Saturday, May 2, 2009

Pemaaf



Tulisan ini terinspirasi dari sebuah artikel di situs favoritku, www.eramuslim.com.

Aku pernah dengar, bahwa orang pendendam itu seperti membawa beban berton-ton di punggungnya ke mana-mana. Betapa beratnya bawaan itu, yang selalu diletakkan di atas punggung. Kemudian, beban itu terus ditambah-tambah lagi dalam perjalanannya. Saat bertemu orang yang menjengkelkan hatinya, satu gelembung dendam... ting, naik ke punggungnya lagi. Astaghfirullah... alangkah capeknya...

Sedangkan orang yang pemaaf, tiap disakiti, dicaci, ditertawakan, dihina, didiamkan, selalu berusaha menghilangkan beban berat yang akan dipikulnya di punggung. Tiap gelembung dendam selalu dipecahkannya dengan 'keluasan hati'nya. Maksudnya, 'apapun yang terjadi pada dirinya, ia merasa hal itu tidak ada artinya dibandingkan semua nikmat yang Allah berikan padanya'. Sehingga, tiap perlakuan tidak enak yang mengakibatkan marah plus dendam, selalu dibandingkannya dengan semua nikmat-nikmat yang Allah berikan. Subhanallah... betapa bermaknanya senjata itu.

Kemudian, kita sebaiknya tidak mengijinkan diri kita untuk marah dan mendendam. Rasanya sulit sekali... aku sering kehilangan kendali emosi jika benar-benar sakit hati dikecewakan orang.

Tapi, coba pikir-pikir, itukan sebenarnya sungguh umum...

itu hanya 'the way you think and react to the issue'... kata orang sini.

So, kalau kita tidak mengijinkan diri kita untuk marah, maka tidak ada apa-apa yang terjadi. Cuman, ya itu, akal sehat kadang dikalahkan emosi.

Satu lagi kuncinya... tiap rasa emosi membludak, cepat-cepat istighfar sambil berpikir bahwa kita tidak membolehkan diri untuk merasa jengkel atau marah. Ibarat sedang di medan perang, tiap ada peluru yang datang ke arah kita, akan melenting ke kiri dan kanan... seperti itulah tiap seharusnya tiap 'sentilan' penyebab rasa marah diperlakukan... sehingga tidak menumpuk, lalu menjadi dendam.

Juga kembali ke pemahaman di atas tentang 'keluasan jiwa'. Bahwa 'sentilan' orang yang sedikit ini, hanyalah sebuah titik yang tidak bisa kita bandingkan dengan banyak nikmat dari Allah untuk kita...

Mari belajar agar bisa bebaskan diri dari rasa marah dan dendam...


Perth,
Alhamdulillah...

No comments: