Showing posts with label My Photo Stories. Show all posts
Showing posts with label My Photo Stories. Show all posts

Friday, August 7, 2020

Selamat tim Program Kreativitas Mahasiswa Tahun 2020

Seperti yang telah disampaikan dalam post terdahulu, salah satu fokus karirku adalah keterlibatan dalam program pengembangan kreativitas mahasiswa. 

Bermula dari Research Club (2003-2006) dengan sederet prestasi, setelah itu secara bertahap mulai tahun 2016, 2017, 2018, 2019 dan sekarang 2020, Alhamdulillah terdapat 7 tim mahasiswa bimbingan mendapatkan dana PKM untuk melakukan berbagai topik penelitian mereka.

Semua tim tersebut adalah bagian dari rencana pengembangan grup riset Sustainable Concrete Technology yang didirikan sejak tahun 2018. Topik-topik yang diangkat harus memiliki nilai inovasi tinggi dan manfaat bagi masyarakat luas. 

Tantangan PKM 2020 adalah produk berbasis digital menggantikan produk fisik seperti teori, konsep, dll. Untuk luaran berupa video saintifik dan review naratif, insya Allah sudah ada beberapa strategi melaksanakannya dengan baik. Saat ini mahasiswa baru dikenalkan addendum panduan PKM, sementara ibu pembimbing menyiapkan langkah-langkah penyelesaian luaran PKM agar pesan-pesan luaran tersampaikan dengan jelas dan baik.

Selamat bagi tim PKM yang telah berjuang keras dan bersabar menyelesaikan proposal, merevisi dan mengupload proposalnya meski harus mengerjakan berbagai kegiatan dan aktivitas lain. Ibu kira ketahanan mental kalian sangat membantu memudahkan proses selanjutnya setelah proposal selesai. 

Selamat berjuang, semoga kita menjadi juara. 

Pekanbaru,

Friday, July 10, 2020

Weekend di Amsterdam: Zaanse Schans (Part 2)

Amsterdam
28 Februari-01 Maret 2015


Museum van Gogh kami tinggalkan untuk melanjutkan perjalanan melihat museum outdoor Zaanse Schans di daerah Zaandam menggunakan bis kota. Kami naik tram dari Amsterdam museum van Gogh ke Amsterdam Central Station. Stasiun bis berada di lantai atas museum dan, again, kami harus berlari-lari ke arah bis yang siap berangkat ke museum tersebut. 

Kanal besar di Zaandam.
Scenic bridge di kanal.
Relevan dengan postku mengenai kanal Otaru di Hokkaido yang direnovasi pemerintah Otaru, maka daerah Zaan juga merupakan daerah heritage yang dijaga kelestariannya oleh pemerintah Belanda. 

Saat ini Zaanse Schans menjadi salah satu tempat kunjungan turis karena terdapat kincir angin icon khas negara Belanda.

Konon revolusi industri di Belanda dimulai dari daerah Zaan pada abad 18-19. 

Seperti pada museum open air di Cloppenburg, Jerman, di museum outdoor Zaanse Schans dapat dilihat replika rumah pertanian, warehouse/gudang, workshop/bengkel kerja, kincir angin di tepi kanal dan padang rumput yang sangat luas. 

Pada salah satu bengkel klompen (clog) atau sepatu kayu khas Belanda, kami mampir melihat teknik pembuatan sepatu yang konon mulai dipakai oleh orang Belanda pada abad ke-13. Terinspirasi oleh sandal kayu milik bangsa Roma, alas kaki ini dibuat tertutup agar dapat melindungi kaki dari cuaca di negara Belanda yang lebih dingin dan penuh angin.  

Klompen cantik untuk souvenir.
Klompen paling besar di sana. 
Klompen dibuat dari kayu-kayu ringan, kuat dan tahan air seperti kayu alder, willow dan poplar sehingga petani dapat menggunakannya untuk bekerja di padang berair atau rawa tanpa mengalami cedera karena air maupun alat tajam. 

Klompen lebih tahan daripada sepatu biasa karena hanya mengalami keretakan bila terkena benda keras. Hanya sayangnya, penggunaan klompen dapat membuat struktur tulang kaki petani mengalami tonjolan karena sol yang keras dan tidak fleksible menurut sebuah artikel di web Smithsonian.

Potongan kayu untuk klompen.
Klompen untuk sehari-hari.
Potongan kayu untuk klompen pada awalnya dibentuk dahulu. Kemudian kayu tadi dibor bagian bawahnya, lalu dipahat secara mekanis untuk mengeluarkan sisa bahan. 




Menonton demo membuat klompen.
Pekerja di bengkel klompen.
Bagian dalam diamplas agar klompen lebih nyaman. Perawatan dalam tungku dilakukan untuk tiap pasang klompen selama 5-6 hari untuk menurunkan kadar air pada kayu sehingga klompen lebih kuat dan siap dipercantik.


Tiap rumah ternyata sebuah workshop/bengkel dan toko.


Rasanya waktu tidak akan pernah cukup kalau tiap rumah yang menjadi workshop/bengkel dan toko di Zaanshe Schans dimasuki. 

Ada tempat pembuatan keju, kerajinan kayu, pottery dan beragam toko souvenir. Jika ingin melihat, kita bisa menggunakan app tour berikut. App tersebut akan membawa kita tour di Zaanshe Schans yang memperlihatkan tempat-tempat tadi dengan lebih rinci. Sungguh mudah traveling di zaman sekarang, bisa menggunakan virtual dan augmented reality. 



Di depan kincir, si kakak asli 'urang awak' residen Amsterdam.
Berdasarkan lukisan Claude Monet dari Perancis, di daerah Zaandam sejak dahulu banyak terdapat kincir angin milik berbagai bengkel berbaris di tepi sungai. 

Kincir angin di tempat itu memiliki bentuk, ukuran, warna cat, nama dan fungsi berbeda. Misalnya kincir hijau paling besar pada foto di samping, disebut De Gekroonde Poelenburg dimiliki oleh pabrik pengolahan kayu. Di bagian belakang adalah kincir angin De Kat, milik pabrik cat dan pigmen. Sedangkan kincir angin terakhir, De Zoeker adalah tempat pembuatan minyak dari tumbuhan.


Apabila kita berjalan mengelilingi Zaanshe Schans, di bagian depan dekat halaman rumput yang bersebelahan dengan jalan raya, dapat dilihat rumah-rumah pertanian beraneka ukuran di sebelah kanal-kanal. Rasanya ingin sekali tinggal di sebelah kanal ini, bisa melihat air di dekat pintu, barangkali sesekali memancing ikan, atau hanya duduk-duduk menikmati angin dan mendengar suara gemericik air mengalir dalam kanal. 
Rumah khayalan, dekat kanal, pohon, rumput dan penuh bunga-bunga empat musim.

Sambil berbincang-bincang mengenai berbagai hal dan memotret cepat dengan Lam, teman dari Saigon, secara tak sengaja terlihat material kerang dalam bentuk utuh yang dihamparkan sebagai pengganti pasir di jalan-jalan setapak ! 
Kerang sebagai pengganti pasir untuk jalan setapak!

Pada masa itu aku baru mulai menggunakan kerang sebagai bahan substitusi maupun aditif untuk material konstruksi. Pengalaman melihat kerang langsung dipakai sebagai bahan hamparan semakin menambah semangat untuk mengeksplorasi bahan tersebut. Beberapa penelitian kami mengenai kerang dapat dilihat pada link ini dan itu

Kami kembali ke Amsterdam Central Station setelah 2 jam berkeliling maupun melihat-lihat rumah dan bengkel di sana. Kegiatan berikutnya adalah menikmati kota Amsterdam dari kanal (canal cruise) sebelum dinner bersama di pusat kota lalu kembali ke hotel untuk istirahat. 

Lanjut ke Weekend di Amsterdam (Part 3).

Pekanbaru, 2020




Monday, July 6, 2020

Weekend di Amsterdam: Travel dan Museum van Gogh (Part 1)

Amsterdam
28 Februari-01 Maret 2015

Saat mengikuti training di Oldenburg, Jerman, beberapa teman sekelas mengajakku untuk mengunjungi kota Amsterdam pada suatu weekend.  


Kami berenam, tiga orang wanita dari Amerika Latin dan tiga orang wanita dari Asia Tenggara akhirnya berangkat ke Amsterdam yang jauhnya sekitar empat jam dari Oldenburg menggunakan bis. 

Bis berwarna hijau semacam Flix bus yang kini tengah populer membawa traveler berkeliling Eropa dengan harga terjangkau. Kami berangkat Jumat sore setelah kelas terakhir selesai dan kembali Minggu sore. 



Bis tersebut berhenti sebentar di Groningen yang letaknya hanya satu jam dari kota tempat kami training. 
Sepeda-sepeda di pusat kota Groningen, Belanda.

Beberapa orang anak muda dengan gembira bergantian menaiki bis kami. Hm, dengan cara demikian mereka tentunya lebih mudah melakukan perjalanan antar negara di Eropa dengan biaya terjangkau.

Kami tiba di Amsterdam saat matahari mulai terbenam. Senja di Amsterdam sekitar pukul 8 malam, sehingga kami tidak perlu buru-buru berlari ke perhentian tram. Berhenti di pinggir jalan dari bis lalu dengan lift untuk turun dua level di bawah jembatan merupakan pengalaman seru lainnya. Dari tempat itu kami naik tram ke Amsterdam Central Station dan naik kereta api menuju Holiday Inn Sloterdijk. Kami menginap di hotel tersebut selama dua malam. 
Lift menuju perhentian tram ke Central Station Amsterdam.

Pagi pertama di Amsterdam dimulai dengan breakfast yang menyenangkan. Kereta api bergantian melewati jendela restoran hotel tersebut. Barangkali hotel ini semacam tempat transit ke bandara Schipol, karena semua kereta api mengarah ke bandara internasional tersebut. Untuk mendapatkan tiket atau pass berkeliling Amsterdam kami juga menaiki salah satu kereta ke bandara Schipol. 
Kereta api lalu lalang di Schipol airport.

Tiket/pass I am Amsterdam, full pass berkunjung ke banyak tempat, tetapi dengan perhitungan cermat hanya museum van Gogh, outdoor museum Zanshee Schans, Amsterdam canal cruise, termasuk museum Anne Frank. Tempat lain tidak bisa kami kunjungi karena keterbatasan waktu perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Teman-teman benar-benar memilih yang menurut kami menarik. Tiket seharga 50 euro tersebut juga termasuk biaya semua moda transportasi seperti bis, tram dan kereta api dalam 24 jam hingga Minggu siang. 
I am Amsterdam peta dan pass.

Sebenarnya ada beberapa tempat khusus yang menurutku penting, tetapi saat ini sudah menyepakati dengan kawan-kawan untuk menikmati weekend ini dengan sebaik-baiknya dengan mereka. Aku mencatat dalam hati ada beberapa tempat, museum dan tur yang harus kuikuti saat berkunjung dengan hubby atau keluarga kapan-kapan. 
Walking tour di The Dam, Old Amsterdam, cita-cita lain. 

Kami kembali ke pusat kota Amsterdam Central Station, tetapi kali ini menggunakan bis dari bandara Schipol. Sambil menunggu bis datang, teman-teman berfoto di depan logo catchy kata-kata I am Amsterdam. Kata-kata ini merupakan promosi, maksudnya siapapun yang datang ke Amsterdam adalah bagian dari Amsterdam.  Banyak orang mengantri untuk berfoto di sana sehingga aku dan kawan-kawan harus berfoto dari kejauhan. Di balik kata icon tersebut kita bisa menunggu bis ke pusat kota.
Icon I am Amsterdam di bandara Schipol.
Teman-teman segrup menunggu bis ke kota di Schipol.

Bis tersebut membawa kami kembali ke pusat kota setelah melewati kawasan industri, padang-padang rumput luas, kanal-kanal, barisan pohon-pohon tak berdaun di awal musim semi, rumah-rumah di tepi kanal. Amsterdam merupakan kawasan dengan pertemuan tanah dan air serta muka air tanah tinggi atau yang biasa disebut wetlands, oleh karena itu terdapat banyak sekali kanal. Bahkan beberapa tempat di Amsterdam terletak di atas laut dan telah direklamasi. Tidak heran pemandangan rumah-rumah berdampingan dengan kanal banyak sekali bisa dilihat di kota ini.
Amsterdam termasuk wetlands. Rumah-rumah banyak dibangun di tepi kanal air seperti ini.

Rumah-rumah penduduk dengan facade khas. 

Kami melewati Rijkmuseum yang konon menyimpan lukisan epik Raden Saleh. Museum van Gogh letaknya tak begitu jauh dari museum terkenal tersebut.  Kami sangat bersyukur karena tak perlu antri lagi, setelah melihat antrian super panjang dalam cuaca dingin tersebut. Ternyata teman-teman telah membeli tiket tanpa antrian menggunakan pass I am Amsterdam. Biasanya ada biaya ekstra beberapa euro, tetapi tidak mengapa karena menghemat waktu selain menghadapi antrian masuk, antrian pemeriksaan kamera dan antrian penitipan barang serta jaket di dalam gedung museum. 


Van Gogh adalah pelukis yang terkenal dengan lukisan Sunflower, Iris dan the Starry Night. Sejarah mencatat perjalanan van Gogh sebagai pelukis, gaya melukis, obyek lukisan yang disukai dan kisah tragis hidupnya. Semua cerita lengkap hidupnya ada di link berikut
Bisa berfoto dengan self-potrait replika besar yang disediakan untuk turis.

Lukisan catchy Sunflower di area foto.
Sebagai seorang pelukis, van Gogh selalu tidak hidup berkecukupan dan mengalami kesulitan dalam hubungan dengan orang lain. Topik lukisannya paling banyak adalah alam, bunga, landscape. Aku mencoba menghitung berapa macam tanaman/bunga muncul sebagai obyek lukisan van Gogh. Barangkali terdapat 17-20 jenis tanaman yang dilukis van Gogh dan lukisan Sun Flower serta Irises yang paling terkenal diantara semua lukisan tersebut. Highlight terbaru dari museum tersebut adalah lukisan almond blossom. Bunga almond berwarna putih dilukis van Gogh dengan latar belakang langit biru kontras dan batang-batang hijau tua. Sungguh menarik.

Menurutku, museum ini sangat menarik dan tidak membosankan. Kehidupan van Gogh diceritakan dengan detil tetapi ringkas seperti mengikuti sebuah timeline. Museum mencoba menghadirkan momen-momen khusus terkait dengan lukisan-lukisan dan sumber inspirasi van Gogh. 

Tetapi kami tidak menemukan lukisan 'The Starry Night' yang menjadi lagu Vincent atau Starry Starry Night yang pernah dinyanyikan dengan powerful oleh Josh Groban, salah seorang penyanyi terkenal dari USA. Anyway, ternyata lukisan tersebut berada di Museum of Modern Art (MoMA), New York!  

Bersambung ke Weekend di Amsterdam (Part 2)

Pekanbaru, 2020

Sunday, June 28, 2020

My 40yo thing (throwback)

I was very excited about my 40th a few years ago (in 2015). 


My 40th birthday red velvet cake.
This is a special milestone for a Muslim since 40 is the age of reaching full maturity (Al-Ahqaf 15).

This is the age... "when we're older than young but younger than old (mid-life), when we're looking forward to a major accomplishment, when habits developed now typically stay with us, and when we're ready for a real mission in life..."

I celebrated my 40th with family (hubby, mom and dad), 

and my students (final year project, KP, PKM, mahasiswa mengulang, bupati HMTS... haha), some ex-students (thank's Virdy, Yulia, Winda), also with my dear friend, Leni, yesterday.

Thanks for coming to my birthday, everyone, and marking that important milestone with me.


++++++++++++

That's what I wrote on my wall many years ago. 

It was an expression of gratitude, happiness, hope, and submission to Allah, the Almighty. 

This is the age where I must think about every decision and action carefully, including the consequences, so I won't regret it or cause any sequence effect in the future.  

When I invited the students to my small party, I thought they would come, eat, and leave the house quickly. But then, they enjoyed the gathering and started chatting with their friends at home. Some of them interviewed my parents and talked to them about me. They just gave my family some ideas about how I was at the university.


Thanks for the special present

Thanks for coming, everyone.

I didn't want to celebrate my birthday alone this year. It would be fun if we could celebrate it surrounded by people we like and enjoy being with. 

It was a nice one. Alhamdulillah. Thank you, Allah:)

Pekanbaru 2015
Pekanbaru 2020



Thursday, April 2, 2020

Travel Update Year 2019

Setelah absen selama 2 tahun tidak bepergian jauh-jauh ke luar negeri, Alhamdulillah, akhirnya dengan izin dan rezeki Allah, suddenly aku bisa mengunjungi 20 negara dan beberapa tempat sekaligus pada tahun 2019. Perjalanan panjang tersebut memakan waktu cukup lama dengan beraneka funding, yakni dari program World Class Professor, DAAD Germany, Australia Awards Indonesia, Universitas Riau (LPPM dan Jurusan Teknik Sipil), dan DRPM Dikti. Kegiatan yang dilakukan meliputi visiting, research stay, training, conference, workshop, dan business trip yang sangat berguna untuk pengembangan personal dan profesional (personal and professional development).


Januari-Februari: Singapura (Singapura), Abu Dhabi dan Dubai (Uni Emirates Arab)


Lukisan Whistler's Mother
Setelah fokus mengedit prosiding konferensi ICANCEE2018 selama tiga bulan penuh pada akhir tahun 2018, aku memutuskan untuk refreshing di Abu Dhabi dan Dubai, tempat adik no 1 berdomisili sekarang. 

Kami mengunjungi Louvre Abu Dhabi, salah satu cabang Louvre Paris, karena ingin melihat lukisan termahal di dunia karya polymath Leonardo da Vinci, yakni Salvator Mundi. Sayang sekali lukisan itu belum dipasang di Louvre karena masih banyak konspirasi mengenai hal itu, sehingga lukisan terkenal yang lain seperti Whistler's Mother dari pelukis USA, James Whistler, jadi banyak dikejar pengunjung.  Jika tidak ingat, lukisan ini pernah muncul di film Mr. Bean. Madame Whistler digambarkan sebagai sosok sederhana, religious tetapi telah menyeberangi lautan Atlantik sebanyak 11 kali untuk menemani suami dan anaknya bepergian ke berbagai negara. Mengenai lukisan ini selengkapnya di sini.

Kami berdua melakukan kegiatan seru lain seperti lunch di tepi pantai di Sharjah, mengunjungi museum sains dan teknologi Sharjah, naik ke puncak Dubai Frame, shalat di Syekh Zayed Grand Mosque, duduk di tepi pantai dan belajar sejarah bangsa Emirat di Abu Dhabi Heritage Village, duduk berdua menikmati malam di Dubai Creek dari jendela kamar hotel, dan traveling darat ke kota Fujairah yang cukup jauh dari Abu Dhabi.  


Maret-April: Europe
Perjalanan ke beberapa negara di Eropa dilaksanakan pada akhir Maret dan awal April bersama kedua orang tuaku.  Kali ini kami tim jalan-jalan yang selalu bertiga diberi Allah rezeki melihat bumi dan ciptaan Allah, kata ibuku, seperti dalam surat Al Mulk ayat 15.  Agar praktis, kami mengikuti paket tour untuk bisa keliling ke beberapa kota dan negara tanpa perlu pusing mengatur transportasi dan akomodasi lokal sehari-hari. Tur sendiri kami ambil dari West Europe, Keukenhof 13D dari Bayu Buana Tour dan Travel. Persiapannya cukup memakan waktu dimulai dari Desember 2018. Alhamdulillah, akhirnya pada 23 Maret 2019 kami terbang dari Jakarta ke Roma untuk memulai perjalanan tour tersebut.  Berdasarkan itinerary, kami mengunjungi 16 kota/tempat di 9 negara, yakni Roma, Pisa dan Venesia (Italy), Vatican City (Vatican), Innsbruck (Austria), Frankfurt, Cologne, Black Forest (Jerman), Zurich, Engelberg, Luzerne (Switzerland), Vaduz (Liechtenstein), Amsterdam, Volendam (Belanda), Brussels (Belgium) dan Paris (Perancis). Untuk perjalanan pulang, kami terbang dari Paris menuju Jakarta melewati Abu Dhabi (lay over beberapa jam ke toilet) menggunakan A380. Perjalanan di Eropa menggunakan bis eksekutif dengan 25 orang peserta tour dan satu tour leader. Umumnya peserta adalah suami-istri, maupun keluarga dengan anak dan grup arisan. It was such a great memory with my parents in 2019, apart from other trips with them all over the world, that I will treasure forever in life.  

Italy, Switzerland, France, Germany and Netherland with my parents.

Juni: Jakarta-Cipanas
Setelah hari raya Idul Fitri, kami mengajak bapak-ibu mertua dan saudara-saudara ipar serta keponakan berlibur ke Cipanas, Puncak.  Vila yang kami tempati letaknya di lembah dekat dengan sungai dan tebing penuh gemericik air.  Tempat tersebut sangat menyenangkan karena bisa menikmati alam, udara bersih dan piknik dengan keluarga.  Kami ke tempat-tempat menarik, menikmati taman bunga, udara khas pedesaan dan makanan khas di tempat tersebut. Sayang sekali perjalanan pulang ke Jakarta luar biasa padat sehingga kurang berkesan. Tetapi kami bersyukur bisa membawa bapak ibu, pakde bude, dan keluarga besar bersama-sama meskipun hanya sehari. 

Bersama bapak-ibu mertua dan hubby saat breakfast. 
Suasana vila di waktu malam.

Juli: Mataram, Jakarta 
Perjalanan ke Mataram, Nusa Tenggara Barat dan Jakarta dalam rangka bekerja dengan tim internasional.  Pada perjalanan ini aku lebih banyak fokus mengerjakan tugas-tugas dan tidak banyak sightseeing. Di Lombok aku mencoba sate kuda rembiga! Itulah hal yang paling adventurous saat itu.  Selama di Jakarta, aku belajar banyak hal yang membantu diriku fokus menapaki jenjang karir dan recharging mental dan mind set saat bekerja dengan tim asing. 


Sate rembiga daging kuda dan urap daun pepaya.

Agustus: Bandung, Kuala Lumpur (Malaysia), Adelaide (Australia)

Setelah dari Jakarta, kami melanjutkan perjalanan ke Bandung untuk mengikuti pelatihan reviewer penelitian DRPM.  Jadwalnya padat hingga sehari menjelang Idul Adha, materinya menarik, pelatihannya juga mantap, selama di situ aku harus belajar semua aturan-aturan menteri keuangan, dirjen, dll, yang tak sempat dibaca kalau di kampus.  Pada pelatihan tersebut aku berjumpa para reviewer yang kukagumi karena kredibilitas mereka karena sudah bertahun-tahun membantu Dikti. Misalnya Prof. Suminar dari IPB yang pernah mendorongku untuk studi S3 dan giat bekerja dalam bidang publikasi dan penelitian.  Rasanya bangga sekali sekarang bisa bergabung dengan tim reviewer DRPM untuk membantu mereka menyeleksi proposal yang layak didanai.


Bersama Prof. Suminar, reviewer DIKTI paling senior dan salah satu mentorku

Kegiatan berikutnya setelah Idul Adha adalah World Class Professor di University of Adelaide, Australia dengan dana dari SDM Dikti. Alhamdulillah, tahun 2019 ini kami mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan Prof. Shaobin Wang dari School of Chemical Engineering and Advanced Materials.  Kegiatan tersebut adalah untuk fine-tuning artikel ilmiah, melakukan visiting research dan kegiatan akademik lain selama durasi World Class Professor. Pengalaman mengunjungi University of Adelaide sebenarnya membuka wawasan dan semangat baru untuk kolaborasi serta riset postdoctoral di Jerman.  Satu lagi, pengalaman mengelola WCP skema B membantuku mengingat kembali dasar-dasar pengelolaan proyek universitas.  Perjalanan ke Adelaide menutup rangkaian traveling Juli-Agustus selama 40 hari berturut-turut. 


Diskusi bersama Prof. Wang di Adelaide University, Australia. 

Guest Lecture Prof. Wang di Universitas Riau, Pekanbaru.

September-Oktober: Europe
Beberapa hari setelah kunjungan Profesor WCP ke Universitas Riau, aku dan hubby berangkat ke Jerman melalui Doha.  Kegiatan selama 21 hari di Eropa adalah berlibur dengan tur GoEUGo (salah satu operator dari Belanda), mengikuti konferensi EACEF7 di University of Stuttgart, dan menghadiri training Women in Leadership, Alumni UNILEAD  Khusus untuk training tersebut, aku dan Yuli kolega dari UNJ telah terpilih mewakili Indonesia.  

Persiapan untuk perjalanan panjang selama 25 hari dan meliputi 8 negara merupakan kesempatan dari Allah untuk merecharge sisi internasionalisasi, riset dan leadershipku.  Kami mengunjungi Doha (Qatar), Frankfurt, Munich, Black Forest, Stuttgart, Oldenburg (Jerman), Prague (Cekoslavia), Budapest (Hungaria), Bratislava (Slovakia), Vienna, Mondsee (Austria), Zurich, Engelberg, Luzerne (Switzerland), Vaduz (Liechtenstein).  Meski demikian, bersama hubby kami bisa mengunjungi 8 negara selama 8 hari.  Aku bersyukur bisa mengajak hubby ke Engelberg, menaiki gunung Titlis naik Rotair 360deg untuk mendapatkan pengalaman yang sama saat pergi dengan orang tuaku bulan Maret lalu. Di Stuttgart kami berjejaring dengan staf di sana dan di Oldenburg aku menikmati persahabatan dengan teman-teman leaders wanita dari berbagai negara. 


Mount Titlis, Swiss. 
EACEF7, University of Stuttgart, Jerman.
UNILEAD Alumni Workshop Women in Leadership, Univ. of Oldenburg, Jerman.


November: Bogor
Pada tahun ini aku mendapat undangan untuk mengikuti seminar hasil Penelitian Dasar  skema Material Maju DRPM Dikti di IPB Convention Center, Bogor. Pada kegiatan tersebut aku harus mempresentasikan berbagai temuan dan kegiatan terkait Penelitian Berbasis Kompetensi didanai pada tahun 2018-2019. Semua peneliti mendapatkan kesempatan mempresentasikan dan mendiskusikan hasil penelitian mereka dipandu oleh reviewer nasional.  Kegiatan yang cukup mendadak ini benar-benar membuat kami maraton berhari-hari mempersiapkan profil, poster, buku, log book dan luaran lain yang belum tertata dengan rapi. Sistem diskusi yang terbuka di antara peserta sangat membantu membuka jejaring baru dan kolaborasi penelitian maupun publikasi. Alhamdulillah, karena berhasil mendapatkan penyaji terbaik pertama pada kelompok tersebut.  Semua ini membuatku semakin yakin bahwa topik penelitian tersebut memiliki USP (unique selling point) dan novelty yang cukup baik sehingga tambah semangat untuk melanjutkan banyak kajian dan publikasi di masa mendatang. 


Kelompok dua, skim Material Maju, Penelitian Dasar DRPM Dikti.

Alhamdulillah, satu lagi piagam penghargaan untuk tahun 2019:)


Desember: Jakarta
Leg terakhir di bulan Desember adalah kembali ke Jakarta dengan tim seminar alumni DAAD. Host kami dari Univ. of Applied Science Kiel-UKI-UMY, dengan fasilitator Dr. Britta Thege, dan Dr. Mareika Klara. Selama beberapa hari kami berdiskusi, bertukar pikiran, dan mengunjungi tempat-tempat seru seperti kantor UN, kantor DPR, dan had a beautiful dinner together di restoran Makassar.  Kegiatan ini menambah lagi input dalam diriku untuk stay calm, stay focus dan stay strong dalam mewujudkan mimpi profesionalku. Draft tulisan tentang kepemimpinan perempuan di perguruan tinggi sudah bertambah analisanya. Draft proposal Alumni Grant Scheme untuk membangun network antar perguruan tinggi telah didiskusikan dengan Mareika dan Britta. Mudah-mudahan semua mimpi bisa terwujud pada tahun 2020-2021. 

Tim Seminar Alumni DAAD 2015-2020

Alhamdulillah, so many ideas, insights, developments, etc. Mudah-mudahan bisa terulang lagi di masa mendatang. 

Pekanbaru, 
Alhamdulillah, I'm so grateful, Allah.
A very memorable hectic 2019. 

Thursday, November 28, 2019

Kunjungan singkat ke kota 'Sound of Music', Mondsee, Austria

Kami melewati kota Mondsee dalam perjalanan menuju Munich dari Vienna. Mondsee merupakan salah satu kota kecil yang cantik di Austria, tempat syuting film legendaris Sound of Music. 

Bus khusus Sound of Music
Sebenarnya aku tidak pernah menonton film Sound of Music sampai selesai. Baru dalam perjalanan menuju Munich dari Vienna di Austria, aku bisa menghayati film tersebut. Ternyata banyak lagu-lagunya sudah sering kudengar dan sering dinyanyikan di mana-mana. Berarti aku tidak ketinggalan sekali soal film Sound of Music ini. 




Sesampainya di Mondsee, bis kami berhenti di sebuah halte dekat sebuah sirkus. Barangkali memang ada tour khusus Sound of Music, karena ada bis khusus dengan judul film tersebut. Aku membayangkan kota kecil seperti apa Mondsee dan bagaimana hidup di sana sebenarnya. 

Pusat kota Mondsee
Pusat kota ini tidak terlalu besar, bangunannya berwarna-warni, dan dipenuhi oleh turis-turis asing. Barang-barang yang dijual di balik kaca juga tidak beragam dan tampak cukup lama.  

Pohon hazelnut








Kami duduk di taman dekat chapel sambil menikmati suasana kota kecil yang sepi, tertata dan rimbun.  Di depan kami ada pohon hazelnut, tetapi tidak ada yang memungut buah-buah berduri tersebut. Di dekat chapel ada barisan pohon apel. Bagi kami yang sudah lama tidak melihat pohon apel berbuah, tentu saja kami harus berfoto dengan pohon-pohon tersebut.




Pohon apel di dekat chapel

Kami tertarik melihat danau yang tak jauh dari kota. Kota yang memiliki danau, seperti kota-kota di New Zealand sangat menyegarkan karena kita bisa berjalan di tepinya dan menikmati pemandangan langit dan air yang selalu berubah-ubah sepanjang waktu. 

Menuju tepi danau 

Tepian danau Mondsee

Rumah-rumah di Mondsee juga memiliki desain yang cocok untuk segala musim. Cat dinding berwarna-warni akan sangat indah di musim semi, musim panas dan musim gugur. Bentuk atap khas dapat menahan salju di musim dingin. 

Rumah asri di Mondsee













Di sana-sini bisa banyak terdapat bunga-bunga berwarna-warni. Beberapa pojok rumah juga memiliki kebun nyaman dengan pohon-pohon buah yang tidak bisa dimakan sendiri semuanya oleh pemilik rumah.













Kota Mondsee memang tempat kecil yang tenang dengan keindahan alam yang luar biasa. Aku berharap bisa bersantai lebih lama lagi di Mondsee untuk menulis buku, membaca, exercise dan melihat-lihat tanaman, atau bahkan bernyanyi lagu-lagu dari film Sound of Music?

Mondsee, Austria, 27 September 2019

Pekanbaru,