Sunday, July 26, 2009

Saudariku dari Abu Dhabi


”Assalamualaykum,” sapaku pada muslimah manis yang duduk menghadap makanan dan teh manis di meja food court, Changi airport.

Ia mengangguk membalas sapaanku sambil tersenyum kecil.

Aku meneruskan langkahku menuju sandwich corner untuk membeli makanan. Setelah kuamati tidak ada stiker halal dari MUI Singapore, aku hanya mengambil sebotol kecil air mineral dengan label sangat terkenal dari negaraku. Setelah itu aku berkeliling melihat isi food court yang baru buka pagi itu. Makanan Cina ada, tapi kok ga halal. Makanan India ada, tapi vegetarian. Not Indian spices pagi-pagi, tegasku. Ada nasi padang, tapi belum buka. Aku duduk di meja food court dekat counter nasi padang. Siapa tau, beberapa saat lagi buka.

”Mau ke mana, mbak?”, ternyata saudari muslimah tadi menghampiriku, lalu duduk di kursi depan.

”Ke Pekanbaru, mbaknya mau ke mana?” balasku ramah.

Ternyata mbak H (aku lupa juga nama lengkapnya) akan berangkat ke Abu Dhabi. Tapi ia ketinggalan pesawat kemaren siang. Jadi tadi malam ia menginap di ruang tunggu Changi airport dan sedang menunggu saat keberangkatannya nanti siang. Beliau terlambat karena pengaturan keberangkatan yang tidak pas dari travel agent di Jakarta. Begitu sampai di Changi, ia sudah telat dan ga bisa boarding lagi. Jadilah ia menunggu seharian, walaupun barang-barangnya sudah sampai di Abu Dhabi.

”Sering begitu, mbak.” kata mbak H. Travel agent kadang suka tidak memperkirakan soal jadwal keberangkatan pesawat, dan membiarkan mereka, teman-teman TKI terlantar di berbagai bandara. Kadang dari pihak agent penyalur TKI mereka tidak dibekali uang saku. Jadilah mereka mengharapkan belas kasihan teman sesama TKI atau orang lain untuk membeli sekedar roti atau teh manis. Menurut mbak H, ia sempat bertemu 12 orang teman TKI baru yang akan menuju Saudi, terlantar di bandara, tanpa uang sepeserpun. Aku ternganga ngeri, sambil berucap Astaghfirullah, tiada henti... sungguh mengerikan... bagaimana kalau tidak sampai di negara tujuan, ya? Aku merasa sangat prihatin dalam hati.

Obrolan kami lalu berlanjut ke soal pekerjaannya di Abu Dhabi. Mbak H menceritakan berbagai pengalaman menarik saat ia deal dengan majikannya. Aku segera tanggap, kalau mbak H orangnya cerdas. Beliau suka bekerja keras, tapi tidak mau dikerjai oleh majikan. Jika suatu pekerjaan dinilai akan menghabiskan energi beliau, maka ia pakai strategi ga bisa atau berlagak bodoh mengerjakannya. ”Habis, saya ga bisa stop dari pagi sampe tengah malam, memangnya ga cape,” kata mbak H.

Aku terpana mendengar cerita-cerita mbak H tentang kesehariannya yang super sibuk, tentang budaya masyarakat di Abu Dhabi, keluhannya tentang majikan, kesibukannya mengurus anak-anak majikan, dan berbagai keberuntungannya dalam mendapatkan pekerjaan yang baik. Aku berkesimpulan, bahwa mbak H yang kutemui ini, pintar, mandiri, tidak takut gagal dan berkemauan keras. Ia tidak mau bekerja di toserba dengan gaji kecil, tapi ia mau kerja di rumah dengan keadaan memadai dan manusiawi. Jika dirasakannya tidak manusiawi, maka ia menolak pekerjaan itu.

Mbak H juga bercerita tentang keberhasilannya membiayai adik beliau sekolah dan memberikan biaya pengobatan pada orang tuanya di kampung. Aku terpesona, dengan kegigihan mbak H. Mungkin ini cerita yang sering kita dengar, tapi, Subhanallah, mbak H... ikhlas demi keluarga dan adik-adik. ”Biarlah mereka yang sekolah, saya sih, nanti saja kalau ada uang, barangkali,” lanjut mbak H sambil termenung. Mbak H ternyata pernah nyaris kuliah, tapi terpaksa dibatalkan karena uangnya tidak ada. Aku jadi teringat diriku yang bersusah payah mendapatkan beasiswa, tapi kok malah males-malesan dan banyak cing cong di awal masa kuliah. Hmmh, mbak H, kudoakan kamu sekolah juga setelah selesai bekerja nanti ya.

Aduhai, mbak H... walau aku tidak meminta alamatmu, tetapi aku gembira bertemu denganmu, saudariku... Kamu jadi mengingatkanku bahwa keadaanku sekarang seharusnya tidak disia-siakan dengan lemah semangat dan bersikap pesimis.

”Mudah-mudahan kita bertemu lagi, ya, mbak H. Insha Allah. Di Changi, pun tidak masalah, asal jangan saat kamu ketinggalan pesawat lagi...” kataku haru saat kami berpelukan.

Selamat berkiprah, mbak H...

Perth, July 2009
Mbak H dari Madura, benar kata bijak ini, ”setiap orang yang kita temui, ternyata seringkali mengajarkan kita sesuatu yang luar biasa,”.


dipublish di Eramuslim,
link: http://www.eramuslim.com/oase-iman/saudariku-dari-abu-dhabi.htm