Showing posts with label Motivation. Show all posts
Showing posts with label Motivation. Show all posts

Thursday, October 14, 2021

Mengalami Fatigue atau Burn Out

Setelah 'marathon' mengerjakan sebuah project penting selama berminggu-minggu atau berhadapan dengan 'tsunami' gelombang besar dalam pekerjaan, tak heran kita bisa mengalami fatigue atau burn out. Tanda-tandanya adalah kelelahan, stamina menurun, sulit berpikir dan berkonsentrasi, serta tidak berminat menyelesaikan pekerjaan seperti biasanya. 

Untuk menghindari fatigue terkadang sulit juga karena beban kerja bertumpuk pada waktu tertentu tidak bisa dihindari. Apakah fatigue bisa diatur supaya tidak terjadi atau diminimalisir dampaknya sehingga tidak perlu istirahat sementara dari pekerjaan. Tentu hal seperti ini bisa dihindari selama kita melakukan beberapa hal berikut. 

1) Buat perencanaan waktu dalam bekerja dan perhatikan tenggat waktunya. Misalnya menulis memerlukan waktu 3 minggu dari mengolah data sampai mengumpulkan artikel. Maka kita harus membagi-bagi waktu supaya bisa fokus dalam tiga minggu menyelesaikan target. Jika tulisan dikerjakan maksimum 3 jam sehari, maka dalam 3 minggu x 5 hari kerja x 3 jam = 45 jam, maka kita punya 45 jam mengerjakan satu tulisan sampai terkumpul ke sistem jurnal online. 

2) Bekerja dalam chunck atau waktu-waktu kecil. Gunakan teknik Podomoro atau teknik apa saja, yang penting dalam 25-30 menit yang kita set menggunakan timer/stopwatch tersebut, kita tidak bisa multitasking. Misalnya waktu menulis 3 jam sehari, dibagi menjadi 6 sesi 30 menit, yang bisa dikerjakan tidak berturutan. Pada saat bekerja dan timer berjalan, kita tidak diizinkan lihat media sosial, atau bolak-balik mencari lagu yang pas di youtube untuk mengiringi pekerjaan, atau merespon email, dan hal-hal lain yang mengganggu flow pekerjaan. 

3) Buat persiapan lebih awal. Terkadang bekerja di pelayanan masyarakat dengan sistem online, kita bisa mempersiapkan materi lebih awal, mempersiapkan email lebih awal, menyusun file di awal waktu, dan berbagai hal lain yang tidak perlu dikerjakan multitasking. Masukkan kuota Podomoro tadi ke pekerjaan kita dan siapkan di waktu lain kemudian kirim email atau file menggunakan teknik schedule send. Dengan hal ini, jika kita mendapat respon, kita tidak perlu repot-repot merespon sambil menulis pesan lain karena melakukan hal tersebut bisa melelahkan batin. Pre-schedule semua email dan kegiatan, akan membantu kita mengurangi fatigue. 

4) Ambil break secara berkala. Setelah membagi-bagi waktu menjadi chunks kecil, kita bisa mengambil break selama 10-15 menit untuk menyegarkan pikiran. Highly intensed work jika tidak dibarengi relaksasi akan menyulitkan kita kembali relax pada saat diperlukan. Cari kegiatan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, seperti berjalan di luar rumah, menyusun buku, membuat kopi maupun mengurus tanaman meski hanya beberapa menit. Hal ini dapat menghindari mental breakdown karena terlalu fokus dan menyegarkan fisik setelah duduk beberapa lama menyelesaikan chuncks secara marathon. 

5) Istirahat beberapa hari jika kondisi lelah mulai terasa. Biasanya kepala pusing, sulit tidur, badan pegal, mulai flu ringan atau batuk. Kelelahan demikian memang tidak membawa kita maju dalam penyelesaian pekerjaan, tetapi karena badan dan pikiran sudah tidak sinkron lagi maka kita akan sulit mempertahankan semangat kerja serta menghasilkan pekerjaan berkualitas. Tidak mengapa break 1-2 hari khusus tidur, makan makanan sehat, minum air dan mengalihkan pikiran ke hal-hal yang lebih relax. Fatigue akan lebih mudah dihindari karena kelelahan fisik dan batin dalam jangka panjang berpotensi telah diatasi dengan istirahat secara total dari hal-hal berat terkait pekerjaan. 

Strategi menghindari fatigue sangat bermanfaat di masa working from home seperti ini karena pekerjaan seperti tak berbatas ruang dan waktu, terus berdatangan dan mengalir dengan semua tenggat pendek. Selama ada kemajuan pekerjaan, maka hal tersebut cukup membantu kita untuk terus bergerak menyelesaikan. Akan tetapi jika kemajuan dilakukan di akhir tenggat, maka potensi fatigue akan terjadi dan kelelahan menyebabkan kita tidak menghasilkan pekerjaan berkualitas sesuai tenggat waktu. 

Pekanbaru,

Monday, July 5, 2021

Resilience di Masa Pandemi

Salah satu kemampuan dasar penting abad ke-21 adalah resilience. Resilience barangkali bisa disamakan dengan 'fleksibel' atau tidak rigid/kaku. Konsep ini terkait dengan kemampuan menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan dan lingkungan yang terus berubah dengan cepat. Bagaimana supaya kita bisa resilience dalam masa tak menentu yang tidak bisa kita prediksi saat ini?

Suatu hari aku sempat mampir di rumah tetangga yang sudah senior. Berhubung aku hanya sebentar, jadi kami hanya berbicara hal-hal penting saja seperti keadaan saat ini. Memang betul, kondisi pandemi mengubah dan memutar-balikkan semua kenyamanan dan kebiasaan kita sebelumnya. Pembicaraan kami sampai kepada keresahan, kegelisahan dan keprihatinan di tengah-tengah kondisi. Akhirnya terucap juga bahwa keadaan yang membuat kita pusing ini karena dunia sudah gila. Loh, kok gila? Aku jadi bingung, berarti menyalahkan keadaan ya. 

