Showing posts with label My adventures. Show all posts
Showing posts with label My adventures. Show all posts

Friday, February 14, 2025

Berpetualang di bumi USA

Belajar dari serunya menjadi seorang Visiting Scholar di University of Adelaide (2019) dan Drexel University (2023), aku mendaftar beasiswa Fulbright Visiting Scholar Program pada akhir tahun 2023. Pada tanggal 31 Agustus 2024, aku berangkat dari Pekanbaru menuju Jakarta untuk memulai perjalanan panjang menuju Philadelphia dengan transit di bandara Narita dan Denver, Colorado. 

Benarlah kata banyak pengelana. Pengalaman terbaik datang dari keberanian untuk berada sendirian di sebuah tempat atau suasana baru. Aku tidak memiliki banyak pilihan apalagi tempat bertanya, sehingga seringkali harus bersabar dalam menelusuri informasi dan berkomunikasi dengan helpdesk. Tetapi semakin sering dilakukan, nalar dan kemampuanku semakin bertambah. Fase ini sangat kusukai, karena learning and doing by learning untuk menambah skill; is my favorite activity. Kemampuan untuk survive menjadi salah satu skill penting di abad ini untuk meningkatkan flexibility, resilience dan adaptability. Aku bercerita tentang dua hal, sistem check in pesawat ANA yang tidak dapat diakses, sedangkan aku harus duduk di baris paling depan supaya bisa lari ke pesawat yang membawa ke Denver tanpa harus berbaris di belakang penumpang lain. Kedua, tentang waktu transit yang hanya 45 menit di bandara Narita, means, saat pesawatku landing, pesawat berikutnya sudah boarding. Aku hanya bisa mengatur rasa cemas supaya tidak overthinking dan punya harapan untuk bisa berangkat sesuai jadwal penerbangan yang diberikan.

Sesampainya di USA, semua kecemasan dan ketakutan di suasana baru seolah larut karena keletihan setelah perjalanan panjang hampir 34 jam dari Indonesia. Awalnya aku ingin menunggu hingga matahari terbit untuk keluar bandara. Ternyata aku tiba lebih awal dari perkiraan, sehingga pukul 12 malam semua koper sudah lengkap di tangan. Aku memberanikan diri untuk memesan Uber, tetapi sebelumnya ingin mengetahui pick up point di terminal E, bandara Philadelphia. Setelah melihat tempat itu dipenuhi oleh penumpang, tanpa pikir panjang aku bergerak menuju taksi bandara berwarna kuning. Kusebutkan alamat yang kutuju kepada driver, kemudian dia menyebutkan fare USD33, untuk perjalanan cukup jauh tersebut. Sambil duduk dengan perasaan lega karena telah di dalam taksi, aku mulai berzikir untuk menghilangkan perasaan cemas lain. Untunglah supir tersebut seorang muslim Ethiopia. Aku mulai mengujinya dengan beberapa pertanyaan seperti masjid, tempat makan halal, daging halal, dan ibadah shalat Jumat di Philadelphia. Alhamdulillah, dia memang muslim tulen, karena jawabannya sesuai. Allah kirimkan orang ini untuk menjemput dan mengantarku ke akomodasi di Powelton Avenue. 

Semua tempat yang pernah kita kunjungi memberikan kesempatan untuk melihat hal-hal baru. Sedangkan suasana baru membantu menciptakan memori dan menambah ilmu tentang manusia, alam dan budaya. Pikiran serta hati kita menjadi lebih luas dari sebelumnya. Pemahaman kita terhadap hidup dan proses alamiahnya juga terus bertambah. Penerimaan kita tentang perbedaan budaya dan pandangan hidup berkembang melalui pertemuan-pertemuan dengan orang-orang lain. Begitu dalamnya makna 'keluar dari zona nyaman' kehidupan,  sehingga kita menjadi 'orang baru' dengan kemampuan dan sudut pandang berbeda. Hal itulah yang terjadi begitu tiba di Philadelphia. Meski aku pernah datang sebelumnya ke USA, tapi kali ini aku punya waktu mencerna semua yang ditawarkan Allah dalam hidup saat aku berpetualang di negara ini. Hal yang sama juga terjadi saat aku tinggal di Eropa, dan Australia. Tidak ada waktu tanpa belajar menerima dan memahami, terutama saat semua terasa berbeda bagi kita.

Post ini akan menjadi tulisan pertama dari petualangan panjang selama hampir 4 bulan di USA. Cerita-cerita petualanganku akan kembali diupdate di blog ini, untuk berbagi dan menginspirasi kita semua agar travel more, experience world more dan growing more dalam hidup. 

Pekanbaru, 



Tuesday, June 29, 2021

Belajar budaya penduduk native

Musim panas 2007.

Outing pertama kami di Western Australia adalah mengunjungi perkampungan Aborigin di dekat pinggiran kota Perth. Kami para awardee Australia Development Scholarships berangkat dengan bis tour besar yang telah disediakan pihak ADS Curtin University. 

Kunjungan ke tempat tersebut untuk mempelajari budaya penduduk native/Noongar people yang telah lama berada di alam. Kegiatan pertama adalah belajar keahlian berburu kangguru dan angsa liar di dekat air. Kami diajari membaca jejak binatang untuk berburu, beramai-ramai mencoba melempar tombak buatan dan mengamati baik-baik cara menangkap angsa terbang cepat di atas air. Kehidupan mereka cukup keras karena pada saat-saat walkabout di musim dingin, mereka harus tidur di alam terbuka dalam sebuah 'hut' atau tenda terbuat dari dahan, ranting, rumput dan daun-daun. Makanan diperoleh dari berburu hewan liar termasuk kangguru dan memetik buah-buahan yang dikenal sebagai bush food. 

Selanjutnya kami bergerak lebih dalam lagi ke hutan menemui seorang mama native yang duduk di kelilingi keranjang-keranjang rotan berisi daun-daun dan buah-buah hutan. Kami mendengarkan cerita mengenai kehidupan sebagai wanita native. Di waktu-waktu tertentu mereka harus memetik daun-daun khusus, lalu mengeringkannya dan menggunakannya untuk obat maupun teh. Untuk buah-buahan seperti bush tomato, lilly pilly, bush apple dan beberapa jenis buah-buah native yang sangat sehat untuk dimakan dalam diet mereka. Sama seperti kita di Indonesia, ada banyak jenis daun-daun yang bisa dipakai untuk penjagaan dan perawatan kesehatan seperti daun sirih, daun pepaya, daun salam dan daun sirsak. Mama native itu lalu bercerita mengenai khasiat beberapa tanaman dan cara mengidentifikasinya. Salah satu pelajaran berharga selama kami berada di tempat tersebut. Hingga saat ini aku masih sering mencari-cari tanaman-tanaman asli di botanical garden Perth sambil menikmati wangi-wangian atsiri yang muncul saat hujan turun di sana.

Tempat ini penuh dengan tanaman gum atau eucaplitus dengan dahan-dahan berbentuk unik yang mungkin dibantu angin.  Kami harus menaiki dek untuk berjalan masuk dan keluar dari tempat tersebut tanpa harus melalui batu-batu di bawahnya. 

Perjalanan tersebut sangat berkesan, terutama karena budaya dan diet penduduk yang unik tidak dapat ditemukan di benua lain. 

Pekanbaru 2021

Friday, July 10, 2020

Weekend di Amsterdam: Zaanse Schans (Part 2)

Amsterdam
28 Februari-01 Maret 2015


Museum van Gogh kami tinggalkan untuk melanjutkan perjalanan melihat museum outdoor Zaanse Schans di daerah Zaandam menggunakan bis kota. Kami naik tram dari Amsterdam museum van Gogh ke Amsterdam Central Station. Stasiun bis berada di lantai atas museum dan, again, kami harus berlari-lari ke arah bis yang siap berangkat ke museum tersebut. 

Kanal besar di Zaandam.
Scenic bridge di kanal.
Relevan dengan postku mengenai kanal Otaru di Hokkaido yang direnovasi pemerintah Otaru, maka daerah Zaan juga merupakan daerah heritage yang dijaga kelestariannya oleh pemerintah Belanda. 

Saat ini Zaanse Schans menjadi salah satu tempat kunjungan turis karena terdapat kincir angin icon khas negara Belanda.

Konon revolusi industri di Belanda dimulai dari daerah Zaan pada abad 18-19. 

Seperti pada museum open air di Cloppenburg, Jerman, di museum outdoor Zaanse Schans dapat dilihat replika rumah pertanian, warehouse/gudang, workshop/bengkel kerja, kincir angin di tepi kanal dan padang rumput yang sangat luas. 

Pada salah satu bengkel klompen (clog) atau sepatu kayu khas Belanda, kami mampir melihat teknik pembuatan sepatu yang konon mulai dipakai oleh orang Belanda pada abad ke-13. Terinspirasi oleh sandal kayu milik bangsa Roma, alas kaki ini dibuat tertutup agar dapat melindungi kaki dari cuaca di negara Belanda yang lebih dingin dan penuh angin.  

Klompen cantik untuk souvenir.
Klompen paling besar di sana. 
Klompen dibuat dari kayu-kayu ringan, kuat dan tahan air seperti kayu alder, willow dan poplar sehingga petani dapat menggunakannya untuk bekerja di padang berair atau rawa tanpa mengalami cedera karena air maupun alat tajam. 

Klompen lebih tahan daripada sepatu biasa karena hanya mengalami keretakan bila terkena benda keras. Hanya sayangnya, penggunaan klompen dapat membuat struktur tulang kaki petani mengalami tonjolan karena sol yang keras dan tidak fleksible menurut sebuah artikel di web Smithsonian.

Potongan kayu untuk klompen.
Klompen untuk sehari-hari.
Potongan kayu untuk klompen pada awalnya dibentuk dahulu. Kemudian kayu tadi dibor bagian bawahnya, lalu dipahat secara mekanis untuk mengeluarkan sisa bahan. 




Menonton demo membuat klompen.
Pekerja di bengkel klompen.
Bagian dalam diamplas agar klompen lebih nyaman. Perawatan dalam tungku dilakukan untuk tiap pasang klompen selama 5-6 hari untuk menurunkan kadar air pada kayu sehingga klompen lebih kuat dan siap dipercantik.


Tiap rumah ternyata sebuah workshop/bengkel dan toko.


Rasanya waktu tidak akan pernah cukup kalau tiap rumah yang menjadi workshop/bengkel dan toko di Zaanshe Schans dimasuki. 

Ada tempat pembuatan keju, kerajinan kayu, pottery dan beragam toko souvenir. Jika ingin melihat, kita bisa menggunakan app tour berikut. App tersebut akan membawa kita tour di Zaanshe Schans yang memperlihatkan tempat-tempat tadi dengan lebih rinci. Sungguh mudah traveling di zaman sekarang, bisa menggunakan virtual dan augmented reality. 



Di depan kincir, si kakak asli 'urang awak' residen Amsterdam.
Berdasarkan lukisan Claude Monet dari Perancis, di daerah Zaandam sejak dahulu banyak terdapat kincir angin milik berbagai bengkel berbaris di tepi sungai. 

Kincir angin di tempat itu memiliki bentuk, ukuran, warna cat, nama dan fungsi berbeda. Misalnya kincir hijau paling besar pada foto di samping, disebut De Gekroonde Poelenburg dimiliki oleh pabrik pengolahan kayu. Di bagian belakang adalah kincir angin De Kat, milik pabrik cat dan pigmen. Sedangkan kincir angin terakhir, De Zoeker adalah tempat pembuatan minyak dari tumbuhan.


Apabila kita berjalan mengelilingi Zaanshe Schans, di bagian depan dekat halaman rumput yang bersebelahan dengan jalan raya, dapat dilihat rumah-rumah pertanian beraneka ukuran di sebelah kanal-kanal. Rasanya ingin sekali tinggal di sebelah kanal ini, bisa melihat air di dekat pintu, barangkali sesekali memancing ikan, atau hanya duduk-duduk menikmati angin dan mendengar suara gemericik air mengalir dalam kanal. 
Rumah khayalan, dekat kanal, pohon, rumput dan penuh bunga-bunga empat musim.

Sambil berbincang-bincang mengenai berbagai hal dan memotret cepat dengan Lam, teman dari Saigon, secara tak sengaja terlihat material kerang dalam bentuk utuh yang dihamparkan sebagai pengganti pasir di jalan-jalan setapak ! 
Kerang sebagai pengganti pasir untuk jalan setapak!

Pada masa itu aku baru mulai menggunakan kerang sebagai bahan substitusi maupun aditif untuk material konstruksi. Pengalaman melihat kerang langsung dipakai sebagai bahan hamparan semakin menambah semangat untuk mengeksplorasi bahan tersebut. Beberapa penelitian kami mengenai kerang dapat dilihat pada link ini dan itu

Kami kembali ke Amsterdam Central Station setelah 2 jam berkeliling maupun melihat-lihat rumah dan bengkel di sana. Kegiatan berikutnya adalah menikmati kota Amsterdam dari kanal (canal cruise) sebelum dinner bersama di pusat kota lalu kembali ke hotel untuk istirahat. 

Lanjut ke Weekend di Amsterdam (Part 3).

Pekanbaru, 2020




Monday, July 6, 2020

Weekend di Amsterdam: Travel dan Museum van Gogh (Part 1)

Amsterdam
28 Februari-01 Maret 2015

Saat mengikuti training di Oldenburg, Jerman, beberapa teman sekelas mengajakku untuk mengunjungi kota Amsterdam pada suatu weekend.  


Kami berenam, tiga orang wanita dari Amerika Latin dan tiga orang wanita dari Asia Tenggara akhirnya berangkat ke Amsterdam yang jauhnya sekitar empat jam dari Oldenburg menggunakan bis. 

Bis berwarna hijau semacam Flix bus yang kini tengah populer membawa traveler berkeliling Eropa dengan harga terjangkau. Kami berangkat Jumat sore setelah kelas terakhir selesai dan kembali Minggu sore. 



Bis tersebut berhenti sebentar di Groningen yang letaknya hanya satu jam dari kota tempat kami training. 
Sepeda-sepeda di pusat kota Groningen, Belanda.

Beberapa orang anak muda dengan gembira bergantian menaiki bis kami. Hm, dengan cara demikian mereka tentunya lebih mudah melakukan perjalanan antar negara di Eropa dengan biaya terjangkau.

Kami tiba di Amsterdam saat matahari mulai terbenam. Senja di Amsterdam sekitar pukul 8 malam, sehingga kami tidak perlu buru-buru berlari ke perhentian tram. Berhenti di pinggir jalan dari bis lalu dengan lift untuk turun dua level di bawah jembatan merupakan pengalaman seru lainnya. Dari tempat itu kami naik tram ke Amsterdam Central Station dan naik kereta api menuju Holiday Inn Sloterdijk. Kami menginap di hotel tersebut selama dua malam. 
Lift menuju perhentian tram ke Central Station Amsterdam.

Pagi pertama di Amsterdam dimulai dengan breakfast yang menyenangkan. Kereta api bergantian melewati jendela restoran hotel tersebut. Barangkali hotel ini semacam tempat transit ke bandara Schipol, karena semua kereta api mengarah ke bandara internasional tersebut. Untuk mendapatkan tiket atau pass berkeliling Amsterdam kami juga menaiki salah satu kereta ke bandara Schipol. 
Kereta api lalu lalang di Schipol airport.

Tiket/pass I am Amsterdam, full pass berkunjung ke banyak tempat, tetapi dengan perhitungan cermat hanya museum van Gogh, outdoor museum Zanshee Schans, Amsterdam canal cruise, termasuk museum Anne Frank. Tempat lain tidak bisa kami kunjungi karena keterbatasan waktu perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Teman-teman benar-benar memilih yang menurut kami menarik. Tiket seharga 50 euro tersebut juga termasuk biaya semua moda transportasi seperti bis, tram dan kereta api dalam 24 jam hingga Minggu siang. 
I am Amsterdam peta dan pass.

Sebenarnya ada beberapa tempat khusus yang menurutku penting, tetapi saat ini sudah menyepakati dengan kawan-kawan untuk menikmati weekend ini dengan sebaik-baiknya dengan mereka. Aku mencatat dalam hati ada beberapa tempat, museum dan tur yang harus kuikuti saat berkunjung dengan hubby atau keluarga kapan-kapan. 
Walking tour di The Dam, Old Amsterdam, cita-cita lain. 

Kami kembali ke pusat kota Amsterdam Central Station, tetapi kali ini menggunakan bis dari bandara Schipol. Sambil menunggu bis datang, teman-teman berfoto di depan logo catchy kata-kata I am Amsterdam. Kata-kata ini merupakan promosi, maksudnya siapapun yang datang ke Amsterdam adalah bagian dari Amsterdam.  Banyak orang mengantri untuk berfoto di sana sehingga aku dan kawan-kawan harus berfoto dari kejauhan. Di balik kata icon tersebut kita bisa menunggu bis ke pusat kota.
Icon I am Amsterdam di bandara Schipol.
Teman-teman segrup menunggu bis ke kota di Schipol.

Bis tersebut membawa kami kembali ke pusat kota setelah melewati kawasan industri, padang-padang rumput luas, kanal-kanal, barisan pohon-pohon tak berdaun di awal musim semi, rumah-rumah di tepi kanal. Amsterdam merupakan kawasan dengan pertemuan tanah dan air serta muka air tanah tinggi atau yang biasa disebut wetlands, oleh karena itu terdapat banyak sekali kanal. Bahkan beberapa tempat di Amsterdam terletak di atas laut dan telah direklamasi. Tidak heran pemandangan rumah-rumah berdampingan dengan kanal banyak sekali bisa dilihat di kota ini.
Amsterdam termasuk wetlands. Rumah-rumah banyak dibangun di tepi kanal air seperti ini.

Rumah-rumah penduduk dengan facade khas. 

Kami melewati Rijkmuseum yang konon menyimpan lukisan epik Raden Saleh. Museum van Gogh letaknya tak begitu jauh dari museum terkenal tersebut.  Kami sangat bersyukur karena tak perlu antri lagi, setelah melihat antrian super panjang dalam cuaca dingin tersebut. Ternyata teman-teman telah membeli tiket tanpa antrian menggunakan pass I am Amsterdam. Biasanya ada biaya ekstra beberapa euro, tetapi tidak mengapa karena menghemat waktu selain menghadapi antrian masuk, antrian pemeriksaan kamera dan antrian penitipan barang serta jaket di dalam gedung museum. 


Van Gogh adalah pelukis yang terkenal dengan lukisan Sunflower, Iris dan the Starry Night. Sejarah mencatat perjalanan van Gogh sebagai pelukis, gaya melukis, obyek lukisan yang disukai dan kisah tragis hidupnya. Semua cerita lengkap hidupnya ada di link berikut
Bisa berfoto dengan self-potrait replika besar yang disediakan untuk turis.

Lukisan catchy Sunflower di area foto.
Sebagai seorang pelukis, van Gogh selalu tidak hidup berkecukupan dan mengalami kesulitan dalam hubungan dengan orang lain. Topik lukisannya paling banyak adalah alam, bunga, landscape. Aku mencoba menghitung berapa macam tanaman/bunga muncul sebagai obyek lukisan van Gogh. Barangkali terdapat 17-20 jenis tanaman yang dilukis van Gogh dan lukisan Sun Flower serta Irises yang paling terkenal diantara semua lukisan tersebut. Highlight terbaru dari museum tersebut adalah lukisan almond blossom. Bunga almond berwarna putih dilukis van Gogh dengan latar belakang langit biru kontras dan batang-batang hijau tua. Sungguh menarik.

Menurutku, museum ini sangat menarik dan tidak membosankan. Kehidupan van Gogh diceritakan dengan detil tetapi ringkas seperti mengikuti sebuah timeline. Museum mencoba menghadirkan momen-momen khusus terkait dengan lukisan-lukisan dan sumber inspirasi van Gogh. 

Tetapi kami tidak menemukan lukisan 'The Starry Night' yang menjadi lagu Vincent atau Starry Starry Night yang pernah dinyanyikan dengan powerful oleh Josh Groban, salah seorang penyanyi terkenal dari USA. Anyway, ternyata lukisan tersebut berada di Museum of Modern Art (MoMA), New York!  

Bersambung ke Weekend di Amsterdam (Part 2)

Pekanbaru, 2020

Wednesday, June 24, 2020

Tur singkat di kota Berlin

Februari 2015,
Workshop UNILEAD, Jerman. 

Untuk sesi kedua Workshop blended learning programme University Leadership and Management Training Course dimulai di Berlin, Jerman. Kami berada di kota tersebut selama 3 hari untuk melanjutkan training di Berlin University for Professional Studies dengan Professor Ada Pellert (Rektor Deutsche Universitat fur Weiterbildung). 

Setelah terbang selama 14-15 jam dari Jakarta ke Amsterdam, perjalanan berikutnya adalah menuju airport Berlin Tegel, Berlin. Aku super excited saat hendak landing karena dari pesawat bisa melihat betapa luasnya kota Berlin yang terkenal dengan bangunan-bangunan khas komunis dan tembok Berlin. Kota Berlin dibangun pada tahun 1244M dan dulunya merupakan ibu kota kerajaan Prussia, bagian Uni Soviet.  Dari jendela pesawat bisa dilihat Berlin Tower dan susunan bangunan kotak-kotak khas arsitektur Eropa Timur yang cukup teratur. 

Kota Berlin dari udara. 
Sehari sebelum training, kami diberikan kesempatan ikut tur dipandu guide lokal untuk mengunjungi beberapa tempat-tempat bersejarah di Berlin. Berhubung masa tinggal kami singkat dan penuh dengan jadwal belajar, maka kami hanya diberikan kesempatan melihat beberapa tempat-tempat utama saja. 

Tur dimulai setelah makan siang, jadi aku punya waktu mengunjungi Berlin Zoo setelah breakfast. Sebenarnya aku tidak khawatir pergi sendirian karena zoo tak jauh dari motel kami, tetapi TO, my BFF, bersikeras menemaniku ke sana. 

Berlin Zoo peta dan bagian-bagiannya.
Suhu di kota Berlin pagi itu sekitar 1-2 derajat Celcius, tetapi sayang sekali kalau dilewatkan dengan hanya bermalas-malasan di motel yang hangat tersebut. Berlin Zoo termasuk salah satu dari 10 Top Zoo di dunia. Zoo tersebut memiliki 20,000 binatang dari 1200 spesies dalam area seluas 33 hektar. Untuk mengunjungi setiap binatang dengan detil kemungkinan memerlukan beberapa hari di zoo. Pada saat itu, aku hanya tertarik melihat bison, penguin dan gorila yang terkurung dalam ruangan kaca memiliki pemanas khusus. 


Salah satu gorila andalan Berlin Zoo. 

Siang hari kami berkumpul di Berlin Botanischer Garten station untuk memulai tur dengan guide lokal. 

Menunggu bis ke Reischtag dan Bradenburg Tor. 
Miss SB, LO kami dari University of Oldenburg, membawa semua peserta naik bis kota ke Bradenburg Tor atau Bradenburg Gate. Pemandangan kota tetap sama, semuanya kuning kering karena masih masuk akhir musim dingin. Kami diajak dengan cepat ke gate tersebut dan mendengarkan sejarah mengenai gate yang menjadi simbol reuni Jerman Barat dan Jerman Timur. Gate ini awalnya terkenal di dunia saat tentara Napoleon Bonaparte mengadakan parade di bawah Bradenburg Gate setelah memenangkan perang dan menduduki ibu kota Prussia atau Berlin. 

Historic gate, Bradenburg Tor. 
Di sebelah Bradenburg Gate, terdapat Reischtag, gedung parlemen Bundestag, memiliki kubah seperti sarang lebah dibangun khusus pada tahun 1995 untuk modernisasi Reichstag. Sayang sekali untuk bisa masuk ke dalamnya perlu izin khusus. Kubah baru dengan rancangan arsitektur khusus dan ramah lingkungan tersebut menambah keanggunan bangunan tersebut. Salah satu tempat lain yang bisa dilihat adalah Holocaust Memorial di sebelah Bradenburg Gate. Tempat ini merupakan simbol peristiwa Holocaust yang melibatkan Nazi dan bangsa Yahudi. 

Watchtower
Selanjutnya kami diajak melihat bagian tembok Berlin di Postdamer Platz. Postdamer Platz sendiri adalah salah satu tempat tersibuk di kota Berlin dengan bangunan-bangunan futuristik yang sangat kontras dengan bangunan peninggalan kerajaan dan arsitektur khas Eropa Timur. Ada beberapa tempat menarik seperti Watchtower BT 6, berbentuk oktagon sehingga dapat melihat semua bagian dekat Bradenburg Tor. 

Tembok Berlin merupakan tembok paling terkenal yang memisahkan dua bagian Jerman, yaitu Jerman Barat yang demokratis dengan Jerman Timur yang sosialis dan merupakan bagian Uni Soviet pada tahun 1961.  Pemisahan kedua bagian ini berakhir dengan persatuan kembali pada tahun 1989. Ikut bersedih membayangkan keluarga terpisah, di bagian satu bisa hidup layak sedangkan bagian lain mengalami kesusahan karena blokade ekonomi.  Tembok sepanjang 140 km tersebut dijaga oleh tentara selama 24 jam sehingga selama puluhan tahun tidak ada yang bebas melintasi kedua daerah Jerman, padahal dalam satu negara.


Berlin Wall di Postdamer Platz.
Setelah berjalan menelusuri berbagai bangunan besar penuh dengan sejarah dan memori, akhirnya kami sampai di Topography of Terror, outdoor dan indoor musium.  Musium ini merekam berbagai jejak peristiwa dan kriminal perang yang menjadi bagian sejarah Jerman.  Aku merasakan berbagai emosi dalam hati saat berada di sana. 

Topography of Terror, outdoor dan indoor museum.


Ada perasaan kasihan, kesal, sedih sekaligus merinding seperti saat mengunjungi di istana presiden dan Chu Chi Tunnel di Saigon, atau Fremantle prison di Perth, karena belum bisa memahami banyak hal yang menjadi latar belakang peristiwa pahit tersebut. Di tempat ini bisa dilihat tembok Berlin yang lebih panjang dibandingkan bagian-bagian tembok tersebut di Postdamer Platz. Apabila diperhatikan baik-baik, di tembok tersebut terdapat banyak lubang-lubang bekas peluru tembakan. 


Pengunjung membaca dokumentasi di musium.  
Kami berpindah ke restoran yang telah dipilih Svenja untuk dinner kelompok menggunakan kereta bawah tanah setelah Topography of Terror. Suasana restoran cukup menyenangkan dan sangat menarik untuk inspirasi novel atau sejenisnya. Teman-teman menikmati makan malam tersebut, sementara aku hanya berani makan salad saja. 


All in all, tur singkat tersebut sangat berkesan karena kami bisa melihat dan merasakan atmosfir sejarah langsung di kota yang besar dan penuh peristiwa seperti Berlin. 

Berlin, Februari 2015
Pekanbaru, 2020

Thursday, April 2, 2020

Travel Update Year 2019

Setelah absen selama 2 tahun tidak bepergian jauh-jauh ke luar negeri, Alhamdulillah, akhirnya dengan izin dan rezeki Allah, suddenly aku bisa mengunjungi 20 negara dan beberapa tempat sekaligus pada tahun 2019. Perjalanan panjang tersebut memakan waktu cukup lama dengan beraneka funding, yakni dari program World Class Professor, DAAD Germany, Australia Awards Indonesia, Universitas Riau (LPPM dan Jurusan Teknik Sipil), dan DRPM Dikti. Kegiatan yang dilakukan meliputi visiting, research stay, training, conference, workshop, dan business trip yang sangat berguna untuk pengembangan personal dan profesional (personal and professional development).


Januari-Februari: Singapura (Singapura), Abu Dhabi dan Dubai (Uni Emirates Arab)


Lukisan Whistler's Mother
Setelah fokus mengedit prosiding konferensi ICANCEE2018 selama tiga bulan penuh pada akhir tahun 2018, aku memutuskan untuk refreshing di Abu Dhabi dan Dubai, tempat adik no 1 berdomisili sekarang. 

Kami mengunjungi Louvre Abu Dhabi, salah satu cabang Louvre Paris, karena ingin melihat lukisan termahal di dunia karya polymath Leonardo da Vinci, yakni Salvator Mundi. Sayang sekali lukisan itu belum dipasang di Louvre karena masih banyak konspirasi mengenai hal itu, sehingga lukisan terkenal yang lain seperti Whistler's Mother dari pelukis USA, James Whistler, jadi banyak dikejar pengunjung.  Jika tidak ingat, lukisan ini pernah muncul di film Mr. Bean. Madame Whistler digambarkan sebagai sosok sederhana, religious tetapi telah menyeberangi lautan Atlantik sebanyak 11 kali untuk menemani suami dan anaknya bepergian ke berbagai negara. Mengenai lukisan ini selengkapnya di sini.

Kami berdua melakukan kegiatan seru lain seperti lunch di tepi pantai di Sharjah, mengunjungi museum sains dan teknologi Sharjah, naik ke puncak Dubai Frame, shalat di Syekh Zayed Grand Mosque, duduk di tepi pantai dan belajar sejarah bangsa Emirat di Abu Dhabi Heritage Village, duduk berdua menikmati malam di Dubai Creek dari jendela kamar hotel, dan traveling darat ke kota Fujairah yang cukup jauh dari Abu Dhabi.  


Maret-April: Europe
Perjalanan ke beberapa negara di Eropa dilaksanakan pada akhir Maret dan awal April bersama kedua orang tuaku.  Kali ini kami tim jalan-jalan yang selalu bertiga diberi Allah rezeki melihat bumi dan ciptaan Allah, kata ibuku, seperti dalam surat Al Mulk ayat 15.  Agar praktis, kami mengikuti paket tour untuk bisa keliling ke beberapa kota dan negara tanpa perlu pusing mengatur transportasi dan akomodasi lokal sehari-hari. Tur sendiri kami ambil dari West Europe, Keukenhof 13D dari Bayu Buana Tour dan Travel. Persiapannya cukup memakan waktu dimulai dari Desember 2018. Alhamdulillah, akhirnya pada 23 Maret 2019 kami terbang dari Jakarta ke Roma untuk memulai perjalanan tour tersebut.  Berdasarkan itinerary, kami mengunjungi 16 kota/tempat di 9 negara, yakni Roma, Pisa dan Venesia (Italy), Vatican City (Vatican), Innsbruck (Austria), Frankfurt, Cologne, Black Forest (Jerman), Zurich, Engelberg, Luzerne (Switzerland), Vaduz (Liechtenstein), Amsterdam, Volendam (Belanda), Brussels (Belgium) dan Paris (Perancis). Untuk perjalanan pulang, kami terbang dari Paris menuju Jakarta melewati Abu Dhabi (lay over beberapa jam ke toilet) menggunakan A380. Perjalanan di Eropa menggunakan bis eksekutif dengan 25 orang peserta tour dan satu tour leader. Umumnya peserta adalah suami-istri, maupun keluarga dengan anak dan grup arisan. It was such a great memory with my parents in 2019, apart from other trips with them all over the world, that I will treasure forever in life.  

Italy, Switzerland, France, Germany and Netherland with my parents.

Juni: Jakarta-Cipanas
Setelah hari raya Idul Fitri, kami mengajak bapak-ibu mertua dan saudara-saudara ipar serta keponakan berlibur ke Cipanas, Puncak.  Vila yang kami tempati letaknya di lembah dekat dengan sungai dan tebing penuh gemericik air.  Tempat tersebut sangat menyenangkan karena bisa menikmati alam, udara bersih dan piknik dengan keluarga.  Kami ke tempat-tempat menarik, menikmati taman bunga, udara khas pedesaan dan makanan khas di tempat tersebut. Sayang sekali perjalanan pulang ke Jakarta luar biasa padat sehingga kurang berkesan. Tetapi kami bersyukur bisa membawa bapak ibu, pakde bude, dan keluarga besar bersama-sama meskipun hanya sehari. 

Bersama bapak-ibu mertua dan hubby saat breakfast. 
Suasana vila di waktu malam.

Juli: Mataram, Jakarta 
Perjalanan ke Mataram, Nusa Tenggara Barat dan Jakarta dalam rangka bekerja dengan tim internasional.  Pada perjalanan ini aku lebih banyak fokus mengerjakan tugas-tugas dan tidak banyak sightseeing. Di Lombok aku mencoba sate kuda rembiga! Itulah hal yang paling adventurous saat itu.  Selama di Jakarta, aku belajar banyak hal yang membantu diriku fokus menapaki jenjang karir dan recharging mental dan mind set saat bekerja dengan tim asing. 


Sate rembiga daging kuda dan urap daun pepaya.

Agustus: Bandung, Kuala Lumpur (Malaysia), Adelaide (Australia)

Setelah dari Jakarta, kami melanjutkan perjalanan ke Bandung untuk mengikuti pelatihan reviewer penelitian DRPM.  Jadwalnya padat hingga sehari menjelang Idul Adha, materinya menarik, pelatihannya juga mantap, selama di situ aku harus belajar semua aturan-aturan menteri keuangan, dirjen, dll, yang tak sempat dibaca kalau di kampus.  Pada pelatihan tersebut aku berjumpa para reviewer yang kukagumi karena kredibilitas mereka karena sudah bertahun-tahun membantu Dikti. Misalnya Prof. Suminar dari IPB yang pernah mendorongku untuk studi S3 dan giat bekerja dalam bidang publikasi dan penelitian.  Rasanya bangga sekali sekarang bisa bergabung dengan tim reviewer DRPM untuk membantu mereka menyeleksi proposal yang layak didanai.


Bersama Prof. Suminar, reviewer DIKTI paling senior dan salah satu mentorku

Kegiatan berikutnya setelah Idul Adha adalah World Class Professor di University of Adelaide, Australia dengan dana dari SDM Dikti. Alhamdulillah, tahun 2019 ini kami mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan Prof. Shaobin Wang dari School of Chemical Engineering and Advanced Materials.  Kegiatan tersebut adalah untuk fine-tuning artikel ilmiah, melakukan visiting research dan kegiatan akademik lain selama durasi World Class Professor. Pengalaman mengunjungi University of Adelaide sebenarnya membuka wawasan dan semangat baru untuk kolaborasi serta riset postdoctoral di Jerman.  Satu lagi, pengalaman mengelola WCP skema B membantuku mengingat kembali dasar-dasar pengelolaan proyek universitas.  Perjalanan ke Adelaide menutup rangkaian traveling Juli-Agustus selama 40 hari berturut-turut. 


Diskusi bersama Prof. Wang di Adelaide University, Australia. 

Guest Lecture Prof. Wang di Universitas Riau, Pekanbaru.

September-Oktober: Europe
Beberapa hari setelah kunjungan Profesor WCP ke Universitas Riau, aku dan hubby berangkat ke Jerman melalui Doha.  Kegiatan selama 21 hari di Eropa adalah berlibur dengan tur GoEUGo (salah satu operator dari Belanda), mengikuti konferensi EACEF7 di University of Stuttgart, dan menghadiri training Women in Leadership, Alumni UNILEAD  Khusus untuk training tersebut, aku dan Yuli kolega dari UNJ telah terpilih mewakili Indonesia.  

Persiapan untuk perjalanan panjang selama 25 hari dan meliputi 8 negara merupakan kesempatan dari Allah untuk merecharge sisi internasionalisasi, riset dan leadershipku.  Kami mengunjungi Doha (Qatar), Frankfurt, Munich, Black Forest, Stuttgart, Oldenburg (Jerman), Prague (Cekoslavia), Budapest (Hungaria), Bratislava (Slovakia), Vienna, Mondsee (Austria), Zurich, Engelberg, Luzerne (Switzerland), Vaduz (Liechtenstein).  Meski demikian, bersama hubby kami bisa mengunjungi 8 negara selama 8 hari.  Aku bersyukur bisa mengajak hubby ke Engelberg, menaiki gunung Titlis naik Rotair 360deg untuk mendapatkan pengalaman yang sama saat pergi dengan orang tuaku bulan Maret lalu. Di Stuttgart kami berjejaring dengan staf di sana dan di Oldenburg aku menikmati persahabatan dengan teman-teman leaders wanita dari berbagai negara. 


Mount Titlis, Swiss. 
EACEF7, University of Stuttgart, Jerman.
UNILEAD Alumni Workshop Women in Leadership, Univ. of Oldenburg, Jerman.


November: Bogor
Pada tahun ini aku mendapat undangan untuk mengikuti seminar hasil Penelitian Dasar  skema Material Maju DRPM Dikti di IPB Convention Center, Bogor. Pada kegiatan tersebut aku harus mempresentasikan berbagai temuan dan kegiatan terkait Penelitian Berbasis Kompetensi didanai pada tahun 2018-2019. Semua peneliti mendapatkan kesempatan mempresentasikan dan mendiskusikan hasil penelitian mereka dipandu oleh reviewer nasional.  Kegiatan yang cukup mendadak ini benar-benar membuat kami maraton berhari-hari mempersiapkan profil, poster, buku, log book dan luaran lain yang belum tertata dengan rapi. Sistem diskusi yang terbuka di antara peserta sangat membantu membuka jejaring baru dan kolaborasi penelitian maupun publikasi. Alhamdulillah, karena berhasil mendapatkan penyaji terbaik pertama pada kelompok tersebut.  Semua ini membuatku semakin yakin bahwa topik penelitian tersebut memiliki USP (unique selling point) dan novelty yang cukup baik sehingga tambah semangat untuk melanjutkan banyak kajian dan publikasi di masa mendatang. 


Kelompok dua, skim Material Maju, Penelitian Dasar DRPM Dikti.

Alhamdulillah, satu lagi piagam penghargaan untuk tahun 2019:)


Desember: Jakarta
Leg terakhir di bulan Desember adalah kembali ke Jakarta dengan tim seminar alumni DAAD. Host kami dari Univ. of Applied Science Kiel-UKI-UMY, dengan fasilitator Dr. Britta Thege, dan Dr. Mareika Klara. Selama beberapa hari kami berdiskusi, bertukar pikiran, dan mengunjungi tempat-tempat seru seperti kantor UN, kantor DPR, dan had a beautiful dinner together di restoran Makassar.  Kegiatan ini menambah lagi input dalam diriku untuk stay calm, stay focus dan stay strong dalam mewujudkan mimpi profesionalku. Draft tulisan tentang kepemimpinan perempuan di perguruan tinggi sudah bertambah analisanya. Draft proposal Alumni Grant Scheme untuk membangun network antar perguruan tinggi telah didiskusikan dengan Mareika dan Britta. Mudah-mudahan semua mimpi bisa terwujud pada tahun 2020-2021. 

Tim Seminar Alumni DAAD 2015-2020

Alhamdulillah, so many ideas, insights, developments, etc. Mudah-mudahan bisa terulang lagi di masa mendatang. 

Pekanbaru, 
Alhamdulillah, I'm so grateful, Allah.
A very memorable hectic 2019.