Sunday, May 9, 2010

Belajar dari Fric


Sudah berbulan-bulan aku mengenal Fric, teman riset di Murdoch lab. Orangnya santai, ramah, dan ga pernah lupa nanyain apa yang kulakukan tiap weekend, walopun aku cuma kerja atau nge-lab!

Fric berasal dari Belgia. Negeri dengan coklat terenak, kataku padanya, yang disambut tertawa lebar. Ia berada di Australia, karena melaksanakan riset di lab yang sama denganku di Murdoch. Risetnya murni sains, sedangkan risetku menggabungkan sains dan teknologi. Di Perth, Fric menumpang pada orangtua girl friend-nya di Scarborough. Busyet, setahuku, Scarborough kejauhan amat kalo pergi risetnya di Murdoch Uni.

Sama seperti my hubby, orangnya sederhana banget. Kayaknya kalo punya barang, ya itu aja yang dipake sampai wafat. Buktinya, kalolah orang-orang di sekitarnya pake laptop keren dan termutakhir, laptop Fric cukup IBM lama gede dengan stikernya yang famous. Laptop itu setahuku dipakai untuk ngetik, baca paper, masukin data sehari-hari serta membuat grafik riset. Kalau kuingat laptop netbook terbaruku yang sempet nganggur setahun sebelum aktif dipakai riset, aku jadi tidak enak hati.

Waktu tak sengaja melihat hpku di meja, Fric bilang, 'wow, a fancy mobile phone'. Kupandang hapeku. Iya, emang fancy, ini gara-gara sakit hati ma teknisi waktu aku lagi liat hapenya dikirain mo ngapain gitu. Akhirnya aku beli hp fancy juga, walo sedikit nyesel karena touch screen yang ga user friendly!

Dia juga bilang kalau aku sangat cool, karena punya mobil sendiri yang ada AC-nya. Aku baru mengerti alasannya saat aku melihatnya mengejar bis dari lab ke Scarborough. Aku saja dengan ribuan alasan tidak mau dari Curtin Uni ngebis ke Murdoch, membeli mobil kecil tahun 1999. Tapi, dia tanpa dapat berkata apa-apa karena mungkin memang tidak punya dana lebih, terus sabar berjalan, naik bis, naik kereta dan jalan lagi sampai Scarborough.

Hari ini aku kembali turut prihatin, karena Fric berlari-lari ke dalam lab meminjam hape siapa saja yang berkamera untuk memotret risetnya. Dia ingat hapeku berkamera. Kutawari ia memakai kamera digital tuaku saja, karena aku bawa kamera di tas. Sepertinya Fric senang sekali, selain kerjaan risetnya, Dr N, R serta A yang sedang mengerjakan eksperimen juga difoto olehnya. Mungkin untuk kenang-kenangan.

Ah, Fric. Aku jadi malu pada produktivitas dan kesederhanaanmu.

Sudah nyaman, pakai barang-barang baru, canggih, tersedia di tas, laci, komputer, tapi kerjaan risetnya tetep acakadut, ga rajin malah sering mengeluh ini-itu.

Hmm, aku berjanji untuk jauh lebih rajin serta tidak mengeluh lagi.

Perth,
Thanks Allah for teaching me through lots of low profile friend in life