Beberapa teman yang sempat kontak mengatakan sejak pandemi mereka jadi punya kegiatan dan aktivitas baru. Ada beberapa hal yang tadinya tidak sempat dilakukan, seperti membaca, mengerjakan hobi, mempelajari hobi baru, mengurus kebersihan karena waktu berkendara ke tempat kerja sudah tidak ada. Bahkan ada target-target baru seperti rutin mengerjakan shalat sunnah rawatib, puasa sunat, menghafal juz amma, dan semua amalan yang tidak sempat dilakukan sebelumnya. Setahun lalu aku mengikuti kursus online di SPADA yang banyak membantu pengajaran daring selama dua semester ini. Orang yang mau fleksibel akan dengan cepat menyesuaikan diri dan mencari peluang untuk meningkatkan kompetensi personal dan profesionalnya ketimbang menyalahkan keadaan dan berkeluh-kesah.

Pada saat seperti ini, menjadi seorang yang resilience membutuhkan penerimaan akan situasi. Kemudian lebih cepat mencari jalan keluar, mengatur rutinitas, menghilangkan kesulitan dengan kebiasaan baru. Sebaiknya mempunyai perencanaan apa yang bisa ditingkatkan dalam situasi yang berubah dan bisa membaca trend kira-kira skill apa yang diperlukan setelah pandemi usai. 

Hal terpenting adalah tidak patah semangat, tetap belajar dan take it easy semua hal-hal sulit yang dapat menurunkan imunitas tubuh sehingga lupa bahagia dan bersyukur kepada Allah telah diberi nikmat dan rezeki yang sangat banyak. 

Pekanbaru

Monday, August 3, 2020

Tugas-tugas kursus training pembelajaran daring di SPADA

Setelah beberapa minggu juggling di antara pekerjaan wajib, sunnah, dll sambil mengikuti kursus pembelajaran daring di SPADA, maka aku berkesempatan menyelesaikan tugas-tugas khusus teknologi. Tugas-tugas pedagogi dan materi pembelajaran sudah dicicil sesuai tenggat waktu, tetapi tugas-tugas teknologi memerlukan waktu khusus karena ada tutorial yang harus diikuti.

Tugas teknologi yang telah berhasil dikuasai adalah: 
1) Penulisan script writing dan voice recording menggunakan app audacity 
2) Pembuatan animasi pembelajaran whiteboard animation menggunakan app explee dan videoscribe
3) Pembuatan poster dan infografis untuk pembelajaran dengan app canva 
4) Pembuatan slide presentasi menggunakan voice dan screen recording menggunakan ispringfree
5) Penyusunan materi LMS Spada berbasis Moodle
6) Penggunaan collaborative app seperti Trello, Padlet dan Jamboard
7) Penggunaan VR, AR dan MR untuk materi pembelajaran
barangkali akan bertambah lagi karena akan ada kursus app untuk evaluasi daring.

Contoh materi kuliah menggunakan whiteboard animation hasil karyaku dapat dilihat pada link berikut:



Pembuatannya sangat menantang karena harus tekun mencocokkan kemunculan gambar dengan audio yang telah kita rekam. Kadang harus memotong beberapa kalimat atau memotong jeda, terkadang bagian tersebut harus diulang-ulang sehingga cukup memakan waktu. 

Tetapi setelah beberapa lama (aku mengerjakan dalam sehari saja, tetapi semakin malam akan semakin cepat mengeditnya) maka aku bisa berpuas hati menguploadnya di Youtube.  

Pekerjaan dengan penuh kesungguhan dimulai dari membuat storyline, memilih gambar, musik, merekam narasi, lalu menyusun tiap gambar dengan cermat sesuai kecepatan narasi, benar-benar harus diganjar dengan sertifikat cantik dari Prof. Dirjen Dikti:)


Untuk memastikan bahwa aku terus bersemangat mengikuti semua kuliah (30 kursus) dan mengerjakan tugas-tugas, maka aku menggunakan strategi belajar dengan membagi materi menjadi tiga bidang. 

Materi pedagogi mengenai seni mengajar dan merancang pengajaran biasanya akan kuselesaikan terlebih dahulu, sebab aku menyukai teori-teori pembelajaran, trend terkini di bidang pendidikan, best practices, dan psikologi pendidikan.

Untuk materi pembelajaran, terkadang membutuhkan melihat video/slide berulang-ulang agar paham, maka biasanya akan kusisihkan waktu khusus sehingga bisa menghasilkan tugas merancang pembelajaran yang tepat, lengkap dan aplikatif. 

Sedangkan materi teknologi memang diusahakan setiap hari karena materi kursus ini mayoritas seperti game, ada banyak tutorial menggunakan app sehingga harus diikuti betul-betul setiap langkah agar memenuhi syarat (terutama tugas sebagai evaluasi). Materi ini kupilih saat aku sedang memerlukan challenge dalam hidup. Biasanya tugas berhasil diselesaikan tanpa bosan karena benar-benar mencurahkan pemikiran dan rasa dalam mengikuti tiap langkahnya. 

Mudah-mudahan persiapan semester daring mendatang sudah bisa dimulai tepat satu bulan sebelum kuliah dimulai. Insya Allah. 

Terima kasih kepada tim Kemdikbud, tim pengajar di SPADA, mudah-mudahan jadi amal jariyah kepada bapak ibu semua. 

Pekanbaru,

Wednesday, May 27, 2020

Kompetensi Mahasiswa via MBKM

Bincang-bincang tentang MBKM. 
Merdeka Belajar, Kampus Merdeka. Kali ini tentang Kompetensi Mahasiswa via MBKM. 
Webinar dari Prodi Kimia UNJ, dengan pembicara Prof. Intan Ahmad, mantan Dirjen Belmawa Kemenristekdikti.




Perubahan yang terjadi secara signifikan secara global masa kini, membuat mahasiswa dituntut memiliki keahlian kognitif agar dapat bekerja dengan baik dalam berbagai bidang pekerjaan. Mahasiswa tidak hanya punya kompetensi di bidangnya, tetapi juga dapat memperbaiki permasalahan di lingkungan masyarakat. 

Selain itu mahasiswa perlu memiliki keahlian adaptasi (ingat agile learner?), karena di MBKM mahasiswa diberi kesempatan merasakan berbagai pengalaman dan belajar dari pengalaman tersebut (experiential learning).  

Mahasiswa harus menguasai kompetensi dasar (capaian pembelajaran) lewat perkuliahan.

Tetapi, ada yang disebut critical thinking. 
Critical thinking/berpikir kritis = berpikir secara kritis dalam memandang berbagai hal. 
Critical thinking = proses berpikir dengan hati-hati mengenai sesuatu atau seseorang, tanpa melibatkan perasaan atau pendapat yang mempengaruhi kita.

Untuk menghadapi perubahan tidak menentu di masa depan, maka ada satu set keahlian (cognitive capacities) yang diperlukan mahasiswa agar menjadi mahasiswa yang kompeten dan bisa menyelesaikan permasalahan masyarakat di sekelilingnya:
1) Critical and system thinking --> kritis dan terstruktur
2) Enterpreneurship (creative mindset) --> bisa melihat kesempatan dibalik permasalahan
3) Cultural agility (global credentials) --> pengalaman belajar dan bekerja di budaya/negara lain.















Kemampuan bisa membaca, menulis dan matematika harus dikuasai, tetapi ada kemampuan lain yang diperlukan, yaitu data literacy (kemampuan membaca, menganalisis dan menggunakan data),  technology literacy (kemampuan memahami proses mesin dan aplikasi teknologi), serta human literacy (kemampuan berkomunikasi).   Untuk dapat menguasainya, kita harus selalu bersemangat belajar, dan belajar keahlian baru. 



Prof. Intan juga menyampaikan beberapa faktor penting dari kemampuan keahlian berpikir kritis di dunia kerja:
1) Berani mengerjakan hal baru (out of the box), belum ada yang mengerjakan, adaptif, inisiatif dan self-directed. Misalnya kalau diberi atasan tugas yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh orang di tempat kerja tersebut, maka kita harus mau  mengerjakannya dengan baik meskipun itu mission impossible. 

2) Mampu melihat sesuatu secara mendalam yang tidak dilihat orang lain (analytical, curious), insightful. Kemampuan untuk 'connecting the dots' atau menghubungkan titik-titik yang bertebaran di sana-sini, adalah salah satu faktor penting dalam berpikir kritis. Berbagai informasi bisa digabungkan dan diproses dengan cepat karena kita bisa mencari benang merah dari berbagai persoalan. 

3) Pendekatan yang tepat, problem solver, creative solutions (good judgement). Aku jadi ingat mengenai problem solver dan engineering judgement. Inti dari keahlian bidang teknik adalah 'problem solver', mampu memecahkan masalah baik secara terstruktur maupun intuitif. Jika intuitif, bukan berarti lepas berdasarkan feeling saja, tetapi telah melewati serangkaian analisis sehingga dapat diperoleh 'good engineering judgements'.

4) Dapat memahami dinamika kelompok dan membangun team work. Keahlian untuk berbicara kepada stakeholders (pro atau cons) sehingga ide baik bisa dikerjakan bersama, dijadikan kepemilikan bersama, dan team work yang baik dapat membantu kita pindah ke next level.

5) Inspiratif, pandai berkomunikasi dengan pihak lain.  Kemampuan menyampaikan informasi dengan santun, jelas dan tidak abu-abu, serta memberikan inspirasi kepada orang lain. Untuk bisa inspiratif biasanya kita perlu banyak membaca buku atau berinteraksi langsung terhadap mahasiswa. 

Lebih jauh lagi Prof Intan mengajak para dosen agar memiliki hidden agenda untuk meningkatkan kompetisi tersebut.  Misalnya dengan memberikan tugas-tugas yang memungkinkan team work, problem solving, connecting the dots sehingga mahasiswa terlatih untuk memliiki pikiran kritis. 

Mahasiswa dan dosen yang berminat dapat mendengarkan kembali video live webinar ini pada link tersebut. 

Pekanbaru,

Saturday, May 23, 2020

Hubunganku dengan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka)

Bincang-bincang mengenai Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), aku ingin ikut memberikan refleksi selama berkarir 20 tahun menjadi dosen. 

Saat mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melaunching Program MBKM kebijakan no 4, dunia kampus seperti stunned. Tak berapa lama muncul semacam panduan beberapa pimpinan kampus berusaha merumuskan praktek MBKM versi mereka seperti praktek magang, kewirausahaan, dll yang pernah dilakukan. Semua menunggu juknis, panduan, dan jika bisa terjemahan dalam bentuk konkrit. Beberapa kampus juga berlomba-lomba mendatangkan dirjen-dirjen untuk menggali informasi soal MBKM agar mendapatkan langkah tepat dalam melakukan perombakan kurikulum serta berbagai hal lain dalam implementasi MBKM. 

