjaanku memerlukan waktu lebih lama dari orang lain, kuharap dia melihat usaha-usahaku yang tidak sempurna itu sebagai sebuah usaha terbaikku untuk menaklukkan kesangaran perjalanan mendaki menara PhD.
Karena ia sekarang mulai berceramah tanpa ragu soal proyek terbarunya di Kalbarri, daerah pertambangan, padaku, seolah-olah aku seseorang profesional yang sudah lama dikenalnya dengan baik.
Thursday, September 22, 2011
Pengalaman menyewa tempat tinggal di Perth

Unit pertama yang kusewa saat tinggal di Perth terletak tidak jauh dari kampus. Pemiliknya seorang wanita berkebangsaan Belanda kelahiran Indonesia. Beliau sangat terkenal di kalangan mahasiswa Asia dengan kecerewetannya soal kebersihan rumah sewa. Berkali-kali ia diberitakankan suka memotong bond (uang jaminan) dengan seenaknya sampai mengusir penyewa tanpa minta kenal ampun.
Saat kutelpon ia dengan bahasa Inggrisku yang kurang lancar, Mrs WA menyatakan persetujuannya. Ia bilang, karena aku PhD student, penerima beasiswa dan memiliki suara yang menyenangkan, maka ia bersedia memberikan unit tersebut untukku. Maklumlah, punya status penerima beasiswa dan mahasiswa postgrad memang cukup diperhatikan secara sosial. Maksudnya, berstatus demikian memberikan jaminan kelancaran sewa unit dibanding pekerja biasa.
Pada saat yang dijanjikan, aku datang bertemu Mrs WA di unit apartment itu bersama mbak ES, teman baikku. Rupanya kehadiran ES yang juga penyewa di apartment tersebut sangat berarti, karena dianggap memberikan rekomendasi kepada Landlady.
Setelah melihat keadaan apartment dan menyatakan persetujuan, Mrs WA mengeluarkan setumpuk dokumen. Mrs WA menungguku dengan sabar sewaktu aku membaca klausul satu demi satu dengan teliti. Aku menanyakan hal-hal yang kurang kupahami kepada Mrs WA. Dengan suara tegas ia menjawab pertanyaanku. Kuusahakan agar dialog kami mencapai sebuah kesepakatan, bahwa aku penyewa akan menaati peraturan-peraturan yang dikeluarkannya. Iapun memberikan kesan baik, ditandai dengan banyaknya nasihat untukku, karena aku terlihat berusaha bekerja sama dengannya.
Kupikir, sederhana saja, jika aku menjadi Mrs WA, tentulah aku akan berusaha mendidik penyewa agar menghargai dan menjaga unit yang disewanya dengan susah-payah. Meskipun sebagai penyewa yang mengeluarkan uang untuk membayar unit tersebut, akupun memiliki amanah untuk menjaga unit sewaan dengan sebaik-baiknya.
Setelah kontrak ditandatangani, aku membayar bond (uang jaminan) sebesar satu bulan sewa unit (4 minggu) dan sewa unit untuk dua minggu pertama. Bond adalah kewajiban penyewa yang disetorkan agen/pemilik/pengurus unit kepada Departemen Perumahan WA. Jika masa sewa telah berakhir, bond akan dikembalikan oleh penyetor tadi. Jumlahnya bisa tetap, atau berkurang sesuai kebijaksanaan agen/pemilik/pengurus. Masalahnya, mereka suka membebankan biaya pembersihan karpet (sekitar $100) dan unit kepada penyewa. Mrs WA termasuk orang yang cukup hitung-hitungan, sehingga banyak penyewa merasa dirugikan karena jumlah bond sering dipotong lebih dari separuh.
Empat belas hari pertama (masa probation) kugunakan untuk mengamati unit sebaik-baiknya dipandu daftar barang-barang dan kondisinya yang diberikan Mrs WA. Aku memotret keadaan awal unit yang telah diserah-terimakan itu dengan detil. Kebersihan dinding, retakan di kitchen cabinet, noda di plafon, robekan kursi tamu, sobekan pelapis lemari, keran macet, hingga gembok di kotak surat aku catat dan potret baik-baik. Beberapa keadaan yang tidak sesuai dengan daftar tersebut, aku laporkan kepada Mrs WA lewat email. Beliau merevisi daftar yang dimilikinya dan aku juga memberi catatan di daftar milikku. Saat kami bertemu kembali setelah dua minggu, dengan nada bercanda Mrs WA menyatakan ketelitianku soal unit membuatnya harus berhati-hati.
Tidak hanya dokumen kontrak, bond, atau list barang dan keadaannya, Mrs WA juga memberikan selebaran cara mengecek keran air dan daftar cairan pembersih barang/lantai/dapur, etc yang harus dibeli! Cairan pembersih memiliki kemampuan berbeda dan spesifik untuk barang tertentu. Aku harus membeli berbagai scairan pembersih seperti JIF untuk membersihkan tungku oven, AJAX untuk membersihkan kamar mandi, sampai EXIT MOULD untuk menyeka jamur di dinding tanpa mengelupaskan catnya. Mrs WA berprinsip, bahwa cairan sabun cuci piring bukan solusi untuk kebersihan semua barang!
Pemeliharaan kebersihan dan kerapian unit harus dilakukan dengan telaten. Tungku masak sebaiknya dilapisi aluminium foil dan diganti sekitar dua minggu sekali. Kamar mandi dan shower harus dibersihkan sekali seminggu, termasuk menyeka jamur di langit-langit. Toilet mesti disikat agar deposit tidak menumpuk di sana. Ruang itu harus kering dan berbau segar, maka aku perlu meletakkan beberapa kamper dan pewangi ruangan. Jangan letakkan furnitur terlalu dekat dengan dinding agar tidak menggores cat tembok. Setrika panas harus dijauhkan dari karpet, supaya tidak merusak permukaannya jika terjatuh. Furnitur yang telah disediakan mesti dijaga baik-baik agar tidak rusak, padahal melihat modelnya saja kita sudah tahu kalau semuanya furnitur tahun 70-an.
Tiap musim panas, biasanya rumah akan diserbu kecoa kecil yang terbangun dari hibernasi mereka. Seal/segel celah-celah di dinding dapur yang sering menjadi sarang kecoa. Gunakan ‘cockroach bait’ di dalam lemari, bagian bawah kulkas maupun di bawah tempat tidur. Bersihkan sarang kecoa di belakang kulkas dan lemari secara berkala. Jika kurang berhasil, gunakan bom kecoa untuk membunuh semuanya.
Kebiasaan menjaga unit dengan sangat intensif tersebut ternyata memang membantu aku dan hubby lebih disiplin. Diam-diam sebenarnya aku menganggap hal itu tidak menyusahkan, tetapi merupakan pengalaman baru yang menyenangkan.
Setelah dua tahun menyewa tempat tersebut, akhirnya aku dan hubby memutuskan untuk mencari unit yang lebih kecil. Proses pengembalian unit ternyata cukup lama. Aku memberitahu Mrs WA setidaknya satu bulan sebelum kepindahan kami, walau sebenarnya ‘two weeks notice’ tidak menjadi masalah.
Seminggu setelah itu, Mrs WA mengadakan inspeksi yang pertama untuk mengecek keadaan unit. Pada kunjungan awal itu, Mrs WA memuji kebersihan unit, tetapi beliau tetap meminta kami untuk melakukan pembersihan lebih intensif lagi sebelum saat serah-terima. Beberapa hari kemudian, rumah yang berbau segar, terlihat kinclong, tidak berkecoa dan tanpa noda-noda di dinding bisa kami kembalikan kepada Mrs WA. Tanpa banyak ribut, kami menerima lebih dari separuh bond karena dipotong masa tinggal kurang dari 2 minggu serta untuk kebersihan karpet dan perbaikan keran air.
Pekanbaru,
Tuesday, May 31, 2011
I'm in stage 'leave me alone, please!'
Thursday, May 19, 2011
Musim gugur, saat kutinggalkan kampus Curtin
-
Semoga ini bisa jadi point untuk introspeksi diri bagi diriku dan teman-teman lain. Kuakui, diriku kadang suka sombong, padahal tidak memili...
-
Perth termasuk tempat beriklim Mediterranian, maksudnya memiliki musim panas yang kering dan curah hujan tinggi di musim dingin. Monaco, Rom...
-
Soal kucil-mengucilkan ini sering kita alami, kan? Kadang-kadang hati jadi panas membara mengingat perlakuan tidak adil dari teman-teman ata...


