Thursday, May 13, 2010

Wave Rock and Mulga Cave, Hyden, WA

5 Juni 2007,

Aku dan hubby mengikuti Wave Rock and Mulga Aboriginal Cave tour bersama CISWA untuk mengeksplorasi satu lagi bukti keindahan Western Australia. Dua temanku, Masnita dan Rahman, dari Malaysia juga ikut bersama dalam tour tersebut. Karena perjalanan memakan waktu sekitar 10 jam pulang-pergi, pukul 6 pagi kami semua sudah berangkat dari rumah dengan tas berisi perlengkapan dan bekal makanan untuk perjalanan panjang tersebut.


Udara pagi begitu dingin. Cuaca terlihat mendung. Barangkali karena masih pertengahan musim dingin, maka hujan turun tidak kenal waktu. Baru berangkat dari Curtin menuju Murdoch Uni, hujan rintik-rintik sudah turun. Aku bertekad akan mampir ke toilet di Murdoch, karena udara begitu dingin dan penyakit ‘toilet freak’ ku suka kumat tak kenal waktu. Begitu sampai di Murdoch Uni, kami menunggu sekitar setengah jam. Saat itulah, beberapa orang sempat meminta izin ke toilet. Karena capek mengatakan iya, akhirnya supir menyuruh semua yang ingin ke toilet untuk turun sekarang juga. Awalnya semua ogah-ogahan, begitu mendengar bu supir bilang, “Semua yang ingin ke toilet, harus turun sekarang, karena kita baru akan ketemu toilet dua jam lagi”. Barulah semua penumpang bergegas menuju toilet tanpa cing-cong. Tinggal bu supir dan pak supir tersenyum nakal di belakang punggung kami.


Setelah menunggu beberapa saat, beberapa orang mulai mengeluarkan bekal makanan yang dibawa. Bu supir mulai iseng mengomentari, “We haven’t started our journey yet, but you’ve already eaten your lunch!” Kedua orang yang dikomentari, tersenyum kikuk di bawah tatapan bu supir dan teman di belakang mereka. Mungkin belum sarapan pagi. Kamipun merasa lapar menunggu begitu lama, tapi karena kuatir malu diisengin bu supir, maka kami makan roti lapis pisang coklat saat bis mulai berjalan.


Rute yang diambil bis menuju perbukitan Armadale di Selatan Perth melalu M40, Westdale, Brookton, langsung ke Corrigin, George Rock, Karlgarin dan akhirnya Hyden. Awalnya kita melewati bukit-bukit kecil dengan hutan cukup lebat, pohon-pohon ‘grass tree’ atau pohon rumput, tanaman asli Australia banyak sekali terlihat di hutan. Di sana-sini aku melihat kebun lemon, peach dan plum yang masih gundul dan akan berbunga saat musim semi, peternakan domba, kembang-kembang liar musim dingin dan warna hijau hutan liar Australia.


Seingatku, kami sempat berhenti di pom bensin di jalan. Nyaris hampir semua orang turun dari bis untuk antri di toilet. Beberapa orang membeli kopi, teh, cemilan atau sekedar turun melemaskan kaki yang kaku. Setelah rampung semua kegiatan singkat, bis melaju kembali ke arah Wave Rock.



Setelah perbukitan, kita dibawa melewati padang-padang rumput dengan tanah merah di sana-sini. Beberapa pohon hijau tumbuh di tengah padang-padang membentuk pagar penahan angin ataupun peneduh hewan ternak. Beberapa kolam penampung air terlihat di pinggiran padang rumput tersebut. Kota-kota yang kami lalui, sepertinya cenderung tandus, tidak sehijau perkotaan di perbukitan. Sisa-sisa alat transportasi seperti gerobak para ‘first settlers’ dipajang di tengah-tengah kota, seperti jaman cowboy saja.


Bis pun berhenti untuk memberi kesempatan bagi yang ingin lunch atau ke toilet di daerah Corrigin. Kami lunch di bis saja, karena hujan turun cukup deras. Setelah lega semua, bis berangkat kembali menuju Wave Rock yang tidak jelas di mana letaknya.


Bis kembali melewati padang-padang rumput liar yang luas sepanjang perjalanan. Di sana-sini sesekali aku melihat mobil-mobil yang ditinggalkan dengan posisi unik-unik. Tidak hanya tergeletak di tanah, ada yang moncong depannya atau bagian belakangnya masuk ke tanah merah di padang tersebut. Kukira itu semacam ‘contemporary art’ dengan mobil-mobil ute tersebut. Ternyata, dari pembicaraan supir dengan ‘CISWA volunteer’, barulah aku mengetahui jika mobil-mobil tersebut terseret banjir bandang yang melalui padang rumput. Supir kamipun terlihat cukup kuatir, karena badan jalan terletak sama tinggi bahkan kadang di bawah level padang rumput. Agaknya jika banjir bandang terjadi, maka apapun yang berjalan di sana tanpa kecuali dapat terseret air. Kekhawatiran supir yang awalnya sempat kuragukan, akhirnya kuyakini dari rekaman dokumenter di Channel 7 dibawakan oleh Ernie Dingo tahun 2010. Memang setelah berbulan-bulan kemarau, umumnya di beberapa daerah di Australia jika hujan turun dengan sangat deras, semua air akan membanjiri padang rumput, badan jalan, area gersang layaknya air bah untuk me-recharge kembali pori-pori tanah yang kosong tersebut.



Sepanjang perjalanan, kami mengobrol panjang lebar, makan sandwich yang disiapkan Masnita, makan bihun goreng Rahman, tidur, mengobrol kembali, mendengarkan musik lewat mp3, melihat-lihat pemandangan atau sekedar merenung apa-apa saja. Jadi, kalau ada yang seperti Rahman, sempet-sempetnya membaca paper segala dalam perjalanan, aku acungkan jempol empat-empatnya. Betul-betul produktif dan efisien. Good work, Rahman.


Setelah sedikit putus asa, mengapa Wave Rock begitu jauh, akhirnya supir mengumumkan kita telah masuk wilayah Hyden dan sebentar lagi akan sampai di Wave Rock. Di sana-sini terlihat daerah tandus dengan berbagai tanaman jenis semak-semak dan berpohon rendah. Aku melihat ke sana kemari berharap di depan mata akan keluar Wave Rock. Tetapi lagi-lagi supir belok sana, berjalan lurus, belok sini, tiada henti, dan papan penunjuk Wave Rock terus terlihat.



Akhirnya, supir bilang ini benar-benar sudah di Wave Rock. Di mana Wave Rocknya, tunggu dulu, ternyata ada di belakang bukit batu yang kami lihat. Begitu siap-siap turun dengan excited, hualah… hujan turun dengan derasnya… setelah begitu jauh, mengapa baru sekarang?



Beberapa orang yang siap dengan paying besar, jaket parasut, sepatu boots, mulai menerobos keluar bis. Kamipun tanpa pikir panjang lagi, ya sudahlah, ikutan keluar. Berhubung jaketku cuman parasut tipis, dari rumah aku sudah memakai kaos thermal dan rompi wol di dalamnya. Aku dan hubby berjalan menuju perbukitan tersebut. Awalnya kita tidak paham, kenapa orang-orang sibuk berfoto di depan sebuah batu besar seperti mulut gua. Begitu mundur sedikit, barulah aku ingat, mungkin ini yang disebut ‘Hippo Yawn’, atau mulut ‘Kuda Nil menguap’. Memang batu setinggi 12 meter itu persis mulut kuda nil sedang menguap. Pastilah para orang asli yang memberi nama seperti itu sesuai dengan ‘fantasi’ mereka.



Jika berjalan ke belakang, sedikit lagi, maka kita bertemu Wave Rock legendaris tersebut. Sayangnya, hujan turun sangat lebat, hingga yang lain berlari-lari kembali menuju bis untuk berteduh. Aku dan hubby pun akhirnya balik ke bis karena hujan begitu lebat dan kita pasti basah kuyup jika nekat. Beberapa orang terus melanjutkan perjalanan ke Wave Rock walaupun hujan sepertinya tidak mau berhenti. Begitu reda sedikit, kami dikomando untuk turun berjalan ke Wave Rock sebelum hujan lebih deras terjadi.



