Showing posts with label Personal Development. Show all posts
Showing posts with label Personal Development. Show all posts

Sunday, July 26, 2026

How I Found this Book: I Decided to Live as Me

I strolled along T3 at CGK airport a few weeks ago and stopped at the Periplus Corner. Usually, I spend less than 15 minutes scanning all the titles and checking the trend in book publishing. I skipped fiction, mostly because I used to be disappointed after reading the first pages. You shouldn't buy a book based on the cover illustration, as it can sometimes be misleading. 

After browsing different types of book genres for a while, I started comparing prices. The book price is soaring, and I couldn't believe the new book is in the 400K-600K range! Something I must consider carefully: I don't want to end up with a book that doesn't make me happy or confused, with a beautifully crafted cover and some highlight saying 'best-selling author,' etc. With a price like that, I have to be very selective with the genre and make sure that what I read really contributes to my personal and professional development. A win-win situation. 

After thinking what I feel want to improve, I decided that I need to get a book about zen, peacefulness, mindfulness, etc. I do have many books with such a title, but getting a new perspective from a different author should do no harm. So, I found a book by a Buddhist monk about that topic. But when I tried to look at a different copy from the shelf, I saw another book with a cute and catchy cover and title that were so me!

The book has an illustration of someone in the front, a lady, looking very relaxed, with her hands bent and one leg lifted. The book looks interesting! I examined the book and started reading the summary. The title itself is very intriguing, not to mention the tips on it. Later, I spent more than 10 minutes, conflicted between the peaceful and flower-covered Zen monk book and this cheeky lady on the cover with a strong exclamation: "I Decided to Live as Me!"

Over a decade ago, such a title would have raised concerns that people were becoming selfish, individualistic, and antisocial. But hey, with Gen Alpha on the way and being much more exclusive and isolated, I don't think the title is very concerning. While I was moving around in my career as a generalist, I was also getting tired of the hustle-and-bustle workplace culture. I suddenly want to be somebody who lives as myself and still delivers high-quality pieces of work. 

So yeah, goodbye, book about Zen culture; I will revisit it sometime if my budget permits. But now, to wisely spend my money, I have to read this book about living with my choices, which is published by a highly reputable publisher worldwide, Penguin Books. 

Anyway, I'm still discovering the essence of this book and will continue my review about it in the next post. 

Pekanbaru,

Tuesday, January 28, 2025

When You Have to Leave and Say Goodbye Properly

 This post is not about relationships with people you love but with yourself and the place and situation you've been visiting temporarily. It is about saying goodbye in one stage of your heroic journey. 

I recently became a visiting scholar in the US. Although it was only for a few months, I knew I would experience a culture shock and a reverse culture shock. And I want to speed up the process. 

I have some reasons to do that. From my previous experiences living in the UK and Australia, the most crucial factors are adaptability and flexibility. New environments, cultures, geographical locations, and people make us uncomfortable because we are not in our element. Things we know change into new knowledge almost every day. The only thing that could save us is my attitude and mindset. I am prepared to adapt if I am observant and have a common ground. 

So, to speed up the process, there is nothing more than to do your homework. Think about the situation and how you are going to handle it. If you come into a new environment, rather than worrying so much about the new situation, just jump and become a part of the situation. It helps to understand the limitations and the strengths, and then you know that the reality is not as awful as what you've been thinking. Suddenly, you forget about your anxiety and start to enjoy the process or the journey. 

In reverse, when you return home, just think of how comfortable you were in the position. But when I returned, I was still the same person, but with a new attitude and knowledge. Understand that you have to undergo the process of culture shock again, but it won't be scary this time because you return to your initial environment. It's just another process; you will pass the transition very quickly because, you know, this time, you don't have the anxiety. Another tip is to properly say goodbye to anyone, anything, and any place once served you. It helps to acknowledge that they are a part of your heroic journey because of the lessons and joy that you've been experiencing. Acknowledging it means you're ready to let them go and exciting for the next role in your life back home. 

It is time to leave and say goodbye, properly. 

Pekanbaru,

Thursday, October 14, 2021

Mengalami Fatigue atau Burn Out

Setelah 'marathon' mengerjakan sebuah project penting selama berminggu-minggu atau berhadapan dengan 'tsunami' gelombang besar dalam pekerjaan, tak heran kita bisa mengalami fatigue atau burn out. Tanda-tandanya adalah kelelahan, stamina menurun, sulit berpikir dan berkonsentrasi, serta tidak berminat menyelesaikan pekerjaan seperti biasanya. 

Untuk menghindari fatigue terkadang sulit juga karena beban kerja bertumpuk pada waktu tertentu tidak bisa dihindari. Apakah fatigue bisa diatur supaya tidak terjadi atau diminimalisir dampaknya sehingga tidak perlu istirahat sementara dari pekerjaan. Tentu hal seperti ini bisa dihindari selama kita melakukan beberapa hal berikut. 

1) Buat perencanaan waktu dalam bekerja dan perhatikan tenggat waktunya. Misalnya menulis memerlukan waktu 3 minggu dari mengolah data sampai mengumpulkan artikel. Maka kita harus membagi-bagi waktu supaya bisa fokus dalam tiga minggu menyelesaikan target. Jika tulisan dikerjakan maksimum 3 jam sehari, maka dalam 3 minggu x 5 hari kerja x 3 jam = 45 jam, maka kita punya 45 jam mengerjakan satu tulisan sampai terkumpul ke sistem jurnal online. 

2) Bekerja dalam chunck atau waktu-waktu kecil. Gunakan teknik Podomoro atau teknik apa saja, yang penting dalam 25-30 menit yang kita set menggunakan timer/stopwatch tersebut, kita tidak bisa multitasking. Misalnya waktu menulis 3 jam sehari, dibagi menjadi 6 sesi 30 menit, yang bisa dikerjakan tidak berturutan. Pada saat bekerja dan timer berjalan, kita tidak diizinkan lihat media sosial, atau bolak-balik mencari lagu yang pas di youtube untuk mengiringi pekerjaan, atau merespon email, dan hal-hal lain yang mengganggu flow pekerjaan. 

3) Buat persiapan lebih awal. Terkadang bekerja di pelayanan masyarakat dengan sistem online, kita bisa mempersiapkan materi lebih awal, mempersiapkan email lebih awal, menyusun file di awal waktu, dan berbagai hal lain yang tidak perlu dikerjakan multitasking. Masukkan kuota Podomoro tadi ke pekerjaan kita dan siapkan di waktu lain kemudian kirim email atau file menggunakan teknik schedule send. Dengan hal ini, jika kita mendapat respon, kita tidak perlu repot-repot merespon sambil menulis pesan lain karena melakukan hal tersebut bisa melelahkan batin. Pre-schedule semua email dan kegiatan, akan membantu kita mengurangi fatigue. 

4) Ambil break secara berkala. Setelah membagi-bagi waktu menjadi chunks kecil, kita bisa mengambil break selama 10-15 menit untuk menyegarkan pikiran. Highly intensed work jika tidak dibarengi relaksasi akan menyulitkan kita kembali relax pada saat diperlukan. Cari kegiatan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, seperti berjalan di luar rumah, menyusun buku, membuat kopi maupun mengurus tanaman meski hanya beberapa menit. Hal ini dapat menghindari mental breakdown karena terlalu fokus dan menyegarkan fisik setelah duduk beberapa lama menyelesaikan chuncks secara marathon. 

5) Istirahat beberapa hari jika kondisi lelah mulai terasa. Biasanya kepala pusing, sulit tidur, badan pegal, mulai flu ringan atau batuk. Kelelahan demikian memang tidak membawa kita maju dalam penyelesaian pekerjaan, tetapi karena badan dan pikiran sudah tidak sinkron lagi maka kita akan sulit mempertahankan semangat kerja serta menghasilkan pekerjaan berkualitas. Tidak mengapa break 1-2 hari khusus tidur, makan makanan sehat, minum air dan mengalihkan pikiran ke hal-hal yang lebih relax. Fatigue akan lebih mudah dihindari karena kelelahan fisik dan batin dalam jangka panjang berpotensi telah diatasi dengan istirahat secara total dari hal-hal berat terkait pekerjaan. 

Strategi menghindari fatigue sangat bermanfaat di masa working from home seperti ini karena pekerjaan seperti tak berbatas ruang dan waktu, terus berdatangan dan mengalir dengan semua tenggat pendek. Selama ada kemajuan pekerjaan, maka hal tersebut cukup membantu kita untuk terus bergerak menyelesaikan. Akan tetapi jika kemajuan dilakukan di akhir tenggat, maka potensi fatigue akan terjadi dan kelelahan menyebabkan kita tidak menghasilkan pekerjaan berkualitas sesuai tenggat waktu. 

Pekanbaru,

Thursday, October 7, 2021

Kualitas atau Kuantitas


Paradoks apakah kualitas atau kuantitas yang lebih penting sudah lama menjadi isu dalam bekerja.

Ada beberapa poin untuk menilai apakah melakukan pekerjaan kualitas dahulu atau kuantitas yang paling signifikan dalam menghasilkan pekerjaan.

Pertama, pekerjaan berkualitas membutuhkan rencana, strategi, kecermatan, disiplin, manajemen resiko dan fokus penuh dalam penyelesaiannya. Persiapan menentukan hasil, sehingga pekerjaan berkualitas memerlukan waktu lebih lama dalam tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi akhir. 

Kedua, pekerjaan berkualitas memberikan hasil lebih baik dengan dampak besar dalam jangka panjang. Biasanya setelah beberapa lama, pekerjaan tersebut masih terus menjadi acuan/pedoman bagi pekerjaan-pekerjaan lain terkait. Long lasting impact. 

Ketiga, pekerjaan berkualitas harus dilakukan untuk proyek yang terkait dengan banyak stakeholder atau pengguna agar semua pihak dapat merasakan manfaatnya dalam jangka panjang. Pekerjaan seperti ini akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi semua pengguna dan jejaring mereka sehingga dapat menghemat waktu dan biaya. 


Sedangkan pekerjaan dengan kuantitas tinggi juga perlu dilakukan dengan beberapa pertimbangan.

Pertama, pekerjaan tersebut dapat meningkatkan kinerja dalam jangka pendek dan tidak terlalu banyak pengguna terlibat di dalamnya.

Kedua, pekerjaan tersebut memberikan dampak yang dapat dirasakan langsung dan tidak mencari efek jangka panjang.

Ketiga, pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan memaksimalkan 50-60% sumber daya sehingga jumlah pekerjaan dapat ditingkatkan. 


Barangkali berdasarkan pertimbangan di atas, sekarang kita bisa memikirkan apakah kita akan mengejar kualitas atau kuantitas. 


Akan tetapi, dalam surat Al-Insyirah ayat 7 dinyatakan:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Mudah-mudahan sekarang semua sudah jelas ya.




Monday, August 3, 2020

Tugas-tugas kursus training pembelajaran daring di SPADA

Setelah beberapa minggu juggling di antara pekerjaan wajib, sunnah, dll sambil mengikuti kursus pembelajaran daring di SPADA, maka aku berkesempatan menyelesaikan tugas-tugas khusus teknologi. Tugas-tugas pedagogi dan materi pembelajaran sudah dicicil sesuai tenggat waktu, tetapi tugas-tugas teknologi memerlukan waktu khusus karena ada tutorial yang harus diikuti.

Tugas teknologi yang telah berhasil dikuasai adalah: 
1) Penulisan script writing dan voice recording menggunakan app audacity 
2) Pembuatan animasi pembelajaran whiteboard animation menggunakan app explee dan videoscribe
3) Pembuatan poster dan infografis untuk pembelajaran dengan app canva 
4) Pembuatan slide presentasi menggunakan voice dan screen recording menggunakan ispringfree
5) Penyusunan materi LMS Spada berbasis Moodle
6) Penggunaan collaborative app seperti Trello, Padlet dan Jamboard
7) Penggunaan VR, AR dan MR untuk materi pembelajaran
barangkali akan bertambah lagi karena akan ada kursus app untuk evaluasi daring.

Contoh materi kuliah menggunakan whiteboard animation hasil karyaku dapat dilihat pada link berikut:



Pembuatannya sangat menantang karena harus tekun mencocokkan kemunculan gambar dengan audio yang telah kita rekam. Kadang harus memotong beberapa kalimat atau memotong jeda, terkadang bagian tersebut harus diulang-ulang sehingga cukup memakan waktu. 

Tetapi setelah beberapa lama (aku mengerjakan dalam sehari saja, tetapi semakin malam akan semakin cepat mengeditnya) maka aku bisa berpuas hati menguploadnya di Youtube.  

Pekerjaan dengan penuh kesungguhan dimulai dari membuat storyline, memilih gambar, musik, merekam narasi, lalu menyusun tiap gambar dengan cermat sesuai kecepatan narasi, benar-benar harus diganjar dengan sertifikat cantik dari Prof. Dirjen Dikti:)


Untuk memastikan bahwa aku terus bersemangat mengikuti semua kuliah (30 kursus) dan mengerjakan tugas-tugas, maka aku menggunakan strategi belajar dengan membagi materi menjadi tiga bidang. 

Materi pedagogi mengenai seni mengajar dan merancang pengajaran biasanya akan kuselesaikan terlebih dahulu, sebab aku menyukai teori-teori pembelajaran, trend terkini di bidang pendidikan, best practices, dan psikologi pendidikan.

Untuk materi pembelajaran, terkadang membutuhkan melihat video/slide berulang-ulang agar paham, maka biasanya akan kusisihkan waktu khusus sehingga bisa menghasilkan tugas merancang pembelajaran yang tepat, lengkap dan aplikatif. 

Sedangkan materi teknologi memang diusahakan setiap hari karena materi kursus ini mayoritas seperti game, ada banyak tutorial menggunakan app sehingga harus diikuti betul-betul setiap langkah agar memenuhi syarat (terutama tugas sebagai evaluasi). Materi ini kupilih saat aku sedang memerlukan challenge dalam hidup. Biasanya tugas berhasil diselesaikan tanpa bosan karena benar-benar mencurahkan pemikiran dan rasa dalam mengikuti tiap langkahnya. 

Mudah-mudahan persiapan semester daring mendatang sudah bisa dimulai tepat satu bulan sebelum kuliah dimulai. Insya Allah. 

Terima kasih kepada tim Kemdikbud, tim pengajar di SPADA, mudah-mudahan jadi amal jariyah kepada bapak ibu semua. 

Pekanbaru,

Tuesday, July 14, 2020

Kursus Pembelajaran Daring di SPADA

Summer kali ini karena situasi pandemi maka tidak ada jadwal traveling sampai ada undangan khusus. Bersyukur karena tahun lalu luar biasa mobile:)
Tahun ini, Alhamdulillah, ada kesempatan upgrade metode pengajaran e-learning lewat SPADA Kemdikbud untuk meningkatkan kapabilitas dosen-dosen dalam memberikan kuliah secara daring. Para pengajar adalah dosen-dosen senior dan berpengalaman di bidang pembelajaran daring dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia. 

Para pengajar profesional di bidang pembelajaran daring.

Meskipun jadwal kursusnya sangat padat (Senin, Rabu, Jumat), tetapi semua aspek pembelajaran daring secara lengkap diberikan dalam kurikulum webminar tersebut. Aspek teknologi, pedagogi dan materi pembelajaran adalah unsur-unsur pembentuk dalam kuliah daring. 


Ikut kursus tumpuk-tumpuk, serasa Hermione dalam Prisoner of Azkaban (seri Harry Potter). 

Ada aspek teknologi berupa kualitas audio, video, teks, navigasi dan troubleshooting.

Aspek pedagogi berupa strategi pembelajaran, interaktivitas kelas dengan dosen, kualitas penjelasan materi, kualitas umpan balik dari dosen.

Aspek materi pembelajaran, berupa kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran, keakuratan isi materi, kesesuaian tingkat kesulitan dengan pengguna, dan kesesuaian materi dengan app yang digunakan. 

Semua aspek tersebut diberikan dengan lengkap dalam training profesional SPADA tersebut. Kita juga diberikan tugas sebagai evaluasi setelah kuliah. Selama mengikuti kuliah tersebut kita juga bisa mendapatkan 'sense' belajar online step by step dengan jadwal yang kita tentukan sendiri. Setelah memahami kuliahnya maka aku bisa mengerjakan tugas sendiri dan mengumpulkannya sesuai tenggat waktu yang diberikan. Ada tugas yang bisa dilaksanakan secara kolaboratif dan evaluasi yang dilakukan dengan tatap maya. 

Berdasarkan pembelajaran daring, terdapat empat ruang belajar, yaitu:
Ruang Belajar 1 = tatap muka
Ruang Belajar 2 = tatap maya
Ruang Belajar 3 = mandiri
Ruang Belajar 4 = kolaborasi

Model yang kupakai tadi adalah 3-4-2.


Ruang Belajar 1-4 (Sumber: Slide Dr. Hatma S dari UGM).

Bayangkan, dari aku yang belum mengetahui apa-apa dan sangat-sangat manual dalam memberikan kuliah daring semester lalu (melalui Whatsapp, meski salah satu fasilitator mengatakan tidak apa-apa untuk membangun interaksi), saat ini bisa merasa sangat 'kaya' dengan berbagai filosofi, pengetahuan dan praktek mengenai pembelajaran daring. Alhamdulillah.

Banyak sekali missing link, blank spot, gap, yang tidak pernah terisi, sekarang bisa dengan cepat diidentifikasi dan dicarikan solusinya. 

Tadinya aku tidak tahu cara membuat perkuliahan di laman SPADA, ternyata hari ini sudah bisa membuat mata kuliah sendiri, meski belum sempurna. 


Laman Spada salah satu mata kuliahku. Yay.

Mudah-mudahan setelah mengikuti kuliah daring dengan penuh semangat ini aku bertambah percaya diri menyiapkan materi perkuliahan dan berhasil membuat perkuliahan semester depan lebih efektif dan efisien. 

Pekanbaru, 2020

Monday, June 8, 2020

Apakah itu Calling?

Aku ingat bertahun-tahun lalu (tahun 2004-2005), saat menjadi ketua sebuah pelatihan mengenai penelitian, ada seorang peserta yang bertanya pada ibu narasumber. Beliau menanyakan mengapa penelitian perlu dilakukan seorang dosen. Kemudian beliau menyatakan bahwa bukankah kegiatan penelitian sebenarnya tidak perlu. Seringkali hal-hal yang ingin diteliti sudah pernah dikerjakan orang lain atau hasil penelitiannya sering tidak terpakai, hanya sebatas teori saja. Jadi, untuk apa susah-susah meneliti kalau tidak digunakan? Meski kedengaran konyol, pertanyaannya mengingatkan kita bahwa ada saja orang yang kelewat pragmatis dalam hidup, sehingga lupa soal 'calling'.

Sebenarnya pertanyaan beliau itu mengingatkanku pada orang lain yang menyangsikan kegiatan yang sedang kulakukan. 

Menurut beliau, untuk apa bercapek-ria menulis blog yang sepi peminatnya, atau membimbing mahasiswa untuk meneliti atau menulis padahal mereka toh tidak akan terkenal juga sebagai penulis. Apakah hal itu tidak menyia-nyiakan waktu dan biaya saja.


Menyumbangkan sebuah bangku di taman agar orang-orang bisa duduk sambil menikmati tulip di musim semi adalah sebuah calling.

Saat itu aku tidak bisa menjawab dengan baik, karena aku belum punya jawabannya. Tetapi setelah direnungkan baik-baik, aku merasa hal ini adalah ‘calling = semacam panggilan hati’ untuk berbagi dalam kebaikan. 

Seringkali tulisan di blogku mungkin berisi hal remeh-temeh atau cerita perjalanan liburanku yang mungkin tidak menarik bagi sebagian orang, tetapi mungkin menarik buat orang-orang tertentu. Aku hanya ingin berbagi cerita, pengamatan, pengalaman, dan opiniku yang sifatnya bebas, mau diikuti, mau dibaca atau tidak diterima atau bahkan dipercaya oleh orang lain. Siapa tahu suatu saat ada yang mengalami pengalaman sama denganku, sehingga tulisan tak terbaca tadi bisa jadi sebuah rujukan dan menggugah perasaan. Malah siapa tau bisa membangkitkan semangat jiwa yang sedang turun. Toh, walaupun blog sudah jutaan jumlahnya di dunia, masih ada juga orang yang mungkin membutuhkan hasil pikiran atau secuil ilmu titipan Allah di diri kita.

Bisa jadi hobiku membimbing mahasiswa meneliti dan menulis dipandang tidak menguntungkan. Padahal 'calling' tidak bisa dikuantifikasi dengan penghargaan 'tangible' dan 'intangible' karena ada manfaat yang tidak bisa diambil dalam waktu singkat, tetapi perlu latihan bertahun-tahun.

Sebenarnya yang beruntung dari kerja sama ini adalah kami berdua, karena mahasiswa dapat kesempatan berlatih menulis dan belajar mandiri. Di pihakku, mengajak mereka menulis bersama sebenarnya tidak hanya meningkatkan semangat diriku, tetapi juga kreativitas dan produktivitasku. 

Mereka akan belajar untuk riset bahan tulisan dan mencoba menceritakan kembali pemahaman lewat tulisan. Juga mereka terlatih untuk mengeluarkan pandangan, ide dan saran melalui tulisan. Lebih positif, kan? 

Belajar bersama, mengerjakan project bersama-sama terasa sangat menyenangkan, karena bisa saling menyemangati dan berbagi informasi.

So, despite semua ketidakyakinan dan perhitungan untung-rugi yang dilakukan dengan akal pikiran saja, maaf, hal itu tidak akan menggoyahkan semangatku untuk tetap berbagi kegiatan mahasiswa, blog, dan project-project sosial yang bisa membantu orang lain dan sekuat yang bisa diusahakan. Insya Allah aku akan berusaha istiqamah dalam menjalankan calling atau panggilan hati nuraniku ini sampai Allah tidak izinkan lagi.

Mengenai pertanyaan temanku tadi, ibu narasumber menjelaskan bahwa penelitian bukan seperti sebuah pekerjaan yang kemanfaatannya bisa dirasakan dalam jangka waktu pendek. Tetapi apa yang dikerjakan sekarang, terlihat tidak berguna, sebenarnya bisa memperkuat dan membantu mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga suatu saat dapat bermanfaat bagi orang banyak. 

Untuk bisa mengerjakannya, kita perlu 'calling', supaya tidak terasa membebani hidup kita dan penelitian yang dikerjakan berdampak pada masyarakat dan lingkungan. 

Begitulah.

Perth 2011
Pekanbaru 2020
Tulisan ini direvisi dan dipublish pada tahun 2020. 

Thursday, June 4, 2020

Simplicity

Sekarang aku jadi penggemar beberapa vlog atau channel Youtube mengenai simplicity. 

Simplicity = a thing that is plain, natural and easy to understand.



Dahulu waktu S1 aku mempunyai seorang dosen yang sangat teliti, fokus, dan dedicated. Beliau bisa menyederhanakan sesuatu sehingga bisa diikuti oleh mahasiswa seperti kami dengan mudah, misalnya kurva dinamika struktur yang sulit dipahami. Entah mengapa setiap garis dan angka serta persamaan tadi bisa dimengerti seolah-olah kita membaca buku non-fiksi yang menyenangkan. Bertahun-tahun bekerja, rasanya hal itulah yang ingin aku capai. Menurutku, orang yang pintar, adalah orang yang bisa menyederhanakan sesuatu menjadi mudah dipahami atau dikerjakan.

Kembali ke simplicity tadi, sebenarnya aku hanya ingin menyetop berada di roda hamster yang keep rolling tanpa tentu arah karena tuntutan dan kompetisi di dunia kerja. 

Kita tidak mungkin melakukan semua hal dalam hidup ini hanya untuk mendapatkan label dan validasi dari semua orang. Impossible jadi expert dalam berbagai hal karena akan menghabiskan waktu, energi dan dana, termasuk umur. Bukankah lebih baik kita melakukan sesuatu yang kita sukai dan memiliki kekuatan di situ, sambil terus mengasah keahlian terkait sehingga hasilnya akan lebih otentik dan powerful? Barulah disitu kita mendapatkan label expert, meski janjinya tadi tidak mau pakai label. 

Anyway, vlog yang kumaksud adalah:

Mbak Liziqi 

Haegreendal

Matt D'Avella

Barangkali ada banyak vlog serupa, tapi menurutku ketiga personal tersebut sangat otentik dan semakin hari semakin terasah karena kemampuan mereka menyederhanakan hidup. 

Pekanbaru, 

Wednesday, May 27, 2020

Kompetensi Mahasiswa via MBKM

Bincang-bincang tentang MBKM. 
Merdeka Belajar, Kampus Merdeka. Kali ini tentang Kompetensi Mahasiswa via MBKM. 
Webinar dari Prodi Kimia UNJ, dengan pembicara Prof. Intan Ahmad, mantan Dirjen Belmawa Kemenristekdikti.




Perubahan yang terjadi secara signifikan secara global masa kini, membuat mahasiswa dituntut memiliki keahlian kognitif agar dapat bekerja dengan baik dalam berbagai bidang pekerjaan. Mahasiswa tidak hanya punya kompetensi di bidangnya, tetapi juga dapat memperbaiki permasalahan di lingkungan masyarakat. 

Selain itu mahasiswa perlu memiliki keahlian adaptasi (ingat agile learner?), karena di MBKM mahasiswa diberi kesempatan merasakan berbagai pengalaman dan belajar dari pengalaman tersebut (experiential learning).  

Mahasiswa harus menguasai kompetensi dasar (capaian pembelajaran) lewat perkuliahan.

Tetapi, ada yang disebut critical thinking. 
Critical thinking/berpikir kritis = berpikir secara kritis dalam memandang berbagai hal. 
Critical thinking = proses berpikir dengan hati-hati mengenai sesuatu atau seseorang, tanpa melibatkan perasaan atau pendapat yang mempengaruhi kita.

Untuk menghadapi perubahan tidak menentu di masa depan, maka ada satu set keahlian (cognitive capacities) yang diperlukan mahasiswa agar menjadi mahasiswa yang kompeten dan bisa menyelesaikan permasalahan masyarakat di sekelilingnya:
1) Critical and system thinking --> kritis dan terstruktur
2) Enterpreneurship (creative mindset) --> bisa melihat kesempatan dibalik permasalahan
3) Cultural agility (global credentials) --> pengalaman belajar dan bekerja di budaya/negara lain.















Kemampuan bisa membaca, menulis dan matematika harus dikuasai, tetapi ada kemampuan lain yang diperlukan, yaitu data literacy (kemampuan membaca, menganalisis dan menggunakan data),  technology literacy (kemampuan memahami proses mesin dan aplikasi teknologi), serta human literacy (kemampuan berkomunikasi).   Untuk dapat menguasainya, kita harus selalu bersemangat belajar, dan belajar keahlian baru. 



Prof. Intan juga menyampaikan beberapa faktor penting dari kemampuan keahlian berpikir kritis di dunia kerja:
1) Berani mengerjakan hal baru (out of the box), belum ada yang mengerjakan, adaptif, inisiatif dan self-directed. Misalnya kalau diberi atasan tugas yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh orang di tempat kerja tersebut, maka kita harus mau  mengerjakannya dengan baik meskipun itu mission impossible. 

2) Mampu melihat sesuatu secara mendalam yang tidak dilihat orang lain (analytical, curious), insightful. Kemampuan untuk 'connecting the dots' atau menghubungkan titik-titik yang bertebaran di sana-sini, adalah salah satu faktor penting dalam berpikir kritis. Berbagai informasi bisa digabungkan dan diproses dengan cepat karena kita bisa mencari benang merah dari berbagai persoalan. 

3) Pendekatan yang tepat, problem solver, creative solutions (good judgement). Aku jadi ingat mengenai problem solver dan engineering judgement. Inti dari keahlian bidang teknik adalah 'problem solver', mampu memecahkan masalah baik secara terstruktur maupun intuitif. Jika intuitif, bukan berarti lepas berdasarkan feeling saja, tetapi telah melewati serangkaian analisis sehingga dapat diperoleh 'good engineering judgements'.

4) Dapat memahami dinamika kelompok dan membangun team work. Keahlian untuk berbicara kepada stakeholders (pro atau cons) sehingga ide baik bisa dikerjakan bersama, dijadikan kepemilikan bersama, dan team work yang baik dapat membantu kita pindah ke next level.

5) Inspiratif, pandai berkomunikasi dengan pihak lain.  Kemampuan menyampaikan informasi dengan santun, jelas dan tidak abu-abu, serta memberikan inspirasi kepada orang lain. Untuk bisa inspiratif biasanya kita perlu banyak membaca buku atau berinteraksi langsung terhadap mahasiswa. 

Lebih jauh lagi Prof Intan mengajak para dosen agar memiliki hidden agenda untuk meningkatkan kompetisi tersebut.  Misalnya dengan memberikan tugas-tugas yang memungkinkan team work, problem solving, connecting the dots sehingga mahasiswa terlatih untuk memliiki pikiran kritis. 

Mahasiswa dan dosen yang berminat dapat mendengarkan kembali video live webinar ini pada link tersebut. 

Pekanbaru,

Tuesday, May 19, 2020

Micro-credentials

Teringat kata-kata Prof Nizam dan Dr Illah, saat webinar beberapa hari lalu mengenai micro-credentials. Micro-credentials akan diperlukan di masa depan, saat kita dituntut menjadi agile learners. 




Again, agile learners, kata-kata itu membawaku kembali ke kelas UNILEAD di University of Oldenburg dengan Prof Peter dari University of Stellenbosch, South Africa. 

In order to be a good leader, we need to be agile, begitu pesannya. 

Baik, agile adalah = kemampuan untuk berpindah dengan cepat dan mudah.

Micro-credentials = kualifikasi, capaian, kualitas personal dalam skala mikro.

Agile-learners = flexible, adaptive, self-directed, creative, character, dan complex problem solver. 


Alright, let's get back to the micro-credentials. 

Skills, atau keahlian-keahlian kecil yang tidak perlu dikuasai melalui sekolah formal, merupakan kebutuhan untuk bersaing di masa depan. 

Apa saja micro-credentials yang dibutuhkan? 

Semua tergantung dari kita sendiri. Misalnya aku seorang engineer, punya gelar formal dari universitas, tapi dalam hidupku, aku membutuhkan keahlian khusus~ yakni leaderships, communication, dan public speaking. Aku juga perlu menjadi seorang complex problem solver, karena sering sekali harus memberikan masukan di bidang manajemen perguruan tinggi. 

Ada skill lain yang perlu aku kuasai, yaitu kemampuan mendapatkan informasi melalui wawancara karena pekerjaan khususku. Disamping itu, aku harus bisa bekerja sama dengan tim dari berbagai latar belakang, umur dan kebiasaan sehingga keahlian adaptif perlu terus diasah dengan banyak membaca mengenai sejarah, news dan kehidupan/budaya orang-orang asing tersebut. 

Nah, dalam artikel ini, aku membaca bahwa di masa sekarang, orang membutuhkan micro-credentials karena ada gap keahlian untuk menguasai teknologi baru.  Gap tersebut terjadi karena trend global pada skala makro,  yaitu, pertama, adanya kebutuhan pendidikan tinggi di masyarakat, kedua, transformasi digital yang terjadi di berbagai industri dan ketiga karena digitisation pendidikan tinggi.  

Oleh karena universitas tidak menyediakan semua training untuk keahlian yang dibutuhkan, sedangkan berbagai keahlian terus dibutuhkan dalam bekerja, maka kita tidak perlu mengikuti gelar formal lagi tetapi hanya perlu menambahkan atau meningkatkannya melalui kursus online, bootcamp certificate, magang dan berbagai jenis training lainnya. 

Hanya perlu diingat, micro-credentials diperlukan hanya sesuai kebutuhan saja, bukan mengumpulkan sertifikat sebanyak-banyaknya tapi tidak diaplikasikan sehingga memiliki dampak dalam penyelesaian tugas atau kebutuhan tempat kerja. 

Kita tetap membutuhkan pendidikan formal dari perguruan tinggi agar bisa melompat cukup tinggi, tetapi agar lebih skyrocketing di dunia kerja, kita perlu suplemen keahlian (micro-credentials) karena di kampus tidak diajarkan 'practical projects, tools, and opportunities'.  

Di dunia kerja kita harus membuktikan kita adalah 'valuable candidate' agar dapat terus mengikuti perkembangan dan bekerja dengan tim yang smart (cerdas), conscientious (produktif) dan conformist (mau mengikuti aturan yang baik di tempat kerja).

Pengalaman Scott Young, salah satu agile learner yang berusaha belajar mandiri unit computer science di MIT tanpa menjadi mahasiswa formal, bisa menjadi sumber inspirasi. Ia menyusun kurikulum, jadwal belajar, mengerjakan latihan dan menilai hasil kerjanya menggunakan bahan-bahan dari kursus online tersebut. Sungguh inspiring dan bisa membuat kita berkaca bahwa kalau ada keinginan untuk berkembang, kita selalu bisa mencari jalan dan mendapatkannya.

Pekanbaru, 

Saturday, May 16, 2020

Tiba-tiba kita menjadi penggemar Webinar saat WFH s

Beberapa tahun lalu aku sempat menjadi pelanggan webinar mengenai penelitian, mereview paper, menulis proposal, membuat artikel, dan aneka topik lain dari Elsevier Publishing Campus (sekarang namanya menjadi Elsevier Researcher Academy).  Apalagi pada masa-masa itu dapat e-certificate sangat menyenangkan, bisa menambah isi CV dan pengetahuan kekinian mengenai riset dan publikasi. Tim Publishing Campus juga generous dengan topik-topik terbaru seperti Networking, Make your publication visible dan career path dalam riset. Semua itu memberikan keahlian dan kompetensi yang diperlukan sebagai seorang peneliti, reviewer dan penulis makalah saat ini. 



Meeting online dengan tim konsultan ACER

Satu bulan setelah WFH berjalan, aku menemukan kesenangan baru, yaitu video meeting online. Meskipun boros pulsa, tapi bisa menyampaikan informasi dan mendapatkan umpan balik dengan cepat lebih melegakan. Kecepatan dalam berinteraksi juga menjadi salah satu ukuran dalam menyelesaikan pekerjaan saat WFH. Kita tetap bisa mengejar ketinggalan dalam pekerjaan dan saat bersamaan tetap produktif. Kita menemukan pola-pola komunikasi baru yang lebih efektif dan efisien lewat video meeting, misalnya harus dapat menyampaikan message dalam waktu singkat, merespon bergantian sehingga semua orang kebagian kesempatan berbicara, bisa merancang meeting dalam waktu singkat, meeting dengan berbagai orang dari negara lain, hingga bisa berbagi layar sambil belajar dan asistensi dengan mahasiswa. 



Webinar Unpad-German Ambassador to Indonesia
Tetapi, setelah dua bulan WFH berjalan, aku malah jadi sering mengikuti webinar. Ini cara pengisi waktu luang yang baru. Apalagi dengan berjalannya waktu, banyak sekali tawaran-tawaran webinar dari berbagai institusi di dalam dan luar negeri untuk berbagi informasi dan pengetahuan mengenai berbagai hal.  Beberapa hal yang dulu hanya bisa diikuti dalam hitungan bulan, tahun, karena ikut seminar atau konferensi, mendadak bisa dijadikan kegiatan harian bahkan berpindah-pindah webinar dari satu tempat ke tempat lain. Hari ini aku mengikuti webinar tentang STEM dari UNJ, setelah itu Indostaff serial talk series dari alumni pelatihan DAAD. Beberapa hari yang lalu webinar dari Unpad dengan mendatangkan Duta Besar Jerman di Indonesia. Next time, aku juga akan register ikut webinar beberapa petinggi Kemendikbud dan tim Baltic Gender di negara-negara Baltic. 

Webinar UNJ-Rachel Seffield, STEMinist Research Group

Luar biasa hobi baru ini. Tentu saja aku selektif memilih topik, sesuai minat (gender, internationalization, current development in higher education), dan pengisi acara (pimpinan, pejabat Kemendikbud, dan pihak internasional) agar waktu kerja tidak habis juga. Selain ingin tetap mengupdate wawasan di bidang-bidang tersebut, aku juga ingin mempermahir kemampuan English dan menambah vocab melalui seminar bermutu dalam topik yang relevan. Hanya sayangnya hingga saat ini belum ada webinar topik riset yang bisa diikuti, karena dari American Concrete Institute biasanya berbayar.  Kesukaanku pada webinar ini dapat membantu transfer informasi dengan cepat tanpa harus berangkat ke negara tertentu hanya mendengarkan pembicara favorit di bidang-bidang tadi melalui seminar dan konferensi. Mungkin ini akan jadi hobby baru setelah WFD kembali normal. 


Webinar Indostaff Series Talks 1

Pekanbaru, 

Thursday, November 30, 2017

Berpartisipasi dalam Alumni Professional Development Program (APDP)

Repost dari link berikut:

Program ini merupakan implementasi ‘Alumni Engagement Strategy’ oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) dan Australia Awards in Indonesia (AAI). Kegiatan dilaksanakan oleh Konsorsium universitas di Australia dan Indonesia yang dipimpin oleh Griffith University. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah dan mengembangkan networking antara alumni. Peserta yang mengikuti kegiatan dibagi menjadi dua, yakni mentor dan mentee. Kegiatan dilaksanakan dari Mei 2017-Januari 2018.
Motivasi saya mengikuti program ini sederhana saja, “to give back to my profession while building expertise”. Maknanya, saya ingin meningkatkan skill, mengupdate skill, dan membagi skill yang saya miliki dalam hal publikasi penelitian. Selain itu, saya ingin bertemu teman-teman alumni Australia atau alumni universitas negara lain di kegiatan-kegiatan Professional Development seperti ini.
Sebagai salah satu mentor APDP, saya mendapatkan pengalaman berikut:
a) Mentoring sistem menggunakan platform mentoring yang diorganize oleh Griffith University. Platform ini membantu saya berinteraksi dengan organizer, mentee, dan mentor lain. Interaksi dengan mentee dapat dicatat dan dievaluasi oleh organizer di Australia. Secara umum ada beberapa milestones yang perlu dilakukan: develop the rapport, goal setting, mentoring agreement discussion, mid-point assessment feedback exercise dan share your mentoring journey.
b) Update ilmu mengenai pola riset, kinerja riset, pembentukan policy melalui riset, komersialisasi riset. Output riset menjadi tidak terbatas lagi, meski selama ini hanya berupa publikasi ilmiah dalam prosiding dan jurnal. Riset yang berguna bisa dimanfaatkan dalam bentuk product dan public policy (kebijakan publik).
c) Proses mentoring yang challenging. Untuk bisa sukses menjadi mentor, maka harus punya banyak skill. Kita bukan dosen pembimbing yang pasif menanti mahasiswa bimbingan, tetapi kita adalah kolega sang mentee. Mentee bisa dianggap menjadi our young colleague di tempat kerja. Di awal bekerja, saya sudah cukup open-minded dan straightforward dengan sistem mentoring yang saya lakukan. Target saya membantu mereka untuk publikasi sampai selesai (meski program ini berakhir Januari 2018).
d) Teknik mentoring dengan metode blended, sebagian online dan face-to-face workshop. Seperti pada program DIES-DAAD UNILEAD yang pernah saya ikuti, teknik ini membantu menghemat biaya dan waktu karena dilakukan dengan kombinasi workshop dan interaksi online. Saat workshop, kami diberi materi oleh beberapa Profesor dari Australia dengan metode ceramah atau teleconference. Organizer kegiatan ini, yakni Anni dan Helen dan beberapa teman dari UI, UNJ dan Unhas benar-benar luar biasa dalam menjembatani perbedaan budaya dan culture shock yang dialami semua pihak.
e) Networking dengan teman-teman alumni Australia dan alumni negara lain. Kesempatan networking membantu kami saling berbagi informasi kegiatan Professional Development dari link lain atau negara lain, bahkan undangan lanjutan dalam kegiatan-kegiatan akademik di lingkungan universitas mereka. Kesempatan mengeratkan hubungan sesama Alumni Australia selalu saya nantikan, karena target saya setiap ada acara alumni, saya harus dapatkan minimal lima no WA atau kartu nama.
Mentee saya ada tiga orang, dari USU, UIN Sunan Ampel Surabaya dan Departemen Kelautan. Ketiganya alumni Australia dan memiliki bidang-bidang keahlian berbeda. Meski demikian saya tetap optimis kami bisa memenuhi kedua tujuan di atas yakni penulisan artikel ilmiah dan networking. Kami akan ketemu lagi (insya Allah) dalam International Conference Januari 2018 di Jakarta.
Pekanbaru,

Thursday, November 16, 2017

Catatan dari Workshop ‘Ayo Cepat Lulus’ Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Riau

Repost dari link berikut: 
Sekitar 150 mahasiswa memadati ruangan di hotel MP dekat kampus Unri dalam acara workshop ‘Ayo Cepat Lulus’ yang ditaja Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Riau. Kedua narasumber adalah psikolog Hj Aida Malikha MSi (Biru Konsultasi Psikologi Humanika), dan Dr Mirra Noor Milla (UI). Ditinjau dari judul dan sasaran kegiatan, maka dapat disimpulkan bahwa workshop ini merupakan salah satu usaha ‘human approach’ dalam mempercepat masa studi dan meningkatkan jumlah kelulusan mahasiswa Jurusan Teknik Sipil.
Ibu Hj Aida Malikha memberikan pengantar faktor-faktor yang menyebabkan masa studi lama, yakni malas, terlalu banyak berorganisasi, sibuk bekerja, terlalu banyak sosialisasi dan hambatan tugas akhir. Mahasiswa sendiri menambahkan bahwa lamanya masa studi karena mereka masih memiliki banyak nilai di bawah D, dosen killer, dan pelajaran yang susah. Solusi dari bu Aida adalah menguatkan motivasi, manajemen waktu dan membuat skala prioritas. Untuk meningkatkan motivasi, maka mahasiswa harus menghilangkan mitos-mitos seperti dari daerah belum tentu sukses, dosen killer selalu memberi nilai buruk, dan sebagainya. Mahasiswa harus ulet, ingin jadi role model, dan menyadari adanya keterbatasan waktu dan biaya untuk studi. Manajemen waktu yang baik, disiplin, tidak suka menunda, menyelesaikan apa yang sudah dimulai (teguran buat diri saya), dan rajin bimbingan tugas akhir agar selesai tepat waktu.
Soal skala prioritas, bu Mirra menambahkan bahwa prioritas dihubungkan dengan ‘goals’ atau tujuan. Fokus dengan prioritas membuat mahasiswa tidak mudah melalukan ‘upaya pengalihan’ saat menghadapi sesuatu yang penting tetapi tidak mereka sukai. Selain itu perlu belajar membuat rencana dengan konsep SMART (Specific, Measurable, Attainable, Realistic, Time Bound) sehingga semua target bisa diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, bahkan lebih banyak dari perkiraan semula. Untuk menyelesaikan prioritas, mahasiswa harus banyak memiliki strategi maupun berusaha lebih banyak dengan memunculkan plan A, plan B, serta membuat rewarding time jika suatu tugas selesai agar tercipta ‘work-life balance’.
Catatan dari workshop ini adalah:
a) mitos-mitos tentang studi perlu dibuktikan, karena mitos belum tentu benar
b) buat skala prioritas menggunakan teknik SMART agar cepat lulus dan meminimalisir upaya pengalihan saat menunda-nunda sebuah pekerjaan penting
c) harus banyak strategi dan ikhtiar lebih panjang saat kondisi kurang kondusif
d) jadilah subyek yang mengendalikan keadaan, bukan obyek yang dikendalikan keadaan
e) Utamakan integritas dan values agama serta moral, bukan hanya usaha ilegal supaya mendapatkan nilai terbaik dan cepat lulus.
Sebagai moderator di sesi dosen dan mahasiswa, saya mewakili rekan sejawat sangat mensyukuri terlaksananya kegiatan ini agar perbaikan keadaan dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki mindset mahasiswa dan mempercepat kelulusan di Jurusan Teknik Sipil beberapa waktu mendatang. Semoga perbaikan terus-menerus ini akan membuahkan hasil yang gemilang.
Pekanbaru, 16 November 2017

Monday, October 30, 2017

Sukses dengan Proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)

Repost dari link berikut:
Berkat mengikuti sosialisasi pelatihan mengenai Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pada tahun 2016 dan 2017, maka diperoleh berbagai tips menarik agar proposal yang dibuat berhasil didanai oleh DIKTI.
Sejak kembali dari studi, saya tidak banyak membimbing program kreativitas mahasiswa karena sibuk bekerja di Kantor Urusan Internasional Universitas Riau. Padahal sebelum studi S3, para mahasiswa di kelompok Research Club yang didirikan pada tahun 2003 sempat berjaya dalam aneka lomba penelitian dan penulisan karya ilmiah di tingkat lokal maupun nasional. Sesaat sebelum studi S3 dimulai, kelompok kami mendapatkan kesempatan untuk maju ke PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) dengan judul penelitian “Pengaruh penambahan bubuk kaca dan fly ash terhadap sifat-sifat mortar”. Ketiga mahasiswa tersebut yakni Indra Kuswoyo, Munawir Sazali dan Hendra Gunawan berangkat ke Malang untuk berlaga di babak lanjutan.
Kembali ke zaman now, pada tahun 2016, satu kelompok mahasiswa bimbingan berhasil memenangkan PKMGT (Gagasan Tertulis) dengan judul “Pembangunan air shelter dalam rangka penanggulangan dampak bencana asap akibat kebakaran lahan gambut di Riau”. Disusul pada tahun 2017, dua kelompok mahasiswa yang mengikuti PKMP (Penelitian) dan PKMM (Pengabdian kepada Masyarakat) mendapat dana dari Belmawa Ristekdikti. Keberhasilan kedua kelompok ini membuat saya lega luar biasa, karena we’re on the right track. Luaran kegiatan PKMP dengan judul “BETGEL-RHA atau Beton Geopolimer Rice Husk Ash sebagai material konstruksi ramah lingkungan gambut” rencananya akan dipresentasikan di The 2nd International Conference on Science and Technology, 15-16 November 2017 di Pekanbaru. Sedangkan hasil kegiatan PKMM berupa buku kreatif dan sosialisasi pada anak-anak SD di Pekanbaru (judul proposal “Buku kreatif sebagai media edukasi pengenalan pelestarian gambut untuk anak usia sekolah”) akan diterbitkan di jurnal pengabdian masyarakat.
PKMM
Tujuan melaksanakan PKM, menurut Prof Sundani (beliau juga expert bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Ristekdikti) adalah untuk memberikan tantangan intelektual, belajar menulis proposal ilmiah yang baik, memunculkan solusi dengan karakter kedaerahan dan memamerkan kekuatan intelektual institusi.
PKM perlu memiliki unsur unik, kreatif, bermanfaat dan taat aturan.  Tips untuk sukses menulis proposal PKM dapat disarikan sebagai berikut:
a) Permasalahan administratif diminimalkan, contohnya tidak ada jumlah halaman, jumlah halaman lebih dari 10, dan tidak ada tanda tangan pembimbing.
b) Karya dinilai memiliki kreativitas tinggi, ada kebaruan substansi, produk unik, tidak membawa tema-tema generik, menjawab permasalahan yang sedang populer di masyarakat, dan memiliki unsur kedaerahan.
c) Proposal tepat sasaran, misalnya PKMM untuk masyarakat non-produktif dan PKMT untuk masyarakat produktif. Keduanya membutuhkan surat persetujuan mitra. Tanpa surat tersebut maka proposal mendapat nilai rendah.
d) Rencana Anggaran Biaya (RAB) diestimasi sesuai dengan metode lalu kewajarannya dinilai. RAB tidak untuk honorarium, fotokopi atau membeli peralatan elektronik seperti laptop dan kamera.
e) Proposal dapat menjelaskan secara nalar, memiliki produk intelektual, dan dapat memperbaiki kualitas hidup masyarakat secara langsung/tidak langsung.
f) Kreativitas sesuai dengan anggaran, tidak perlu yang terlalu canggih, dan dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.
Menulis proposal PKM cukup tricky, karena penulisnya belum pernah ikut kuliah Metodologi Penelitian atau training sejenisnya, tetapi dorongan dan bimbingan dari pembimbing sangat diperlukan.
Pekanbaru,