Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Thursday, July 2, 2020

Sudah tahun ketiga


Minggu depan aku sudah masuk pada tahun ketiga riset postgradku.

Perasaanku selain sedikit panik karena biasa, kan, juga baik-baik saja sedikit excited! Aku sedang senang-senangnya menghubungkan data dengan teori. Sebenarnya cukup ribet, apalagi kalau pas tidak nyambung apa yang diperkirakan dengan yang ditemukan. Tetapi, aku bersikap positif saja, bahwa tiap masalah itu adalah 'tantangan'!

Mungkin aku sudah pasrah dengan risetku.

Tahun pertama kuhabiskan belajar teori dasar membuat beton geopolimer.

Tahun kedua, aku mulai merancang dengan serius apa yang harus kulakukan supaya arah risetku jelas.

Tahun ketiga, kulaksanakan apa yang sudah kufix-kan di tahun kedua.

Tahun keempat ini aku baru sangat excited karena sudah ketemu hal-hal menarik yang dapat dilaporkan dalam thesis.

Jadi, semua itu sudah melewati berbagai perjuangan yang tidak sedikit menghabiskan tenaga, waktu dan materi. Boleh dibilang, aku telah tewas berkali-kali. Tetapi aku berusaha untuk terus hidup dan berjalan, walaupun sangat pelan. 

Oleh karena itu aku merasa di tahun terakhir ini, aku masih mampu berjalan, pelan dan penuh ketawakalan kepada Allah.

Aku sering bertanya-tanya seperti apakah perjalanan yang dilewati teman-temanku? Memang tiap orang ada masalah, tapi kok kayaknya mulus-yah?

Ternyata, setelah kurenungkan dan kuingat-ingat, sepertinya tidak semua orang memiliki jalan yang mulus. 

Sekuat-kuatnya mereka berusaha, ada saja yang menghalangi mereka untuk berjalan cepat. Akupun teringat temanku yang mengalami masalah keluarga, keuangan, supervisor, topik, dan seribu macam masalah lain.

Tetapi karena tujuan kita sama, yaitu lulus, hehehe, maka semua rintangan itu sedapat-dapatnya dihadapi dengan ketenangan, kemauan dan kekuatan untuk terus melangkah ke arah yang telah ditetapkan.

Jadi, meskipun aku telah di masa penghujung studiku, aku tetap berjalan tegak supaya aku bisa menuju tujuan akhirku menjadi seorang yang berguna bagi umat dan bangsa.

Semoga.

Perth 2010
sedikit merenung di senja hari:(

Sunday, June 28, 2020

My 40yo thing (throwback)

I was very excited about my 40th a few years ago (in 2015). 


My 40th birthday red velvet cake.
This is a special milestone for a Muslim since 40 is the age of reaching full maturity (Al-Ahqaf 15).

This is the age... "when we're older than young but younger than old (mid-life), when we're looking forward to a major accomplishment, when habits developed now typically stay with us, and when we're ready for a real mission in life..."

I celebrated my 40th with family (hubby, mom and dad), 

and my students (final year project, KP, PKM, mahasiswa mengulang, bupati HMTS... haha), some ex-students (thank's Virdy, Yulia, Winda), also with my dear friend, Leni, yesterday.

Thanks for coming to my birthday, everyone, and marking that important milestone with me.


++++++++++++

That's what I wrote on my wall many years ago. 

It was an expression of gratitude, happiness, hope, and submission to Allah, the Almighty. 

This is the age where I must think about every decision and action carefully, including the consequences, so I won't regret it or cause any sequence effect in the future.  

When I invited the students to my small party, I thought they would come, eat, and leave the house quickly. But then, they enjoyed the gathering and started chatting with their friends at home. Some of them interviewed my parents and talked to them about me. They just gave my family some ideas about how I was at the university.


Thanks for the special present

Thanks for coming, everyone.

I didn't want to celebrate my birthday alone this year. It would be fun if we could celebrate it surrounded by people we like and enjoy being with. 

It was a nice one. Alhamdulillah. Thank you, Allah:)

Pekanbaru 2015
Pekanbaru 2020



Sunday, May 31, 2020

Concretor

Kadang-kadang aku teringat masa-masa seru PhD study di Curtin University. Berikut aku post salah satu episode sekolah tersebut: Concretor.

"Nasib baik istri saya tak buat riset Concrete... kalau tak, habislah saya penat bantu-bantu dia, macam Gunawan", gitu kata Hakim, my officemate.

Hakim terlihat sangat terkejut saat melihat tampilan aku dan Gunawan (my hubby) yang baru kembali lab. Setelah berkaca sedikit, aku ikut terkejut melihta baju kami penuh debu pasir, percikan beton basah, jilbabku udah miring-miring... wajah berminyak kecapekan, sepatu safety-pun udah ga keliatan lagi bentuknya karena berlumuran debu dan tanah! 
Patutlah Hakim jadi shock!

Tapi kalau sudah melihat hasilnya seperti ini (foto berikut), rasanya tidak perlu ada kesedihan akibat komen shock tadi.



Waktu ambil topik riset, rasanya udah tau kalo kerjaanku bakal jadi concretor. Berhubung waktu di UK dan UNRI ga pernah ngerjain sendiri, jadi aku tidak memiliki bayangan skala pekerjaannya, termasuk skala capeknya nyiapin kerikil, pasir, dll, apalagi yang namanya concrete mould, definitely boring abis membersihkannya!

Paling ga nyangka kalo harus nyiapin semua sendiri.
Jumlah teknisi terbatas, terus kayaknya mereka mesti ngerjain macem-macem hal, jadi kalo mau cepet, mendingan prepare semuanya sendiri dan bikin rencana sendiri.

Apalagi bikin-bikin beton itu bukan pekerjaan satu hari saja.
Awalnya kita mesti prepare larutan NaOH dulu.
Mesti booking fume cupboard dulu, terus ambil NaOH pellets, distilled water, dan scale.
Buat NaOH 14 M. Harus sangat hati-hati, soalnya pakai konsentrasi tinggi.



Setelah membuat, mesti prepare aggregates.
Sekop dulu di stockpile sana, kemudian bawa dengan bucket ke dalam lab, beri air, biarkan 24 jam supaya saturated.
Besoknya hamparkan di tray, biarkan jadi SSD sampe sehari berikutnya.
Kalo aggregate ready, kita timbang sesuai mixture proportion. Fly ash juga perlu ditimbang. 



Yang paling challenging, scaling alkaline solution. Timbang baik-baik, jangan ada yang tumpah lalu mubazir. Siapin dulu satu per satu, kemudian sesuai dengan urutan saat akan membuat sampel baru dicampur: NaOH, sodium silicate, air dan superplasticizer. Superplasticizer dicampur pelan-pelan sampe merata dan tidak ada gumpalan.



Waktu bikin beton, peralatan slump, semua silinder, pan mixer, material harus sudah ready dan dibasahkan sedikit.
Setelah beton jadi, mulailah saat-saat mendebarkan karena harus uji slump sambil masukin adukan ke silinder.
Masukinnya cepat, tapi... compactionnya, perlu 3 layers, 60 manual stroke.
Walah-walah... so, per silinder 180 strokes.
Waktu bantu Helen dulu, ada Adam, aku dan Helen.
Kita sama-sama compaction, tapi Helen selalu paling cepat, aku dan Adam selalu belakangan.
Aku udah syak nih, pasti pake bahasa Chinese ngitungnya... kok cepet amat?
Hehehe... ternyata benar! Kalo pake bahasa Indo kan misalnya "dua delapan, dua sembilan"... sama lamanya dengan "twenty eight, twenty nine!"... hahaha...



Angkat-angkat berat seperti di gym udah jadi kebiasaan kita sehari-hari.
"You don't have to go to any gym. I have quitted from any gym last year. Really don't need to do it," kata Helen, my research mate yang thesisnya tentang balok geopolymer.
Bukan main, kalo nyiapin material, Helen perlu dua minggu untuk dua buah beton sepanjang 2.5m. Kalo diitung2 kasar, at least dia mesti nyiapin 200kg kerikil dan pasir.
Belum lagi fly ash, berdebu2, sampe lusuh wajah kita! Tapi, bener juga apa yang dikatakannya. Tiga tahun setelah itu dia jadi kurus dan sangat atletis... hihihi...



Awalnya aku suka kecapekan, badan pegal-pegal, pinggang rasanya mau patah. Padahal baru bikin 20 silinder, bareng Helen, dan itupun, dia juga yang angkat lebih banyak. Baru angkat 30kg aja aku udah ngomel-gomel dalam hati, pake dibawa lagi ke Supervisor kalo kerjaan itu semuanya bikin pegel!!! Tapi, berjalan dengan waktu dan kebiasaan, Alhamdulillah, setelah 6 bulan, sudah lupa tuh, sama semua rasa capek tadi! Nyekop kerikil dan pasir sampe 8 bucket aja udah ga pernah pegel lagi. Angkat 20 silinder, bikin beton terus kerja di perpus sampe sore, syukurlah sekarang udah ga begitu kecapekan. Wow, what a magic!!!
Itu dari segi perbaikan pada body, sedangkan untuk skill lain, ada dong.

Aku udah tidak takut lagi angkat berat... so pasti, hehehe... ga takut lagi pake mesin sand blasting buat bersiin silinder. Mesin ini, bener-benar invention yang invaluable (tak ternilai).
Biasanya kalo kita bersiin silinder, kita perlu 2-3 jam buat duduk di depan air nyuci2.
Semua yang keras-keras perlu diketuk2 supaya hancur, belum lagi nghalusin bagian dalam supaya hasil cetakannya mulus dan tidak berpori.
Dengan mesin sandblasting yang ajaib tadi, kita cukup tekan pedal gas, lalu tembakkan pasir ke silinder (di dalam mesin), dan voila! Kotoran bandel langsung luruh seketika... ajaib tenan! Dulu 10 silinder 2 jam, sekarang 12 silinder 1/2 jam! Efisien banget.



Aku juga belajar memotong steel bar.
Gampang sih, cuman ditaruh aja di clam, penjepit, terus turunkan pemotong dan biarkan saw tadi memotong sendiri. Bener-bener bagus... Bisa ditinggal ke lab lain, tapi uppsss... better not to do it, soalnya bakalan ga enak kalo ada yang mau make. Terus, saw-nya bener2 tajam yah. Jadi mesti ati-ati...

Memotong beton? Ini nih, pelajaran baru.
Tadinya kuatir banget kalo nggak safe kerjanya. Taunya setelah dicoba, ketagihan nih, mau motong-motongin beton yang banyak...
Dasar ibu rumah tangga, hobi motong2 sayur... hihihi... Terus aku berlatih baik-baik supaya bisa motong concrete bagus-bagus, biar hasil test absorption-nya bagus.

Oh well, jalanin mesin compressive strength sendiri, nyiapin aggregat di tray, ngidupin mesin mixer dan vibrator table sampe pake handheld stick vibrator sudah aku cobain semua.



Deep in my heart, aku very grateful to Allah, Alhamdulillah, karena semua kesulitan yang datang dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di lab akan membantu aku menjadi orang yang sabar, disiplin dan kreatif. 

Aku ga kuatir lagi kerja di lab beton dan jadi concretor. Insha Allah. Aku selalu minta kekuatan dari Allah, mudah-mudahan target 1000-an sampel bisa dibuat, yah, supaya lebih banyak data maka semakin bagus laporan tesisnya.

Pekanbaru,
Perth 2007

Thursday, April 9, 2020

Refleksi WFH





Tiba-tiba seluruh dunia berjalan lebih lambat.  Bumi beristirahat, rejuve.

Akibat kelebihan muatan, terhuyung-huyung berjalan memikul beban, kemudian terhempas.

Awalnya datang 'badai' yang memporakporandakan dasar lautan, mengangkat semua mineral dan harta karun yang disimpannya dalam diam dan waktu lama.

Alam dibersihkan, beban dikurangi. 

Pada saat ini kita terus membaca doa Nabi Yunus saat dalam perut ikan.

Doa supaya lepas dari kesulitan.

Laa ha ila anta, subhanaka inni kuntu minadz dzolimiin.

Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al‐Anbiya': 87)

Semoga beberapa waktu kemudian akan datang 'kedamaian' dan semoga semua makhluk akan sujud syukur menghadapinya. 

Allah Maha Tahu. 

Ini semua kebaikan dari Allah dan Allah akan membantu kita semua untuk bangkit dari kesulitan ini.

La Tahzan, Innallaha ma 'ana.

Pekanbaru, 

Tuesday, March 31, 2020

Re-think: Bekerja dari Rumah

Sesuai dengan kondisi terkini, bekerja dari rumah perlu strategi agar tidak terganggu oleh aktivitas lain.  Tulisan ini pernah aku tuliskan. Silakan dibaca.

https://lowlymonita.blogspot.com/2015/02/tips-produktif-dan-fokus-saat-bekerja.html

Saturday, December 7, 2019

I am in stage: Leave me alone (again? part 2)

Mengenai stage leave me alone saat studi S3 sudah pernah kubahas pada post berikut















Pernah tidak rasanya ingin fokus, fokus, fokus, menyelesaikan sesuatu misalnya paper atau kerjaan yang sudah berhari-hari menggantung dalam pikiran? Tetapi tidak ada kesempatan karena terus loading, loading, loading dan loading mengerjakan hal-hal lain baik yang rutin maupun dadakan. 

Nah, pada saat ini, rasanya ingin kembali menyendiri di suatu tempat hanya khusus menulis-menulis-menulis tanpa perlu mengerjakan pekerjaan rutin seperti memasak dan mencuci. Selain itu, rasanya juga ingin sesekali berwajah lemas, lesu, kurang tidur, mata panda, haha, tanpa dikomentari karena sedang fokus menghasilkan kerjaan berkualitas tadi. 

Sayangnya stage leave me alone saat bekerja sekarang sudah tak sama dengan stage tersebut saat PhD. Untuk bisa punya waktu kosong dalam jangka waktu lama tak memungkinkan. Jangankan berhari-hari, bahkan berjam-jam saja sudah langka. 

Untuk bisa fokus alone dalam yang durasi singkat, telah dilakukan trial-error hal-hal berikut:
a) Mengerjakan koordinasi sambil menunggu jadwal keberangkatan
b) Menulis atau membaca dalam pesawat yang sesekali mengalami turbulence
c) Bangun lebih awal pada sepertiga malam dan mulai bekerja
d) Mengedit atau menyelesaikan data sambil menguji atau mengikuti seminar/kuliah/workshop
e) Fokus mengedit kalimat saat punya waktu luang 15-30 menit 
f)  Melakukan revisi dan editing tulisan sebelum tidur
g) Memulai sebuah pekerjaan jauh-jauh hari sebelum deadline dan terus merevisinya hingga selesai
h) Membuat skala prioritas dan get done untuk sebuah pekerjaan

Ternyata, meski ada agregasi waktu di sana-sini, tetapi kata kuncinya tetap fokus, bukan leave me alone lagi. 

Ada tumpukan draft yang rencananya akan mulai dipercantik. Lalu ada banyak project untuk 2020 yang sudah mulai dibuat draftnya. Kemudian ada segudang rencana project dan research untuk difollow up. Kalau semua jadi 'leave me alone', sepertinya tidak dapat dikerjakan. 

So, sepertinya aku akan mencoba taktik lain untuk menghasilkan pekerjaan berkualitas dalam agregasi waktu seperti sekarang, yakni pakai stage: fokus, fokus, fokus. 

Pekanbaru,

Saturday, February 11, 2017

Repost: Deadline

Tulisan ini aku post kembali, untuk mengingatkanku soal 'deadline'.

Link asli: http://monitaolivia.staff.unri.ac.id/2013/02/15/deadline/


Deadline atau batas akhir adalah waktu yang harus dilewati untuk penyelesaian sebuah pekerjaan.
 
Bagi kita yang tidak disiplin, deadline seperti memberikan ekstra waktu untuk menunda, menarik nafas dan merilekskan diri. Tetapi, bagi orang disiplin, deadline memang sebuah batas waktu agar bisa menyelesaikan semua rencana tepat pada waktunya.

Pola pikir bahwa deadline untuk dilanggar, memang bukan hanya milik saya sendiri. Buktinya, orang-orang seperti saya, biasanya belum akan mengumpulkan sebuah tugas/pekerjaan sebelum hari H-nya. Kami berpikir bawah masih ada sebulan lagi, dua minggu lagi, seminggu lagi, sehari lagi, dan bahkan lebih gila lagi… beberapa jam lagi, misalnya, sehingga tidak pernah merasa urgen untuk mulai mencicil tugas tersebut. Ironisnya, kalau tugas belum selesai, maka waktu berikutnya akan dihabiskan untuk negosiasi sambil menceritakan tragedi deadline supaya ada waktu untuk menarik nafas lalu kembali terbirit-birit menyelesaikan tugas itu. Betapa melelahkannya.

Setuju, perasaan letih itu pasti ada. Tetapi, selain itu ada rasa lain yang muncul di diri setelah pengumpulan, semacam puas dan lega karena bisa mengakali waktu, dengan tetap menyelesaikan pekerjaan. Setelah itu, tanpa bersalah, masih memberi reward pada diri untuk berlibur lama dengan alasan baru saja menyelesaikan pekerjaan berat, padahal sebenarnya baru dikerjakan di batas-batas akhir saat deadline menghampiri.

Sewaktu saya masih sering melakukan hal tersebut, saya tidak menyukai perasaan kurang nyaman karena seperti ‘membohongi diri’ tadi. Saya juga cemas dengan kualitas pekerjaan. Semua yang berbau lastminute.com, mutunya bisa dipertanyakan. Itulah sebabnya, sungguh tidak adil menyalahkan orang lain atau sistem kalau kita mendapat nilai buruk atau tidak menang sesuatu. Coba pertanyakan dulu diri kita, apakah kita sudah maksimal bekerja dalam batas waktu tertentu atau belum maksimal karena baru dikerjakan di saat-saat terakhir saja?

Teknik terbaik untuk melatih diri agar tidak mengalami kesulitan dengan deadline, adalah belajar mengumpulkan pekerjaan/laporan satu hari lebih awal dari deadline. Meski hanya satu hari lebih awal, tetapi efeknya sangat signifikan.

Saat saya memutuskan untuk mengumpulkan laporan tesis satu hari sebelum deadline, masih ada cukup waktu untuk meneliti kembali susunan halaman dan mencetak kembali karena ditemukan warna kertas yang tidak seragam. Tak terbayang rasanya kalau harus dikumpulkan hari itu juga, tetapi saya masih harus melakukan cetak ulang selama 4-5 jam, lalu berlari cepat seperti seekor cheetah ke tempat penjilidan sebelum mereka tutup. Saya cukup tenang karena ada ekstra waktu (well, 24 jam itu ekstra waktu yang cukup banyak loh) untuk mengumpulkan sesuatu. Efek positifnya, ya saya tidak perlu begadang, mengganggu orang, atau memerlukan rehat panjang karena keletihan mengejar deadline.

Coba selesaikan satu hari lebih awal saja dan rasanya bedanya.

Pekanbaru,

Tuesday, January 10, 2017

Akhirnya aku menangis juga...

Senin pagi, 2 Januari 2017, di salah satu pojok Al Haramain, Masjidil Haram

Tempat itu sangat diminati oleh jamaah ibu-ibu yang ingin berdoa, membaca Quran atau sekedar melayangkan pandangan mengamati Kaabah dari tempat mereka bersujud. Aku termasuk salah satu pencinta tempat searah tegak lurus dengan Hijr Ismail tersebut.  Sebenarnya aku tak pernah ingin berebut dengan siapapun untuk sebuah tempat sebesar sajadah ini. Tetapi kadang-kadang, mendapatkan tempat yang bisa menghadirkan hati di depan Kaabah langsung termasuk perjuangan berat karena harus datang lebih awal dari siapapun. Jika terlambat mendekati waktu shalat, maka tidak dapat tempat di mana-mana, kecuali di balik dinding saf belakang. 

Sudah dua hari aku melihatnya, wanita Emirati tersebut. Dia sujud lama sekali dalam tiap shalat. Di sebelah sajadahnya ada sebuah kursi dengan mushaf Quran di atasnya. Tiap rakaat ia membaca Quran tersebut dan meletakkannya kembali sebelum rukuk dan sujud. Suatu hari aku berhasil melihat wajah ayu tersebut karena ia menyentuh tanganku meminta tissue. Wajah tersebut berurai air mata. Aku mengutuk hatiku ini, karena sudah beberapa hari di Al Haramain belum juga menangis sepenuh hati. Apakah tidak ada penyesalan, Monita? Begitu banyak dosa dan kesalahan... Aku melihatnya lagi dengan iri, mestinya aku bisa menangis seperti dia, tetapi barangkali akan datang masanya nanti, tekadku dalam hati.

Senin menjelang subuh aku duduk dengan gelisah menunggu mama yang belum datang. Wanita Emirati itu telah kembali ke negaranya dan tidak ada di tempat biasa. Aku gelisah karena tempat favorit itu sudah penuh dengan ibu-ibu separuh baya dari berbagai bangsa yang pasti akan mengambil tempat mama. Aku lapangkan sajalah untuk orang lain, atau tetap menunggu mama, pikirku ragu-ragu sambil memegang kursi untuk bunda erat-erat. Tak lama setelah itu, seseorang bertanya padaku lalu memindahkan kursi tersebut tanpa mencerna jawabanku. Padahal aku sudah mengatakan 'for mommy', tetapi wanita tua tersebut dengan bahasanya memarahiku dan menunjuk-nunjuk wajahku dengan suara keras seperti jengkel luar biasa. Aku sadar membantah atau bertahan tidak akan menyelesaikan masalah. Mama memang terlambat sekali hari itu ke masjid. Sambil berharap mama mendapatkan tempat shalat nanti, kulihat wanita yang mengamuk tadi membanting sajadahnya di tempat mama kemudian mulai shalat sunat. Tak berapa lama, mama mendekat tempat kami perlahan-lahan karena kaki beliau masih sakit. Aku menunjuk wanita tadi, mama mengangguk tanda tidak apa-apa dan menunjuk ke saf belakang. 

Sementara drama itu berakhir, shalat subuh akan dimulai sebentar lagi. 

Kami semua mulai berdiri. Meski demikian, perasaanku masih campur-aduk setelah dibentak-bentak wanita di sebelah ini. Tetapi aku harus khusyuk mendengarkan imam atau shalat ini akan sia-sia. 

Astaghfirullah. 
Aku maafkan saja ibu yang baru saja memarahiku, barangkali ia lebih memerlukan spot ini daripada mama, aku terus menenangkan hati.

Pada rakaat pertama setelah Al Fatihah, sang imam (Sheikh Bander Baleelah) mulai membaca surat dalam Quran dengan intonasi yang membuat semua merinding. Relay shalat Fajr dapat dilihat di sini.

Masya Allah. Allahu Akbar. 

Luar biasa shalat di Al Haramain, terasa dekat menembus syurga suara lafaz Quran dari imam. Tidak ada yang lebih indah dari bacaan imam ini. Tanpa terasa aku pelan-pelan menitikkan air mata. Air mata jatuh menetes-netes ke kerudung, lalu tanpa malu-malu aku mulai terisak. 

Barangkali aku sudah mulai letih, merasa tak berdaya, dan teringat semua dosa-dosa. 

Barangkali juga hati mulai lunak dan memahami cinta Allah padaku. 

Barangkali juga teringat semua nikmat Allah yang sering tidak kusyukuri karena tidak kupahami... 

barangkali juga sedih karena mama harus shalat di belakang (apakah dapat kursi atau tidak), dan 

barangkali atau paling jelas, karena sedih pagi-pagi mau shalat dimarahi ibu-ibu di sebelahku ini...

Semua perasaan dan pikiran bercampur aduk saat shalat, tetapi menghasilkan kelegaan yang besar saat aku selesai shalat, meski wajahku sembab dan jilbab penuh air mata. 

Ibu yang memarahiku tadi hanya mendelik sebentar lalu packing sajadahnya dan ngacir cepat-cepat. Biarpun caranya tadi menyebalkan, sebenarnya aku ingin berterima kasih padanya karena sudah trigger emosi diriku di pagi hari.

Aku tidak tahu lagi mau menganalisa apa, tetapi suatu subuh di awal tahun 2017, di depan Hijr Ismail, dan di tempat yang indah ini, aku mulai menangis dan menyesali diriku ini...

Pekanbaru,
Catatan Umroh 2016-2017 

Saturday, July 2, 2016

Beberapa Contoh Perilaku Tidak Ikhlas


Imam Al-Ghazali telah menyebutkan beberapa contoh perilaku tidak ikhlas atau dengan disusupi niat lain yang bisa merusak keikhlasan. Perilaku-perilaku tersebut sering dilakukan orang dan dianggap biasa. 

Imam al-Ghazali berkata, "Tiba saatnya kita membicarakan tentang orang yang beramal baik dengan niat mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub), tapi dikotori niat lain. Diantara contohnya adalah:
a) Berpuasa agar sehat
b) Membebaskan budak karena budak tersebut terlalu membebani pengeluaran dan berakhlak jelek
c) Berhaji dengan tujuan wisata, agar selamat dari kejahatan yang mengancam di negerinya, untuk lari dari musuh yang ada di rumahnya, atau demi menghindari penatnya mengurusi pekerjaan dan keluarga
d) Menyerang musuh untuk berlatih perang atau mempelajari bagaimana musuh mempersiapkan pasukan
e) Shalat malam untuk mengusir kantuk agar bisa meneruskan ronda malam atau melanjutkan perjalanan
f) Mempelajari ilmu agar mudah mencari harta, mulia di mata keluarga, atau untuk menjaga kekayaan
g) Mengajar atau berdakwah untuk mengisi kekosongan atau menyalurkan bakat

h) Membantu para ulama atau kaum sufi agar terhormat di mata mereka dan manusia atau agar mendapat kemudahan di dunia
i) Menulis Al Quran untuk melatih keterampilan menulis kaligrafi
j) Berwudhu untuk mendinginkan atau membersihkan tubuh
k) Meriwayatkan hadis untuk menunjukkan betapa sahih sanad yang diriwayatkannya
l) Berpuasa agar tidak bolak-balik ke dapur, tidak capek memasak atau untuk mengurangi makan (diet)
m) Bersedekah kepada pengemis agar pengemis itu cepat pergi

n) Menjenguk orang sakit agar dijenguk kembali ketika sakit
o) Mengurus jenazah agar jenazah keluarganya diurus juga
p) Melakukan sesuatu agar diketahui dan disebut-sebut bahwa ia orang baik
 

Sekalipun niat utamanya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, setiap amalan yang disusupi maksud keduniaan, tidak lagi dikatakan sebagai amal yang ikhlas. 

Meskipun mewujudkan keikhlasan yang sempurna sulit, tetapi jangan meninggalkan amal saleh karena takut tidak ikhlas. Lebih baik pancangkan niat ikhlas terlebih dahulu. Seandainya niat yang merusak amal masuk maka obatilah segera dan jangan berputus asa. Tetaplah ikhlas dan bersosialisasi dengan cara yang baik. Jangan meninggalkan amal karena malu dilihat orang dan tidak mau dianggap saleh. 
Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. 
Meninggalkan amal karena manusia adalah riya. 
Meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas adalah kebodohan. 
Meninggalkan amal ketika amal itu disusupi niat tidak ikhlas adalah tanda hati yang lemah. 

Amal yang dikerjakan dan ditinggalkan karena Allah tidak akan rusak oleh niat-niat keduniaan selama niat-niat yang merusak tersebut segera dibersihkan.

Jakarta,
Kutipan Tulisan dari buku 'Petunjuk Nabi agar Hatimu Lebih Cerdas Lebih Ikhlas', karya Muhammad Musa Al-Syarif, Penerbit Zaman 2009

Tuesday, June 28, 2016

Jangan mengolok wanita bertubuh gemuk

Barangkali post ini akan menjadi post paling terang-benderang di blog lowly. Kejadian ini aku rekam untuk memberikan perbaikan mind-set kepada orang yang suka mengolok wanita bertubuh gemuk. Olok-olokan itu bukan saja menyakitkan tetapi akan merusak si pengolok sendiri di kemudian hari. Post ini terinspirasi dari tulisan berikut di Ummi Online. 



Seorang temanku memiliki tubuh yang cukup berisi mirip denganku. Ia bercerita, bahwa ia telah diolok oleh seorang rekan kerja laki-laki mengenai tubuhnya, dan berikut penuturannya. 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

"Siang itu dengan berlari-lari saya menuju kantor administrasi di lantai 2 parkiran kampus. Saya nyaris terlambat untuk masuk ke kelas berikutnya. Sesampai di kantor, saya berbicara sambil terengah-engah untuk  memastikan kepada staf soal kelas yang akan dimasuki.

Tiba-tiba, seorang rekan kerja, pak XYZ yang berada di sana dan melihat saya datang berkomentar tanpa diundang, 
"Kok ibu terengah-engah begitu... makanya, kurusin badan, jangan gemuk, jadi sulit bernafas baru naik lantai 2"

Deg, saya dan semua orang di sana terdiam mendengarkan komentar tersebut. 

Para staf juga memandang saya dan saya rasa wajah ini sudah berubah dari ceria menjadi menakutkan karena terkejut dan sedikit marah.  Saya hanya memandangi mereka tanpa tahu harus bagaimana. Ini adalah celaan atau olokan yang sulit diterima akal karena apakah beliau tahu sebelumnya saya berlari-lari menuju kantor?

Sontak saya menjawab, "Maaf pak, saya tersinggung lho disebut gemuk".

Beliau langsung defend, "Makanya, kuruskan badan dong, diet kek, jogging kek, exercise kek..." tanpa merasa bersalah, tertawa dan melangkah ke luar kantor diiringi tatapan kecewa saya.

Saya memandang staf yang tidak tahu harus bagaimana. Pastilah mereka mendengar semua itu tadi. 

Tapi mau bagaimana lagi.

Bahkan saya tidak diberi kesempatan apa-apa untuk memberitahukan alasannya mengapa sulit bernafas, atau mengapa bertubuh seperti ini, nyatanya malah ditertawakan di depan mahasiswa dan staf seperti tidak punya harga diri."

Demikian cerita teman yang terluka tadi. 

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Sebenarnya sungguh sulit dicerna akal mengapa rekan kerja tersebut mengolok dia tanpa konfirmasi dan empati dengan keadaannya saat itu. Padahal hal itu sudah mencela bentuk fisik yang Allah berikan, sebagai bukti kekuasaan dan rezeki yang Allah turunkan pada temanku tadi. 

Begitulah kita. 

Barangkali kita juga suka mencela, sehingga saat dicela rasanya kok sakitnya di sini banget. 

Tetapi, meski dalam situasi terharu, kami berusaha saling menguatkan dengan sama-sama mengingat ayat berikut (QS 49:11): 

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim".

Berdasarkan hal di atas, maka mengolok-olok bentuk tubuh tadi sudah jelas bukan perbuatan baik. Beberapa sebab mengapa kita tidak boleh mengolok-olok orang lain:
a) mencederai iman,
b) bisa jadi orang yang diolok-olok lebih baik dari yang mengolok,
c) termasuk perbuatan buruk,
d) jatuh pada ghibah.

Temanku tadi dan kita semua yang bertubuh gemuk barangkali pernah mengalami diolok-olok oleh orang lain. Rasanya menyakitkan, padahal beginilah karunia dari Allah untuk kita, dan bentuk tubuh pastilah bukan satu-satunya ukuran kesuksesan dan penerimaan Allah terhadap kita

Kesabaran terhadap gangguan tersebut perlu ditingkatkan. Hanya Allah sebenar-benarnya hakim, jadi tidak perlu kecil hati kalau diperolok tubuh indah yang gemuk ini. 

Pekanbaru,

Tuesday, June 30, 2015

Khawatir

Beberapa minggu lalu aku bertemu seorang teman yang baru saja mendapatkan rezeki dari Allah, sekolah ke luar negeri. 

Setelah mengucapkan selamat dan rasa bahagia atas prestasinya tersebut, kami mulai membahas tips-tips sekolah di luar negeri.

Berhubung aku punya beberapa masukan penting, dimulai dari persiapan keberangkatan, proses studi, manajemen publikasi sampai manajemen waktu studi, termasuk traveling, sudah kusampaikan. 

Tetapi, pernyataan teman berikut yang membuat aku sedikit shock:
"Saya khawatir nanti pengalaman yang menimpa bapak AB dan ibu (sambil menyebutkan namaku) dengan pembimbing akan terjadi pada saya saat sekolah..."

Wow, pikirku sedikit tersinggung *tepok jidat*.

Rasanya kesulitan waktu studi sudah bagian dari perjuangan tiap orang yang menjalaninya, lalu mengapa langsung menunjuk ke kami yang bermasalah tersebut ya? 

Lalu, apakah tidak bisa melihat akhir manis dari perjuangan berdarah-darah itu kini? Sedangkan teman yang mengalami pengalaman 'horror' (bukan film hantu) saat sekolah itu malah berhasil sebagai salah satu peneliti berbakat tingkat internasional dan sekarang berkiprah di level nasional. 

Sambil sedikit sesak, aku merasa pengalaman selama studi S3 itu sangat berharga sekali, terutama untuk pengembangan diri, kreativitas serta sikap mentalku. Hal itu membantu sekali saat mengajar dan membimbing mahasiswa di lingkungan kampus.

Well, aku jadi penasaran bagaimana cerita studi temanku ini nanti.

So, setelah menarik nafas panjang lebar, dalam dan agak lama, aku baru berani mengatakan:

"Pak, perjalanan studi S3 itu sangat heroik. Tidak sepatutnya bapak sangat khawatir mengalami kejadian kami tadi, karena pasti ada saja kesulitan lain yang akan dialami dan tidak sama persis tetapi level menyakitkannya hampir sama. 

Beberapa teman yang sangat bangga dengan kelancaran tesis, ternyata mengalami masalah dengan keluarganya yang cukup menyita waktu dan menambah panjang lama masa studi. Sedangkan orang yang selama studi banyak masalah dengan teknis penelitian/pembimbing/non teknis lain, kadang tidak ada masalah dengan keluarga. 

Insya Allah akan terjadi sesuatu, tetapi jangan khawatir, karena kita sedang diuji, dan pasti kita harus bisa menghadapinya karena studi S3 bukan main-main. Jika memang bisa mengambil sisi positif dari perjuangan heroik itu, Insya Allah kita akan lebih kaya pengalaman dan bijaksana".

Subhanallah... speechless saye...


(source: https://www.facebook.com/sheikhmuizbukhary/photos/a.500310050056452.1073741829.500118550075602/824941647593289/?type=1&theater)

Pekanbaru,

Wednesday, June 10, 2015

Being Ethical


Occasionally, we forget about this issue, especially when we face moral dilemmas. 

The temptation to do something unethical or cross over the line started when:

we're too enthusiastic to reach our goals,

we might be too afraid of being different from everyone else's,

we really want to speed up the process,

we trap on our marginal thinking (purpose: to evaluate whether something has a greater benefit than its original cost)

and many more reasons. 

However, my lecturer, the guru of Project Management in Germany, Prof Frank Fischer, has reminded us to remain ethical at work despite uncertainty, ambiguity, and instability. 


The people who sacrifice their integrity by breaking rules "softly" will also end up paying a high price in the end. 


The professor said that, as good leaders, we must not be influenced by the unethical attempts of those around us. 

If we have to choose, just take an ethical but slow and lonely path, because... gradually, the efforts will build into a masterpiece. 

The truth will reveal that the winner is always the person with high integrity. 

Pekanbaru,

Tuesday, June 2, 2015

Tetap baik

Sungguh benar bahwa saat diri memiliki 'kekuatan' atau 'power' untuk memutuskan sesuatu, kita malah harus sangat lebih dekat kepada Allah dan berhati-hati sekali, sebab, selalu ada kesempatan bagi syaitan untuk menjerumuskan ke dalam perangkapnya...



Dahulu sekali saat masih kuliah, aku pernah mendapatkan nasehat bagus dari seorang teman dekat (teman yang kostnya dekat...). 

Sebenarnya aku sedang bingung karena ada salah paham cukup besar antara aku dan teman lain. 

Aku sedang berpikir-pikir enaknya mau bersikap seperti apa. Habis, tadinya kita baik-baik sih, tapi terus ada 'sesuatu' sehingga aku jadi malas bertemu dia lagi atau tidak mau baik seperti biasa ke dia. 

Padahal kami biasanya saling curhat dan memberi. Apalagi kalau pulang ke daerah masing-masing, pasti ada saja oleh-oleh dari sang teman, dan aku juga pasti membawakan sesuatu untuknya. 

Nah, si teman yang kostnya dekat tadi, setelah mengerti soal itu dengan bijak mengingatkan:
"Kalau kita pernah baik pada seseorang, sebaiknya jangan berubah sikap kita pada dia... kamu harus tetap baik pada dia. Paling tidak, supaya dia tetap ingat kalau kita memang orang yang baik..."

Well, nasehat yang dalemmm banget, yah. 

Baiklah, aku akan berusaha! 

Hmm, sebenarnya ada beberapa masalah kalau aku tidak konsisten mau baik pada sang teman.

Pertama, aku sudah niat mau memberikan dua bungkus keripik melinjo yang sudah kupesan, dan beberapa bungkus camilan lain saat dia pulang kampung nanti.

Kedua, aku tidak ingin ada ganjalan kalau ingin berbuat baik padanya di kemudian hari. Semua itu untuk kebahagiaan hidupku juga. Mengapa harus pikir-pikir kalau mau berbagi sesuatu. Cape, kan?

Ketiga, apakah berbuat baik itu hanya karena ingin dikenang sebagai orang baik? Bukankah lebih baik tetap baik seperti tidak ada masalah sebab fitrah diri yang ingin melakukannya? Mengapa harus pikir-pikir bersikap seperti apa setelah ada masalah? Allah melihat dan memberikan pahala untuk kebaikan itu, tanpa kita harus merasa ingin diingat jadi orang baik.

Pekanbaru,

Monday, May 25, 2015

With every privilege, comes responsibility and challenges


I realized the meaning of the title a few years ago, when I finished some service/business trips for the University. 

It means, for every single thing I've done using the university money or public money, means, 

I have to give it back to the people and uni by sharing knowledge, changing mind-set or improving system.  (responsibility)

and,
it's not easy, because what I've learned at the training/meeting/seminar, mostly something relatively new or not applicable at some level at my workplace. (challenge)

So, then we need to socialize the ideas by doing presentation, discussion, persuasion, and even lobbying some senior colleague to help communicating the knowledge to other colleague.

It is difficult for me to accept the notion that the scholarships, service/business trips, grants, or other type of funding are merely an access to use public money without any responsible product return to the public. 

We must do the best and remind us always that:

"the consequences come with the authorized privilege shouldn't let us forget that we have responsibility to use the opportunity wisely. 

We must return the favor to the public, by providing, working and servicing them through our profession, since they are most eligible party who supposed to get a maximum benefit from our privilege."

And now, I'm wondering the same things, for everything that I've got from Allah...

Pekanbaru,

Sunday, April 12, 2015

Not everyone needs to follow the same path

I learned about this fact 'not everyone needs to follow the same path' from 'Whisper of the Heart' movie.



Shizuku, a smart, book-worm, cheeky, creative and friendly girl, had an ambition to start writing a novel while she was still studying at the Junior High School. 

She's been motivated to do something meaningful at the final year of her Junior High School that can lead to her future career. However, rather than having such a smooth process on pursuing her dream, she has created a big mess at home and school that deteriorate her relationship with friends, teachers and family gradually. She has poured so much time and energy to work on her story without listening to other people advices. Shizuku's other motivation was just as good as her talented beau, Seiji Amasawa. 

Her mom and sister were furious, but her dad has learned that Shizuku's different intention could be something positive. She just need a chance to prove it. Her dad convinced Suzuku's mom that 'not everyone needs to follow the same path'...

This is enlightening. 

As an educator, I got this point, that everybody is special. He/she doesn't need to follow other people's career path. 

Instead of asking students to do something generic, I must learn that every personality has their own plan for the future. However, I feel, sometimes they could do more, so that's why I want them to prepare their future well. This will add more options to their future plan. 

An educator could only introduce them to many different options and opportunities, but they future really depends on their own personal capability and preference, eventually.

Pekanbaru,

Saturday, February 14, 2015

Aku dan Mahasiswa

Ceritanya aku sempat terharu saat mendengarkan pidato perpisahan seorang dosen senior kemarin siang. Beliau sering sekali mengatakan, bahwa yang dilakukannya adalah untuk mahasiswa, karena mahasiswa, demi mahasiswa, meskipun pekerjaan dosen itu berat dengan insentif tidak sebanding. Baginya, bisa berada dekat mahasiswa selalu menyenangkan, apalagi kalau dia bisa berbuat sesuatu untuk mereka... Subhanallah...

Seorang dosen memang beruntung memiliki orang-orang yang mendengarkannya dan terus membutuhkan pandangannya. Mungkin itu sebabnya ia selalu merasa senang diantara mahasiswanya, karena kebutuhan manusia untuk didengarkan dan merasa dihargai dari segi kepribadian dan kompetensi. Sebagai seorang pendidik, dosen punya tanggung jawab moral untuk mendidik mahasiswa agar maju, berkembang dan bermanfaat bagi negara dan bangsa. Oleh karena itu juga ia selalu berusaha memperbaiki dirinya dan meningkatkan kompetensinya supaya mahasiswa bimbingannya agar memiliki standar moral dan kualitas untuk dapat bersaing di dunia kerja. Pada akhirnya orang-orang hebat yang pernah dibimbingnya akan membantu menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik bagi kehidupan manusia. 

Kurasa sejak drama awal Januari 2015 yang sempat meruntuhkan sedikit rasa bahagia dalam mengabdi sebagai seorang profesional, aku telah banyak berubah dalam memandang hubunganku dengan mahasiswa. Pada saat pekerjaan profesional memiliki masalah, aku bersyukur memiliki grup mahasiswa yang membuatku cepat bangkit dari kemurungan tadi. Paling tidak aku harus memikirkan keberlanjutan tugas akhir mereka dan menyemangati dalam persiapan tes TOEFL bulan April nanti. Saat itu semuanya seperti mengalir dengan mudah, hanya beberapa kali pertemuan, lalu perasaan-perasaan tertekan itu hilang.

Alhamdulillah, Allah menjadikan aku seorang dosen. 

Selalu bisa bersyukur karena selalu punya kesempatan untuk membantu mahasiswa, seperti memberinya pandangan, nasehat, pertanyaan kritis, menyuruhnya belajar Bahasa Inggris, memintanya mengerjakan penelitian dengan baik, mencontohkan sikap-sikap tekun dan semangat saat berjuang, mengajarinya menulis, melatih mereka untuk berbicara dengan baik dan santun kepada orang lain, mengajarkan mereka untuk menghargai waktu, membuka pikiran tentang potensi dalam hidup mereka, memberi mereka kesempatan untuk berkompetisi, dan masih banyak hal lain yang tidak bisa kuuraikan. 

Alhamdulillah, Allah juga menjadikan aku bisa belajar banyak hal dari mereka, seperti bersabar, membiasakan diri dengan berbagai karakter, mengatasi masalah komunikasi, mengatur waktu, memprioritaskan pekerjaan, menikmati hidup, memiliki teman-teman baik, mengusahakan yang terbaik dalam kondisi tertekan, berpikir positif tentang siapa saja, bekerja sama dengan siapa saja, dan terlalu banyak, sehingga aku sendiri merasa malu menuliskannya.

Pekanbaru,