Tuesday, January 22, 2013

Kualitas

Satu hal yang tak kusukai adalah minimnya perencanaan, antisipasi masalah urgent yang rutin, dan tenggat waktu untuk melakukannya di tempat kerja. Kalau model begini, mana ada waktu untuk menghasilkan pekerjaan berkualitas.

Buruknya perencanaan dapat mengganggu kinerja karyawan. Semua orang akan terseret pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya ‘dadakan’, hanya untuk memenuhi prasyarat penyerapan anggaran. Tidak ada pertimbangan soal kualitas kerja, karena kuantitas adalah segalanya. Aku tidak suka konsep ini.

Beberapa bulan satu kantor dengan seorang teman asing saat PhD di Perth, aku bisa melihat cara kerjanya yang sangat terorganisasi. Ia membuat jadwal harian, menyiapkan folder-folder sesuai kebutuhan, misalnya standard, data, keuangan, etc, dan rutin melakukan refleksi serta pelaporan. Ia melakukan segala-sesuatu seperti mengikuti suatu bagan alir tak nyata, semuanya sungguh rapi dan tertata. Meski kemudian sangat sibuk dengan segala permintaan pembimbing, ia tetap dapat menjaga housekeeping tadi.

Aku sungguh iri. Seolah ia telah terbiasa bertahun-tahun melaksanakan hal itu. Berdasarkan ceritanya, ia mengaku bukan orang yang rapi. Tetapi rutinitas seperti itu pastilah berkat latihan disiplin di tempat kerja asalnya. Tidak heran mereka berjaya karena mutu pekerjaan saja sudah beda levelnya.

Sedang diriku? Well, yeah…

Aku akui kalau saat ini sangat bingung dengan tumpukan tanggung jawab dan aneka kompetisi yang harus dikejar. Seolah-olah tak cukup dengan pekerjaan yang sudah ada, masih juga disemangati untuk mengerjakan hal-hal tak relevan lainnya. Kadang-kadang harus mengambil alih beberapa hal remeh-temeh yang seharusnya bisa dikerjakan pihak lain, tetapi karena kata sakti ‘due date/deadline’, maka mau tak mau harus terlibat. Inilah yang menyakitkan, karena jadwal tertata rapi tadi harus mundur teratur oleh prioritas dadakan lagi.

Di situlah aku menyesali bahwa tidak akan pernah ada cukup waktu kalau ingin mengerjakan sesuatu yang bermutu. Kuantitas mengalahkan kualitas. Kualitas menjadi korban pekerjaan dadakan.

Teknik antisipasinya? Tahun ini aku harus tegas mengikuti target dan jadwal pribadi. Target dan jadwal tersebut akan dapat memberi arahan untuk mencapai hal-hal yang diinginkan tanpa terdeviasi pada isu-isu dadakan di tempat kerja. Kemudian, harus belajar berani mengatakan 'tidak' nicely. Tidak untuk pekerjaan dadakan yang mengorbankan mutu.

Pekanbaru,

No comments: