Showing posts with label Museums. Show all posts
Showing posts with label Museums. Show all posts

Friday, July 10, 2020

Weekend di Amsterdam: Zaanse Schans (Part 2)

Amsterdam
28 Februari-01 Maret 2015


Museum van Gogh kami tinggalkan untuk melanjutkan perjalanan melihat museum outdoor Zaanse Schans di daerah Zaandam menggunakan bis kota. Kami naik tram dari Amsterdam museum van Gogh ke Amsterdam Central Station. Stasiun bis berada di lantai atas museum dan, again, kami harus berlari-lari ke arah bis yang siap berangkat ke museum tersebut. 

Kanal besar di Zaandam.
Scenic bridge di kanal.
Relevan dengan postku mengenai kanal Otaru di Hokkaido yang direnovasi pemerintah Otaru, maka daerah Zaan juga merupakan daerah heritage yang dijaga kelestariannya oleh pemerintah Belanda. 

Saat ini Zaanse Schans menjadi salah satu tempat kunjungan turis karena terdapat kincir angin icon khas negara Belanda.

Konon revolusi industri di Belanda dimulai dari daerah Zaan pada abad 18-19. 

Seperti pada museum open air di Cloppenburg, Jerman, di museum outdoor Zaanse Schans dapat dilihat replika rumah pertanian, warehouse/gudang, workshop/bengkel kerja, kincir angin di tepi kanal dan padang rumput yang sangat luas. 

Pada salah satu bengkel klompen (clog) atau sepatu kayu khas Belanda, kami mampir melihat teknik pembuatan sepatu yang konon mulai dipakai oleh orang Belanda pada abad ke-13. Terinspirasi oleh sandal kayu milik bangsa Roma, alas kaki ini dibuat tertutup agar dapat melindungi kaki dari cuaca di negara Belanda yang lebih dingin dan penuh angin.  

Klompen cantik untuk souvenir.
Klompen paling besar di sana. 
Klompen dibuat dari kayu-kayu ringan, kuat dan tahan air seperti kayu alder, willow dan poplar sehingga petani dapat menggunakannya untuk bekerja di padang berair atau rawa tanpa mengalami cedera karena air maupun alat tajam. 

Klompen lebih tahan daripada sepatu biasa karena hanya mengalami keretakan bila terkena benda keras. Hanya sayangnya, penggunaan klompen dapat membuat struktur tulang kaki petani mengalami tonjolan karena sol yang keras dan tidak fleksible menurut sebuah artikel di web Smithsonian.

Potongan kayu untuk klompen.
Klompen untuk sehari-hari.
Potongan kayu untuk klompen pada awalnya dibentuk dahulu. Kemudian kayu tadi dibor bagian bawahnya, lalu dipahat secara mekanis untuk mengeluarkan sisa bahan. 




Menonton demo membuat klompen.
Pekerja di bengkel klompen.
Bagian dalam diamplas agar klompen lebih nyaman. Perawatan dalam tungku dilakukan untuk tiap pasang klompen selama 5-6 hari untuk menurunkan kadar air pada kayu sehingga klompen lebih kuat dan siap dipercantik.


Tiap rumah ternyata sebuah workshop/bengkel dan toko.


Rasanya waktu tidak akan pernah cukup kalau tiap rumah yang menjadi workshop/bengkel dan toko di Zaanshe Schans dimasuki. 

Ada tempat pembuatan keju, kerajinan kayu, pottery dan beragam toko souvenir. Jika ingin melihat, kita bisa menggunakan app tour berikut. App tersebut akan membawa kita tour di Zaanshe Schans yang memperlihatkan tempat-tempat tadi dengan lebih rinci. Sungguh mudah traveling di zaman sekarang, bisa menggunakan virtual dan augmented reality. 



Di depan kincir, si kakak asli 'urang awak' residen Amsterdam.
Berdasarkan lukisan Claude Monet dari Perancis, di daerah Zaandam sejak dahulu banyak terdapat kincir angin milik berbagai bengkel berbaris di tepi sungai. 

Kincir angin di tempat itu memiliki bentuk, ukuran, warna cat, nama dan fungsi berbeda. Misalnya kincir hijau paling besar pada foto di samping, disebut De Gekroonde Poelenburg dimiliki oleh pabrik pengolahan kayu. Di bagian belakang adalah kincir angin De Kat, milik pabrik cat dan pigmen. Sedangkan kincir angin terakhir, De Zoeker adalah tempat pembuatan minyak dari tumbuhan.


Apabila kita berjalan mengelilingi Zaanshe Schans, di bagian depan dekat halaman rumput yang bersebelahan dengan jalan raya, dapat dilihat rumah-rumah pertanian beraneka ukuran di sebelah kanal-kanal. Rasanya ingin sekali tinggal di sebelah kanal ini, bisa melihat air di dekat pintu, barangkali sesekali memancing ikan, atau hanya duduk-duduk menikmati angin dan mendengar suara gemericik air mengalir dalam kanal. 
Rumah khayalan, dekat kanal, pohon, rumput dan penuh bunga-bunga empat musim.

Sambil berbincang-bincang mengenai berbagai hal dan memotret cepat dengan Lam, teman dari Saigon, secara tak sengaja terlihat material kerang dalam bentuk utuh yang dihamparkan sebagai pengganti pasir di jalan-jalan setapak ! 
Kerang sebagai pengganti pasir untuk jalan setapak!

Pada masa itu aku baru mulai menggunakan kerang sebagai bahan substitusi maupun aditif untuk material konstruksi. Pengalaman melihat kerang langsung dipakai sebagai bahan hamparan semakin menambah semangat untuk mengeksplorasi bahan tersebut. Beberapa penelitian kami mengenai kerang dapat dilihat pada link ini dan itu

Kami kembali ke Amsterdam Central Station setelah 2 jam berkeliling maupun melihat-lihat rumah dan bengkel di sana. Kegiatan berikutnya adalah menikmati kota Amsterdam dari kanal (canal cruise) sebelum dinner bersama di pusat kota lalu kembali ke hotel untuk istirahat. 

Lanjut ke Weekend di Amsterdam (Part 3).

Pekanbaru, 2020




Monday, July 6, 2020

Weekend di Amsterdam: Travel dan Museum van Gogh (Part 1)

Amsterdam
28 Februari-01 Maret 2015

Saat mengikuti training di Oldenburg, Jerman, beberapa teman sekelas mengajakku untuk mengunjungi kota Amsterdam pada suatu weekend.  


Kami berenam, tiga orang wanita dari Amerika Latin dan tiga orang wanita dari Asia Tenggara akhirnya berangkat ke Amsterdam yang jauhnya sekitar empat jam dari Oldenburg menggunakan bis. 

Bis berwarna hijau semacam Flix bus yang kini tengah populer membawa traveler berkeliling Eropa dengan harga terjangkau. Kami berangkat Jumat sore setelah kelas terakhir selesai dan kembali Minggu sore. 



Bis tersebut berhenti sebentar di Groningen yang letaknya hanya satu jam dari kota tempat kami training. 
Sepeda-sepeda di pusat kota Groningen, Belanda.

Beberapa orang anak muda dengan gembira bergantian menaiki bis kami. Hm, dengan cara demikian mereka tentunya lebih mudah melakukan perjalanan antar negara di Eropa dengan biaya terjangkau.

Kami tiba di Amsterdam saat matahari mulai terbenam. Senja di Amsterdam sekitar pukul 8 malam, sehingga kami tidak perlu buru-buru berlari ke perhentian tram. Berhenti di pinggir jalan dari bis lalu dengan lift untuk turun dua level di bawah jembatan merupakan pengalaman seru lainnya. Dari tempat itu kami naik tram ke Amsterdam Central Station dan naik kereta api menuju Holiday Inn Sloterdijk. Kami menginap di hotel tersebut selama dua malam. 
Lift menuju perhentian tram ke Central Station Amsterdam.

Pagi pertama di Amsterdam dimulai dengan breakfast yang menyenangkan. Kereta api bergantian melewati jendela restoran hotel tersebut. Barangkali hotel ini semacam tempat transit ke bandara Schipol, karena semua kereta api mengarah ke bandara internasional tersebut. Untuk mendapatkan tiket atau pass berkeliling Amsterdam kami juga menaiki salah satu kereta ke bandara Schipol. 
Kereta api lalu lalang di Schipol airport.

Tiket/pass I am Amsterdam, full pass berkunjung ke banyak tempat, tetapi dengan perhitungan cermat hanya museum van Gogh, outdoor museum Zanshee Schans, Amsterdam canal cruise, termasuk museum Anne Frank. Tempat lain tidak bisa kami kunjungi karena keterbatasan waktu perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Teman-teman benar-benar memilih yang menurut kami menarik. Tiket seharga 50 euro tersebut juga termasuk biaya semua moda transportasi seperti bis, tram dan kereta api dalam 24 jam hingga Minggu siang. 
I am Amsterdam peta dan pass.

Sebenarnya ada beberapa tempat khusus yang menurutku penting, tetapi saat ini sudah menyepakati dengan kawan-kawan untuk menikmati weekend ini dengan sebaik-baiknya dengan mereka. Aku mencatat dalam hati ada beberapa tempat, museum dan tur yang harus kuikuti saat berkunjung dengan hubby atau keluarga kapan-kapan. 
Walking tour di The Dam, Old Amsterdam, cita-cita lain. 

Kami kembali ke pusat kota Amsterdam Central Station, tetapi kali ini menggunakan bis dari bandara Schipol. Sambil menunggu bis datang, teman-teman berfoto di depan logo catchy kata-kata I am Amsterdam. Kata-kata ini merupakan promosi, maksudnya siapapun yang datang ke Amsterdam adalah bagian dari Amsterdam.  Banyak orang mengantri untuk berfoto di sana sehingga aku dan kawan-kawan harus berfoto dari kejauhan. Di balik kata icon tersebut kita bisa menunggu bis ke pusat kota.
Icon I am Amsterdam di bandara Schipol.
Teman-teman segrup menunggu bis ke kota di Schipol.

Bis tersebut membawa kami kembali ke pusat kota setelah melewati kawasan industri, padang-padang rumput luas, kanal-kanal, barisan pohon-pohon tak berdaun di awal musim semi, rumah-rumah di tepi kanal. Amsterdam merupakan kawasan dengan pertemuan tanah dan air serta muka air tanah tinggi atau yang biasa disebut wetlands, oleh karena itu terdapat banyak sekali kanal. Bahkan beberapa tempat di Amsterdam terletak di atas laut dan telah direklamasi. Tidak heran pemandangan rumah-rumah berdampingan dengan kanal banyak sekali bisa dilihat di kota ini.
Amsterdam termasuk wetlands. Rumah-rumah banyak dibangun di tepi kanal air seperti ini.

Rumah-rumah penduduk dengan facade khas. 

Kami melewati Rijkmuseum yang konon menyimpan lukisan epik Raden Saleh. Museum van Gogh letaknya tak begitu jauh dari museum terkenal tersebut.  Kami sangat bersyukur karena tak perlu antri lagi, setelah melihat antrian super panjang dalam cuaca dingin tersebut. Ternyata teman-teman telah membeli tiket tanpa antrian menggunakan pass I am Amsterdam. Biasanya ada biaya ekstra beberapa euro, tetapi tidak mengapa karena menghemat waktu selain menghadapi antrian masuk, antrian pemeriksaan kamera dan antrian penitipan barang serta jaket di dalam gedung museum. 


Van Gogh adalah pelukis yang terkenal dengan lukisan Sunflower, Iris dan the Starry Night. Sejarah mencatat perjalanan van Gogh sebagai pelukis, gaya melukis, obyek lukisan yang disukai dan kisah tragis hidupnya. Semua cerita lengkap hidupnya ada di link berikut
Bisa berfoto dengan self-potrait replika besar yang disediakan untuk turis.

Lukisan catchy Sunflower di area foto.
Sebagai seorang pelukis, van Gogh selalu tidak hidup berkecukupan dan mengalami kesulitan dalam hubungan dengan orang lain. Topik lukisannya paling banyak adalah alam, bunga, landscape. Aku mencoba menghitung berapa macam tanaman/bunga muncul sebagai obyek lukisan van Gogh. Barangkali terdapat 17-20 jenis tanaman yang dilukis van Gogh dan lukisan Sun Flower serta Irises yang paling terkenal diantara semua lukisan tersebut. Highlight terbaru dari museum tersebut adalah lukisan almond blossom. Bunga almond berwarna putih dilukis van Gogh dengan latar belakang langit biru kontras dan batang-batang hijau tua. Sungguh menarik.

Menurutku, museum ini sangat menarik dan tidak membosankan. Kehidupan van Gogh diceritakan dengan detil tetapi ringkas seperti mengikuti sebuah timeline. Museum mencoba menghadirkan momen-momen khusus terkait dengan lukisan-lukisan dan sumber inspirasi van Gogh. 

Tetapi kami tidak menemukan lukisan 'The Starry Night' yang menjadi lagu Vincent atau Starry Starry Night yang pernah dinyanyikan dengan powerful oleh Josh Groban, salah seorang penyanyi terkenal dari USA. Anyway, ternyata lukisan tersebut berada di Museum of Modern Art (MoMA), New York!  

Bersambung ke Weekend di Amsterdam (Part 2)

Pekanbaru, 2020

Friday, January 30, 2015

Museumdofr Cloppenburg

Mengunjungi open-air museum adalah salah satu pengalaman unik dalam hidupku, mungkin hal yang sama juga dirasakan oleh teman-teman baru dari UNILEAD. Siang itu setelah kuliah selesai, kami dibawa oleh pengelola program menuju lokasi museum yang terletak sekitar satu jam naik bis dari Oldenburg. Perjalanan ini dilakukan pada bulan September 2014 di Jerman.


Museumdofr Cloppenburg merupakan sebuah museum pertanian lengkap dengan rumah, kandang, kincir angin, dan industri rumah tangga untuk mempelajari sejarah pertanian dan budaya sekitar tahun 1800-1900an. 

Sebuah sudut dekat rumah petani miskin di museum Cloppenburg.

Museum Cloppenburg sendiri terletak di kawasan seluas 20 hektar dengan sekitar 50 buah bangunan terdiri dari rumah pertanian (petani kaya, ekonomi menengah dan miskin), gedung pertemuan, gedung sekolah, tempat ibadah, tempat kerajinan (keramik, peralatan perak, peralatan berkuda, pembuat sepatu, tukang kulit) dan rumah-rumah pelayan.  Museum ini sebenarnya dibuka pada tahun 1936 dan direnovasi kembali pada tahun 1962, setelah sempat dihancurkan dalam perang dunia kedua pada tahun 1945. 

Rumah petani kaya dan tipikal bangunan toko souvenir, atapnya saja lebih dari 15m!

Souvenir khas dari clay.
Sebelum memasuki museum pertanian yang sebenarnya, kita diajak melihat-lihat koleksi milik petani berupa peralatan makan, furnitur, jam dinding, hiasan dan aneka barang-barang lain di entrance hall yang menjadi toko souvenir sekaligus pusat budaya. Aku mengagumi koleksi-koleksi antik berupa furnitur yang bernilai tinggi serta memiliki desain unik. Kami bisa berjalan-jalan atau berlarian di lorong museum tersebut seperti kanak-kanak, sambil mengamati aneka laci, pajangan maupun lemari-lemari kayu penyimpan pakaian. Gedung itu sendiri spektakuler. Atapnya menjulang tinggi ke atas, dan ternyata memiliki tiga lantai!


Kami mengelilingi museum tersebut bersama seorang tour guide wanita. Bahasa Inggrisnya rapi dan jelas sekali. Ia menceritakan sejarah tanah pertanian dan mulai menerangkan bangunan-bangunan yang kami lihat satu-persatu. Pada masa itu, harga babi ternak untuk bahan pangan sangat mahal, sehingga orang memiliki kandang khusus untuk hewan itu. Ia menceritakan cara membuat plester dinding dari lumpur dan ijuk supaya kuat. Orang-orang terdahulu suka mengukir ayat-ayat kitab agama mereka di atap rumah. Mereka memiliki filosofi tersendiri untuk membuat atap yang menjulang tinggi tersebut.

Kunjungan pertama rombongan kami adalah rumah petani kelas menengah. Dari dalam ruangan tercium asap kayu terbakar yang sangat mengingatkan aku pada rumah gaek-nenek di kampung dulu. Asap bercampur aroma rumput dan bau ternak, benar-benar membantu kami merasakan suasana di rumah pertanian secara langsung. Untuk bahan bakar, mereka menggunakan tanah gambut yang dibentuk menyerupai kayu. Perapian tersebut dinyalakan setiap hari. Sebenarnya aku tidak bisa membayangkan duduk-duduk di sekitar api pada malam hari berkabut asap memedihkan mata demikian, tetapi memang listrik dan gas belum menjadi fasilitas hidup pada masa itu.


Suasana pedesaaan di Cloppenburg dengan tanaman endemik lokasi tersebut.
Rumahnya sendiri sangat tipikal. Kamar-kamarnya yang lebih mengejutkan. Kecil-kecil dan seperti tidur dalam lemari saja! Sepertinya hal itu wajar-wajar saja, karena bahan bakar untuk menghangatkan tubuh seperti kayu bakar atau batu bara bisa sangat mahal. Dengan konfigurasi seperti itu, mereka memerlukan sedikit ruangan untuk bersempit-sempit dan tidur dengan nyenyak tanpa perlu kedinginan. Ruang tidur pelayan terlihat lebih baik karena menyerupai kamar pribadi. Tetapi para pelayan tidak punya sumber penghangat yang merupakan barang mewah di rumah petani karena kamar mereka letaknya sangat jauh dari perapian. Kamar paling dekat dengan sumber penghangat tentu saja ditempati oleh petani dan istrinya. Kemudian anak-anak mereka sesuai dengan usianya.

Akhirnya kami mengunjungi rumah petani kaya. Untuk petani kaya, aku dan kawan-kawan bisa memahami perbedaannya dengan rumah petani miskin karena memang lebih luas, tertata dan mewah dari rumah petani-petani pada masanya. Persis dalam buku 'Anak Tani' atau 'Farmer Boy' tulisan Laura Ingalls Wilder, aku bisa melihat ruang tamu milik keluarga kaya yang elegan dengan perabotan pilihan serta peralatan makan berselera tinggi. 

Ruang minum teh atau ruang keluarga milik petani kaya.

BMW pada masa itu? *smile*
Rumah tersebut juga dilengkapi dengan ruangan-ruangan khusus untuk bekerja, ruang makan, ruang keluarga, dapur besar, dan ruang pelayan. Dari pintu belakang rumah, bisa dilihat kebun luas penuh tanaman bunga dan sayur-sayuran. Mirip cottage garden di rumah Kapten Cook, Melbourne dalam post ini.  Sewaktu keluar dari rumah, rombongan diajak melewati ruang depan yang mirip garasi karena berisi beberapa buah gerobak-gerobak besar berjejer di sana. Melihat itu, kawanku berkata sambil menunjuk tiap gerobak, "this is MerC, BMW, Ferrari, Rolls Royce..." dan haha, kamipun tergelak membayangkannya. 

Kompleks museum itu memiliki sebuah bangunan untuk sekolah anak-anak.  Terletak di samping rumah ibadah, sekolah dengan beberapa tempat duduk memanjang serta kursi tinggi milik guru merupakan interpretasi menarik mengenai suasana ruangan sekolah masa itu. Kami diminta duduk di bangku-bangku yang terbagi khusus untuk anak laki-laki dan perempuan dan seseorang berlagak menjadi guru sambil menunjuk alfabet bahasa Jerman di papan tulis. 


Kelas kecil kami yang penuh protes (photo is courtesy of drchawin.com)
Ruangan sangat gaduh, karena beberapa kali 'sang guru' terhenti tidak tahu cara melafalkan alfabet tersebut. Berkat bantuan Project Leader yang asli Jerman, beberapa alfabet yang sangat menantang lidah dan ingatan kami karena bentuknya tidak relevan berhasil diteriakkan. Hari itu kelas tersebut dipenuhi gelak tawa dan protes-protes kecil dari siswa-siswanya. Aku tidak bisa membayangkan suasana gaduh tersebut di masa Laura menjadi guru. Konon, kalau seorang siswa gelisah dalam kelas, maka dengan lirikan tajam sang guru, ia harus sudah duduk tenang lagi tanpa bergerak.



Perjalanan di kompleks tersebut tidak hanya mengunjungi rumah dan sekolah, juga beberapa fasilitas lain seperti kincir angin, pabrik roti, rumah khas petani modern, lumbung penyimpan, gudang, dan kandang ternak. Di akhir kunjungan kami diundang masuk ke dalam cafe di museum untuk mencicipi kue tart khas terbuat dari gandum dan krim segar, mirip cheesecake dengan rasa cherry atau strawberry (aku lupa). Kami juga boleh minum teh khas desa tersebut sepuasnya. Ruangan minum teh itu agak temaram, terkesan sejuk dan nyaman untuk berbincang-bincang dengan kawan-kawan beberapa saat lamanya. 


Beberapa orang bersantai dekat cafe sambil mencicipi minuman khas, sedang aku dan sahabatku T-O memilih berjalan-jalan di sekitar kincir dan menikmati cahaya matahari meninggi serta angin musim gugur yang tidak begitu sejuk. 

View dari kincir angin tempat aku dan T-O bersantai sore itu.





Kami berdua kadang menyukai suasana sepi sambil bertukar cerita tentang hidup, semangat, dan filosofinya. She's like a sister to me. Lagipula, apalagi yang diinginkan saat itu selain berada dekat dengan orang-orang tercinta sambil menikmati kecantikan alam di Jerman? Aku sempat berpikir tentang orang-orang terdekatku di berbagai belahan penjuru bumi, sedang apa mereka sekarang?


Saat melintas di sebuah jalan, aku melihat sebatang pohon sarat dengan buah apel siap dipetik yang menjadi penanda bahwa musim gugur sudah dimulai. Mirip dalam cerita-cerita yang selalu kubaca dalam buku-buku Laura atau penulis empat musim, musim gugur merupakan saat petani bekerja keras mengumpulkan, mengawetkan, dan menyimpan hasil panen untuk dinikmati saat musim dingin hingga musim semi menjelang. Cerita-cerita yang kerap kubaca sedari kecil kini jelas tergambar dalam kunjunganku ke museum desa Cloppenburg. Kehidupan petani merupakan filosofi sebuah siklus hidup. Dimulai dari menanam benih, menyiangi, memupuk, merawat, memanen, dan menikmati hasil panen pada akhirnya nanti merupakan simbol-simbol aktivitas dalam perjalanan hidup seseorang di bumi ini.


Pekanbaru,
Alhamdulillah.

Friday, September 16, 2011

Shanghai Museum



Shanghai, October 2009
Jika ingin melihat salah satu koleksi museum terbaik di dunia, datanglah ke Shanghai Museum. Museum yang terletak di pusat kota Shanghai (People’s Square) tersebut setidaknya dikunjungi oleh sekitar 5000 orang setiap harinya. Bisa jadi hal ini sebuah pertanda bahwa museum tersebut memiliki benda-benda bersejarah yang sangat berharga bagi bangsa Cina.

Shanghai Museum sebenarnya sudah ada sejak tahun 1952. Tetapi bangunan sekarang merupakan gedung baru yang selesai dibangun pada tahun 1996. Bangunan berlantai empat dengan warna dasar coklat terang tersebut dibangun selama 3 tahun. Berdasarkan mitologi bangsa Cina, bagian bawah gedung berbentuk empat persegi adalah melambangkan ‘bumi’, sedangkan bagian atap dibangun berbentuk lingkaran guna mewakili ‘langit’. Di depan pintu masuk, terdapat 8 patung hewan berukuran besar seperti naga dan singa, yang mungkin ditujukan untuk menjaga gedung museum tersebut.


Museum tersebut dibuka mulai pukul 9-5pm setiap hari tanpa ada pungutan biaya masuk. Begitu tiba di depan museum, aku sempat tercengang sendiri. Rasanya baru pukul 9.30 pagi, tetapi antrian pengunjung untuk masuk sangat panjang. Antrian tersebut tidak hanya didominasi oleh turis asing, tetapi juga masyarakat Cina sendiri. Setelah ikut berdiri dalam barisan, barulah aku tahu kalau antrian panjang itu juga disebabkan oleh pemeriksaan super ketat di pintu masuk. Berdasarkan brosur yang sempat kubaca, disebutkan juga kalau ‘museum dapat ditutup sewaktu-waktu jika jumlah pengunjung galeri dinilai melebihi kapasitas bangunan museum’. Baru kali ini aku membaca kalimat seperti itu dalam sebuah brosur museum: “closed if the galleries are overcrowded”. Kalau begitu keadaannya, ya tentunya wajar saja, karena Cina adalah negara dengan penduduk terbanyak di dunia!




Shanghai Museum mengoleksi hasil kebudayaan Cina yang telah berumur ribuan tahun lalu. Sekitar satu juta keping koleksi tersimpan di sebelas ruang galeri museum dengan penjagaan ketat. Dari jumlah sebanyak itu, sekitar 10%nya merupakan harta kekayaan negara Cina. Kesebelas galeri tersebut adalah galeri kerajinan perunggu kuno, lukisan, kaligrafi, pahatan kuno, jade kuno, koin Cina, galeri furnitur koleksi dinasti Ming dan Qing, stempel Cina dan galeri budaya bangsa minoritas Cina. Begitu mengetahui jumlah entitas dan galeri di sana, aku berharap kami dapat melihat koleksi fantastis yang tidak sama dengan koleksi barang-barang dari Cina di museum-museum negara lain.


Galeri dengan koleksi jade(giok) kuno yang pertama kali ingin kami (baca: aku) kunjungi. Ancient Chinese Jade Gallery tersebut memamerkan sekitar 300 keping jade yang beragam seperti senjata, hiasan, kepala ikat pinggang hingga penyangga mulut jenazah. Batu giok atau jade sebenarnya tidak hanya dikagumi karena keindahannya tetapi juga karena aura mistiknya. Tidak heran orang-orang kaya bangsa Cina sering menggunakan jade sebagai simbol kekayaan dan kekuasaan, sedangkan orang awam memilih jade sebagai perhiasan. Memiliki reputasi sebagai penghasil dan pengrajin jade sejak 7000 tahun yang lalu, di museum tersebut kita bisa melihat koleksi-koleksi jade berumur ribuan tahun yang sudah pasti bernilai tinggi. Penataan tiap ornament yang dipamerkan juga sangat dramatis. Ruangan dibiarkan remang-remang, sehingga keindahan tiap jade yang diletakkan dalam kotak kaca dengan penerangan secukupnya menggunakan fibre optics, lebih memukau.




Teknik pembuatan ornamen jade ditayangkan dalam bentuk film dokumenter yang diputar berulang-ulang di sudut ruang pameran. Melihat tipe ukiran dan detil yang sangat rapi, barulah aku mengerti mengapa jade bisa menjadi koleksi para hartawan. Para perajin dengan penuh kesabaran dan kecermatan akhirnya berhasil membuat ukiran rumit bercita rasa tinggi yang terlihat hidup di atas kepingan kecil batu jade. Sudah barang tentu, orang tidak akan pernah bosan mengamati berbagai bentuk, warna, hasil ukiran di batu jade tersebut. Apalagi jika kita mengetahui sejarah dan kisah dramatis di balik tiap keping jade peninggalan dinasti tertentu yang dipamerkan di sana. Akupun sebenarnya bertanya-tanya sendiri, cerita apa yang dimiliki sekeping ornamen favoritku berbentuk daun dan buah anggur yang dibuat pada masa dinasti Jin (1115-1234AD), serta ornamen lotus produksi dinasti Yuan (1271-1368 AD) berikut. Sayangnya aku tidak bisa mencuri dengar isi cerita pemandu tour yang ada di sana saat itu, karena ia menggunakan bahasa Jepang.




Setelah puas mengamati jade-jade mahal itu, kami mendatangi Chinese Coins Gallery di samping galeri jade. Koleksi ini tergolong koleksi terbaik, karena bangsa Cina termasuk salah satu bangsa di dunia yang paling awal menggunakan koin sebagai alat tukar . Tidak heran jika terdapat sekitar 7000 keping koin dari berbagai dinasti dapat dipamerkan di galeri itu. Tiap koin dapat menggambarkan sejarah perkembangan teknologi yang dikuasai oleh bangsa Cinad dari masa ke masa. Berbagai bentuk dan bahan dasar koin yang berbeda-beda itu sungguh menarik, meski diperlukan waktu sangat lama untuk dapat mengamati koin demi koin.




Koin yang digunakan oleh bangsa Cina pada masa ancient silk road juga dipamerkan secara khusus di museum tersebut. Koleksi bernilai tinggi ini sebenarnya sumbangan dari dua orang donator. Diantara ribuan koin tersebut, aku dan hubby sangat gembira menemukan bentuk koin yang sangat familiar dan sering digunakan sebagai uang dalam film-film kung fu tradisional!




Chinese Painting dan Chinese Calligraphy Gallery adalah tujuan kami yang berikutnya. Aku ingin melihat lukisan gaya Cina yang terlihat sederhana tetapi elegan dan sarat makna.




Lukisan gaya Cina harus dibuat menggunakan kuas, tangkai tinta, sutera dan kertas Xuan. Sekitar 120 buah lukisan-lukisan yang berasal dari dinasti Tang, Song, Yuan, Ming dan Qing dipamerkan secara berjejer di dalam kotak kaca setinggi dinding. Lukisan-lukisan tersebut masih tampak memukau jika diingat umur mereka yang sudah lebih dari ribuan tahun. Selain bertema pemandangan dan alam, aku sangat gembira bisa menemukan koleksi lukisan bunga-bunga (tetep!) seperti bunga peony, lotus dan lili. Sayangnya pengetahuan kami berdua tentang lukisan-lukisan masterpiece dari Cina benar-benar nol besar, sehingga sulit bagi kami untuk menentukan lukisan mana yang perlu diamati baik-baik dan diingat sejarahnya.



Galeri lain seperti Ancient Chinese Bronze Gallery dan Ming & Qing Furniture Gallery juga sempat kami kunjungi. Tempat itu penuh dengan 400 buah koleksi perunggu dari Chinese Bronze Age pada abad 18th BC hingga 3rd BC. Sedangkan di galeri furniture, berbagai furnitur dari dinasti Ming dan Qing yang elegan tetapi fungsional dipamerkan. Sebagai orang yang gemar bangun-rancang, aku ingin sekali berlama-lama mengamati gaya dan konsep rancang furniture tersebut. Tetapi sayangnya waktu sangat terbatas. Biasanya tempat-tempat seperti inilah menjadi sumber inspirasi bagi perancang produk furniture yang memiliki aliran klasik-kontemporer.




Saat menyusuri tangga untuk turun ke lantai bawah, aku merasa sedikit iri pada gedung museum yang ditata modern, bersih, luas dan memiliki fasilitas lengkap bagi pengunjung sungguh. Tidak kusangka negara Cina sudah mulai memperhatikan kepentingan publik yang ingin mengetahui sejarah dan kekayaan melalui koleksi museum. Seperti layaknya museum di negara Barat, tempat ini tidak hanya ditujukan untuk pameran, tetapi dilengkapi restoran, kafe, ruangan teh bergaya tradisional, toko yang menyediakan reproduksi barang antik, buku, lukisan bahkan money changer. Fasilitas ruangan Multimedia dan High Definition Graphics Hall yang ada memiliki perpustakaan audio video, rekaman kuliah umum dan buku mengenai koleksi museum. Malah kalau ingin mendapatkan informasi koleksi secara lengkap, maka kita dapat mengikuti free guided tour dan audio guide multilingual yang bisa didapatkan di meja informasi.




Aku sangat merekomendasikan museum yang memiliki koleksi barang-barang kekayaan bernilai tinggi ditunjang oleh sejarah dan kebudayaan bangsa Cina dengan peradaban tertua di dunia. Tempat ini membuktikan kalau bangsa Cina memang termasuk bangsa yang terampil sejak ribuan tahun silam. Tidaklah heran jika Nabi Muhammad SAW sampai pernah mendorong umat muslim untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina.

Jadi, saat di Shanghai, jangan lewatkan koleksinya.

Pekanbaru,
Kenang-kenangan perjalanan di Shanghai, Cina.