Tuesday, January 31, 2012

Menghadapi si negative thinker


Gambar didownload dari mstrust.org.uk
“Saya sungguh tidak berbakat dalam bahasa Inggris, bagaimana mau sekolah ke luar negeri” kata seorang teman pada suatu siang. Ia mengatakan kalau ia bisa kembali ke bangku SD untuk belajar bahasa Inggris, maka ia ingin sekali melakukannya. Ia terdengar seperti kehilangan sebuah harapan besar.

Tiba-tiba seorang teman lain mendatangi grup dadakan kami, saat si teman tadi masih meneruskan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya saat menggunakan bahasa Inggris.

Beberapa orang masih mendengarkan dengan sepenuh hati, hingga teman yang baru datang berkata, “Yah, susah itu kalau udah tidak berbakat. Maunya hal-hal seperti ini dipelajari sejak kecil. Lagipula kalau tidak ada keperluan sekolah di luar negeri, pastilah tidak bisa, walaupun sudah ikut segala macam kursus,”

Mendengar hal itu, sebenarnya aku super gemes padanya. Bukannya berusaha memberi dukungan pada teman, ia malah memperburuk kemungkinan yang ada. Tanpa mempedulikan kata-kata negatif si teman, aku langsung menghibur temanku yang tidak bisa bahasa Inggris tadi.

“Tidak apa, pak. Selama masih ada kemauan, Insya Allah ada jalan. Bapak ga perlu kembali ke SMA untuk belajar bahasa Inggris.”

Mereka semua memandangku seolah tidak percaya. Masa sih, ada caranya?

“Iya,” lanjutku buru-buru sebelum keduluan sama si teman negatif. “Bapak dan Ibu terjun aja langsung memakai bahasa Inggris tanpa harus pusing dengan segala tenses dan segudang aturan yang memusingkan”.

Aku terus berkata tanpa mempedulikan sanggahan teman negatif yang berusaha memberikan pandangan. Aku tidak boleh kalah cepat, pikirku.

“Sekarang, tujuan bapak-ibu untuk belajar bahasa Inggris kan hanya untuk masuk sekolah. Perlunya IELTS atau TOEFL saja kan?” pancingku.

Mereka mengangguk.

“Maka, fokuslah pada usaha-usaha untuk menaikkan nilai IELTS, jangan pikirkan hal-hal lain seperti harus banyak vocab dulu, bisa speaking dengan lancar atau lancar dulu menulis essaynya,” kataku panjang lebar.

Si teman negatif terbahak setelah menghembuskan asap rokoknya ke arah  kami. Ia tidak percaya soal itu. “Kalau prioritasnya masih belum sekolah, biasanya ga bakalan naik nilai TOEFLnya”, sanggahnya.

Waduh, tidak sopan amat sih? Gerutuku dalam hati. Tapi aku tidak peduli dengan reaksinya. Teman-temanku ini butuh semangat dan trick, jadi aku harus berbagi informasi kepada mereka, apapun yang terjadi, pikirku.

“Bapak-ibu hanya perlu untuk menaikkan nilai IELTS, jadi fokus saja sama soal IELTS. Jangan belajar semuanya, cuma hal-hal yang perlu dilakukan untuk menaikkan skor IELTS saja,”

Teman-teman terlihat ragu. Hm, pastilah mereka tidak tahu komponen IELTS itu apa saja.

“Itu saja tidak tahu, gimana bisa lulus ya” si teman sok negatif menertawakan teman-teman lain.

“IELTS itu ada Listening, Reading, Speaking dan Writing”. Teman-temanku mengangguk-angguk.

“Reading is okay, cuma perlu trik untuk cara membaca dan menjawab. Kalau Listening, perlu latihan agar mudah menangkap kata-katanya. Sedangkan Speaking, perlu berlatih setiap hari, minimal 30 menit dengan sparring partner. Soal writing, perlu sedikit strategi, tapi ada cara yang paling mudah”, kataku sedikit penuh misteri.

Teman-teman semakin tertarik mendengar kata-kataku.

“Untuk writing, guru saya di IALF Jakarta mengatakan, gunakan saja trick fast track. Maksudnya, kita pelajari dulu tipe-tipe essay yang biasa keluar di ujian IELTS Academic. Lalu, tiap essay dibedah. Perhatikan pola-pola penulisan dan alur argumennya. Kemudian, latih ingatan kita dalam menggunakan kalimat-kalimat yang sesuai dengan tipe essay.”

Aku harus berhenti sejenak agar teman-temanku dapat mencerna semua kata-kataku.

“Tidak usah rumit-rumit, gunakan contoh satu essay terbaik untuk panduan, lalu gunakan saja caranya”, sekilas aku teringat kata temanku si jenius Iwan Hwan mengenai tekniknya dalam mempelajari cara menulis essay untuk IELTS. Persis dengan teknik dari guruku di IALF.

Aku semakin menikmati suasana itu. Tanpa kami sadari, si negative thinker sudah meninggalkan grup diskusi. Teman-temanku lalu riuh bertanya soal-soal yang berhubungan dengan IELTS tadi.


==============================================================

Itulah yang terjadi siang itu.

Pikiranku tertuju pada si teman yang dari dulu masih saja tidak berubah kelakuannya. Hobinya memandang sesuatu secara terbalik dari orang lain cukup mengganggu. Padahal kualitas seseorang terlihat dari ucapan-ucapannya pada orang lain. Suka mengecilkan harapan orang, menertawakan usaha orang, menganggap semuanya sulit untuk orang, sampai mengatakan bahwa orang lain tidak akan sukses, sudah pasti keluar dari mulut seorang negative thinker sejati.

Apa alasannya untuk berbuat seperti itu, akupun tidak mengerti. Yang kutahu, orang-orang seperti mereka sebenarnya memiliki kepicikan hati, sulit melihat orang lain senang dan senang melihat orang dalam kesulitan. Mereka membungkus diri dengan label ‘kami cuma berusaha rasional’.

Actually, mereka terperangkap dalam jiwa tak berdaya karena tidak bisa melakukan hal yang sama. Daripada semakin menderita melihat orang lain lebih maju dari dirinya, ia lalu berusaha menyetop keinginan orang lain dengan ucapan-ucapan negatifnya.

Aku sendiri sebenarnya sangat bahagia bisa mengalahkan omongan dan aura negatif yang disebarkan oleh temanku tadi. Rasanya sudah lama sekali aku ingin super pandai bersilat lidah agar dapat melawan omongannya.  Tapi sebenarnya, teknik melawan secara tidak langsung dengan tetap tenang membangun semangat kawan-kawan tak kusangka lebih ampuh ketimbang melawannya sendiri secara langsung.

Buktinya ia ngacir tanpa permisi.

Hopefully.

Pekanbaru.






No comments: