Monday, May 18, 2009

Batik kita


Kabarnya sejak sebuah negara mempatenkan batik menjadi kain tradisionalnya, pasar-pasar di Indonesia langsung rame menjual baju batik.

Lhaa dari dulu kemana?

Aku penggemar berat baju batik. Perkenalan pertamaku dengan batik dimulai saat masih SD. Kita punya batik cap sekolah, karena ada gambar lambang pohon Cendana. Baju favoritku itu, hanya bisa dipakai tiap hari Jumat saja. Berhubung hari Jumat sekolah hanya sampai jam 11.30 siang, jadi durasi pemakaian baju favorit berkurang. Jadilah baju itu tetap dipakai setelah pulang sekolah sampai sore hari, karena namanya juga favorit! Setelah gedean dikit, aku dapat oleh-oleh baju rumahan batik dari Jogja. Aku sampe punya warna ijo, coklat, pink dan biru untuk pasangan atasan-celana itu. Setelah kuliah, kulihat mbak temanku cantik juga ya, pake daster batik biru muda, akhirnya aku menggemari daster. Aku punya selusin daster, dari you can see sampe lengan panjang. Semuanya batik bermotif khas dan sesuai dengan warna favoritku.

Jaman kuliah di Jogja dulu, aku sudah pernah sampe ke Solo berburu batik Danar Hadi. Selain Mirota Batik jadi tempat langgananku belanja, pasar Beringhajo yang menjual batik Danar Hadi reject jadi tempat favoritku. Cerita berburu batik reject ini aku dapat dari teman. Kalau di Danar Hadi bisa 50-100 ribu sepotong, di pasar Beringharjo dulu cukup 20 ribu sepotong. Kemasannya sama dengan toko, cuman cacatnya kecil banget deket pinggiran kain dan bisa digunting. Batik bahan viscos, sutra, linen, satin... ahh, semuanya aku punya. Batik sutra pertamaku, kubeli dari uang beasiswa. Maklum, sutra kan mahal-mahal gitu. Sayangnya, udah sutra, gampang sekali berkerut tidak rapi sehingga ga bisa dipake lama-lama. Tapi, salah satu baju sutra tua favoritku, jadi andalan di Australia sini. Aku cuma pakai baju itu kalo lagi pengen ningkatin rasa pede. Kalo aku pake baju itu, sering kali kenalan wanita bule menyentuh bajuku sambil tersenyum lebar dan mata kepingin. Gorgeous... katanya.

Aku sering liat orang bule berbaju batik di Australia. Ada bapak-bapak pake kemeja batik lengan pendek saat summer, kayaknya cute banget. Beberapa orang ibu bule juga gemar memakai daster panjang ke luar rumah. Yang lebih rapi sering memilih blus batik cantik, dan memakainya lengkap dengan asesoris kalung atau gelang senada. Aku pernah menonton mas bule berbaju batik sedang membuat es cendol. Aduh, kerennya... pokoknya kalo liat orang bule berbatik, kok ya pantes gitu... kulit mereka putih, cocok pake warna-warna redup batik dengan motif khasnya. Aku yakin mereka bangga juga bisa mengenakan kain khas Indonesia yang terkenal itu.

Batik boleh dibilang sangat pas dan khas untuk hadiah atau oleh-oleh. Mamaku, ibu mertua sampe nenek paling senang dioleh-olehi daster batik. Walopun bukan dari Jogja, mereka tetap menerima oleh-oleh daster batik dengan senang hati. Untuk kenang-kenangan pada semua dosen di Inggris dulu, aku membelikan mereka dasi batik bahan satin berbagai warna. Hingga hari ini, kudengar sebagian dari mereka masih sering memakainya. Buat teman dan adik wanita aku sering pilihkan jilbab atau scarf batik. Syar’i, bergaya dan khas Indonesia, kan? Sedang suami, adik, papa, sampe supervisor, selalu kubelikan batik berlengan panjang, lengan pendek atau batik ala baju koko. Aku juga sempat mengirim lukisan batik ke teman di luar negeri. Pulpen batik, tas batik, blangkon batik... alamak... bisa jadi kado indah buat mereka yang di luar negeri. Yang pasti, tiada kado atau oleh-oleh tanpa batik walopun harganya kadang ga murah.

Sekarang, karena batik mudah ditemukan di mana saja dengan desain keren dan warna-warna menarik, aku makin gembira bisa menambah koleksi. Apalagi karena mass production, harganya jadi lebih murah. Bisa puas-puasin shopping batik, nih!

Batik kita memang mestinya jadi ikon di negara sendiri. Semua orang Indonesia mestinya sehari-hari pake baju batik baik di sekolah, kantor, pasar, ga cuman saat di rumah atau kondangan. Lho, katanya identitas bangsa...

Apalagi bahannya enak, tahan lama, motifnya unik, warnanya beragam dengan corak rumit... yaa... mestinya siapa yang ga mau sih, pake BATIK?

Perth,
.batik kita jauh lebih indah, kok..