Saturday, February 12, 2011

Pengalaman itu memang berharga (1)

Kalau sudah menginjak kepala TIGA, biasanya kita sedikit lebih hati-hati dalam bertindak. Mungkin karena pengalaman di masa lalu yang banyak mengubah opini dan persepsi kita tentang sesuatu. Memang benar, pengalaman membuat kita bisa lebih legawa dan bijaksana menghadapi hidup. Itu jika pengalaman kita memang memperkaya jiwa. Tetapi kalau belum merasa bisa bijaksana dan dewasa dari pengalaman, kenapa tidak belajar dari orang lain seperti di bawah ini:

Satu- Si tukang pamer ternyata bangkrut.
Orang-orang usia muda sekarang banyak juga yang membuat kita sirik karena terlihat kaya, bahagia, gaya hidup tinggi, selalu ganti mobil, baju keluaran butik dan selalu (berusaha) berlibur ke luar negeri~ dibuktikan dengan update foto di fesbuk, bisa jadi peluang mereka bangkrut di usia 40 tahun sangat besar. Soalnya mereka selalu berusaha mendapatkan apa yang dimiliki orang lain dengan gaya hidup berfoya-foya.

Dua- Beli benda-benda yang memang diperlukan.
Kita sering menyesal tidak membeli benda yang kita butuhkan, tetapi seringnya yang diinginkan. Padahal, apalah artinya membeli baju kesukaan atau jilbab kesukaan sampai tiga warna sekalian, kalau akhirnya tersimpan di lemari tanpa pernah dipakai sekalipun. Kita juga sering tidak mau mencoba belajar membeli produk investasi seperti tanah atau rumah yang dijual murah. Padahal jika dipikirkan uang yang digunakan untuk belanja kompulsif tadi setelah dikumpul-kumpul selama setahun-dua tahun bisa menjadi uang pembeli sebidang tanah juga loh.

Tiga- Hanya menonton dan bermimpi, sama sekali tidak membawa kita kemana-mana.
Ini pelajaran penting. Jika ingin menulis buku, mulailah dengan menulis outlinenya dahulu. Intinya, jangan bermimpi tanpa memulai. Daripada menonton orang-orang dan membaca kisah kesuksesan saja, kenapa tidak mulai menulis satu dua kalimat di dalam outline tadi? Yang penting, mulai saja dahulu, jangan dipikirkan siapa yang menerbitkan buku ginian. Setelah ditulis dan selesai nanti, kita bisa minta bantuan editor untuk memolesnya menjadi tulisan layak baca. To be honest, I love this experience. Insya Allah, aku akan mulai berkarya!

Empat- Jangan suka mengambil kredit atau ngutang. It will bite you!
Pelajaran penting lagi. Aku memang anti membeli sesuatu jika tidak punya uang di tangan atau di dalam rekening. Seringkali aku berkhayal ingin punya kalkulator bagus saat masih kuliah dulu. Ngutang ke teman atau minta ke ortu atau kredit ke toko, sepertinya bukan my way. My way is, ternyata, Alhamdulillah aku mendapat beasiswa dari kampus yang jumlahnya persis tepat seperti harga si kalkulator tadi. Apapun itu, jika ada utangan uang dari keluarga, aku suka tidak bisa tenang dalam hidup sebelum melunasinya!

Lima- Dengarkan kata orang-orang yang lebih tua.
Ini memang pelajaran paling penting! Biasanya orang-orang sukses, suka mendengarkan nasihat atau kata-kata orang yang lebih berpengalaman (baca: orang tua). Seorang temanku memilih bergabung dengan grup orang-orang tua ketimbang terus-menerus berfoya-foya dengan teman-temannya. Apalagi jika orang-orang tua itu memiliki kesamaan jalur minat dengan kita, so pasti, kita bisa belajar dari mereka dengan lebih cepat. Lebih mudah belajar dari kesalahan orang lain, ketimbang mengalami hal yang sama sendiri.

I think this is enough for now, ya. Ntar daku sambung lagi di bagian (2).

Perth,
Dikutip dari ‘Experience Count’ milik Scott Pape dari kolom The Barefoot Investor, Sunday Times Feb 2010.