Monday, February 28, 2011

Pengalaman itu memang berharga (3)

Kalau sudah menginjak kepala TIGA, biasanya kita sedikit lebih hati-hati dalam bertindak. Mungkin karena pengalaman di masa lalu yang banyak mengubah opini dan persepsi kita tentang sesuatu. Memang benar, pengalaman membuat kita bisa lebih legawa dan bijaksana menghadapi hidup. Itu jika pengalaman kita memang memperkaya jiwa. Tetapi kalau belum merasa bisa bijaksana dan dewasa dari pengalaman, kenapa tidak belajar dari orang lain seperti di bawah ini:

Sebelas- Titel yang ada di belakang atau depan nama kita ternyata tidak terlalu berarti, kok. Benar itu. Setelah berpikir lama, ternyata EQ lebih banyak berperan dalam soal kecerdasan daripada IQ. Orang yang cerdas, bukanlah yang hanya mendapat beasiswa untuk belajar di tempat top melulu, tetapi orang-orang yang secara kreatif bisa menyelesaikan sesuatu tanpa grasa-grusu. Hal-hal berat dalam pekerjaan atau hidup bisa mereka tangani dengan luwes, selesai dan voila, tak banyak keluhan! Seperti itulah ‘cerdas’, bukan orang bertipe ‘geek’ saja.

Dua belas- Kita tidak bisa memiliki semuanya.
Good tips. Memang kita tidak akan bisa memiliki atau menjadi apapun~ semuanya. Siapa bilang kita bisa mengatur waktu dengan efisien untuk mengerjakan semua rencana, hobi, cita-cita atau tujuan hidup kita? Non sense. Ada hal-hal yang bisa memperlambat, mempercepat, membuat seimbang atau tidak seimbang. Nah, jika kita berusaha mendapatkan semuanya, maka ada yang menjadi tidak seimbang, entah keluarga, anak, atau apa sajalah. Kadang kita sudah dapat, ternyata ada lagi orang yang punya lebih banyak dari kita. So, jangan ingin mendapatkan semua yang kita inginkan!

Tiga belas- Ternyata lebih mudah menabung saat kita nyaris bangkrut.
Ngerti gag, maksudnya? Banyak orang berpikir, kalau dia mendapatkan gaji yang banyak, maka akan menabung banyak juga. Padahal, seiring dengan meningkatnya pendapatan, gaya hidup semakin meningkat juga lo. Rumah harus lebih besar, pakaian dan kendaraan harus lebih mewah. Belum lagi biaya kongkow-kongkow atau klub fitness/golf yang harus diikuti. Pendeknya, bukan seberapa banyak penghasilan kita, tetapi seberapa banyak yang dapat kita tabung setiap bulan.

Empat belas- Orang yang meminjam uang, jarang yang mau mengembalikannya.
Uang ini masalah sensitif. Aku pernah dijauhi karena menolak meminjamkan uang kepada seseorang. Herannya lagi, dia yang meminjam, kita yang dimarahi. Untung tak jadi dipinjamkan, soalnya kalau berhasil, belum tentu pula dia mau memulangkan. Itulah uang, tak dapat dirasakan, tetapi kalau hilang, bisa bubar perkawinan atau persahabatan maupun persaudaraan. So, beware!

Limabelas- Jadikan hobi sesuatu yang menguntungkan.
Menurut Scott Pape, beginilah caranya: jika kita hobi memasak, misalnya, tentulah kita ingin punya resto, catering atau bakery sendiri. Tetapi, mulai dari nol, perlu kerja keras dan ketekunan. Saat ini kita bisa berkarir dahulu di bidang yang menghasilkan uang tetap selama beberapa tahun untuk modal dan menjaga kesehatan finansial kita. Kemudian, buat bisnis makanan secara paruh waktu, hingga kita terbiasa, baru setelah sukses terlihat di sedikit di hadapan, go full time! Wow, memang aku sering mengamati hal seperti ini terjadi dalam dunia bisnis. Sering sekali para pebisnis unggul tidak mulai sendirian, tapi mulai pelan-pelan, paruh waktu dan full time setelah cukup lama berkutat di sana. Slurp!


I think this is enough for now, ya. Sudah habis tipsnya.

Dikutip dari ‘Experience Count’ milik Scott Pape dari kolom The Barefoot Investor, Sunday Times Feb 2010.