Friday, July 3, 2009

Frenemy


Setelah frenvy, now, aku ketemu dengan frenemy. So, siapa itu frenemy?

A frenemy, is a pretend friend who secretly hate you and delight in making you feel bad.

Sounds familiar?

Kita wanita, dalam berteman ternyata benar-benar soft ya. Soalnya jika kita bersahabat dengan sesama wanita, kita cenderung punya emotional connections. Kita merasa empati/simpati, berbagi rahasia dan membuka hati kita. Itulah sebabnya kita sulit melangkah lebih jauh kalau sudah terikat dalam sebuah persahabatan.

Tetapi, ada beberapa sahabat yang diam-diam atau secara terbuka bergembira kalau kita ternyata mengalami masalah atau dipermalukan orang lain. Kitapun tak luput dari sikap tersebut kalau frenemy kita menghadapi masalah yang sama. Bukan hanya dia, tapi kita juga pasti memiliki frenemy, setidaknya satu atau dua orang.

Tanda-tanda dia adalah frenemy,
a) Kita sering merasa serba salah kalau beraktifitas bareng dengan dia. Kita suka kuatir kalo dia memberikan comment yang bikin depresi setelah bertemu dengannya.
b) Dia terlihat simpati pada kesusahan kita, tapi sebelum dia memberikan advice, kita bisa lihat di wajahnya ada just a flash of glee... tersenyum simpul sedikit atau senang sekilas. Sometimes dia malah ga simpati, tapi menertawakan kemalangan kita atau membuat kita malu saat kita ditimpa kesulitan.
c) Dia bersikap manis dan sayang di depan kita, tapi saat di belakang kita, ia bersikap lain. Tidak jarang ia mensabotase keberhasilan kita tanpa kita sadari.
d) Diam-diam dia selalu berkompetisi dengan kita dalam hal apapun.

Aku ketemu lagi dengan sahabat lama di FB, tapi ternyata mereka tetap orang yang sama walau kita mungkin hampir dua puluh tahun tidak bertemu. Mereka tetap orang menyebalkan dalam hidupku, yang diam-diam berkompetisi, comment ga enak seolah-olah mereka saja yang beruntung hidup di dunia ini dan sering berusaha membuatku discourage karena frenvy.

Jadi, bagaimana cara menghadapi frenemy ini?

Mungkin kita bisa bersikap seperti para pria dalam bersahabat. Berusaha saja tidak mengkaitkan segala sesuatu dengan emosi. Kalau diperlakukan buruk, ya mungkin dia lagi had a bad day... atau besoknya gitu lagi, ya cuek saja, ga usah dekat-dekat misalnya. Jika kita memang tidak gembira atau selalu kuatir dengan si frenemy, jauhi saja hubungan emosional. Kita masih tetap bersahabat, tetapi karena kita tau dia tidak bisa menjadi sahabat terbaik, so sekedarnya sajalah. Jangan sampai waktu dan energi kita habis karena mencoba menganalisis segala sesuatu jika kita sedang terlibat masalah dengannya.


Perth,
Frenemy bisa karena frenvy, ya?