Showing posts with label Ketika aku.... Show all posts
Showing posts with label Ketika aku.... Show all posts

Sunday, June 28, 2020

My 40yo thing (throwback)

I was very excited about my 40th a few years ago (in 2015). 


My 40th birthday red velvet cake.
This is a special milestone for a Muslim since 40 is the age of reaching full maturity (Al-Ahqaf 15).

This is the age... "when we're older than young but younger than old (mid-life), when we're looking forward to a major accomplishment, when habits developed now typically stay with us, and when we're ready for a real mission in life..."

I celebrated my 40th with family (hubby, mom and dad), 

and my students (final year project, KP, PKM, mahasiswa mengulang, bupati HMTS... haha), some ex-students (thank's Virdy, Yulia, Winda), also with my dear friend, Leni, yesterday.

Thanks for coming to my birthday, everyone, and marking that important milestone with me.


++++++++++++

That's what I wrote on my wall many years ago. 

It was an expression of gratitude, happiness, hope, and submission to Allah, the Almighty. 

This is the age where I must think about every decision and action carefully, including the consequences, so I won't regret it or cause any sequence effect in the future.  

When I invited the students to my small party, I thought they would come, eat, and leave the house quickly. But then, they enjoyed the gathering and started chatting with their friends at home. Some of them interviewed my parents and talked to them about me. They just gave my family some ideas about how I was at the university.


Thanks for the special present

Thanks for coming, everyone.

I didn't want to celebrate my birthday alone this year. It would be fun if we could celebrate it surrounded by people we like and enjoy being with. 

It was a nice one. Alhamdulillah. Thank you, Allah:)

Pekanbaru 2015
Pekanbaru 2020



Monday, June 8, 2020

Apakah itu Calling?

Aku ingat bertahun-tahun lalu (tahun 2004-2005), saat menjadi ketua sebuah pelatihan mengenai penelitian, ada seorang peserta yang bertanya pada ibu narasumber. Beliau menanyakan mengapa penelitian perlu dilakukan seorang dosen. Kemudian beliau menyatakan bahwa bukankah kegiatan penelitian sebenarnya tidak perlu. Seringkali hal-hal yang ingin diteliti sudah pernah dikerjakan orang lain atau hasil penelitiannya sering tidak terpakai, hanya sebatas teori saja. Jadi, untuk apa susah-susah meneliti kalau tidak digunakan? Meski kedengaran konyol, pertanyaannya mengingatkan kita bahwa ada saja orang yang kelewat pragmatis dalam hidup, sehingga lupa soal 'calling'.

Sebenarnya pertanyaan beliau itu mengingatkanku pada orang lain yang menyangsikan kegiatan yang sedang kulakukan. 

Menurut beliau, untuk apa bercapek-ria menulis blog yang sepi peminatnya, atau membimbing mahasiswa untuk meneliti atau menulis padahal mereka toh tidak akan terkenal juga sebagai penulis. Apakah hal itu tidak menyia-nyiakan waktu dan biaya saja.


Menyumbangkan sebuah bangku di taman agar orang-orang bisa duduk sambil menikmati tulip di musim semi adalah sebuah calling.

Saat itu aku tidak bisa menjawab dengan baik, karena aku belum punya jawabannya. Tetapi setelah direnungkan baik-baik, aku merasa hal ini adalah ‘calling = semacam panggilan hati’ untuk berbagi dalam kebaikan. 

Seringkali tulisan di blogku mungkin berisi hal remeh-temeh atau cerita perjalanan liburanku yang mungkin tidak menarik bagi sebagian orang, tetapi mungkin menarik buat orang-orang tertentu. Aku hanya ingin berbagi cerita, pengamatan, pengalaman, dan opiniku yang sifatnya bebas, mau diikuti, mau dibaca atau tidak diterima atau bahkan dipercaya oleh orang lain. Siapa tahu suatu saat ada yang mengalami pengalaman sama denganku, sehingga tulisan tak terbaca tadi bisa jadi sebuah rujukan dan menggugah perasaan. Malah siapa tau bisa membangkitkan semangat jiwa yang sedang turun. Toh, walaupun blog sudah jutaan jumlahnya di dunia, masih ada juga orang yang mungkin membutuhkan hasil pikiran atau secuil ilmu titipan Allah di diri kita.

Bisa jadi hobiku membimbing mahasiswa meneliti dan menulis dipandang tidak menguntungkan. Padahal 'calling' tidak bisa dikuantifikasi dengan penghargaan 'tangible' dan 'intangible' karena ada manfaat yang tidak bisa diambil dalam waktu singkat, tetapi perlu latihan bertahun-tahun.

Sebenarnya yang beruntung dari kerja sama ini adalah kami berdua, karena mahasiswa dapat kesempatan berlatih menulis dan belajar mandiri. Di pihakku, mengajak mereka menulis bersama sebenarnya tidak hanya meningkatkan semangat diriku, tetapi juga kreativitas dan produktivitasku. 

Mereka akan belajar untuk riset bahan tulisan dan mencoba menceritakan kembali pemahaman lewat tulisan. Juga mereka terlatih untuk mengeluarkan pandangan, ide dan saran melalui tulisan. Lebih positif, kan? 

Belajar bersama, mengerjakan project bersama-sama terasa sangat menyenangkan, karena bisa saling menyemangati dan berbagi informasi.

So, despite semua ketidakyakinan dan perhitungan untung-rugi yang dilakukan dengan akal pikiran saja, maaf, hal itu tidak akan menggoyahkan semangatku untuk tetap berbagi kegiatan mahasiswa, blog, dan project-project sosial yang bisa membantu orang lain dan sekuat yang bisa diusahakan. Insya Allah aku akan berusaha istiqamah dalam menjalankan calling atau panggilan hati nuraniku ini sampai Allah tidak izinkan lagi.

Mengenai pertanyaan temanku tadi, ibu narasumber menjelaskan bahwa penelitian bukan seperti sebuah pekerjaan yang kemanfaatannya bisa dirasakan dalam jangka waktu pendek. Tetapi apa yang dikerjakan sekarang, terlihat tidak berguna, sebenarnya bisa memperkuat dan membantu mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga suatu saat dapat bermanfaat bagi orang banyak. 

Untuk bisa mengerjakannya, kita perlu 'calling', supaya tidak terasa membebani hidup kita dan penelitian yang dikerjakan berdampak pada masyarakat dan lingkungan. 

Begitulah.

Perth 2011
Pekanbaru 2020
Tulisan ini direvisi dan dipublish pada tahun 2020. 

Saturday, December 30, 2017

Memaknai Tema Tahunan dalam Karir Akademik

Catatan:
Beberapa post penting sempat hilang dari blog akademik yang rutin diisi. Oleh sebab itu semua post akan dipindah sesuai tanggal publish ke blog ini sebagai pertinggal agar selalu bisa diakses. 

Repost dari link berikut. 


Sejak tahun 2012, saya mulai merefleksikan mayoritas kegiatan-kegiatan dan pengembangan diri yang dilakukan pada tahun tersebut menjadi sebuah tema tahunan. Merujuk pada post sebelumnya di tahun 2016, ada beberapa tema tahunan, yakni:
Tahun 2012 = tahun data base (mengupdate, mengumpulkan, dan mereview data serta kinerja)
Tahun 2013 = tahun traveling (ke beberapa negara)
Tahun 2014 = tahun internationalization dan networking (highlight: Unilead Germany dan Alumni Reference Group Australia Awards in Indonesia)
Tahun 2015 = tahun creating content and sharing insight (belajar jadi narasumber, public lecture, conference)
Tahun 2016 = tahun community service (highlight: flipmas Batobo)
Pada tahun ini Allah mengundang saya mengasah skill-skill lain.
Tahun 2017 = tahun mentor, auditor, examiner and reviewer (internal Unri dan external Unri, ISO 9001:2015, Australia Global Alumni).
Tema tahun 2017 ini memiliki pesan amat mendalam selain amanah besar untuk memberikan pertimbangan atau rekomendasi tepat sasaran dan bermanfaat melalui evaluasi dan pertimbangan cermat mengenai kapabilitas seseorang. Menjadi seorang mentor, examiner dan reviewer juga berarti membantu orang lain agar dapat berkontribusi bagi perubahan dan pengembangan di berbagai bidang di Indonesia. Apa yang menjadi keputusan bersama akan dapat mengubah banyak hal dari diri dan orang di sekeliling pelamar sendiri.
Pelajarannya dari kegiatan ini adalah: be humble, treat everybody equal because they're potential candidates, speak from your heart, and share your knowledge on how to improve their abilities.
Tema tahun ini juga memerlukan networking, manajemen waktu terbaik, daya juang, daya tahan, semangat, integritas, ketajaman berpikir, bisa memberi feedback dengan fair, dan bersikap etis. Thinking outside the box, pengamatan dan mau keluar dari comfort zone. Banyak membaca, rajin diskusi dan mengikuti perkembangan terbaru di bidang ilmu. Harus berani masuk ke situasi-situasi yang tidak familiar lalu menghadapinya dengan profesional tanpa banyak mengeluh. Harus bisa juga membuat keputusan-keputusan kritis berdasarkan fakta, pengalaman dan jam terbang dan merekomendasikan sesuatu yang dampaknya besar dalam jangka panjang serta memiliki multiplier effect di masyarakat. Easy to say, but difficult to imply it.
Tanpa disadari lama-lama saya lebih lincah memberi feedback dan mampu memandang dari berbagai angle kepentingan untuk membuat keputusan.
Alhamdulillah. Moga tema kegiatan tahun berikutnya lebih seru lagi.

Saturday, December 17, 2016

Ketika aku... dimotivasi oleh mahasiswa


"Ibu, saya suka membaca blog ibu, mengapa sudah lama tidak diupdate ya?" seorang mahasiswa bertanya dalam sebuah acara. 

Diam-diam aku sedikit senang karena ada yang menanyakan. Pasalnya, aku kehilangan motivasi untuk mengisi blog ini. Ada beberapa hal yang belum bisa diterima dan menyangkut dalam pikiran-pikiran penuh keduniawian ini. Padahal menulis blog adalah sharing ilmu bermanfaat, bagian dari amalan untuk akhirat juga, Subhanallah... aku seperti tersadarkan saat itu. 

"Insya Allah ibu akan update dan mulai rajin menulis lagi tahun 2017 ini, mohon doanya" jawabku dengan nada bergetar. 

"Mudah-mudahan bermanfaat ya..." sambungku lagi. 

"Ibu, nanti tampilannya dibuat profesional dan pakai domain com ibu, jangan blogspot lagi" usul sang mahasiswa. 

"Iya, insya Allah ibu akan perbaiki, semoga bisa pakai domain com secepatnya" jawabku lagi. 

Masya Allah, meski hanya sebuah blog, jika ditekuni dan ditulis menggunakan hati, barangkali bisa membantu orang lain. Insya Allah, insya Allah, aku akan rajin menulis tahun 2017 ini, akan kujadikan tahun 2017 adalah 'tahun menulis', setelah tahun 2016 temanya 'pengabdian masyarakat'.

Alhamdulillah, makasih ya adik-adik mahasiswa. Ibu jadi termotivasi lagi mengupdate blog ini. Demikianlah kita berinteraksi, hendaknya saling memotivasi dalam berbagai hal baik-baik.

Semoga bermanfaat ya. Syukron dan sukses untuk anda semua. 

Pekanbaru,

Thursday, September 1, 2016

Mengaktifkan diri saat tenggelam dalam kesedihan


So, bunyinya seperti kita ini robot yang perlu diaktifkan kembali saja.

Tetapi hal itu pasti pernah dialami tiap orang.

Apalagi kalau diantara kita mengalami kesedihan akibat masa-masa sulit karena kehidupan tidak selalu penuh bunga, atau keletihan karena terlalu berat beban hidup yang ditanggung, atau juga merasa pesimis karena hal-hal yang dilakukan belum kelihatan hasilnya. 

Untuk itu, kita perlu memberi waktu bagi diri sendiri. 

Biarkan diri istirahat sejenak untuk merenung, mencari jawaban, melupakan, atau menenteramkan jiwa sendiri. 

Berdoa, shalat dan bersabar. Mulai lagi tilawah Al Quran.

Lakukan hobi atau belajar hobi baru.
Pergi traveling (sangat dianjurkan). Bertemu teman-teman baru. Buat project yang melibatkan orang-orang tak dikenal. Atau, bersilaturrahmi dengan keluarga dan kerabat yang mengenal kita dari kecil. Bahkan mungkin saja ambil kursus bahasa asing, melakukan S2 atau S3. Apa saja, untuk menyibukkan diri dan membuat kita lupa dengan kesedihan tersebut.

Insya Allah kita akan cerah lagi.
Bahkan jika dilakukan terus-menerus, pasti kesedihan tadi lambat-laun akan memudar dan bisa hilang tak berbekas.

Bukan tidak mungkin kita akan tersenyum mengingat betapa kuatnya diri kita bangkit dari kesedihan yang seolah tak kunjung hilang.

Pekanbaru,

Friday, January 2, 2015

Ketika aku... memikirkan tentang Resolusi (2015)

Setiap tahun baru Masehi datang, nyaris semua orang memiliki resolusi baru di kepala mereka. Sayangnya semua resolusi itu jarang berlanjut setelah bulan Januari selesai. Bak seorang pelari marathon yang ambruk sebelum mencapai garis finish.


Mengapa sebuah resolusi sulit dijalankan?

Aku punya beberapa alasan soal ini.

A) Resolusi tersebut cukup ambisius
Beberapa orang seperti lupa mengukur kemampuan diri mereka saat membuat resolusi. Kadang-kadang suatu hal penting untuk menunjang resolusi tersebut malah belum selesai dilakukan atau belum mulai sama sekali. Orang-orang belum banyak pengalaman, tidak bisa mengukur dukungan lingkungan dan kemampuan pribadinya biasanya terjebak dalam hal seperti ini. Contoh resolusi yang cukup ambisius adalah ingin S3 di tahun 2015, tapi skor bahasa Inggris belum mendekati level diinginkan.

B) Resolusi tersebut tidak sesuai dengan keinginan pribadi
Herannya, ada orang yang terlibat dengan ambisi orang lain tanpa mereka sadari. Biasanya mereka hanya melihat orang lain sukses dalam suatu bidang, lalu ingin melakukan hal yang sama tanpa ada pertimbangan masak-masak apakah hal tersebut cocok dan sesuai dengan keinginan pribadi. Ketika menemukan masalah, mereka tidak sabar dan cenderung menganggap diri mereka tidak sesuai dengan resolusi tadi. Orang-orang yang tidak suka berkaca dari pengalaman pahit orang lain, tetapi hanya suka kesuksesan saja tanpa mau susah payah bisa digolongkan dalam kategori ini. Sebagai contoh, banyak orang ingin sukses berjualan online di tahun 2015. Sayangnya mereka enggan belajar membaca kebutuhan pasar, cara berdagang online yang menguntungkan, maupun menyadari bahwa memiliki jaringan luas untuk memasarkan dagangan mereka sangat diperlukan.

C) Resolusi tersebut tidak spesifik
Sesuatu yang tidak spesifik, pasti akan sulit dicapai. Spesifik di sini berupa tujuan yang detil, waktu pencapaian yang detil maupun hasil akhir yang ingin dicapai secara detil. Mayoritas orang yang membuat resolusi semacam ini tidak bisa mengukur waktu yang dibutuhkan untuk sebuah pekerjaan.Untuk membuat resolusi yang spesifik, kita perlu membuat ukuran yang ingin dicapai. Misalnya pada tahun 2015 ini aku ingin menulis 2 paper internasional di Jurnal A dan B, diterbitkan bulan Mei dan September, dengan topik durabilitas dan geopolimer.

D) Resolusi tersebut jumlahnya banyak dan sangat spesifik
Sebagai seseorang yang suka detil, aku tidak bisa membuat perencanaan tanpa timeline yang juga sangat detil dan njlimet. Kemudian jumlahnya juga banyak, sehingga tidak jelas fokusnya secara garis besar. Terus terang, hanya 70% saja dari perencanaan tercapai, bahkan kadang di bawah itu. Untuk orang-orang sepertiku, harus menahan diri dari membuat perencanaan detil yang banyak dan memilih prioritas mana yang harus dilakukan serta relevan dalam hidup. Ingat, bahwa bisa bekerja dengan tenang dan beribadah kepada Allah lebih penting daripada mengerjakan begitu banyak tanggung jawab dan tidak bisa melaksanakan resolusi-resolusi tersebut.

Pekanbaru,

Tuesday, May 27, 2014

Ketika aku... benar-benar ingin ngeblog lagi...

Setelah agak lama vakum ngeblog dan sulit untuk 'come back', barulah terpikir olehku apa saja penyebabnya. Mostly, bukan karena 'writer's block', tetapi berasal dari 'mind set' diriku sendiri. 

Setelah beberapa saat merenung dan melakukan 'delete' berkali-kali karena kalimatnya kurang bagus (misalnya: aku baru menyadari kalau sebabnya seperti), penyebab aku malas ngeblog adalah:

a) kekurangan waktu untuk melakukan sesuatu yang kreatif

b) tidak punya ide keren karena jarang membaca buku atau membaca koran

c) sedikit trauma saat posting nasehat, abis seringnya malah terjadi pada diriku. Hehe...

d) rasa malu karena cerita hidupku diketahui orang, terutama hobi jalan-jalannya itu.

Tapi sekarang aku sadar kalau tidak ngeblog maka akan banyak kerugian yang didapat, seperti jarang beramal, tidak berlatih menulis, tidak mahir menulis review lagi, atau tidak sempat meninggalkan 'footprint' tentang hidupku di dunia maya. 

So, aku akan menyisihkan waktu, rajin membaca buku/koran lagi, tidak takut trauma malahan bersyukur bisa berbagi ilmu, dan tidak apalah, mudah-mudah cerita-cerita hidupku bisa mendorong orang untuk berkreasi.

By the way, 
setelah berbulan-bulan tidak aktif ngeblog, aku proklamirkan kembali kalau Insya Allah ku akan menulis posting tiap 4 (empat) hari sekali. 



Mudah-mudahan tetap istiqamah dan selalu sabar dalam berbagi kebaikan. Amin, semoga dimudahkan Allah.

Pekanbaru,

Tuesday, January 28, 2014

Angry from the past

This is not a nice post, actually. But this is important.

How many of us have been trapped in our 'past'?

This question was asked a few weeks ago in one famous motivation TV Program.

My friend, Hani, told me, 

someone who hates people bring heavy loads in their back. They bring the loads everywhere while keep adding to them with new hate. It is hard. It hurts.

Hani was right.  
It is very hard to bring those loads in our heart, and it is easier to walk without them. Why don't we leave the load somewhere?

Another friend, Sonia, has offered her best trick to reduce the imaginary loads. 

This can be done instantly by wiping the bad feeling promptly before we are dwelling on it too long. 

She refused consciously to respond to other people who made her angry, and simply just let them go. Her reason was:
She didn't want to keep any 'bad taste in her mouth' because she didn't want to spoil the taste of her next meals. 

Recently, I met some people who have been away for a few years. From our final meeting, they said things that made me quite disappointed and angry. There were some stupid prejudices on me and other friends. The comments were astonishing!

Actually, I didn't happy at all.
But I learned that they were confused and insecure about many things. I couldn't force them to accept that  people and things they knew before have changed. They must bear the changes and find strategies to be in the 'market' again. They cannot throw some of their disappointment in their life on me.

By the way, I successfully refused to get angry and put the 'load' on my back. 

Simply, by just don't care too much... and swift my focus on other essential problems.

Pekanbaru, 
tis problem needs to be resolved soon...

Sunday, June 10, 2012

Ketika aku… baru mengerti arti ‘hanya menipu diri sendiri’


t-s by
Sudah berkali-kali hubby mengingatkan aku untuk tidak ngemil coklat berlebihan. Kandungan lemak yang tinggi dari mentega dan minyak pencampurnya tersebut tidak ‘friendly’ bagi wanita, meskipun ada istilah ‘chocolate is a women’s best friend’. Diam-diam, demi my ‘guilty pleasure’ itu,  aku masih suka mengudap coklat yang diumpetin dengan rapi di kulkas. Hingga suatu hari tanteku yang mendengar hal itu mengatakan bahwa aku tengah menipu diriku sendiri.

Ceritaku tentang coklat tadi, sebenarnya membuat aku sadar bahwa itu adalah my guilty pleasure. Tambahan lagi komentar tanteku soal menipu diri tersebut, kuakui sangat benar. Sudah tahu kalau makan coklat berlebihan membuat berat badanku bertambah, tetapi tak bisa dilakukan terang-terangan, aku memilih jalan diam-diam. Apa bedanya, terang-terangan dan diam-diam kalau begitu? Toh, berat badanku akan tetap bertambah. Karena itu, tuduhan ‘menipu diri sendiri’ tersebut dialamatkan padaku, meski tak rela, aku bisa menerimanya.

Sebagai wanita, kita punya banyak ‘guilty pleasure’. Bukan berbau ‘aneh-aneh’ ya… (maaf konteksnya tidak begitu di blog ini). Tetapi, sesuatu yang dilakukan diam-diam walaupun sebenarnya kita tidak boleh atau sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi. Apalagi ya, yang dimaksud, kalau bukan tentang makanan? Kegemaran makan segala macam makanan tanpa pengendalian diri, sudah jelas itu guilty pleasure. Wanita, sebenarnya punya keterbatasan pengendalian diri, apalagi kalau menyangkut soal makanan. Tidak sedikit stori diet yang gagal, karena kurang disiplin menjaga makanan. Maunya kurus tapi tidak mau dibatasi dalam mencicipi segala rupa makanan dan camilan. Maunya kurus, tapi tidak mau exercise untuk mempercepat penurunan berat badan. So, gimana mau kurus, kan?

Saat ini aku tengah dalam proses penurunan berat badan dengan bantuan teknik akupuntur. Aku memilih cara pelangsingan seperti ini, agar termotivasi menurunkan berat badan di bawah pengawasan dokter. Terapi dilaksanakan dua  sesi per minggu dengan total sesi 12 kali. Untuk menunjang program ini, maka aku harus diet cukup ketat. Pagi hari hanya makan satu potong roti dan sepiring buah-buahan. Siang hari makan dua sendok nasi dengan sayuran dan ayam/ikan rebus. Malam hari, hanya makan sayur atau buah. Tidak boleh makan gorengan, cemilan krupuk, soft drink, dan so pasti coklat juga diharamkan. Untuk membantu diet dan akupuntur, aku harus olahraga 1 jam per hari.

Awalnya semua berjalan lancar, tapi lama-lama kok neg makan ayam rebus dan ikan rebus? Akhirnya aku jadi modifikasi menu dan banyak makan buah-buahan. Karena sibuk bekerja, aku suka ogah-ogahan berolahraga. Alhasil, tiap datang terapi, berat tubuhku mengalami sindrom yo-yo, kadang naik, kadang turun. Hasil seperti ini tentu tidak diterima oleh dokter, yang mengingatkanku dengan halus supaya mulai serius menurunkan berat badan dan tidak ngemil kalau malam.

Tetapi hal itu tidak hanya terjadi pada diriku saja! Diam-diam, di ruang tunggu dokter, beberapa pasien mengaku kalau mereka tidak melakukan diet dan olahraga seketat anjuran dokter. Berat badan mereka juga suka naik-turun tak terkendali. Nah, sudah jelas aku dan mereka, sama saja kan? Kami semua telah menipu diri sendiri. Berharap uang yang dikeluarkan dan teknik akupuntur dapat membantu kami langsing secara instan tanpa perlu pengorbanan keras.

Kadang-kadang kalau diingatkan dokter mengenai hal itu, kami akan mengatakan:
“duh, kenapa ya, kok berat badan saya bisa naik?” dengan ekspresi pura-pura terkejut.
Padahal kami mengetahui persis apa saja yang masuk ke dalam mulut beberapa hari yang lalu, berapa lama kami berolah raga dalam sehari dan… bergidik membayangkan betapa sesungguhnya kami telah menipu diri sendiri!

Kuakui, kalau aku memang tidak pernah belajar dari komentar tanteku itu. Dan kuakui kini terasalah benarnya, saat mendapatkan berat badan yang kuimpikan makin terasa jauh dari harapan. Maka, sebelum semuanya menjadi bubur,  semua harapan dan biaya yang dikeluarkan menjadi sia-sia, aku bertekad untuk menghadapi semua kesulitan dalam proses ini. Psst, tanpa menipu diri sendiri lagi, dong.

Doakan, ya!

Pekanbaru,
Diet fisik ternyata dipengaruhi ‘mind set’ juga ya…


Thursday, January 19, 2012

Ketika Aku… Menyadari Proses itu Perlu


Setelah beberapa bulan kembali ke rutinitas dan kehidupan di tanah air, aku sempat mogok blogging. Ternyata, kesukaanku pada mengisi blog dikalahkan oleh kesulitanku menyesuaikan diri dengan kehidupan baru. Dari cuaca, pekerjaan, kebiasaan orang-orang di sekelilingku, tontonan, hingga makanan yang kumakan.



Satu hal yang paling kuingat dari ‘Return Home Workshop’, bahwa kami dianjurkan untuk tidak terburu-buru ingin mengubah keadaan di sekeliling dalam waktu singkat. Proses itu harus dilakukan perlahan-lahan tanpa mengejutkan keluarga, kolega maupun mahasiswa.



Cara demikian memang sangat memakan waktu. Tetapi, orang-orang di sekelilingku perlu diberi waktu untuk memahami kalau aku bukanlah sebuah ‘ancaman’ bagi mereka. Oleh karena itu, aku harus menyesuaikan diri dengan mereka sambil menyusun rutinitas yang ingin kulakukan. Secara pribadi, aku ingin semua orang menerimaku dengan senang hati tanpa beban. Simpati yang diperoleh diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dengan teman-teman dan memudahkan implementasi ide-ide lewat dukungan tim.



Dalam masa penyesuaian diri, kita juga dituntut untuk bijaksana dan mau membaur dengan teman-teman lama tanpa ada tendensi tertentu. Kita harus mengurangi bicara, lebih rajin mendengar, aktif membantu siapa saja yang membutuhkan ide kita, dan bersikap kooperatif dalam  berbagai hal. Tidak perlu membanding-bandingkan apa yang pernah kita alami sebelumnya, karena situasi tersebut telah berlalu, sedangkan saat ini kita tengah berada dalam situasi lain lagi. Intinya, rasa ikhlas akan keadaan sekarang harus diperbesar.



Kadang-kadang, terbersit rasa jengkel karena semua tidak semudah dan secepat sebelumnya. Lagi-lagi, sikap ‘menerima’ memang membantu penyesuaian diri lebih cepat. Terkadang kita harus sering merevisi dan menurunkan standar agar tidak putus asa lalu mogok berkarya. Tak jarang kita harus kembali pelan-pelan melangkah, karena tidak bisa secepat biasa. Pada saat melambat ini, jangan diartikan sebagai saat kontra -produktif. Tetapi gunakan masa itu untuk mengumpulkan dukungan dan kekuatan. Karena, saat masa penyesuaian telah berlalu, kita bisa mengejar ketinggalan yang dialami dengan kekuatan penuh.



Saat ini, aku tidak memiliki target apapun selama setahun penuh. Kubiarkan diriku menyesuaikan diri, meskipun sempat terseok-seok pada awalnya. Pelan-pelan, kubangun rutinitas pekerjaan dan kehidupan yang lebih seimbang. Toh, tidak selamanya kita akan berada dalam ‘kesulitan’, karena sudah sunnatullah, setelah ‘kesulitan ada kemudahan’.



Semoga penyesuaian diri selama setahun ini akan memudahkanku di masa depan... Semoga yah!



Pekanbaru,

Satu cerita boring lagi dariku… (haha, enjoy!)












Friday, October 14, 2011

Ketika aku... bukan berhenti nge-blog, tapi sibuk hal lainnya



Sejak pulang ke tanah air, aku masih sering nge-blog. Belakangan ini, waktu untuk nge-blog agak berkurang, karena aku sibuk memperbaiki sebuah paper yang telah ditagih publisher dan mempersiapkan keberangkatanku ke Perth.


Kembali ke Perth?

Betul, tetapi hanya beberapa minggu saja. Perjalananku kali ini berkaitan dengan konferensi Concrete11 di Burswood, Perth, 12-14 Oktober 2011; bertemu dengan supervisor mengenai thesis dan tentu saja, menemui hubby tercinta.


So pastilah, ini bukan soal rasa hati yang excited untuk menikmati musim semi di Perth. Tetapi, sepertinya kesempatan baik pula untuk recharge ilmu praktisi di lapangan, sekalian mendapatkan umpan-balik mengenai risetku dari para praktisi beton di Australia. Sudah bukan rahasia umum kalau riset beton geopolimer kerap mendatangkan aura skeptis di mata para praktisi lapangan tadi. Sekarang, who knows, sejak carbon tax akan diterapkan dalam industri di Australia, beton geopolimer bisa jadi alternatif binder yang paling laku di pasaran.


Jadi, apa hasilnya menghadiri conference itu?

Beberapa sesi kuikuti karena berkaitan dengan minat risetku, seperti durability, concrete technology dan geopolymer. Seperti biasa, aku seperti mendapatkan energi baru, apalagi jika ada poin-poin penting yang sangat berhubungan dengan risetku. Trend untuk hitung-hitungan emisi karbon yang dihasilkan industri beton sepertinya sedang naik daun.


Setelah mendapatkan kesempatan presentasi dan dihadiahi berbagai pertanyaan, komentar dan kritikan, aku semakin percaya diri kalau beton geopolimer masih mendapat perhatian besar dari praktisi di lapangan. Semua ini ditandai dengan komentar dan pujian yang masuk mengenai presentasiku, termasuk dorongan untuk tetap menemukan cara untuk memperbaiki sifat-sifat beton tersebut. Beberapa praktisi lapangan yang kukenal memberikan gesture positif mengenai masa depan geopolimer. Dengan sedikit menyesal karena tidak bisa melanjutkan riset beton geopolimer di Australia, aku bertekad akan terus mengembangkan pengetahuanku di bidang potensial ini.


So,

cukuplah laporan pandangan mata dan hati soal konferensi yang membuat diriku tak punya waktu untuk ngeblog dua minggu belakangan ini. Sampai jumpa di tulisan mendatang.


Perth,

Thursday, July 7, 2011

Ketika aku... belajar mendengar


Sebenarnya aku tidak terbiasa mendengarkan orang lain berbagi isi hati. Aku memang menghindari hal-hal seperti itu agar tidak terjebak pada ‘prejudice’ atau bias terhadap seseorang. Tetapi, akhir-akhir ini, setelah aku belajar ‘mendengar’, ternyata sikap bias tadi cenderung berkurang. Aku merasa lebih bahagia dan bersyukur.


Tadinya aku bukan orang baik hati yang selalu punya waktu untuk mendengarkan orang lain. Aku selalu sibuk sendiri, tak punya waktu untuk bersosialisasi lebih karena selalu merasa harus fokus pada pekerjaan dan studi. Bagiku, mendengarkan keluhan, uneg-uneg bahkan gosipan tentang orang lain akan menyebabkan aku tidak bisa objektif menilai seseorang. Apa yang dikatakan orang biasanya membuat aku berpikir keras untuk menentukan sikap, bayangkan, begitu kakunya diriku! Hitam atau putih, itu saja yang ada di pikiranku.


Hingga suatu hari aku bertemu dengan seorang teman OZ yang sedang mengambil Master of Psychology di Curtin University. Tadinya aku ingin curhat kepadanya, karena aku merasa nyaman dengan statusnya sebagai seorang psikolog. Tetapi belum sempat mengeluarkan uneg-uneg, aku telah disalipnya. Ia mulai cas-cis-cus tentang hubungannya dengan sang pacar. Kebetulan saat itu aku punya saran untuknya. Saat aku ingin gantian menceritakan masalahku, ia kembali memotong dan curhat soal hal lain. Walhasil, pada hari itu aku sukses mendengarkannya, tapi tidak punya kesempatan berbagi masalahku.


Kejadian itu berulang lagi dengan dua atau tiga teman yang sama tahun lalu. Mereka sepertinya lebih berminat menceritakan kondisi mereka, ketimbang mendengarkan curhatku. Setelah berburuk sangka, berpikir apa cara berceritaku membosankan atau hidupku kurang menantang bagi mereka, akhirnya aku memutuskan untuk belajar mendengar sajalah. Daripada sakit hati dan tenggorokan mengulang-ulang kisahku yang tak juga dianggap serius oleh teman-teman, mungkin lebih baik mendengarkan kisah mereka saja.


Sebenarnya mendengar itu sangat mudah. Tinggal tutup mulut, buka panca indera dan menghayati tiap perkataan dari mereka. Sesekali untuk menunjukkan kalau kita mengerti, beri tanggapan singkat. Barulah jika mereka bertanya, aku memberikan beberapa solusi atau analisa berdasarkan pengetahuan, lengkap dengan referensinya. Hehe, itu kalau aku mengerti persoalannya. Jika tidak, aku memilih mendengar saja, lalu mencoba menenangkan atau membuat si pencerita merasa nyaman.


Bukan main, setelah banyak mendengarkan curhat dan keluhan teman, bukannya aku tetap bias, tapi aku malah belajar memahami orang lain. Jika seseorang yang dulunya kukira tangguh, ternyata bisa rapuh juga. Orang yang kukira hidupnya biasa-biasa saja, ternyata sungguh luar biasa. Ada juga teman yang merasa hidupnya sungguh luar biasa, tetapi tidak bisa mempesona diriku. Dengan diam saja, ternyata aku malah jadi bisa belajar banyak hikmah, punya waktu merenung dan mensyukuri tiap kekurangan-kelebihan yang kumiliki. Nilai plusnya, kemampuan mendengar membuatku dapat memahami berbagai konflik yang dialami manusia tanpa harus menghakimi mereka sedemikian rupa. Yang kuperlukan hanya mau ‘mendengar’, lalu berdasarkan pemahamanku tentang masalah mereka membantuku bersikap lebih fleksibel dalam menghadapi sesuatu. Dan so pasti, aku merasa jauh lebih bahagia, karena sekarang aku lebih mengerti duduk suatu masalah dengan diam mendengarkan. Rasa syukurku juga bertambah, karena dengan mendengarkan masalah pelik yang mereka hadapi, aku mengerti kalau yang kualami dalam hidup tidak selalu buruk untukku.


Jadi kawan, tunda keinginan untuk selalu menjadi pembicara tunggal dalam tiap acara pertemuan dengan teman-teman. Duduklah diam-diam, perhatikan, dengarkan, apakah di sekitar kita ada orang yang memerlukan ‘telinga kita’, lalu motivasi atau kesejukan kata-kata. Mudah-mudahan lewat sikap perhatian kita lewat mendengar tadi dapat membantu meringankan hati mereka yang berat, meningkatkan empati dan menguatkan persahabatan kita dengan mereka. Bukankah muslim yang baik itu, adalah yang bermanfaat bagi orang lain?


Insya Allah.


Pekanbaru,

Monday, June 6, 2011

Ketika aku... *off dulu*


Teman,
tak mudah menjadi pengisi blog yang rajin mengisi konten, apalagi kalau sedang dalam masa persiapan kembali pulang ke tanah air.

Pamit off dulu ya,

kembali lagi kalo dah back home safely.

Enjoy my previous posts.

Wassalam,

Monita

Friday, April 22, 2011

Ketika aku... merenung, 'dapatkah kita meniru semangat Kartini?'

Belakangan ini aku banyak membaca soal perjuangan ibu Kartini yang banyak ditulis secara skeptis oleh beberapa sumber. Ada yang mengatakan bahwa ia tidak layak jadi pahlawan karena perjuangannya hanya sebatas teori. Juga ada yang menulis kalau Kartini menganut aliran theosofi dan tidak menjalankan agama Islam dengan baik hingga satu tahun sebelum wafat. Namun, apakah semua kekurangan tersebut harus menjadi alasan untuk tidak mau menggali hal-hal baik yang dilakukan Kartini atau mau menjaga semangatnya dalam memperjuangkan harkat wanita?

Tulisan ini sebenarnya cukup berat untuk diriku yang baru saja menamatkan buku biografi Kartini beberapa waktu lalu. Tetapi sebenarnya aku ingin berkontribusi memberikan sedikit informasi tentang hal yang telah dilakukan ibu Kartini sesuai isi buku Kartini, Sebuah Biografi, karangan Ibu Siti Soemandari Soeroto.

Berhubung ketatnya tradisi di kalangan bupati Jawa pada masa itu, Kartini tidak dapat dengan leluasa keluar rumah untuk menuntut ilmu, bekerja sama dengan orang-orang hingga ke luar daerah. Ayahnya sering mendapat kecaman karena terlalu membebaskan Kartini dan saudari-saudarinya dalam masa pingitan untuk dapat berjalan-jalan di luar rumah, misalnya mengunjungi daerah Jawa Barat, atau menerima tamu-tamu asing yang ingin berkenalan dengan Kartini.

Kartini mulanya berusaha membantu para perajin di lingkungan Kabupaten yang dipimpin ayahnya. Para pembatik dan pengukir di Jepara yang tidak memiliki penghasilan pantas serta sering diperlakukan semena-mena oleh para cukong, diberi ide untuk memperbaiki hasil kerajinan mereka. Kartini merancang bentuk dan warna berbagai benda-benda kecil dari batik dan ukiran kayu, lalu dikirimkan ke pameran kerajinan atau semacam bazaar yang diadakan organisasi sosial Wanita Belanda saat itu. Setelah itu, berbagai pesanan mengalir ke para pengrajin untuk menghasilkan barang-barang kerajinan yang akan dijual ke negeri Belanda. Dengan cara itu Kartini mencoba meningkatkan taraf hidup para pengrajin miskin di daerahnya. Berkat koneksi yang luas dari kalangan Belanda dan kedudukannya sebagai putri Bupati, maka banyak orang yang dapat dibantu oleh Kartini dan saudarinya.

Saat itu Kartini sudah tersohor karena sering menulis di koran ataupun buletin terbitan mahasiswa Indonesia di Belanda. Kartini mencoba menggerakkan semangat rekan-rekan pria yang tengah bersekolah di Belanda untuk terus berjuang demi Kemerdekaan Indonesia. Kartini menyebut dirinya sebagai ‘mbakyu’ bagi adik-adik mahasiswa pria yang memiliki tujuan sama dengannya.

Para pejabat Belanda pada masa itu sering bepergian ke Kabupaten untuk bertemu ayah Bupati. Tamu-tamu asing tadi, misalnya keluarga Abendanon yang datang sebagai seorang pejabat bidang pendidikan di Indonesia dari Belanda dan keluarga van Kol. Mereka menyayangi Kartini seperti putrinya sendiri, membantunya memahami makna diri sebagai seorang putri Jawa, mendorong perjuangan serta pencapaian cita-cita besar yang dimiliki Kartini. Mereka bahkan pernah mencoba mengusahakan agar Kartini dapat bersekolah di Batavia, tetapi hal ini kandas karena tidak mendapat ijin dari ayah bupati. Sayangnya, mister Abendanon pernah juga menggagalkan usaha Kartini ingin bersekolah di Belanda. Walaupun saat itu beasiswa sudah ia dapatkan melalui bantuan mister van Kol dari pemerintah Belanda. Ia kuatir Kartini akan mudah terpengaruh dengan kebudayaan Barat, sehingga tidak murni lagi jiwanya sebagai seorang putri Jawa.

Pada titik inilah, keinginan besar Kartini untuk dapat mencari ilmu yang akan dapat membantu kaum wanita Indonesia melalui bakal sekolah tidak dapat terlaksana, sehingga ia sempat putus asa. Kartini menyerah pada nasib, mau menjadi istri seorang bupati yang ternyata memiliki selir-selir lain, suatu keadaan dalam masyarakat ningrat yang sangat tidak disukai Kartini. Kartini berharap, jika kaum wanita memiliki pendidikan, maka mereka tidak akan selamanya bergantung pada orang lain, mampu membuat keputusan sendiri dan dapat membesarkan generasi muda yang bermutu. Wanita mesti memiliki keahlian, agar mereka dapat berwirausaha. Wanita perlu mengetahui etika, keahlian wanita seperti memasak –menjahit serta mengurus anak, agar mereka dapat mengurus rumah tangga dengan baik. Wanita, juga perlu belajar membaca-menulis agar dengan ilmunya ia dapat membesarkan anak-anak menjadi orang pintar dan beretika. Semua itulah yang ingin dicapai Kartini dalam perjuangannya. Wanita yang memiliki ilmu dunia dan agama, sehingga mereka dapat menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi keturunan dan masyarakat di sekitarnya. Sungguh mulia, kan, cita-cita perjuangan beliau ini? Tidakkah tumbuh pula semangat kita sebagai wanita untuk melakukan hal yang sama?

Kartini hanya mungkin memulai melalui idenya. Tetapi setelah kepergiannya, semangatnya ternyata berhasil menggerakkan berbagai tokoh dan orang-orang yang simpati dengannya. Mister Abendanon lalu membangun sekolah keputrian berasrama yang dicita-citakan Kartini. Adik Kartini, Kardinah, mendirikan sekolah serupa, yang dibiayai oleh hasil penjualan buku-buku resep beliau. Tidak ketinggalan orang-orang yang pernah mengenal Kartini, merasa terinspirasi dengan keuletan dan kegigihan beliau memperjuangkan peningkatan taraf hidup rakyat dan memajukan pendidikan wanita Jawa saat itu, mulai bergerak melakukan hal yang sama. Mungkin itulah sebabnya, di kemudian hari kita mendengar banyak sekolah-sekolah putri serupa dibangun di seluruh pelosok Indonesia. Bak sebuah roda sepeda yang dengan susah payah berputar saat pertama kali sepeda dikayuh, kemudian dengan laju membawa pengayuh sampai di tujuan, agaknya seperti itulah perjuangan yang diawali oleh Kartini. Ia hanya sebagai roda penggerak, sedang yang lain bersama-sama ikut terbawa hingga sampai di tujuan.

Jadi, sebenarnya semangat perjuangan Kartini itulah yang membuatnya mulia. Cita-cita awalnya yang membuat namanya harum seperti melati, bunga kesayangannya. Jika ditanya lagi apakah Kartini berjasa, ada baiknya bertanya pada diri sendiri, mampukah kita seperti Kartini, atau paling tidak mau meniru semangatnya agar berguna bagi bangsa dan umat manusia.

Perth,

Selama Hari Kartini!

foto dari www.gambargratis.com

Thursday, September 23, 2010

Ketika aku... mengingat papa dan ekspresi cintanya dengan berbagai oleh-oleh



Tiba-tiba aku teringat kebiasaan baik papaku yang suka membawakan oleh-oleh berupa makanan atau apa saja untuk kami, anak-anak dan mamaku. Biar dikata pulangnya selalu berseru heboh memanggil kita semua untuk mencicipi oleh-olehnya, sebenarnya diam-diam kami sangat menghargai kebiasaan menyenangkan itu.

Sore hari saat pulang dari bekerja di kantor, aku menuju meja makan menemui papaku yang sedang menikmati makan malamnya, pukul lima sore teng. Sepuluh biji buah seri merah-merah yang dibungkus dalam napkin putih terletak di atas meja makan. Mataku terbelalak melihat buah kecil-kecil menggiurkan yang sudah jarang ditemukan di mana-mana.

“Dari pohon di depan kantor,” kata papaku sambil asyik mengunyah makanannya.

Di depan kantor beliau memang terdapat bermacam-macam pohon buah-buahan yang mulai sering panen. Ada pohon kelapa hibrida, jambu merah, jambu klutuk, jambu warna putih, buah seri, mangga, nangka, pendeknya semua permintaan dari pegawai di kantor barangkali dibudidayakan di sana. Kadang-kadang tinggal beberapa hari lagi waktu panen, tiba-tiba buah-buahan itu sudah raib diambil entah siapa. Ada saja yang dicurigai, walau tak sampai hati karena toh para pegawai bisa mengeluarkan uang sendiri dari kocek mereka untuk membeli berkilo-kilo buah-buahan itu. Mungkin mereka jengkel karena buah-buah mengkal itu dipanen atau sudah berbulan-bulan melihat tapi tak kebagian.

Tetapi, sore itu aku bahagia sekali, karena papaku bilang, buah seri itu khusus untukku. Mungkin beliau ingat saat aku kecil aku suka histeris kalau menemukan pohon seri. Kadang-kadang jika sudah menemukan pohonnya, aku suka berlama-lama berkeliling sambil berusaha keras menemukan buah termerah dan terbesar untuk dimasukkan ke mulut. Sambil mengenang kebiasaan masa kecilku, berdua dengan mama, kami menghabiskan buah-buah seri tersebut.

Tidak hanya buah seri, kadang-kadang papaku membawakan bermacam-macam makanan kesukaan keluarga seperti sate padang dari Duri yang jauhnya hampir 60km dari Minas, tempat tinggal kami. Sate itu pastilah dibawa dengan mobil berkecepatan luar biasa sepanjang jalan Duri-Minas agar tetap hangat saat kami cicipi. Setiba di rumah dengan berseru-seru heboh saat memasuki pintu rumah, kami langsung berkumpul untuk mencicipi bawaan istimewa itu. Memang heboh, tetapi kebiasaan papa yang satu itu memang menyenangkan dan mengenyangkan.

