Showing posts with label Scientist Wanna Be. Show all posts
Showing posts with label Scientist Wanna Be. Show all posts

Friday, August 7, 2020

Selamat tim Program Kreativitas Mahasiswa Tahun 2020

Seperti yang telah disampaikan dalam post terdahulu, salah satu fokus karirku adalah keterlibatan dalam program pengembangan kreativitas mahasiswa. 

Bermula dari Research Club (2003-2006) dengan sederet prestasi, setelah itu secara bertahap mulai tahun 2016, 2017, 2018, 2019 dan sekarang 2020, Alhamdulillah terdapat 7 tim mahasiswa bimbingan mendapatkan dana PKM untuk melakukan berbagai topik penelitian mereka.

Semua tim tersebut adalah bagian dari rencana pengembangan grup riset Sustainable Concrete Technology yang didirikan sejak tahun 2018. Topik-topik yang diangkat harus memiliki nilai inovasi tinggi dan manfaat bagi masyarakat luas. 

Tantangan PKM 2020 adalah produk berbasis digital menggantikan produk fisik seperti teori, konsep, dll. Untuk luaran berupa video saintifik dan review naratif, insya Allah sudah ada beberapa strategi melaksanakannya dengan baik. Saat ini mahasiswa baru dikenalkan addendum panduan PKM, sementara ibu pembimbing menyiapkan langkah-langkah penyelesaian luaran PKM agar pesan-pesan luaran tersampaikan dengan jelas dan baik.

Selamat bagi tim PKM yang telah berjuang keras dan bersabar menyelesaikan proposal, merevisi dan mengupload proposalnya meski harus mengerjakan berbagai kegiatan dan aktivitas lain. Ibu kira ketahanan mental kalian sangat membantu memudahkan proses selanjutnya setelah proposal selesai. 

Selamat berjuang, semoga kita menjadi juara. 

Pekanbaru,

Tuesday, June 16, 2020

Pertama kali ikut Research Colloquium

Pengalaman pertama kali presentasi hasil saat PhD study

Pengumuman Research Colloquium Faculty of Engineering, Curtin University, sudah dimulai sekitar bulan September 2007. 

Tapi dasar procrastinate, adaaaa aja alasan untuk ga submit abstrak sampai detik-detik terakhir. Ingin dapetin hasil dulu-lah, belum cukup materi untuk presentation-lah, sampe ga tau juga mo submit judul apa, hahaha (bener-bener student yang ga perlu ditiru).

Setelah hari deadline datang, aku masih belum submit abstrak apa-apa juga. 
OC udah bertanya terus hingga extend jadwal pengumpulan. 
Rasa-rasanya topik itu sudah ada dalam bayangan, tapi, apa iya itu topik yang tepat? Mungkin ada topik lain yang lebih seru untuk didiskusikan? 
Ini gaya procrastinator sejati, ya, kalo udah last minute, tentu saja topik yang ada jadi topik terbaik--- soalnya sudah tidak ada pilihan lagi!


Beton yang siap diuji cover testing qualitynya.

Sampe hari extended submission, aku masih belum mendapatkan ide yang pas sesuai dengan data-data yang ada saat ini. Ternyata perlu banyak waktu untuk mempersiapkan topik pilihan itu. Bolak-balik search literature dan bongkar website sana-sini, akhirnya aku memutuskan memakai judul COVER QUALITY TESTING. 

Idenya datang dari website Papsworth. Cover Quality Testing itu terkait dengan nilai permeability, sorptivity dan Volume Permeable Voids (VPV) pada beton. Barangkali saat melakukan pengujian-pengujian yang kukira mudah tersebut, ternyata bisa dikategorikan menjadi sebuah kesatuan di bawah topik Cover Quality Testing. 

Pengujian permeability, VPV dan sorptivity dari beton geopolimer dapat dijelaskan dengan ringkas.  

Permeability itu berhubungan dengan perpindahan air dalam beton akibat tekanan. 

Sedangkan VPV adalah besarnya volume voids/rongga dalam beton yang dimasuki oleh air. Rencananya data-data ini dipakai untuk mengevaluasi kemudahan air masuk ke dalam beton, sehingga dapat memprediksi kemudahan ion klorida masuk ke beton secara difusi.  

Apabila nilai koefisien difusi besar, ada kaitannya dengan nilai permeabilitas yang besar.  Agar kecepatan air masuk melalui dalam selimut beton diketahui, maka aku menambahkan test sorptivity. 

Setelah konfirmasi ke OC, akhirnya aku disibukkan membuat slide presentasi. Dasar amatiran, awalnya slide tersebut panjang sekali dan super detil. Tapi aku ingat, gaya presentasi Western kan mesti tepat-tepat, singkat, dan jelas. Apalagi ini buat audiens umum, bukan specific audience (sebab itu disebut colloquium). 

Aku harus membuat slide yang sederhana, menarik dan mudah diikuti oleh audiens. Beberapa teknik penyajian aku coba-coba, akhirnya model tabel perbandingan data saja yang aku siapkan.  Melalui teknik tersebut, key points dari riset ini bisa dilihat dengan jelas. Mudah-mudahan audiens bisa menangkap maksud kita dengan cepat. 

Setelah presentasi selesai, beberapa teman asing memberikan ucapan selamat. 

Surprise juga. Mungkin mereka just try to be nice saja. 

Tapi aku tetap senang, karena debut pertama di RC cukup sukses sehingga memberikan sedikit rasa pe-de bahwa sebenarnya aku bisa menghasilkan presentasi yang bisa diikuti audiens dari berbagai bidang ilmu dan latar belakang budaya.

Perth 2007,
Pekanbaru 2020.

Selamat, ya, jangan mepet lagi.

Wednesday, May 27, 2020

Kompetensi Mahasiswa via MBKM

Bincang-bincang tentang MBKM. 
Merdeka Belajar, Kampus Merdeka. Kali ini tentang Kompetensi Mahasiswa via MBKM. 
Webinar dari Prodi Kimia UNJ, dengan pembicara Prof. Intan Ahmad, mantan Dirjen Belmawa Kemenristekdikti.




Perubahan yang terjadi secara signifikan secara global masa kini, membuat mahasiswa dituntut memiliki keahlian kognitif agar dapat bekerja dengan baik dalam berbagai bidang pekerjaan. Mahasiswa tidak hanya punya kompetensi di bidangnya, tetapi juga dapat memperbaiki permasalahan di lingkungan masyarakat. 

Selain itu mahasiswa perlu memiliki keahlian adaptasi (ingat agile learner?), karena di MBKM mahasiswa diberi kesempatan merasakan berbagai pengalaman dan belajar dari pengalaman tersebut (experiential learning).  

Mahasiswa harus menguasai kompetensi dasar (capaian pembelajaran) lewat perkuliahan.

Tetapi, ada yang disebut critical thinking. 
Critical thinking/berpikir kritis = berpikir secara kritis dalam memandang berbagai hal. 
Critical thinking = proses berpikir dengan hati-hati mengenai sesuatu atau seseorang, tanpa melibatkan perasaan atau pendapat yang mempengaruhi kita.

Untuk menghadapi perubahan tidak menentu di masa depan, maka ada satu set keahlian (cognitive capacities) yang diperlukan mahasiswa agar menjadi mahasiswa yang kompeten dan bisa menyelesaikan permasalahan masyarakat di sekelilingnya:
1) Critical and system thinking --> kritis dan terstruktur
2) Enterpreneurship (creative mindset) --> bisa melihat kesempatan dibalik permasalahan
3) Cultural agility (global credentials) --> pengalaman belajar dan bekerja di budaya/negara lain.















Kemampuan bisa membaca, menulis dan matematika harus dikuasai, tetapi ada kemampuan lain yang diperlukan, yaitu data literacy (kemampuan membaca, menganalisis dan menggunakan data),  technology literacy (kemampuan memahami proses mesin dan aplikasi teknologi), serta human literacy (kemampuan berkomunikasi).   Untuk dapat menguasainya, kita harus selalu bersemangat belajar, dan belajar keahlian baru. 



Prof. Intan juga menyampaikan beberapa faktor penting dari kemampuan keahlian berpikir kritis di dunia kerja:
1) Berani mengerjakan hal baru (out of the box), belum ada yang mengerjakan, adaptif, inisiatif dan self-directed. Misalnya kalau diberi atasan tugas yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh orang di tempat kerja tersebut, maka kita harus mau  mengerjakannya dengan baik meskipun itu mission impossible. 

2) Mampu melihat sesuatu secara mendalam yang tidak dilihat orang lain (analytical, curious), insightful. Kemampuan untuk 'connecting the dots' atau menghubungkan titik-titik yang bertebaran di sana-sini, adalah salah satu faktor penting dalam berpikir kritis. Berbagai informasi bisa digabungkan dan diproses dengan cepat karena kita bisa mencari benang merah dari berbagai persoalan. 

3) Pendekatan yang tepat, problem solver, creative solutions (good judgement). Aku jadi ingat mengenai problem solver dan engineering judgement. Inti dari keahlian bidang teknik adalah 'problem solver', mampu memecahkan masalah baik secara terstruktur maupun intuitif. Jika intuitif, bukan berarti lepas berdasarkan feeling saja, tetapi telah melewati serangkaian analisis sehingga dapat diperoleh 'good engineering judgements'.

4) Dapat memahami dinamika kelompok dan membangun team work. Keahlian untuk berbicara kepada stakeholders (pro atau cons) sehingga ide baik bisa dikerjakan bersama, dijadikan kepemilikan bersama, dan team work yang baik dapat membantu kita pindah ke next level.

5) Inspiratif, pandai berkomunikasi dengan pihak lain.  Kemampuan menyampaikan informasi dengan santun, jelas dan tidak abu-abu, serta memberikan inspirasi kepada orang lain. Untuk bisa inspiratif biasanya kita perlu banyak membaca buku atau berinteraksi langsung terhadap mahasiswa. 

Lebih jauh lagi Prof Intan mengajak para dosen agar memiliki hidden agenda untuk meningkatkan kompetisi tersebut.  Misalnya dengan memberikan tugas-tugas yang memungkinkan team work, problem solving, connecting the dots sehingga mahasiswa terlatih untuk memliiki pikiran kritis. 

Mahasiswa dan dosen yang berminat dapat mendengarkan kembali video live webinar ini pada link tersebut. 

Pekanbaru,

Saturday, May 16, 2020

Tiba-tiba kita menjadi penggemar Webinar saat WFH s

Beberapa tahun lalu aku sempat menjadi pelanggan webinar mengenai penelitian, mereview paper, menulis proposal, membuat artikel, dan aneka topik lain dari Elsevier Publishing Campus (sekarang namanya menjadi Elsevier Researcher Academy).  Apalagi pada masa-masa itu dapat e-certificate sangat menyenangkan, bisa menambah isi CV dan pengetahuan kekinian mengenai riset dan publikasi. Tim Publishing Campus juga generous dengan topik-topik terbaru seperti Networking, Make your publication visible dan career path dalam riset. Semua itu memberikan keahlian dan kompetensi yang diperlukan sebagai seorang peneliti, reviewer dan penulis makalah saat ini. 



Meeting online dengan tim konsultan ACER

Satu bulan setelah WFH berjalan, aku menemukan kesenangan baru, yaitu video meeting online. Meskipun boros pulsa, tapi bisa menyampaikan informasi dan mendapatkan umpan balik dengan cepat lebih melegakan. Kecepatan dalam berinteraksi juga menjadi salah satu ukuran dalam menyelesaikan pekerjaan saat WFH. Kita tetap bisa mengejar ketinggalan dalam pekerjaan dan saat bersamaan tetap produktif. Kita menemukan pola-pola komunikasi baru yang lebih efektif dan efisien lewat video meeting, misalnya harus dapat menyampaikan message dalam waktu singkat, merespon bergantian sehingga semua orang kebagian kesempatan berbicara, bisa merancang meeting dalam waktu singkat, meeting dengan berbagai orang dari negara lain, hingga bisa berbagi layar sambil belajar dan asistensi dengan mahasiswa. 



Webinar Unpad-German Ambassador to Indonesia
Tetapi, setelah dua bulan WFH berjalan, aku malah jadi sering mengikuti webinar. Ini cara pengisi waktu luang yang baru. Apalagi dengan berjalannya waktu, banyak sekali tawaran-tawaran webinar dari berbagai institusi di dalam dan luar negeri untuk berbagi informasi dan pengetahuan mengenai berbagai hal.  Beberapa hal yang dulu hanya bisa diikuti dalam hitungan bulan, tahun, karena ikut seminar atau konferensi, mendadak bisa dijadikan kegiatan harian bahkan berpindah-pindah webinar dari satu tempat ke tempat lain. Hari ini aku mengikuti webinar tentang STEM dari UNJ, setelah itu Indostaff serial talk series dari alumni pelatihan DAAD. Beberapa hari yang lalu webinar dari Unpad dengan mendatangkan Duta Besar Jerman di Indonesia. Next time, aku juga akan register ikut webinar beberapa petinggi Kemendikbud dan tim Baltic Gender di negara-negara Baltic. 

Webinar UNJ-Rachel Seffield, STEMinist Research Group

Luar biasa hobi baru ini. Tentu saja aku selektif memilih topik, sesuai minat (gender, internationalization, current development in higher education), dan pengisi acara (pimpinan, pejabat Kemendikbud, dan pihak internasional) agar waktu kerja tidak habis juga. Selain ingin tetap mengupdate wawasan di bidang-bidang tersebut, aku juga ingin mempermahir kemampuan English dan menambah vocab melalui seminar bermutu dalam topik yang relevan. Hanya sayangnya hingga saat ini belum ada webinar topik riset yang bisa diikuti, karena dari American Concrete Institute biasanya berbayar.  Kesukaanku pada webinar ini dapat membantu transfer informasi dengan cepat tanpa harus berangkat ke negara tertentu hanya mendengarkan pembicara favorit di bidang-bidang tadi melalui seminar dan konferensi. Mungkin ini akan jadi hobby baru setelah WFD kembali normal. 


Webinar Indostaff Series Talks 1

Pekanbaru, 

Saturday, July 13, 2019

Back home again! Menulis lagi!

Keinginan kembali ke 'rumah' lowlymonita.blogspot.com sudah ada beberapa tahun lalu. Blog inipun sempat ditutup karena beberapa pertimbangan. Sibuk mengurus hal-hal lain, kebiasaan menulis dan sharing malah jadi terlupakan. 

Kali ini aku akan memprioritaskan menulis di blog ini supaya semua terecord dengan baik dan bisa jadi ladang amal di akhirat kelak. 
Aamiin. 

Aku kehilangan skill menulis karena banyak membimbing dan meneliti lalu buru-buru publikasi di media lain. Setelah melihat indeks sitasi Google Scholar (GS) yang lumayan menanjak tahun 2019 ini, baru aku merasa, bahwa menulis itu memang skill dan passion, lalu artikel jurnal, artikel prosiding, dan blog adalah marketnya. Sejak itu aku bertekad untuk mengulang lagi kebiasaan lama, menulis banyak-banyak, membaca buku-buku, dan mempublikasikan tulisan lewat blog, jurnal, media online, dll. 

Ini profil GS yang kuceritakan di atas. 


























Nah, maksudnya gimana nih. Udah segitu yang sitasi (cited by). 

Ada lagi profil dari lembaga pengindeks terkenal, Web of Science, yang membuatkan slot peran sebagai reviewer. Tidak hanya penulis, tapi juga sebagai reviewer terverifikasi oleh Publons. 













Nah, data sebagai reviewer ini juga lumayan karena sekarang naik pangkat ke Guru Besar (GB) juga perlu bukti kalau kita memang ahli mereview. Soal tips mereview, silakan cek link berikut. 

Satu lagi yang baru dijajal adalah sebagai penulis artikel bidang Pengabdian Kepada Masyarakat. Sebenarnya sudah ada tiga artikel di jurnal Sinergitas PKM & CSR, berikut salah satu contohnya:


























Tulisan ini dibuat bersama mahasiswa PKMM (Pengabdian Kepada Masyarakat) yang telah selesai mengadakan kegiatan pada tahun 2018. PKMM ini didanai Kemenristekdikti dan mendapat sambutan baik dari warga Kualu Nenas. 

Melihat-lihat lagi progress beberapa tahun vakum di blog, rasanya ada yang kurang kalau tidak menuliskan proses, hasil, atau hanya sekedar berbagi ide dan motivasi. 

So, I'll be back with more posts. Hore, menulis lagi!!!

Pekanbaru,

Saturday, September 15, 2018

Repost: Menjadi Reviewer Jurnal

Catatan:
Beberapa post penting sempat hilang dari blog akademik yang rutin diisi. Oleh sebab itu semua post akan dipindah sesuai tanggal publish ke blog ini sebagai pertinggal agar selalu bisa diakses. 

Repost dari link berikut. 

Salah satu pekerjaan yang cukup menantang sisi keilmuan saya adalah menjadi reviewer untuk jurnal.

Sebagai seorang reviewer, kita harus independen dan tidak terbawa emosi dalam mengevaluasi sebuah riset. Ada kalanya kita harus sabar dan pelan-pelan memahami maksud author dalam mengungkapkan hasil risetnya. Terkadang author terlalu bertele-tele di satu sisi, tetapi di sisi lain terlalu ringkas sehingga maksud penulisan tidak terbaca dengan jelas.
Kadang-kadang kita menemukan 'missing link' dalam sebuah penulisan. Saya cenderung memberikan masukan untuk struktur artikel agar 'flow' penulisan terjaga dan artikel enak diikuti. Kita harus terus menilai sisi koherensi sebuah artikel dengan obyektif sehingga tidak memiliki praduga awal. Kemudian kita bisa memberi masukan kepada author bagaimana cara agar mereka fokus dan semua teori maupun fakta bisa diliput dalam artikel tersebut.
Di samping itu, data mestilah robust. Untuk menilai sebuah artikel sukses atau tidak, bukan sekadar data dengan penyajian rumit, tetapi data dapat dibaca, dimengerti dan meyakinkan. Terkadang kita harus kembali mengecek metodologi apakah pengambilan data sudah mengikuti prosedur yang benar. Jika ada modifikasi, bagian mana yang dimodif dan apa akibatnya terhadap data.
Format penulisan juga perlu dicocokkan dengan style jurnal target. Author sering mengabaikan hal ini demi mengumpulkan artikel sesuai tenggat waktu mereka. Jika mayor, maka author diminta mengikuti format dengan strict. Jika evaluasinya minor, maka hal-hal kecil seperti salah tanda, typo, tidak perlu dicek semua, hanya berikan contoh dan minta author mengubahnya supaya konsisten dan seragam.
Secara bertahap kita bisa menguji argumen penulis dengan data dan teori yang disajikan. Bagian inilah yang tersulit dalam mereview sebuah artikel. Apakah dengan asumsi awal, metode, data, dan pembahasan, maka didapatkan benang merah tulisan, dan dapat dirangkum dengan baik dalam kesimpulan?  Jika tergambar dengan baik dan kekuatan argumen tinggi dibuktikan dengan fakta hasil penulisan, maka artikel dapat direkomendasikan untuk diterbitkan.
Artikel seperti apa yang pernah saya tolak? Pertama, flow tulisan sulit diikuti. Kedua, data yang disajikan tidak lengkap dan kurang robust. Ketiga, tidak ada benang merah antara masalah, metode, hasil dan kesimpulan.
Bagaimana dengan masukan kita, apakah didengarkan Chief in Editor? Sekitar 90-95% artikel yang saya review, memang diterbitkan dalam jurnal. Ada artikel yang direkomendasikan ditolak, memang ditolak. Tetapi kecil dari 5% artikel yang saya tolak, tetap direkomendasikan untuk diterbitkan. Nah, di sini saya sering mengevaluasi apakah saat mereview saya kurang independen atau kualitas riset outperfomed teknik penulisan. Bagian ini cukup challenging, sehingga harus sering mempelajari style artikel dari sebuah jurnal dan mengikuti kebaruan di bidang riset tertentu.

Pekanbaru,

Thursday, August 30, 2018

Mendampingi Mahasiswa ke PIMNAS 31 2018 di UNY Yogyakarta


Catatan:
Beberapa post penting sempat hilang dari blog akademik yang rutin diisi. Oleh sebab itu semua post akan dipindah sesuai tanggal publish ke blog ini sebagai pertinggal agar selalu bisa diakses. 

Repost dari link berikut. 


Pada tahun 2006, salah satu tim mahasiswa bimbingan saya berhasil mewakili Universitas Riau ke PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) ke 19 di Malang. Penelitian mengenai serbuk kaca untuk mortar tersebut dipresentasikan ketiga mahasiswa tanpa pendampingan saya yang sedang mempersiapkan diri untuk S3 di Curtin University, Perth.
Alhamdulillah, pada tahun 2018, sekitar 12 tahun kemudian, saya mendapatkan kehormatan mendampingi 2 tim mahasiswa ke ajang bergengsi tersebut. Kedua tim berasal dari tim besar terdiri dari 18 orang berikut.

Satu tim melakukan PKMM (pengabdian kepada masyarakat) dan tim kedua melaksanakan PKMP (penelitian). Tim PKMM mengangkat tema eco-friendly gabion untuk mengatasi erosi tebing, dan tim PKMP meneliti penggunaan serat karet dan abu sekam untuk material perkerasan kaku di tanah gambut. 



Kedua tim sama kuat dan sama-sama berprestasi sehingga mendapatkan kesempatan membimbing dan mengantarkan mereka ke PIMNAS 31 di Yogyakarta, it was just like 'an old dream come true'. Akhirnya saya bisa mendampingi tim langsung dan mengalami sendiri PIMNAS yang penuh dengan inovasi, kreasi dan kompetisi.
Saat melihat presentasi dari tim-tim mahasiswa berbagai universitas lain, saya merasa bersyukur sekali karena melihat banyak inovasi oleh tim mahasiswa. Persaingan pada level ini merupakan inovasi, bukan semata keberhasilan penyelesaian program saja. Tim mahasiswa harus siap mental menghadapi pertanyaan, keraguan dan cercaan dari juri. Saya melihat proses ini sangat baik untuk membantu mahasiswa lebih kritis dan asertif dalam berkarya. Sebagai dosen pendamping, saya senang karena mahasiswa bisa melihat keduanya, yakni keunggulan dan kelemahan kegiatan PKM mereka.
Kami berbagi tugas untuk mengamati kelas PKMM dan PKMP serta mempelajari pertanyaan-pertanyaan juri agar kegiatan yang dilaksanakan pada masa mendatang bisa lebih baik lagi. Kesuksesan di PIMNAS tidak hanya pelaksanaan, tetapi eksekusi, kekompakan dan paling penting inovasi untuk menyelesaikan masalah masyarakat.

Semoga suatu hari saya bisa mendampingi mereka (baca: mahasiswa) untuk mendapatkan medali.



Pekanbaru,

Saturday, December 30, 2017

Memaknai Tema Tahunan dalam Karir Akademik

Catatan:
Beberapa post penting sempat hilang dari blog akademik yang rutin diisi. Oleh sebab itu semua post akan dipindah sesuai tanggal publish ke blog ini sebagai pertinggal agar selalu bisa diakses. 

Repost dari link berikut. 


Sejak tahun 2012, saya mulai merefleksikan mayoritas kegiatan-kegiatan dan pengembangan diri yang dilakukan pada tahun tersebut menjadi sebuah tema tahunan. Merujuk pada post sebelumnya di tahun 2016, ada beberapa tema tahunan, yakni:
Tahun 2012 = tahun data base (mengupdate, mengumpulkan, dan mereview data serta kinerja)
Tahun 2013 = tahun traveling (ke beberapa negara)
Tahun 2014 = tahun internationalization dan networking (highlight: Unilead Germany dan Alumni Reference Group Australia Awards in Indonesia)
Tahun 2015 = tahun creating content and sharing insight (belajar jadi narasumber, public lecture, conference)
Tahun 2016 = tahun community service (highlight: flipmas Batobo)
Pada tahun ini Allah mengundang saya mengasah skill-skill lain.
Tahun 2017 = tahun mentor, auditor, examiner and reviewer (internal Unri dan external Unri, ISO 9001:2015, Australia Global Alumni).
Tema tahun 2017 ini memiliki pesan amat mendalam selain amanah besar untuk memberikan pertimbangan atau rekomendasi tepat sasaran dan bermanfaat melalui evaluasi dan pertimbangan cermat mengenai kapabilitas seseorang. Menjadi seorang mentor, examiner dan reviewer juga berarti membantu orang lain agar dapat berkontribusi bagi perubahan dan pengembangan di berbagai bidang di Indonesia. Apa yang menjadi keputusan bersama akan dapat mengubah banyak hal dari diri dan orang di sekeliling pelamar sendiri.
Pelajarannya dari kegiatan ini adalah: be humble, treat everybody equal because they're potential candidates, speak from your heart, and share your knowledge on how to improve their abilities.
Tema tahun ini juga memerlukan networking, manajemen waktu terbaik, daya juang, daya tahan, semangat, integritas, ketajaman berpikir, bisa memberi feedback dengan fair, dan bersikap etis. Thinking outside the box, pengamatan dan mau keluar dari comfort zone. Banyak membaca, rajin diskusi dan mengikuti perkembangan terbaru di bidang ilmu. Harus berani masuk ke situasi-situasi yang tidak familiar lalu menghadapinya dengan profesional tanpa banyak mengeluh. Harus bisa juga membuat keputusan-keputusan kritis berdasarkan fakta, pengalaman dan jam terbang dan merekomendasikan sesuatu yang dampaknya besar dalam jangka panjang serta memiliki multiplier effect di masyarakat. Easy to say, but difficult to imply it.
Tanpa disadari lama-lama saya lebih lincah memberi feedback dan mampu memandang dari berbagai angle kepentingan untuk membuat keputusan.
Alhamdulillah. Moga tema kegiatan tahun berikutnya lebih seru lagi.

Friday, December 22, 2017

Belajar menjadi Auditor Internal ISO 9001:2015

Bulan ini saya mendapat pengalaman mengaudit kinerja sebuah lembaga di Universitas Riau. It’s a new experience, dan sejalan dengan professional development yang saya lakukan pada tahun ini.
Melalui pelatihan dari konsultan profesional di bidang ini, kami berlima dan semua staf diberi kesempatan memahami konsep ISO 9001:2015 pada Oktober 2017 lalu. Setelah itu kami melakukan praktek audit dan mulai mengaudit kinerja beberapa bidang di lembaga tersebut tiga bulan kemudian.
Definisi ISO 9001:2015 adalah akreditasi atau sertifikasi sistem manajemen mutu berorientasi pada kepuasan pelanggan. Sertifikasi diberikan sebagai jaminan bahwa sebuah perusahaan, instansi atau institusi sudah memberikan produk jasa bermutu.
Audit internal berguna untuk mempersiapkan audit eksternal dan menemukan ketidaksesuaian agar organisasi lebih rapi dan terarah. Untuk melaksanakan audit internal perlu mengetahui cara kerja dan kriteria keberhasilan sebuah prosedur.
Saya masih perlu meningkatkan keahlian melalui jam terbang tinggi agar bisa jadi auditor yang efisien, cekatan, sistematik, dan mandiri. Seingat saya, kami pernah belajar konsep audit vs akreditasi dalam training UNILEAD 2015. Audit sangat diperlukan untuk membantu efektivitas dan efisiensi sebuah sistem manajemen agar memenuhi standar mutu pelayanan.
Akhir tahun ini saya juga akan mengaudit diri sendiri agar sesuai dengan standar prosedur pekerjaan sebagai dosen, peneliti dan profesional. Moga layak juga dapat sertifikat ISO. Hihi.
Pekanbaru,

Tuesday, August 15, 2017

Tips menjadi Moderator Keynote Speaker (Pengalaman di GCEE, International Conference, UNM, Malang)

Repost dari blog akademik ini:

Berdasarkan hitung-hitungan saya sebelumnya, yang hobi ikutan konferensi dan jalan-jalan, pada tahun 2017 ini saya harus mengerem kesukaan hadir di konferensi karena harus fokus menulis di jurnal ilmiah. Sayangnya, event kumpul akademisi sama geng KORIGI tidak boleh dilewatkan meski sekali setahun kali. Sometimes, dengan mereka saya bisa jadi diri sendiri, saintis sejati, geopolymer researcher sungguhan. Haha.

Salah satu pengalaman mengikuti konferensi internasional tidak selalu menjadi peserta, bisa jadi panitia, reviewer dan moderator untuk sesi paralel atau sesi moderator.

GCEE dengan tiga keynote speaker dari Brunei, Jepang dan Indonesia.

Pada konferensi kali ini, GCEE, saya diundang menjadi moderator untuk key note speaker. Sungguh sebuah kehormatan dari teman-teman di Jurusan Teknik Sipil UNM. Pembicara yang diundang berasal dari Kumamoto University, ITB dan SEAMEO Voctech Brunei Darussalam. Monita sebagai keynote dari Universitas Riau dan KORIGI, akan berusaha dengan baik memandu acara paling pertama dalam sesi konferensi.


Sebelum berangkat ke Malang, saya diberi tips dan trik oleh Prof Brian dari University of Canberra, Australia, saat di Jakarta. Untuk menjadi seorang moderator key note speaker yang profesional saya harus melakukan beberapa cara seperti berikut:
  1. Mempersiapkan diri: mencari topik tiap key note, mempelajari CV online speaker, memahami tujuan konferensi, bahkan kalau perlu meminta bahan dari keynote kepada panitia untuk dipelajari di awal.
  2. Mempersiapkan script moderasi singkat (max. 2 halaman) untuk memandu sesi agar lebih selalu on the right track.
  3. Meminta semua keynote speaker untuk duduk bersama di meja sebelum memulai sesi dan memberikan briefing singkat mengenai apa yang moderator lakukan dalam sesi, serta batasan waktu pidato (biasanya 20-30 menit).
  4. Memulai sesi dengan sambutan singkat sambil mengingatkan tujuan konferensi di awal, lalu menerangkan pembagian sesi, yakni memperkenalkan speaker, sesi pidato keynote speaker, dan sesi Q&A.
  5. Membacakan CV speaker dengan singkat dan highlight mengenai pidatonya sambil memberi summary tentang apa yang dibicarakan dari sudut pandang moderator.
  6. Untuk sesi pidato, moderator diberikan waktu sesuai alokasi. Kita harus profesional dan keep the time. Jika perlu, kita interupsi pembicara sesekali untuk mengingatkan waktu dengan sopan dan penuh penyesalan. Pada konferensi ini saya berusaha sangat tepat waktu agar peserta dan panitia nyaman, sehingga sering menginterupsi pembicara dan mengingatkan pembicara berikutnya untuk tepat waktu.
  7. Pada sesi tanya-jawab, ada baiknya kita sudah planted (cari) penanya back-up dari grup kita untuk bertanya kepada salah satu keynote speaker. Hal ini sering dilakukan oleh moderator profesional agar suasana lebih hidup, dan memberikan kesempatan bagi tiap keynote speaker untuk memberikan pandangannya lebih dalam lagi melalui sesi pertanyaan.
  8. Akhiri sesi dengan membacakan summary dari pidato keynote yang telah kita baca sebelumnya atau didengarkan saat sesi. Saya belajar membuat pernyataan dari materi keynote sehari sebelumnya ketimbang memberikan summary random dan tidak relevan di akhir sesi, karena saya perlu mengontrol waktu dan suasana sesi ketimbang memikirkan take home message selama sesi berlangsung.
  9. Akhiri sesi dengan memberi apresiasi kepada universitas, panitia, peserta dan semua yang terlibat secara aktif dalam sesi key note yang menarik tersebut.
  10. Persilakan keynote speaker untuk berfoto bersama dengan pihak universitas, pejabat dan pihak lain yang sudah menunggu kesempatan.
  11. Be an enthusiastic moderator. It depends on you. You're the ruler. Give a good impression and take-home message to everyone from your moderation session.

Pengalaman dalam sesi keynote GCEE 2017 ini benar-benar pondasi supaya bisa moderator profesional dalam berbagai konferensi internasional mendatang. Di akhir acara, beberapa invited speaker memberi apresiasi karena saya berhasil menjalankan sesi dengan luwes, dan menjaga waktu moderasi sesuai jadwal. Ketepatan waktu ini juga sangat dihargai oleh seorang invited speaker dari UK. 

Saya sendiri sangat bersyukur karena bisa mengembangkan style sendiri tanpa perlu basa-basi agar semua berjalan dengan baik dan berkesan di hati peserta.

Thursday, February 18, 2016

Be Productive

When the new semester begins, we are highly motivated to schedule our activities, start classes, work on our research proposal, write papers for publication, start a chapter of our new book, start the research activity, or prepare our slides for some invited seminars to come. 

However, such productivity won't last long without proper time and energy management. 

I have always been interested in how we could increase our productivity as academics since I've realized that we always have a massive pile of work and, without knowing it, always add things to our plates unconsciously. This is where we need to determine if our plan is aligned with our big focus, especially when the academics tend to have different interests. Some of them like research, but most of them love teaching. Since the performance review is always related to education, research, and community services, most academics think staying close to the performance review aspects is more important than developing their skills in other areas. To spend more time on other interests. 

We could still be successful, though, in many areas. We need courage, determination, and huge energy to cope with so many different activities. 

One wise piece of advice that I've heard came from Prof A Pellert, while we took her class in Berlin 2015. She said, "We couldn't possibly do everything, but we need to manage doing all activities at different times, at different stages of our life." She mentioned how difficult it is to divide our energy into all activities without putting our priorities in a certain period of time

To be professionally productive, another management guru, a Professor from Harvard Business School, Robert Pozen, who works as a consultant, academic, and father, mentioned that productivity will be easily achieved when we think carefully about our goals and then apply specific techniques to improve our effectiveness. So, we need to focus and increase productivity, which is worth the time and energy we spend. 

He divided three types of personal skills that need to be mastered by knowledge-based workers to have great productivity:
a) Effective reading- Stay focused on your purpose for reading
His method of reading:
- Grasp the structure of reading
- Read the introduction and conclusion
- Skim the tops of the paragraphs

b) Effective writing- Plan your writing to focus on the final product, make a map and translate the map into an actual piece of writing
His method of writing:
- Create outline
- Be persistent to revise it
- Make a routine or break the writing into smaller pieces

c) Effective speaking- Well prepared: structure the speech and keep practice
His method of speaking:
- Prepare a road map of speech
- Keep the speech relevant to the audience's background and time
- Engage the audience and highlight the takeaways 

I've seen many professionals in my area (civil engineers, researchers, academics) who have the skills to enhance their careers in the long term. They are very focused and engaged in being productive and work on their best to achieve many accomplishments in a relatively shorter time than us, the academics. I can't imagine how they could find the energy to get involved in some projects, write papers, and do regular presentations about their projects! The key is being effective and productive, of course!

So, now that we're the academics, perhaps we could learn a lot from them and stay productive throughout the semester without having trouble adjusting our focus and interests at work again to get results with flying colours

Pekanbaru, 
Source: Extreme Productivity, Robert C Pozen, HarperCollins

Sunday, August 29, 2010

Jangan ngeri menulis tesis!


Semua orang tahu kalau menulis tesis itu mengerikan. Mengerikan jika terjadi ‘writer’s block’ yang membuat orang mogok menulis selama berjam-jam, berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Aku pernah bertemu orang yang sampai trauma menulis laporan TA sendiri karena kuatir tidak dapat menulis dengan baik. Huah, jangan seserius itu, mari kita pelajari trik menulis tesis supaya tidak terasa berat!

Menulis tesis! Insya Allah, akhirnya aku sampai juga di tahap tersebut. Walaupun proses mengerjakan riset kusukai, tetapi aku lebih menikmati proses duduk mengetik dan menuangkan pikiran ke dalam tesis. Onde mande! Jangan terburu-buru menilai hasilnya, karena yang penting prosesnya! (*wink*)

Selama menulis ini sebenarnya ada beberapa kebiasaan bagus yang bisa kita lakukan untuk membantu penulisan tesis. Simak baik-baik, ya:

a) Selesaikan semua data sekomplit-komplitnya. Cukup berbekal grafik, tabel, hasil ringkasan bacaan, data dari supplier, kita sudah bisa menulis tesis. Sedapat mungkin data-data diutak-atik supaya mudah dianalisis dan dilihat trend-nya. Kalo perlu, sediakan berbagai kemungkinan penyajian tabel atau grafik. Jangan mudah puas dengan satu jenis penyajian saja, karena kita harus membantu pembaca dengan grafik atau tabel yang tidak sulit dipahami. Gunakan versi terakhir, supaya kita tidak perlu mengolah gambar atau tabel lagi lalu menghabiskan waktu berjam-jam di sana saat mulai menulis.

b) Siapkan semua artikel, buku, etc yang kita perlukan di daftar pustaka. Letakkan dalam satu folder sesuai dengan bagian-bagian tesis, sehingga saat kita menulis, tidak perlu kehilangan mood karena paper yang dimaksud tidak ketemu. Intinya, make things handy.

c) Buat outline yang gampang, pikirkan 'jalan ceritanya' dan tulis kalimat untuk membimbing diri kita. Kadang kita perlu membayangkan dalam kepala kira-kira seperti apa jalan cerita sebuah bagian tesis. Apa yang harus kita letakkan terlebih dahulu sampai apa yang perlu menutup 'cerita' tadi, mesti dipikirkan baik-baik agar kita tidak mudah kehilangan arah waktu mulai menulis. Kemudian di dalam outline, letakkan kalimat utama tiap paragraf yang ingin kita tulis. Kalimat utama ini tidak perlu terlalu kaku, karena yang penting ide tulisan sudah dirangkum dahulu.

d) Mulai menulis dengan kata-kata sendiri kira-kira apa yang mau diceritakan. Tulis hanya untuk ‘mata kita’, tidak ada keharusan menyerahkannya ke pembimbing atau minta teman melihat kekacauan tersebut. Semua ini hanya bertujuan murni mengeluarkan ide, asumsi, pendapat, opini, terkaan kita untuk isi tulisan. Aku panggil bagian ini ‘draft zero’.

e) Gunakan blog untuk mempermahir keahlian menulis kita seperti yang pernah kuceritakan di sini.
f) Buat jadwal menulis. Tadinya aku berpikir membuat jadwal itu mengekang kreativitas menulisku. Ternyata tidak punya jadwal malah membuatku lebih sering menunda acara menulis. Intinya begini, buat jadwal menulis yang harus kita taati sendiri dan pada saat itu kita tidak bisa diganggu oleh apapun dan siapapun. Misalnya aku selalu merencanakan menulis pada jam 8-12 siang selama hari kerja. Pada hari itu aku pastikan tidak ada kegiatan lain selain duduk dan menulis (mengetik ) di meja kerja. Tentunya aku bagi-bagi waktu dong, biar ga semaput empat jam nonstop menulis. Aku pakai sistem 1.5 jam, break 15 menit, menulis 1.5 jam lagi, dan break 15 menit. Sisanya 30 menit biasanya kepake habis untuk persiapan awal, pemanasan misalnya ngeblog atau ngintip Koran online. Jika kita sudah punya jadwal rutin, kalau pada hari kerja jam segitu kita tidak berada di meja kerja, pasti rasanya ada yang kurang. Biasanya jadwal ini akan terasa pengaruhnya setelah satu bulan dikerjakan. So, kita mesti sabar dan keras pada diri agar sikap disiplin menulis ini jadi rutinitas sehari-hari.

g) Setelah menulis, berilah reward pada diri sendiri. Empat jam nonstop bikin aku mual-mual, meriang dan pusing. Ya iyalah, otak dipaksa berpikir kadang dalam dua bahasa dengan berbagai teori lagi. Biasanya aku memberi hadiah pada diri sendiri seperti jalan-jalan ke kolam di depan kampus sambil memotret kembang atau itik yang sedang mandi-mandi di sana. Jika cuaca sedang tidak bersahabat, aku akan ke library untuk membaca buku atau majalah kesukaanku selama satu jam. Tidak perlu yang mahal-mahal, bahkan bertemu teman lama juga cukup untuk menghilangkan rasa sumpek menulis selama empat jam tadi. Efeknya begitu kembali ke meja kerja, kita akan lebih segar, pikiran lebih ringan, lebih positif dan semangat menghadapi pekerjaan tadi.

h) Setelah draft zero selesai, kita bisa mengedit tulisan menjadi draft one. Intinya, kembali ke bagian yang mau diperbaiki, seperti menuliskan kembali kalimat yang tidak masuk akal, menghapus bagian ngocol yang tidak berhubungan dengan isi tulisan, sampai menambah referensi. Lakukan dengan lebih cermat kali ini.

i) Sikap positif perlu juga diperkuat dalam diri. Jangan mau tergesa-gesa menulis agar cepat selesai. Jika memang kita perlu waktu, kita harus menyadari bahwa tiap orang memerlukan waktu berbeda untuk menangani sesuatu. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, karena, percayalah, suatu hari kitapun akan bisa menyelesaikan apa yang sedang kita kerjakan ini.

j) Buat draft kedua, ketiga dan seterusnya. Setiap selesai satu draft, jangan lupa save as menjadi draft one, or two or three. Semua itu untuk menjaga jika terjadi kesalahan, kita tidak menyesal telah pernah membuangnya. Cetak tiap draft untuk kita baca dan edit secara manual. Disinilah kita perlu kritis dan membantu diri sendiri untuk menuliskannya dengan lebih baik. Simak tiap kalimat dan pikirkan baik-baik supaya tulisan kita masuk akal dan bahasanya tidak terlalu kaku seperti bahasa terjemahan. Perbaiki sedapat mungkin tata bahasa/grammar dan bantu pembimbing kita dengan menghasilkan karya tulis yang dapat dibaca!

k) Tiap kali mengedit, fokuslah pada satu hal dalam satu waktu dan tidak multitasking. Misalnya, jangan mengedit sambil memperbaiki referensi, atau memikirkan abstrak sambil mengetik pembahasan. Dijamin puyeng dan tiba-tiba kita bakal cari banyak alasan untuk menunda kegiatan menulis. Tapi, jangan juga terlalu fokus pada suatu bagian yang stuck, karena itu toh bisa dilewati dulu dan kembali dikerjakan nanti.

l) Tambah ilmu dengan membaca blog, panduan dan buku cara menulis tesis untuk menambah wawasan dan membantu kita tetap stay on track.

Mudah-mudahan aku pun dapat mengamalkan tips-tips menulis tesis di atas. Maklum jee, itu kan baru beberapa kali aku praktekkan untuk menulis paper. Yuk mari, kita selesaikan tesis kita ini, ndak nge-blog melulu.

Perth,
Aku mengucapkan Alhamdulillah, terima kasih Allah, yang telah membimbingku dalam proses menemukan cara terbaik untuk menulis tesisku. Alhamdulillah.
Saat draft zero sudah bisa dicetak, uhuy!

Thursday, January 28, 2010

Ngeblog, untuk mendukung penulisan tesis


Kira-kira dari judul di atas, kebayang tidak, apa hubungannya ngeblog dengan penulisan tesis?

Bagi orang yang terlihat cukup telat belajar menulis di blog, diriku sebenarnya sudah lama rutin menulis di diary. Berhubung dulu belum ada blog, maka diary jadi blog untuk diri sendiri. Diary adalah tempatku untuk menyimpan ide, memahat memori serta berkomunikasi dengan diriku dalam memecahkan berbagai masalah. Setelah blog menjadi populer, maka sedikit demi sedikit aku berpindah dari diary ke blog. Tentu saja aku masih punya diary untuk masalah-masalah super pribadi, tetapi untuk masalah yang ingin kubagi dengan teman-teman terutama mahasiswaku, aku lebih banyak ngeblog.

Proses belajar menulis dari diary, kemudian ngeblog, ternyata berdampak besar dalam peningkatan keahlian menulis kita. Blog atau diary adalah tempat untuk menulis secara bebas apa saja, dari ide kita, opini maupun pengalaman kita. Tidak heran jika sudah terbiasa, maka kita akan dengan cepat mengembangkan kecanduan menulis di blog. Rasanya ada yang kurang jika belum ngeblog. Padahal isi blognya tidak spektakuler amat, bahkan sepi peminat seperti blog ini, hehehe. Kecanduan menulis disebabkan oleh diri kita yang sudah mengenali rutin menuliskan ide di sebuah media dan jika belum dituliskan maka ide tadi terus menari-nari di kepala seolah menggoda kita untuk dituliskan.

Kebiasaan menulis di blog menjadi batu loncatan piawai menulis tesis atau artikel ilmiah tanpa harus menghadapi writer's block atau thinking block. Saat kita terbiasa mengeluarkan ide dan menuliskannya, layaknya orang baru belajar sepeda, maka selalu ada keinginan untuk terus mengayuh sepeda walaupun kadang terjatuh. Kita berusaha terus mengayuh dan melaju hingga suatu saat maka kita dapat melaju dengan sepeda kita tanpa jatuh lagi. Seperti itulah, analoginya. Saat otak kita sudah terbiasa dengan luwesnya mengeluarkan ide dan menuliskannya di kertas, maka selanjutnya jari-jari kita akan otomatis mengetik ide tersebut tanpa pikir panjang lagi. Oleh karena itu writer's block dan thinking block bisa diatasi.

Nah, bagaimana memulai? Itu yang jadi pokok masalah.
Seperti naik sepeda tadi, mulailah dengan mengayuh, terus mengayuh dan terus. Jadi, mulai dengan menulis apa saja yang ada di kepala, write for your own eyes, kata Prof Jeanne, dosenku. Tidak perlu diperlihatkan kepada siapapun kalau kita tidak menginginkannya. Tulislah terus apa saja, sebanyak-banyaknya, lalu biarkan ide kita mengalir deras ke sana. Jangan sampai ada interupsi seperti ingin melihat kamus, artikel acuan, ensiklopedi. Begitu sudah tercapai target kita, misalkan menulis non stop 2 jam atau nonstop 6 lembar, maka simpan tulisan tadi untuk diendapkan beberapa saat dahulu sebelum kita memulai proses yang sama lagi.

Ketika kembali mulai menulis, ambil waktu untuk membaca kembali tulisan kita. Ini namanya proses editing. Coba perhatikan apakah idenya telah menjadi pusat paragraf atau ada pertanyaan baru serta pengetahuan baru yang ingin kita masukkan ke artikel tadi. Kalau perlu, buat list disampingnya, apa saja yang perlu kita cari berikutnya untuk memperkuat tulisan. Mungkin perlu baca kamus, artikel orang, ensiklopedia untuk mencari info. Yang penting, di bagian kedua ini, kita hanya perlu mengidentifikasi apa yang kurang dan di mana kita mencari kekurangannya.

Selanjutnya, kita bisa mulai memasukkan ide setahap demi setahap. Pelan tapi pasti, tulisan awal kita yang tadinya masih kacau balau dan tidak enak dibaca, akan terolah sedikit demi sedikit sehingga menjadi tulisan layak baca.

Proses seperti itu jika dimulai di blog pribadi, tentu akan berdampak pada kemahiran kita menulis di media apa saja. Apalagi jika kita sudah kecanduan menulis di blog, sehingga ide yang sedang lewat bisa jadi tulisan enak dan layak dibagi dengan orang lain.

Saat mulai menulis tesis, jika metode yang sama dipraktekkan, maka menulis tesis akan seenak dan semudah menulis blog. Hindari sikap perfeksionis, yang sekali tulis ingin jadi, karena itu tidak akan pernah terjadi. Masalahnya, otak kita bertaburan ide yang sering meloncat-loncat tak keruan, sehingga jika kita coba mendisiplinkannya, maka otak akan ngambek. Oleh karena itu, ide yang lompat-lompatan tadi, di tulis saja dulu, nanti diatur serapi dan serunut mungkin agar jadi tulisan bagus.

Begitulah rupanya kaitan hobi ngeblog dengan penulisan tesis atau tulisan ilmiah lain.

Ngeblog hanya sebuah cara untuk memulai sebuah kebiasaan dan membiasakannya.

Sedangkan selanjutnya... terserah anda:)

Perth,
ngeblog dulu, baru lanjut nulis thesis

Tuesday, December 29, 2009

It may not be perfect, but you need to get started


Weih, kurasa aku cukup telat mulai menulis tesisku. Soalnya terlalu banyak tips masuk ke telinga, bikin aku bimbang mengambil keputusan yang tepat. Ada yang bilang supaya langsung mulai saja, tapi dari mana juga tidak ada clue. Ada yang bilang, selesaikan data dulu semua, tulis beberapa paper, nanti tinggal dikumpulkan dalam tesis. Tetapi aku sadar, tesis itu lebih panjang dari paper, kalau tidak dimulai segera, aku kuatir akan menyesal karena telah terlambat memulainya.


Sudah mau tahun baru 2010, jadi salah satu resolusiku tentu saja bergerak terus menyelesaikan sekolah. Urusan eksperimen sudah setengah jalan dan syukurlah tidak harus membuat sampel lagi, kecuali mungkin beberapa buah silinder kecil untuk tes lain. Mayoritas kerjaanku sekarang adalah menjalankan tes, mengambil data, mencatat hasil, mengolah data dan membuat laporan-laporan singkat setiap hari.

Nah, pusing kepalaku memikirkan kapan mau mulai menulis. Mungkin pusingnya berkaitan dengan yang mana dulu mau dikerjakan. Tesis itu kan ada beberapa bab. Biasanya orang mulai dulu dengan bab yang paling mudah, yaitu bab Experimental Work. Sayangnya aku bukan orang yang fokus pula, jadi ingin juga mulai Literature Review, mungkin dikit ke Introduction, kali lain mau jajal Results and Discussions. Ga jelas, kan di mana pokok permasalahannya?

Pekan lalu aku meminjam buku How to write a better thesis (David Evans & Paul Gruba, 2nd ed, Melbourne University Press, 2002). Biasalah, aku begitu panik mo mulai nulis, jadi suka minjem yang berbau-bau cara menulis tesis, misalnya, Surviving Your Dissertation, You can Write, Manual for Writer, dan sebagainya yang biasanya lebih sering menghiasi meja kerjaku saja.

Tapi begitu baca buku David Evans ini... Subhanallah, aku sudah bisa menulis, saudara-saudara! Sudah dua hari aku rutin menulis tesisku sekitar 1.5 jam per hari, tiap pagi. Aku dapat kira-kira dua halaman per hari. Nah, kalau rutin begini tiap hari selama 6 bulan, berapa halaman yang bisa kutulis, ya?

So, gimana cara bapak David Evans mengajariku mulai menulis tesis?

1) Kata beliau, "write early and often". Maksudnya, tulis sesegera dan sesering mungkin.

2) Mulai dari mana? Di antara sekian banyaknya hal yang ingin kita tulis, mulailah membuat struktur penulisan. Ringkasnya, outline, table of content, daftar isi. Di situ kita bisa mulai memilah-milah bagian penting mana yang ingin dimasukkan dalam tesis dan urutannya.

2) Setelah daftar isi jadi, sekarang saatnya untuk memulai dari bab paling dasar, yaitu Introduction. Lah, biasanya bagian ini ditulis terakhir? Correct. Tetapi, supaya kita dapat melihat the whole big picture tesis kita, maka paling tepat jika kita menuliskan tujuan-tujuan riset serta apa yang ingin dicapai sehingga kita tidak melenceng sana-sini dalam mengerjakan riset dan menuliskannya. Kadang, riset sudah terkerjakan, ternyata yang dikerjakan tidak ketemu benang merahnya! Dalam bab ini kita bisa melihat keterkaitan satu sama lain.

3) Coba kendalikan yang namanya 'tarik-menarik' antara rational (conscious thinking) dan creative (unconscious thinking). Begitu kita menulis, mulailah dengan rational thinking dahulu untuk mendapatkan struktur yang ingin kita tulis. Waktu kita sudah mulai menulis, biarkan bagian creative thinking kita menganalisa dan mencarikan argumen.

4) Setelah bagian Introduction dimulai, lanjutkan dengan dengan bab Experimental Work, bab tempat rational thinking lebih dominan. Di dalam bab ini, kita bisa menceritakan apa yang benar-benar terjadi, suatu metode riset, cara merancang eksperimen dan pelaksanaannya. Jika kita mulai dengan Literature Review atau Results & Discussions, kita bisa macet, karena bab-bab tersebut membutuhkan creative thinking, jadi benar-benar menguras kemauan kita untuk mulai menulis.

5) Tahap selanjutnya, save tulisan kita tadi. Buka lagi besok, lanjutkan menulis, dan kembali mengedit tulisan kemarin. Coba cek dalam tulisan kemarin, apakah kita telah menulis fakta atau hal lain yang tidak berhubungan? Nah, kita bisa mengeditnya sambil menuliskan yang lebih baik dan seterusnya.

6) Sekali dimulai, just continue...

Wow! Poin terpenting yang tidak kusadari itu, ternyata rational vs creative thinking.

Ternyata otak kita bisa bentrok ingin menuliskan fakta atau mendiskusikan argumen. Pantaslah kita merasa berat mulai menulis tesis. Soalnya seringkali creative thinking kita tidak dapat dikontrol sehingga dapat menghalangi niat kita memulainya. Sebab itu kita perlu mendapatkan outline lebih dahulu supaya tahu mulai dari mana.

Ok, to conclude with
:
"menulislah mengikuti outline yang dibuat dengan rational thinking. Begitu sudah dimulai, agar berjalan lancar, biarkan creative thinking kita bekerja mencarikan argumen".

Insha Allah terus semangat menulis sampai selesai 200 halaman ya!

Perth,
mencari letak suatu permasalahan itu menarik, ya?