Semua orang yang berada di bis, dengan enggan berjalan cepat-cepat melewati Hippo Yawn dan pohon-pohon cemara.



Setelah kedinginan, kehujanan, perjalanan panjang, Subhanallah, terlihatlah batu setinggi 15 meter dengan panjang 110 meter seperti ombak tinggi yang siap turun meluncur dan pecah.



Dinding itu seperti memiliki gradasi warna. Indah sekali. Bentuk ombak (Wave Rock) terjadi sejak 60 juta tahun lalu, akibat pelapukan kimiawi yang diikuti dengan erosi bagian lunak batuan granit. Pelapukan terjadi bagian bawah batuan selama berabad-abad meninggalkan bagian atas yang menjulang tinggi. Kemudian, warna-warni abu-abu kuning strip vertikal tersebut terjadi karena hujan menggerus deposit mineral seperti kapur dan FeOH di permukaan batuan. Sayang sekali setelah diubek-ubek, penjelasan ilmiah mengenai terjadinya Wave Rock ini tidak ketemu, hiks.



Walaupun hujan, peserta tour sangat antusias berfoto bareng di depan Wave Rock. Ada yang bergaya sedang selancar, tapi memang payung, hihi, atau sekedar gaya model berlatar belakang orang-orang dan batu. Beberapa teman sempat naik ke punggung batuan, untuk, yah, aku pun tidak mengerti. Soalnya cukup berbahaya naik batuan setinggi itu saat hujan. Siapa tau batunya lumutan atau licin.



Setelah mengamati beberapa orang yang bisa naik tapi tak berani turun, aku putuskan untuk bergaya sepuasnya saja di depan Wave Rock. Hujan yang tadinya lebat sempat berangsur reda. Tetapi, lama kelamaan hujan mulai turun kembali, sehingga payung-payung yang sudah dilipat harus dibuka kembali. Maka sebagian dari kami mulai meninggalkan lokasi Wave Rock.



Begitu bis bersiap berangkat, tiba-tiba matahari muncul dengan cerah seolah-olah tidak ada apa-apa. Meski mengecewakan, kami harus segera menuju Perth, begitu kata bu supir. Beliau terlihat kuatir, karena hujan terus-menerus dan malam semakin cepat datang saat itu. Kita harus sampai di Perth sebelum pukul 8, beliau menegaskan. Kurasa, mungkin karena kalau sempat terjadi banjir dalam perjalanan pulang, maka kita semua dalam bahaya. Tiba-tiba bis di depan berhenti, menurunkan dua orang peserta tour wanita yang ingin naik ke bis kami.


Ada apa gerangan? Ternyata mereka berdua mewakili penumpang bis di depan yang ingin mengunjungi Mulga Cave, sesuai itinerary dan janji CISWA. Bu supir tak dapat berkata apa-apa, karena mereka janji akan tertib, secepat-cepatnya meninggalkan lokasi supaya bisa pulang ke Perth tepat waktu. Akhirnya setelah berkoordinasi dengan CISWA Volunteer maka kami segera berangkat ke Mulga Cave.


Mulga Cave terletak beberapa kilometer dari Wave Rock. Tempat ini penuh batu-batu besar dari jaman pre-historic di sana-sini berwarna hijau. Tak lupa menambah keseraman tempat itu, batang-batang Mallee yang sudah lapuk menghitam menghiasi tanah sepi tersebut. Yang akan kami kunjungi, menurut perkiraan awalku jelas sebuah gua, dari namanya. Untuk mempercepat kunjungan, kami disuruh antri masuk gua dan hanya sepuluh orang tiap batch yang dapat masuk selama 10 menit untuk melihat-lihat.



Sembari antri, kami foto-foto berlatarkan batu-batu ‘massive’ atau ‘humungus’ tersebut. Kelihatannya kami memasuki batu besar lewat lubang di bawahnya. Apa yang dilihat juga tak pasti, mungkin suasananya saja.



Begitu giliran kami tiba, barulah aku tau bahwa di dalam gua itu mungkin salah satu kediaman suku Aborigin. Gua itu tidak seberapa besar dengan batu-batu besar tersusun seperti ada panggung. Di bagian belakang ada lubang tempat air masuk, sehingga ada genangan air di atas batuan yang tinggi tadi. Beberapa orang menunjuk langit-langit gua. Coretan-coretan berwarna oranye, merah, kuning, putih terlihat di langit-langit tersebut. Ternyata ada lukisan ‘daydreaming’ orang Aborigin. Mengenai lukisan-lukisan ini, akan aku ceritakan khusus suatu hari, karena tiap lukisan dibuat saat mereka sedang merenung di siang hari atau ‘daydreaming’. Lukisan tidak bisa dibuat tanpa pesan moral yang jelas, karena inspirasinya berasal dari perenungan para pelukis kala siang hari.



Setelah waktu yang diberikan habis, kami keluar gua dengan perasaan tak menentu. Speechless aja. Yang jelas, aku takkan berani ever tinggal sendirian di tempat sesunyi ini, dikelilingi batu-batu hijau dengan suasana sekitar seperti dalam film Lords of the Rings bagian Aragon ketemu hantu. Hiii!



Kamipun berfoto-foto di sekitar lokasi dengan batu-batu besar seperti kue muffin.



Termasuk pohon-pohon mallee, pohon tanaman asli Australia yang mengeluarkan aroma kayu putih saat kena air hujan. Pemandangan saat itu sangat menggugah imajinasiku, sampai aku tidak ikutan berfoto di sana. Langit biru cerah seolah tidak ada apa-apa, batang pohon-pohon mallee terlihat mengkilat terkena siraman air hujan, sedang daun-daun menghijau cemerlang seolah-olah baru dibersihkan.



Perjalanan pulang lebih tenang, karena semua orang kelelahan. Kami berhenti kembali di Corrigin untuk antri ke toilet. Setelah itu, semua kembali tidur karena hari sudah gelap. Sesekali terdengar gelak-tawa beberapa orang tetapi sudahlah, sudah lelah. Kira-kira satu jam menjelang sampai di Perth, pukul 9 malam, bis kami berhenti pinggir jalan gelap.


Ternyata bis kedua yang berjalan di depan mogok kehabisan bahan bakar. Disinilah kepanikan terjadi. Semua orang yang berada di bis kedua disuruh naik ke bis kami, dan sedapat mungkin duduk maupun berdiri di tenagah bis. Kami bergeser untuk seorang teman wanita Chinese yang cukup kurus. Beberapa orang terpaksa berdiri di tengah karena tidak cukup tempat duduk untuk menampung mereka. Bu supir terlihat cukup putus asa dengan keadaan tersebut, lalu tiba-tiba mengumumkan bahwa ia keberatan untuk membawa semua orang dalam posisi tidak selamat itu. Mereka kembali diminta turun ke bis kedua. Bu supir berjanji akan membelikan bahan bakar lalu kembali menjemput semua orang.


Bis kami melaju menuju Perth tanpa henti. Begitu melewati sebuah pom bensin kecil, sepertinya tak ada tanda-tanda akan berhenti. Rupanya bu supir telah menelpon markas mereka minta dikirimkan bis pengganti yang mogok. Mungkin akan sampai sekitar 1 jam lagi.


Petualangan kami berakhir dengan tidak begitu melegakan. Hmm, aku terus terbayang hutan musim dingin yang gelap, tanpa toilet, cahaya, bahan bakar dan hujan pula, saat tiba di Perth malam itu. Sampai kapan mereka akan menunggu, ya?


Perth,

Happy ending: akhirnya mereka tiba di Perth pukul 12 malam setelah bis lain datang menjemput.


Sumber: google maps, WikiAnswer, Wikipedia, Australiangoldenoutback