Papaku sangat gembira jika anak-anaknya puas, bahagia, tersenyum lebar, atau bahkan berebutan baik sepotong sosis, seteguk jus buah maupun secubit roti berselai kacang yang dikumpulkannya berhari-hari saat dinas di luar kota. Tak satupun ia makan, semuanya disimpan baik-baik di dalam kantongnya, dimasukkan ke dalam tas kerjanya untuk digelar di meja makan saat ia pulang.

Tiap datang ke rumahku, pasti ada saja buah tangan yang dibawa. Entah sepuluh kotak susu, lontong sayur, keripik, apa sajalah yang pasti beraneka ragam dan sudah beliau pastikan kami sukai. Meskipun aku sudah setua ini, kebiasaan papaku yang selalu membawakan sesuatu cukup membuatku terharu sebenarnya. Tetapi aku menghargai tiap bawaan beliau, walau tidak melompat-lompat gembira seperti saat beliau membawakan kerupuk ikan dan angka delapan dari kampung, kurma nabi dan kacang pistachio dari Mekah, atau bros kiwi dari New Zealand. Sekarang aku cukup tahu diri dan jika sudah tak sanggup lagi kami konsumsi sendiri, akan kubagikan pada orang lain agar mereka turut merasakan kebaikan hati tulus papaku.

Menurut papaku, saat beliau pulang ke rumah tanpa membawa oleh-oleh misalnya barang sebiji permen, beliau kuatir nanti tidak akan diperhatikan atau dinanti-nanti kepulangannya oleh anak-anaknya. Mengharukan, bukan? Beliau memang papa yang penyayang dan selalu mengingat kami, anak-anaknya yang bandel-bandel ini. Terima kasih banyak, pa, untuk semua oleh-olehnya selama ini.

Perth,
Saat merindukan oleh-oleh papa, dan berharap oleh-oleh falafel wrap untuk hubby bisa melestarikan ‘ekspresi cinta dalam sebuah oleh-oleh’.

Thursday, August 5, 2010

Sebuah zona renungan baru: "Ketika aku..."


Sebenarnya aku udah kemas-kemas mau cabut dari blog. Tapi, kok ya, jadi berat... soalnya blog satu-satunya hiburanku saat ini. Macet dikit nulis, tinggal cuap-cuap di blog.

Anyway, baru-baru ini aku dapat inspirasi membuat zona renungan dan muhasabah. Label ‘ketika aku...’ ini terilhami oleh sebuah blog yang menggunakan frase tertentu, seperti ‘gitu loh...’ etc, yang aku tidak ingat lagi. Kupikir frase ini membantuku untuk mengingat, muhasabah dan bersyukur dimulai dengan ‘ketika aku..’ Mari kita ambil manfaat dari curhatan diriku di label ini:D


-------------------------------------------------------------------------------------
Ketika aku... merasa bahwa pasrah itu mendekatkan kita pada rahmat Allah

Pernah tidak merasa sangaaaaaat tertekan, down, tak tau harus bagaimana, berbuat apa, bergantung pada sesiapa. Pendeknya, sangat buntu atau stuck. Seingatku, jika aku sudah mulai ketar-ketir merasa sudah tak berdaya lagi, kuambil bantal untuk menutupi wajahku, dan mulailah aku...

menangis tersedu-sedu,

(saat masih single, menangis di mana saja beres. Mo mewek di tempat tidur, kamar mandi, meja belajar, sambil nyetir, hayoh aja. Sekarang, sudah ada yang disamping dan aku sudah jadi pendamping, acara menangis sembarangan itu bisa menimbulkan tanda tanya, rasa bersalah sampai rasa tak ingin disalahkan pada pasangan. Jadi, aku harus pinter-pinter, kalo mo nangis mesti ke dalam kamar mandi atau di balik selimut biar ga malu-maluin. Hiks!)

Kembali ke ritual menangis tersedu-sedu sambil bertanya pada Allah, ‘mengapa’, ‘bagaimana’, ‘apa sebabnya’, etc, berulang-ulang menumpahkan segala macam emosi yang memenuhi rongga dadaku. Setelah fase tersedu-sedu menjadi terisak-isak, barulah diriku merasa lebih tenang dan mau mencuci muka menghilangkan air mata asin plus ingus yang menempel di tangan, mata dan pipi.

Rasanya begitu lega telah menyerahkan semua pada Allah lewat tangisan heboh tadi. Aku memang sudah tak berdaya lagi menyelesaikan semua, jadi bantuan Allah-lah yang sangat aku harapkan. "Laa haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyyil'adzhim", Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Jika kuingat-ingat seorang muslim yang baik itu ‘bersyukur saat diberi rahmat, bersabar saat diberi musibah’, maka apapun yang diberikan Allah pasti baik untuk kita.

Aku camkan juga dalam hati, jika ‘apapun keputusan Allah itu selalu baik untuk hambaNya’, karena ‘kita tak pernah tau bahwa hal yang kita sangka buruk, ternyata baik untuk kita, sedang hal yang kita sangka baik, malah berbahaya bagi diri kita’.

Disamping itu, Allah selalu mengikuti ‘prasangka hambaNya’, oleh karena itu, keputusan untuk pasrah, berserah kepada Allah, lalu tetap berusaha seperti biasa, mungkin adalah cara terbaik untuk lepas dari kebuntuan ini.

Beberapa waktu kemudian (dalam hitungan hari, minggu, bulan), tak disangka... insya Allah, ada rahmat Allah mendekati diriku. Biasanya dalam bentuk penyelesaian soal-soal pelik yang sempat kuhebohkan itu. Kadang-kadang berupa ‘kata-kata mutiara’, ‘ralat’, ‘jalan keluar’, bahkan ‘uang saku’, pernah juga ‘calon suami’, wahh... atau ‘surprise tertentu’ yang pokoknya tidak disangka-sangka asal, bentuk dan rupanya, tetapi merupakan jalan keluar kesulitanku saat itu.

Maka, benarlah, Insya Allah, jika sudah sangat ‘stuck’, mari kita pasrahkan semuanya pada Allah, mengakui kebesaranNya, mengakui ketidakberdayaan kita. Lalu biarkanlah Allah menurunkan rahmatNya dalam bentuk apa saja yang kita butuhkan...

Betulkan, pasrah ternyata mendekatkan kita pada rahmat Allah?
biblio: http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/tiga-ucapan-untuk-tiga-kondisi.htm