Showing posts with label Being An Academia. Show all posts
Showing posts with label Being An Academia. Show all posts

Tuesday, June 23, 2026

Menjadi Produktif bersama Grup Mahasiswa

Sejak menjadi dosen pada tahun 2001, aku ingin membimbing grup mahasiswa seperti yang dilakukan oleh kolega di Jurusan Teknik Kimia. Mereka membimbing mahasiswa di luar tugas akhir atau perkuliahan untuk meneliti, menulis ilmiah, dan mempresentasikan hasil penelitian pada seminar-seminar nasional. Aku ingin membantu mahasiswa agar aktif, produktif, dan berprestasi bersama dalam grup mahasiswa. 

Satu hal yang tidak bisa kulepaskan sampai 25 tahun berkarier pada tahun 2026 ini, adalah bekerja side by side dengan banyak mahasiswa. Sebagai dosen senior yang tidak punya banyak waktu lagi saat menjadi Koordinator Program Studi Magister Teknik Sipil, aku masih berusaha meluangkan waktu menjadi pembimbing TA 8 orang mahasiswa S1, dan 2 orang mahasiswa S2. Meski rempong, rasanya bahagia membimbing mereka, apalagi kalau mereka berhasil menyelesaikan penelitiannya bersama-sama. Prinsipku, datang bimbingan bersama, lulus juga bersama-sama.

Vibes kerja dalam tim dengan berbagai dinamikanya sebenarnya sangat penting bagi perkembangan kepribadian dan profesionalisme mahasiswa. Banyak mahasiswa sekarang sangat individualistis, tidak mau mengenal teman, tidak mau berbicara, bahkan tidak mau tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Bekerja sama dengan orang lain dianggap sebagai beban dan menyusahkan, padahal itu adalah tempat untuk berlatih bersosialisasi dan bekerja dalam tim. Saat bekerja dengan teman dalam grup/tim, pasti ada perbedaan yang harus disepakati, masalah yang harus diselesaikan, dan komunikasi yang harus baik agar tujuan kerja dalam grup tercapai. Pekerjaan penelitian mereka, meski bersifat individual, tetap harus dikerjakan secara bersama-sama oleh mahasiswa karena topiknya saling beririsan. Dikerjakan bersama tentu akan lebih mudah karena ada teman untuk berdiskusi, saling menyemangati, meringankan beban, dan mencari solusi. 

Sedangkan dari sisi dosen, bekerja dengan grup mahasiswa membantu shaping profesionalisme mereka. Tidak mudah untuk mendelegasikan pekerjaan kepada mahasiswa. Selain itu, harus menghadapi mahasiswa yang tidak seide dan tidak sejalan, misalnya, mahasiswa tahun 2026 ini punya style berbeda dengan mahasiswa tahun-tahun sebelumnya. Mereka cenderung menggampangkan segala sesuatu, serba ingin hasil cepat, dan hanya bisa bekerja berdasarkan satu perintah. Jarang ada yang mengerti cara memprediksi output dan outcome dari pekerjaan mereka. Critical thinking dan kemandiriannya juga kurang memadai. Bekerja dengan mereka membuatku belajar lagi tentang cara mendidik generasi mahasiswa saat ini. Dengan menyelami cara berpikir mereka, meski kadang-kadang aku emosi, aku juga mencoba menoleransi, sekaligus mencari solusi agar suasana tetap kondusif dan target grup tercapai. 

Keuntungan lain selain sama-sama produktif saat di grup mahasiswa, mereka kadang mendapat penugasan kecil karena terlibat dalam proyek penelitian dosen. Penugasan ekstra ini bermanfaat untuk melatih disiplin, kesabaran, dan kreativitas karena model pekerjaannya bersifat repetitif. Proyek penelitian dan pengabdian dosen membantu mereka mendapatkan eksposur lain dari dunia administrasi, keuangan, menulis laporan dalam bahasa Indonesia yang baik, disiplin terhadap tenggat waktu, manajemen proyek, serta cara menyampaikan hasil secara profesional. 

Moga batch 15 sukses semua. 

Pekanbaru,



Saturday, May 28, 2022

Hobi Mendaftar

Sering mengamati kan, dalam sebuah kegiatan akademik kadang-kadang yang mendaftar biasanya banyak sekali. Akan tetapi pada saat acara biasanya sekitar hanya 50-70% saja pada hari-H. Hal itu yang disebut hobi mendaftar dan banyak dilakukan orang-orang di sekitar kita. 

Atasan saya yang dulu sering mengeluh mengenai perilaku demikian karena kerap merugikan penyelenggara dalam hal konsumsi. Pendaftar kegiatan pembukaan English Club mencapai 66 orang pada saat itu. Pelaksana sudah bersuka-ria menyusun kursi dan memesan snack sebanyak pendaftar. Akan tetapi, peserta yang hadir tidak lebih dari 10 orang! Luar biasa penurunannya. Sejak saat itu kami mulai melakukan perhitungan saat membuat sebuah kegiatan baik offline maupun online. 

Pada saat membuat sebuah kegiatan saya biasanya memiliki perhitungan khusus. Apalagi di masa-masa webinar seperti sekarang. Apabila disampaikan bahwa pendaftar kegiatan webinar sudah mencapai 100 orang, maka saya selalu minta dipush sampai 150 orang. Artinya panitia harus sangat aktif mengumpulkan lebih banyak pendaftar dengan berbagai cara. Menurut pengalaman saya, biasanya sekitar 30-50% dari jumlah tersebut pasti tidak hadir pada saat kegiatan. Sehingga dengan menambah jumlah pendaftar lagi, kita mendapatkan jumlah peserta yang hadir lebih tinggi dari sebelumnya. 

Bagaimana cara menambah pendaftar? Saya sering memanfaatkan jejaring untuk minta bantuan sharing informasi. Selain itu saya jemput bola, mengundang teman-teman yang mungkin membutuhkan acara tersebut. Kadang-kadang broadcast di status wa atau ig. Sepertinya tergantung topik juga, apabila sangat umum dan diperlukan, biasanya orang-orang banyak yang ingin mengikuti. 

Kebiasaan suka mendaftar ini juga terjadi pada berbagai grup umur dan latar belakang. Beberapa waktu lalu saya dan teman-teman dalam suatu organisasi mendapat kesempatan untuk menulis buku autobiografi bersama-sama. Pada awalnya peserta yang ingin ikut sangat banyak, sehingga  direncanakan akan dibuat 5 buku. Apabila satu buku terdiri dari 11 orang penulis, maka terdapat 55 orang terlibat dalam penulisan kelima buah buku. Akan tetapi mentor kami sudah berpengalaman dengan tipikal semangat sesaat ini. Beliau  tetap apresiasi keinginan kami, tetapi ia menyampaikan hal yang realistis juga mengenai kemungkinan besar hanya satu buku saja yang terbit. Bukannya pesimis, beberapa orang dari kami semakin merasa dikompori untuk mengikuti kegiatan itu! Benar saja yang disebutkan oleh mentor kami, karena sekitar 6 bulan kemudian hanya 15 orang dari 55 orang pendaftar berhasil menyelesaikan tulisannya. Sisanya sudah menyerah pada tahap awal dan tidak pernah merespon kembali pesan-pesan untuk meneruskan. 

Tetapi setelah diingat-ingat, rupanya saya juga sering begitu. Kadang muncul tawaran kegiatan A yang menarik minat saya, tanpa pikir panjang saya langsung mendaftar. Kemudian ada kegiatan B yang menurut saya relevan dengan pekerjaan, saya pasti lekas mengisi form pendaftaran. Setelah itu saya tidak ingat lagi tanggal-tanggal kegiatan tersebut. Kadang kegiatannya sudah selesai, baru saya ingat bahwa sudah mendaftar. Nah, perilaku seperti ini awalnya karena FOMO = Fear Of Missing Out, atau suka takut ketinggalan kejadian atau event. Bisa jadi juga terjadi karena punya semangat tinggi tapi tidak dibarengi dengan waktu dan kapasitas diri atau masalah komitmen. Problem lain adalah karena tidak fokus dan kurang prioritas dalam bekerja, sehingga semua distraksi dan disrupsi terasa penting. 

Barangkali cara tepat untuk menghilangkan kebiasaan hobi mendaftar bisa dengan memilih topik-topik yang sesuai dengan prioritas kerja saat itu. Kemudian sebelum mendaftar dicek dulu apakah waktu kegiatan bertepatan dengan pekerjaan lain atau kegiatan lain. Selanjutnya saat sudah mendaftar dan ada waktu luang, sebaiknya mengusahakan tetap ikut karena penyelenggara pasti sudah berharap. Barangkali ada topik baru, jejaring baru atau inspirasi baru yang bisa didapatkan dari kegiatan tersebut. Selain itu kita belajar untuk tidak php penyelenggara dengan hobi mendaftar yang kita lakukan. 

Pekanbaru,

Thursday, October 14, 2021

Mengalami Fatigue atau Burn Out

Setelah 'marathon' mengerjakan sebuah project penting selama berminggu-minggu atau berhadapan dengan 'tsunami' gelombang besar dalam pekerjaan, tak heran kita bisa mengalami fatigue atau burn out. Tanda-tandanya adalah kelelahan, stamina menurun, sulit berpikir dan berkonsentrasi, serta tidak berminat menyelesaikan pekerjaan seperti biasanya. 

Untuk menghindari fatigue terkadang sulit juga karena beban kerja bertumpuk pada waktu tertentu tidak bisa dihindari. Apakah fatigue bisa diatur supaya tidak terjadi atau diminimalisir dampaknya sehingga tidak perlu istirahat sementara dari pekerjaan. Tentu hal seperti ini bisa dihindari selama kita melakukan beberapa hal berikut. 

1) Buat perencanaan waktu dalam bekerja dan perhatikan tenggat waktunya. Misalnya menulis memerlukan waktu 3 minggu dari mengolah data sampai mengumpulkan artikel. Maka kita harus membagi-bagi waktu supaya bisa fokus dalam tiga minggu menyelesaikan target. Jika tulisan dikerjakan maksimum 3 jam sehari, maka dalam 3 minggu x 5 hari kerja x 3 jam = 45 jam, maka kita punya 45 jam mengerjakan satu tulisan sampai terkumpul ke sistem jurnal online. 

2) Bekerja dalam chunck atau waktu-waktu kecil. Gunakan teknik Podomoro atau teknik apa saja, yang penting dalam 25-30 menit yang kita set menggunakan timer/stopwatch tersebut, kita tidak bisa multitasking. Misalnya waktu menulis 3 jam sehari, dibagi menjadi 6 sesi 30 menit, yang bisa dikerjakan tidak berturutan. Pada saat bekerja dan timer berjalan, kita tidak diizinkan lihat media sosial, atau bolak-balik mencari lagu yang pas di youtube untuk mengiringi pekerjaan, atau merespon email, dan hal-hal lain yang mengganggu flow pekerjaan. 

3) Buat persiapan lebih awal. Terkadang bekerja di pelayanan masyarakat dengan sistem online, kita bisa mempersiapkan materi lebih awal, mempersiapkan email lebih awal, menyusun file di awal waktu, dan berbagai hal lain yang tidak perlu dikerjakan multitasking. Masukkan kuota Podomoro tadi ke pekerjaan kita dan siapkan di waktu lain kemudian kirim email atau file menggunakan teknik schedule send. Dengan hal ini, jika kita mendapat respon, kita tidak perlu repot-repot merespon sambil menulis pesan lain karena melakukan hal tersebut bisa melelahkan batin. Pre-schedule semua email dan kegiatan, akan membantu kita mengurangi fatigue. 

4) Ambil break secara berkala. Setelah membagi-bagi waktu menjadi chunks kecil, kita bisa mengambil break selama 10-15 menit untuk menyegarkan pikiran. Highly intensed work jika tidak dibarengi relaksasi akan menyulitkan kita kembali relax pada saat diperlukan. Cari kegiatan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, seperti berjalan di luar rumah, menyusun buku, membuat kopi maupun mengurus tanaman meski hanya beberapa menit. Hal ini dapat menghindari mental breakdown karena terlalu fokus dan menyegarkan fisik setelah duduk beberapa lama menyelesaikan chuncks secara marathon. 

5) Istirahat beberapa hari jika kondisi lelah mulai terasa. Biasanya kepala pusing, sulit tidur, badan pegal, mulai flu ringan atau batuk. Kelelahan demikian memang tidak membawa kita maju dalam penyelesaian pekerjaan, tetapi karena badan dan pikiran sudah tidak sinkron lagi maka kita akan sulit mempertahankan semangat kerja serta menghasilkan pekerjaan berkualitas. Tidak mengapa break 1-2 hari khusus tidur, makan makanan sehat, minum air dan mengalihkan pikiran ke hal-hal yang lebih relax. Fatigue akan lebih mudah dihindari karena kelelahan fisik dan batin dalam jangka panjang berpotensi telah diatasi dengan istirahat secara total dari hal-hal berat terkait pekerjaan. 

Strategi menghindari fatigue sangat bermanfaat di masa working from home seperti ini karena pekerjaan seperti tak berbatas ruang dan waktu, terus berdatangan dan mengalir dengan semua tenggat pendek. Selama ada kemajuan pekerjaan, maka hal tersebut cukup membantu kita untuk terus bergerak menyelesaikan. Akan tetapi jika kemajuan dilakukan di akhir tenggat, maka potensi fatigue akan terjadi dan kelelahan menyebabkan kita tidak menghasilkan pekerjaan berkualitas sesuai tenggat waktu. 

Pekanbaru,

Thursday, October 7, 2021

Kualitas atau Kuantitas


Paradoks apakah kualitas atau kuantitas yang lebih penting sudah lama menjadi isu dalam bekerja.

Ada beberapa poin untuk menilai apakah melakukan pekerjaan kualitas dahulu atau kuantitas yang paling signifikan dalam menghasilkan pekerjaan.

Pertama, pekerjaan berkualitas membutuhkan rencana, strategi, kecermatan, disiplin, manajemen resiko dan fokus penuh dalam penyelesaiannya. Persiapan menentukan hasil, sehingga pekerjaan berkualitas memerlukan waktu lebih lama dalam tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi akhir. 

Kedua, pekerjaan berkualitas memberikan hasil lebih baik dengan dampak besar dalam jangka panjang. Biasanya setelah beberapa lama, pekerjaan tersebut masih terus menjadi acuan/pedoman bagi pekerjaan-pekerjaan lain terkait. Long lasting impact. 

Ketiga, pekerjaan berkualitas harus dilakukan untuk proyek yang terkait dengan banyak stakeholder atau pengguna agar semua pihak dapat merasakan manfaatnya dalam jangka panjang. Pekerjaan seperti ini akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi semua pengguna dan jejaring mereka sehingga dapat menghemat waktu dan biaya. 


Sedangkan pekerjaan dengan kuantitas tinggi juga perlu dilakukan dengan beberapa pertimbangan.

Pertama, pekerjaan tersebut dapat meningkatkan kinerja dalam jangka pendek dan tidak terlalu banyak pengguna terlibat di dalamnya.

Kedua, pekerjaan tersebut memberikan dampak yang dapat dirasakan langsung dan tidak mencari efek jangka panjang.

Ketiga, pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan memaksimalkan 50-60% sumber daya sehingga jumlah pekerjaan dapat ditingkatkan. 


Barangkali berdasarkan pertimbangan di atas, sekarang kita bisa memikirkan apakah kita akan mengejar kualitas atau kuantitas. 


Akan tetapi, dalam surat Al-Insyirah ayat 7 dinyatakan:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Mudah-mudahan sekarang semua sudah jelas ya.




Saturday, September 18, 2021

Buat Batasan (Boundary) dalam Bekerja

Efektivitas dan efisiensi dalam bekerja tergantung dalam pengelolaan waktu, pikiran dan emosi. Terkadang kita tidak bisa hanya bisa menyelesaikan pekerjaan dengan pikiran saja, karena kalau hati sedang galau pasti hasil kerja kurang bagus. Sedangkan saat ingin efisien dalam pekerjaan tapi tidak bisa mengatur emosi, maka akan berpengaruh pada hasil yang ingin dicapai. Oleh karena itu kita perlu belajar untuk mengatur boundary (batasan) dalam bekerja agar hasilnya maksimal dan kita tetap bahagia. 


Sedang enak-enak mengatur jadwal mingguan pekerjaan, tiba-tiba ada pesan masuk di wa menanyakan kepastian sebuah kegiatan yang akan dikelola bulan ini. Rasanya masih weekend, dan tidak ada urgensinya bertanya pekerjaan dengan gaya sangat demanding. Meski dari atasan sekalipun, biasanya aku tidak mau merespon langsung kecuali hal-hal yang benar-benar urgent/serius. Tapi aku jadi kesal juga karena satu message demanding yang terbaca, berarti mengganggu pikiran. Mau merespon, takut berlarut-larut, tapi tidak direspon kepikiran dan bisa jadi macam-macam luapan emosinya. 

Aku ingat, dalam bekerja kita juga bisa mengelola emosi dengan menetapkan boundary. Misalnya hal-hal seperti ini:

1) Tidak membalas message terkait pekerjaan di luar jam kerja dan hari kerja. Misalnya jam 18 ke atas dan hari Minggu. 

2) Melakukan pekerjaan yang diberikan surat atau email disposisi/surat penugasan resmi/SK dari atasan/pejabat terkait. 

3) Tidak memasukkan jadwal baru apabila pekerjaan sebelumnya belum selesai. 

4) Berani berkata tidak bisa apabila memang tidak dapat mengalokasikan waktu sesuai dengan keinginan orang lain baik atasan maupun orang berpengaruh. 

5) Tidak perlu merespon berbagai pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. 

6) Tidak perlu merespon kemarahan orang yang salah alamat dan tidak pengertian.

7) Tidak perlu merespon office politics, bullying, fitnah, ketidakadilan dan body-shaming. 

8) Boleh hanya memberikan tanggapan apabila dipersilakan. 

9) Boleh menolak menjadi anggota tim kegiatan yang tidak menjadi prioritas pekerjaan saat ini.

10) Tidak perlu khawatir memberikan masukan apabila ada yang membuat kesalahan/tidak valid dalam bekerja. 

dan sebagainya. 

Hal yang terpenting, kita harus bisa mengelola emosi dan memastikan pekerjaan kita baik hasilnya. Memastikan bahwa boundary dapat ditaati dalam pekerjaan, akan membantu sekali untuk kelangsungan pekerjaan dan ketenangan jiwa dalam mengerjakannya. 

Pekanbaru,




Friday, August 7, 2020

Selamat tim Program Kreativitas Mahasiswa Tahun 2020

Seperti yang telah disampaikan dalam post terdahulu, salah satu fokus karirku adalah keterlibatan dalam program pengembangan kreativitas mahasiswa. 

Bermula dari Research Club (2003-2006) dengan sederet prestasi, setelah itu secara bertahap mulai tahun 2016, 2017, 2018, 2019 dan sekarang 2020, Alhamdulillah terdapat 7 tim mahasiswa bimbingan mendapatkan dana PKM untuk melakukan berbagai topik penelitian mereka.

Semua tim tersebut adalah bagian dari rencana pengembangan grup riset Sustainable Concrete Technology yang didirikan sejak tahun 2018. Topik-topik yang diangkat harus memiliki nilai inovasi tinggi dan manfaat bagi masyarakat luas. 

Tantangan PKM 2020 adalah produk berbasis digital menggantikan produk fisik seperti teori, konsep, dll. Untuk luaran berupa video saintifik dan review naratif, insya Allah sudah ada beberapa strategi melaksanakannya dengan baik. Saat ini mahasiswa baru dikenalkan addendum panduan PKM, sementara ibu pembimbing menyiapkan langkah-langkah penyelesaian luaran PKM agar pesan-pesan luaran tersampaikan dengan jelas dan baik.

Selamat bagi tim PKM yang telah berjuang keras dan bersabar menyelesaikan proposal, merevisi dan mengupload proposalnya meski harus mengerjakan berbagai kegiatan dan aktivitas lain. Ibu kira ketahanan mental kalian sangat membantu memudahkan proses selanjutnya setelah proposal selesai. 

Selamat berjuang, semoga kita menjadi juara. 

Pekanbaru,

Monday, August 3, 2020

Tugas-tugas kursus training pembelajaran daring di SPADA

Setelah beberapa minggu juggling di antara pekerjaan wajib, sunnah, dll sambil mengikuti kursus pembelajaran daring di SPADA, maka aku berkesempatan menyelesaikan tugas-tugas khusus teknologi. Tugas-tugas pedagogi dan materi pembelajaran sudah dicicil sesuai tenggat waktu, tetapi tugas-tugas teknologi memerlukan waktu khusus karena ada tutorial yang harus diikuti.

Tugas teknologi yang telah berhasil dikuasai adalah: 
1) Penulisan script writing dan voice recording menggunakan app audacity 
2) Pembuatan animasi pembelajaran whiteboard animation menggunakan app explee dan videoscribe
3) Pembuatan poster dan infografis untuk pembelajaran dengan app canva 
4) Pembuatan slide presentasi menggunakan voice dan screen recording menggunakan ispringfree
5) Penyusunan materi LMS Spada berbasis Moodle
6) Penggunaan collaborative app seperti Trello, Padlet dan Jamboard
7) Penggunaan VR, AR dan MR untuk materi pembelajaran
barangkali akan bertambah lagi karena akan ada kursus app untuk evaluasi daring.

Contoh materi kuliah menggunakan whiteboard animation hasil karyaku dapat dilihat pada link berikut:



Pembuatannya sangat menantang karena harus tekun mencocokkan kemunculan gambar dengan audio yang telah kita rekam. Kadang harus memotong beberapa kalimat atau memotong jeda, terkadang bagian tersebut harus diulang-ulang sehingga cukup memakan waktu. 

Tetapi setelah beberapa lama (aku mengerjakan dalam sehari saja, tetapi semakin malam akan semakin cepat mengeditnya) maka aku bisa berpuas hati menguploadnya di Youtube.  

Pekerjaan dengan penuh kesungguhan dimulai dari membuat storyline, memilih gambar, musik, merekam narasi, lalu menyusun tiap gambar dengan cermat sesuai kecepatan narasi, benar-benar harus diganjar dengan sertifikat cantik dari Prof. Dirjen Dikti:)


Untuk memastikan bahwa aku terus bersemangat mengikuti semua kuliah (30 kursus) dan mengerjakan tugas-tugas, maka aku menggunakan strategi belajar dengan membagi materi menjadi tiga bidang. 

Materi pedagogi mengenai seni mengajar dan merancang pengajaran biasanya akan kuselesaikan terlebih dahulu, sebab aku menyukai teori-teori pembelajaran, trend terkini di bidang pendidikan, best practices, dan psikologi pendidikan.

Untuk materi pembelajaran, terkadang membutuhkan melihat video/slide berulang-ulang agar paham, maka biasanya akan kusisihkan waktu khusus sehingga bisa menghasilkan tugas merancang pembelajaran yang tepat, lengkap dan aplikatif. 

Sedangkan materi teknologi memang diusahakan setiap hari karena materi kursus ini mayoritas seperti game, ada banyak tutorial menggunakan app sehingga harus diikuti betul-betul setiap langkah agar memenuhi syarat (terutama tugas sebagai evaluasi). Materi ini kupilih saat aku sedang memerlukan challenge dalam hidup. Biasanya tugas berhasil diselesaikan tanpa bosan karena benar-benar mencurahkan pemikiran dan rasa dalam mengikuti tiap langkahnya. 

Mudah-mudahan persiapan semester daring mendatang sudah bisa dimulai tepat satu bulan sebelum kuliah dimulai. Insya Allah. 

Terima kasih kepada tim Kemdikbud, tim pengajar di SPADA, mudah-mudahan jadi amal jariyah kepada bapak ibu semua. 

Pekanbaru,

Tuesday, July 14, 2020

Kursus Pembelajaran Daring di SPADA

Summer kali ini karena situasi pandemi maka tidak ada jadwal traveling sampai ada undangan khusus. Bersyukur karena tahun lalu luar biasa mobile:)
Tahun ini, Alhamdulillah, ada kesempatan upgrade metode pengajaran e-learning lewat SPADA Kemdikbud untuk meningkatkan kapabilitas dosen-dosen dalam memberikan kuliah secara daring. Para pengajar adalah dosen-dosen senior dan berpengalaman di bidang pembelajaran daring dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia. 

Para pengajar profesional di bidang pembelajaran daring.

Meskipun jadwal kursusnya sangat padat (Senin, Rabu, Jumat), tetapi semua aspek pembelajaran daring secara lengkap diberikan dalam kurikulum webminar tersebut. Aspek teknologi, pedagogi dan materi pembelajaran adalah unsur-unsur pembentuk dalam kuliah daring. 


Ikut kursus tumpuk-tumpuk, serasa Hermione dalam Prisoner of Azkaban (seri Harry Potter). 

Ada aspek teknologi berupa kualitas audio, video, teks, navigasi dan troubleshooting.

Aspek pedagogi berupa strategi pembelajaran, interaktivitas kelas dengan dosen, kualitas penjelasan materi, kualitas umpan balik dari dosen.

Aspek materi pembelajaran, berupa kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran, keakuratan isi materi, kesesuaian tingkat kesulitan dengan pengguna, dan kesesuaian materi dengan app yang digunakan. 

Semua aspek tersebut diberikan dengan lengkap dalam training profesional SPADA tersebut. Kita juga diberikan tugas sebagai evaluasi setelah kuliah. Selama mengikuti kuliah tersebut kita juga bisa mendapatkan 'sense' belajar online step by step dengan jadwal yang kita tentukan sendiri. Setelah memahami kuliahnya maka aku bisa mengerjakan tugas sendiri dan mengumpulkannya sesuai tenggat waktu yang diberikan. Ada tugas yang bisa dilaksanakan secara kolaboratif dan evaluasi yang dilakukan dengan tatap maya. 

Berdasarkan pembelajaran daring, terdapat empat ruang belajar, yaitu:
Ruang Belajar 1 = tatap muka
Ruang Belajar 2 = tatap maya
Ruang Belajar 3 = mandiri
Ruang Belajar 4 = kolaborasi

Model yang kupakai tadi adalah 3-4-2.


Ruang Belajar 1-4 (Sumber: Slide Dr. Hatma S dari UGM).

Bayangkan, dari aku yang belum mengetahui apa-apa dan sangat-sangat manual dalam memberikan kuliah daring semester lalu (melalui Whatsapp, meski salah satu fasilitator mengatakan tidak apa-apa untuk membangun interaksi), saat ini bisa merasa sangat 'kaya' dengan berbagai filosofi, pengetahuan dan praktek mengenai pembelajaran daring. Alhamdulillah.

Banyak sekali missing link, blank spot, gap, yang tidak pernah terisi, sekarang bisa dengan cepat diidentifikasi dan dicarikan solusinya. 

Tadinya aku tidak tahu cara membuat perkuliahan di laman SPADA, ternyata hari ini sudah bisa membuat mata kuliah sendiri, meski belum sempurna. 


Laman Spada salah satu mata kuliahku. Yay.

Mudah-mudahan setelah mengikuti kuliah daring dengan penuh semangat ini aku bertambah percaya diri menyiapkan materi perkuliahan dan berhasil membuat perkuliahan semester depan lebih efektif dan efisien. 

Pekanbaru, 2020

Tuesday, June 16, 2020

Pertama kali ikut Research Colloquium

Pengalaman pertama kali presentasi hasil saat PhD study

Pengumuman Research Colloquium Faculty of Engineering, Curtin University, sudah dimulai sekitar bulan September 2007. 

Tapi dasar procrastinate, adaaaa aja alasan untuk ga submit abstrak sampai detik-detik terakhir. Ingin dapetin hasil dulu-lah, belum cukup materi untuk presentation-lah, sampe ga tau juga mo submit judul apa, hahaha (bener-bener student yang ga perlu ditiru).

Setelah hari deadline datang, aku masih belum submit abstrak apa-apa juga. 
OC udah bertanya terus hingga extend jadwal pengumpulan. 
Rasa-rasanya topik itu sudah ada dalam bayangan, tapi, apa iya itu topik yang tepat? Mungkin ada topik lain yang lebih seru untuk didiskusikan? 
Ini gaya procrastinator sejati, ya, kalo udah last minute, tentu saja topik yang ada jadi topik terbaik--- soalnya sudah tidak ada pilihan lagi!


Beton yang siap diuji cover testing qualitynya.

Sampe hari extended submission, aku masih belum mendapatkan ide yang pas sesuai dengan data-data yang ada saat ini. Ternyata perlu banyak waktu untuk mempersiapkan topik pilihan itu. Bolak-balik search literature dan bongkar website sana-sini, akhirnya aku memutuskan memakai judul COVER QUALITY TESTING. 

Idenya datang dari website Papsworth. Cover Quality Testing itu terkait dengan nilai permeability, sorptivity dan Volume Permeable Voids (VPV) pada beton. Barangkali saat melakukan pengujian-pengujian yang kukira mudah tersebut, ternyata bisa dikategorikan menjadi sebuah kesatuan di bawah topik Cover Quality Testing. 

Pengujian permeability, VPV dan sorptivity dari beton geopolimer dapat dijelaskan dengan ringkas.  

Permeability itu berhubungan dengan perpindahan air dalam beton akibat tekanan. 

Sedangkan VPV adalah besarnya volume voids/rongga dalam beton yang dimasuki oleh air. Rencananya data-data ini dipakai untuk mengevaluasi kemudahan air masuk ke dalam beton, sehingga dapat memprediksi kemudahan ion klorida masuk ke beton secara difusi.  

Apabila nilai koefisien difusi besar, ada kaitannya dengan nilai permeabilitas yang besar.  Agar kecepatan air masuk melalui dalam selimut beton diketahui, maka aku menambahkan test sorptivity. 

Setelah konfirmasi ke OC, akhirnya aku disibukkan membuat slide presentasi. Dasar amatiran, awalnya slide tersebut panjang sekali dan super detil. Tapi aku ingat, gaya presentasi Western kan mesti tepat-tepat, singkat, dan jelas. Apalagi ini buat audiens umum, bukan specific audience (sebab itu disebut colloquium). 

Aku harus membuat slide yang sederhana, menarik dan mudah diikuti oleh audiens. Beberapa teknik penyajian aku coba-coba, akhirnya model tabel perbandingan data saja yang aku siapkan.  Melalui teknik tersebut, key points dari riset ini bisa dilihat dengan jelas. Mudah-mudahan audiens bisa menangkap maksud kita dengan cepat. 

Setelah presentasi selesai, beberapa teman asing memberikan ucapan selamat. 

Surprise juga. Mungkin mereka just try to be nice saja. 

Tapi aku tetap senang, karena debut pertama di RC cukup sukses sehingga memberikan sedikit rasa pe-de bahwa sebenarnya aku bisa menghasilkan presentasi yang bisa diikuti audiens dari berbagai bidang ilmu dan latar belakang budaya.

Perth 2007,
Pekanbaru 2020.

Selamat, ya, jangan mepet lagi.

Wednesday, May 27, 2020

Kompetensi Mahasiswa via MBKM

Bincang-bincang tentang MBKM. 
Merdeka Belajar, Kampus Merdeka. Kali ini tentang Kompetensi Mahasiswa via MBKM. 
Webinar dari Prodi Kimia UNJ, dengan pembicara Prof. Intan Ahmad, mantan Dirjen Belmawa Kemenristekdikti.




Perubahan yang terjadi secara signifikan secara global masa kini, membuat mahasiswa dituntut memiliki keahlian kognitif agar dapat bekerja dengan baik dalam berbagai bidang pekerjaan. Mahasiswa tidak hanya punya kompetensi di bidangnya, tetapi juga dapat memperbaiki permasalahan di lingkungan masyarakat. 

Selain itu mahasiswa perlu memiliki keahlian adaptasi (ingat agile learner?), karena di MBKM mahasiswa diberi kesempatan merasakan berbagai pengalaman dan belajar dari pengalaman tersebut (experiential learning).  

Mahasiswa harus menguasai kompetensi dasar (capaian pembelajaran) lewat perkuliahan.

Tetapi, ada yang disebut critical thinking. 
Critical thinking/berpikir kritis = berpikir secara kritis dalam memandang berbagai hal. 
Critical thinking = proses berpikir dengan hati-hati mengenai sesuatu atau seseorang, tanpa melibatkan perasaan atau pendapat yang mempengaruhi kita.

Untuk menghadapi perubahan tidak menentu di masa depan, maka ada satu set keahlian (cognitive capacities) yang diperlukan mahasiswa agar menjadi mahasiswa yang kompeten dan bisa menyelesaikan permasalahan masyarakat di sekelilingnya:
1) Critical and system thinking --> kritis dan terstruktur
2) Enterpreneurship (creative mindset) --> bisa melihat kesempatan dibalik permasalahan
3) Cultural agility (global credentials) --> pengalaman belajar dan bekerja di budaya/negara lain.















Kemampuan bisa membaca, menulis dan matematika harus dikuasai, tetapi ada kemampuan lain yang diperlukan, yaitu data literacy (kemampuan membaca, menganalisis dan menggunakan data),  technology literacy (kemampuan memahami proses mesin dan aplikasi teknologi), serta human literacy (kemampuan berkomunikasi).   Untuk dapat menguasainya, kita harus selalu bersemangat belajar, dan belajar keahlian baru. 



Prof. Intan juga menyampaikan beberapa faktor penting dari kemampuan keahlian berpikir kritis di dunia kerja:
1) Berani mengerjakan hal baru (out of the box), belum ada yang mengerjakan, adaptif, inisiatif dan self-directed. Misalnya kalau diberi atasan tugas yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh orang di tempat kerja tersebut, maka kita harus mau  mengerjakannya dengan baik meskipun itu mission impossible. 

2) Mampu melihat sesuatu secara mendalam yang tidak dilihat orang lain (analytical, curious), insightful. Kemampuan untuk 'connecting the dots' atau menghubungkan titik-titik yang bertebaran di sana-sini, adalah salah satu faktor penting dalam berpikir kritis. Berbagai informasi bisa digabungkan dan diproses dengan cepat karena kita bisa mencari benang merah dari berbagai persoalan. 

3) Pendekatan yang tepat, problem solver, creative solutions (good judgement). Aku jadi ingat mengenai problem solver dan engineering judgement. Inti dari keahlian bidang teknik adalah 'problem solver', mampu memecahkan masalah baik secara terstruktur maupun intuitif. Jika intuitif, bukan berarti lepas berdasarkan feeling saja, tetapi telah melewati serangkaian analisis sehingga dapat diperoleh 'good engineering judgements'.

4) Dapat memahami dinamika kelompok dan membangun team work. Keahlian untuk berbicara kepada stakeholders (pro atau cons) sehingga ide baik bisa dikerjakan bersama, dijadikan kepemilikan bersama, dan team work yang baik dapat membantu kita pindah ke next level.

5) Inspiratif, pandai berkomunikasi dengan pihak lain.  Kemampuan menyampaikan informasi dengan santun, jelas dan tidak abu-abu, serta memberikan inspirasi kepada orang lain. Untuk bisa inspiratif biasanya kita perlu banyak membaca buku atau berinteraksi langsung terhadap mahasiswa. 

Lebih jauh lagi Prof Intan mengajak para dosen agar memiliki hidden agenda untuk meningkatkan kompetisi tersebut.  Misalnya dengan memberikan tugas-tugas yang memungkinkan team work, problem solving, connecting the dots sehingga mahasiswa terlatih untuk memliiki pikiran kritis. 

Mahasiswa dan dosen yang berminat dapat mendengarkan kembali video live webinar ini pada link tersebut. 

Pekanbaru,

Saturday, May 23, 2020

Hubunganku dengan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka)

Bincang-bincang mengenai Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), aku ingin ikut memberikan refleksi selama berkarir 20 tahun menjadi dosen. 

Saat mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melaunching Program MBKM kebijakan no 4, dunia kampus seperti stunned. Tak berapa lama muncul semacam panduan beberapa pimpinan kampus berusaha merumuskan praktek MBKM versi mereka seperti praktek magang, kewirausahaan, dll yang pernah dilakukan. Semua menunggu juknis, panduan, dan jika bisa terjemahan dalam bentuk konkrit. Beberapa kampus juga berlomba-lomba mendatangkan dirjen-dirjen untuk menggali informasi soal MBKM agar mendapatkan langkah tepat dalam melakukan perombakan kurikulum serta berbagai hal lain dalam implementasi MBKM. 

Tetapi jawabannya dalam beberapa hal, adalah tergantung kreativitas Perguruan Tinggi, kemampuan networking, kemampuan negosiasi, kemampuan kerja sama, kemampuan mencari dukungan dengan pihak pemerintah dan industri. 

Oh, well.

Untuk hal ini, kita harus membuat kebijakan internal lagi dan memilih kegiatan yang bisa dilakukan. 

Terkait dengan MBKM, aku menerima program tersebut dengan senang hati karena salah satu programnya terkait riset mandiri. Sebagai seorang pejuang kegiatan kreativitas mahasiswa selama 20 tahun berkarir, sudah saatnya mahasiswa diberi kesempatan dan didorong memilih bidang-bidang yang mereka minati untuk keperluan karir mereka di masa depan. Contohnya, aku tahu tidak semua mahasiswa harus jadi pekerja di sektor swasta maupun pemerintah, bisa jadi mereka ingin menjadi peneliti dan dosen. Oleh karena stereotipe bahwa lulus harus bekerja, maka mahasiswa yang berminat meneliti dan berkarir di bidang akademik kadang diarahkan untuk bekerja di lapangan. Padahal mereka sangat berbakat memajukan sains dan teknologi di perguruan tinggi, tetapi alih-alih mendorong, banyak dosen lebih suka melihat alumni bekerja di tempat bonafid dengan gaji besar. Meski itu selalu menjadi ukuran keberhasilan dalam borang akreditasi/audit, tetapi menjadi akademisi juga bisa bonafid dan banyak manfaat sosialnya. Oleh karena itu aku mendorong membuat grup-grup riset dan pengabdian yang kecil-kecil meski peminatnya tidak lebih dari jumlah semua jari tangan dan kaki, akan tetapi manfaatnya bagi perkembangan ilmu dan keahlian mereka sangat besar. 

Setelah ikut webinar dengan pembicara Prof. Nizam, bisa dilihat ada beberapa manfaat MBKM untuk mahasiswa dan dosen. Hard work, challenging, but interesting.


Manfaat MBKM

















Jadi, pada kebijakan no 4 itu ada delapan kegiatan yang bisa dilakukan mahasiswa dalam 3 semester dikonversi menjadi 20 SKS atau 60 SKS. Kita coba berimajinasi bahwa aku adalah mahasiswa yang mendapatkan kesempatan MBKM, kira-kira apa yang ingin aku pelajari dan lakukan dengan 20 SKS per semester tersebut?

Aku menyukai riset dan menulis ilmiah, maka aku akan mendaftar kegiatan riset mandiri dengan tim dan mengikuti lomba-lomba supaya produk yang kami ciptakan teruji dan dapat dimanfaatkan masyarakat. 

Barangkali aku akan mengambil magang industri, untuk mendapatkan pengalaman kerja di BUMN, mendapatkan skill teamwork, negosiasi, decision making, dan etika kerja. 

Terakhir, aku akan mengikuti sit-in/kredit transfer di perguruan tinggi dalam/luar negeri, tergantung budget dan beasiswa. Aku akan mengambil mata kuliah yang sangat diperlukan secara global dan merupakan pendekatan baru dari ilmu-ilmu di Teknik Sipil. 

Kalau diajak dosen penelitian dan beliau mendapatkan grant/hibah, maka aku tertarik mengambil peluang tersebut. Tidak semua dosen mengajak mahasiswa dan mentrainingnya langsung untuk mengerjakan riset, menulis proposal, dan menulis publikasi. Apalagi aku bisa jadi first author atau co-author untuk beberapa paper. 

Sepertinya hal itu yang akan aku lakukan kalau ada kesempatan mengikuti MBKM.  Semua tergantung minat, keahlian, kompetensi dan outcome yang kuinginkan untuk persiapan pekerjaan di masa depan. 

Itulah hubunganku dengan MBKM. Aku rasa aku bisa membantu mahasiswa untuk mendapatkan kesempatan mengikuti program MBKM dengan mempersiapkan mereka sesuai dengan capaian pembelajaran yang diperlukan.

Pekanbaru,

Tuesday, May 19, 2020

Micro-credentials

Teringat kata-kata Prof Nizam dan Dr Illah, saat webinar beberapa hari lalu mengenai micro-credentials. Micro-credentials akan diperlukan di masa depan, saat kita dituntut menjadi agile learners. 




Again, agile learners, kata-kata itu membawaku kembali ke kelas UNILEAD di University of Oldenburg dengan Prof Peter dari University of Stellenbosch, South Africa. 

In order to be a good leader, we need to be agile, begitu pesannya. 

Baik, agile adalah = kemampuan untuk berpindah dengan cepat dan mudah.

Micro-credentials = kualifikasi, capaian, kualitas personal dalam skala mikro.

Agile-learners = flexible, adaptive, self-directed, creative, character, dan complex problem solver. 


Alright, let's get back to the micro-credentials. 

Skills, atau keahlian-keahlian kecil yang tidak perlu dikuasai melalui sekolah formal, merupakan kebutuhan untuk bersaing di masa depan. 

Apa saja micro-credentials yang dibutuhkan? 

Semua tergantung dari kita sendiri. Misalnya aku seorang engineer, punya gelar formal dari universitas, tapi dalam hidupku, aku membutuhkan keahlian khusus~ yakni leaderships, communication, dan public speaking. Aku juga perlu menjadi seorang complex problem solver, karena sering sekali harus memberikan masukan di bidang manajemen perguruan tinggi. 

Ada skill lain yang perlu aku kuasai, yaitu kemampuan mendapatkan informasi melalui wawancara karena pekerjaan khususku. Disamping itu, aku harus bisa bekerja sama dengan tim dari berbagai latar belakang, umur dan kebiasaan sehingga keahlian adaptif perlu terus diasah dengan banyak membaca mengenai sejarah, news dan kehidupan/budaya orang-orang asing tersebut. 

Nah, dalam artikel ini, aku membaca bahwa di masa sekarang, orang membutuhkan micro-credentials karena ada gap keahlian untuk menguasai teknologi baru.  Gap tersebut terjadi karena trend global pada skala makro,  yaitu, pertama, adanya kebutuhan pendidikan tinggi di masyarakat, kedua, transformasi digital yang terjadi di berbagai industri dan ketiga karena digitisation pendidikan tinggi.  

Oleh karena universitas tidak menyediakan semua training untuk keahlian yang dibutuhkan, sedangkan berbagai keahlian terus dibutuhkan dalam bekerja, maka kita tidak perlu mengikuti gelar formal lagi tetapi hanya perlu menambahkan atau meningkatkannya melalui kursus online, bootcamp certificate, magang dan berbagai jenis training lainnya. 

Hanya perlu diingat, micro-credentials diperlukan hanya sesuai kebutuhan saja, bukan mengumpulkan sertifikat sebanyak-banyaknya tapi tidak diaplikasikan sehingga memiliki dampak dalam penyelesaian tugas atau kebutuhan tempat kerja. 

Kita tetap membutuhkan pendidikan formal dari perguruan tinggi agar bisa melompat cukup tinggi, tetapi agar lebih skyrocketing di dunia kerja, kita perlu suplemen keahlian (micro-credentials) karena di kampus tidak diajarkan 'practical projects, tools, and opportunities'.  

Di dunia kerja kita harus membuktikan kita adalah 'valuable candidate' agar dapat terus mengikuti perkembangan dan bekerja dengan tim yang smart (cerdas), conscientious (produktif) dan conformist (mau mengikuti aturan yang baik di tempat kerja).

Pengalaman Scott Young, salah satu agile learner yang berusaha belajar mandiri unit computer science di MIT tanpa menjadi mahasiswa formal, bisa menjadi sumber inspirasi. Ia menyusun kurikulum, jadwal belajar, mengerjakan latihan dan menilai hasil kerjanya menggunakan bahan-bahan dari kursus online tersebut. Sungguh inspiring dan bisa membuat kita berkaca bahwa kalau ada keinginan untuk berkembang, kita selalu bisa mencari jalan dan mendapatkannya.

Pekanbaru, 

Saturday, May 16, 2020

Tiba-tiba kita menjadi penggemar Webinar saat WFH s

Beberapa tahun lalu aku sempat menjadi pelanggan webinar mengenai penelitian, mereview paper, menulis proposal, membuat artikel, dan aneka topik lain dari Elsevier Publishing Campus (sekarang namanya menjadi Elsevier Researcher Academy).  Apalagi pada masa-masa itu dapat e-certificate sangat menyenangkan, bisa menambah isi CV dan pengetahuan kekinian mengenai riset dan publikasi. Tim Publishing Campus juga generous dengan topik-topik terbaru seperti Networking, Make your publication visible dan career path dalam riset. Semua itu memberikan keahlian dan kompetensi yang diperlukan sebagai seorang peneliti, reviewer dan penulis makalah saat ini. 



Meeting online dengan tim konsultan ACER

Satu bulan setelah WFH berjalan, aku menemukan kesenangan baru, yaitu video meeting online. Meskipun boros pulsa, tapi bisa menyampaikan informasi dan mendapatkan umpan balik dengan cepat lebih melegakan. Kecepatan dalam berinteraksi juga menjadi salah satu ukuran dalam menyelesaikan pekerjaan saat WFH. Kita tetap bisa mengejar ketinggalan dalam pekerjaan dan saat bersamaan tetap produktif. Kita menemukan pola-pola komunikasi baru yang lebih efektif dan efisien lewat video meeting, misalnya harus dapat menyampaikan message dalam waktu singkat, merespon bergantian sehingga semua orang kebagian kesempatan berbicara, bisa merancang meeting dalam waktu singkat, meeting dengan berbagai orang dari negara lain, hingga bisa berbagi layar sambil belajar dan asistensi dengan mahasiswa. 



Webinar Unpad-German Ambassador to Indonesia
Tetapi, setelah dua bulan WFH berjalan, aku malah jadi sering mengikuti webinar. Ini cara pengisi waktu luang yang baru. Apalagi dengan berjalannya waktu, banyak sekali tawaran-tawaran webinar dari berbagai institusi di dalam dan luar negeri untuk berbagi informasi dan pengetahuan mengenai berbagai hal.  Beberapa hal yang dulu hanya bisa diikuti dalam hitungan bulan, tahun, karena ikut seminar atau konferensi, mendadak bisa dijadikan kegiatan harian bahkan berpindah-pindah webinar dari satu tempat ke tempat lain. Hari ini aku mengikuti webinar tentang STEM dari UNJ, setelah itu Indostaff serial talk series dari alumni pelatihan DAAD. Beberapa hari yang lalu webinar dari Unpad dengan mendatangkan Duta Besar Jerman di Indonesia. Next time, aku juga akan register ikut webinar beberapa petinggi Kemendikbud dan tim Baltic Gender di negara-negara Baltic. 

Webinar UNJ-Rachel Seffield, STEMinist Research Group

Luar biasa hobi baru ini. Tentu saja aku selektif memilih topik, sesuai minat (gender, internationalization, current development in higher education), dan pengisi acara (pimpinan, pejabat Kemendikbud, dan pihak internasional) agar waktu kerja tidak habis juga. Selain ingin tetap mengupdate wawasan di bidang-bidang tersebut, aku juga ingin mempermahir kemampuan English dan menambah vocab melalui seminar bermutu dalam topik yang relevan. Hanya sayangnya hingga saat ini belum ada webinar topik riset yang bisa diikuti, karena dari American Concrete Institute biasanya berbayar.  Kesukaanku pada webinar ini dapat membantu transfer informasi dengan cepat tanpa harus berangkat ke negara tertentu hanya mendengarkan pembicara favorit di bidang-bidang tadi melalui seminar dan konferensi. Mungkin ini akan jadi hobby baru setelah WFD kembali normal. 


Webinar Indostaff Series Talks 1

Pekanbaru, 

Thursday, April 2, 2020

Travel Update Year 2019

Setelah absen selama 2 tahun tidak bepergian jauh-jauh ke luar negeri, Alhamdulillah, akhirnya dengan izin dan rezeki Allah, suddenly aku bisa mengunjungi 20 negara dan beberapa tempat sekaligus pada tahun 2019. Perjalanan panjang tersebut memakan waktu cukup lama dengan beraneka funding, yakni dari program World Class Professor, DAAD Germany, Australia Awards Indonesia, Universitas Riau (LPPM dan Jurusan Teknik Sipil), dan DRPM Dikti. Kegiatan yang dilakukan meliputi visiting, research stay, training, conference, workshop, dan business trip yang sangat berguna untuk pengembangan personal dan profesional (personal and professional development).


Januari-Februari: Singapura (Singapura), Abu Dhabi dan Dubai (Uni Emirates Arab)


Lukisan Whistler's Mother
Setelah fokus mengedit prosiding konferensi ICANCEE2018 selama tiga bulan penuh pada akhir tahun 2018, aku memutuskan untuk refreshing di Abu Dhabi dan Dubai, tempat adik no 1 berdomisili sekarang. 

Kami mengunjungi Louvre Abu Dhabi, salah satu cabang Louvre Paris, karena ingin melihat lukisan termahal di dunia karya polymath Leonardo da Vinci, yakni Salvator Mundi. Sayang sekali lukisan itu belum dipasang di Louvre karena masih banyak konspirasi mengenai hal itu, sehingga lukisan terkenal yang lain seperti Whistler's Mother dari pelukis USA, James Whistler, jadi banyak dikejar pengunjung.  Jika tidak ingat, lukisan ini pernah muncul di film Mr. Bean. Madame Whistler digambarkan sebagai sosok sederhana, religious tetapi telah menyeberangi lautan Atlantik sebanyak 11 kali untuk menemani suami dan anaknya bepergian ke berbagai negara. Mengenai lukisan ini selengkapnya di sini.

Kami berdua melakukan kegiatan seru lain seperti lunch di tepi pantai di Sharjah, mengunjungi museum sains dan teknologi Sharjah, naik ke puncak Dubai Frame, shalat di Syekh Zayed Grand Mosque, duduk di tepi pantai dan belajar sejarah bangsa Emirat di Abu Dhabi Heritage Village, duduk berdua menikmati malam di Dubai Creek dari jendela kamar hotel, dan traveling darat ke kota Fujairah yang cukup jauh dari Abu Dhabi.  


Maret-April: Europe
Perjalanan ke beberapa negara di Eropa dilaksanakan pada akhir Maret dan awal April bersama kedua orang tuaku.  Kali ini kami tim jalan-jalan yang selalu bertiga diberi Allah rezeki melihat bumi dan ciptaan Allah, kata ibuku, seperti dalam surat Al Mulk ayat 15.  Agar praktis, kami mengikuti paket tour untuk bisa keliling ke beberapa kota dan negara tanpa perlu pusing mengatur transportasi dan akomodasi lokal sehari-hari. Tur sendiri kami ambil dari West Europe, Keukenhof 13D dari Bayu Buana Tour dan Travel. Persiapannya cukup memakan waktu dimulai dari Desember 2018. Alhamdulillah, akhirnya pada 23 Maret 2019 kami terbang dari Jakarta ke Roma untuk memulai perjalanan tour tersebut.  Berdasarkan itinerary, kami mengunjungi 16 kota/tempat di 9 negara, yakni Roma, Pisa dan Venesia (Italy), Vatican City (Vatican), Innsbruck (Austria), Frankfurt, Cologne, Black Forest (Jerman), Zurich, Engelberg, Luzerne (Switzerland), Vaduz (Liechtenstein), Amsterdam, Volendam (Belanda), Brussels (Belgium) dan Paris (Perancis). Untuk perjalanan pulang, kami terbang dari Paris menuju Jakarta melewati Abu Dhabi (lay over beberapa jam ke toilet) menggunakan A380. Perjalanan di Eropa menggunakan bis eksekutif dengan 25 orang peserta tour dan satu tour leader. Umumnya peserta adalah suami-istri, maupun keluarga dengan anak dan grup arisan. It was such a great memory with my parents in 2019, apart from other trips with them all over the world, that I will treasure forever in life.  

Italy, Switzerland, France, Germany and Netherland with my parents.

Juni: Jakarta-Cipanas
Setelah hari raya Idul Fitri, kami mengajak bapak-ibu mertua dan saudara-saudara ipar serta keponakan berlibur ke Cipanas, Puncak.  Vila yang kami tempati letaknya di lembah dekat dengan sungai dan tebing penuh gemericik air.  Tempat tersebut sangat menyenangkan karena bisa menikmati alam, udara bersih dan piknik dengan keluarga.  Kami ke tempat-tempat menarik, menikmati taman bunga, udara khas pedesaan dan makanan khas di tempat tersebut. Sayang sekali perjalanan pulang ke Jakarta luar biasa padat sehingga kurang berkesan. Tetapi kami bersyukur bisa membawa bapak ibu, pakde bude, dan keluarga besar bersama-sama meskipun hanya sehari. 

Bersama bapak-ibu mertua dan hubby saat breakfast. 
Suasana vila di waktu malam.

Juli: Mataram, Jakarta 
Perjalanan ke Mataram, Nusa Tenggara Barat dan Jakarta dalam rangka bekerja dengan tim internasional.  Pada perjalanan ini aku lebih banyak fokus mengerjakan tugas-tugas dan tidak banyak sightseeing. Di Lombok aku mencoba sate kuda rembiga! Itulah hal yang paling adventurous saat itu.  Selama di Jakarta, aku belajar banyak hal yang membantu diriku fokus menapaki jenjang karir dan recharging mental dan mind set saat bekerja dengan tim asing. 


Sate rembiga daging kuda dan urap daun pepaya.

Agustus: Bandung, Kuala Lumpur (Malaysia), Adelaide (Australia)

Setelah dari Jakarta, kami melanjutkan perjalanan ke Bandung untuk mengikuti pelatihan reviewer penelitian DRPM.  Jadwalnya padat hingga sehari menjelang Idul Adha, materinya menarik, pelatihannya juga mantap, selama di situ aku harus belajar semua aturan-aturan menteri keuangan, dirjen, dll, yang tak sempat dibaca kalau di kampus.  Pada pelatihan tersebut aku berjumpa para reviewer yang kukagumi karena kredibilitas mereka karena sudah bertahun-tahun membantu Dikti. Misalnya Prof. Suminar dari IPB yang pernah mendorongku untuk studi S3 dan giat bekerja dalam bidang publikasi dan penelitian.  Rasanya bangga sekali sekarang bisa bergabung dengan tim reviewer DRPM untuk membantu mereka menyeleksi proposal yang layak didanai.


Bersama Prof. Suminar, reviewer DIKTI paling senior dan salah satu mentorku

Kegiatan berikutnya setelah Idul Adha adalah World Class Professor di University of Adelaide, Australia dengan dana dari SDM Dikti. Alhamdulillah, tahun 2019 ini kami mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan Prof. Shaobin Wang dari School of Chemical Engineering and Advanced Materials.  Kegiatan tersebut adalah untuk fine-tuning artikel ilmiah, melakukan visiting research dan kegiatan akademik lain selama durasi World Class Professor. Pengalaman mengunjungi University of Adelaide sebenarnya membuka wawasan dan semangat baru untuk kolaborasi serta riset postdoctoral di Jerman.  Satu lagi, pengalaman mengelola WCP skema B membantuku mengingat kembali dasar-dasar pengelolaan proyek universitas.  Perjalanan ke Adelaide menutup rangkaian traveling Juli-Agustus selama 40 hari berturut-turut. 


Diskusi bersama Prof. Wang di Adelaide University, Australia. 

Guest Lecture Prof. Wang di Universitas Riau, Pekanbaru.

September-Oktober: Europe
Beberapa hari setelah kunjungan Profesor WCP ke Universitas Riau, aku dan hubby berangkat ke Jerman melalui Doha.  Kegiatan selama 21 hari di Eropa adalah berlibur dengan tur GoEUGo (salah satu operator dari Belanda), mengikuti konferensi EACEF7 di University of Stuttgart, dan menghadiri training Women in Leadership, Alumni UNILEAD  Khusus untuk training tersebut, aku dan Yuli kolega dari UNJ telah terpilih mewakili Indonesia.  

Persiapan untuk perjalanan panjang selama 25 hari dan meliputi 8 negara merupakan kesempatan dari Allah untuk merecharge sisi internasionalisasi, riset dan leadershipku.  Kami mengunjungi Doha (Qatar), Frankfurt, Munich, Black Forest, Stuttgart, Oldenburg (Jerman), Prague (Cekoslavia), Budapest (Hungaria), Bratislava (Slovakia), Vienna, Mondsee (Austria), Zurich, Engelberg, Luzerne (Switzerland), Vaduz (Liechtenstein).  Meski demikian, bersama hubby kami bisa mengunjungi 8 negara selama 8 hari.  Aku bersyukur bisa mengajak hubby ke Engelberg, menaiki gunung Titlis naik Rotair 360deg untuk mendapatkan pengalaman yang sama saat pergi dengan orang tuaku bulan Maret lalu. Di Stuttgart kami berjejaring dengan staf di sana dan di Oldenburg aku menikmati persahabatan dengan teman-teman leaders wanita dari berbagai negara. 


Mount Titlis, Swiss. 
EACEF7, University of Stuttgart, Jerman.
UNILEAD Alumni Workshop Women in Leadership, Univ. of Oldenburg, Jerman.


November: Bogor
Pada tahun ini aku mendapat undangan untuk mengikuti seminar hasil Penelitian Dasar  skema Material Maju DRPM Dikti di IPB Convention Center, Bogor. Pada kegiatan tersebut aku harus mempresentasikan berbagai temuan dan kegiatan terkait Penelitian Berbasis Kompetensi didanai pada tahun 2018-2019. Semua peneliti mendapatkan kesempatan mempresentasikan dan mendiskusikan hasil penelitian mereka dipandu oleh reviewer nasional.  Kegiatan yang cukup mendadak ini benar-benar membuat kami maraton berhari-hari mempersiapkan profil, poster, buku, log book dan luaran lain yang belum tertata dengan rapi. Sistem diskusi yang terbuka di antara peserta sangat membantu membuka jejaring baru dan kolaborasi penelitian maupun publikasi. Alhamdulillah, karena berhasil mendapatkan penyaji terbaik pertama pada kelompok tersebut.  Semua ini membuatku semakin yakin bahwa topik penelitian tersebut memiliki USP (unique selling point) dan novelty yang cukup baik sehingga tambah semangat untuk melanjutkan banyak kajian dan publikasi di masa mendatang. 


Kelompok dua, skim Material Maju, Penelitian Dasar DRPM Dikti.

Alhamdulillah, satu lagi piagam penghargaan untuk tahun 2019:)


Desember: Jakarta
Leg terakhir di bulan Desember adalah kembali ke Jakarta dengan tim seminar alumni DAAD. Host kami dari Univ. of Applied Science Kiel-UKI-UMY, dengan fasilitator Dr. Britta Thege, dan Dr. Mareika Klara. Selama beberapa hari kami berdiskusi, bertukar pikiran, dan mengunjungi tempat-tempat seru seperti kantor UN, kantor DPR, dan had a beautiful dinner together di restoran Makassar.  Kegiatan ini menambah lagi input dalam diriku untuk stay calm, stay focus dan stay strong dalam mewujudkan mimpi profesionalku. Draft tulisan tentang kepemimpinan perempuan di perguruan tinggi sudah bertambah analisanya. Draft proposal Alumni Grant Scheme untuk membangun network antar perguruan tinggi telah didiskusikan dengan Mareika dan Britta. Mudah-mudahan semua mimpi bisa terwujud pada tahun 2020-2021. 

Tim Seminar Alumni DAAD 2015-2020

Alhamdulillah, so many ideas, insights, developments, etc. Mudah-mudahan bisa terulang lagi di masa mendatang. 

Pekanbaru, 
Alhamdulillah, I'm so grateful, Allah.
A very memorable hectic 2019.