Sunday, October 23, 2011

Ke New Zealand kami bertualang (bagian 7: Dunedin-Twizel)

-->
13 November 2010
Whuaa, pagi yang indah di Dunedin. Tapi tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Kami membereskan tumpukan barang-barang di kamar dan memasukkannya ke dalam mobil. Hari ini kami bertekad sampai lebih awal di Twizel, Mackenzie District.

Tur pendek di pusat kota
Sebelum meninggalkan Dunedin, kami melakukan tur singkat keliling kota klasik ini. Chinese Garden menjadi tempat pertama kunjungan kami. Sayangnya kali ini aku tidak dapat bercerita mengenai isinya, karena kebun masih ditutup. Gerbang megah di depan kebun lantas jadi penanda bahwa aku pernah berkunjung ke sana. Serasa di Cina saja ya. Selanjutnya kami berputar-putar di tengah kota melihat museum Dunedin, pabrik coklat Cadbury dan bangunan-bangunan klasik di seputar kota dingin tersebut.


Pesisir Timur
Twizel, kota di Mackenzie District menjadi tempat persinggahan terakhir acara keliling pulau Selatan. Untuk mencapai tempat itu kami menyusuri jalan lintas pesisir Timur . Dari Dunedin, perjalanan dilanjutkan ke Waikouaiti dan Palmerston. Di Palmerston aku berbelanja buah-buahan dan sayuran segar untuk menambah perbekalan kami. Kebetulan kami sedang ngidam keripik kentang dan apel merah yang crunchy. Toko-toko di Palmerston umumnya bergaya vintage. Seperti kota-kota lama di South Island ini, kita bisa temukan berbagai peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan emas awal abad 20 di pusat-pusat kota.

Salah satu tempat yang tak sengaja kami temukan di Oamaru bernama Victorian Precinct. Kompleks bangunan lama tersebut terdiri dari restoran, museum, toko wol (woolstore), galeri dan pertokoan bergaya Victorian. Di depan kompleks itu terdapat sejenis English cottage garden yagn lebih menarik hatiku. Sayangnya aku cuma punya waktu sebentar saja untuk menghirup nafas dalam-dalam, duduk di bench meresapi suasana dan memotret bunga-bunga yang tak pernah kulihat dalam hidupku. Hubby lebih menyukai public art di antara gedung-gedung besar tadi. Karya logamnya sungguh kuno, kurang menarik hatiku. Tempat ini sangat ramai dikunjungi oleh turis-turis asing. Sekejap saja mereka bergerak memenuhi kompleks bangunan maupun kebun yang tengah ku eksplorasi.



Perjalanan kami di provinsi Otago melewati kota-kota kecil seperti Kurow dan Otematata dan beberapa danau besar seperti Lake Waitaki, Aviewmore dan Benmore. Lake Benmore merupakan tempat yang paling padat dengan pengunjung. Di tepi  danau tersebut, beraneka bentuk karavan, tenda dan motor home terparkir rapi di sana. Danau itu terkenal dengan aktivitas memancing, mendayung, naik boat ataupun sekedar rileks menikmati pemandangan gunung di sekitarnya.Melihat keadaan di tepi Lake Benmore, aku teringat pengalaman anak-anak di Eropa dan Amerika yang selalu menikmati sekali kegiatan musim panas di tepi danau.

Omarama, dalam bahasa Maori berarti ‘place of light’. Tempat ini terkenal dengan langitnya yang cerah dan terang untuk mengamati bintang-bintang. Lokasinya berada di persimpangan Omarama-Twizel Rd, Omarama-Linds Pass Rd, dan Omarama-Otemata Rd. Kota ini penghasil susu, wol dan pertanian dan beberapa tahun belakangan populer sebagai tempat peristirahatan, olahraga salju, terbang layang maupun tramping (trekking dan camping, OZ bilang: bushwalking).


Padang lupin di Ahuriri river, Twizel-Omarama Rd
Berangkat dari Omarama, kami menyusuri jalan Twizel-Omarama Rd menuju Twizel. Tempat ini memiliki padang-padang rumput luas dengan latar belakang pegunungan Selatan. Saat menyeberangi jembatan di atas Ahuriri river, aku terbelalak. Ribuan bunga berwarna pink hingga ungu memenuhi sisi tepi sungai penuh kerikil tersebut. Sepertinya padang lupin yang kucari-cari! Hanya ada di musim semi! Hubbypun membelokkan mobil dan turun dari tepi jalan untuk mendekati sungai yang nyaris penuh bunga tersebut. Beberapa kendaraan di belakang kami juga berbelok mendadak. Tampaknya, orang-orang tidak ingin melewatkan padang bunga indah itu!



Di sinilah keceriaan sebenarnya dimulai. Alas kaki harus dilepas agar tidak basah. Kaki-kaki seolah menjerit bersentuhan dengan air sungai Ahuriri yang dingin. Ternyata berjalan di sungai dangkal dengan arus tidak terlalu kuatpun cukup sulit karena kerikil-kerikil di dasar sungai tidak mudah untuk diinjak. Aku harus berjalan cepat dan berpegangan pada hubby. Di depan, hamparan ribuan bunga lupin tegak berdiri menyambut kami. Bunga lupin memiliki 280 spesies dengan aneka ukuran, warna dan tingkatan racunnya. Bunga ini berasal dari Amerika Utara, tetapi banyak juga ditemukan di daerah Mediterania, Afrika, Canada dan New Zealand. Di Texas, US, bunga ini dikenal sebagai blue bonnet. Kuntum berbentuk bunga kacang-kacangan tersusun rapi dalam sebuah tangkai besar dan berat. Lupin yang dapat dimakan tergolong kacang-kacangan sehingga dapat diolah menjadi makanan ringan, vegetarian sosis, tahu dan tepung. Di tengah padang bunga itu, aku lebih mirip seekor kupu-kupu yang sibuk hinggap di sana-sini mengamati, meraba dan mencium bau harum lupin di udara. Betapa indahnya tempat ini, Subhanallah… Padahal menurut sebuah laporan soal lingkungan, penyebaran lupin yang sangat cepat di Ahuriri river telah merusak ekosistem dan habitat burung-burung air di sana.

Aoraki/Mount Cook, puncak tertinggi di South Island (3754m)
Sudah menjelang ashar, tetapi hubby bersikeras ingin mendatangi Mount Cook, di Mt Cook National Park. Puncak gunung bersalju ini selalu populer untuk kemping. Dalam perjalanan menuju Aoraki, kita ditemani oleh Lake Pukaki yang misterius. Aku menyebutnya begitu, karena air danau berwarna toska berkat bebatuan di dasarnya yang berwarna putih. Danau berwarna toska itu jika digabung dengan pegunungan dengan puncak-puncak bersalju, maka pemandangan Lake Pukaki di kaki Mt Cook persis seperti pemandangan dalam iklan produk makanan atau minuman segar di media massa. 

 
Di sebuah lapangan luas di kaki gunung itu, puluhan kendaraan dan tenda berjejer rapi menyambut malam. Tidak perlu khawatir dengan fasilitas kemping, toilet yang bersih, dapur dan fasilitas umum tersedia semuanya. Aku dan hubby hanya melirik sebentar ke ‘perkampungan dadakan’ itu, lalu berjalan ke kaki Mt Cook. Oh, lucunya, sebentar-sebentar kami melihat kelinci berwarna abu-abu cukup besar berlari di depan dan menyelinap ke dalam semak-semak. Karena terlalu  lelah dengan perjalanan padat hari itu, aku dan hubby tidak pergi terlalu jauh. Akupun merasa cemas karena sudah hampir pukul 8 malam. Tidak ingin kan, keesokan harinya kalian membaca headline news semacam~ ‘Dua postgrad Curtin tersesat di Mt Cook’.


Farm house di Twizel
Keindahan Mt Cook tidak hanya bisa dinikmati di kaki gunung saja. Saat memasuki rumah pertanian yang kami sewa, pemandangan gunung bersalju itu hadir di jendela besar dapur. Menarik sekali kalau bisa setiap hari memasak atau mencuci piring dengan pemandangan spektakular seperti itu. Apa ada pengaruhnya untuk rasa masakan?

Ssst, sebentar, rumah pertanian? Iya, kami sendiri kaget karena ternyata rumah pertanian itu meskipun terlihat kecil, ternyata terlalu besar untuk dua orang.

Tempat itu sendiri terlalu mewah sebenarnya untuk kami. Farm itu terdiri dari beberapa rumah beraneka tipe. Tipe yang paling besar dan mewah disewa oleh pasangan berkendaraan Mercy. Rumah besar di samping tempat kami dihuni oleh dua pasangan orang tua-tua yang berwajah ramah. Rumah ketiga di ujung jalan sepertinya tidak disewakan.


Tinggal di farm yang sepi seperti ini adalah bagian paling menyenangkan dari perjalanan kami. Meskipun otak terasa segar melihat yang indah-indah dalam liburan, aku dan hubby secara fisik sudah super kelelahan. Jadi, bisa tidur sangat nyenyak ditemani bunyi desir angin di antara pepohonan dan suara binatang-binatang di pertanian, rasanya luar biasa. Hmmh, pokoknya tempat ini memang sangat pas untuk stay out of the crowd...for a deliberately honeymoon couple...



Well, sleep tight…

Perth,

No comments: