Friday, January 7, 2011

Saat Kartini mulai mengakui kebesaran Allah


Cerita ini kupetik dari buku Kartini, Sebuah Biografi, karangan Ibu Siti Soemandari Soeroto, yang masih kubaca.

Pada bagian ‘Akhirnya mengetahui kekayaan rohaniah ibunya’, diungkapkan bahwa ibunda kandung Kartini, ibu Ngasirah, seringkali memberikan wejangan kebatinan sejak mereka sudah akil baliq. Awalnya Kartini dan para saudarinya tidak begitu memperhatikan wejangan ibundanya baik-baik karena hati mereka belum terbuka pada soal-soal agama. Saat itu Kartini dan para saudarinya lebih sibuk memikirkan tujuan hidup mereka dan berkutat penuh pada masalah perjuangan untuk mencapai tujuan tadi.

Tetapi perkenalan Kartini dan surat-menyuratnya dengan nyonya Nellie van Kol, seorang sosialis ahli kitab dari Belanda, malah membuka mata hatinya tentang kebesaran Allah. Barulah Kartini menyadari bahwa petuah-petuah dari nyonya van Kol mengingatkan dirinya kembali pada wejangan yang dari ibunda selama ini. Isi wejangan ibundanya yang telah mengendap dalam hati, secara perlahan merasuki kesadaran diri Kartini. Hal ini menyadarkan Kartini bahwa ibundanya memiliki kekayaan batin yang diibaratkannya, ‘sebagai mutiara segunung yang tak pernah dihiraukannya’.

Apakah kesadaran yang dimaksud Kartini itu?

Ternyata, setelah mengalami berbagai kegagalan dalam usaha perjuangan seperti tidak diizinkan melanjutkan pendidikan, Kartini seperti disadarkan oleh sesuatu.
‘Kita manusia tidak dapat bergantung selain kepada Allah SWT, hanya Allah-lah yang menentukan segala-galanya. Jika Allah tidak meridhai, maka usaha manusia tidak akan mencapai apa-apa’.

Tentang usaha keras yang dilakukan Kartini selama ini tetapi sepertinya kurang berhasil, akhirnya lambat-laun dapat diterimanya dengan baik. Kartini menyadari bahwa Allah telah memberikan tugas pada tiap manusia sesuai dengan kemampuannya. Walaupun manusia memiliki keinginan untuk melampaui beban dari tugas tersebut, semua tergantung dari Allah juga pada akhirnya. Kartinipun menyadari bahwa kemauan keras manusia jika tidak diizinkan Allah, maka tidak akan terlaksana. Untuk itu, lama kelamaan, Kartini yang tadinya sering berkata ‘aku mau!’, lalu belajar mengatakan, ‘Insya Allah’… ‘Jika diizinkan Allah’.

Bukankah selama ini kitapun pernah mengalami kesulitan dan kegagalan dalam usaha maupun perjuangan dalam mencapai cita-cita. Seringkali orang akan mendekat pada Allah pada saat-saat sulit seperti itu. Tetapi tidak jarang malah terpuruk dalam hal lain tanpa mereka sadari bahwa Allah sebenarnya yang memberikan karunia, bukan orang yang didewa-dewakan. Oleh karena itu, sungguh beruntung orang yang menemukan Allah kembali dan mengakui kebesaranNya dalam menempuh segala kepahitan dan kesenangan perjuangan hidup.

Perth,
Semoga perjuangan kita diridhaiNya dan menjadi amalan baik dalam hidup kita.