Wednesday, May 19, 2010

Dr Hatta

Betapa inginnya aku berubah seperti tokoh-tokoh besar bangsa kita, yang rendah hati, selalu bekerja keras penuh semangat demi bangsa, menjalankan perintah Allah dengan taat, ringan tangan, etc. Sejak aku menemukan buku-buku tua mengenai Indonesia di perpustakaan kampus, aku berlomba dengan waktu membaca buku-buku biografi para tokoh bangsa. Buku pertama yang kuselesaikan dengan penuh semangat, mengenai kisah Dr Mohammad Hatta, si proklamator kedua bangsa Indonesia.


Salah seorang idola yang menurutku sangat low profile, adalah Dr Mohammad Hatta. Setelah sekian lama mencari-cari panutan dalam bangsa kita, maka jatuhlah simpatiku pada bapak Hatta, seorang pemikir, idealis dan bapak kebanggaan bangsa kita. Beliau memang memenuhi kriteria seseorang yang menganut 'ilmu padi', yaitu 'semakin berisi semakin merunduk'. Beliau tidak perlu membanggakan betapa kayanya atuk beliau di Bukittinggi, betapa tingginya pendidikan beliau yang seorang doktor lulusan Belanda, atau bagaimana beliau menderita karena memperjuangkan kemerdekaan bangsa sejak dari Belanda, menetap di Jakarta hingga di pembuangan beliau di Digul dan Banda Neira. Apalagi saat negeri ini di bawah jajahan Jepang, maka kepemimpinan Indonesia diletakkan di pundak beliau. Dengan segala daya upaya beliau tekun membantu bangsa keluar dari penjajahan sampai beliau berkata, tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Hal paling mengharukan semua orang ternyata hingga akhir hayatnya, beliau tidak dapat membeli sepatu Bally yang sudah lama diidam-idamkan. Uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit selalu habis terpakai untuk keperluan sanak keluarga. Beliau juga kukuh memegang teguh rahasia Negara, sampai-sampai ketika terjadi sanering, beliau tidak memberitahukan bu Rahmi, istri beliau, karena kuatir tidak merasa adil pada rakyat. Di hari tuanya beliau pernah berpesan pada Meutia, putri sulung beliau untuk menjual buku-buku kesayangan beliau jika mengalami kekurangan uang saat bersekolah. Satu lagi yang sangat kukagumi, yaitu kecintaan beliau pada ilmu dan buku-buku. Buku-buku yang dibawa dari negeri Belanda sekitar sepuluh belas peti berukuran 1x1x1 m3 tersebut telah berkembang menjadi sebuah perpustakaan yang dibuka dekat jam gadang Bukittinggi. Buku-buku adalah teman beliau sebagai penyemangat dan sumber ilmu di kala senang maupun susah.


Subhanallah...


Perth,

Saat mengerjakan riset di Murdoch Uni.