Tetapi jawabannya dalam beberapa hal, adalah tergantung kreativitas Perguruan Tinggi, kemampuan networking, kemampuan negosiasi, kemampuan kerja sama, kemampuan mencari dukungan dengan pihak pemerintah dan industri. 

Oh, well.

Untuk hal ini, kita harus membuat kebijakan internal lagi dan memilih kegiatan yang bisa dilakukan. 

Terkait dengan MBKM, aku menerima program tersebut dengan senang hati karena salah satu programnya terkait riset mandiri. Sebagai seorang pejuang kegiatan kreativitas mahasiswa selama 20 tahun berkarir, sudah saatnya mahasiswa diberi kesempatan dan didorong memilih bidang-bidang yang mereka minati untuk keperluan karir mereka di masa depan. Contohnya, aku tahu tidak semua mahasiswa harus jadi pekerja di sektor swasta maupun pemerintah, bisa jadi mereka ingin menjadi peneliti dan dosen. Oleh karena stereotipe bahwa lulus harus bekerja, maka mahasiswa yang berminat meneliti dan berkarir di bidang akademik kadang diarahkan untuk bekerja di lapangan. Padahal mereka sangat berbakat memajukan sains dan teknologi di perguruan tinggi, tetapi alih-alih mendorong, banyak dosen lebih suka melihat alumni bekerja di tempat bonafid dengan gaji besar. Meski itu selalu menjadi ukuran keberhasilan dalam borang akreditasi/audit, tetapi menjadi akademisi juga bisa bonafid dan banyak manfaat sosialnya. Oleh karena itu aku mendorong membuat grup-grup riset dan pengabdian yang kecil-kecil meski peminatnya tidak lebih dari jumlah semua jari tangan dan kaki, akan tetapi manfaatnya bagi perkembangan ilmu dan keahlian mereka sangat besar. 

Setelah ikut webinar dengan pembicara Prof. Nizam, bisa dilihat ada beberapa manfaat MBKM untuk mahasiswa dan dosen. Hard work, challenging, but interesting.


Manfaat MBKM

















Jadi, pada kebijakan no 4 itu ada delapan kegiatan yang bisa dilakukan mahasiswa dalam 3 semester dikonversi menjadi 20 SKS atau 60 SKS. Kita coba berimajinasi bahwa aku adalah mahasiswa yang mendapatkan kesempatan MBKM, kira-kira apa yang ingin aku pelajari dan lakukan dengan 20 SKS per semester tersebut?

Aku menyukai riset dan menulis ilmiah, maka aku akan mendaftar kegiatan riset mandiri dengan tim dan mengikuti lomba-lomba supaya produk yang kami ciptakan teruji dan dapat dimanfaatkan masyarakat. 

Barangkali aku akan mengambil magang industri, untuk mendapatkan pengalaman kerja di BUMN, mendapatkan skill teamwork, negosiasi, decision making, dan etika kerja. 

Terakhir, aku akan mengikuti sit-in/kredit transfer di perguruan tinggi dalam/luar negeri, tergantung budget dan beasiswa. Aku akan mengambil mata kuliah yang sangat diperlukan secara global dan merupakan pendekatan baru dari ilmu-ilmu di Teknik Sipil. 

Kalau diajak dosen penelitian dan beliau mendapatkan grant/hibah, maka aku tertarik mengambil peluang tersebut. Tidak semua dosen mengajak mahasiswa dan mentrainingnya langsung untuk mengerjakan riset, menulis proposal, dan menulis publikasi. Apalagi aku bisa jadi first author atau co-author untuk beberapa paper. 

Sepertinya hal itu yang akan aku lakukan kalau ada kesempatan mengikuti MBKM.  Semua tergantung minat, keahlian, kompetensi dan outcome yang kuinginkan untuk persiapan pekerjaan di masa depan. 

Itulah hubunganku dengan MBKM. Aku rasa aku bisa membantu mahasiswa untuk mendapatkan kesempatan mengikuti program MBKM dengan mempersiapkan mereka sesuai dengan capaian pembelajaran yang diperlukan.

Pekanbaru,

Tuesday, May 19, 2020

Micro-credentials

Teringat kata-kata Prof Nizam dan Dr Illah, saat webinar beberapa hari lalu mengenai micro-credentials. Micro-credentials akan diperlukan di masa depan, saat kita dituntut menjadi agile learners. 




Again, agile learners, kata-kata itu membawaku kembali ke kelas UNILEAD di University of Oldenburg dengan Prof Peter dari University of Stellenbosch, South Africa. 

In order to be a good leader, we need to be agile, begitu pesannya. 

Baik, agile adalah = kemampuan untuk berpindah dengan cepat dan mudah.

Micro-credentials = kualifikasi, capaian, kualitas personal dalam skala mikro.

Agile-learners = flexible, adaptive, self-directed, creative, character, dan complex problem solver. 


Alright, let's get back to the micro-credentials. 

Skills, atau keahlian-keahlian kecil yang tidak perlu dikuasai melalui sekolah formal, merupakan kebutuhan untuk bersaing di masa depan. 

Apa saja micro-credentials yang dibutuhkan? 

Semua tergantung dari kita sendiri. Misalnya aku seorang engineer, punya gelar formal dari universitas, tapi dalam hidupku, aku membutuhkan keahlian khusus~ yakni leaderships, communication, dan public speaking. Aku juga perlu menjadi seorang complex problem solver, karena sering sekali harus memberikan masukan di bidang manajemen perguruan tinggi. 

Ada skill lain yang perlu aku kuasai, yaitu kemampuan mendapatkan informasi melalui wawancara karena pekerjaan khususku. Disamping itu, aku harus bisa bekerja sama dengan tim dari berbagai latar belakang, umur dan kebiasaan sehingga keahlian adaptif perlu terus diasah dengan banyak membaca mengenai sejarah, news dan kehidupan/budaya orang-orang asing tersebut. 

Nah, dalam artikel ini, aku membaca bahwa di masa sekarang, orang membutuhkan micro-credentials karena ada gap keahlian untuk menguasai teknologi baru.  Gap tersebut terjadi karena trend global pada skala makro,  yaitu, pertama, adanya kebutuhan pendidikan tinggi di masyarakat, kedua, transformasi digital yang terjadi di berbagai industri dan ketiga karena digitisation pendidikan tinggi.  

Oleh karena universitas tidak menyediakan semua training untuk keahlian yang dibutuhkan, sedangkan berbagai keahlian terus dibutuhkan dalam bekerja, maka kita tidak perlu mengikuti gelar formal lagi tetapi hanya perlu menambahkan atau meningkatkannya melalui kursus online, bootcamp certificate, magang dan berbagai jenis training lainnya. 

Hanya perlu diingat, micro-credentials diperlukan hanya sesuai kebutuhan saja, bukan mengumpulkan sertifikat sebanyak-banyaknya tapi tidak diaplikasikan sehingga memiliki dampak dalam penyelesaian tugas atau kebutuhan tempat kerja. 

Kita tetap membutuhkan pendidikan formal dari perguruan tinggi agar bisa melompat cukup tinggi, tetapi agar lebih skyrocketing di dunia kerja, kita perlu suplemen keahlian (micro-credentials) karena di kampus tidak diajarkan 'practical projects, tools, and opportunities'.  

Di dunia kerja kita harus membuktikan kita adalah 'valuable candidate' agar dapat terus mengikuti perkembangan dan bekerja dengan tim yang smart (cerdas), conscientious (produktif) dan conformist (mau mengikuti aturan yang baik di tempat kerja).

Pengalaman Scott Young, salah satu agile learner yang berusaha belajar mandiri unit computer science di MIT tanpa menjadi mahasiswa formal, bisa menjadi sumber inspirasi. Ia menyusun kurikulum, jadwal belajar, mengerjakan latihan dan menilai hasil kerjanya menggunakan bahan-bahan dari kursus online tersebut. Sungguh inspiring dan bisa membuat kita berkaca bahwa kalau ada keinginan untuk berkembang, kita selalu bisa mencari jalan dan mendapatkannya.

Pekanbaru, 

Thursday, April 9, 2020

Refleksi WFH





Tiba-tiba seluruh dunia berjalan lebih lambat.  Bumi beristirahat, rejuve.

Akibat kelebihan muatan, terhuyung-huyung berjalan memikul beban, kemudian terhempas.

Awalnya datang 'badai' yang memporakporandakan dasar lautan, mengangkat semua mineral dan harta karun yang disimpannya dalam diam dan waktu lama.

Alam dibersihkan, beban dikurangi. 

Pada saat ini kita terus membaca doa Nabi Yunus saat dalam perut ikan.

Doa supaya lepas dari kesulitan.

Laa ha ila anta, subhanaka inni kuntu minadz dzolimiin.

Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al‐Anbiya': 87)

Semoga beberapa waktu kemudian akan datang 'kedamaian' dan semoga semua makhluk akan sujud syukur menghadapinya. 

Allah Maha Tahu. 

Ini semua kebaikan dari Allah dan Allah akan membantu kita semua untuk bangkit dari kesulitan ini.

La Tahzan, Innallaha ma 'ana.

Pekanbaru, 

Saturday, December 7, 2019

I am in stage: Leave me alone (again? part 2)

Mengenai stage leave me alone saat studi S3 sudah pernah kubahas pada post berikut















Pernah tidak rasanya ingin fokus, fokus, fokus, menyelesaikan sesuatu misalnya paper atau kerjaan yang sudah berhari-hari menggantung dalam pikiran? Tetapi tidak ada kesempatan karena terus loading, loading, loading dan loading mengerjakan hal-hal lain baik yang rutin maupun dadakan. 

Nah, pada saat ini, rasanya ingin kembali menyendiri di suatu tempat hanya khusus menulis-menulis-menulis tanpa perlu mengerjakan pekerjaan rutin seperti memasak dan mencuci. Selain itu, rasanya juga ingin sesekali berwajah lemas, lesu, kurang tidur, mata panda, haha, tanpa dikomentari karena sedang fokus menghasilkan kerjaan berkualitas tadi. 

Sayangnya stage leave me alone saat bekerja sekarang sudah tak sama dengan stage tersebut saat PhD. Untuk bisa punya waktu kosong dalam jangka waktu lama tak memungkinkan. Jangankan berhari-hari, bahkan berjam-jam saja sudah langka. 

Untuk bisa fokus alone dalam yang durasi singkat, telah dilakukan trial-error hal-hal berikut:
a) Mengerjakan koordinasi sambil menunggu jadwal keberangkatan
b) Menulis atau membaca dalam pesawat yang sesekali mengalami turbulence
c) Bangun lebih awal pada sepertiga malam dan mulai bekerja
d) Mengedit atau menyelesaikan data sambil menguji atau mengikuti seminar/kuliah/workshop
e) Fokus mengedit kalimat saat punya waktu luang 15-30 menit 
f)  Melakukan revisi dan editing tulisan sebelum tidur
g) Memulai sebuah pekerjaan jauh-jauh hari sebelum deadline dan terus merevisinya hingga selesai
h) Membuat skala prioritas dan get done untuk sebuah pekerjaan

Ternyata, meski ada agregasi waktu di sana-sini, tetapi kata kuncinya tetap fokus, bukan leave me alone lagi. 

Ada tumpukan draft yang rencananya akan mulai dipercantik. Lalu ada banyak project untuk 2020 yang sudah mulai dibuat draftnya. Kemudian ada segudang rencana project dan research untuk difollow up. Kalau semua jadi 'leave me alone', sepertinya tidak dapat dikerjakan. 

So, sepertinya aku akan mencoba taktik lain untuk menghasilkan pekerjaan berkualitas dalam agregasi waktu seperti sekarang, yakni pakai stage: fokus, fokus, fokus. 

Pekanbaru,

Saturday, July 13, 2019

Back home again! Menulis lagi!

Keinginan kembali ke 'rumah' lowlymonita.blogspot.com sudah ada beberapa tahun lalu. Blog inipun sempat ditutup karena beberapa pertimbangan. Sibuk mengurus hal-hal lain, kebiasaan menulis dan sharing malah jadi terlupakan. 

Kali ini aku akan memprioritaskan menulis di blog ini supaya semua terecord dengan baik dan bisa jadi ladang amal di akhirat kelak. 
Aamiin. 

Aku kehilangan skill menulis karena banyak membimbing dan meneliti lalu buru-buru publikasi di media lain. Setelah melihat indeks sitasi Google Scholar (GS) yang lumayan menanjak tahun 2019 ini, baru aku merasa, bahwa menulis itu memang skill dan passion, lalu artikel jurnal, artikel prosiding, dan blog adalah marketnya. Sejak itu aku bertekad untuk mengulang lagi kebiasaan lama, menulis banyak-banyak, membaca buku-buku, dan mempublikasikan tulisan lewat blog, jurnal, media online, dll. 

Ini profil GS yang kuceritakan di atas. 


























Nah, maksudnya gimana nih. Udah segitu yang sitasi (cited by). 

Ada lagi profil dari lembaga pengindeks terkenal, Web of Science, yang membuatkan slot peran sebagai reviewer. Tidak hanya penulis, tapi juga sebagai reviewer terverifikasi oleh Publons. 













Nah, data sebagai reviewer ini juga lumayan karena sekarang naik pangkat ke Guru Besar (GB) juga perlu bukti kalau kita memang ahli mereview. Soal tips mereview, silakan cek link berikut. 

Satu lagi yang baru dijajal adalah sebagai penulis artikel bidang Pengabdian Kepada Masyarakat. Sebenarnya sudah ada tiga artikel di jurnal Sinergitas PKM & CSR, berikut salah satu contohnya:


























Tulisan ini dibuat bersama mahasiswa PKMM (Pengabdian Kepada Masyarakat) yang telah selesai mengadakan kegiatan pada tahun 2018. PKMM ini didanai Kemenristekdikti dan mendapat sambutan baik dari warga Kualu Nenas. 

Melihat-lihat lagi progress beberapa tahun vakum di blog, rasanya ada yang kurang kalau tidak menuliskan proses, hasil, atau hanya sekedar berbagi ide dan motivasi. 

So, I'll be back with more posts. Hore, menulis lagi!!!

Pekanbaru,

Wednesday, October 10, 2018

Di mana Ibu?



Suatu hari aku mendapat pesan whatsapp dari seorang kolega, mantan mahasiswa. 

"Di mana ibu? Saya mencari-cari blog ibu yang biasanya penuh nasehat, tetapi sudah tidak ada." 

Dia terdengar sangat sedih. Barangkali memerlukan advice tapi aku sulit ditemui beberapa waktu belakangan ini.

Astaghfirullah, aku menjadi sedikit bersalah. Kasihan sekali. 

Blog yang tadinya membuat gembira, setahun belakangan tidak bisa diupdate karena kesibukan kerja. Aku juga kehilangan my 'creative moment' menuliskan isu-isu seru lewat blog yang bisa dinikmati bersama kawan, mahasiswa dan keluarga. 

So, setelah lama kehilangan, aku berjanji akan meluangkan waktu untuk menulis berbagai hal dengan fun dan bijaksana. 

Semoga menjadi terapi menenangkan di tengah kesibukan, dan dapat menghilangkan rindu teman-teman di mana saja anda berada. 


Pekanbaru, 10 Oktober 2018

Thursday, August 30, 2018

Mendampingi Mahasiswa ke PIMNAS 31 2018 di UNY Yogyakarta


Catatan:
Beberapa post penting sempat hilang dari blog akademik yang rutin diisi. Oleh sebab itu semua post akan dipindah sesuai tanggal publish ke blog ini sebagai pertinggal agar selalu bisa diakses. 

Repost dari link berikut. 


Pada tahun 2006, salah satu tim mahasiswa bimbingan saya berhasil mewakili Universitas Riau ke PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) ke 19 di Malang. Penelitian mengenai serbuk kaca untuk mortar tersebut dipresentasikan ketiga mahasiswa tanpa pendampingan saya yang sedang mempersiapkan diri untuk S3 di Curtin University, Perth.
Alhamdulillah, pada tahun 2018, sekitar 12 tahun kemudian, saya mendapatkan kehormatan mendampingi 2 tim mahasiswa ke ajang bergengsi tersebut. Kedua tim berasal dari tim besar terdiri dari 18 orang berikut.

Satu tim melakukan PKMM (pengabdian kepada masyarakat) dan tim kedua melaksanakan PKMP (penelitian). Tim PKMM mengangkat tema eco-friendly gabion untuk mengatasi erosi tebing, dan tim PKMP meneliti penggunaan serat karet dan abu sekam untuk material perkerasan kaku di tanah gambut. 



Kedua tim sama kuat dan sama-sama berprestasi sehingga mendapatkan kesempatan membimbing dan mengantarkan mereka ke PIMNAS 31 di Yogyakarta, it was just like 'an old dream come true'. Akhirnya saya bisa mendampingi tim langsung dan mengalami sendiri PIMNAS yang penuh dengan inovasi, kreasi dan kompetisi.
Saat melihat presentasi dari tim-tim mahasiswa berbagai universitas lain, saya merasa bersyukur sekali karena melihat banyak inovasi oleh tim mahasiswa. Persaingan pada level ini merupakan inovasi, bukan semata keberhasilan penyelesaian program saja. Tim mahasiswa harus siap mental menghadapi pertanyaan, keraguan dan cercaan dari juri. Saya melihat proses ini sangat baik untuk membantu mahasiswa lebih kritis dan asertif dalam berkarya. Sebagai dosen pendamping, saya senang karena mahasiswa bisa melihat keduanya, yakni keunggulan dan kelemahan kegiatan PKM mereka.
Kami berbagi tugas untuk mengamati kelas PKMM dan PKMP serta mempelajari pertanyaan-pertanyaan juri agar kegiatan yang dilaksanakan pada masa mendatang bisa lebih baik lagi. Kesuksesan di PIMNAS tidak hanya pelaksanaan, tetapi eksekusi, kekompakan dan paling penting inovasi untuk menyelesaikan masalah masyarakat.

Semoga suatu hari saya bisa mendampingi mereka (baca: mahasiswa) untuk mendapatkan medali.



Pekanbaru,

Saturday, December 30, 2017

Memaknai Tema Tahunan dalam Karir Akademik

Catatan:
Beberapa post penting sempat hilang dari blog akademik yang rutin diisi. Oleh sebab itu semua post akan dipindah sesuai tanggal publish ke blog ini sebagai pertinggal agar selalu bisa diakses. 

Repost dari link berikut. 


Sejak tahun 2012, saya mulai merefleksikan mayoritas kegiatan-kegiatan dan pengembangan diri yang dilakukan pada tahun tersebut menjadi sebuah tema tahunan. Merujuk pada post sebelumnya di tahun 2016, ada beberapa tema tahunan, yakni:
Tahun 2012 = tahun data base (mengupdate, mengumpulkan, dan mereview data serta kinerja)
Tahun 2013 = tahun traveling (ke beberapa negara)
Tahun 2014 = tahun internationalization dan networking (highlight: Unilead Germany dan Alumni Reference Group Australia Awards in Indonesia)
Tahun 2015 = tahun creating content and sharing insight (belajar jadi narasumber, public lecture, conference)
Tahun 2016 = tahun community service (highlight: flipmas Batobo)
Pada tahun ini Allah mengundang saya mengasah skill-skill lain.
Tahun 2017 = tahun mentor, auditor, examiner and reviewer (internal Unri dan external Unri, ISO 9001:2015, Australia Global Alumni).
Tema tahun 2017 ini memiliki pesan amat mendalam selain amanah besar untuk memberikan pertimbangan atau rekomendasi tepat sasaran dan bermanfaat melalui evaluasi dan pertimbangan cermat mengenai kapabilitas seseorang. Menjadi seorang mentor, examiner dan reviewer juga berarti membantu orang lain agar dapat berkontribusi bagi perubahan dan pengembangan di berbagai bidang di Indonesia. Apa yang menjadi keputusan bersama akan dapat mengubah banyak hal dari diri dan orang di sekeliling pelamar sendiri.
Pelajarannya dari kegiatan ini adalah: be humble, treat everybody equal because they're potential candidates, speak from your heart, and share your knowledge on how to improve their abilities.
Tema tahun ini juga memerlukan networking, manajemen waktu terbaik, daya juang, daya tahan, semangat, integritas, ketajaman berpikir, bisa memberi feedback dengan fair, dan bersikap etis. Thinking outside the box, pengamatan dan mau keluar dari comfort zone. Banyak membaca, rajin diskusi dan mengikuti perkembangan terbaru di bidang ilmu. Harus berani masuk ke situasi-situasi yang tidak familiar lalu menghadapinya dengan profesional tanpa banyak mengeluh. Harus bisa juga membuat keputusan-keputusan kritis berdasarkan fakta, pengalaman dan jam terbang dan merekomendasikan sesuatu yang dampaknya besar dalam jangka panjang serta memiliki multiplier effect di masyarakat. Easy to say, but difficult to imply it.
Tanpa disadari lama-lama saya lebih lincah memberi feedback dan mampu memandang dari berbagai angle kepentingan untuk membuat keputusan.
Alhamdulillah. Moga tema kegiatan tahun berikutnya lebih seru lagi.

Monday, October 30, 2017

Sukses dengan Proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)

Repost dari link berikut:
Berkat mengikuti sosialisasi pelatihan mengenai Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pada tahun 2016 dan 2017, maka diperoleh berbagai tips menarik agar proposal yang dibuat berhasil didanai oleh DIKTI.
Sejak kembali dari studi, saya tidak banyak membimbing program kreativitas mahasiswa karena sibuk bekerja di Kantor Urusan Internasional Universitas Riau. Padahal sebelum studi S3, para mahasiswa di kelompok Research Club yang didirikan pada tahun 2003 sempat berjaya dalam aneka lomba penelitian dan penulisan karya ilmiah di tingkat lokal maupun nasional. Sesaat sebelum studi S3 dimulai, kelompok kami mendapatkan kesempatan untuk maju ke PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) dengan judul penelitian “Pengaruh penambahan bubuk kaca dan fly ash terhadap sifat-sifat mortar”. Ketiga mahasiswa tersebut yakni Indra Kuswoyo, Munawir Sazali dan Hendra Gunawan berangkat ke Malang untuk berlaga di babak lanjutan.
Kembali ke zaman now, pada tahun 2016, satu kelompok mahasiswa bimbingan berhasil memenangkan PKMGT (Gagasan Tertulis) dengan judul “Pembangunan air shelter dalam rangka penanggulangan dampak bencana asap akibat kebakaran lahan gambut di Riau”. Disusul pada tahun 2017, dua kelompok mahasiswa yang mengikuti PKMP (Penelitian) dan PKMM (Pengabdian kepada Masyarakat) mendapat dana dari Belmawa Ristekdikti. Keberhasilan kedua kelompok ini membuat saya lega luar biasa, karena we’re on the right track. Luaran kegiatan PKMP dengan judul “BETGEL-RHA atau Beton Geopolimer Rice Husk Ash sebagai material konstruksi ramah lingkungan gambut” rencananya akan dipresentasikan di The 2nd International Conference on Science and Technology, 15-16 November 2017 di Pekanbaru. Sedangkan hasil kegiatan PKMM berupa buku kreatif dan sosialisasi pada anak-anak SD di Pekanbaru (judul proposal “Buku kreatif sebagai media edukasi pengenalan pelestarian gambut untuk anak usia sekolah”) akan diterbitkan di jurnal pengabdian masyarakat.
PKMM
Tujuan melaksanakan PKM, menurut Prof Sundani (beliau juga expert bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Ristekdikti) adalah untuk memberikan tantangan intelektual, belajar menulis proposal ilmiah yang baik, memunculkan solusi dengan karakter kedaerahan dan memamerkan kekuatan intelektual institusi.
PKM perlu memiliki unsur unik, kreatif, bermanfaat dan taat aturan.  Tips untuk sukses menulis proposal PKM dapat disarikan sebagai berikut:
a) Permasalahan administratif diminimalkan, contohnya tidak ada jumlah halaman, jumlah halaman lebih dari 10, dan tidak ada tanda tangan pembimbing.
b) Karya dinilai memiliki kreativitas tinggi, ada kebaruan substansi, produk unik, tidak membawa tema-tema generik, menjawab permasalahan yang sedang populer di masyarakat, dan memiliki unsur kedaerahan.
c) Proposal tepat sasaran, misalnya PKMM untuk masyarakat non-produktif dan PKMT untuk masyarakat produktif. Keduanya membutuhkan surat persetujuan mitra. Tanpa surat tersebut maka proposal mendapat nilai rendah.
d) Rencana Anggaran Biaya (RAB) diestimasi sesuai dengan metode lalu kewajarannya dinilai. RAB tidak untuk honorarium, fotokopi atau membeli peralatan elektronik seperti laptop dan kamera.
e) Proposal dapat menjelaskan secara nalar, memiliki produk intelektual, dan dapat memperbaiki kualitas hidup masyarakat secara langsung/tidak langsung.
f) Kreativitas sesuai dengan anggaran, tidak perlu yang terlalu canggih, dan dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.
Menulis proposal PKM cukup tricky, karena penulisnya belum pernah ikut kuliah Metodologi Penelitian atau training sejenisnya, tetapi dorongan dan bimbingan dari pembimbing sangat diperlukan.
Pekanbaru,

Saturday, March 4, 2017

Beberapa Alasan agar Mahasiswa Rajin Berprestasi


Biasanya mahasiswa sedikit menolak menggunakan waktu mereka untuk kegiatan di luar kuliah untuk mengejar prestasi. Prestasi di sini maksudnya aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan akademik dan non-akademik dan mendapatkan penghargaan atas usahanya. Alasannya, tidak ada waktu, letih, maupun tidak merasa ada keuntungan langsung mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra tersebut. Padahal  keuntungannya sangat banyak, terutama dalam persaingan di dunia kerja nanti. 

Bagi yang belum memahami mengapa anda harus rajin berprestasi selagi masih menjadi mahasiswa, ada beberapa alasan berikut yang perlu anda pertimbangkan:

a) Prestasi akan menambah list penghargaan dalam Curriculum Vitae anda. 
CV adalah resume data diri anda atau cerita hidup anda. CV menunjukkan deretan produktivitas dan penghargaan anda selama studi maupun bekerja. List prestasi anda bisa diletakkan di bagian 'Awards' yang akan memberikan nilai tambah sangat positif saat wawancara pekerjaan maupun beasiswa. 

b) Prestasi mengajar anda untuk berusaha keras tanpa mudah menyerah. 
Mengejar prestasi membutuhkan persiapan, keahlian dan kemauan. Untuk menjadi yang terbaik dari semua yang baik tentu akan ada persaingan di berbagai lini. Anda harus mau berusaha keras dalam tiap tahap persaingan dengan baik hingga layak menjadi mendapatkan kemenangan tersebut. 

c) Prestasi membantu anda menemukan potensi diri.
Sebetulnya anda tidak perlu hidup tanpa arahan dan tidak tahu harus ke mana. Tiap anda mendapatkan prestasi di sebuah bidang, anda akan semakin yakin sebenarnya itu adalah bakat anda. Berarti anda memiliki kemampuan di bidang tersebut. Maka perdalamlah keahlian anda dan jadikan prestasi tadi sebagai catatan potensi diri pribadi. 

d) Prestasi menunjukkan siapa diri anda. 
Prestasi merupakan akumulasi kerja keras dan doa. Bagi yang suka mengikut perlombaan atau kompetisi memahami poin ini dengan baik. Tiap orang yang rutin berprestasi akan dengan mudah mendapatkan prestasi-prestasi berikutnya karena sudah mengetahui nuts and bolts cara memenangkan sesuatu. Otomatis cara kerja yang sistematis, rapi, terukur dan hasilnya selalu melampaui harapan, akan menunjukkan jati diri anda di manapun anda berada. 

Pekanbaru,
saat menyemangati diri dan mahasiswa bimbingan...