Sunday, June 3, 2012

Dandan dong...


pengajian-muslimah.blogspot.com
Wahai teman-temanku, plis deh, terima aku apa adanya…” kataku sambil mengikik dalam hati. Aku ngikik karena geli sebenarnya. Rasanya sulit mau tersinggung~ saat seorang rekan kembali mengkritik penampilanku yang dinilainya kurang gaya.

Dulu aku pernah bertanya pada miss M teman kerjaku di library, mengapa ia memakai pakaian yang itu-itu saja (baca: kemeja krem gombrong) saat bekerja. Miss M bilang, singkat saja, “because… I want to work, I want to be comfortable at work”. 

Caila, benar juga. Kuperhatikan rekan-rekan lain yang bekerja di lib tidak ada yang overdo, kelewatan dandan. Bahkan Mrs L, si manajer lib sering terlihat dalam balutan rok-blus berwarna sederhana, sepatu pantofel dan tidak jinjing tas apa-apa kecuali ranselnya. Supervisorku, miss N, tidak pernah lepas dari sepatu keds dan cardigan polos butut. No harm! Tetapi, saat mereka menghadiri acara di luar tempat kerja, barulah mereka berdandan habis-habisan. Kita tidak akan pernah melihat mereka seperti itu di tempat kerja.

Sementara di Indo, aku kaget melihat orang-orang menggunakan busana yang lebih pantas untuk menghadiri kondangan ketimbang bekerja. Apa tidak gatal dan gerah, ya? Bayangkan, panas-panas begitu mereka menggunakan baju-baju tanpa kerutan berwarna menyala dilengkapi tas dan sepatu tak kalah kinclongnya. Sepertinya, yang ingin ditampilkan adalah semakin bermerk tampilan seseorang, semakin tinggi level kesejahteraannya. Pendeknya, tambah gaya, tambah mudah menarik perhatian dan penghargaan dari orang lain. Astaghfirullah…

Tentang diriku sendiri, bukan sekali ini caraku berdandan dikritik orang lain. Saudara dekat, teman dekat, nenek, sampai rekan kerja yang semuanya wanita punya pikiran begini. Aku sebaiknya mengganti busana dan cara berjilbabku, agar terlihat pas dengan profesiku saat ini. Penampilanku saat ini dinilai culun, kurang merepresentasikan seseorang yang titik-titik di bidangnya, tidak mencerminkan uang di kantong, dsbnya, yang tak perlu diceritakan lebih lanjut.

Btw, aku punya interpretasi macam-macam lho, mengenai masukan mereka tadi. Pertama, aku pikir mereka ingin diriku terlihat lebih cantik dan tidak itu-itu saja~ supaya penampilanku lebih kinclong.
Kedua, sepertinya mereka tidak menerimaku apa adanya~ mereka menilaiku dari apa yang kupakai ketimbang apa yang telah kuhasilkan di tempat kerja.
Ketiga, mereka mungkin tidak tahu, bahwa kenyamanan dalam bekerja itu lebih penting~ ketimbang aneka polesan di bagian luar yang tidak nyaman untuk bekerja.
Keempat, aku yakin mereka tidak mengetahui atau mempersoalkan bahaya ‘tabarruj’, yaitu berhias berlebihan yang dapat menggoda lawan jenis di tempat kerja~ ini termasuk hal yang sangat dibenci Allah.
Kelima, orang banyak lupa bahwa ‘kecantikan hati’ lebih penting daripada ‘kecantikan fisik’~ wanita santun lebih dicintai Allah daripada wanita pesolek.
Wallahu’alam…

Sebenarnya aku tak peduli-peduli amat dengan penampilanku, asal kombinasi warna baju dan jilbabnya sesuai, model dan bahannya enak dipakai tanpa kepanasan. Aku tak pernah suka hal yang sama dengan orang lain, apalagi kalau hal itu sedang digandrungi peminat mode. Aku suka prinsip teman-teman kerjaku di lib, yang tidak menonjolkan penampilan untuk mendapatkan perhatian. Lagipula, dalam bekerja kita harus mengutamakan kenyamanan, supaya kinerja tidak terganggu. Masalah orang melihat kita sebelah mata atau apalah dengan dandanan kita, tidak perlu ditanggapi berlebihan. Hanya orang-orang berilmu dan menghargai orang bukan dari tampilan fisik saja yang  dapat memahami hal-hal seperti ini.

Jika besok masih saja ada orang yang mengkritik caraku menggunakan jilbab dan pakaian-pakaianku, maka aku akan tertawa keras-keras seperti ini… ‘hahaha…’ tanpa menjelaskan apapun.

Kuharap mereka memahaminya, (baca: I don’t care whatsoever, madam…).

Pekanbaru

No comments: