Showing posts with label In my opinion.... Show all posts
Showing posts with label In my opinion.... Show all posts

Tuesday, January 28, 2025

When You Have to Leave and Say Goodbye Properly

 This post is not about relationships with people you love but with yourself and the place and situation you've been visiting temporarily. It is about saying goodbye in one stage of your heroic journey. 

I recently became a visiting scholar in the US. Although it was only for a few months, I knew I would experience a culture shock and a reverse culture shock. And I want to speed up the process. 

I have some reasons to do that. From my previous experiences living in the UK and Australia, the most crucial factors are adaptability and flexibility. New environments, cultures, geographical locations, and people make us uncomfortable because we are not in our element. Things we know change into new knowledge almost every day. The only thing that could save us is my attitude and mindset. I am prepared to adapt if I am observant and have a common ground. 

So, to speed up the process, there is nothing more than to do your homework. Think about the situation and how you are going to handle it. If you come into a new environment, rather than worrying so much about the new situation, just jump and become a part of the situation. It helps to understand the limitations and the strengths, and then you know that the reality is not as awful as what you've been thinking. Suddenly, you forget about your anxiety and start to enjoy the process or the journey. 

In reverse, when you return home, just think of how comfortable you were in the position. But when I returned, I was still the same person, but with a new attitude and knowledge. Understand that you have to undergo the process of culture shock again, but it won't be scary this time because you return to your initial environment. It's just another process; you will pass the transition very quickly because, you know, this time, you don't have the anxiety. Another tip is to properly say goodbye to anyone, anything, and any place once served you. It helps to acknowledge that they are a part of your heroic journey because of the lessons and joy that you've been experiencing. Acknowledging it means you're ready to let them go and exciting for the next role in your life back home. 

It is time to leave and say goodbye, properly. 

Pekanbaru,

Thursday, October 14, 2021

Mengalami Fatigue atau Burn Out

Setelah 'marathon' mengerjakan sebuah project penting selama berminggu-minggu atau berhadapan dengan 'tsunami' gelombang besar dalam pekerjaan, tak heran kita bisa mengalami fatigue atau burn out. Tanda-tandanya adalah kelelahan, stamina menurun, sulit berpikir dan berkonsentrasi, serta tidak berminat menyelesaikan pekerjaan seperti biasanya. 

Untuk menghindari fatigue terkadang sulit juga karena beban kerja bertumpuk pada waktu tertentu tidak bisa dihindari. Apakah fatigue bisa diatur supaya tidak terjadi atau diminimalisir dampaknya sehingga tidak perlu istirahat sementara dari pekerjaan. Tentu hal seperti ini bisa dihindari selama kita melakukan beberapa hal berikut. 

1) Buat perencanaan waktu dalam bekerja dan perhatikan tenggat waktunya. Misalnya menulis memerlukan waktu 3 minggu dari mengolah data sampai mengumpulkan artikel. Maka kita harus membagi-bagi waktu supaya bisa fokus dalam tiga minggu menyelesaikan target. Jika tulisan dikerjakan maksimum 3 jam sehari, maka dalam 3 minggu x 5 hari kerja x 3 jam = 45 jam, maka kita punya 45 jam mengerjakan satu tulisan sampai terkumpul ke sistem jurnal online. 

2) Bekerja dalam chunck atau waktu-waktu kecil. Gunakan teknik Podomoro atau teknik apa saja, yang penting dalam 25-30 menit yang kita set menggunakan timer/stopwatch tersebut, kita tidak bisa multitasking. Misalnya waktu menulis 3 jam sehari, dibagi menjadi 6 sesi 30 menit, yang bisa dikerjakan tidak berturutan. Pada saat bekerja dan timer berjalan, kita tidak diizinkan lihat media sosial, atau bolak-balik mencari lagu yang pas di youtube untuk mengiringi pekerjaan, atau merespon email, dan hal-hal lain yang mengganggu flow pekerjaan. 

3) Buat persiapan lebih awal. Terkadang bekerja di pelayanan masyarakat dengan sistem online, kita bisa mempersiapkan materi lebih awal, mempersiapkan email lebih awal, menyusun file di awal waktu, dan berbagai hal lain yang tidak perlu dikerjakan multitasking. Masukkan kuota Podomoro tadi ke pekerjaan kita dan siapkan di waktu lain kemudian kirim email atau file menggunakan teknik schedule send. Dengan hal ini, jika kita mendapat respon, kita tidak perlu repot-repot merespon sambil menulis pesan lain karena melakukan hal tersebut bisa melelahkan batin. Pre-schedule semua email dan kegiatan, akan membantu kita mengurangi fatigue. 

4) Ambil break secara berkala. Setelah membagi-bagi waktu menjadi chunks kecil, kita bisa mengambil break selama 10-15 menit untuk menyegarkan pikiran. Highly intensed work jika tidak dibarengi relaksasi akan menyulitkan kita kembali relax pada saat diperlukan. Cari kegiatan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, seperti berjalan di luar rumah, menyusun buku, membuat kopi maupun mengurus tanaman meski hanya beberapa menit. Hal ini dapat menghindari mental breakdown karena terlalu fokus dan menyegarkan fisik setelah duduk beberapa lama menyelesaikan chuncks secara marathon. 

5) Istirahat beberapa hari jika kondisi lelah mulai terasa. Biasanya kepala pusing, sulit tidur, badan pegal, mulai flu ringan atau batuk. Kelelahan demikian memang tidak membawa kita maju dalam penyelesaian pekerjaan, tetapi karena badan dan pikiran sudah tidak sinkron lagi maka kita akan sulit mempertahankan semangat kerja serta menghasilkan pekerjaan berkualitas. Tidak mengapa break 1-2 hari khusus tidur, makan makanan sehat, minum air dan mengalihkan pikiran ke hal-hal yang lebih relax. Fatigue akan lebih mudah dihindari karena kelelahan fisik dan batin dalam jangka panjang berpotensi telah diatasi dengan istirahat secara total dari hal-hal berat terkait pekerjaan. 

Strategi menghindari fatigue sangat bermanfaat di masa working from home seperti ini karena pekerjaan seperti tak berbatas ruang dan waktu, terus berdatangan dan mengalir dengan semua tenggat pendek. Selama ada kemajuan pekerjaan, maka hal tersebut cukup membantu kita untuk terus bergerak menyelesaikan. Akan tetapi jika kemajuan dilakukan di akhir tenggat, maka potensi fatigue akan terjadi dan kelelahan menyebabkan kita tidak menghasilkan pekerjaan berkualitas sesuai tenggat waktu. 

Pekanbaru,

Thursday, October 7, 2021

Kualitas atau Kuantitas


Paradoks apakah kualitas atau kuantitas yang lebih penting sudah lama menjadi isu dalam bekerja.

Ada beberapa poin untuk menilai apakah melakukan pekerjaan kualitas dahulu atau kuantitas yang paling signifikan dalam menghasilkan pekerjaan.

Pertama, pekerjaan berkualitas membutuhkan rencana, strategi, kecermatan, disiplin, manajemen resiko dan fokus penuh dalam penyelesaiannya. Persiapan menentukan hasil, sehingga pekerjaan berkualitas memerlukan waktu lebih lama dalam tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi akhir. 

Kedua, pekerjaan berkualitas memberikan hasil lebih baik dengan dampak besar dalam jangka panjang. Biasanya setelah beberapa lama, pekerjaan tersebut masih terus menjadi acuan/pedoman bagi pekerjaan-pekerjaan lain terkait. Long lasting impact. 

Ketiga, pekerjaan berkualitas harus dilakukan untuk proyek yang terkait dengan banyak stakeholder atau pengguna agar semua pihak dapat merasakan manfaatnya dalam jangka panjang. Pekerjaan seperti ini akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi semua pengguna dan jejaring mereka sehingga dapat menghemat waktu dan biaya. 


Sedangkan pekerjaan dengan kuantitas tinggi juga perlu dilakukan dengan beberapa pertimbangan.

Pertama, pekerjaan tersebut dapat meningkatkan kinerja dalam jangka pendek dan tidak terlalu banyak pengguna terlibat di dalamnya.

Kedua, pekerjaan tersebut memberikan dampak yang dapat dirasakan langsung dan tidak mencari efek jangka panjang.

Ketiga, pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan memaksimalkan 50-60% sumber daya sehingga jumlah pekerjaan dapat ditingkatkan. 


Barangkali berdasarkan pertimbangan di atas, sekarang kita bisa memikirkan apakah kita akan mengejar kualitas atau kuantitas. 


Akan tetapi, dalam surat Al-Insyirah ayat 7 dinyatakan:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Mudah-mudahan sekarang semua sudah jelas ya.




Saturday, September 18, 2021

Buat Batasan (Boundary) dalam Bekerja

Efektivitas dan efisiensi dalam bekerja tergantung dalam pengelolaan waktu, pikiran dan emosi. Terkadang kita tidak bisa hanya bisa menyelesaikan pekerjaan dengan pikiran saja, karena kalau hati sedang galau pasti hasil kerja kurang bagus. Sedangkan saat ingin efisien dalam pekerjaan tapi tidak bisa mengatur emosi, maka akan berpengaruh pada hasil yang ingin dicapai. Oleh karena itu kita perlu belajar untuk mengatur boundary (batasan) dalam bekerja agar hasilnya maksimal dan kita tetap bahagia. 


Sedang enak-enak mengatur jadwal mingguan pekerjaan, tiba-tiba ada pesan masuk di wa menanyakan kepastian sebuah kegiatan yang akan dikelola bulan ini. Rasanya masih weekend, dan tidak ada urgensinya bertanya pekerjaan dengan gaya sangat demanding. Meski dari atasan sekalipun, biasanya aku tidak mau merespon langsung kecuali hal-hal yang benar-benar urgent/serius. Tapi aku jadi kesal juga karena satu message demanding yang terbaca, berarti mengganggu pikiran. Mau merespon, takut berlarut-larut, tapi tidak direspon kepikiran dan bisa jadi macam-macam luapan emosinya. 

Aku ingat, dalam bekerja kita juga bisa mengelola emosi dengan menetapkan boundary. Misalnya hal-hal seperti ini:

1) Tidak membalas message terkait pekerjaan di luar jam kerja dan hari kerja. Misalnya jam 18 ke atas dan hari Minggu. 

2) Melakukan pekerjaan yang diberikan surat atau email disposisi/surat penugasan resmi/SK dari atasan/pejabat terkait. 

3) Tidak memasukkan jadwal baru apabila pekerjaan sebelumnya belum selesai. 

4) Berani berkata tidak bisa apabila memang tidak dapat mengalokasikan waktu sesuai dengan keinginan orang lain baik atasan maupun orang berpengaruh. 

5) Tidak perlu merespon berbagai pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. 

6) Tidak perlu merespon kemarahan orang yang salah alamat dan tidak pengertian.

7) Tidak perlu merespon office politics, bullying, fitnah, ketidakadilan dan body-shaming. 

8) Boleh hanya memberikan tanggapan apabila dipersilakan. 

9) Boleh menolak menjadi anggota tim kegiatan yang tidak menjadi prioritas pekerjaan saat ini.

10) Tidak perlu khawatir memberikan masukan apabila ada yang membuat kesalahan/tidak valid dalam bekerja. 

dan sebagainya. 

Hal yang terpenting, kita harus bisa mengelola emosi dan memastikan pekerjaan kita baik hasilnya. Memastikan bahwa boundary dapat ditaati dalam pekerjaan, akan membantu sekali untuk kelangsungan pekerjaan dan ketenangan jiwa dalam mengerjakannya. 

Pekanbaru,




Friday, June 12, 2020

Reuni

Ini adalah opiniku soal reuni.

Beberapa tahun lalu, reuni buatku bukan prioritas. Setelah lama-lama jengah dengan ajakan 'kumpul yuk', 'reuni yuk', 'temu alumni yuk' ala teman-teman SMAku (sorry, guys!), yang diisi dengan kegiatan ketemuan di tempat makan, aku memutuskan 'reuni dengan teman-teman SD/SMP/SMA' is not my style of socializing'. Kecuali... eh, kecuali, reuni dengan teman-teman alumni dari universitas lain. Itu, baru namanya socializing!


Reuni ibarat benchmarking atau tempat mengukur keberhasilan diri?

Masa lalu, mbok dibiarkan berlalu. Apa serunya ulang-ulang cerita lama tentang guru matem, guru ipa, guru kesenian, malam kesenian, etc. Mungkin juga ada sedikit singgung-menyinggung kehidupan di kompleks, ngecengin kakak kelas/adik kelas, kisah cinta orang, band waktu SMP atau teman-teman yang ngetop di sekolah. 

