Monday, January 23, 2012

Bahagia saat bekerja



Pernah tidak dilayani oleh seseorang yang tidak ramah dan enggan membantu pelanggan dengan baik? Atau pernahkan iseng-iseng melihat rekan lain mengeluh soal gaji, fasilitas pekerjaan atau beban kerja yang dirasa tidak adil? Kita dapat melihat bahwa mereka ‘tidak bahagia’ dalam pekerjaannya.

Satu hal yang kupelajari saat studi terdahulu adalah melakukan sesuatu yang kita sukai. Misalnya kita suka mengajar, maka jadilah dosen. Kalau kita suka menata, jangan jadi dosen, tapi jadilah desainer interior. Alasan kuatnya, kalau kita melakukan sesuatu yang tidak disukai, maka kecil kemungkinan untuk mengerjakannya dengan baik.

Tetapi, nasihat di atas sepertinya sulit untuk di Indonesia saat ini. Di tengah persaingan ketat dengan jutaan orang untuk mendapatkan pekerjaan ideal, memiliki sebuah pekerjaan saja sudah patut disyukuri. Kadang-kadang perusahaan/instansi/institusi tidak dapat menyediakan tempat kerja ideal, pelatihan atau bonus menarik. Oleh karena itu, apa yang harus dilakukan agar tetap ‘bahagia dalam bekerja’?

Konsep ‘bahagia’ dalam dunia kerja berbanding lurus dengan produktivitas. Jika seseorang merasa bahagia, maka ia mau bekerja guna menghasilkan pekerjaan dengan kuantitas dan kualitas terbaik.

Para pemimpin perusahaan besar di dunia (CEO) menyadari hal ini, sehingga mereka memastikan bahwa karyawan yang bekerja untuk mereka perlu merasa bahagia dan puas dengan posisi mereka. Para CEO juga selalu memonitor dan memfasilitasi peningkatan kadar kebahagiaan karyawannya.

Pihak Google, misalnya, membuat ruang-ruang kerja dengan penataan yang rileks, menyediakan mesin pembuat minuman dan snack gratis, pojok olahraga mini seperti ring basket maupun treadmill. Semua ditujukan untuk menciptakan suasana kantor lebih yang menyenangkan dan memiliki kebersamaan tinggi. Pekerja juga terus diingatkan tentang ‘arti’ dan ‘nilai’ pekerjaan yang mereka lakukan, sehingga karyawan akan selalu berusaha meningkatkan produktivitas mereka tanpa merasa tertekan. Hal ini dibuktikan dengan kinerja Google sebagai ‘mesin pencari’ terbaik di dunia.

Rasa bahagia dalam bekerja harus menjadi bagian ‘sikap’ dalam bekerja dan bukan sebuah ‘hasil’ dalam bekerja.  Karena sudah masanya keadaan di tempat kerja tidak mempengaruhi perasaan hati dan menghilangkan produktivitas, maka ada beberapa cara agar seseorang dapat bekerja dengan bahagia di tempat kerja:

a)   Bersyukur karena masih memiliki pekerjaan dan tidak menganggur.
b)   Memahami kebahagiaan personal tidak ditentukan oleh atasan atau tempat bekerja.
c)   Mengetahui  arti dan nilai pekerjaan, termasuk dampaknya terhadap instansi/institusi.
d)   Mengurangi acara mengeluh berjamaah dan memiliki rencana pribadi dalam bekerja.
e)   Mencari hal-hal atau situasi yang membuat kita bahagia dalam bekerja, misalnya, pada saat diberi tanggung jawab baru, berhasil menyelesaikan target, menemukan cara paling efisien dalam mengerjakan sesuatu, atau menolong teman dalam pekerjaan mereka.
f)   Memiliki ‘working space’ atau ‘workstation’ yang nyaman. Biarpun kecil, tempat menulis atau bekerja haruslah membuat kita betah untuk bekerja di sana.
g)  Disadari atau tidak, sebenarnya ada beberapa pekerjaan cukup cocok dikerjakan sambil mendengarkan musik, seperti musik klasik atau easy listening.
h)  Memiliki hobi yang dapat mengkompensasi rasa tidak bahagia dalam bekerja, misalnya, olahraga, berkebun, menulis atau memotret. Rasa bahagia saat melakukan hobi, akan memicu tubuh untuk merilis hormon endorphin yang membuat orang merasa nyaman dan bahagia.
Semoga tips di atas bisa menciptakan rasa bahagia saat bekerja.

Pekanbaru,

2 comments:

Haddori Amma said...

Itu foto dimana mon? Kayak di DPR aja.

Monita Wibisono said...

waktu costing & monev dengan asesor di sebuah hotel di Jakarta, do. hihi,kayak kegiatan nego anggaran di DPR ya.