Tuesday, September 14, 2010

Makan karena emosi


Kadang-kadang saat sedih atau sedang berpikir keras aku membutuhkan ‘sesuatu’ untuk dikunyah. Mulutku mengunyah makanan itu, tapi aku tidak menikmatinya. Setelah makan, bukannya kenyang, aku malah merasa bersalah. Aku tidak begitu lapar, perutku tidak minta makan, tapi pikiranku bilang kalau makan sesuatu: I might feel better... apakah aku sedang jadi emotional eater?

Orang-orang yang mengaku makan karena emosi, biasanya memiliki masalah berat badan, depresi, bosan, kesepian atau tidak mampu menghadapi persoalan di tempat kerja. Jika timbangan masih dalam batas normal, tentu tidak mengapa. Tetapi jika timbangan naik beruntun, keluhan demi keluhan keluar seperti sering pusing, tidak enak badan, perut mendadak kembung, maka kita harus mulai berhati-hati. Alangkah baiknya jika kita bisa mendeteksi apakah kita makan sesuatu karena emosi saja atau memang betul-betul lapar.

Ciri-ciri lapar karena emosi vs lapar biasa adalah sebagai berikut.

a) Lapar karena emosi datangnya selalu tiba-tiba sedangkan lapar biasa datangnya secara bertahap.

b) Kita yang makan karena emosi cenderung memilih makanan tertentu, seperti makanan manis, asin, berlemak atau paling sering: mie instant. Sedangkan kalau mengalami lapar biasa kita tidak akan terlalu memilih-milih makanan tertentu, yang penting bisa kenyang.

c) Lapar secara emosi membuat kita merasa bersalah setelah menyantap makanan, sedangkan lapar biasa tidak menyebabkan perasaan bersalah.

d) Saat lapar secara emosi, kita cenderung makan tanpa berpikir, mulut kita mengunyah, tapi kita tidak merasa kenikmatan makanan. Sedangkan pada lapar biasa, kita menyadari apa yang kita makan dan kita memang menikmati rasa atau aromanya.

e) Kadang lapar secara emosi membuat kita tidak berhenti makan saat sudah kekenyangan, berbeda dengan lapar biasa yang tidak ingin menambah apapun karena sudah kenyang.

Berdasarkan ciri-ciri di atas, maka seseorang yang makan karena emosi sebenarnya bertujuan ingin membuat perasaannya lebih nyaman dengan memasukkan sesuatu ke dalam mulut. Mereka mungkin orang-orang yang tidak bahagia, terlalu memikirkan orang lain selain dari dirinya sendiri, dan berpikir bahwa dengan makan, maka masalah mereka dapat diselesaikan. Makan menjadi sumber kekuatan di saat mereka tengah merasa tidak enak hati.

Untuk menghindari jadi emotional eater, maka kita perlu mencoba langkah-langkah seperti ini.

a) Jika ingin sekali makan sesuatu makanan tertentu, tunggu sekitar 20 menit. Saat menunggu, coba lakukan pekerjaan lain, misalnya menelpon, mengetik, melihat pemandangan atau berjalan kaki. Jika setelah beberapa saat kita tidak merasa lapar atau kepingin makanan itu lagi, berarti kita tadi mengalami lapar secara emosi.

b) Coba ingat-ingat, masalah apa yang selalu membuat kita ingin makan makanan yang membuat kita nyaman. Misalnya jika aku harus bertemu seseorang yang tidak kusukai, maka untuk menghilangkan rasa panik atau grogi, aku sering jajan di kantin untuk membeli sepotong ayam goreng atau seporsi kentang goreng. Padahal aku tidak perlu jajan sebenarnya, cuman untuk menghilangkan rasa panik tadi, aku pikir seporsi wedges bisa membantuku.

c) Coba miliki jadwal makan yang rutin (pagi pukul 6, siang pukul 12, malam pukul 6), masak makanan kesukaan kita, bawa cemilan sehat seperti sereal atau buah, serta makan tepat waktu.

Perth,
Source: Body & Soul STM, March 2009
Stop craving peanut slabs!