Thursday, July 21, 2011

Renungan untuk para aktivis Buku Wajah


Buku Wajah, menjadi andalan untuk bertemu muka di dunia maya

Mencoba menyambungkan jalinan persahabatan yang mulai pudar maupun yang baru bersinar

Foto terbaik dipasang, status harian dikabarkan, mencoba berbagi apa-apa yang terjadi pada diri

Semua orang tidak mau terlihat susah dan tidak bahagia
Semua orang mencoba terlihat mempesona dan sukses setelah bertahun-tahun tidak berjumpa teman lama

Harus terlihat mempesona dan sukses juga oleh teman-teman baru

Tiap kabar teman-teman di sekitar dilahap dengan seksama

Foto-foto dianalisis, diberi komentar, di acungi jempol dan dilekatkan pada orang-orang

Mencoba mendapatkan potongan-potongan penyemangat, pujian, tanggapan serta rasa bangga bahwa kita masih diperhatikan dan dipuja

Siapa yang dahulunya memang ternama, akan mencoba menyamai kejayaannya di jaman dahulu kala dengan berbagai cara

Mengirim berbagai status, kabar dan komentar tak putus-putus untuk memperlihatkan tiap detik perubahan isi hati dan kepalanya

Teman-teman yang pernah dekat berusaha menanggapi tiap kabar
Mencoba mengembalikan kenangan lama, masa-masa senda-gurau, tutur sapa terasa bermakna

Tapi tiap orang mengalami perubahan dalam perjalanan hidupnya
Punya nilai, harga dan pandangan yang jauh telah berbeda dengan teman-teman lama
Kabar tak putus-putus dalam hitungan jam menjadikan semuanya tak bermakna
Siapapun di sekitarnya lama-lama akan kecewa
Si lelaki atau wanita yang ingin populer masih berharap tetap tenar...
datang menjenguk laman para pengagum tanpa tulus dengan harapan masih ada perhatian dan pujian

Bak artis lama, selalu mencoba memikat kembali para penggemar dengan tarian atau nyanyian andalannya

Innalillahi, mengapa orang jadi takut tidak populer, walaupun hanya di situs maya?

Tidak ada yang baru, so para pemberi perhatian lama-lama berjalan mundur, pelan-pelan menjauh


Laman yang dahulunya penuh kunjungan berangsur kini mulai sepi perhatian

Akhirnya teman mulai kecewa pada Buku Wajah, bukan pada caranya sendiri menyikapi keberadaan Buku Wajah

Tinggallah daku berpikir keras “mengapa teman, kamu ingin sekali agar tetap eksis seperti dulu?”

Biarkan orang punya dunia baru mereka sendiri dan hentikan sikap mencari perhatian dengan kabar-kabarmu

Apakah kamu merasa kurang nyaman dengan dirimu sehingga perlu selalu terus diperhatikan, dikomentari dan dipuja lewat Buku Wajah?

Bukannya sudah jelas jika orang lain juga ingin populer seperti dirimu

Jadi biarkan sesekali mereka yang populer sekarang dan kamu yang menggemari mereka

Lihat profil mereka, amati foto mereka, balas email mereka dan berikan juga komentar pada tiap status mereka

Barulah kamu mengerti, bahwa di Buku Wajah, siapa yang minta perhatian harus siap juga memberi perhatian ke orang lain!

Hiks!


Perth,

tak bosan-bosannya mengamati polah di Facebook:)