Saturday, May 8, 2010

Begitu seriusnya pengaruh Facebook


Aku sedang menonaktifkan account Facebook-ku. Bosan dengan Facebook?

Aku mulai ketagihan main di Facebook sejak tahun 2009. Kelihatannya tiada waktu tanpa mengecek account, nyapa teman-teman, melacak profile mereka atau menikmati foto-foto di account teman-temanku. Dengan rajin aku memasang foto, gonta-ganti album, ngetik kabar di emailnya, komen foto-foto orang, walopun aku berprinsip tak mau sering-sering update status karena status itu masalah pribadiku.

Memang seneng juga ketemu orang-orang lama, terutama yang dulu musuh bebuyutan. Kan bisa 'riya', membandingkan kesuksesan, hehe. Buktinya, bukan cuma aku, semua orang rata-rata memasang foto keluarga, anak, rumah, tongkrongan, sedang liburan, semuanya sejadi-jadinya.

Setelah beberapa lama, aku mulai sering klik 'hide' untuk beberapa orang mulai terasa 'mengganggu' dengan status-status ga jelas maupun yang sedang pamer. Kadang perasaan gerah tak tersampaikan, karena yah, ntar dibilang sirik, walau sudah tak jelas mana riya mana memang berbagi lagi. Lama-lama aku sering jadi mempertanyakan diriku sendiri, apakah aku jengkel karena mereka tidak terlihat tulus dalam menulis status atau sedang iri? Kesannya, kok kalo ada sebuah status yang jelas-jelas riya, yang ngasi komen sepertinya harus 'iri' dengan nasib mereka saat itu. Aku kira, memang akunya yang tidak sehat, suka jeles ga jelas, atau lagi sensitif. Tetapi lama-kelamaan teman setia pengkomen kurasa memang sudah berkurang pula kekaguman mereka. Iyalah, kalau hari-hari hanya memamerkan kesuksesan, yah, lama-lama jadi terasa biasa saja kan. Halah, maksudnya apa ini...

Sebenarnya, jujur saja, aku suka gerah dengan status dan profile yang mengurangi rasa bersyukurku karena rasa jeles tadi. Kupikir-pikir, ini mungkin akibat 'tidak menjaga pandangan mata'. Maksudku, lebih banyak melihat hal-hal (melalui foto dan status) orang yang 'lebih' dariku, sehingga aku kerap merasa pesimis dan kurang beruntung. Padahal aku sedang berjuang keras juga lho, tapi sejak lihat orang-orang lain terlalu sering mengumumkan kesuksesannya, aku jadi kurang menghargai diriku sendiri. Aku mulai overreacted, nih, kawan...

Suatu hari, mataku tertumbuk pada sebuah artikel bagus di www.rumaysho.com. Linknya berikut: http://www.rumaysho.com/faedah-ilmu/15-faedah-ilmu/2959-benci-dengan-popularitas.html

Saat itulah aku memahami mengapa ada hubungannya menahan pandangan mata dengan kegelisahanku membaca dan melihat profile/foto teman-temanku di Facebook. Facebook yang dipuja jutaan orang, ternyata merupakan ladang-ladang baru tempat mencari popularitas semu. Semua orang ingin terlihat sukses, mantap, berada di langit teratas, dan tak bercacat, menutupi berbagai kekurangan dalam hidup mereka. Apalagi kesuksesan hanya diukur sebatas materi, lokasi liburan sampai lokasi pekerjaan. Tidak ada suasana kerendahan hati, saling menyemangati, menutup diri supaya orang tidak mengetahui kesuksesan maupun aib kita lewat mampu merahasiakan perkembangan diri kita dari menit ke menit.

Astaghfirullah, aku merasa jenuh dengan pameran semua itu. Aku tidak mau tau terus-menerus tentang teman-temanku. Aku kan juga punya kehidupan sendiri, tidak selalu mau diketahui dan mengetahui semua orang. Aku ingin bebas dan get real, tanpa beban menikmati hal-hal nyata seperti sesekali mengetahui kabar orang dan kesuksesannya. Tapi tidak berlebihan seperti ini, pikirku putus asa.

Akhirnya, kunon-aktifkan accountku untuk sementara, hingga suatu hari aku berani memutuskan lepas total dari hiruk-pikuk Facebook dan ajang popularitasnya.

Perth,
jangan ditanya kemana aku pergi... pindah ke Friendster?:)
Reference: http://au.lifestyle.yahoo.com/womens-health/health/article/-/7291504/too-much-information/2/