Seperti memutar program radio berulang-ulang saja menceritakan indahnya kehidupan yang tak tersentuh realita di dunia tersebut.

Setelah dipikir-pikir sepertinya aku malas reuni mungkin karena dulu aku bukan seleb atau kurang top saat SMA? *mikir sambil giggling*. Atau barangkali terlalu banyak stori dengan teman-teman yang kurasa agak memalukan? Mungkin juga karena masa-masa tersebut kita tidak jaim sehingga dunia serasa milik anak-anak SMA membuatku merasa kuper setelah berinteraksi dengan dunia lain di Jogja, Manchester dan Perth sana. 

Cihuy, akhirnya paham juga kenapa aku hating 'reuni anak SMA'ku itu.

Tapi kalau temu alumni teman kuliah aku baru cepet datangnya. Berhubung masa-masa kuliah tidak ngetop juga, tapi jelas yang mo dibicarain scope-nya cukup luas, jadi aku tidak keberatan ketemu teman-teman baru yang satu alumni denganku. Minimal bisa tuker-tukeran pendapat tentang sistem universitas atau info tinggal di Jogja, dah!

Kalau ikut reuni dengan teman dari universitas lain, nih, yang sebenarnya lebih menarik hatiku. 

Kebetulan waktu aku selesai S1, aku bertemu sekelompok teman-teman dari institut terkenal di Denpasar, bahkan salah satu dari gerombolan itu malah jadi 'mi hubby'. Apa sih, maksudnya? Maksudnya, aku menemukan teman-teman dari uni paling top di Indonesia, yang kukira 'tinggi hati' dan 'ga mau teman dengan kami yang dari swasta', seperti anak-anak universitas negeri yang kutemui di Jogja. 

Mau ding, berteman, tapi yoo, karena dari swasta, kamu ga bisa jadi temanku, okeh? Gitu kira-kira 'gesture' mereka. 

Nah, teman-teman dari institut ini kok ya, ramah gitu, rendah hati, padahal pinter-pinter, merajai kelas bahasa waktu itu dengan writing tertinggi atau skor latihan tertinggi. Ga keliatan kalo mereka mengusung 'we are from somewhere above khayangan, lo' seperti yang kukira. Bahkan dengan baik hati mereka suka mendengarkan aku curhat, memberi saran-saran jenaka atau saran-saran jitu saat kami semua mulai bersahabat. 

Pendeknya, aku seperti menemukan teman-teman dari dunia yang sama! Jadi nyesel dulu ga berusaha kerja-keras masuk institut ini... (hihi, kayak keterima aja!). Serius, itu termasuk satu hal yang kusesali, bahwa aku tidak cukup informasi dan kemauan untuk belajar keras masuk ke salah tempat terbaik menuntut ilmu di negara ini.

Anyway, last time, temu alumni institut ini di Burswood Park membawaku dan hubby berkenalan dengan komunitas kampus mereka di Perth. 

Aku tidak bicara banyak-banyak dengan teman-teman wanita yang ternyata para istri, tetapi aku malah ngerumpi riset dengan Amalia, temanku di kampus. Barulah pada saat mereka memperkenalkan diri, dengan seksama aku mengamati orang-orang yang mengaku alumni itu. Pada dasarnya mereka pede (mungkin karena menjadi lulusan institut itu sangat bergengsi), mayoritas berkarir di Australia (bukan jadi student, loh), berani mengambil resiko (beberapa jadi enterpreneur atau berkarir di bidang lain, bukan majornya), tidak sombong, punya kepedulian sosial (waktu itu ada yang ngusulin iuran untuk memberi beasiswa mahasiswa S1 di kampus lama mereka yang susah) dan memang ramah-ramah.

Aku menangkap 'gesture' berbeda dengan perkumpulan teman-temanku dahulu. Kelompokku itu kadang kurang efisien dan efektif dalam kegiatan seperti ini. Seringnya bercanda, saling mengejek, berpanjang-panjang membicarakan harta/karir, membicarakan masa lalu, hal-hal yang membuat keningku jadi berkerut banyak karena bingung dan menganggap mereka buang-buang waktu. 

Whua, anyway, mungkin daripada ntar aku dikira songong, mending aku bilang kalau 'duniaku mungkin sudah berbeda' dengan dunia mereka.

Jadi temu alumni yang kuikuti beberapa minggu lalu, masih meninggalkan keingin-tahuan sebenarnya, 'seperti apa yang diajarkan di kampus my hubby, ya?' atau 'seperti apa rasanya jadi mahasiswa di sana'? Hiks!

Perth 2009
Pekanbaru 2020
Thank's hubby yang udah mau mengajakku ke sana dan memberikan perspektif lain.

Monday, June 8, 2020

Apakah itu Calling?

Aku ingat bertahun-tahun lalu (tahun 2004-2005), saat menjadi ketua sebuah pelatihan mengenai penelitian, ada seorang peserta yang bertanya pada ibu narasumber. Beliau menanyakan mengapa penelitian perlu dilakukan seorang dosen. Kemudian beliau menyatakan bahwa bukankah kegiatan penelitian sebenarnya tidak perlu. Seringkali hal-hal yang ingin diteliti sudah pernah dikerjakan orang lain atau hasil penelitiannya sering tidak terpakai, hanya sebatas teori saja. Jadi, untuk apa susah-susah meneliti kalau tidak digunakan? Meski kedengaran konyol, pertanyaannya mengingatkan kita bahwa ada saja orang yang kelewat pragmatis dalam hidup, sehingga lupa soal 'calling'.

Sebenarnya pertanyaan beliau itu mengingatkanku pada orang lain yang menyangsikan kegiatan yang sedang kulakukan. 

Menurut beliau, untuk apa bercapek-ria menulis blog yang sepi peminatnya, atau membimbing mahasiswa untuk meneliti atau menulis padahal mereka toh tidak akan terkenal juga sebagai penulis. Apakah hal itu tidak menyia-nyiakan waktu dan biaya saja.


Menyumbangkan sebuah bangku di taman agar orang-orang bisa duduk sambil menikmati tulip di musim semi adalah sebuah calling.

Saat itu aku tidak bisa menjawab dengan baik, karena aku belum punya jawabannya. Tetapi setelah direnungkan baik-baik, aku merasa hal ini adalah ‘calling = semacam panggilan hati’ untuk berbagi dalam kebaikan. 

Seringkali tulisan di blogku mungkin berisi hal remeh-temeh atau cerita perjalanan liburanku yang mungkin tidak menarik bagi sebagian orang, tetapi mungkin menarik buat orang-orang tertentu. Aku hanya ingin berbagi cerita, pengamatan, pengalaman, dan opiniku yang sifatnya bebas, mau diikuti, mau dibaca atau tidak diterima atau bahkan dipercaya oleh orang lain. Siapa tahu suatu saat ada yang mengalami pengalaman sama denganku, sehingga tulisan tak terbaca tadi bisa jadi sebuah rujukan dan menggugah perasaan. Malah siapa tau bisa membangkitkan semangat jiwa yang sedang turun. Toh, walaupun blog sudah jutaan jumlahnya di dunia, masih ada juga orang yang mungkin membutuhkan hasil pikiran atau secuil ilmu titipan Allah di diri kita.

Bisa jadi hobiku membimbing mahasiswa meneliti dan menulis dipandang tidak menguntungkan. Padahal 'calling' tidak bisa dikuantifikasi dengan penghargaan 'tangible' dan 'intangible' karena ada manfaat yang tidak bisa diambil dalam waktu singkat, tetapi perlu latihan bertahun-tahun.

Sebenarnya yang beruntung dari kerja sama ini adalah kami berdua, karena mahasiswa dapat kesempatan berlatih menulis dan belajar mandiri. Di pihakku, mengajak mereka menulis bersama sebenarnya tidak hanya meningkatkan semangat diriku, tetapi juga kreativitas dan produktivitasku. 

Mereka akan belajar untuk riset bahan tulisan dan mencoba menceritakan kembali pemahaman lewat tulisan. Juga mereka terlatih untuk mengeluarkan pandangan, ide dan saran melalui tulisan. Lebih positif, kan? 

Belajar bersama, mengerjakan project bersama-sama terasa sangat menyenangkan, karena bisa saling menyemangati dan berbagi informasi.

So, despite semua ketidakyakinan dan perhitungan untung-rugi yang dilakukan dengan akal pikiran saja, maaf, hal itu tidak akan menggoyahkan semangatku untuk tetap berbagi kegiatan mahasiswa, blog, dan project-project sosial yang bisa membantu orang lain dan sekuat yang bisa diusahakan. Insya Allah aku akan berusaha istiqamah dalam menjalankan calling atau panggilan hati nuraniku ini sampai Allah tidak izinkan lagi.

Mengenai pertanyaan temanku tadi, ibu narasumber menjelaskan bahwa penelitian bukan seperti sebuah pekerjaan yang kemanfaatannya bisa dirasakan dalam jangka waktu pendek. Tetapi apa yang dikerjakan sekarang, terlihat tidak berguna, sebenarnya bisa memperkuat dan membantu mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga suatu saat dapat bermanfaat bagi orang banyak. 

Untuk bisa mengerjakannya, kita perlu 'calling', supaya tidak terasa membebani hidup kita dan penelitian yang dikerjakan berdampak pada masyarakat dan lingkungan. 

Begitulah.

Perth 2011
Pekanbaru 2020
Tulisan ini direvisi dan dipublish pada tahun 2020. 

Thursday, April 9, 2020

Refleksi WFH





Tiba-tiba seluruh dunia berjalan lebih lambat.  Bumi beristirahat, rejuve.

Akibat kelebihan muatan, terhuyung-huyung berjalan memikul beban, kemudian terhempas.

Awalnya datang 'badai' yang memporakporandakan dasar lautan, mengangkat semua mineral dan harta karun yang disimpannya dalam diam dan waktu lama.

Alam dibersihkan, beban dikurangi. 

Pada saat ini kita terus membaca doa Nabi Yunus saat dalam perut ikan.

Doa supaya lepas dari kesulitan.

Laa ha ila anta, subhanaka inni kuntu minadz dzolimiin.

Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al‐Anbiya': 87)

Semoga beberapa waktu kemudian akan datang 'kedamaian' dan semoga semua makhluk akan sujud syukur menghadapinya. 

Allah Maha Tahu. 

Ini semua kebaikan dari Allah dan Allah akan membantu kita semua untuk bangkit dari kesulitan ini.

La Tahzan, Innallaha ma 'ana.

Pekanbaru, 

Saturday, September 15, 2018

Repost: Menjadi Reviewer Jurnal

Catatan:
Beberapa post penting sempat hilang dari blog akademik yang rutin diisi. Oleh sebab itu semua post akan dipindah sesuai tanggal publish ke blog ini sebagai pertinggal agar selalu bisa diakses. 

Repost dari link berikut. 

Salah satu pekerjaan yang cukup menantang sisi keilmuan saya adalah menjadi reviewer untuk jurnal.

Sebagai seorang reviewer, kita harus independen dan tidak terbawa emosi dalam mengevaluasi sebuah riset. Ada kalanya kita harus sabar dan pelan-pelan memahami maksud author dalam mengungkapkan hasil risetnya. Terkadang author terlalu bertele-tele di satu sisi, tetapi di sisi lain terlalu ringkas sehingga maksud penulisan tidak terbaca dengan jelas.
Kadang-kadang kita menemukan 'missing link' dalam sebuah penulisan. Saya cenderung memberikan masukan untuk struktur artikel agar 'flow' penulisan terjaga dan artikel enak diikuti. Kita harus terus menilai sisi koherensi sebuah artikel dengan obyektif sehingga tidak memiliki praduga awal. Kemudian kita bisa memberi masukan kepada author bagaimana cara agar mereka fokus dan semua teori maupun fakta bisa diliput dalam artikel tersebut.
Di samping itu, data mestilah robust. Untuk menilai sebuah artikel sukses atau tidak, bukan sekadar data dengan penyajian rumit, tetapi data dapat dibaca, dimengerti dan meyakinkan. Terkadang kita harus kembali mengecek metodologi apakah pengambilan data sudah mengikuti prosedur yang benar. Jika ada modifikasi, bagian mana yang dimodif dan apa akibatnya terhadap data.
Format penulisan juga perlu dicocokkan dengan style jurnal target. Author sering mengabaikan hal ini demi mengumpulkan artikel sesuai tenggat waktu mereka. Jika mayor, maka author diminta mengikuti format dengan strict. Jika evaluasinya minor, maka hal-hal kecil seperti salah tanda, typo, tidak perlu dicek semua, hanya berikan contoh dan minta author mengubahnya supaya konsisten dan seragam.
Secara bertahap kita bisa menguji argumen penulis dengan data dan teori yang disajikan. Bagian inilah yang tersulit dalam mereview sebuah artikel. Apakah dengan asumsi awal, metode, data, dan pembahasan, maka didapatkan benang merah tulisan, dan dapat dirangkum dengan baik dalam kesimpulan?  Jika tergambar dengan baik dan kekuatan argumen tinggi dibuktikan dengan fakta hasil penulisan, maka artikel dapat direkomendasikan untuk diterbitkan.
Artikel seperti apa yang pernah saya tolak? Pertama, flow tulisan sulit diikuti. Kedua, data yang disajikan tidak lengkap dan kurang robust. Ketiga, tidak ada benang merah antara masalah, metode, hasil dan kesimpulan.
Bagaimana dengan masukan kita, apakah didengarkan Chief in Editor? Sekitar 90-95% artikel yang saya review, memang diterbitkan dalam jurnal. Ada artikel yang direkomendasikan ditolak, memang ditolak. Tetapi kecil dari 5% artikel yang saya tolak, tetap direkomendasikan untuk diterbitkan. Nah, di sini saya sering mengevaluasi apakah saat mereview saya kurang independen atau kualitas riset outperfomed teknik penulisan. Bagian ini cukup challenging, sehingga harus sering mempelajari style artikel dari sebuah jurnal dan mengikuti kebaruan di bidang riset tertentu.

Pekanbaru,

Friday, June 24, 2016

Ow, kita jangan menyerah dulu

Sebenarnya aku sudah lama ingin rutin nge-blog lagi.

Dulu sewaktu studi PhD, aku selalu berpikir, alangkah menyenangkannya punya banyak waktu untuk menulis post di sini. Apalagi begitu banyak inspirasi dan memori yang ingin kurekam lewat blog sepanjang perjalanan heroik tersebut. 

Tetapi begitu pulang ke Indonesia, setelah 4 tahun sibuk sendiri mengejar kemajuan pekerjaan di kampus, kemudian break dari jabatan tersebut, dan akhirnya jadi punya cukup waktu untuk mengerjakan hobiku, Subhanallah, ternyata aku malah kekurangan inspirasi untuk eksis di blog lagi. Rasanya sulit sekali menuangkan cerita-cerita seperti biasanya. Apalagi budaya skeptis kita membuat diriku jadi lama-lama sering bercermin dulu sebelum mengatakan sesuatu, hingga pada suatu titik aku tidak bisa bicara lagi. What's wrong with me? Di budaya lain, aku bisa sangat percaya diri mengekspresikan diriku, tetapi kembali di budaya ini, aku sulit menemukan kepercayaan diri lagi saat berbicara dan menulis. Lebih baik menghabiskan waktu menulis dan membaca jurnal ilmiah. Okay. Situasi yang aneh. 

Untuk membalikkan situasi tersebut, aku perlu memperluas peredaran. Barangkali berada di beberapa budaya sekaligus bisa mengasah kepercayaan diri dan memupus sikap segan yang tidak bertempat tadi. 

Aku bukan takut kritikannya, tapi sepertinya aku malas dengan sikap kurang supportnya dan terlalu banyak kritik tak relevan. Ibaratnya, setelah kita perbagus satu sisi, mesti ada sisi lain yang akan dikritisi dengan dalih penyempurnaan. Padahal tidak segala sesuatu bisa sempurna, karena kata kuncinya: "selesai saja sesudah prosedur sudah cukup". Berusaha menghasilkan pekerjaan berkualitas di tempat seperti ini juga tidak terlalu diperlukan saat ini. Mirip MBPku (MacBookPro) dengan Mac OSnya yang selalu overspec dari driver printer tahun 2012an, maka pekerjaan berkualitas entah kapan akan terbukti diaplikasikan. Itulah mentality-ku sekarang. Aku juga sungguh frustasi karena sudah mengenal etos kerja Jerman yang sistematik dan detail.

Anyway, untuk membalikkan keadaan selalu butuh momentum. 
Berbekal momentum ulang tahunku minggu lalu yang ke fortyplus, maka kuupayakan agar semangat berbagi dan sikap pantang menyerah bisa muncul kembali. 

Blog ini harus diisi dan ditulis untuk mahasiswaku atau siapa saja yang membutuhkan informasi dan tips. Mudah-mudahan bisa jadi pengingat untuk diri disamping amal jariyah saat aku sudah tidak di dunia ini lagi. 

Yuk kita lakukan. 



Pekanbaru,

Wednesday, June 8, 2016

Meninggalkan Digital Footprint atau Jejak Digital

Beberapa tahun lalu aku membuat blog ini agar mahasiswa bimbingan yang sedang ditinggal merantau tetap selalu dapat membaca perkembangan studi dan pengalaman-pengalaman hidupku selama di Australia. 

Dalam perjalanannya, blog ini malah menjadi tempat menuangkan kreativitas sekaligus menjadi 'timeline' yang mencatat pikiran dan pengalaman dalam hidup. 

Betapa melegakannya, bahwa aku telah memiliki sebuah 'rumah' untuk meninggalkan salah satu jejak digital (digital footprint). 'Rumah' kedua, My Academic Journal menjadi tempat lain berbagi mengenai kegiatan akademik yang kulakukan.

Semoga nanti mahasiswa yang pernah kubimbing atau mengenalku akan dapat selalu bersilaturrahmi lewat cerita-cerita dan banyak hal yang pernah atau dibagi melalui blog ini. 




Pekanbaru, 
dini hari, saat menyemangati diri untuk menyelesaikan proposal penelitian.

Thursday, November 26, 2015

How to learn English everyday

I used to tell my students on how I train myself to learn English in order to be a bilingualist. Bilingual means that you're actively using two different languages on daily basis.

I am using English everyday now, not only for speaking, but also thinking, writing and reading, mostly because I don't want to lose this skill. When I returned from the UK, I was aware that I couldn't follow English again if I don't keep practicing it. To my horror, suddenly, on my first night in Indonesia, I read the movie subtitle and forgot to listen.

Then, in my second reversed culture shock from Australia, I didn't want to waste my time again to learn English from the scratch, so I made a goal to do an IELTS or TOEFL test every two years. That means, I must train and build up my English skills everyday by various ways, such as reading English articles, listening to online lecturers in Youtube or even watching BBC Classic Drama quite strictly.

At the beginning, things were quite slow. 

Once I woke up with a brain paralyzed. It didn't want to process anything in English. 

But then, I force myself to read at least one article once I wake up every morning. This is not only for catching up with the vocabularies, but also trying to update my horizons in many areas. I've done this for years now, and feel quite uncomfortable if I don't start my day with any English articles from on-line news or blogs.

This process is a training to grasp English vocab and learn the grammar pattern once I connect with myself everyday. It just takes about less than an hour per day. It needs to be done early morning, when the brain is still in a fresh state. It will work for some time, and you notice there is a change in your brain when it comes to processing some information in English. It is quicker with higher comprehension for any type of information flow in English.

It is also useful to take note on some useful phrases and use them frequently when speaking or writing. I get this advantage when I have to use English spontaneously. It is not difficult to recall some common phrases, but for specific phrases, when we could use it automatically without thinking much, it feels like winning something precious. I noticed, that now I tend to take note of specific terminology and cross check my understanding before use them. Clarity is my weakness, so I have to understand it perfectly before use those specific terminology appropriately to give them a meaning. 

Anyway, we always could train ourselves on learning something. 

The key is to be discipline and has a strong will to master the skill. With a strategy and rigorous routine, you will build up the skill with time. At the end of the day, you will be able to use it without any difficulty to recall it from yourself.

Pekanbaru, 
Learn to be discipline to blogging again!

Sunday, July 12, 2015

A tale of a stern lecturer

Interestingly, after spending some time abroad, we reflect our behaviour on the people around us. We improve our personality traits and want to teach our families, students, colleagues, and society what we've learned there.

I pointed out one thing about 'being a nice lecturer' to our students.

Before I went to Australia, I was known as a 'stern lecturer'. I was not proud of it, but I couldn't change my attitude to students that easily. I had a strong reason to behave like a 'killer professor'. It was difficult to discipline the students with nice and gentle manners. Presumably, they react better under stiff direction and in a harsh environment.

Perhaps lack of confidence is the only reason since there was an expectation to increase the student's competitiveness at the national level. We, the lecturers, push and put them in our created 'hell' during our 4-5 years of training. When the students work hard and perform well, we are confident that they will be adaptable and successful in the working environment.

However, when I taught students in Australia, I must admit that my 'stern' style was not applicable in their environment, except for Asian students. 

I was seen once as a strange tutor. 
It was not nice until one day, I realized that the essence of working in a typical stable and developed environment is that students don't need too many directions because they are very independent and self-directed. So, there's no need to be a stern tutor in that class. I'm just delivering knowledge!

Then, I adjusted my style. I controlled my response, tone, and expectations towards the students. If I got frustrated explaining a concept to one or two native students, I asked their native peers to help them. Later, some native students praised me for being clear and organized. Suddenly, I started to feel very confident about teaching them.

How about the Asian students? 

Well, I used a modified-stern approach to them. 

I was still quite severe but in a different way. 

Asian students are used to being taught in a stern environment. Their teachers don't praise them for their achievements, point out their weaknesses more, and expect them to be high performers. Most of their teachers tend to feed them with knowledge rather than ask them to find out themselves. They find it challenging to work without direction because their creativity means taking too much time to evaluate the whole class's performance. In Asia, we commonly deal with many students in one class, so efficiency means a lot to every teacher. As a result, most students become quite dependent and spoiled. They prefer to ask rather than think independently because the final output is more meaningful when evaluating their performance.

No wonder it takes a lot of discipline to achieve the same level of standard as students from developed countries. We also worry if they don't perform well since it means they have few opportunities in life after graduation.

However, in the past two years, I have begun to evaluate my teaching style. Gradually, I have become nicer and more positive to the students. 

Yet, there is always an impression that I'm a stern lecturer (elephants never forget, I guess), but I am more approachable and focus on their abilities rather than their poor attitudes now. I tell more stories and cases to lift up their motivation and enhance their knowledge in many aspects. Sometimes, I challenge them to work beyond their limit, but I am not too pushy like any military general anymore.

I also started to appreciate the process of doing anything. 

My own experience in doing research or studying abroad taught me that lecturers sometimes value hard work more than the final results. It is also important to do impressive work, but it is not always the case if the impact of the hard work is more obvious for long-term performance.

The final reason may be' age'. The older we are, the wiser and more tolerant we will normally be. No further explanation is needed.

Pekanbaru,

Tuesday, June 30, 2015

Khawatir

Beberapa minggu lalu aku bertemu seorang teman yang baru saja mendapatkan rezeki dari Allah, sekolah ke luar negeri. 

Setelah mengucapkan selamat dan rasa bahagia atas prestasinya tersebut, kami mulai membahas tips-tips sekolah di luar negeri.

Berhubung aku punya beberapa masukan penting, dimulai dari persiapan keberangkatan, proses studi, manajemen publikasi sampai manajemen waktu studi, termasuk traveling, sudah kusampaikan. 

Tetapi, pernyataan teman berikut yang membuat aku sedikit shock:
"Saya khawatir nanti pengalaman yang menimpa bapak AB dan ibu (sambil menyebutkan namaku) dengan pembimbing akan terjadi pada saya saat sekolah..."

Wow, pikirku sedikit tersinggung *tepok jidat*.

Rasanya kesulitan waktu studi sudah bagian dari perjuangan tiap orang yang menjalaninya, lalu mengapa langsung menunjuk ke kami yang bermasalah tersebut ya? 

Lalu, apakah tidak bisa melihat akhir manis dari perjuangan berdarah-darah itu kini? Sedangkan teman yang mengalami pengalaman 'horror' (bukan film hantu) saat sekolah itu malah berhasil sebagai salah satu peneliti berbakat tingkat internasional dan sekarang berkiprah di level nasional. 

Sambil sedikit sesak, aku merasa pengalaman selama studi S3 itu sangat berharga sekali, terutama untuk pengembangan diri, kreativitas serta sikap mentalku. Hal itu membantu sekali saat mengajar dan membimbing mahasiswa di lingkungan kampus.

Well, aku jadi penasaran bagaimana cerita studi temanku ini nanti.

So, setelah menarik nafas panjang lebar, dalam dan agak lama, aku baru berani mengatakan:

"Pak, perjalanan studi S3 itu sangat heroik. Tidak sepatutnya bapak sangat khawatir mengalami kejadian kami tadi, karena pasti ada saja kesulitan lain yang akan dialami dan tidak sama persis tetapi level menyakitkannya hampir sama. 

Beberapa teman yang sangat bangga dengan kelancaran tesis, ternyata mengalami masalah dengan keluarganya yang cukup menyita waktu dan menambah panjang lama masa studi. Sedangkan orang yang selama studi banyak masalah dengan teknis penelitian/pembimbing/non teknis lain, kadang tidak ada masalah dengan keluarga. 

Insya Allah akan terjadi sesuatu, tetapi jangan khawatir, karena kita sedang diuji, dan pasti kita harus bisa menghadapinya karena studi S3 bukan main-main. Jika memang bisa mengambil sisi positif dari perjuangan heroik itu, Insya Allah kita akan lebih kaya pengalaman dan bijaksana".

Subhanallah... speechless saye...


(source: https://www.facebook.com/sheikhmuizbukhary/photos/a.500310050056452.1073741829.500118550075602/824941647593289/?type=1&theater)

Pekanbaru,

Friday, June 26, 2015

"Being Stubborn since..."

Judulnya sangat catchy. 

'Being stubborn since...', sepertinya sih sudah nama tengahku. 

Aku sering menggunakan cerita ini untuk meningkatkan motivasi mahasiswa bimbingan. Sebab, selalu ada saja orang yang berusaha mengubah pikiran mereka untuk tidak mengerjakan tugas akhir yang sulit dibawah bimbinganku. Menurut mereka, nyaris setiap hari ada saja orang yang mengomentari sesuatu untuk menjatuhkan mental dengan dalih realistis dan memakai logis. Padahal mengerjakan penelitian tidak harus sesuai dengan kriteria siap untuk diaplikasikan, apalagi ini hanya sekelas S1. 

Biarlah mereka belajar meneliti dan menikmati prosesnya, teman-teman. Just let them work in peace. Why don't just you do your own work?

So, about 'being stubborn since...", ceritanya begini. 
Setelah beberapa kali kuamati, ternyata aku tidak begitu cocok bekerja dalam tim yang orang-orangnya suka menggurui dan banyak celoteh. Apalagi kalau orangnya suka mengkritik diriku terus-menerus seolah-olah dirinya saja yang paling mengetahui. Padahal cuma mengetahui, belum jadi ahlinya pula (ada kredibilitas di bidang itu). Kadang-kadang, apa yang diberitahukannya tadi sebenarnya datang dariku, cuman lupa mensitasi sumbernya, barangkali. 

Begini, aku sering diajari untuk begini-begitu (suatu tugaslah ya) oleh orang tersebut. Sebenarnya cara tersebut cocok untuk suatu masa dulu, saat aku masih belum sekolah. Tetapi sejak sekolah lagi, ada banyak cara sebenarnya, dan berbagai cara tersebut sudah diajarkan sebagai budaya oleh sekolah kami. Kami hanya tinggal mengikuti rutin dan memodifikasi alurnya saja. Tidak perlu harus sama persis, yang penting target akhirnya tercapai. Itulah warna budaya universitas negeri maju yang kuaplikasikan dalam bekerja. Nah, beliau sepertinya lupa bahwa ilmu dan metode itu bisa didapatkan dari mana saja, dan bukan hanya dirinya yang mengetahui hal tersebut sehingga tidak perlu mendoktrin orang untuk mengikuti metodenya. 

Belajar untuk 'being stubborn since...', akhirnya menjadi salah satu cara bagiku mengatasi rasa tidak enak. Mungkin idenya didengarkan, tapi lebih sering tidak tertarik menjalankannya. Toh, kita juga punya prinsip sendiri dalam bekerja dan rutin yang sudah dikembangkan untuk memecahkan sebuah masalah. Prinsip dan ritme yang sudah disesuaikan dengan cara kita sesuai dengan pengetahuan dan pemahaman kita akan suatu pekerjaan. Apalagi kalau cara-cara tersebut kurang etis, misalnya sedikit licik, berbohong, menggiring sesuatu menjadi 'abu-abu' untuk mendapatkan tujuan kita dengan lebih cepat.

Tetapi, kalau metode itu bagus dan terbukti dapat diandalkan, apalagi kalau datang dari ahlinya yang berpengalaman, maka tidak diragukan lagi... aku pasti mendengarkannya baik-baik dan menjalankannya.

Btw, just let me work in peace. Save your energy, and why don't just do your own work?

Rahasia 'being stubborn since...' ini yang selalu menyemangatiku dalam bekerja. Betul, setiap orang perlu punya prinsip kuat untuk sukses dan jangan suka mengekor orang saja. Tidak perlu membantah, senyum, dan tetap bekerja sesuai pengetahuan dan pendirian kita. Insya Allah nanti tinggal buktikan bahwa 'hasilnya beda'.

Pesan dari Mufti Ismail Menk:
"Some people dislike you because your strength shows up their weakness. As long as your conscience is clear, learn to ignore them".

Jadi, abaikan saja mereka yang suka mengomentari dan menggurui itu...

Pekanbaru

Saturday, June 20, 2015

Banyak manfaatnya


Jika ditanya mengapa jadi pengajar, aku juga tidak mengerti mengapa Allah mengaruniakan jalan ini kepadaku. Setahuku, hobi mengajar adik dan teman-temannya sewaktu masih kecil telah menjadi modal untuk mengetahui bakat terendam ini. Lainnya, kesukaan belajar sesuatu yang baru dan menyukai dunia kampus membuatku tidak keberatan menjadi pengajar. 

Apalagi suatu rahasia besar yang baru kuketahui saat baru menjadi pengajar, adalah 'jika ingin menguasai sesuatu, maka ajarkanlah hal tersebut kepada orang lain'. Artinya, sebelum kita bisa mengajarkannya kepada seseorang, kita harus mengetahui suatu pelajaran baru dapat mengajarkannya. Sukur-sukur, karena terlalu sering diajarkan, kita bisa mengamalkannya. Tetapi rahasia terbesar

Setelah beberapa lama mengerjakan hal ini, aku bisa mengatakan kalau saya sangat menyukai menjadi seorang pengajar. Mengajar seperti aktor dan aktris sedang berakting, bisa mengatakan apa yang diketahui dan membaginya kepada audiens seperti mahasiswa. Apalagi tipikal diriku yang suka sekali berbagi informasi kepada orang-orang yang ingin mengetahuinya.

Mengajar seperti memberikan tempat bagi diriku yang suka meluahkan pengetahuan. Tiap pengajar juga mendapat kesempatan untuk selalu memperbarui ilmu mereka lewat belajar, membaca, seminar dan konferensi. Hal ini kurasakan sebagai sebuah kekayaan melimpah yang tidak dapat digantikan oleh apapun. 

Betapa menyenangkannya mengetahui kalau bunga lupin ternyata beracun, bangunan tinggi mengambil filosofi bambu hingga kepakan sayap burung hantu yang tidak berisik menginspirasi kipas mesin komputermu? 

Betapa menyenangkannya bisa memberikan info bahwa kapal Independence of the Seas memiliki setara dengan gedung 18 lantai dan dapat memuat 6000 penumpang~ mungkin sama menariknya saat orang bercerita tentang kasus politik terbaru dalam berita televisi.

Ada hal lain yang membuat diriku suka mengajar di kelas, yaitu tiap pertemuan dengan mahasiswa selalu memberikan berbagai ilmu tentang orang lain. Sama seperti orang-orang disekitarku, mereka memiliki berbagai macam kepribadian. Lewat pengalaman berinteraksi, aku belajar bahwa ada cara-cara tertentu untuk menghadapi mereka. Selain itu, aku suka sekali menyemangati mereka dalam bidang tertentu. 

Senang sekali rasanya kalau bisa menyemangati seseorang yang sebenarnya mampu, tetapi tidak memiliki pegangan, sehingga dengan sedikit dorongan mereka bisa sukses. Kita sendiri, yang telah pernah melewati jurang dan gunung berduri, dapat menginspirasi mereka bahwa masa-masa sulit itu bukan hanya milik mereka sendiri. Jika sudah begini, biasanya setelah memberi semangat pada orang lain, aku merasa jauh lebih bersemangat dalam melakukan pekerjaanku.

Banyak, kan, manfaatnya?

Monday, May 25, 2015

With every privilege, comes responsibility and challenges


I realized the meaning of the title a few years ago, when I finished some service/business trips for the University. 

It means, for every single thing I've done using the university money or public money, means, 

I have to give it back to the people and uni by sharing knowledge, changing mind-set or improving system.  (responsibility)

and,
it's not easy, because what I've learned at the training/meeting/seminar, mostly something relatively new or not applicable at some level at my workplace. (challenge)

So, then we need to socialize the ideas by doing presentation, discussion, persuasion, and even lobbying some senior colleague to help communicating the knowledge to other colleague.

It is difficult for me to accept the notion that the scholarships, service/business trips, grants, or other type of funding are merely an access to use public money without any responsible product return to the public. 

We must do the best and remind us always that:

"the consequences come with the authorized privilege shouldn't let us forget that we have responsibility to use the opportunity wisely. 

We must return the favor to the public, by providing, working and servicing them through our profession, since they are most eligible party who supposed to get a maximum benefit from our privilege."

And now, I'm wondering the same things, for everything that I've got from Allah...

Pekanbaru,

Tuesday, July 8, 2014

Courage vs Confidence

I was quite shocked to hear the way two young women answer my question about their plan after their final year examination. 

The question itself is not that special, like "Are you interested in continuing your study?"

"Oh yes, we want to study abroad, I want to go to Australia, and she wants to go to Japan." 

My answer: "That's fantastic. Have you prepared your English qualification?"

The way they answered to my question perhaps has worried me.

"No, we haven't. How do we must prepare it?"

I gave them several hints and told them to contact me whenever they need help in this matter. 

I didn't realize that they were too overconfident to answer my question. The ugly truth is, perhaps they have never prepared actually. 

So, how could they be so confident to answer the question?


This fact that I've mostly seen from my students. 

Some of them were overconfident with their options. They thought they knew the answer once they've finished their final year project. Those who did over confident didn't have enough information about their preferences and the actual risks. When they know the difference between overconfident and courage, they might be conscientious in answering my question about their future. 

Courage is like knowing the actual risks but prepare to take action. In another way, overconfident is like "will do it without thinking'. When they are facing distress and hurdles in the process, later they will realize their lack of preparation, and they are overconfidence. Eventually, they've learned that things must not be underestimated. 

Though I was quite happy with their plan, I want them to understand that it is essential to know well about the demand of their dreams, the qualifications needed and the appropriate attitude.

Pekanbaru,

Sunday, June 8, 2014

My meaningful friendship

I would say, in my life, I just have a few meaningful 'friendships'. I learned with time, high quality friends are the people who make me feel comfortable as myself!

A high quality friendship has some characteristics, such as mutual, supportive, acceptance, dependable, etc.  I consider 'mutual' is one quality of a good friendship. It means, we don't mind sharing thoughts, ideas, time and sometimes possessions.

I also think, 'supportive' is important. With my good friends we support each other plans and achievements. None of us have felt threatened or depressed with one's achievement, or in reverse, pleased with another desperation. We also remind ourselves to stay honest, accountable and humble in every way.
I share this kind of understanding only with a few people in my life. I know they'll be always have my friendship and we'll always be supporting each other. This is also a type of friendship that I have with my dear hubby.



I think the most important thing about a meaningful friendship, is the way you feel about yourself when you're with your friend. If you don't feel comfortable about the situation or feel awkward about things you have said, then, it is not a meaningful friendship. It is not meaningful because you don't feel appreciated or accepted.

A meaningful friendship is also let you flourish and make you become a good person in the long term. When it feels that you slightly change into a weird/bad personality after having a friendship with someone, then you must keep distance with such a person. The person might be not a good influence for you and your reputation. The friendship itself is not worthed to be kept. However, sometimes we just let ourselves to keep this type of friendship because we just want an approval from our friend. But, why is this important to get an approval from someone, when we unconsciously sacrifice our own moral standard?

I learned a lot about this type of friendships from some friends in my life. I did have a meaningful friendship but I have a lot more not meaningful one. Furthermore, I didn't regret my friendships with them, but I think it is the way life has taught me a good lesson: "good friends will let you flourish and be yourself around them".

Pekanbaru,