Friday, March 4, 2011

Werribee Open Range Zoo, Victoria

Selasa, 7 Desember 2010

Werribee Open Range Zoo, salah satu zoo di Melbourne, rasanya memanggil-manggil aku dan hubby untuk berkunjung. Setelah puas melihat gunung, padang rumput, sungai, kebun bunga, hingga wisata kota sebelumnya, kali ini kami lebih tertarik bertemu singa, cheetah, zebra dan krunya dari Afrika.


Ternyata zoo yang satu ini, lokasinya di Weribee, Victoria, yang letaknya cukup jauh dari Melbourne CBD. Jika naik kereta dari Flinders Street, Melbourne CBD, carilah kereta ke arah Werribee di platform yang telah ditentukan, kalau tidak salah, Platform 10. Dari city hingga Laverton, gunakan tiket Zone 1. Tetapi dari Laverton hingga Werribee, gunakan tiket Zone 2, karena sudah berbeda Zone dari daerah city. Begitu sampai di Werribee Train Station, bis no 349 akan dapat membawa pengunjung langsung langsung ke depan pintu masuk Werribee Zoo.

Tiket masuk untuk concession (students dan senior) sekitar $19.20AUD. Untuk mendapatkan harga concession, jangan lupa menunjukkan Student ID yang masih berlaku. Jika ingin langsung mendekati hewan-hewan tertentu melalui open vehicle adventure, kita harus membayar tiket lebih mahal sekitar $80AUD untuk orang dewasa dan $65AUD untuk anak-anak.


Acara pertama tour adalah safari menggunakan bis khusus. Baru melihat bis dan tour guidenya saja kami sudah excited. Tour guide berseragam coklat dan memakai topi seperti seragam khas para petualang safari di Afrika. Tour guide kami adalah seorang nona muda yang tampak ceria, suka tertawa dan tentu saja banyak bercerita dengan detail tentang hewan-hewan yang ada di Werribee Zoo. Untuk bis sebesar itu, kebetulan hanya ada 14 orang saja yang akan naik. Kamipun bisa bebas memilih tempat duduk, dan tentunya spot untuk memotret hewan-hewan yang akan dilihat.




Volcanic Plain, adalah daerah pertama yang kami lewati. Emu, Pelikan, Wallaby dan Kangguru khas Australia banyak terdapat di sana. Emu yang terlihat sangat anggun dan genit itu memang menawan.


Bis pun meneruskan perjalanan ke arah padang rumput, mengunjungi bison. Bison-bison besar dengan kulit terkelupas itu didatangkan langsung dari US. Beginilah contoh bulu bison yang terkelupas. Berserat, tebal dan fluffly di tangan, seperti bulu wolie.



Pemandu wisatapun mengedarkan dua macam tanduk, milik rusa dan antilop. Kira-kira mana milik rusa, mana milik antilop? Hayo, siapa yang tau?


Saat berangkat ke bagian lain, ada unta, Rhino (badak), zebra, jerapah yang fotogenik, serta berbagai burung besar. Semuanya bisa dilihat dari jendela terbuka bis besar tersebut. Kami berganti-ganti posisi, menunjuk, memotret, mendengarkan cerita dari tour guide, sambil tentu saja berkhayal tengah bertualang di Afrika. Tentu saja ada perbedaan yang sangat menyolok. Jika di Afrika dalam safari seperti itu kita bertemu ratusan zebra, antilop, jerapah dan badak, kalau di Werribee tentulah jumlahnya sangat terbatas. Meskipun tidak bisa dibilang dekat, tetapi kita masih bisa melihat dengan jelas hewan-hewan yang dibiarkan menghuni padang rumput itu.


Konsep zoo yang gersang, tak terawat, berdebu serta penuh hewan tidak bahagia yang meraung-raung, setidaknya tidak terlihat di Werribee. Suasana jalan setapak menuju tempat hewan-hewan begitu menyenangkan, karena berbagai tanaman unik khas Australia ditata sedemikian rupa sehingga membuat tempat itu lebih tenteram. Jangan dibayangkan hewan-hewan tersebut berada di tempat yang sempit, kumuh dan penuh lumut. Mereka beruntung, bisa berada di tempat yang sangat luas, ditata dengan berbagai tanaman unik khas Afrika-Australia. Kesan akhir, mereka terlihat lebih fotogenik jika dipotret maupun diamati dengan latar belakang seperti itu. Sungguh suatu kelebihan cara Werribee Zoo memberikan kesan indah di sana, walaupun kita hanya melihat hewan yang terbatas jumlahnya, tidak seperti di Afrika.


Pada jam tertentu, pengunjung dapat melihat zoo keeper memberi makan hewan-hewan, seperti meerkat pada pukul 1.30pm, singa pada pukul 2.00pm, kanguru dan emu pada pukul 3.15pm dan hippo pada pukul 4.00pm. Sayangnya kami terlambat melihat keeper memberi makan singa pada pukul 2.00! Kebetulan pada saat itu hujan sedang turun dengan lebat, sehingga aku dan hubby terpaksa berteduh dahulu sambil berpiknik dan sempat lupa dengan atraksi paling menarik itu! Walau begitu, kami tidak ketinggalan singa betina yang masih pamer auman pada pengunjung di depannya. Anak-anak sekolah yang mencoba menarik perhatian si singa sempat kaget dan menjerit melihat betapa besarnya gigi si singa!


Meerkat, si hewan unik dari Madagascar yang selalu berdiri dengan kedua kaki di depan jika sedang mengamati obyek juga sempat kami lihat. Lucu sekali ketiga ekor meerkat ini. Tetapi tampaknya aku tak berani kalau ada ratusan meerkat melihatku dengan wajah heran mereka seperti di dokumentari David Attenborough. Hi!

African-wild dog, sejenis anjing bercorak dari Afrika yang suka memakan binatang-binatang kecil seperti bayi antilop, flamingo, dapat dilihat dari anjungan khusus. Sayangnya saat itu mereka tengah diberi makan, sehingga tidak mau mendekat.

Kuda nil atau hippo yang sedang berendam di dalam kolam besar membuatku kaget dengan suara erangannya. Keras, ya! Tiga hippo lucu (lucu?) sibuk berendam dan tidak mau keluar dari kolam, walau pengunjung-pengunjung kecil di dekat kami telah memanggil-manggil nama mereka.

Hewan terakhir yang kami kunjungi di kediamannya adalah cheetah. Hewan besar itu berjalan mondar-mandir di depan kami di balik kaca tebal. Sungguh gagah cheetah itu. Sayangnya ia tak dapat berlari kencang mengejar kami, walaupun aku benar-benar tak ingin dikejar cheetah!

Kuakui, jauh di lubuk hati aku kasihan melihat hewan-hewan seperti itu yang biasanya liar dikumpulkan di kebun binatang untuk dipamerkan ke manusia. Mereka tak dapat berburu, tak perlu mengasah naluri kebuasan mereka, malah harus bergantung pada manusia. Yang terburuk, kadang tak dapat bertemu pasangan hidupnya serta tidak dapat menjadi hewan normal yang hidup bebas di alam sana. Tetapi, dengan tingginya kerusakan lingkungan, maka hewan-hewan langka tadi semakin berkurang jumlahnya di alam, tempat seperti ini malah menjadi semacam tempat perlindung yang lebih baik bagi mereka. Disinilah hewan-hewan yang hampir punah dijaga agar tetap lestari dan tidak tinggal kenangan di masa depan.

Melbourne,